The Night Mistake – Part.10

sehun chanyeol

The Night Mistake – Part.10

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16 )

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda  http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Duduk gelisah di depan Chanyeol tanpa mampu mengeluarkan kalimat walau hanya sepenggal, adalah hal yang dilakukan Jongin sejak kedatangan Chanyeol ke rumahnya lima belas menit lalu. Jongin terlalu merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan di belakang pria itu, Chanyeol adalah sahabatnya sejak di universitas dan di sepanjang yang Jongin ingat Chanyeol tidak pernah mengecewakannya, pria itu selalu membantunya dalam hal apapun, termasuk dalam hal financial.

“Jongin, aku datang kemari hanya untuk bertanya, aku sangat berharap kau menyangkalnya. Kau sahabatku, kau tidak mungkin menikamku dari belakang, benar ‘kan?” Jongin tetap membisu, ia bahkan tak sanggup berlama-lama menatap Chanyeol.

“Apa kau tahu sesuatu tentang apa yang terjadi di malam aku terjebak bersama Jiyeon? Apa benar kau membantu Sehun untuk menjebakku malam itu demi sejumlah uang?”

Tubuh Jongin memaku, lidahnnya kelu, tenggorokannya tersumbat, wajahnya membeku dalam tatapan Chanyeol yang tetap saja terasa bersabahat. Seketika rasa sesal datang dan menamparnya keras, menyadarkan Jongin dari rencana busuk yang menyeretnya dalam penghianatan pada sosok sang sahabat. Jongin membisu, matanya memandang Chanyeol penuh penyesalan dan berharap pria itu sudi memaafkannya suatu hari nanti.

“Maafkan aku,” hanya kata itu pada akhirnya yang mampu keluar dari mulut Jongin, ia gemetar mendapati genggaman tangan Chanyeol mengeras.

“Kenapa kau melakukannya? Memangnya berapa uang yang Sehun tawarkan padamu?” Chanyeol mengusap wajahnya frustasi, mengatur napasnya yang terasa sesak. “Jika kau memang membutuhkan uang, kau bisa mengatakannya padaku. Aku bisa memberimu uang tanpa memintamu untuk berhianat pada sahabatmu sendiri, aku benar-benar kecewa padamu, Jongin.”

Jongin memandang Chanyeol yang beranjak, pria itu tersenyum samar sebelum berbalik, berjalan pelan meninggalkan ruangan Jongin yang duduk membeku, rasa sesal kini nyata memaki semua kebodohan Jongin.

Oppa…,”

Usapan lembut di bagian bahu membuat Jongin tersentak, ia tersadar dari penggalan ingatan di mana itu adalah hal yang paling Jongin sesali selama ia bernapas di dunia ini. Jongin berusaha tersenyum, menatap sesosok wanita cantik yang dua tahun lalu telah menggunakan marga keluarganya di depan namanya. Kening Jongin mengeryit, mendapati wajah wanita di depannya terlihat murung.

“Ada apa, Minhee?”

Oppa harus melihat ini,” jawab Minhee lalu meraih remot tivi di atas meja kaca di depan mereka, menekan beberapa chanel tivi yang tengah menayangkan berita yang sama.

 

Berita eksklusif tentang pengusaha muda Park Chanyeol bersama wanita yang diduga adalah korban pemerkosaan, dari pria berstatus sebagai salah satu pengusaha tersibuk di Korea Selatan.

 

Jongin hanya diam menatap layar kaca, mengenggam tangannya sendiri dengan begitu kuat kala melihat Chanyeol yang mengaku untuk semua perbuatannya di depan awak media. Lagi, rasa sesal itu mencambuknya, sakit, menembus ke dalam paru-paru hingga Jongin merasa sesak.

“Aku yakin Chanyeol tidak bersalah,” gumam Minhee pelan. “Aku tahu jika dia punya kebiasaan buruk dengan para wanita penghibur, tapi aku sangat yakin dia bukan pemerkosa.” tuntas Minhee dalam desahan berat yang justru membuat Jongin kian terpuruk.

~000~

Yixing berjalan tergesa menghampiri Chanyeol yang baru saja hendak beranjak dari meja makan, ia terlihat cemas, meragu untuk merangkai kata-kata yang terasa sulit terlontar saat Chanyeol memintanya untuk berucap.

“Tuan Muda, di depan ada banyak wartawan yang mendesak untuk bertemu. Berita kemarin sudah tersebar di semua penjuru Korea, dan…,” Yixing menggantungkan kalimatnya, sekali lagi merasa ragu untuk laporannya kali ini.

“Katakan.”

“Direktur Park Seo dilarikan ke rumah sakit pagi ini, beliau terkena serangan jantung setelah melihat berita di televisi.”

Chanyeol menahan napasnya sejenak, menatap sesaat ke arah Jiyeon yang masih duduk di depan meja makan. Gadis itu balas menatapnya, terlihat cemas hingga wajahnya pucat pasi. Chanyeol tersenyum hangat, ia berjalan hingga berdiri di sisi Jiyeon, tangannya terulur, mengusap pelan punggung tangan Jiyeon yang mendingin.

“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” ucap Chanyeol kemudian sesaat sebelum akhirnya berlalu, diikuti Yixing yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Chanyeol membingkai wajahnya dengan kaca mata hitam, menatap ke arah puluhan para wartawan di luar pintu pagar sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil mewahnya. Chanyeol tak berniat meladeni para wartawan yang ia yakin hanya akan bertanya hal yang sama, Chanyeol terlalu muak dengan semua yang terjadi. Pintu pagar yang kokoh menjulang perlahan terbuka, memudahkan para wartawan untuk mendekat, mengedor kaca jendela seraya memberikan pertanyaan yang tak digubris sama sekali oleh Chanyeol.

Mobil Chanyeol pun pada akhirnya bisa keluar dari kerumunan, melaju kencang menuju kantornya yang menurut Yixing juga telah dipenuhi para wartawan. Chanyeol mendesah, menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. Ia memejamkan matanya, berharap bilamana beban yang kini menghimpitnya bisa sedikit menguap. Mata terpejam Chanyeol terbuka saat ponselnya bergetar, menampilkan satu nama yang membuat Chanyeol kian terpuruk. Nama ayah Yoojin terpampang di sana, laki-laki yang sangat Chanyeol hormati setelah pamannya Oh Seokbin, meminta dirinya untuk bertemu sekarang juga.

~000~

“Apa benar kabar yang aku lihat di televisi, Chanyeol?”

Tanpa berlama-lama Yang Kwangjo melayangkan kegelisahannya, tak mau berbasi-basi, bahkan pria paruh baya itu tak membiarkan Chanyeol duduk santai di beranda favorit mereka seperti biasanya. Mata senjanya menatap Chanyeol lekat, memandang pria yang pernah ia yakini akan mampu menjaga putrinya dengan baik. Namun kini semua keyakinan itu pudar, seiring anggukan samar yang Chanyeol berikan untuk menjawab pertanyaannya.

 

BUUKK!!!—-

 

Satu pukulan mendarat mulus di wajah Chanyeol, ia terhuyung ke belakang, menatap Kwangjo penuh sesal untuk rasa kecewa yang ia berikan pada pria paruh baya itu. Chanyeol mengucapkan ribuan kata maaf pada Kwangjo yang masih mengepalkan kedua tangan, Kwangjo berusaha menahan amarah dari rasa tak percaya untuk kenyataan yang kini menghianatinya.

“Maafkan aku Paman, maafkan aku…,”

Kwangjo memejamkan matanya sesaat, menarik napas panjang, ia menatap sekilas ke arah Yoojin yang berdiri bersembunyi di balik daun pintu bersama sang istri. Gadis itu menyembulkan kepalanya, menggeleng lemah, meminta belas kasih pada sang ayah untuk tidak kembali memukul Chanyeol. Kwangjo menatap Chanyeol, ia mendekati pria itu seraya berujar.

“Pergilah! Jangan pernah menampakkan wajah brengsekmu di depanku ataupun di depan putriku.”

Final, Kwangjo membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu. Ia menarik Yoojin yang ingin keluar masuk ke dalam rumah, membanting pintu beranda hingga terdengar bunyi bentuman di belakangnya. Meninggalkan Chanyeol sendirian, meninggalkan Chanyeol yang hanya bisa termangu saat menatap air mata Yoojin sesaat sebelum pintu tertutup rapat, tanpa ada celah bagi Chanyeol untuk dapat kembali membukanya, tidak sekarang ataupun dimasa depan.

~000~

Sejak enam puluh menit yang lalu Jiyeon hanya memandang lurus ke arah pintu pagar yang menjulang, menatap puluhan awak media yang masih saja berkumpul di balik pintu besi kokoh di depan sana. Rasa cemas terlalu mendominasi hati, mendatangkan tumpukan cairan bening yang siap meluncur kapan saja dari sepasang mata bening Jiyeon yang sayu. Berita di televisi terasa begitu menyesakkan, mendapati hanya sosok Chanyeol yang menjadi sasaran berita. Pria itu dihujat dan dimaki, membuat Jiyeon sangat sakit hingga ia merasa tak menemukan oksigen di dalam paru-parunya yang terasa kian menyempit.

Jiyeon duduk di atas bangku taman, memandang genggaman tangannya yang gemetar, perutnya pun sudah terasa sakit sejak tadi. Namun Jiyeon mengabaikannya, baginya rasa sakit yang Chanyeol rasakan saat ini lebih penting dari rasa sakit yang ia rasakan. Tanpa Jiyeon sadari sosok Jinhwan kini datang mendekatinya, pria dingin itu menatap Jiyeon yang menuduk dalam diam. Perlahan Jinhwan berlutut di depan Jiyeon, menyentuh pelan genggaman tangan Jiyeon yang masih saja gemetar.

“Song Jiyeon.”

Tanpa dibuat-buat Jiyeon terkejut bukan kepalang, ia bahkan hampir terjungkal ke belakang jika Jinhwan tidak menahan tangannya. Jiyeon menatap takut ke arah Jinhwan yang berlutut di depannya, menatapnya dalam tatapan yang berbeda. Terasa hangat, bukan tatapan dingin yang meremangkan bulu-bulu halus di tengguk, seperti yang selama ini Jiyeon rasakan tiap kali berpapasan dengan Im Jinhwan.

“Apa kau merasa sedih atas hal yang kini menimpa Chanyeol?” Jiyeon tidak menjawab, ia masih terlalu terkejut untuk kedatangan Jinhwan. “Untuk apa kau merasa sedih? Bukankah Chanyeol pantas mendapatkannya? Dia pantas dihukum, benarkan?”

Jiyeon masih membisu, menatap ke dalam mata abu-abu Jinhwan yang memandanginya lekat. Ada rasa sakit yang terselip di balik mata dingin itu, rasa yang semakin membuat Jiyeon merasa tak sanggup untuk berucap.

“Kau memang tidak mengirimnya ke penjara, kau memang sudah tidak pernah memakinya, kau memang sudah menerima kehamilan karena perbuatannya. Tapi tetap saja sampai sekarang kau belum memaafkannya, apa kau tahu jika itu justru adalah sebuah hukuman yang lebih berat dari sebuah penjara, Jiyeon? Hukuman dari sebuah kesalahan yang direncanakan orang lain padanya.”

“Apa? Rencana orang lain?” tanya Jiyeon pada akhirnya, ia masih menatap Jinhwan.

“Oh Sehun, laki-laki yang sangat disayangi Chanyeol, laki-laki yang sudah dianggap Chanyeol sebagai adiknya sendiri, pria itu menghianati Chanyeol. Dia mengatur rencana busuknya malam itu, menambahkan obat perangsang di minuman Chanyeol dan membuat Chanyeol tidak bisa menahan diri apalagi berpikir malam itu. Kau hanyalah gadis tidak beruntung yang terjebak dalam permainan Sehun hingga detik ini.”

“Aku tahu siapa Chanyeol dengan sangat baik, dia tidak pernah memaksakan hasratnya pada gadis baik-baik dan dia benar-benar bersungguh-bersungguh untuk mempertanggungjawabkan semua yang dia lakukan padamu. Dia sudah kehilangan gadis yang sangat dicintainya, kehilangan saudara laki-lakinya dan semakin kehilangan sosok ibunya yang sejak awal memang sudah meninggalkannya.”

“Lalu apa menurutmu, Chanyeol masih tidak pantas untuk dimaafkan, Song Jiyeon? Dia hanya butuh kata maaf darimu, tidak lebih.”

Mata Jiyeon memanas dan mulai berkabut, merasa sakit setelah mendengar penuturan Jinhwan. Chanyeol kini sendirian, orang-orang terkasih Chanyeol telah pergi meninggalkan pria itu. Jiyeon merasa jika ini semua sangatlah tidak pantas untuk kesalahan yang bukan keinginan Chanyeol.  Laki laki itu sudah menyesal, laki laki itu sudah bertangggungjawab untuk kesalahan yang ia perbuat. Laki laki itu bahkan rela ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya.

 

Lantas, pantaskah jika Chanyeol tidak mendapatkan kata maaf untuk kesalahannya? Pantaskah Chanyeol dihukum seberat ini—-  tanya Jiyeon pada dirinya sendiri.

 

Jiyeon tersedu, air matanya mulai meleleh melewati tulang pipinya, memucatkan wajah Jiyeon dalam sapuan semilir angin senja yang terasa menyakiti, hampa, hingga Jiyeon hanya mampu terisak di puluhan detik kedepannya, bersama Jinhwan yang masih duduk berlutut di depannya. Im Jinhwan, pria dingin dengan semua kekejaman yang melekat nyata di dalam dirinya, pria yang pada akhirnya meneteskan air mata untuk pertamakalinya, air mata untuk seorang adik laki-laki yang sangat disayanginya melebihi ia menyayangi dirinya sendiri.

~000~

Chanyeol berjalan pelan nyaris tertatih menaiki anak tangga beralas permadani abu-abu, bercorak bunga tulip kuning yang diimport langsung dari timur tengah, untuk menghiasi semua tangga yang ada di rumah mewahnya. Dia menundukkan kepala yang terasa pening, semua kenyataan pahit menamparnya begitu keras, mendorongnya ke dalam jurang kehampaan, membuat cairan bening tanpa perintah kini mulai berkumpul di sudut mata Chanyeol yang sayu.

Ini terlalu berat, ini terlalu bertubi-tubi dan tidak pernah Chanyeol bayangkan sebelumnya. Semua orang kini meninggalkannya, semua orang yang Chanyeol sayangi melebihi dia menyayangi nyawanya sendiri, kini telah membuangnya dan menganggap jika dia tidak pernah ada di dunia ini. Keadaan ibunya kian memburuk, Seojung bahkan tidak ingin bertemu Chanyeol saat ia datang berkunjung ke rumah sakit. Namun yang paling menyakitkan dari ini semua adalah, penghianatan yang Sehun lakukan pada dirinya. Tanpa sadar Chanyeol telah meneteskan air mata di pipinya yang memucat, terus melangkah dan berhenti di depan pintu kamar Jiyeon yang sedikit terbuka. Tanpa rencana Chanyeol membelokkan langkahnya, mendorong pintu berpelitur putih bersih itu untuk selanjutnya masuk ke dalam kamar. Mendapati Jiyeon yang tengah tertidur pulas di atas ranjang tidurnya, berselimut biru muda yang menutupi tubuh wanita itu sebatas perut.

Chanyeol memandang wajah tenang Jiyeon, air matanya kian tak bisa ditahan, merasa semakin sesak saat menatap perut Jiyeon, dimana di dalamnya terdapat seorang manusia kecil, terbentuk dari sebuah kesalahan yang menjadi awal terjadinya semua kekacauan fatal di hidupnya. Chanyeol mengusap wajah frustasinya, merasa kakinya mati rasa hingga tak sanggup untuk sekedar menopang tubuhnya sendiri, membuatnya beringsut tak tertahan di lantai kamar yang dingin. Chanyeol terisak pelan di dalam kakinya yang tertekuk, menyembunyikan wajahnya di antara lengan, bahunya mulai bergetar semakin kencang. Menangisi semua penghianatan yang dilakukan orang-orang tersayang, ia tidak pernah tahu jika Jiyeon telah membuka matanya, menatap terkejut ke arah Chanyeol yang masih duduk bersandar di pinggiran ranjang.

Jiyeon menegang di tempatnya saat menyadari jika Chanyeol tengah terisak, tak percaya jika pria yang Jiyeon anggap sebagai manusia kejam itu bisa meneteskan air matanya. Terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya, tanpa sadar Jiyeon mengerakkan tangan bergetarnya ke atas pundak Chanyeol. Gadis itu bahkan kini telah menurunkan setengah kakinya dari ranjang, duduk merapat ke arah Chanyeol. Pria itu terkejut karena sentuhan Jiyeon di bahunya, tak ada kata yang keluar di antara keduanya, Chanyeol hanya menatap Jiyeon dalam tatapan menyesal yang begitu menyakitkan. Tatapan putus asa atas semua tindakan bodoh yang telah dia lakukan pada gadis itu.

Jiyeon mengerakkan tangannya ke wajah Chanyeol, mengusap air mata pria itu seraya membawanya ke atas pangkuan. Jiyeon mengusap bahu Chanyeol yang kembali bergetar menahan isak, membuat mata beningnya tanpa sadar berembun hingga pandangannya mengabur. Dan selanjutnya di penghujung senja sendu kali ini, Jiyeon membiarkan Chanyeol menenggelamkan wajahnya di sana, membiarkan Chanyeol memeluk satu tangannya dengan begitu erat, membiarkan Chanyeol menangis di atas pangkuannya.

~000~

Sehun menggenggam erat remot tivi yang sejak tadi ia tekan berkali-kali guna mencari berita lain selain berita tengang Chanyeol, ia merasa tak suka, merasa benar-benar terganggu untuk semua pemberitaan yang semakin memojokkan Chanyeol. Seharusnya Sehun merasa senang karena itulah tujuannya, membuat Chanyeol hancur tanpa sisa demi membalaskan rasa sakit hati yang sudah ia tahan selama bertahun-tahun.

Namun semua tidak berjalan sesuai rencana, semua orang yang ia sayangi justru tersakiti lebih dalam dari dirinya sendiri. Ayahnya jatuh sakit karena berita Chanyeol, ibunya pun selalu menangis dan meminta dirinya mendampingi Chanyeol. Bibinya Park Seojung tak kalah terpuruk, pengusaha sukses itu bahkan belum keluar dari rumah sakit sejak berita Chanyeol tersebar luas seminggu lalu. Harga saham Shinhwa Corporation merosot tajam, para dewan direksi mulai mengkhawatirkan kondisi kejiwaan dan kesehatan Seojung paska scandal memalukan Park Chanyeol.

Dan yang paling membuat Sehun terpukul dalam sekelumit rasa sesal adalah keadaan Yoojin. Gadis yang menjadi awal Sehun membenci Chanyeol kini terlihat seperti mayat hidup, tak bicara dan hanya menangis. Keluarga Yoojin bahkan membawa gadis itu ke Dokter Psikiater, keadaan jiwa Yoojin benar-benar tergunjang dan memprihatinkan. Sehun bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan kesedihan Yoojin dan kedua orangtuanya, Sehun hanya mampu memaki diri sendiri karena kini ia merasa menjadi pecundang sejati. Ironis memang tapi itulah kenyataannya, Sehun menderita dalam kesalahannya sendiri.

“Sehun,”

Serta merta Sehun berpaling, menatap sosok sang ibu yang berdiri limblung di ambang pintu. Wanita yang masih terlihat sangat cantik di usia tak lagi muda itu perlahan mendekat, menatap penuh harap ke dalam sepasang mata teduh Sehun yang ia wariskan pada putra tunggalnya itu. Tangan dingin Oh Taekmin menyentuh jemari Sehun, mengenggamnya erat. Ia menarik napas panjang, menghalau air mata untuk tidak terjun bebas dari sepasang mata senjanya.

“Polisi akan menangkap Chanyeol siang ini atas tuduhan pemerkosaan, ibu tidak tahu apa yang bisa ibu lakukan untuk mencegahnya.” air mata Taekmin meleleh juga, wanita itu terisak pelan. “Bisakah kau melakukan sesuatu untuk membantu kakakmu? Ibu benar-benar tidak sanggup jika harus melihat kakakmu mendekam di penjara.” Taekmin semakin terisak, membuat Sehun membawa wanita itu ke dalam pelukannya.

“Ibu…,”

“Tolong lakukan sesuatu Sehun, yakinkan gadis itu jika Chanyeol akan tetap bertanggungjawab tanpa harus menghukumnya di penjara. Aku sangat menyayangi kakakmu sebanyak aku menyayangimu, kalian berdua adalah nyawaku, jika salah satu di antara kalian terluka maka aku bisa mati.”

Sehun mengeratkan pelukannya, mengusap bahu Taekmin yang bergetar. Ia merasa sakit, merasa matanya ikut memanas untuk semua pesakitan yang ia torehkan pada sang ibu tercinta. Sungguh Sehun tidak ingin menyakiti hati wanita terpenting dalam hidupnya itu, Sehun sangat menyayangi ibunya dan rela menyerahkan nyawanya untuk sang ibu. Tangisan Taekmin yang kian tak terbendung kini nyata menyayat di tiap inci hati Sehun, merajam kejam hingga Sehun tak bisa bernapas dengan benar.

“Iya. Aku akan menolong Chanyeol, aku akan membantu kakakku keluar dari masalah ini Ibu, aku janji.” ucap Sehun dengan pelukan yang mengerat.

~000~

Chanyeol terlihat masih sangat sibuk dengan setumpuk pekerjaannya, tak ambil pusing jika saat ini ia sudah melewatkan waktu makan siang. Beberapa hari ini Chanyeol kembali menjadi pria gila kerja melebihi dari dirinya yang biasanya, ia berangkat sangat pagi dan baru pulang lewat tengah malam. Perusahaan ibunya ia ambil alih, kesehatan Seojung benar-benar terpuruk dan Chanyeol tidak bisa membiarkan keadaan ibunya semakin parah karena memikirkan perusahaan. Chanyeol tidak peduli saat Seojung menolak mentah-mentah campur tangannya di perusahaan peninggalan ayahnya tersebut, ia lebih dari paham sifat keras ibunya sejak dulu. Sifat yang sejatinya juga menjalar di tiap denyut nadi kehidupannya.

Suara ketukan dari balik pintu tak menghentikan kegiatan Chanyeol barang sejenak, pria itu hanya terdengar mempersilahkan siapapun yang kini berdiri di balik pintu untuk masuk ke dalam ruangannya. Im Jinhwan berdiri di ambang pintu, menatap datar sosok Chanyeol yang terlihat lelah di balik meja kerjanya. Jinhwan mendekat lalu duduk di atas sofa hitam tepat di depan meja kerja Chanyeol, ia hanya mendesah panjang, memandang lurus ke depan, menebus dinding kaca yang menyajikan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menatap sinis ke arahnya.

“Semua orang kini mendesakmu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan asusila yang telah kau lakukan pada Jiyeon, gadis itu memang tidak menuntutmu tapi masyarakat mengecammu dan memaksa pihak berwajib untuk menangkapmu, Chanyeol.”

Seketika gerakan tangan Chanyeol terhenti, bolpoint berbahan emas kuning yang baru saja mengoreskan tinta hitamnya pada berkas penting perusahaan menggelinding di atas meja. Chanyeol menegakkan kepalanya, menatap Jinhwan yang masih memandangi langit. Ia tertawa sumbang untuk semua hal yang dipaparkan Jinhwan, Chanyeol lebih dari paham dengan situasi panas yang kian bergulir belakangan ini.

“Kapan mereka akan menangkapku, Hyung?”  nada tenang yang berusaha Chanyeol sematkan di kalimatnya tak mampu membohongi Jinhwan, pria itu terlalu mengenal Chanyeol lebih dari siapapun.

“Mungkin, sebentar lagi. Apa sekarang kau merasa takut?” Jinhwan menatap Chanyeol sekilas, sebelum kembali memandang gumpalan awan kelabu, kian menutupi hamparan biru yang menaungi Seoul siang ini.

“Sedikit.” jawab Chanyeol pelan.

“Sejak kapan kau menjadi penakut?”

“Aku bukan takut mendekam dalam bui, aku hanya takut keadaan ini semakin menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Terlebih ibuku. Aku yakin dia akan semakin terpuruk, aku benar-benar tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi hal yang lebih buruk pada ibuku.”

Chanyeol mendesah gelisah, ikut melemparkan pandangan ke arah di mana Jinhwan kini tengah memakukan pandangan. “Hyung… apa ayahku kini merasa kecewa padaku? Apa ayahku merasa menyesal memiliki putra sepertiku?”

Mata Jinhwan terpejam sesaat, ia melirik Chanyeol dari ujung soket matanya yang berembun. “Tidak. Tuan Park Jaebin sangat bangga memiliki putra sepertimu, Park Chanyeol.”

Chanyeol tersenyum, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Terima kasih, Jinhwan hyung.”

~000~

Dengan langkah tergesa Sehun menaiki anak tangga, mengikuti Yixing yang berjalan beberapa langkah di depannya. Pengawal pribadi Chanyeol itu tampak binggung dengan kedatangan Sehun yang tiba-tiba, terlebih untuk maksud kedatangan pria itu yang nyata membuat dahi Yixing mengeryit.

“Aku harus segera membawa Jiyeon ke kantor Chanyeol, tidak ada banyak waktu, aku akan menjelaskannya selama di perjalanan. Jika kau tidak percaya, kau bisa ikut bersamaku, Yixing.” ujar Sehun dalam satu tarikan napas saat Yixing meminta penjelasan.

“Baiklah aku dan Jiyeon akan ikut, tapi kau tidak bisa memaksanya. Dia…,”

“Dia harus ikut, ini demi kelangsungan hidup kakakku, Zhang Yixing!”

“Kakakmu?”

Seketika perdebatan Sehun dan Yixing terhenti, mereka sama-sama menatap ke arah Jiyeon yang telah berdiri di undakan tangga paling atas. Gadis itu menatap Sehun dalam tatapan bencinya, mengeratkan genggaman tangannya sebelum akhirnya terangkat ke udara, mendarat di pipi Sehun sesaat setelah pria itu berdiri di depannya.

“Kau… Oh Sehun…,”

“Kau tahu siapa aku.”

“Tentu saja. Kau adalah pria bejat yang membuatku terperangkap bersama Chanyeol malam itu, kau pria pengecut, biang masalah yang menghancurkan hidupku.”

 

PLAKKK!!!—-

 

Lagi Jiyeon melayangkan tamparannya, ia geram bukan kepalang. Jiyeon menjerit, mengucapkan sumpah serapah pada Sehun yang berdiri memaku. Jiyeon baru saja akan kembali menghajar Sehun, namun Yixing menahannya, menarik Jiyeon menjauh seraya berujar pelan.

“Tuan Muda Chanyeol kini tengah dalam masalah besar, beliau membutuhkanmu Song Jiyeon. Jadi bisakah kita menundanya?” mata bening Jiyeon membulat, menatap tak percaya Yixing yang masih membingkai kedua bahunya.

“Apa?”

“Iya Yixing benar, siang ini pihak kepolisian akan menangkap Chanyeol dan satu-satunya orang yang bisa menolongnya hanya kau, Song Jiyeon. Jadi ikutlah denganku, waktu kita tidak banyak, kecuali kau ingin Chanyeol mendekam di penjara.”

~000~

Pintu ruang kerja Chanyeol kembali diketuk dari luar, seperti yang sebelumnya kini Chanyeol langsung mempersilahkan seseorang di balik pintu untuk masuk ke dalam ruangannya. Tiga pria dalam balutan kemeja putih berlapis jaket kulit hitam menyeruak masuk, ketiganya membungkuk hormat seraya memperlihatkan lencana keanggotaan dari lembaga kepolisian. Salah satu polisi mendekati Chanyeol, menyerahkan secarik kertas berisi surat penangkapan. Tak ada perlawanan dari Chanyeol, pria itu pasrah seraya menatap Jinhwan yang terlihat mengangguk samar. Ia tersenyum pada Jinhwan, menarik napas panjang sesaat sebelum melangkah mengikuti tiga polisi yang mengiringnya ke luar ruangan.

Namun tepat saat mereka baru saja hendak meraih gagang pintu, saat itulah sosok Sehun terlihat. Pria itu berdiri bersama Yixing, menatap Chanyeol sekilas lalu beralih pada para polisi. Sehun tidak menghiraukan keterkejutan Chanyeol yang tergambar sangat gamblang, Sehun bahkan hanya tersenyum tipis saat Chanyeol semakin terkejut kala sesosok wanita keluar dari balik bahu Yixing yang bidang.

“Maaf mengganggu tugas anda Pak, tapi sebelum Bapak membawa Chanyeol ada baiknya anda mendengar pengakuan dari Jiyeon, wanita yang diberitakan menjadi korban dari Chanyeol.” ujar Sehun pelan, ia menatap Jiyeon seraya mengangguk mantab.

Jiyeon menarik napasnya, menggenggam jemarinya yang mendingin, ia menatap Chanyeol sekilas sebelum pada akhirnya meluncurkan kalimat yang membuat Chanyeol memaku, pupilnya membulat, menatap tak percaya pada apa yang dikatakan Jiyeon saat ini.

“Aku Song Jiyeon, bukanlah korban perkosaan dari park Chanyeol. Aku adalah kekasih Chanyeol, aku hamil karena kehendak kami berdua. Semua yang dikatakan Chanyeol di media hanyalah salah paham, waktu itu dia hanya berusaha menyakinkanku yang merasa jika Chanyeol akan meninggalkanku karena pertunangannya.” ucap Jiyeon yakin, tak ada nada keraguan di semua kalimat yang ia ucapkan.

“Jadi, kalian tidak bisa menangkapnya.” lanjut Jiyeon seraya berjalan mendekati Chanyeol, ia merangkul lengan Chanyeol erat, menuntaskan kalimat yang membuat ia mendapat tatapan dalam dari Chanyeol yang memaku di sampingnya.

“Aku mencintainya, kami saling mencintai, jadi… tidak ada siapapun yang dirugikan dalam hal ini. Baik aku ataupun Chanyeol.”

Rangkulan erat Jiyeon mengendur saat pihak polisi pada akhirnya melepaskan Chanyeol, Jiyeon lemas seketika, ia merasa jika semua udara di sekitarnya hilang tak tersisa. Jiyeon limblung, tubuhnya terhuyung sebelum pada akhirnya jatuh pingsan di dalam rangkulan erat Park Chanyeol.

~000~

Chanyeol menatap Jiyeon yang akhirnya sadar saat ia membawa gadis itu pulang ke rumahnya, tim dokter langsung memeriksa keadaan Jiyeon dan setelah itu Chanyeol bisa menarik napas lega karena keadaan Jiyeon baik-baik saja, gadis itu hanya merasa terlalu lelah. Chanyeol menatap Jiyeon kian lekat, gadis itu kini sudah tertidur di atas ranjangnya, beberapa kali Chanyeol mendengar Jiyeon bergumam tak jelas untuk masalah yang tidak Chanyeol ketahui. Chanyeol membenarkan tata letak selimut yang menutupi tubuh Jiyeon, tertegun saat menatap air mata yang masih saja menetes dari sudut mata Jiyeon yang terpejam.

“Apa yang terjadi, Jiyeon? Kenapa kau terlihat sangat sedih? Apa Sehun menyakiti perasaanmu tanpa aku ketahui?” tanya Chanyeol tanpa sadar, mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang saat mendengar Jiyeon kembali bergumam gelisah dalam tidurnya.

Tanpa sadar Chanyeol mengulurkan tangannya, mengusap pelan kepala Jiyeon hingga gumaman gadis itu tak lagi terdengar. Tersenyum tipis saat mendengar napas Jiyeon yang mulai tenang, Chanyeol membelai wajah Jiyeon lembut, tersenyum untuk hal yang tidak Chanyeol mengerti. Ia hanya merasa senang kala teringat jika Jiyeon baru saja menolongnya, merasa tidak percaya jika gadis yang begitu membencinya itu justru menjadi penolongnya. Namun sesaat kemudian desahan sesak menguar dari mulut Chanyeol, mendapati memori tentang Sehun yang ia yakini menjadi penyebab utama Jiyeon menolongnya hari ini.

Oh Sehun, pria itu langsung pergi saat Jiyeon pingsan di ruangan Chanyeol, laki-laki itu hanya berujar lirih sesaat sebelum Chanyeol membawa Jiyeon pulang ke rumah dengan mobilnya.

 

“Jangan berbangga hati ataupun menilai jika aku menyesali perbuatanku padamu, Chanyeol. Aku melakukan ini hanya untuk ibuku, aku benar-benar tidak bisa melihatnya terus meneteskan air mata karena memikirkan masalahmu. Aku… masih sangat membencimu, Park Chanyeol.”

 

“Chanyeol-ssi.”

Suara serak Jiyeon membuyarkan lamunan Chanyeol, ia menatap Jiyeon yang sudah membuka mata seraya ingin duduk. Tanpa perintah Chanyeol mengulurkan tangannya, membantu Jiyeon untuk duduk bersandar. Keheningan menyergap mereka tanpa rencana, Chanyeol tampak binggung untuk berucap saat Jiyeon hanya membisu, gadis itu memandang ke arah jendela kamar yang terbuka.

“Jiyeon.” ucap Chanyeol pelan namun mampu memecahkan keheningan di antara mereka, Jiyeon berpaling, mensejajarkan pandangan mereka hingga Jiyeon merasa detak jantungnya perlahan memacu lebih cepat.

“Terima kasih, terima kasih untuk apa yang kau lakukan padaku hari ini.” Jiyeon mengangguk pelan, mereka masih saling pandang.

“Kata-kata terakhirku, anggap kau tidak pernah mendengarnya. Aku hanya ingin meyakinkan pihak polisi agar mereka tidak menangkapmu.” balas Jiyeon tak kalah pelan, menahan rasa yang berkecambuk di dalam hati.

“Aku tahu, kau tenang saja.” Chanyeol tersenyum hangat, tapi entah mengapa senyum itu justru terasa sangat menyakitkan untuk Jiyeon.

Jiyeon mengerjap pelan, menahan air mata yang entah mengapa tiba-tiba saja sudah berkumpul di sudut mata beningnya. Jiyeon merasa sangat tersiksa untuk sebuah rasa yang tumbuh kian subur di dalam taman hatinya, merasa jika rasa asing itu semakin menyakitinya. Hingga akhirnya Jiyeon merasa perutnya menegang, menekan hulu hati hingga Jiyeon pucat dalam hitungan detik.

Arrgghhh!!!” Jiyeon merintih tak tertahan, Chanyeol panik.

“Ada apa? Perutmu sakit lagi?” tanya Chanyeol, ia semakin panik.

Chanyeol beranjak, bermaksud memanggil tim dokter kandungan Jiyeon, namun niat Chanyeol tertahan saat Jiyeon justru menarik tangannya, membawa tangannya ke atas perut Jiyeon.

“Bisakah kau mengusapnya,” ucap Jiyeon lirih. “Berlawanan dengan arah jarum jam.” lanjut Jiyeon dengan mata setengah terpejam.

Binggung namun Chanyeol pada akhirnya mengangguk, ia merapatkan tubuhnya pada Jiyeon, mengusap perut Jiyeon yang belum tampak besar itu sesuai dengan yang Jiyeon intruksikan. Tanpa sadar Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol, merasakan kenyamanan yang membuat rasa sakit di perutnya hilang tak berbekas.

“Chanyeol-ssi apa kau tahu, jika perutku selalu sakit tiap kali aku berusaha menolak kehadiranmu, bayiku selalu menyulitkanku tiap kali aku menyangkal, jika aku merindukanmu.” Jiyeon tersenyum samar, setetes air mata meleleh dari sudut matanya. “Sepertinya bayiku marah jika aku membencimu…,” Jiyeon beranjak dari bahu Chanyeol, ia menatap Chanyeol dalam senyum samarnya.

“…jadi mulai hari ini, aku memutuskan untuk tidak lagi membencimu demi bayiku ini,” lagi Jiyeon meneteskan air matanya saat jemari Chanyeol menyentuh pipinya, pria itu tersenyum hangat seperti biasanya.

“Terima kasih Jiyeon, terima kasih banyak.” ucap Chanyeol sesaat sebelum menyematkan kecupan lembut di puncak kepala Jiyeon, kecupan yang membekukan wanita itu dalam keterkejutan hingga mendebarkan jiwa.

~000~

3 Month’s Later

Chanyeol’s House

Luxury Porch – Twilight

Setelah hari itu Jiyeon menghabiskan hari-harinya dengan tersenyum, ia tidak pernah lagi menangis. Chanyeol selalu bersamanya, bahkan sejak usia kandungan Jiyeon menginjak tujuh bulan, Chanyeol memilih untuk menyelesaikan pekerjaanya di rumah, hingga ia bisa lebih banyak meluangkan waktunya untuk menemani Jiyeon di rumah. Tak jarang mereka juga berkunjung ke panti asuhan Jiyeon, menghabiskan banyak waktu bersama orangtua angkat Jiyeon Soledad dan Coraimo. Lambat laun tanpa terasa Chanyeol mulai terbiasa dengan kehadiran Jiyeon di sisinya, pria sibuk itu bahkan sudah menyiapkan sebuah kamar bayi yang sangat cantik untuk calon bayi yang dikandung Jiyeon. Bayi yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan.

“Dokter, akhir-akhir ini pergerakan bayi yang dikandung Jiyeon sedikit menyakitinya, apa itu pertanda normal?” tanya Chanyeol di suatu senja, dia menemani Jiyeon yang kini tengah diperiksa intensif oleh tim dokter yang selama ini mengontrol perkembangan janin Jiyeon selama 24 jam.

“Itu sangat normal Tuan Park, calon putri anda sangat sehat, terbukti dia sangat aktif di dalam sana.” jawab sang dokter dengan senyum wibawanya.

“Baiklah kalau begitu.” tuntas Chanyeol sesaat sebelum tim dokter beranjak meninggalkan dirinya bersama Jiyeon.

Meraka duduk berdampingan di sebuah sofa yang nyaman, keheningan kerap kali melanda mereka jika hanya duduk berdua saja. Mereka memang sudah terbiasa satu sama lain, namun tetap saja kekakuan sering kali muncul dan mengurung mereka hingga puluhan menit berlalu. Jiyeon mendesah pelan, merasa sedikit tersiksa untuk kebisuan yang tercipta di antara mereka. Namun saat Jiyeon baru saja ingin beranjak, ia kembali merasakan hal aneh di dalam hatinya, perasaan yang memerintahkannya untuk tetap berada disana, di sisi Chanyeol.

Perutnya pun mulai menegang saat Jiyeon memaksakan diri untuk beranjak, membuat Jiyeon meringis, dia mengusap-usap perutnya, tapi rasa sakitnya tak juga berkurang dan justru semakin tak tertahan. Jiyeon merasa jika ini mulai menyakitinya, membuat napasnya sesak dan tanpa sadar tangan gadis itu sudah menguncang tubuh Chanyeol yang diam di sampingnya. Chanyeol terkejut, tetapi dia mengabaikannya saat menatap wajah Jiyeon yang memucat, satu tangan wanita itu masih mengusap perut yang kini sudah kian membesar.

“Kau baik-baik saja?”

“Perut ku…,“

“Sakit?”

Heemm…,“ Jiyeon mengangguk lemah. “Tolong usap perutku, sekarang.”

Dalam kepanikan Chanyeol langsung mengulurkan tangannya di atas perut Jiyeon, mengusapnya lembut dengan satu tangan seperti yang pernah Jiyeon ajarkan padanya tempo hari. Chanyeol menggerakkan satu tangannya yang lain untuk membingkai pundak Jiyeon, membawa Jiyeon bersandar di bahunya dengan tetap mengusap perut wanita itu, bersenandung pelan dalam puluhan detik yang berlalu di antara mereka.

Jiyeon memejamkan matanya saat rasa nyaman kembali menjalari tubuhnya, rasa sakit di perutnya bahkan sudah hilang tak berbekas. Dia merasa sangat bahagia dengan semua yang Chanyeol lakukan saat ini, sebuah rasa yang semakin tak bisa Jiyeon abaikan lagi akhir-akhir ini. Entahlah Jiyeon juga tidak tahu, sebenarnya siapakah yang merasa nyaman saat ini. Dirinya? Atau bayi kecil yang ada di dalam rahimnya.

“Sudah lebih baik?” ucap Chanyeol pelan yang memecahkan suasana nyaman di antara mereka, membuat Jiyeon membuka matanya dan segera beranjak dari rangkulan Chanyeol yang menghangatkan hatinya.

“Terima kasih.”

Chanyeol tersenyum seraya menundukkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya ke arah perut Jiyeon hingga membuat wanita itu terkejut, mengerjap saat Chanyeol mengajak perutnya berbicara, lebih tepatnya kini Chanyeol tengah mengajak bicara jabang bayi di dalam rahimnya.

Hey! Jangan menyusahkan ibumu, jadilah anak yang baik di dalam sana, arrachie?” Chanyeol kembali tersenyum saat sudah kembali duduk tegak, menatap Jiyeon yang menatapnya dengan menahan tawa.

“Ada apa?” tanya Chanyeol, namun Jiyeon hanya menggeleng pelan, tetap dengan senyum tertahannya. “Apa aku terlihat aneh?” Jiyeon kembali menggeleng.

Namun saat Chanyeol ingin kembali berucap, tiba-tiba Jiyeon menarik tangan Chanyeol, ia meletakkan ke atas perut besarnya, tangannya dia letakkan di atas tangan Chanyeol. Mereka saling menatap dalam diam, Jiyeon tersenyum lembut saat melihat wajah Chanyeol yang berubah menegang.

“Kau bisa merasakannya?” ucap Jiyeon, tangannya menekan sedikit tangan Chanyeol yang di genggamannya.

“Ini…,” Chanyeol masih terlalu terkejut, menatap Jiyeon dan perut wanita itu secara bergantian.

“Dia menendang.”

Wajah Chanyeol kembali menegang namun kali ini terselip ekspresi bahagia di sana, laki-laki itu melebarkan senyumnya, mengangguk antusias seraya membungkuk ke arah perut Jiyeon.

“Dia bisa merasakan kehadiranmu, dan aku rasa dia mendengarkan ucapanmu.”

“Iya kau benar.” Chanyeol masih menunduk dan tanpa sadar pria itu mencium perut Jiyeon, mengucapkan sebaris kalimat yang sontak kembali membekukan suasana di antara mereka.

“Sayang, aku ayahmu….”

Jiyeon memaku, ia bahkan lupa untuk bernapas saat Chanyeol mencium perutnya. Ia melepaskan genggamannya di tangan Chanyeol, mengalihkan pandangan saat Chanyeol menegakkan kepala. Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing, melemparkan pandangan pada apa saja asalkan tidak saling menatap. Chanyeol terlihat kikuk dan binggung, kebisuan terus menyergap dan tidak ingin beranjak dari mereka. Suara getar dari ponsel milik Chanyeol di atas meja mengalihkan perhatian mereka, Chanyeol berdehem lalu menyambar ponselnya. Melakukan sambungan obrolan pada seseorang di seberang sana, sesekali pria itu tampak melirik Jiyeon yang memilih memandang ke arah luar jendela.

“Aku akan menemui ibuku, ada urusan pekerjaan yang harus kami selesaikan.” ujar Chanyeol seraya bangkit berdiri, menatap Jiyeon yang terlihat hanya mengangguk.

Eoh, aku baru ingat sesuatu…,” ucap Chanyeol seraya menahan langkahnya. “Kemarin aku bertemu dengan Dokter Kang Jihye, beliau menitipkan salamnya untukmu.”

“Benarkah?” Chanyeol mengangguk. “Ah, aku sangat merindukannya, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.”

“Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu ke rumah Dokter Kang. Kau bisa mengobrol bersamanya selagi aku bertemu ibuku, jika urusanku sudah selesai aku akan menjemputmu, bagaimana?” tawar Chanyeol.

Jiyeon menimang sebentar, bepergian berdua saja dengan Chanyeol adalah hal yang sangat Jiyeon sukai. Jiyeon pun pada akhirnya mengangguk, ia beranjak lalu melangkah perlahan di samping Chanyeol dalam senyum bahagia yang sudah merekah tanpa perintah.

~000~

“Akhir-akhir ini kau terlihat jarang bertemu sepupumu, apa kalian bertengkar?” Seojung bertanya dari atas sofa putih yang di dudukinya, menatap sekilas ke arah Chanyeol yang duduk di depannya, pria itu terlihat masih sangat sibuk membolak balik berkas penting perusahaan.

“Sehun sibuk di Macau dan aku sibuk dengan dua perusahaan besar. Aku bahkan butuh waktu lebih dari 24 jam dalam sehari untuk menyelesaikan semua pekerjaanku.” Chanyeol menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.

Sejak serangan jantung Seojung beberapa bulan lalu, kondisi kesehatan Seojung belum membaik seperti sedia kala. Ia menjadi gampang lelah dan memaksanya untuk beristirahat lebih banyak. Seojung yang sejatinya sangat menyayangi Chanyeol itu pun dengan sangat terpaksa mempercayakan perusahaan suaminya pada Chanyeol, saham yang sempat Chanyeol ingin serahkan pada Sehun ditarik kembali oleh Seojung. Seburuk apapun hubungan Seojung dan Chanyeol, tetap saja ia ingin putra kandungnya yang memimpin perusahaan bukan keponakannya.  Dan hingga detik ini Seojung tidak pernah tahu tentang semua kebusukan Sehun, yang ia tahu Chanyeol bersalah dan karena Sehun dan Jiyeonlah Chanyeol selamat dari jerat hukum. Karena fakta itu juga kini Seojung menjadi sedikit bersahabat pada Song Jiyeon dan selalu memuji Sehun karena telah menyelamatkan putranya dari kejamnya jerusi besi.

“Hubunganmu dengan gadis itu semakin membaik, apa kau merencakan sesuatu untuk masa depan gadis itu?”

“Apa ibu sekarang sedang memintaku untuk menikahi Jiyeon, karena dia mengandung penerusmu?”

“Aku tidak menyukai gadis itu, dia bukan dari kalangan terhormat seperti kita. Tapi mau bagaimana lagi, seantero Korea sudah tahu jika dia calon menantuku dan dia kini sedang mengandung penerus dari Shinwa Corporation. Benar begitu ‘kan?” Seojung menyerahkan berkas yang ada di tangannya, meminta Chanyeol untuk memeriksa ulang sebelum ia bubuhi tanda tangan.

“Yah ibu benar, bayi itu bahkan penerus dua perusahaan sekaligus.” Chanyeol tersenyum samar, meletakkan berkas di atas meja agar bisa segera Seojung tanda tangani.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Entahlah… yang pasti aku dan Jiyeon akan menyambut bayi kami dengan suka cita.” jawab Chanyeol ragu, ia memandang Seojung sekilas sebelum beranjak dari sofa.

“Jika kau tidak menikahinya maka bayi itu bukanlah penerusku, bayi itu tidak akan bisa mengunakan marga leluhurmu di depan namanya.”

Chanyeol tersenyum samar, ia menatap Seojung sekali lagi sebelum melangkahkan kakinya. Meninggalkan Seojung tanpa jawaban, melangkah dalam balutan pilihan yang terasa masih terlalu berat untuk di putuskan secepat ini. Chanyeol lebih dari paham jika menikahi Jiyeon bukanlah pilihan yang tepat, bukanlah jalan keluar yang akan membawa kebahagian, karena hingga kini Chanyeol masih melabuhkan hatinya di tempat yang sama.

TBC

23 thoughts on “The Night Mistake – Part.10

  1. Thooooooorrrrrrr huuuaaaaaaa….*nangis 7hari malem*..nyesek banget thorrrr….tapi seru sumpah seru banget……next thor…tapi please jangan lama2 oke…smangat..

  2. aku gak inget apa aku perna komen di ff ini apa ngga, yg jelas aku udah baca ff ini wlu ga sampe tamat.. klu faktanya aku ternyata blm komen maaf karna baru komen skrg ya thor
    chanyeol masih cinta sama yoojin trus apa arti sikap baik nya sama jiyeon? kasian jiyeon klu gitu..

  3. Omg….. Nyesekkk….terharu… Campur aduk min… Please dilnjut yah…jgan lama2… Chanyeol msih blum bsa lupain yoo jin… T_T.. Trs tar jiyeon gmna,?? Yoo jin ma sehun aja deh…hihihi…next ya min…

  4. Aaaa sumpah chapter ini keren bangettt
    Ga bisa komen apa apa
    Ini daebak banget 대박!!!짱!!!
    Kandungan jiyeon udah 7 bulan tapi kok belom nikahh??chanyeol buka hatinya dong ke jiyeon kan kasian jiyeonn😭😭
    Tapi seneng banget pas chanyeol gajadi masuk penjara karena sehun sama jiyeon
    Next thorrr jangan lama lama..pleasee
    제발🙏🙏파이팅!!!!😍😘😍😘🙆🙆🙆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s