Unlogical Time? #4

PhotoGrid_1453032335183

Unlogical Time? #4

Author : Blue Sky

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Cast : Oh Sehun & Song Daera (and Other cast)

Genre : Fantasy, Married Life

Hello again ^^)/ lanjut untuk Unlogical Time part 4, sorry untuk chap sebelumnya. Kependekan ya? Mianee (T.T) soalnya Author lagi sibuk Final semester, tapi.. kali ini bakalan panjang kok ceritanya ‘-‘)9 , Jangan lupa comment terus yaa~ \(^^)/

Unlogical Time?

~*~

“dia pasti tidak pulang” daera mondar mandir sambil menggigiti kukunya, perasaannya gelisah karena kejadian pagi tadi di mana ia dengan beraninya mengecup bibir Sehun. “oke, aku akan tidur di sini. Karena dia pasti tidak pulang”

Seketika ia terdiam “tapi? Kalau dia pulang?”

Daera melirik jam yang terpampang di dinding, menunjukkan pukul 11 malam. “pasti dia tidak pulang kan?” dan kembali mondar mandir

Kini ia berada di kamarnya, ia tak ingin lagi mengganggu Daehun yang sudah tertidur lelap di kamarnya.

“Tidak! Dia pasti tidak pulang” dengan mantap Daera meloncat, segera meraih selimut dan membungkus diri layaknya kepompong “Ahh!! Nyamannya”

 

Daera segera meraih ponselnya “Apa tidak ada sesuatu di ponsel ini?” ia membuka galeri pada ponselnya, mata beningnya terbelalak melihat foto-foto yang terpampang jelas pada ponsel tersebut “Mwoo??”

Ia terkejut mendapati banyaknya foto dirinya dengan Sehun, entah itu selfie atau yang lainnya. Seketika mata beningnya tertuju pada sebuah video, ia segera memencet tombol play pada video itu.

“Apa ini?”

Video tersebut memperlihatkan dirinya dan juga Daehun yang sedang duduk di taman penuh dengan pohon sakura bermekaran, dan yang pastinya Sehun yang merekam video tersebut “Daehun” sapa riang Sehun pada anaknya

“Ayah” Daehun melambaikan tangan pada Sehun yang sedang merekam video, Ia segera berlari sambil bermain bola “Hati-hati Daehun-ah” teriak Daera.

“Apa kau menyukainya?” Tanya Sehun pada Daera dan seketika Daera tersenyum

 

eo, aku sangat menyukai sakura di Tokyo”

“Apa kau tidak mau mengucapkan sesuatu padaku?” goda Sehun

Seketika Daera terkekeh “Gomawo sehuniee

“Apa kau tidak mau memanggilku yeobo?”

Daera menggeleng “Aku lebih suka memanggilmu Sehunie, kau terlihat muda. Suamiku” Daera tertawa dan Sehun juga ikut tertawa.

Video pun terhenti, sedetik kemudian wajah Daera merah padam atau mungkin lebih tepatnya seperti kepiting rebus

“Apa itu aku? Dan Sehun?” pertanyaan yang tidak bisa dijelaskan terngiang di kepala gadis itu, Ia segera meletakkan ponselnya di atas meja nakas tepat di sampingnya. Segera membungkus dirinya dengan selimut, jantungnya berdegub kencang “Kenapa aku menikah dengannya? Bukankah aku tidak mengenalnya? Lagipula dia adalah seorang konglomerat”

 

suara samar terdengar, seperti hentakan sepatu melangkah mendekat. Kening gadis itu berkerut samar “Apa itu…. Sehun?”

Seketika terdengar suara knop pintu terbuka, Daera segera bangkit sambil membungkus dirinya dengan selimut hingga mencapai puncak kepalanya, hanya wajah mungilnya saja yang terlihat. Ia terkejut melihat sosok di ambang pintu “Se.. Se, Sehun?”

 

~*~

Mereka berdua saling bertatapan, Sehun masih di ambang pintu dan juga Daera yang masih terduduk di ranjang dengan selimut yang membungkusi seluruh tubuhnya.

Sedetik kemudian Sehun terkekeh “Kau seperti kepompong” membuat Daera cemberut dan merasa malu, Sehun segera menutup pintu membuka jas hitam yang melekat di tubuhnya.

 

“Kau belum tidur? Aku kira kau tidur bersama Daehun lagi”

Lelaki itu membuka kancing kemejanya, membuat pipi Daera merona tipis memperhatikan tubuh Sehun yang tegap sempurna terbalut kemeja putihnya. “Ya! Apa kau tidak bisa mengganti bajumu di tempat lain?”

Sehun mengangguk “baiklah” dan segera memasuki kamar mandi mengganti pakaiannya.

“Ahh! Kenapa aku tidur di sini? Sekarang bagaimana?” gerutu Daera.

Sehun keluar dengan memakai piyama berwarna abu-abu, serta rambutnya yang basah membuat pipi Daera semakin merona

“Sampai kapan kau membungkus diri seperti itu?” tegurnya

Daera terkejut “Apanya?”

“Kau mau menguasai sendiri selimut itu?”

“ah ini”

 

Sehun segera berbaring di samping Daera, sedangkan gadis itu berpikir keras untuk bisa menjauh dari sehun. Ia segera mengambil bantal sofa yang berada di kamar itu dan mengumpulkannya sebanyak mungkin, membuat Sehun terkejut dengan aksi istrinya yang menimpuk segala bantal di antara mereka

 

“ingat! Ini adalah perbatasan, jangan pernah melewatinya”

Sehun mendengus kasar “apa kau masih marah padaku?”

“Janji kau tidak akan melewati batas ini, oke?”

eo, aku mengerti”

“oke” Daera segera berbaring dan menarik selimut.

 

Mian..” Suara Sehun memecah keheningan, kening Daera berkerut samar.

Miane, aku mungkin salah dan membuatmu sangat marah” lanjutnya

Daera merasa menyesal,  membuat Sehun di masa depan  meminta maaf padanya yang pada kenyataannya memang Sehun tak berbuat apapun.

“Sudahlah, apa kau tidak tidur? Aku sudah mengantuk”

eo, baiklah”

 

~*~

Pagi menjelang, Daera terbangun lebih dulu. Ia mengerjap dengan perlahan, memperhatikan cahaya samar yang tertutupi di balik gorden kemudian melihat sekelilingnya dan menangkap sosok yang berada tepat di sampingnya yaitu Oh Sehun, Lelaki itu masih tertidur lelap

 

“Jam berapa ini?” Ia meraih jam digital yang terletak di atas meja nakas menunjukkan pukul 06:30, dan meletakkan kembali jam tersebut.

“apa dia belum bangun?”gumamnya.

Ia menatap lekat wajah Sehun yang masih tertidur pulas, wajah tenangnya yang entah mengapa membuat Daera tersenyum “dia pasti lelah”

 

Sedetik kemudian Daera tersadar dari sikap anehnya, ia segera menampar kedua pipinya “Apa aku mulai gila?” pipinya merona tipis, ia segera bangkit dari ranjang dengan perlahan agar tak menimbulkan suara gaduh yang bisa membuat Sehun terbangun. Kemudian meraih knop pintu dan membukanya, meninggalkan Sehun yang masih bermimpi di ujung sana.

……

Langkah pertama Daera yaitu dengan mencuci pakaian kotornya, Ia segera mengangkut keranjang yang berisi tumpukkan pakaiannya “Selamat pagi Nyonya” seorang wanita membungkuk padanya

“oh? Selamat pagi”

“Nyonya sedang apa?”

“ah, aku akan mencuci pakaian kotor ini” kening wanita tersebut berkerut samar “Tapi nyonya, itu adalah pekerjaan Jizu”

Daera tak mengerti apa maksud perkataan wanita itu “Apa? Jizu?”

Wanita tersebut segera memanggil sosok yang di sebut bernama Jizu “Cucilah pakaian Nyonya, Tuan dan juga Tuan muda” perintah wanita tersebut dan segera dilaksanakan oleh Jizu

 

Daera masih dalam ambang kebingungan, tanda tanya besar terlintas di benaknya

“Maaf Nyonya, saya permisi dulu”

Ne” jawab Daera singkat, dan wanita tersebut meninggalkannya.

 

Ponsel Daera berbunyi, Ia segera meraih ponselnya dan mendapati nama Eunji yang tertera pada layar ponselnya. Ia sontak menekan tombol hijau pada layar ponsel

Yeoboseyo? Eonni?”

Daera-ah, bukan maksudku si Daera 22 tahun”

“ada apa eonni meneleponku?”

……

 

Daera ragu untuk kembali ke kamarnya, Ia takut berhadapan dengan Sehun. Pasalnya jika berhadapan dengan lelaki tersebut lidahnya seperti kelu untuk berbicara. Tapi dia tidak mempunyai pilihan…

Daera segera memasuki kamar, meluruskan pandangannya dan mendapati Sehun yang tengah bersiap “Daera, bisa kau pasangkan dasi ini?”

“hm? I.. Iya”

Sehun segera menyerahkan dasi tersebut, dengan lihainya Daera memasangkan dasi pada kerak baju yang tidak lain adalah suaminya. Ia tidak berani menatap wajah Sehun, pandangannya di lain arah.

“Sudah”

Gomawo” Sehun tersenyum dan mengusap puncak kepala Daera dengan singkat.

 

“Hari ini aku akan pulang lebih cepat”

eo? Kenapa?”

“Apa kau tidak ingat hari ini?”

 

Kening Daera berkerut samar “hari ini? Bukannya ini hari kamis?”

Sehun memutar bola matanya “ini hari ulang tahun Daehun”

“ahh” Daera berpura-pura mengetahuinya

“apa kau lupa?”

Daera menggeleng “tentu saja aku ingat” cengirnya.

“aku akan membelikannya hadiah” ucap Sehun dengan semangat.

“ehm, kalau begitu. Aku akan membelikannya kue”

 

~*~

Rumah kembali sepi karena Sehun dan Daehun yang sedang pergi menjalankan aktivitas mereka seperti biasa. Keadaan yang hening membuat Daera merasa bosan.

Tok! Tok!

Terdengar suara ketukan pintu, Daera segera membuka knop polintu dan mendapati Ahjumma. “Nyonya, ada yang ingin bertemu dengan anda”

“siapa?”

“nyonya Eunji”

 

Daera tersenyum dan segera menuruni tangga menuju ruang tamu “eonni” gadis itu memeluk Eunji dengan erat “Untuk kedua kalinya kau memelukku seperti ini”

Daera menyegir dan mereka berdua pun menduduki sofa “aku akan mengajakmu keluar. Kau belum pernah melihat suasana masa depan?”

Seketika mata Bening Daera berbinar “betulkah?”

 

Eunji mengangguk “Aneh, aku berbicara kata MASA DEPAN. Seperti doraemon” gumamnya

“Tapi, kita naik apa? Taksi?”

 

Eunji terbelalak, dan seketika ia teringat di hadapannya adalah Si Daera 22 tahun. “kuberitahu kau, dirumah ini mempunyai banyak koleksi mobil. Salah satunya adalah milikmu”

“Apa?”

…..

Mereka berdua kini di tuntun oleh pengawal menuju sebuah ruangan yang luas namun agak gelap hingga penglihatan Daera terlihat samar, sedetik kemudian cahaya terang menyinari seluruh penjuru ruangan tersebut. Daera terkejut melihat apa yang dihadapannya kini, berjejer mobil dengan model yang berbeda-beda “Apa ini?”

Eunji memasang wajah datarnya “seharusnya aku yang terkejut, ini semua milik suamimu”

Mereka pun berjalan, Daera mengekor di belakang Eunji. Seketika Eunji mendekati mobil sport putih “ini adalah mobilmu, kau biasa memakainya”

 

“APA?” Ia memperhatikan mobil tersebut, membayangkan ternyata dialah pemiliknya. Di masa lalu ia tidak pernah berfikir untuk memiliki mobil seperti itu, tentu saja kendaraan yang berharga baginya di masa lalu adalah Bus.

“oke, sekarang kau harus berpakaian. Kita akan pergi kemanapun”

“oke” ucap Daera riang.

 

~*~

Kini Daera dan Eunji tengah berada di dalam mobil, Dengan mantap Eunji melajukan mobil mewah tersebut dengan perlahan. “Kita mau ke mana?” tanya Daera

“entahlah, berjalan-jalan saja”

Seketika Daera teringat sesuatu “eonni, hari ini ulang tahun Daehun. Bisakah kau mengantarku untuk membeli kue”

Eunji tersenyum “tentu saja, tapi.. Apa kau mulai terbiasa?”

Daera sejenak terdiam “entahlah, aku ingin mencari Na ra”

 

Kening Eunji berkerut samar “Na ra? Siapa dia?”

“anak perempuan yang memberikanku sebuah jam kecil, terakhir kali dia mengatakan bisa melihat masa depan. Aku pikir itu lelucon, tapi ternyata paginya aku berada di sini”

Eunji terlihat kebingungan “kau seperti di sebuah film, itu membuatku takut”

“Apa eonni bisa membantuku menemukannya?”

“tapi bagaimana?” Tanya eunji

“kita bisa pergi ke apartemen terakhir kali aku mengantarnya”

Eunji mengangguk “baiklah”

……

 

Daera dan Eunji berada di sebuah toko yang menjual berbagai kue, “Apa Daehun menyukai ini?”

Eunji mengangguk “Aku yakin, karena tahun lalu kau membelikannya kue coklat”

“Baiklah”

“Apa yang Sehun berikan untuk anakmu?”

Daera mengangkat kedua bahunya “entahlah, Sehun hanya mengatakan akan memberikan hadiah” dan di balas anggukan oleh Eunji.

 

“Apa sekarang kita mulai mencari anak yang kau maksud itu?”

Daera tersenyum “tentu saja”

 

~*~

 

“Apaa?? Apartemennya telah digusur?”

Lelaki paruh baya tersebut sedikit terkejut “Ya” jawabnya singkat

“Sejak kapan?”

“2 tahun lalu” jawab lelaki paruh baya itu.

Raut wajah Daera seketika berubah, Ia menjadi lesu dan tak bersemangat “Jika begini aku tidak akan kembali ke masa lalu” gumamnya.

….

Mereka kembali berada di dalam mobil. Ekspresi Daera masih saja lesu, Ia sedikit pucat “Aku sebenarnya bingung apa yang terjadi denganmu” ujar Eunji memecah keheningan.

“Kau tahu kan? Dari masa lalu ke masa depan itu sama sekali tak masuk akal”

 

Daera menyilangkan tangannya di atas dada “Lalu? Aku harus bagaimana? Kau berfikir aku harus ke mana?” tanya Daera bertubi-tubi.

“Kau harus ke dokter psikolog”

Mwwoo?? Apa eonni pikir aku gila?”

Eunji menggeleng “tentu saja tidak! Tapi mungkin.. Kau salah minum obat atau apalah”

“Tidak! Aku tak meminum obat apapun, aku betul-betul dari masa lalu. Bertemu anak bernama Na ra dan dia memberikanku jam yang tak jelas dan mengatakan bahwa aku bisa melihat masa depan dalam waktu 2 bulan….” seketika ucapan Daera terhenti “Tunggu! Dia bilang 2 bulan, berarti semua ini akan berakhir setelah 2 bulan?”

 

“Apa?”

 

Sedang asyik dalam obrolan mereka, suara dering ponsel menghancurkan pembicaraan serius antara Daera dan Eunji. Dering ponsel tersebut berasal dari ponsel Daera, dengan sigap ia meraih ponsel dari saku celana jeansnya. “Sehun?” ucapnya, dan segera menekan tombol hijau

 

Yeoboseyo?”

“….”

“Aku sedang bersama dengan Eunji eonni, kenapa?”

“…”

“ke perusahaan?” Daera melirik Eunji, sedangkan sahabatnya itu mengangkat kedua alisnya tak mengerti apa yang diucap Sehun di ujung sana.

“Baiklah” tutup Daera.

 

“Apa yang Sehun katakan?” tanya Eunji

“Antar aku ke perusahaan Sehun”

“Baiklah” jawab Eunji singkat dan segera melajukan kembali mobil tersebut menuju perusahaan Sehun.

 

Tak berselang lama, mereka telah tiba di perusahaan Sehun, mata Daera terbelalak melihat gedung yang menjulai tinggi “Apa ini perusahaannya?”

Eunji mengangguk “tentu saja”

“aku benar-benar yakin kau dari masa lalu” lanjutnya.

 

Daera sama sekali tak membalas perkataan Eunji, Ia hanya sibuk memperhatikan Gedung yang berada di tengah-tengah kota seoul tersebut dengan pandangan yang berbinar.

Ya! Jangan diam saja, ayo cepat kita masuk”

eo

 

Daera mengikuti langkah Eunji dari belakang, memasuki perusahaan tersebut. Gedung yang luas dan banyaknya orang yang berlalu lalang membuat Daera sedikit kebingungan, Eunji menyuruh Daera untuk memasuki lift bersamanya. Menekan tombol di angka 16 suasana sempat hening beberapa saat hingga pintu lift terbuka menunjukkan mereka telah tiba ke lantai yang di tuju.

“Daera-ah, aku harus pergi sekarang, bisakah kau menemui Sehun sendiri saja?”

Daera mengangguk “tapi, di mana ruangannya?”

 

“lihatlah pintu di sebelah ujung kananmu, itu adalah ruangan Sehun” Jelas Eunji

“dan juga aku akan mengembalikkan mobil di rumahmu, oke?”

Daera mengangguk mengerti dan Eunji pun berlalu.

~*~

 

“Apa kau sibuk hari ini Sehun?” Tanya Minri pada Sehun, lelaki itu sedang fokus dengan berkas yang bertebaran di hadapannya. “tidak juga” jawabnya singkat.

Minri mengangguk dan tersenyum “Apa kau bisa makan siang sebentar bersamaku? Aku tidak mempunyai teman untuk di ajak makan siang” ucapnya dengan nada yang lembut.

“Maaf, tapi aku tidak bisa” jawab Sehun dengan singkat. Minri sedikit kecewa, ia hanya bisa berdiri di samping Sehun yang tengah fokus dan sibuk dengan dunianya sendiri. “Kenapa kau tidak bisa?”

 

Pintu ruangan kantor Sehun terbuka, memutuskan pembicaraan Minri pada Sehun. Seketika Minri menyipitkan matanya memperhatikan sosok yang memasuki ruangan tersebut dan Ia pun terkejut mendapati Daera yang tersenyum kecil padanya dan juga Sehun.

 

Sehun melihat sosok yang tidak lain adalah Istrinya, Ia tersenyum gembira dan segera berdiri dari kursi serta meninggalkan pekerjaannya yang sedari tadi membuatnya sibuk “Daera? Cepat sekali kau datang”

Daera terlihat gugup “Ah.. Itu.. Eunji eonni yang mengantarku”

Sehun mengangguk dan tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Daera “Tunggulah, pekerjaanku akan selesai sebentar lagi”

“Baiklah” Daera menduduki sofa berwarna coklat, mata beningnya tertuju pada Minri yang sedari tadi berdiri mematung.

“Cih, dia lagi” dalam benaknya.

“kenapa aku membencinya?” Ia menatap tajam pada Minri, memperhatikan pakaian Wanita itu yang semakin terlihat ketat dan terlihat sempurna dalam balutan tubuhnya.

 

“Maaf, aku akan pergi mengurus berkas lain Sehun-ssi” ucap Minri dan hanya di balas anggukan oleh Sehun.

Minri membungkuk pada Sehun dan tidak lupa juga membungkuk pada Daera, Ia segera meninggalkan ruangan. Tangannya mengepal dengan erat, Ia sangat kesal memperhatikan sikap Sehun pada Daera. Sedari tadi Sehun bersikap dingin padanya, namun ketika Daera datang Lelaki itu malah tersenyum manis dan sangat gembira membuat Minri muak “Aku akan memusnahkanmu. Daera”

 

~*~

Sehun dan Daera berada di dalam mobil mewah berwarna Hitam yang tidak lain adalah milik Sehun “Apa kau membeli kue?”

Daera mengangguk “tentu saja”

“baiklah, sekarang kita akan menjemput Daehun”

 

Sehun melajukan mobil dengan mantap, menyusuri jalan seoul yang bagi Daera terlihat agak berbeda Terutama gedung-gedung yang berjejeran di kota tersebut.

Tak memakan waktu yang lama, mereka tiba pada sebuah taman kanak-kanak Jisu. Mungkin jika di perhatikan tidak seperti gedung taman kanak-kanak pada umumnya, karena Taman kanak-kanak tersebut di khususkan untuk anak yang keluarganya bisa di bilang mempunyai kekayaan di atas rata-rata alias konglomerat.

 

Sehun dan juga Daera keluar dari mobil, mencari sosok anak yang berambut pekat dan imut itu, “Ayah” teriak Daehun, Ia berlari menghampiri Sehun dan juga Daera.

“kenapa Ayah dan Ibu menjemputku hari ini? Apa karena ulang tahunku?” tanya Daehun polos

Sehun tersenyum mengacak rambut anaknya itu “Tentu saja, apa kau tahu? Ayah dan Ibu membelikanmu hadiah”

“benarkah?” teriak Daehun senang “Aku ingin cepat pulang” gerutunya

“Baiklah, Ayo kita pulang”

Daera merasa nyaman dan bahagia melihat sikap Sehun pada anaknya, senyuman lelaki tersebut membuat Daera tersenyum tipis merasakan kebahagiaan yang berlimpah di lubuk hatinya.

 

~*~

Saengil cukhae Daehun-ah” teriak Sehun dan juga Daera. Daehun tersenyum malu “Apa aku harus meniup lilinnya?” tanyanya lagi dengan polos “eo, tiuplah cepat” jawab Sehun

 

Dengan semangat yang membara, Daehun meniup lilin dalam sekali hembusan. Membuat ahjumma dan pelayan lainnya tertawa kecil, sontak tepuk tangan dilayangkan pada Daehun “Ahjumma, ambilkan jus buah” perintah Sehun dan segera dituruti oleh Ahjumma tersebut dan pelayan lainnya.

“Ayah membelikanmu hadiah” Sehun mengeluarkan sebuah robot yang lumayan besar, sebuah tokoh Iron Man dan membuat Daehun terkejut sekaligus bahagia. Segera meraih hadiahnya itu. “Apa kau menyukainya?” Tanya Daera

Daehu mengangguk “aku menyukainya, tapi…”

 

“Tapi kenapa?” tanya Sehun

“Daehun sudah bosan dengan robot. Apa Daehun boleh meminta hadiah lagi?”

Daera mengangguk riang “Hadiah apa?”

 

“Daehun ingin mempunyai adik” Pinta Daehun dengan wajah polosnya

Sontak Daera bagaikan terjun dari langit ke tujuh, Ia terkejut. Permintaan Daehun sangatlah memgerikan, sedangkan Sehun? Lelaki itu melayangkan senyum liciknya.

 

TO BE CONTINUED……

 

 

 

25 thoughts on “Unlogical Time? #4

  1. Hahahaha daehun lucu banget. Bisa aja mah dia minta hadiahnya masa minta adik. Gak kebayang gimana ekspresinya daera.Sehun pasti udah ngebayangin bla bla bla nih. Hahahah. Minri yg harus dimusnahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s