The Last Letter

poster

Author : Dwi Lestari

Length : OneShoot
Genre : Friendship, School Life

Rating          : PG15

Main Cast :

Kang Je Bin (Jebin), Oh Se Hun (Sehun), Park Chan Yeol (Chanyeol/Channie)

Support Cast :

Yoon Mi Ra (Mira), Zhang Yi Xing (Yixing), Byun Baek Hyun (Baekhyun)

Disclaimer :

Ini FF pertamaku, dan asli buatanku sendiri. Maaf jika bahasanya masih kacau. Thanks karena dah di posting.

Warning : Typo bertebaran

 

 

 

THE LAST LETTER

 

Aku terbangun dari tidur panjangku. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku membuka mata dengan sayup-sayup. Perlahan-lahan penglihatanku mulai jelas. Aku menatap langit-langit tempat aku terbaring. Putih, hanya itu yang bisa aku katakan.

Aku mulai mengedarkan pandanganku ke sekeliling tempatku terbaring. Dinding ruang ini bercat putih, dan aku sadar kalau ini bukan kamarku. Aku melihat seseorang tengah tertidur di samping ranjang tempatku berbaring. Dengan perlahan aku mengusap rambutnya. Aku melihat selang infus tertancap di tanganku. Aku sadar, sekarang aku berada di rumah sakit.

Aku terus mengusap rambut orang itu. Aku tahu, dia pasti lelah menungguku. Channie, terima kasih sudah menjagaku. Aku masih mengusap rambutnya. Dan dia akhirnya terbangun. Melihat aku sudah terbangun, dia tersenyum. Akupun membalas senyumnya.

“Kau sudah bangun Jebin?”. Aku hanya mengangguk. “Apa sudah lama kau terbangun?”, dia bertanya lagi. Dan aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. “Aku akan memanggil dokter untukmu”. Lalu dia menekan tombol merah di samping ranjangku.

Selang beberapa menit kemudian, dokter dan suster datang yang diikuti oleh eomma dan appaku. Dokter memeriksa keadaanku. “Bagaimana keadaan Jebin, dok?”, tanya eommaku pada dokter itu. “Dia sudah membaik nyonya. Dia hanya butuh istirahat, agar luka bekas operasinya cepat sembuh. Baiklah, kami pergi dulu”, kata dokter itu. “Ne, gamsamnida dokter”, kata appa pada dokter itu.

Eomma berjalan mendekatiku, dan mengusap rambutku. “Bagaimana perasaanmu sayang?”, tanyanya padaku. “Aku baik-baik saja eomma”, kataku. “Syukurlah sayang. Apa kau tahu! Kami hampir saja kehilanganmu! Untung saja, ada orang baik hati yang mau mendonorkan jantungnya untukmu”, kata eomma sambil menggenggam tanganku. “Siapa orang itu eomma?”, tanyaku pada eommaku. “Biar Chanyeol yang menceritakan semuanya padamu”, lalu aku menoleh pada Channie.

“Tidak usah terburu-buru Jebin. Setelah keadaanmu benar-benar membaik, aku akan menceritakan semuanya padamu”, jawab Channie padaku. “Apa kau janji?”, kataku. “Ne, aku janji”, jawabnya.

Sebenarnya aku ingin mengetahuinya sekarang, tapi ku rasa Channie benar. Sekarang keadaanku belum stabil. Ku harap dia benar-benar orang baik yang seperti dibilang eomma. Tapi ku rasa dia memang baik, kalau tidak mana mungkin ada manusia yang mau mendonorkan jantungnya untuk orang lain.

Aku menderita gagal jantung sejak aku duduk di bangku SMP. Pada awalnya tidak parah, namun setelah beberapa tahun tepatnya sebelum aku di operasi, dokter menyatakan kalau jantungku mengalami kebocoran. Dan dokter juga bilang kalau aku secepatnya harus mendapatkan donor jantung. Namun di rumah sakit itu stoknya tidak ada. Dan entah bagaimana caranya orang tuaku menemukan pendonor itu. Tuhan semoga kau selalu melindungi dan menyayangi orang itu.

-o0o-

            Setelah sekitar satu minggu setelah operasi itu, aku diperbolehkan pulang. Aku pulang bersama eomma dan appaku. Sampai di rumah aku diberi kejutan oleh teman-temanku. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunku. Semua teman sekelasku datang. Channie juga datang. Kurasa dia yang merencanakan ini semua. Tapi sepertinya ada yang kurang. Siapa ya? Aku mengingat-ingat siapa yang belum ada. Oh ya, Sehun kenapa tidak datang.

Lalu aku bertanya pada Channie, dimana Sehun. Dia bilang Sehun tidak akan datang. Tapi dia menitipkan hadiah untukku. Saat aku bertanya mengapa dia tidak datang, Channie hanya tersenyum. Dia bilang, aku akan tahu setelah aku melihat hadiahnya.

Channie melarangku membukanya sekarang, dia menyarankanku membukanya nanti setelah teman-temanku pulang. Aku menuruti sarannya. Kami semua merayakan ulang tahunku dengan gembira. Mereka bahkan menyiapkan kue ulang tahun untukku. Aku berterima kasih pada mereka semua. Tapi entah mengapa hatiku tidak bahagia.

Setelah pesta usai, mereka semua pamit pulang. Dan Channie yang paling akhir pulang. Aku ingin menagih janjinya. Lalu aku mencegahnya pulang. “Channie, tunggu!”. Dia berhenti berjalan dan menoleh ke arahku.

“Ada apa Jebin?”, tanyanya.

“Kau bilang akan memberitahuku siapa pendonor itu, sekarang aku sudah baik-baik saja. Kau bisa menceritakannya sekarang?”.

“Baiklah aku akan menceritakannya padamu, tapi kau harus mengambil hadiah dari Sehun”. Lalu aku mengambil hadiah itu. Aku masih bertanya-tanya apa hubungannya dengan hadiah yang Sehun berikan. Setelah mengambil hadiahnya, aku menemui Channie, dia duduk di ruang tamu rumahku. Lalu aku duduk di sebelahnya. Dia menyuruhku membuka hadiah yang Sehun berikan. Aku lalu membuka bungkusnya, dan ternyata isinya adalah boneka tedy bear yang memegang hati di tangannya. Bonekanya berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, warnanya adalah warna favoritku. Di hati yang dipegang boneka itu tertulis ‘Saengil Chukkae Hamnida Kang Je Bin’. Selain itu juga ada buku diary.

“Kau ingin tahu kenapa Sehun tidak datang?”, tanya Channie padaku. Aku hanya mengangguk. “Dia sudah tenang di alam sana”. Aku tidak mengerti maksud dari perkataan Channie, lalu aku bertanya padanya, “Apa maksudmu?”.

“Dialah yang mendonorkan jantungnya untukmu”. Mendengar hal itu hatiku rasanya sakit, sepertinya aku tidak rela mendengar dia telah tiada. “Geunde, wae?”, tanyaku lagi. “Dia menderita kanker otak stadium akhir. Dia divonis akan mati tepat disaat kamu membutuhkan donor jantung. Saat mendengar kalau kau sakit, dan kau membutuhkan donor jantung, dia meminta persetujuan keluarganya agar diizinkan mendonorkan jantungnya untukmu. Pada awalnya keluarganya menolak, namun setelah mendengar alasannya keluarganya mengizinkannya”, kata Channie panjang lebar.

“Apa alasannya?”, tanyaku. “Karena dia mencintaimu!”, kata Channie. Aku kaget mendengar alasannya, “Mwo? Tidak mungkin!”, bantahku. “Jika kau tidak percaya bacalah surat dan buku harian itu”, kata Channie.

Aku masih tidak percaya pada kata-kata Channie. Tidak mungkin Sehun mencintaiku. Lalu aku membuka buku diary tersebut, di dalamnya terdapat sepucuk surat yang tertulis dari Oh Se Hun, dan untuk Kang Je Bin. Aku membuka amplop surat itu dan membacanya.

Dear Jebin,

Bagaimana kabarmu? Ku harap kau selalu dalam perlindungan Tuhan dan baik-baik saja. Aku tahu, saat kau membaca ini mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ku harap kau tidak bersedih dengan perginya diriku. Hahaha… itu tidak mungkin. Aku tahu kalau kau adalah kekasihnya Park Chan Yeol. Dan hal itulah yang membuatku tidak bisa memilikimu. Aku hanya ingin kau tahu kalau kau sudah membuat indah pada masa-masa akhir hidupku. Jeongmal gomawo Jebin.

Saat dokter memvonisku dengan penyakit ini, aku sudah tidak bersemangat lagi untuk hidup. Melihat hal itu orang tuaku sedih. Karena itu aku dipindahkan ke sekolah baru. Dari situlah aku bertemu denganmu. Saat pertama melihatmu, aku merasakan getaran aneh pada hatiku. Aku tidak tahu apa itu, namun setelah cukup mengenalmu aku tahu kalau aku menyukaimu. Ah, mungkin lebih tepatnya cinta. Tapi aku sadar kau tidak mungkin menjadi milikku. Karena itu, aku selalu menulis hal indah yang pernah kulalui bersamamu. Aku juga menaruh beberapa foto. Oh ya, aku juga membelikan boneka sebagai hadiah ulang tahunmu. Karena aku tahu, aku tidak akan hidup sampai kau berulang tahun. Karena itu aku memberinya sekarang. Semoga kau suka. Gomawo telah memperindah hari-hari terakhirku. Semoga kau hidup bahagia.

Saranghae Jebin. Naega, neomu neomu saranghae. Ku harap kau tidak melupakanku.

Dari orang yang mencintaimu.

ttd

Oh Se Hun

 

Setelah membaca itu air mataku jatuh, aku menangis. Tuhan mengapa kau mengambil orang sebaik dia. Lalu aku membaca buku diary itu. Di halaman awal terpajang foto sekolahku. Dan disitu tertulis ‘Sekolah Baruku’, dan juga dibawahnya terdapat cerita tentang awal masuknya Sehun ke sekolah itu. Tertulis seperti ini:

Hari ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Aku berangkat dengan motor kesayanganku. Appa bilang aku sudah didaftarkan. Jadi aku tinggal masuk sekolah saja. Aku datang tepat waktu menunjukan pukul 7 pagi. Saat itu bel sudah berbunyi, segera saja aku berlari setelah memakirkan motorku.

Karena tidak melihat jalan, aku menabrak seseorang. Bruk, oh tidak. Buku yang dibawanya terjatuh. Aku segera meminta maaf padanya. Syukurlah dia tidak marah. Yeoja yang baik, pikirku. Dia lebih pendek dariku, dengan rambut sepunggung yang dibiarkan terurai. Dia terlihat manis karena seragamnya yang pas di badannya serta bando biru yang dipakainya.

Dengan segera aku membantu mengambil buku-bukunya yang terjatuh. Dia lalu berterima kasih padaku. Lalu dia bergegas menuju kelasnya, namun aku mencegahnya dengan pertanyaan dimana kantor kepala sekolah. Dia lalu menunjukkan arah-arahnya. Dengan segera aku pergi ke ruang kepala sekolah, yang sebelumnya aku mengucapkan terima kasih pada yeoja itu.

Aku segera menemui kepala sekolah. Aku diantarkan ke songsaenim yang akan mengajar kelasku. Aku masuk di kelas 2-2. Aku mengikuti songsaenim itu. Kepala sekolah bilang kalau songsaenim tersebut adalah guru fisika. Setelah sampai di ruang kelas, aku disuruh masuk oleh songsaenim tersebut. Oh, lebih tepatnya Yoon songsaenim. Ku lihat penghuni kelas tersebut sudah penuh.

Yoon songsaenim menyuruhku berkenalan di depan kelas, setelah beliau memeberitahu penghuni kelas itu kalau aku adalah murid baru. Setelah memperkenalan diriku, aku dipilihkan tempat duduk oleh Yoon songsaenim. Dia bertanya pada salah satu siswi yang tempat duduk disampingnya kosong. Aku melihat siswi tersebut, bukankah dia yeoja yang ku tabrak di lorong sekolah tadi. Mungkin ini takdir dari Tuhan, aku dipertemukan dengan yeoja manis itu.

Yeoja itu berkata bahwa teman sebangkunya sudah pindah sekolah. Mendengar penuturannya, Yoon songsaenim menyuruhku duduk di samping yeoja itu. Tadi aku mendengar Yoon songsaenim memanggil yeoja itu dengan sebutan Jebin. Baiklah, kita akan menjadi teman yeoja manis.

Setelah aku duduk di bangkuku, Yoon songsaenim segera memulai pelajarannya. Aku mengikuti pelajaran pertama di sekolah baruku dengan seksama. Dan sekali-kali aku melirik yeoja manis di sampingku. Ku lihat dia mendengarkan dengan seksama setiap materi yang disampaikan Yoon songsaenim. Tak terasa materi yang disampaikan Yoon songsaenim telah usai. Di akhir pembelajarannya, dia berkata pada semua penghuni kelas itu, apa ada yang ingin ditanyakan.

Dengan segera yeoja manis itu mengangkat tangannya. Dia bertanya tentang materi yang dia tidak mengerti. Yoon songsaenim tersenyum mendengar pertanyaannya. Dia juga berkata, ‘Seperti biasa kau pasti bertanya’, baru kemudian Yoon songsaenim menjawab pertanyaan yeoja manis itu. Yeoja itu mengangguk paham setelah dijelaskan Yoon songsaenim. Tepat setelah itu bel tanda ganti pelajaran berbunyi. Yoon songsaenim segera membereskan alat tulisnya. Beliau juga berkata pada yeoja manis itu mengajakku berkeliling sekolah. Pada awalnya dia menolak, namun setelah Yoon songsaenim bilang kalau dia adalah ketua kelas itu, dengan terpaksa dia mau mengikuti permintaan Yoon songsaenim.

***

          Bel istirahat telah berbunyi. Songsaenim di kelasku segera pergi. Siswa siswi di kelasku juga sibuk membereskan alat tulisnya, dan setelah itu pergi berhamburan satu persatu. Hingga tinggal aku dan yeoja manis itu serta satu temannya. Temannya itu menyapa yeoja manis itu.

“Jebin, hari ini kau tidak ada janji dengan Chanyeol kan?”, tanyanya pada yeoja manis itu.

“Ani, wae?”, kata Jebin.

“Jadi kau akan mengantar berkeliling murid baru itu”, kata temannya yeoja manis itu, lalu dia menoleh padaku.

“Ne, wae? Kau mau ikut!”.

“Apa boleh?”.

“Tentu saja boleh. Siapa yang melarang”.

“Baiklah”, temannya Jebin lalu menoleh padaku, “Hai! Namaku Yoon Mi Ra. Kau bisa memanggilku Mira”, kata yeoja itu padaku. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku. Aku segera membalasnya sambil memperkenalkan diriku.

“Naega…”, belum sempat aku meneruskan kata-kataku yeoja itu sudah menyahutnya. “Sehun kan. Oh Se Hun”. Aku lalu tersenyum. “Ne”, kataku.

“Oh ya, ini Jebin. Kau pasti tahu, tadi bu Yoorin kan sudah memanggilnya. Nama lengkapnya Kang Je Bin”, kata Mira.

“Sudah-sudah, aku lapar. Kita ke kantin dulu”, sela yeoja manis itu.

Kami semua pergi ke kantin untuk makan. Setelah itu aku mengikuti kemanapun yeoja-yeoja itu pergi. Setelah dari kantin, aku diajak berkeliling sekolah. Aku diberitahu dimana letak perpustakaan, lab bahasa, lab kimia, lab fisika, lab biologi, mushola, toilet, lapangan futsal, lapangan tenis, kantor guru, dan yang terakhir kami pergi ke lapangan basket.

Aku melihat beberapa anak tengah bermain basket. Mereka semua terlihat handal dalam menggiring bola basket tersebut. Kami hanya melintasi lapangan basket tersebut. Ku kira Jebin akan menyapa para pemain basket tersebut. Namun dia tidak menyapanya. Saat kami akan meninggalkan lapangan basket, tiba-tiba bola basket menuju ke arah kami dan alhasil bola tersebut menimpa Jebin hingga akhirnya dia jatuh ke lantai.

Ku lihat dia merintih kesakitan sambil memegang kepalanya. Dia dibantu berdiri oleh Mira. Dan para pemain basket itu datang menghampiri kami. “Jebin, neo gwenchana?. Apa ada yang terluka?”, tanya salah seorang namja pemain basket tersebut. Ku lihat wajahnya sangat khawatir. Kurasa dialah yang paling tampan diantara teman-temannya. Jebin masih memegang kepalanya, ku rasa dia masih kesakitan. “Ne, gwenchana. Lain kali kalau bermain basket hati-hati. Kalian bisa menyakiti orang lain”, kata Jebin.

“Ne, maafkan kesalahan kami”, kata namja yang paling tampan tadi. “Tidak masalah, itu hanya kecelakaan. Sepertinya kami harus pergi”, kata Jebin. Kami bertiga segera pergi dari lapangan basket itu. Aku berjalan sambil melihat para pemain basket itu, namja yang paling tampan itu kelihatannya masih mengkhawatirkan Jebin karena setelah Jebin pergi dia masih termenung menatapnya. Lalu kami kembali ke kelas karena bel tanda masuk sudah berbunyi.

***

          Hari ini ada pelajaran biologi, pelajaran inilah yang aku benci. Karena pelajaran ini berisi materi tentang alam dan bagian-bagiannya. Itulah yang aku tidak begitu suka. Tapi untunglah songsaenimnya yeoja jadi tidak begitu membosankan, ditambah lagi beliau cantik.

Sekarang kami berada di lab biologi. Hari ini adalah praktek membedah katak. Oh andwe, aku benci dengan hewan yang satu ini. Syukurlah aku sekelompok dengan Jebin, Mira dan Yixing kalau tidak salah.

Songsaenim kami memberi contoh bagaimana membedah katak tersebut. Lalu kami disuruh menuliskan bagian-bagian tubuh katak. Sebelumnya kami diberi buku panduan tentang hewan yang satu ini. Masing-masing kelompok diberi satu ekor katak. Lalu kami segera mempraktekkan apa yang sudah dicontohkan oleh songsaenim kami.

Pertama-tama kami harus menyiapkan alatnya. Setelah alat-alatnya siap, kami segera mempraktekkannya. Masing-masing dari kami memakai sarung tangan agar tetap steril. Aku dan Yixing beradu argumen tentang siapa yang akan membedah katak itu. Dengan segera Bella mengambil katak itu dan membedahnya. Aku dan Yixing lalu diam menatap Jebin dengan cekatan mampu menirukan apa yang dicontohkan oleh songsaenim. Lalu Jebin menyuruh Mira untuk mencatat jawaban dari tugas yang diberikan oleh songsaenim.

Jebin memang seperti itu, dia tidak suka berlama-lama dalam mengerjakan tugas. Dialah yang selalu pertama selesai. Dia juga yeoja yang aktif didalam kelas. Dan juga yang pasti dia adalah ketua kelas 2-2. Semua orang juga tahu hal itu, hahaha.

Tepat seperti yang aku katakan tadi, kelompok kami yang paling cepat selesai. Dan kelompok kami yang pertama keluar dari lab biologi. Gomawo Jebin kau menyelamatkanku kali ini. Aku benci praktek biologi, apalagi membedah katak.

***

Aku membaca lembar demi lembar cerita yang di tulis Sehun. Semua ceritanya tentang dia dan aku ditulis rapi dalam buku diarynya. Dalam buku itu, juga disertakan foto. Ku lihat foto ini adalah fotoku saat aku sedang berjaga di UKS. Di bawah foto itu tertulis ‘Di UKS sekolah’. Dan di bawahnya juga tertulis cerita seperti ini:

Hari ini aku bermain sepak bola bersama teman-temanku. Kami bermain cukup seru. Bahkan aku memasukkan beberapa gol. Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba bola itu keluar lapangan dan menghilang entah kemana. Karena aku yang menendangnya aku segera mencarinya. Aku mencari kesana-kemari. Dan ternyata bola itu ada disebelah gudang sekolah. Saat aku mengambilnya, aku tidak sengaja memegang pecahan kaca. Akibatnya tanganku berdarah hebat.

Sampai di UKS aku melihat Jebin lah yang sedang berjaga. Ku lihat raut wajahnya kaget saat melihatku datang dengan luka ditanganku yang penuh darah. Kepalaku agak sedikit pusing saat itu, mungkin efek dari banyaknya darah yang keluar. Jebin lalu segera mengambil kotak P3K. Dengan cekatan dia membersihkan darah pada tanganku dengan alkohol. Setelah bersih, dia mengoleskan obat merah pada lukaku. Lalu dia membalutnya dengan perban.

Jebinpun bertanya padaku, “Bagaimana bisa kau mendapat luka seperti ini?”, aku hanya tersenyum saat mendengarnya. “Kenapa tersenyum? Apa ada yang lucu?”, tanyanya lagi. “Aniyo, tidak ada yang lucu. Hari ini aku sangat beruntung mendapat luka ini”, lalu dia juga bertanya alasannya. Aku menjawab karena yang mengobati lukaku adalah dia. Dia pasti tidak mengerti maksudku. Karena itu aku membiarkannya bingung. Suatu saat kau pasti akan tahu Jebin, mengapa aku berkata seperti itu padamu. Untuk saat ini biar aku dan Tuhan saja yang tahu tentang hal ini.

***

Gambar berikutnya adalah lapangan basket. Sepertinya aku ingat kejadian itu. Pasti saat Channie menantangnya bermain basket. Saat itu aku masih berada di perpustakaan, lalu Mira memberitahuku bahwa Sehun ditantang main basket oleh Channie. Aku tidak tahu sebabnya, karena itu dengan segera aku berlari ke lapangan basket.

Di buku ini tertulis ‘Tantangan bermain basket oleh Park Chan Yeol’, dan juga ada cerita tentang permainan basket itu:

Akhir-akhir ini aku sering bersama Jebin, kami memliki hubungan yang cukup dekat. Ku rasa banyak yang tidak suka melihat kami dekat. Seperti saat itu, aku sedang menikmati makananku di kantin. Kali ini aku bersama Mira. Jebin tidak ikut karena dia bilang akan pergi ke perpustakaan. Saat itu kami tengah bercanda sambil menikmati makanan kami. Tiba-tiba Chanyeol datang bersama teman-temannya. Dia memperingatkanku agar jauh-jauh dari Jebin. Lalu aku menjawab tidak mau. Lalu dia menantangku bermain basket. Dengan segera aku menerimanya, mungkin mereka pikir aku tidak bisa bermain basket. Aku cukup mahir dalam bermain basket, namun aku lebih suka bermain sepak bola.

Kami segera pergi ke lapangan basket. Saat itu Mira langsung pergi entah kemana. Ku rasa dia memanggil Jebin. Karena baru beberapa menit kami di lapangan basket dia datang bersama Jebin. Jebin tampak khawatir dengan hal ini.

“Channie, aku mohon hentikan ini. Apa kau sedang gila sampai kau menantangnya bermain basket”, kata Jebin. Aku tidak tahu mengapa Jebin memanggilnya Channie, padahal rata-rata siswa-siswi disini memanggilnya Chanyeol. Ku lihat Chanyeol mendekati Jebin, dan dia mengusap rambut panjangnya.

“Tenanglah sayang, aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya kekurangan anggota untuk tim basketku. Ku rasa dia memiliki bakat ini. Jadi aku ingin melihat bakat itu sekarang. Lagipula bukan aku yang akan bermain dengannya, Baekhyunlah yang akan bermain dengannya.

Sebenarnya apa hubungan mereka? Mengapa Chanyeol memanggil Jebin dengan sebutan sayang! Jangan-jangan Jebin adalah pacarnya, kurasa tidak mungkin. Saat aku masih menduga-duga hal itu, orang yang bernama Baekhyun itu langsung mengajakku bermain. Aku segera mengikutinya. Sudah lama aku tidak bermain basket. Aku cukup kuwalahan menghadapinya, namun akhirnya aku bisa mengimbanginya. Sekali-kali aku melirik Jebin, dia memperhatikan permainan kami dengan seksama. Sama halnya dengan Chanyeol, Mira dan teman-teman mereka yang lain.

Ditengah-tengah permainan ku lihat Jebin berlari keluar lapangan, yang kemudian disusul oleh Chanyeol. Aku bertanya-tanya mengapa Jebin berlari. Sebenarnya aku ingin mengejarnya, namun Baekhyun masih mengajakku bermain. Aku bermain cukup baik dengan Baekhyun. Mereka akhirnya mengakui kemampuanku.

Apa kau ingin tahu Sehun mengapa aku berlari saat itu. Aku merasakan sakit pada jantungku, karena aku tidak membawa obat saat ke lapangan basket lalu aku berlari ke kelas untuk mengambil obat di tasku. Saat itu Channie memang mengikutiku karena dia sangat mengkhawatirkanku. Dan kau tahu, Channie adalah pacarku. Karena itu wajar jika dia memanggilku dengan sebutan sayang.

***

Saat aku membuka lembar berikutnya, aku melihat banyak fotoku bersama anak-anak. Aku ingat ini adalah fotoku saat aku berada di panti asuhan Harapan. Hampir setiap minngu aku pergi ke tempat itu untuk mengajarkan bahasa inggris pada mereka. Aku mengajar mereka sambil bermain. Hal itu kulakukan agar anak-anak tidak bosan dengan materi yang kusampaikan. Kadang aku juga mengajak mereka bernyanyi lagu anak-anak yang sudah ku ubah dalam bahasa inggris. Dari situ aku bisa menularkan ilmuku.

Di bawah foto itu tertulis ‘Panti Asuhan Harapan’, dan juga sedikit ceritanya:

Hari ini adalah hari minggu, aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Saat aku melewati panti asuhan, aku melihat anak-anak sedang bermain sambil bernyanyi dengan seorang yeoja. Saat itu yeoja itu membelakangiku. Lalu aku mengambil kameraku dan aku memotret gambar anak-anak tersebut. Tak berapa lama kemudian, yeoja itu menoleh. Dan ternyata yeoja itu adalah Jebin. Aku terus mengambil gambar dari kegiatan-kegiatan mereka. Jebin, ternyata selain kau aktif di sekolah, kau juga aktif di masyarakat. Hal itu terbukti dari perilakumu sekarang. Aku tidak menyesal telah jatuh hati padamu.

***

Seperti biasa hari ini aku mengikuti pelajaran dengan seksama. Tak terasa bel pulang sudah berbunyi. Aku lihat Jebin terburu-buru pulang. Lalu aku iseng mengikutinya. Sudah sejak lama aku ingin tahu rumahnya. Akupun terus membuntutinya, tapi sayangnya dia bukan mau pulang. Ku lihat dia pergi ke studio musik sekolah. Dia langsung masuk ke tempat itu. Aku bertanya-tanya mengapa dia masuk ke tempat itu. Karena penasaran aku mengintipnya dari pintu yang tak sepenuhnya tertutup. Ku lihat dia mengambil gitar dan memainkannya. Dia juga bernyanyi lagu yang tak asing lagi kudengar.

Saat aku tengah asyik mendengarkan, tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku. Ku kira siapa, ternyata ternyata Yixing. Dia teman sekelasku, nama lengkapnya Zhang Yi Xing. Dia bertanya mengapa aku tidak masuk? Lalu aku menjawab tidak perlu. Tapi dia malah menarikku masuk. Saat itu Jebin masih bernyanyi, kami berdua menikmati permainan gitarnya. Setelah selesai bernyanyi, kami bertepuk tangan. Dia langsung menolek kearah kami.

“Kalian! Sejak kapan kalian disitu?”, tanyanya pada kami. “Baru saja, kau sudah pandai sekarang”, kata Yixing lalu mendekati Jebin. “Ini semua berkat dirimu, Yixing. Kau yang sudah mengajariku”, jawab Jebin. Lalu aku bertanya pada mereka, “Jadi, kalian setiap hari kesini?”. “Tidak juga, hanya saat tidak sibuk dan tidak ada acara. Benarkan Jebin”, jawab Yixing. “Iya, begitulah. Kau tahu, Yixing sangat pandai bermain gitar. Aku mengetahuinya saat kami masih MOS dulu. Dia bermain dengan sangat baik. Karena itu, aku tertarik dan minta diajarkan olehnya”, kata Jebin panjang lebar.

Gitar, sepertinya asyik. Sejak saat itulah, aku juga minta diajarkan oleh Yixing. Bahkan kami sering bernyanyi bersama. Kau benar Jebin, dia memang sangat pandai bermain gitar. Ternyata ada untungnya membuntutimu. Hahaha.

***

          Seperti biasa, setiap pulang sekolah aku belajar gitar bersama Yixing. Hari ini Jebin tidak masuk sekolah. Aku tidak tahu mengapa, Mira bilang Jebin sedang sakit. Karena itu, kali ini aku hanya berdua dengan Yixing. Setelah selesai, aku bertanya pada Yixing, apa hubungan Jebin dengan Chanyeol. Karena kulihat mereka sangatlah dekat. Yixing menjawab kalu Jebin adalah pacarnya Chanyeol. Saat mendengar hal itu, hatiku rasanya sakit. Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau mereka pacaran. Ah, kurasa wajar, aku kan murid baru.

Yixing lalu menceritakan bagaimana Jebin bisa menjadi pacar Chanyeol. Pada awalnya Jebin tidak menyukai Chanyeol. Sudah berkali-kali Chanyeol menyatakan perasaannya, namun Jebin tetap tidak membalas. Sampai akhirnya Chanyeol mogok sekolah, mogok makan dan mogok semuanya. Mendengar hal itu, kepala sekolah meminta Jebin untuk menerima Chanyeol sebagai pacarnya. Karena orang tua Chanyeol adalah penanam saham terbesar di sekolah itu. Jebin sebenarnya menolak, namun orang tua Chanyeol mengancam akan mencabut sahamnya dari sekolah itu. Kepala sekolah sangat memohon pada Jebin, dengan berat hati Jebin menerima Chanyeol sebagai pacarnya.

Yixing juga bilang kalau sebenarnya Jebin mencintai namja lain. Namja itu bernama Kim Min Seok. Dia sekarang kuliah di Jepang. Jebin yang malang, semoga kau bahagia dengan keadaanmu sekarang.

***

          Sudah beberapa hari ini, Jebin tidak masuk sekolah. Kenapa? Apa dia belum sembuh? Lalu aku berencana menjenguknya. Aku bertanya pada Mira dimana alamat rumah Jebin. Dia memberitahukannya padaku alamat itu. Aku berencana menjenguknya setelah pulang sekolah. Saat itu aku melewati panti asuhan yang biasa Jebin kunjungi, aku hanya melihat dari jalan. Panti asuhan tersebut sepi. Lalu aku dikagetkan oleh seseorang.

“Kenapa tidak masuk? Kenapa hanya di luar”, kata orang itu. Sontak aku langsung menoleh padanya. Kau kan Eun Gi, Cha Eun Gi. Ya, aku masih ingat dengan jelas nama itu. Dia adalah mantan pacarku. Kenapa aku harus bertemu orang ini lagi. Aku masih membencinya. Memang akulah yang telah memutuskan hubungan kami. Hal itu ku lakukan karena dia telah menghianatiku. Dia berselingkuh dengan orang lain, yang tak lain adalah sahabatku sendiri.

Aku langsung pergi dari tempat itu, dia mencegahku. Namun aku tidak memperdulikannya, aku terus pergi tanpa melihat wajahnya. Lalu aku melanjutkan perjalanku ke rumah Jebin. Untuk memastikan alamat yang aku bawa, aku bertanya pada orang yang sedang lewat. Dia membenarkan alamat yang aku sebutkan.

Aku mengetuk pintu rumah Jebin. Cukup lama ku mengetuk, tapi tidak ada jawaban. Mungkin mereka tidak di rumah pikirku. Lalu aku beranjak pergi, namun tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Kulihat seorang yeojalah yang membukakan pintunya. Yeoja itu mirip dengan Jebin. Lalu aku bertanya pada yeoja itu, “Apakah Jebin ada?”, lalu dia menjawab, “Eonni sedang tidak di rumah. Pasti temannya Jebin eonni ya! Oh ya, nama oppa siapa?. “Ne aku temannya Jebin, namaku Sehun. Oh Se Hun. Kau sendiri, siapa namamu?”, tanyaku lagi. “Aku adiknya Jebin eonni. Namaku Kang Je Sin. Oppa bisa memanggilku Jesin. Oh ya, oppa mau masuk dulu?”, katanya dengan sopan. Namun aku menolaknya, aku bilang aku masih ada urusan. Lalu aku pamit pulang. Sayang sekali aku tidak bertemu dengan Jebin.

***

          Keesokan harinya aku terbangun dari mimpi burukku tentang Jebin. Dalam mimpiku dia menderita, semoga saja itu hanya mimpi. Aku langsung pergi mandi. Aku ingat kalau hari ini adalah hari minggu. Lalu aku pergi ke ruang makan. Belum sampai di ruang makan, kepalaku pusing luar biasa dan sesuatu keluar dari hidungku. Darah, setelah itu aku tidak sadarkan diri. Semua terasa gelap.

Dalam gelap itu aku mendengar seseorang minta tolong. Lalu aku mendekati suara tersebut. Orang itu adalah Jebin. Dia hampir saja hanyut ke sungai. Dengan segera aku meraih tangannya. Syukurlah dia selamat. Setelah itulah, aku terbangun. Ternyata itu juga mimpi, dan aku sadar kalau aku sudah berada di rumah sakit. Orang tuaku senang saat melihat aku telah terbangun. Mereka tampak khawatir. Aku tadi samar-samar mendengar perkataan dokter bahwa umurku tidak akan lama lagi. Aku hanya pasrah mendengarnya. Mungkin ini memang takdir Tuhan yang sudah digariskan untukku.

Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang berarti untuk orang lain sebelum aku pergi. Tapi apa dan untuk siapa? Aku masih bingung. Entah mengapa saat itu aku teringat dengan Jebin. Kurasa aku akan memberinya sesuatu. Aku meminta izin pada orang tuaku untuk melakukan rencanaku. Orang tuaku mengizinkannya, karena mereka tahu kalau aku tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Sore itu aku langsung keluar dari rumah sakit. Saat perjalanan pulang aku bertemu dengan adiknya Jebin di rumah sakit itu. Lalu aku bertanya padanya sedang apa di rumah sakit itu.

Jesin lalu menceritakan semuanya. Termasuk penyakit Jebin. Keadaannya sekarang sangat membutuhkan donor jantung. Tak terasa air mataku meleleh mendengar hal itu. Lalu aku menjenguknya, dia sudah tak sadarkan diri, terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Tuhan, mengapa kau berikan ujian yang berat ini pada orang yang aku cintai. Aku teringat pada diriku sendiri, semoga jantungku berguna untukmu.

Akupun memutuskan mendonorkan jantungku untuknya. Pada awalnya orang tuaku menolak, namun aku memaksa dengan alasan ini adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk orang yang aku cintai. Akhirnya orang tuaku menyetujuinya. Aku sudah menyelesaikan urusanku di dunia ini, dan aku juga sudah mempersiapkan sesuatu untukmu Jebin. Semoga kau suka, hiduplah dengan baik. Aku sangat menyayangimu.

Itu adalah akhir tulisan Sehun. Disitu juga terdapat foto-fotoku. Entah sejak kapan dia mengoleksinya. Setelah membaca itu semua, air mataku perlahan-lahan jatuh membasahi pipiku. Aku menangis tersedu-sedu. Channie masih disampingku, dia menenangkanku dalam pelukannya. Sehun gomawo untuk semuanya. Semoga kau bahagia di alam sana.

***

Kini aku telah berada di depan makam Sehun. Aku menaruh bunga krisan di atas makamnya. Aku datang bersama Channie. “Sehun, bagaimana kabarmu? Ku harap kau baik-baik saja disana. Sekarang aku sudah sembuh, gomawo karena kau telah mendonorkan jantungmu untukku. Dan gomawo telah mencintaiku. Mianhae, karena tidak bisa membalas perasaanmu. Aku janji akan menjaga baik-baik jantung ini. Sekali lagi gomawo sudah memberiku hidup lagi. Semoga kau bahagia di alam sana. Oh ya, bonekanya sangat manis, dan kau juga memilih warna kesukaanku. Gomawo. Jeongmal gomawo Oh Se Hun”, aku tak mampu membendung air mataku. Aku menangis, aku langsung memeluk Channie. “Channie, gomawo sudah menceritakannya padaku. Dan gomawo sudah mengantarkanku kesini”, kataku dalam isakanku. “Ne, cheongma. Uljima”, katanya sambil menghapus air mataku.

Sekali lagi gomawo Sehun. Aku akan menyimpan baik-baik boneka dan buku hariannya. Gomawo. Jeongmal gomawo Oh Se Hun. Semoga kau bahagia di alam sana.

>>>END<<<

 

Gomawo sudah membaca. Mianhae jika ceritanya kurang mengena di hati. Dan mian jika bahasanya radak hancur. Maklum ini ff pertamaku. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan, supaya saat bikin ff lagi jadi tambah bagus. Tolong tinggalkan komen, jadilah pembaca yang baik. Satu komen sangat berarti.

Ff ini juga aku posting di blog pridaku dengan cast yang berbeda ini alamatnya: dwilestari

Salam hangat Dwi Lestari.

2 thoughts on “The Last Letter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s