Love Killer (Part 7)

LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Do Kyungsoo ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 : Chapter

Rating                  : T

Genre                   : School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

( Cerita ini juga dipublish di Dreamland )

 

 

 

***

 

 

 

 

 

Suho mengantar HyeRa pulang. Hari sudah gelap ketika mobilnya berhenti didepan rumah HyeRa.

 

HyeRa melepaskan sitbelt, kemudian dia keluar tanpa mengatakan apa-apa. Suho ikut keluar dan mengejarnya.

 

“Apa mulutmu tidak bisa mengucapkan sesuatu seperti ‘terima kasih telah mengantarku’ atau ‘maaf kau jadi pulang terlambat karena mengerjakan tugas bersamaku. Semua itu kesalahanku’ hm?”

 

HyeRa melihat Suho mendekat. Dia sangat bingung dengan sikap ketua kelasnya sejak tadi. Dia selalu menuntutnya untuk membalas semua perkataannya. Dia juga lebih cerewet daripada sebelumnya.

 

“Aku harus berpamitan dengan Ibumu”

 

“HAH? Tidak perlu!” HyeRa menghalangi Suho, “Terima kasih karena telah mengantarku. Orang tuamu pasti khawatir. Kau pulang saja” usirnya

 

“Kau mengkhawatirkanku?”

 

“Iya, aku mengkhawatirkamu. Kau puas? Jadi kau bisa pulang sekarang”

 

“Kau tenang saja” Suho mengelus kepala HyeRa, “Aku tidak apa-apa” dia senang HyeRa mengkhawatirkannya walaupun itu bukan arti sebenarnya. Dia mengatakannya agar Suho pulang.

 

Suho ingin menebus kesalahannya. Dia harus bertemu dengan Ibu HyeRa dan meminta maaf kepada HyeJin. Dia sudah menetapkan hati. Dia berubah agar bisa mendekatkan mereka.

 

HyeRa sedikit khawatir ketika Suho melewati pintu rumahnya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan Ibunya perbuat. Ibu pasti murka. Semoga Suho baik-baik saja. Dengan tulus dia berdoa, Suho keluar dari rumahnya dengan selamat.

 

 

 

………………………………………………..

 

 

 

HyeRa berdiri dalam keresahan didepan ruang tamu. Pintunya ditutup oleh Ibu. Didalam sana ada Suho. Laki-laki itu membuktikan ucapannya. Dia menemui Ibu dan meminta maaf kepada Adiknya.

 

Belum ada teriakan, atau bisa dibilang tidak akan ada hal yang sejak tadi HyeRa takutkan. Keadaannya begitu tenang. Apa yang Suho katakan sampai Ibu tidak semarah bayangannya. Apa laki-laki itu telah menyusun kata dengan begitu rapi sebelumnya? Tapi HyeRa tetap mengkhawatirkannya. Ya, dia memikirkan Suho.

 

“Kenapa nona ada dibawah?”

 

HyeRa menoleh dan melihat Hongbin berdiri disampingnya. “Aku belum tenang sebelum melihatnya keluar”

 

“Apa orang yang mencari masalah dengan nona berbalik menjadi perebut perhatian nona sekarang?” goda Hongbin. Dia tahu masalah HyeRa dan Suho meski gadis ini tidak menceritakannya. Dia memperhatikan selama mengantar jemput HyeRa di sekolah.

 

“Ini bukan waktunya untuk bercanda, Oppa” HyeRa menaikkan kacamata dengan telunjuknya.

 

“Sejak kapan mata nona bermasalah?” Hongbin terdengar khawatir.

 

“Ini? Aku hanya memakainya untuk menutupi mata pandaku”

 

Hongbin mengecek. Dia melepaskan kacamata HyeRa kemudian dia memakainya. “Nona lebih cantik seperti ini”

 

HyeRa mendengus geli. Hongbin memberinya lelucon agar perasaannya membaik, “Kembalikan, Oppa. Ini milikku” Hongbin menghindari tangan HyeRa. Mereka tertawa. HyeRa terus berusaha dan Hongbin masih menghindarinya.

 

“Mata pandanya juga sudah hilang” Hongbin mengelus bagian bawah mata HyeRa, lalu dia mencubit pipinya.

 

HyeRa tidak lagi berniat mengambil kacamatanya. Ucapan manis Hongbin membuatnya malu.

 

“Jelek sekali” gumaman itu terdengar oleh HyeRa. Tapi bukan dari Hongbin. HyeRa melihat Suho yang sudah keluar dari ruang tamunya. Dia segera menghampiri Suho.

 

“Apa yang Ibu katakan?” dia sampai lupa kalau Suho mengejeknya. Perasaan khawatir itu kembali menjalar.

 

“Kau benar-benar mengkhawatirkanku?” Suho tersenyum miring.

 

“Ck. Jika urusanmu sudah selesai, silahkan pulang!”

 

“Kau tidak mau aku pergi?”

 

“Kapan aku mengatakan hal itu?”

 

“Nada bicaramu seperti tidak ingin aku pergi” dua sudut bibir Suho melengkung manis.

 

“Terserah padamu” tapi HyeRa tidak pergi. Dia tetap bersama Suho. Biasanya gadis ini akan menjauh jika Suho membanggakan diri. Ada perubahan dalam hubungan mereka.

 

“Baiklah. Aku pulang” dia melirik Hongbin, kemudian kembali tersenyum miring. Dia berbalik setelah sebelumnya melempar senyum terbaik kepada HyeRa.

 

HyeRa tidak lagi membenci Suho seperti dulu. Kekesalan yang selalu muncul setiap menghadapi laki-laki itu perlahan memudar. Ada rasa menerima ketika Suho mengajaknya bicara. Perasaan yang sama seperti Xiumin dan Chen meski mereka sering bersitegang. Apalagi dia ingat tubuh Suho melindunginya tadi siang. Dia tersenyum. Suho berubah menjadi laki-laki baik dimatanya.

 

 

 

***

 

 

 

Senyum kebahagiaan terukir diwajah cantik Sooyong begitu sosok orang yang dia rindukan selama 3 tahun berada tepat didepan wajahnya. Tak ada yang berubah dari wajah pria berusia 45 tahun ini.

 

Segera Sooyong menghambur dalam dekapan hangat sang Ayah yang sudah lama tidak pernah dia rasakan. Jisoo dan pengacara Jung yang ikut mengantar turut berbahagia dengan pertemuan keduanya.

 

Setelah puas melepas rindu, pengacara Jung terlebih dulu membawa Tuan Kim ke hotel untuk menyimpan barang-barangnya lalu mereka pergi ke restoran.

 

Setelah selesai menikmati hidangan, Jisoo pamit sebentar untuk mencari udara segar. Sekalian memberi privasi agar ketiganya lebih leluasa untuk bicara.

 

Mulutnya terasa kering. Dia berniat pergi ke ruangan bebas merokok namun dia urungkan mengingat janjinya pada Sooyong untuk berhenti menghisap nikotin yang membahayakan tubuhnya. Jadi Jisoo pergi ke taman bacaan yang tidak jauh ke cafe untuk membaca komik sampai menunggu Sooyong selesai. Namun pada kenyataannya laki-laki itu malah tertidur diatas tumpukan komik yang dia bawa.

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

“Ayah, aku punya permintaan”

 

“Apa itu, Soo?”

 

Sejenak Sooyong terdiam, dia ragu dia harus membicarakannya atau tidak. Dia takut Ayahnya keberatan dengan permintaannya kali ini. Tapi Sooyong juga tidak bisa mengabaikan Jisoo. Laki-laki itu telah mengambil banyak resiko untuk dirinya.

 

“Ayah, Paman Jung, aku ingin Ayah membantu Jisoo. Aku menyayanginya dan aku tidak bisa membiarkannya berada dalam bahaya karena diriku”

 

“Apa yang bisa Ayah bantu untuknya? Apa kau berhubungan dengannya? Dia memperlakukanmu dengan baik dan Ayah tidak keberatan dengan hubungan kalian”

 

“Benarkah?”

 

“Asal kau bahagia. Itu adalah hal yang terpenting untuk Ayah”

 

“Terima kasih, Ayah. Aku ingin Paman Jung mengurus kasus Ayah Jisoo. Agar Ayahnya bisa segera bebas. Aku tidak mau Kyungsoo terus menggunakan kebebasan Ayahnya untuk mengikat Jisoo. Dia sudah cukup menderita” Sooyong menangis setiap kali dia mengingat bagaimana Kyungsoo memperlakukan Jisoo layaknya anjing penjaga.

 

Tuan Kim yang mengerti segera mengusap pundak Sooyong untuk menenangkannya. “Baiklah. Tapi dengan satu syarat”

 

Sooyong yang tadinya sudah cukup senang namun terhenti begitu Ayahnya mengajukan sebuah syarat.

 

“Setelah Ayah membatalkan pertunanganmu dengan Kyungsoo, kau harus ikut tinggal bersama Ayah di Jepang. Maafkan Ayah kalau ini terdengar sedikit memaksa, tapi Ayah tidak mau Kyungsoo menyakitimu. Ayah yakin anak itu tidak akan membuat hidupmu tenang. Ayah juga ingin memberi hukuman pada Ibumu yang telah membuatmu menjadi seperti ini. Tega sekali dia menjualmu demi kemajuan karirnya. Ayah tidak bisa membiarkannya, Soo. Dan masalah Jisoo, serahkan semuanya kepada Paman Jung. Paman akan mengurus kasus Jisoo jadi kau tidak perlu khawatir”

 

Sooyong tidak tahu harus menjawab apa. Seharusnya dia senang karena ini adalah keinginannya. Tapi kenapa dia sedikit tidak rela. Mungkin karena dia memikirkan Jisoo. Semua yang dikatakan Ayahnya memang benar. Kyungsoo pasti melakukan seribu cara untuk membuat hidupnya tidak tenang.

 

Hanya saja, dia dan Jisoo baru memulai hubungan mereka. Banyak hal yang ingin Sooyong lakukan berdua dengan Jisoo. Namun akhirnya Sooyong pun mengiyakan tanpa tahu bahwa Jisoo mendengar semuanya dari balik pintu. Awalnya dia ingin masuk namun tak jadi begitu mendengar percakapan terakhir mereka.

 

Lelaki itu tampak murung begitu dia mendengar rencana Sooyong yang akan tinggal bersama Ayahnya di Jepang. Mungkin ini terbilang berlebihan, tapi Jisoo belum siap harus jauh dari gadis itu. Sebentar saja Jisoo tidak melihat gadis itu dia merasakan rindu yang amat luar biasa.

 

Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di lobi restoran sampai Paman Jung, dan Sooyong beserta Ayahnya kembali.

 

 

 

***

 

 

 

“Hei, Kyungsoo, kenapa mukamu suntuk sekali? Apa karena tunanganmu itu berselingkuh dengan anjing penjaga. Hahahahahaha” baru saja Kyungsoo menginjakkan kakinya di sekolah, Chanyeol dengan sukses mengacaukan moodnya yang sudah buruk.

 

“Yak! Park Chanyeol! Jaga bicaramu! Aku sedang tidak mood”

 

“Ya maaf. Aku kan hanya bercanda. Tapi semalam aku melihat mereka” Chanyeol berhenti saat melihat Kyungsoo yang menatapnya tajam. “Ini lihatlah” Chanyeol memperlihatkan foto Sooyong dan Jisoo yang tengah berpegangan tangan sambil tersenyum yang diambilnya diam-diam.

 

“Heol! Kyungsoo, ottokhe? Bagaimana mungkin anjing menggigit tuannya sendiri. Ah!” perkataan Xiumin terhenti saat Jongdae menyikut lengannya menyuruhnya untuk diam.

 

Kyungsoo menatap geram dengan penuh emosi, dia memukul keras mejanya membuat murid-murid yang tengah sarapan di kantin terkejut. Tanpa bicara apapun, Kyungsoo bangkit dari tempat duduknya. Dia mencari Sooyong dikelas. Begitu mereka bertemu, Kyungsoo memberi gerakan agar Sooyong mengikutinya.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

“Kau benar-benar sudah tidak waras rupanya. Apa kau ingin membanggakan pada semua orang kalau kau dan anjing penjaga itu pacaran? Ingat Kim Sooyong, kau adalah tunanganku! Apa kau tahu dengan hal ini kau membuat kehormatan keluargaku tercemar?”

 

“Geurae, itulah tujuanku. Sekarang aku tidak takut lagi pada apapun. Aku bahkan menyuruh Ayah membatalkan pertunangan kita” Sooyong tersenyum penuh kemenangan dihadapan Kyungsoo membuat lelaki itu kehilangan kesabarannya.

 

“Noe jinja!”

 

“Kenapa? Kau mau memukulku? Lakukan saja! Aku akan menganggapnya sebagai bayaran karena telah menolakmu”

 

Darah Kyungsoo mendidih, ditatapnya Sooyong dengan penuh amarah. Dia melayangkan tangannya bersiap untuk menampar wanita itu namun getaran ponselnya menghentikan niatnya.

 

Tubuhnya panas dingin begitu melihat nama Ayahnya dilayar.

 

“Sudah dimulai rupanya!” ucap Sooyong puas.

 

Dengan tangan gemetar Kyungsoo menjawab telpon Ayahnya. “Pulang ke rumah sekarang juga, Kyungsoo”

 

 

 

***

 

 

 

 

Saat Jisoo memberi tahunya bahwa dia akan menemui Tuan Do untuk bicara baik-baik dengannya, Sooyong merasa bahwa ini bukanlah ide yang bagus. Setidaknya untuk saat ini. Mengingat pertunangan mereka yang baru saja batal. Sooyong hanya takut Tuan Do akan menyakiti Jisoo. Kyungsoo pasti sudah memberi tahu tentang hubungan mereka.

 

Bukan hal mudah bagi Jisoo untuk melepaskan diri dari keluarga yang telah menjaga atau lebih tepatnya memeliharanya selama kurang dari lima tahun.

 

“Kalau mereka menyakitimu, kau harus segera menghubungiku. Mereka tidak akan melepaskanmu dengan mudah”

 

Jisoo tersenyum berusaha meyakinkan Sooyong bahwa dia akan kembali dengan selamat. Meski sebenarnya dia juga tidak yakin apa Tuan Do akan membiarkannya lolos begitu saja. Tapi dia tidak ingin takut lagi. Dia sudah siap apabila Tuan Do menghabisinya. Setidaknya dia tidak perlu khawatir karena Sooyong sudah aman dalam perlindungan Ayahnya. Selain itu Ayahnya akan segera bebas. Jadi dia tidak punya beban berat yang harus dia tanggung. Ini adalah konsekuensi karena telah memilih jalan seperti ini.

 

“Terima kasih, Soo, karena sudah mengkhawatirkanku”

 

Gadis itu cemberut, “Tentu saja aku harus mengkhawatirkanmu”

 

“Aigoo~ cantik sekali gadisku ini” dia mengacak pelan rambut panjang coklat milik Sooyong. Dia dekap gadis itu erat lalu mencium keningnya cepat agar gadis itu tenang sebelum akhirnya Jisoo pergi dan Sooyong mengantarnya sampai pagar.

 

Begitu Sooyong membuka pintu, dia kaget melihat Kyungsoo didepan rumahnya. “Kenapa kau kesini?” tanyanya gugup. Dia memandang Jisoo dengan tatapan bingung.

 

Kyungsoo tidak menjawab, matanya fokus menatap Jisoo dengan penuh amarah. Pria inilah yang telah mengkhianatinya. Jisoo bahkan merebut Sooyong. Sungguh tidak tahu diri. Itulah yang dipikirkan Kyungsoo. Lalu dia menatap gadis disebelahnya yang kini menunduk.

 

“Jisoo, aku akan membuat perhitungan karena kau telah lancang merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!”

 

Dengan kasar, Kyungsoo menarik paksa lengan gadis itu agar mengikutinya. Sontak saja gadis itu melawan. Jisoo berada diantara pilihan yang sulit sekarang. Dia sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Namun begitu Sooyong menangis sambil memohon agar Jisoo menolongnya, seketika pertahanannya runtuh.

 

“Lepaskan dia, Kyungsoo!” ucapnya dengan penuh penekanan. Hidungnya kembang kempis menahan kemarahan yang membuncah dalam dada. Dia menatap Kyungsoo tajam dengan tangan mengepal.

 

“Jangan menyakitinya, Kyung. Kumohon”

 

“Mwo?”

 

“Maafkan aku karena aku telah merebutnya darimu. Aku menyukainya”

 

“Apa kau sadar dengan perkataanmu sekarang? Kau tidak ingat siapa yang telah menjagamu selama Ayahmu DIPENJARA HAH?! Dan ini balasanmu padaku!”

 

“Maaf dan terima kasih untuk semuanya, Kyung” kata-kata Jisoo terdengar tulus. Meski keluarga Do hanya memanfaatkannya sebagai anjing penjaga, tapi setidaknya mereka lah yang telah membantunya selama ini.

 

“Aku juga ingin hidup normal sekarang. Selama ini aku hidup dengan menyakiti orang lain. Aku tidak mau seperti itu terus” tak terasa air mata itu mengalir dengan sendirinya, tapi Kyungsoo tidak peduli. Amarahnya sudah terlanjur memuncak.

 

Kemudian sedan hitam berhenti tepat didepan rumah Sooyong. Sekumpulan pria dewasa dengan tubuh besar dan wajah menakutkan masuk kedalam rumahnya. Tanpa diperintah, keempat pria dewasa itu membawa paksa Jisoo untuk masuk kedalam mobil.

 

Jisoo hanya bisa pasrah, dia tersenyum kearah Sooyong begitu melewatinya memberi keyakinan agar gadis itu tidak perlu mengkhawatirkannya.

 

“Kalau kau ingin melihatnya tetap hidup jangan pernah menghubunginya lagi”

 

“Apa kau perlu melakukannya sampai sejauh ini? Kenapa? Kau bahkan tidak menyukaiku?”

 

“Ini adalah bayaran atas pengkhianatan yang dia lakukan padaku”

 

“Aku mengerti sekarang kenapa Lena meninggalkanmu” ucap Sooyong cepat begitu Kyungsoo ingin pergi dari rumahnya, “Karena keegoisanmu. Apa kau tahu dihari kepergiannya ke Amerika, dia menunggumu untuk mencegahnya tapi kau tidak datang karena kau terlalu peduli dengan harga dirimu tanpa peduli perasaannya. Kau begitu mengagumkan, tampan, pintar, semua orang bahkan menyukaimu tapi sekarang, dihadapanku kau tidaklah jauh berbeda dari seorang pecundang yang hanya bisa mengandalkan uang dan kekuasaan untuk sebuah obsesi belaka. Memamerkan pada semua orang bahwa kaulah yang terkuat”

 

Kata-kata Sooyong begitu menamparnya. Mulutnya sedari tadi diam mendengarkan Sooyong yang kini menghakimiya. Kemudian dia teringat Lena. Cinta pertama yang membuatnya seperti ini. Setelah Lena meninggalkannya begitu saja, hatinya terluka sangat dalam.

 

 

 

***

 

 

 

HyeRa tengah memakai jam tangan ketika pintu kamarnya diketuk. Dia menoleh dan melihat Paman Song memasuki kamarnya.

 

“Nona” Paman tersenyum.

 

“Kenapa Paman tersenyum seperti itu? Paman membuatku takut” candanya. Dia ambil tas di kursi.

 

“Tuan Besar pulang”

 

HyeRa terdiam. Dia melihat Paman Song seperti melihat hantu. Paman semakin tersenyum.

 

“Tuan ada dibawah”

 

Mulut HyeRa mengembang kemudian dia memeluk Paman Song. “Kyaaaaaaa~ Ayah pulang, Paman?” tanyanya meyakinkan.

 

“Iya nona” Paman mengangguk. Dia bahagia melihat HyeRa yang selalu bersemangat ketika Ayahnya pulang.

 

HyeRa pun bergegas keluar kamar. Dia berlari menuruni tangga. Dia ingin segera menemui Ayahnya.

 

HyeRa menuju ruang makan. Dia yakin seluruh keluarganya berkumpul disana. “Ayahhhhh” teriaknya begitu mencapai pintu. Dia disambut oleh tawa renyah Tuan Shin yang duduk diujung meja, tempatnya sebagai kepala keluarga.

 

“Kau sudah bangun, HyeRa” sambut sang Ayah.

 

HyeRa menghamburkan diri dipelukan sang Ayah. Dia sangat merindukannya, “Kapan Ayah pulang? Berapa lama Ayah tinggal? Kenapa Ayah tidak memberitahuku? Apa hanya aku yang tidak tahu kepulangan Ayah? Ayah lupa padaku!”

 

Tuan Shin tertawa. Putrinya semakin cerewet saja.

 

“Biarkan Ayahmu sarapan dulu” Nyonya Shin menaruh teh hangat untuk suaminya.

 

“Duduklah, HyeRa. Ayah akan menjawab pertanyaanmu satu persatu setelah kau tenang”

 

HyeRa menurut dan langsung duduk siap dikursi dekat Tuan Shin. Ekspresinya sudah menuntut setelah dia duduk. Pelayan menaruh sarapan HyeRa dimejanya. Saat itu HyeJin datang.

 

“Ayah pulang?” tanyanya dengan wajah sumringah. Dia juga merasakan hal yang sama seperti HyeRa. Tapi semangatnya jauh dibawah HyeRa. HyeRa lebih menunggu kepulangan Ayah. Mungkin karena Ibu selalu memanjakan HyeJin, jadi adiknya tidak kekurangan kasih sayang.

 

Setelah anggota keluarga berkumpul dimeja makan. Sarapan bisa dimulai. Obrolan yang terjadi seputar perjalanan bisnis Tuan Shin diluar negeri. Tuan Shin juga minta maaf karena tidak mengabari anak-anaknya. Beliau sengaja memberi kejutan.

 

Mood HyeRa semakin memuncak ketika Ayahnya menjanjikan makan malam bersama. Mereka akan ke restoran langganan keluarga Shin. Dia sangat menunggu datangnya malam sampai tidak mau pergi ke sekolah. Dan dengan cepat Tuan Shin melarangnya. Jika HyeRa tidak ke sekolah, dia tidak diijinkan keluar kamar selama Ayah pulang. Maka, dengan berat hati HyeRa berangkat ke sekolah.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

Sedan hitam HyeRa perlahan melambat. Karena dia terlambat, Paman Song memakirkan mobilnya didepan gedung sekolah. Saat mobil berhenti sepenuhnya, HyeRa berpesan, “Jangan terlambat menjemputku, Paman. Aku tidak mau terlambat sampai di rumah”

 

“Baik, Nona”

 

HyeRa membuka pintu kemudian berlari karena bel tanda masuk sudah berbunyi.

 

Dia berlari menaiki tangga. Dia tidak boleh membuat masalah. Kali ini dia cukup dewasa untuk mengambil perhatian Ayah bukan dengan masalah.

 

Setelah sarapan, Tuan Shin mengajak HyeRa bicara. Beliau mendengar perihal HyeJin dan Suho. Beliau mengingatkan agar HyeRa menjaga adiknya dan tidak membuat Ibu khawatir.

 

HyeRa sudah membuat masalah, walau sebenarnya itu adalah kesalahan Suho, dan dia mendapat perhatian Tuan Shin. Tuan Shin sadar HyeRa sering melakukan hal aneh untuk menarik perhatiannya. Beliau sangat sibuk. Karenanya ketika Tuan Shin mempunyai waktu luang, dia sempatkan untuk pulang meski hanya satu malam.

 

HyeRa telah sampai didepan kelas. Dia berhenti untuk menarik nafas. Kenapa sepi sekali? Dia merasa aneh. Apa gurunya belum masuk? Dia pikir dia sudah terlambat, ternyata tidak.

 

HyeRa menggeser pintu kelas bagian belakang.

 

BRUGH!

 

Syuhan terjatuh didepan kakinya. HyeRa menatapnya sebelum melihat kedepan. Suasana dalam kelas sangatlah tegang.

 

“Kenapa kau mendorongnya?” protes Sooyong.

 

“Karena dia tidak berguna sama sepertimu!” balas Minji. Dialah yang mendorong Syuhan.

 

HyeRa membantu Syuhan berdiri, “Ada apa?”

 

“Aku tidak takut pada kalian” Sooyong menatap Kyungsoo yang berdiri didepannya. Merekalah yang membuat suasana menjadi tegang. “Pertunangan kita batal. Kau tidak punya hak mengaturku lagi”

 

“Kau tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, Soo. Jangan bertingkah”

 

“Kau tidak punya apa-apa tanpa keluargamu”

 

“Hh. Aku memanfaatkannya dengan baik bukan?” Kyungsoo tersenyum miring. “Aku akan memberimu kesempatan. Jika kau memohon padaku sekarang, aku akan memaafkanmu”

 

“Itu tidak akan pernah terjadi” balas Sooyong mantap.

 

Sontak Kyungsoo menarik lengannya. Dia mempertipis jarak diantara mereka. Matanya menatap geram. Tangannya semakin kuat memegang. Sooyong kesakitan, tapi dia berusaha menutupinya.

 

“Kau tahu siapa yang ada ditanganku? Kalau kau terus bersikap seperti ini, dia akan mati” ucap Kyungsoo yang terdengar seperti bisikan. Dia mengancamnya dengan Jisoo.

 

“Aku akan membunuhmu jika kau menyakitinya”

 

“Dia yang lebih pantas mati!” Kyungsoo sudah habis kesabaran. Sooyong keras kepala menolaknya. Bahkan didepan satu kelas, Sooyong mengumumkan pembatalan pertunangan mereka. Itu membuatnya malu dan sangat marah.

 

HyeRa yang menyadari kesakitan Sooyong ingin segera menolongnya. Ketika dia hampir dekat, Suho lebih dulu sampai. Dia memegang pergelangan Kyungsoo, “Kau menyakitinya, Kyung. Lepaskan dia” ditariknya hingga lengan Sooyong terbebas.

 

Kyungsoo menghempaskan tangan Suho, “Kau dipihaknya?!” dia menatap tajam.

 

“Sebentar lagi Kyuhyun-sam datang. Kau bisa mengganggunya nanti”

 

“Sejak kapan kau peduli dengan pelajaran! Itu hanya alasan agar kau bisa menyelamatkannya. Kenapa? Kau menginginkannya? Kau mau menikamku juga?!”

 

“Aku bilang cari waktu yang lain, bukan menyuruhmu berhenti!” balas Suho tidak kalah galak, “Selama di Jepang apa kau lupa kalau kita tidak menyakiti perempuan? Aku tidak akan melarangmu. Tapi aku akan langsung menghentikanmu jika kau bertindak terlalu jauh”

 

Suho dan Kyungsoo saling melempar tatapan tajam. Dua pemimpin sedang beradu. Satu kelas dibuatnya diam. Tidak ada yang berani menengahi. Mereka takut. Mereka akan terluka jika ikut campur.

 

HyeRa menatap Suho. Dia merasakan sesuatu. Ekspresi serius laki-laki itu berbeda ketika bertengkar dengannya. Ini jauh lebih menyeramkan.

 

Akhirnya Kyungsoo duduk dikursinya. Melihat itu, seluruh siswa kembali ketempatnya masing-masing. Suho sedikit lega karena Kyungsoo tidak lagi membalas. Dia sendiri tidak yakin Kyungsoo akan melunak.

 

Suho pun kembali ketempatnya. Dia melewati HyeRa menuju kursinya. “Jangan terlibat” bisiknya ketika mereka berpapasan.

 

HyeRa kaget akan peringatan Suho.

 

HyeRa tidak jadi menghampiri Sooyong karena Suho lebih dulu menyelamatkannya. Dia juga tidak menyangka Suho membela Sooyong padahal dia teman baik Kyungsoo. Apa mungkin dia melakukan itu untuknya?

 

Dia berbalik dan mata mereka bertemu. Suho melempar senyum kecil. HyeRa merasa aneh.

 

“Jangan terlibat”

 

Dia juga tidak suka ikut campur masalah orang lain. Tapi dia tidak mau melihat orang sombong bertingkah didepan matanya. Dia pun duduk ketika pintu kelas bagian depan digeser dan memunculkan Kyuhyun.

 

Selama jam pelajaran, suasana kelas tenang namun memiliki kesan mencekam. Sebentar lagi bencana akan segera datang. Kyungsoo punya banyak kesenangan yang terencana dalam kepalanya. Sooyong terus melamun karena memikirkan Jisoo. Suho mengikuti pelajaran untuk menghilangkan ketegangan. Sementara HyeRa, terus memikirkan rumahnya dan ingin segera pulang.

 

 

 

 

 

tbc ~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s