Maybe (Chapter 2)

cv

Tittle : Maybe?

Author : Wulan fitriani

Cast : Byun Baekhyun, Lee Rai, EXO member

Leigth : chaptered

Rate : Teeneger

Genre : married life, romance comedy

-0-

 

Baekhyun terus memandangi langit-langit kamarnya, Rai sudah terlelap sedari tadi. Fikirannya tak mau lepas dari Rai. Baekhyun hanya penasaran, tak lebih. Sikap Rai tadi sungguh mengejutkannya. Terlebih tadi Rai tidak membuatkan segelas susu yang dimintanya. Dan seharusnya dia senang dengan perubahan sikap Rai, karna dengan begitu Baekhyun bisa menjalani hidupnya dengan tenang tanpa suara bising Rai. Tapi Baekhyun merasa seperti.. ada yang hilang. Dan Baekhyun benci mengakuinya.

 

.. Kalau kau tidak bisa mencintainya, setidaknya biarkan dia tetap bersamamu ..

 

“aish!! Aku pusing!” desah Baekhyun seraya mengacak rambut gelapnya itu.

 

“eung..” Baekhyun sedikit terperajat mendengar lenguhan Rai. Rai merubah posisinya hingga tangan kanannya jatuh pada tubuh Baekhyun. Untuk beberapa saat Baekhyun menahan nafasnya, lalu membuangnya perlahan.

 

“kau itu baik, kau seharusnya tidak jatuh padaku..” ujar Baekhyun lirih seraya mengusap pipi Rai lembut. Sadar dengan apa yang dia perbuat, Baekhyun menarik kembali tangannya.

 

“selamat tidur..” ucapnya cepat.

 

-0-

 

Sinar matahari menyeruak masuk diantara celah gorden, membuat Rai terusik dari mimpi indahnya. Rai bergerak gelisah dalam tidurnya, saat merasa tali besar terikat dipinggangnya. Dia mengeliat sebelum akhirnya membuka matanya perlahan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menghilangkan semburat rabun pada matanya. Matanya terbelak melihat pemandangan didepan matanya. Rai menutup mulutnya dengan tangan. Apa ini mimpi?. Rai tersenyum dibalik tangannya. Ini pertama kalinya Baekhyun memeluknya dan saat itu juga dia ingin waktu berhenti. Wajah Rai memanas mendengar dan merasakan nafas Baekhyun. Mengapa terdengar merdu?. Lagi-lagi Rai tersenyum bahagia. Rai merasa berhasil membuat suaminya terkejut. Dia ingat betul bagaimana Baekhyun tak bisa berkata-kata saat dirinya langsung tidur tanpa memperdulikan permintaan suaminya.

Rai menuntun tangannya untuk menyentuh Baekhyun. Rai menyentuh rambut lembut Baekhyun dengan perlahan. Merapihkannya sedikit. Lalu turun menyentuh mata sipit Baekhyun yang selalu menatapnya kesal. Rai suka tatapan itu. Kemudian turun lagi menyentuh pipi putih Baekhyun yang selalu mengembang saat tersenyum, walau jarang sekali Rai melihat Baekhyun tersenyum. Lalu Rai berhenti pada bibir Baekhyun. Rai mengamati bibir peach Baekhyun. Terlihat manis walaupun Rai belum pernah merasakannya. Rai sangat bisa membayangkan semanis apa bibir Baekhyun itu. Bayangan Rai terhenti saat dengan tiba-tiba Baekhyun membuka matanya. Mata Rai membulatkan terkejut dan langsung menarik tangannya kembali.

 

“ma-ma ekh af..” Rai cegukan. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Dadanya naik turun karna cegukan. Baekhyun masih belum sepenuhnya sadar. Baekhyun menarik tangannya yang tadi sempat melilit tubuh Rai.

 

“a-aku ekh! Minta ekh! ekh! ma-” Rai berusaha untuk mengeluarkan bersuara.

 

“eoh? kau tidak apa-apa?” Tanya Baekhyun peduli. Dia agak sedikit kasihan melihat cegukan Rai yang terlihat menyiksa.

 

“eoh..” Rai menggangguk dan langsung bangkit dari tidurnya, berlari keluar kamar.

 

Baekhyun melihat kepergian Rai khawatir. Lalu beralih menyentuh bibirnya. Apa yang dia lakukan?

 

-0-

 

Sudah pukul 7:45 dan Rai masih cecegukkan diujung dapur, berusaha menyembunyikan dirinya. Rai sangat malu dan terkejut, Baekhyun memang tidak bisa melihat waktu. Mengapa dia harus bangun disaat yang tidak tepat? Rai terus menggerutui Baekhyun sesukanya.

 

“Rai.. aku  mau susu..”

 

“ekh!” Kata-kata Baekhyun tadi berdampak buruk pada jantungnya, hingga ceguk yang tadi hampir hilang kini datang kembali. Rai benar-benar ingin sekali mengutuk Baekhyun.

 

“Rai? Dimana kau?” suara itu makin mendekat dan membuat ceguk Rai menjadi-jadi. Baekhyun yang dapat mendengar suara cegukkan itu langsung mengikuti arah suaranya.

 

Wajah Baekhyun seperti meminta penjelasaan saat melihat Rai terduduk diantara kulkas keranjang sampah.

“kau..” Baekhyun terlalu bingung ingin bertanya apa. Rai hanya mendongak sambil sesekali cecegukkan.

“kau itu kenapa?” hanya itu yang dapat Baekhyun tanyakan.

 

“seper-tinya aku lupa mi-num saat sebelum ti-dur..” Rai bicara terbata-taba. Baekhyun melihatnya jadi kesal sendiri.

 

“ah terserah kau, aku ingin susu! Cepat buatkan” titah Baekhyun yang langsung di-iyakan oleh Rai. Rai langsung bangkit menuju pantry. Diambilnya susu bubuk didalam kulkas dan menyudukkan beberapa sendok kedalam gelas. Baekhyun hanya memperhatikan Rai yang membuat susu dalam diam, namun tubuhnya terus bergerak seperti terkejut. Sebenarnya Baekhyun bisa membuatnya sendiri, tapi dia lebih suka buatan Rai. Rasanya lebih segar. Atau hanya perasaanya saja?

 

“i-ni..” Rai menyodorka segelas susu putih pada Baekhyun. Baekhyun menerimanya dengan senang hati. Dilihatnya segelas susu itu lalu beralih pada pembuatnya.

 

“apa kau masih marah?” dengan tetap terus menatap Rai, Baekhyun berjalan perlahan menuju kursi pantry. Walau sesekali menabrak pinggiran meja.

 

“tidak.. ma-mafkan aku.. ka-lau kemarin ak-ku kasar..” Rai tersenyum. Permintaan maafnya sebenarnya hanya untuk memancing Baekhyun. Rai berpangku tangan diatas pantry menunggu reaksi Baekhyun.

 

“kau tidak perlu minta maaf, aku bahkan sering berbuat kasar padamu..” jari Baekhyun mengitari bibir gelas.

“bahkan lebih kasar..” tambahnya pelan dan ragu.

 

Yosh! Berhasil.

 

“aku mengang-gap semua itu sebu-ah perhatian..” Rai tersenyum bahagia. Mendengar Baekhyun mengakui kesalahannya benar-benar membuatnya senang. Sebenarnya Rai juga mengharapkan hubungan suami istri yang layak seperti orang kebanyakan. Namun dia sadar, hubungannya dengan Baekhyun ternyata jauh lebih menyenangkan.

 

“kau terlalu baik..” Baekhyun seperti tidak berani mentap Rai. tatapannya hanya tertuju pada susunya itu. Lagi-lagi Rai melihat sisi Baekhyun yang berbeda.

 

“eoh? apa kau a-kan berkerja?” Rai berusaha mengalihan perhatian Baekhyun. Benar saja. Baekhyun langsung mengangkat kepalanya lalu menggeleng.

 

“ah! Ap-pa kita akan ja-lan..”

 

“sudahlah kau jangan banyak bicara, aku malas mendengarnya.”  Baekhyun kembali normal. Baekhyun memaksa Rai menelan kembali kata-katanya. Baekhyun agak terganggu dengan suara ceguk Rai. Rasanya ia ingin menyumpal tenggorokan Rai dengan celana dalamnya.

 

“apa kau ekh! khwatir?” Rai mendekat memperlihatkan matanya yang mengerjapkan berulang-ulang.

 

Segelas susu itu kembali mendarat dimeja pantry sesaat setelah Baekhyun kembali mendengar ocehan Rai.

“anggap saja seperti itu, jadi kau diam lah..” ujar Baekhyun dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

 

“baiklah..” Rai menurut setelah diberikan senyum palsu Baekhyun.

 

Suasa hening hingga sampai pada saat Baekhyun menghabiskan susunya.

“mengapa kau diam?” Tanya Baekhyun setelah memastikan jika gelasnya benar-benar sudah kosong.

 

Air muka Rai langsung berubah.

“aku benar benar tidak mengerti denganmu, tadi kau suruh aku diam. Dan sekarang kau malah bertanya mengapa kau terdiam. Terbukti kan kalau kau tak bisa hidup tanpa suaraku?” Rai beringsut. Jikalau Baekhyun bukanlah suaminya, munkin serbet sudah mampir diwajahnya.  Baekhyun meringis, mengapa dia dengan bodohnya menanyakan hal itu. Bisakah dia mengutuk dirinya sendiri.

 

“eoh? Cegukanmu sepertinya sudah hilang..” Baekhyun berusaha mengalihkan topik.

 

“eoh? Benarkah?!” Rai terdiam beberapa saat untuk memastikan, takut-takut jika ceguknya itu datang kembali.

“yosh!!” Rai merentangkan tangannya keatas saking gembiranya. Baekhyun menghela nafas lega. Jujur, baru pertama kali Baekhyun melihat wajah mengerikan Rai.

“aku rasa aku memang kurang minum..” gumam Rai. Rai mengambil satu botol besar dalam kulkas lalu meneguknya hingga setengah.

 

“hei hei.. kau tidak takut perutmu meledak?” Baekhyun ngeri melihat Rai yang begitu kuatnya minum air mineral sebanyak itu.

 

“ini untuk balas dendam karna kemarin aku kurang minum” jawab Rai santai. Baekhyun mengangkat bahu tak peduli. Baekhyun menyeringit merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.

 

“mengapa tiba-tiba aku merasa panas..” Baekhyun berucap sambil mengibas-ngibaskan baju tidurnya.

 

“eoh? Aku malah merasa dingin..” Rai melongokan kepalanya untuk melihat AC ruang tengah yang ternyata masih menyala. Dan lagi, ini masih pagi udara masih sangat dinginnya. Lalu mengapa Baekhyun masih merasa panas?

 

“ah sudahlah, lebih baik aku mandi..” Baekhyun tak menghiraukan Rai dan berlalu meninggalkan Rai.

 

“mungkin banyak setan ditubuhnya.”

 

-0-

 

Rai terus menekan-nekan tombol remote bosan. Tidak ada acara menarik pagi ini. Mungkin karna dia belum mandi makanya tvnya tidak mau menyajikan tontonan menarik pada majikannya itu. Tunggu, lalu hubungannya?

Rai berkali-kali melihat pintu kamar suaminya, hanya untuk memaskitan apakah suaminya itu sudah selesai dengan urusannya. Namun sudah 30 menit setelah Baekhyun mengeluh kepanasan dia belum keluar menunjukan batang hidungnnya.

 

“apa dia tidur lagi?” Rai mendengus. Ini hari libur, seharusnya Baekhyun mengajaknya jalan-jalan ke  taman bermain atau kebun binatang. Apa harus Rai mengikat leher Baekhyun dan menggirinnya jalan-jalan. Huft, itu merepotkan.

 

Karna terlalu bosan dan seperti diberi harapan palsu. Rai memutuskan untuk menemui Baekhyun. Sekedar mamastikan. Rai menaiki tangga dengan langkah pelan, takut-takut Baekhyun mendengar langkah kakinya. Rai termenung sesaat saat sampai didepan pintu ber-cat putih itu.

 

Tuk…. tuk

 

Rai mengetuknya dengan perlahan. Dia tidak mau ambil resiko jika ia langsung masuk dan ternyata Baekhyun sedang memakai baju.

 

“masuk” sedikit terdengar balasan dari dalam. Rai terseyum sumbringah dan membuka pintunya dengan cepat. Senyum Rai meluntur saat melihat Baekhyun yang terduduk di pinggir ranjang sambil meremas rambutnya.

 

“oppa..” Rai berlari kecil  menghampiri Baekhyun yang masih belum merubah posisinya. Rai mengigit kukunya gusar. Bulunya meremang, Aura apa ini?.

 

“Rai..” Baekhyun mendongak menatap Rai. Rai sedikit terlonjak melihat urat mata Baekhyun yang memerah.

 

“apa aku buat salah?” Rai menggigit bibir bawahnya karna takut. Entah apa yang ia rasakan, rasanya dia sangat-sangat takut. Dan Baekhyun sangat-sangat menyeramkan.

 

“iya..” jawab Baekhyun dengan tatapan menusuk.

 

“maaf-kan aku..” Rai menunduk dalam. Tangannya mencengkram kuat ujung bajunya. Jari-jari kakinya bergesekan karna gelisah.

Baekhyun bangkit dari tempatnya yang otomatis langsung berdiri tepat didepan Rai. Rai makin menunduk, tak kuasa untuk membalas tatapan Baekhyun.

 

“apa yang kau berikan padaku?” Tanya Baekhyun sedikit berbisik. Dan suara Baekhyun tadi itu cukup membuat bulunya makin meremang bahkan hampir saja dia kembali cegukan.

 

“hanya segelas susu..” suara Rai berubah serak. Dia terlalu gugup sampai tidak dapat mencerna pertanyaan Baekhyun dengan baik. Baekhyun benar-benar bukan dirinya.

 

Baekhyun makin menatap dalam Rai seolah menusuk kedalam pucuk kepala Rai dan berakhir pada otak Rai. Namun Rai masih belum bisa mengangkat kepalanya. Baekhyun menghembuskan nafas beratnya tepat diatas pucuk kepala Rai. Baekhyun seperti terbakar, tubuh dan fikirannya terasa panas. Ada sesuatu hasrat yang sulit dikontrolnya. Dia merasa sesuatu yang aneh saat melihat Rai saat ini. Rai yang menunduk malu. Rai yang menggigit bibirnya karna takut. Dan suara serak itu membuat Baekhyun ingin. Iya.. ingin.

 

“boleh aku meminta lebih dari segelas susu?” Tanya Baekhyun seraya memajukan wajahnya.

 

“berapa gelas yang kau ingin kan?” Rai benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Otaknya benar-benar sulit mengolah dan mencerna.  Padahal mereka hanya membicarakan segelas susu, mengapa Baekhyun terlihat serius sekali. Membuatnya terlihat bodoh saja, terlebih saat dia mengingat tatapan dalam Baekhyun, seperti dia ingin sekali mencolok kedua bola mata Baekhyun.

 

“semuanya..” setelah mengucapkan itu, Baekhyun menarik Rai hingga Rai tertidur dirajangnya. Menjatuhkan tubuhnya diatas Rai dengan bertopang kedua sikunya.

 

“oppa..” Rai spontan berteriak. Seperti ada aliran listrik yang masuk dalam sel otaknya, dalam sekejap Rai langsung mengerti mengerti apa yang sedang terjadi dengan ‘segelas susu’ yang Baekhyun bicarakan. Seketika Rai merasa takut. Tanganya yang ditahan Baekhyun terasa panas, dan kakinya yang terhimpit oleh kaki kuat Baekhyun membuatnya bergerak gelisah.

 

“ssstt.. hanya sebentar, dan aku akan melakukannya dengan perlahan.” Dikecupnya sudut bibir Rai. Rai membelakan matanya. Ini kali kedua Baekhyun mengecupnya setelah di altar.

 

Haruskah aku menurut?

 

Rai memandangi wajah yang ada di atas wajahnya. Mereka-reka apa sebenarnya motif dari kelakuan Baekhyun ini. Kalau dilihat dari sikap Baekhyun padanya selama ini, Baekhyun tidak mungkin ujuk-ujuk melakukan ‘ini-itu’ dengan Rai. Pasti sesuatu terjadi. Mungkinkan Baekhyun mabuk? Dengan segelas susu?

 

Tanpa sadar bibir peach Baekhyun sudah mendarat dibibirnya. Matanya masih menatap Baekhyun dengan tatapan penuh dengan pertanyaan. Haruskah dia diam dan menerimanya? Atau dia menolak dan bertanya apa yang terja-

 

“ehm..”  Rai spontan memejamkan matanya, semua pemikirannya tiba-tiba melayang seperti kupu-kupu didalam perutnya.

 

Mungkin setelah Baekhyun mendapatkan apa yang dia mau, Rai akan bertanya.

 

Sepertinya memang banyak setan ditubuhnya..

 

-0-

 

Pukul 16:20. Baekhyun menggigiti kukunya gusar. Dia terus mondar-mandir didepan pintu kamar mandinya. Sudah terhitung 1 menit lewat 26 detik Baekhyun berdiri didepan pintu itu. Dia merasa kepalanya berat saat ini, dia tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Saat dia terbangun didapatinya Rai tidur disampingnya tanpa busana, dan dirinya yang juga tanpa buasana. Lagi Baekhyun menjambak rambutnya kesal. Dia langsung mengingat suara-suara aneh yang diaungkan Rai, tubuh Rai yang meliuk tidak bisa diam, dan dia sangat ingat kalau dia sangat menyukainya ‘saat itu’.

 

“Argh!! Apa yang aku lakukan?” Baekhyun mengusap wajahnya frustasi.

 

Klek

 

“bagaimana?” sembur Baekhyun saat melihat Rai keluar dari kamar mandi. Wajahnya benar-benar seperti sedang menerima nilai hasil ujian.

 

“lihat saja sendiri..” Rai menyodorkan sesuatu seperti lidi yang tipis.

 

“apa ini? aku tidak mengerti!!” Baekhyun gusar sekaligus panik. Dia laki-laki wajar kalau tak mengetahuinya.

 

“itu negative”  ucap Rai pelan.

 

“benarkah? Ah syukurlah..” Baekhyun menghembuskan nafasnya lega. Dia langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mencoba menghilangkan rasa cemasnya.

 

“jahat sekali..” lirih Rai. Lalu apa motifnya melakukan ‘ini-itu’ dengannya kalau dia tidak ‘menginginkannya’. Rai berlalu dari hadapan Baekhyun. Untuk saat ini Rai tidak ingin melihat wajah tampan suaminya itu lebih lama. Kepalanya juga berat.

Rai berjalan sedikit tertatih keluar kamarnya. Baekhyun yang menyadari hal itu bangkit dari tidurnya. Dia menatap heran Rai yang berjalan begitu saja meninggalkannya.

 

“he-” Protesnya tertahan saat melihat Rai berjalan dengan menyeret kakinya. Kepalanya memiring karna terlalu lama berfikir. Apa masih terasa sakit?.  Baekhyun mengetuk kepalanya sendiri. Sadar akan pertanyaan bodohnya. Tentu saja sakit, karna ini pertama kalinya selama mereka menikah. Dan Baekhyun sangat ingat jika dirinya susah sekali dikendalikan.

Baekhyun memutuskan untuk menyusul Rai. Betapa terkejutnya dia saat melihat Rai yang masih diujung tangga. Menurunkan kakinya dengan perlahan dan sesekali meringis karna terlalu cepat menurunkan kakinya. Saat itu juga Baekhyun merasa bersalah pada istrinya itu. Baekhyun menyusul dan berjalan dibelakang Rai.

 

“kau butuh bantuan?” tawar Baekhyun. Baekhyun memajukan wajahnya hingga berada tepat disamping wajah Rai. Ia bisa melihat alis Rai yang menyatu menahan sakit.

 

“tidak.. akh!” Rai meringis kecil. Dia berhenti sesaat untuk meredakan rasa sakitnya. Apa yang dia rasakan sakit bukan main, seperti bekas luka gores yang disiram alkohol.

 

“ibuku bilang, kalau kau sedang sakit kau harus melawannya. Kalau kau memanjakannya rasanya akan sangat sakit..” Baekhyun mengucapkannya dengan hati-hati.

 

“kalau aku bisa, aku sudah lari dari tadi..” Rai menoleh kebelakang, membuat baekhyun menarik kembali kepalanya. Baekhyun hanya bisa mengusap belakang lehernya. Rai menghembuskan nafasnya. Dia tidak bisa terlalu marah pada suaminya  itu.

 

“iya.. aku minta maaf..” Baekhyun menunduk. Memperhatikan kakinya yang polos tanpa alas apapun.

 

“eoh..” Rai kembali melanjutkan jalannya. Menuntun kaki kurusnya untuk memijaki satu persatu anak tangga. Dan Baekhyun senantiasa mengikutinya dari belakang. Kurang lebih satu menit mereka sampai pada tempat favorit mereka, dapur.

 

“apa lagi yang kau inginkan? Segelas susu?” Rai sengaja menekan dua kata terakhir untuk menyindir Baekhyun. Baekhyun hanya tersenyum garing menanggapinya. Kemana urat malunya?. Rai mendengus sebal.

 

“ah! Susu!” pekik Baekhyun. Baekhyun langsung buru-buru membuka kulkas. Rai hampir tejatuh karna tersenggol Baekhyun. Rai jadi semakin sebal dengan suaminya itu saat melihat Baekhyun mengobak-abrik isi kulkas sesukanya. Membuat Rai naik pitam melihatnya.

 

“hei! Apa yang kau lakukan?” Rai menahan kesal. Kalau saja dia sedang tidak sakit, sudah dipatahkan tangan kurang ajar Baekhyun itu.

 

Baekhyun tidak memperdulikannya, dia terus mengacaknya hingga ia menemukan sekotak susu bubuk yang sering ia minum. Dengan terburu-buru ia membuka dan menumpahkannya diatas pantry.

 

“hei!” sekarang Rai benar-benar ingin sekali mematahkan tangan Baekhyun dan menjadikannya penggaruk punggung.

“mengapa kau menumpahkannya? Siapa yang akan-”

 

“apa susu yang biasa kau buat seperti ini?” Baekhyun menarik tangan Rai untuk melihat apa yang dia lihat. Rai merigis sedikit saat Baekhyun  menariknya paksa. Baekhyun mengangkat jari telunjuk dan tengahnya dengan ekpresi datar. Rai beralih pada tumpukan susu bubuk diatas pantry. Memperhatikan setiap butir dari bubuk susu itu.

 

“mengapa warnanya kecoklatan? Bukankah ini susu putih?” Rai memiringkan kepalanya saat melihat sedikit bubuk coklat yang tercampur pada bubuk susu putih itu.

 

Baekhyun kembali menyibukan diri. Kali ini dengan keranjang sampah yang berada dekat kulkas itu berdiri.

 

“apa lagi tuan Byun..” Rai mendesah frustasi. Rai memegangi kepalanya yang berdenyut tanpa memperdulikan Baekhyun yang berkutat dengan sampah.

 

Rai menyeringit dan menurunkan tangannya saat dia merasa dapurnya terdengar sunyi. Dia menoleh untuk memastikan apakah Baekhyun masih pada tempatnya. Dilihatnya Baekhyun sedang memengangi beberapa sampah ditanganya. Sedetik setelah itu, Baekhyun kembali membuang sampah itu dan langsug berlari menuju kamarnya. Rai melongo. Dia merasa dia tidak ada didalam dapur ini.

 

“apa-apaan dia? Mengacau, lalu pergi.” Rai mendengus kesal melihat kepergian Baekhyun. Rai berjalan perlahan menuju keranjag sampah itu. Dia juga ingin tau apa yang Baekhyun lihat sehingga suaminya itu mengabaikan keberadaanya. Eoh? Bukan kah itu sering terjadi?. Dia meraih salah satu dari semua bungkusan yang Baekhyun lihat tadi.

 

“oh.. obat kuat..” Rai hanya mengangguk sok mengerti dan membuangnya kembali.

“eh?!!!” Rai kembali menoleh melihat keranjang sampah itu. Matanya hampir keluar hanya untuk memastikan.

“jadi, tadi pagi itu..”

 

-0-

 

“Seharusnya aku sudah menduga ini. Mengapa kau dan ibu tiba-tiba pulang tanpa pamit. Kau itu benar-benar adik kurang ajar..” Baekhyun memaki ponselnya itu. Rai hanya melihatnya dari dapur sambil memasak. Suaminya terus berteriak setiap sesudah dia mendapatkan balasan dari seberang sana.

 

“tidak akan pernah!!” teriakan Baekhyun tadi menjadi penutup percakapan mereka. Baekhyun benar-benar naik pitam, setelah mengetahui jika adiknya itu mencapurkan susu bubuknya dengan obat kuat Baekhyun benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Adiknya itu memang kelewat jahil. Ibunya pasti juga sudah mengetahuinya. Baekhyun menjambak rambutnya keras, berharap denyut dikepalanya menghilang.

 

“Rai aku mau susu” ucapnya sambil berjalan kearah Rai. Baekhyun terlihat sangat kacau.

 

“kau masih ingin susu?” Rai mengangkat sebelah alisnya.

 

“ah aku lupa, buatkan aku kopi.” Baekhyun mengganti pesanannya. Dia duduk di bangku pantry, berhadapan langsung dengan Rai yang sedang memotong tomat.

 

“kau sulit terditur nanti” nasihat Rai. Rai menatap Baekhyun penuh pertanyaan. Sefrustasi itu kah Baekhyun? Apa yang dia lakukan adalah kesalahan besar? Dia tidak berdosa kan?. Rai menghela nafas, mencoba berfikir positif untuk Baekhyun.

 

“apapun itu.. yang penting aku minum.” Rai hampir memotong jarinya sendiri. Rai memegangi dadanya yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Dengan kikuk Rai menuangkan air mineral kedalam gelas dan langsung menyerahkannya pada Baekhyun. Awalnya Baekhyun hendak protes tapi dia terlalu lelah untuk protes dan akhirnya memilih diam dan tetap meminum air itu.

 

Rai memegangi perutnya, tersenyum kecut seraya memperhatikan Baekhyun yang sudah menjatuhkan wajahnya diatas meja pantry.

 

“mungkin Nari memang sudah ingin punya keponakan..” Rai menaruh tomat yang sudah dipotongnya kedalm mangkuk dan mengambil wortel untuk menjadi korban pemotongannya juga.

 

“dan ibu?” Baekhyun mengangkat wajahnya. Rai tidak mengira kalau Baekhyun akan mendengarkannya, bahkah Rai kira Baekhyun tertidur. Rai mengangkat bahu tak yakin.

 

“dan… kau juga?” tangan Rai terhenti. Ditatapnya Baekhyun dengan perlahan. Baekhyun masih tetap pada posisinya, perpangku lengan.

 

“tidak juga..” terdengar sekali dari suaranya, Rai sedikit gugup. Rai kembali memotong wortelnya dan potongannya berubah menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Baekhyun langsung duduk tegap mendengar suara pisau yang dimainkan Rai. menatap Rai dengan perasaan was-was takut-takut Rai melemparkan pisau padanya.

 

“mandilah.. aku tidak mau melihat tubuh kotormu itu.” Rai masih berkutat dengan pisaunya. Baekhyun jadi ngeri sediri. Rai menjadi lebih kasar dari biasanya.

 

“kau mengapa jadi sensi?” Baekhyun memajukan bibir bawahnya. Rai tidak menjawab dan mulai menghampiri kompor yang otomatis memunggunginya.

“he-” Baekhyun menunda kata-katanya. Jiak difikir memang benar, sejak kejadian itu Baekhyun belum membersihkan diri.

 

“baiklah.. setelah aku selesai, aku mau langsung makan. Jadi, percepat masaknya.” Titah Baekhyun layaknya bos. Tanganya terlipat didada.

 

“eoh.”

 

Lipatan tangan Baekhyun terlepas dan jatuh diantara tubunya. Menatap istrinya dengan tatapan datar. Mengapa disaat dirinya mencoba akrab, Rai malah bersikap dingin dengannya.

 

-0-

 

“apa kau tidak makan?” tanya Baekhyun saat melihat istrinya hanya mengupas kulit jeruk tanpa memakannya.

 

“tidak nafsu..” jawab Rai tak berselera. Sudah ada 7 buah jeruk yang dia kupas. Dan belum ada satupun yang rusak.

 

“setidaknya jangan kau kupas kalau tak kau makan..” Baekhyun melahap suapan terakhirnya. Malam ini Rai terlihat berbeda, biasanya Rai akan melayaninya dan terus mengoceh tentang apapun yang tak penting. Namun, kali ini Rai hanya terdiam sambil mengupas kulit jeruk.

 

“terserah aku.. apapun yang aku lakukan tidak akan berpengaruh apapun pada dirimu.” Judes. Rai jadi semakin judes setelah kejadian itu. Apa karna dia tidak hamil? Baekhyun spontas menggeleng.

 

“aku sudah selesai. Terimakasih atas makanannya..” Baekhyun menaruh sendoknya diatas mangkuk.

 

“eoh..” satu buah terakhir sudah selesai dia kupas. Rai memperhatikan tumpukan buah tersebut dengan tatapan kosong. Tangannya dia gunakan untuk menopang kepalanya.

 

“kau itu kenapa? Kau begitu menghawatirkan” Baekhyun kembali terduduk dan mengibaskan tangannya didepan wajah Rai. Rai hanya berkedip sekali lalu kembali menatap buah-buahnya.

 

“hei!” teriak Baekhyun kesal.

 

“ada apa?” jawab Rai sengit.

“apa maumu?” Baekhyun terperajat. Mata Rai terlihat memerah dan Rai terlihat menahan rahangnya.

 

“kau menangis?” Baekhyun sedikit memajukan wajahnya untuk memastikan

 

“sudahlah..” Rai bangkit dan berlalu dari Baekhyun. Matanya terasa panas bila teus-terusan menatap Baekhyun. Seperti biasa, Rai berlari menaiki tangga lalu menghilang ditelan pintu.

 

“apa aku menyakitinya?” Baekhyun menatap pintu kamar istrinya. Baru teringat jika mereka tidur terpisah.

 

Baekhyun mengehela pasrah, dia megambil peralatan makannya dan membawanya kedapur. Ditaruhnya alat-alat makan itu diwastafle. Baekhyun menyederkan tubuhnya di pintu kulkas. Dia baru menyadari kalau dapurnya terlihat lebih bersih dari terakhir kali dia lihat. Apa istrinya serajin ini?

 

“sudah kubilang jika dia itu berbeda..” Baekhyun memejam matanya kuat sebelum akhirya dia putuskan untuk memulai mencuci piring.

 

 

Baekhyun bergerak gelisah dalam tidurnya. Perlahan matanya mulai terbuka. Sinar matahari masuk kedalam kamarnya melalui jendela yang ternyata sudah terbuka. Dahinya mengerut, seingatnya dia sudah menutup rapat rapat jendela itu. Kalau Rai yang membukanya lalu mengapa dia tidak membangunkannya? Baekhyun mengacak rambutnya asal.

 

Baekhyun melirik jam diatas nakas.

“shit!” Baekhyun mengumpat dan langsung melompat dari kasurnya. Mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi.

 

Baekhyun berlari kecil menuruni tangga. Sampai di ujung tangga Baekhyun menemukan sticky note yang tertempel di pegangan tangga.

 

Aku sudah buatkan sarapan..

Selamat makan..

 

“shit!!” lagi-lagi Baekhyun mengumpat. Dia membuang note itu dan berlari menyambar kunci mobilnya. Tidak punya bayak waktu untuk sarapan.

 

“apa-apaan dia? Tumben sekali tidak membangunkanku.” Baekhyun menutup pintu dan menguncinya. Berlari menuruni 3 anak tangga lalu menghampiri mobilnya.

 

“kenapa?” Baekhyun berulangkali mencoba membuka mobilnya namun mobilnya tidak merespon.

“AISH!!” Baekhyun menjambak rambutnya karna kesal. Saking terburunya dia, dia sampai lupa kalu mobilnya masih terkunci.

Semua karnamu, kau harus membayarnya nona Lee..

 

-0-

 

“hei nona Lee..” laki-laki mungil terlihat merapat pada Rai yang tengah melamun dipojok café

 

“eoh..” Rai menengok sekilas lalu kembali pada kegiatannya. Menatap jendela bersih disampingnya. Menatap mobil yang lalu lalang dijalan itu.

 

“kau sakit ya?” tanya pria itu seraya menaruh tangannya di pelipis Rai.

 

“eoh” tatapan Rai lurus kedepan.

 

“sajangnim…. Rai mengacuhkanku…” pria itu berlari kecil kearah sang manager yang tengah menikmati secangkir kopi buatan baristanya. Café sedang sepi siang ini. Kebanyakan orang memilih membeli makanan berat untuk makan siang dibandingkan semua menu di café yang hanya menyediakan makanan-makanan manis.

 

“mungkin dia memang sakit..” ditatapinya Rai sambil menyeruput kopi.

 

Kring~

 

“eoh?” beberapa pegawai menoleh kearah pintu dimana lonceng itu berbunyi. Tiga pria dengan setelan jas rapih, rambut klimis dan sepatu mengkilap muncul dari pintu kaca yang terlihat biasa. Terlihat terlalu mewah untuk berada di café biasa itu.

 

“se-selamat datang.. haha..” pria mungil itu menyambut kaku. Beberapa karyawan hanya diam tak bergeming. Pelayan yang mayoritas wanita jelas hanya bisa diam melihat pelanggan yang baru mereka lihat sebelumnya. Beberapa berbisik dan saling menyikut membicarakan 3 mahluk sempurna itu.

 

“ah iya bocah itu..” pria mungil itu berlari menghampiri Rai saat melihat pelanggannya memperhatikan Rai yang termenung di meja café.

 

“mwo.. minseok?” Rai menoleh malas.

 

“ada pelanggan cepat layani meraka..” pria bernama Minseok itu menunjuk-nunjuk pelanggan yang ternyata masih terdiam didepan pintu. Rai menatap pelanggannya. Tatapannya datar dan tak bersemangat.

 

“kau saja aku masih punya urusan yang lebih penting..” Rai berlalu seraya menaruh serbetnya dikepala Minseok.

 

“oy!” Minseok sedikit beringsut saat melihat Rai pergi begitu saja.

 

“ah, silahkan tuan.. pilih tempat yang anda suka..” manager café mempersilahkan. Mereka juga dengan canggung masuk kedalam café kecil tersebut.

 

“hyung haruskah kau pecat Rai..” Minseok berbisik pada managernya.

 

“seorang kyungsoo tidak sekejam itu..” balas managernya sambil memukul dadanya pelan.

“hush.. layani mereka” pria bernama Kyungsoo itu mendorong Minseok keras lalu pergi menuju dapur. Hanya dia satu-satunya manager yang turun lapangan.

 

-0-

 

“ternyata dia memang mencoba membalasku..” Baekhyun dapat melihat Rai yang terduduk diam dimeja barista, memainkan biji kopi tanpa menghiraukan temannya yang mengajaknya bercanda. Rasanya Baekhyun ingin mengerek Rai pulang lalu menjadikannya pembantu tanpa bayaran. Baekhyun benar-benar kesal, bahkan saat Rai melihatnya tidak merasakan takut atau pun senang seperti biasanya.

 

“oy hyung.. kau kenapa, sejak masuk café ini kau terus bergumam tak jelas..” Jongin menyikut atasannya yang terlihat seperti tante-tante, terus mencibir sambil mengaduk-aduk susu coklat.

 

“bukan apa-apa..” Baekhyun kembali mengaduk susunya lalu melahap waffle milik Jongin.

 

“tumben sekali susu coklat, biasanya susu putih..” pria sipit dengan kulit albino menunjuk gelas Baekhyun dengan garpu bekas pancake yang dimakannya.

 

Aku trauma..

 

“hoi! Jauhkan garpu kotormu itu” Sehun semakin gencar mengacungkan garpunya pada Baekhyun. Baekhyun memang tidak pernah punya bawahan yang beres. Mungkin jika dia orang jahat, mungkin dia sudah memecat kedua bawahannya disaat mereka melamar.

 

“hyung.. kau ingat? Pelayan yang itu.. Aku merasa ditolak olehnya tadi, hahah..” Jongin tertawa miris sambil memperhatikan Rai yang dimaksud, masih pada kegiatannya memainkan biji kopi.

 

“eoh! Seperti melayani kita tidaklah penting..” timbrung Sehun setuju. Dia mengangguk sebal.

 

“dia memang istri yang durhaka..” Baekhyun menatap Rai dengan ekor matanya. Baekhyun yang tadinya hanya penasaran kini menjadi kesal sendiri karna terlalu memikirkan perubahan sikap Rai.

 

“eoh? Hyung?” kedua bawahannya memiringkan kepala.

 

“eoh, ah itu.. maksudku, sumianya pasti tidak akan betah dengan sikapnya itu.” Baekhyun mengibaskan tangannya gugup. Baru sadar dengan apa yang dia ucapkan. Dan baru ingat kalau bawahan sekaligus temannya itu tidak mengetahui perihal pernikahannya.

 

“tapi aku rasa dia belum menikah, dia terlihat terlalu lucu untuk ukuran wanita menikah.. dan dia terlihat menantang..” Jongin sedikit menatap Rai dengan muka pengen-nya.

 

“itu tidak seperti dia yang biasaya..” Baekhyun seperti tidak terima dengan pujian Jongin.

“dia itu wanita idiot, tidak pernah mau mendengakan kata-kataku..”

 

 

“…..”

 

 

 

To be Continued….

6 thoughts on “Maybe (Chapter 2)

  1. Ff nya makin seruuu, lucu dan ngakak thor~
    Wuih mreka udah ngalkuin itu gegara dikerjain si nara, sialan sekali tu bocah😂🙈
    Masih kepo. Kira2 si Rai bakalan hamil gak yah?
    Trus baek bakalan sayang sama Rai gak yah?
    Aah gapingin RT mreka cerai😂
    Thor buruan dilanjut yh, fighting🙌💕
    Aku nunggu bgt kelanjutan ff nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s