The Night Mistake (Part 11 – END)

sehun chanyeol

The Night Mistake – THE END

By : Ririn Setyo

Park Chanyeol || Song Jiyeon || Oh Sehun

Other Cast : Kim Jongin || Yang Yoojin || Xiumin

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda  http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Tawa Jiyeon masih tersisa di ujung bibir, ia tampak mengusap ujung matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. Ia juga mengusap perut besarnya, terasa sedikit menegang lagi-lagi karena Jiyeon terlalu banyak tertawa. Jihye baru saja menceritakan beberapa lelucon yang ia kuasai kepada Jiyeon, membuat obrolan mereka di atas sofa khaki panjang sore kali ini terasa santai dan mengasikkan.

“Bagaimana calon putrimu, apa dia masih sering menyusahkanmu?”Jihye mengusap perut Jiyeon lembut.

“Tidak sesering dulu.Dia hanya berulah jika Chanyeol pergi ke luar negeri terlalu lama.”

“Sepertinya calon putrimu sangat menyayangi ayahnya.”

Jiyeon tersenyum samar, kembali mengusap pelan perutnya. “Hemm… sepertinya begitu, karena dialah aku tidak bisa lagi membenci Chanyeol, dia selalu membuatku tak bisa bernapas tiap kali aku membenci Chanyeol.” ucap Jiyeon lirih, ia berusaha menyembunyikan rasa gundahnya dari Jihye, namun sayangnya Jihye sudah mengetahuinya bahkan sejak Jiyeon baru saja tiba tiga jam lalu.

“Apa yang akan kau lakukan setelah bayimu lahir, Jiyeon?”

“Aku tidak tahu.”Jiyeon mengerjab, merasa pandangannya mengabur.“Aku bukanlah ibu yang baik untuknya.Sejak awal aku tidak pernah menginginkannya, aku selalu memakinya dan berkali-kali memukulnya padahal dia tidak tahu apa-apa.”Jiyeon kembali mengerjab, menahan butiran air mata yang menggantung di ujung pelupuk.

“Aku juga tidak bisa menjanjikan masa depan sebuah keluarga yang bahagia saat dia lahir nanti, aku bahkan tidak tahu apakah dia bisa hidup bersama ayahnya atau tidak.” Jiyeon menunduk, tetesan air mata berjatuhan membahasi genggaman tangannya yang mengerat.

“Jiyeon…,”

“Aku tahu Dokter… aku tahu jika sejak awal dan sampai kapanpun tidak akan pernah ada masa depan untuk kami berdua, aku tahu jika sejak awal aku dan bayiku hanyalah beban dari seseorang yang terlalu merasa bersalah padaku. Tidak lebih.”

Jihye menarik bahu Jiyeon hingga wanita itu bersandar di bahunya, mengusap lembut lengan Jiyeon dalam rangkulan yang mengerat.Jihye tak mampu berucap walau hanya sepatah kata, tak punya rangkaian kalimat untuk meringankan ketakutan Jiyeon saat ini, karena Jihye lebih dari paham jika semua yang Jiyeon katakan benar adanya.Seketika kesunyian menyergap mereka, menyisakan isakan Jiyeon yang terus menguar di udara, menyesakkan.Dan baik Jiyeon ataupun Jihye tidak pernah tahu jika di ujung pintu beranda, berdiri sosok Chanyeol yang memaku.Pria itu menatap Jiyeon, merasa jika kini ada ribuan jarum menusuk jiwanya.Chanyeol menyesal, benar-benar menyesal karena untuk kesekian kalinya, ia kembali menyakiti hati Song Jiyeon.

~000~

Chanyeol melangkah pelan di samping Jiyeon, ia menatap wanita itu lekat, menimang satu kalimat yang tiba-tiba saja tersusun di otaknya sejak mereka berada di perjalanan pulang. Pandangan Chanyeol teralihkan pada perut Jiyeon yang kian membuncit, fakta jika wanita itu kini mengandung bayinya semakin nyata membayangi Chanyeol.Ia mendesah, penggalan ucapan sang ibu kembali terngiang di benaknya, rasa bersalah kembali menggrogoti hatinya, semakin habis hampir tak tersisa. Perbuatan bejatnya sudah berlaku tidak adil untuk masa depan Jiyeon, kini… haruskah ia juga bersikap tidak adil untuk masa depan calon putrinya sendiri.

Langkah Chanyeol terhenti tanpa rencana, ia bahkan tergagap saat tiba-tiba Jiyeon menatap ke arahnya. “Istirahatlah kau pasti lelah,” ucap Chanyeol seadaanya, pikirannya masih terlalu kusut hingga tak mampu berucap lagi setelahnya.

Jiyeon hanya mengangguk, wanita itu melanjutkan langkah menuju tangga di tengah ruangan.Chanyeol memandang Jiyeon yang kini sudah berada di beranda atas, ia memperhatikan Jiyeon yang memakukan pandangan pada ruangan lain di sisi kanan beranda, tak beranjak hingga melewatkan puluhan detik. Chanyeol tersenyum samar lalu melangkah cepat menaiki anak tangga, berdiri di samping Jiyeon, mengikuti kemana wanita itu melemparkan pandangan.

“Kau ingin melihatnya?” pertanyaan Chanyeol sontak membuat Jiyeon terkesiap, ia menoleh, memandang Chanyeol yang sudah mengucapkan kata maaf karena sudah membuatnya terkejut.

“Bolehkah?”Jiyeon menjawab setelah keterkejutan menjauhinya.

Senyum lebar terlukis di wajah Jiyeon saat Chanyeol mengangguk, mereka berjalan beriringan menuju ruangan yang Jiyeon maksud.Chanyeol menarik knop pintu, mempersilahkan Jiyeon untuk melangkah lebih dulu ke dalam ruangan. Seketika mata bening Jiyeon membulat, menatap takjub pada apa yang di pandangnya sekarang, ia memandangChanyeol sekilas sebelum memasuki ruangan lebih dalam.

Ruangan itu luas, seluas kamar tidur Jiyeon, didominasi warna peach dan cokelat muda yang sudah di sulap sedemikian rupa oleh Chanyeol hingga menjelma menjadi kamar bayi yang sangat cantik dan elegant.Lantainya dilapisi permadani motif bunga berwarna cokelat muda, keset kaki berbulu berwarna putih tepat di depan box bayi. Di sekeliling box bayi dilengkapi kelambu peach bahan katun bermotif senada dengan permadani.Di tengah ruangan ada 1 set mainan meja dan kursi makan kayu lengkap dengan teko dan cangkir teh dari keramik pilihan. Kamar itu juga dilengkapi perapian yang diberi pagar pendek berpelitur kuning emas, patung Singa berada di sisi kanan dan kiri perapian, berdampingan dengan sebuah boneka Jerapah yang hampir menyentuh langit-langit.

Jiyeon menyentuhkan jemarinya pada box bayi, menelusurinya perlahan, menikmati luapan kebahagian yang kini menaungi hatinya.Jiyeon mengusap perutnya, memandang Chanyeol yang masih berdiri di ambang pintu.Pria itu tersenyum untuk kebahagian yang kini menghiasi wajah Jiyeon, ia menatap lekat wanita yang kini sudah duduk di atas sofa peach di samping box bayi.

“Kau suka?” tanyaChanyeol,ia melangkahkan kakinya mendekati Jiyeonlalu duduk merapat di samping wanita itu.

Hemm… ini sangat indah, Dia pasti menyukainya.” jawab Jiyeon seraya kembali mengusap perutnya.

Chanyeol menatap Jiyeon kian lekat, menelusuri wajah pucat wanita itu di tiap incinya. Memandang wanita yang tanpa sadar semakin terseret lebih jauh ke dalam kehidupannya, memandang wanita yang membuatnya melepaskan seseorang yang sangat ia cintai demi sebuah pertanggungjawaban atas kesalahan yang diperbuatnya pada wanita itu. Chanyeol tersenyum, tangannya meraih jemari Jiyeon dalam genggaman erat, hingga wanita itu memandangnya bersama keterkejutan yang terbaca mata.Pelan tapi pasti Chanyeol pada akhirnya mengucapkan kalimatnya, kalimat pendeknamun mampu membuat Jiyeon terkejut, membeku di tempat, wanita itu bahkan kehilangan napasnya untuk beberapa detik.

“Menikahlah denganku, Song Jiyeon.”

Jiyeon terdiam, ia menatap Chanyeol yang memandangnya lekat. Butiran air mata mulai mendatangi pupilnya yang melebar, ia merasa ribuan kesedihan mengepungnya kala matanya terperangkap di dalam pandangan Chanyeol. Rasa sedih yang tanpa bisa Jiyeon kendalikan kini semakin membuat tumpukan air mata menjejal di dalam matanya, berdesakan untuk terjun melunjur di atas pipinya yang memucat.

“Kita akan membesarkan putri kita bersama-sama, bagaimana menurutmu?”

Jiyeon bergeming, membiarkan air mata membasahi pipinya.Jiyeon terisak pelan saat jemari hangat Chanyeol mengusap pipinya, semakin tersedu saat Chanyeol mengecup keningnya.Pria itu membawa Jiyeon untuk bersandar di dadanya, memeluk erat tubuh bergetar Jiyeon dalam pandangan yang menerawang. Jiyeon semakin terisak saat pelukan Chanyeolyang mengerat, iaingin sekali menolak, namun rasa takut kehilangan Chanyeol membuat Jiyeon bersikap egois. Ia tidak ingin sendirian, ia tidak ingin putrinya tumbuh tanpa sosokseorang ayah.

“Minggu depan kita menikah, aku akan menyiapkan semuanya.” ucap Chanyeol masih dengan memeluk Jiyeon, membuat wanita itu pada akhirnya mengangguk dan membiarkan kelanjutan hidup mereka ditentukan takdir Tuhan yang tertulis untuk mereka berdua.

~000~

Untuk kedua kalinya Jiyeon bertemu dengan Seojung, namun kali ini Jiyeon terlihat lebih santai nyaris tidak peduli.Ia bahkan tetap asik menyantap permen kapaspink berukuran jumbo di tangannya, memandang sesekali Seojung yang duduk diam di depannya.

“Ada apa Nyonya Direktur yang terhormat, apa kali ini anda kembali ingin aku pergi dari rumah?” tanya Jiyeon pada akhirnya, ia meletakkan gagang kayu permen kapas di atas meja. “Aku ingin sekali pergi tapi putra anda melarangnya, lagipula jika aku tetap pergi aku yakin Chanyeolpasti bisa menemukanku, benar begitu ‘kan?”

Seojung tersenyum samar, dingin, seperti biasa. “Kau benar.Tidak akan ada yang bisa bersembunyi dari keluarga kami, Song Jiyeon.”

Jiyeon mengangguk.“Kekuasaan keluarga kalian sungguh mutlak, aku tahu itu.Dan kenyataan brengsek yang aku yakini sangat kau benci adalah, bayi yang kukandung ini merupakan penerus kekuasaan itu, benar ‘kan?”

“Pintar.”Seojung menajamkan tatapannya.“Kau bahkan lebih pintar dan lebih kuat dari yang aku perkirakan, bagus… calon menantuku memang harus pintar, kuat, dan tidak takut akan apapun.” tuntas Seojung masih dengan tatapan dinginnya yang tidak bersahabat.

“Meski demikian, aku tetap tidak menyukaimu Song Jiyeon.Kau sangat berbeda dengan kami, derajatmu rendah, aku bahkan tidak tahu asal usul keluargamu sebelum keluarga Spanyol itu mengurusmu.”Seojung tersenyum sekilas. “Tapi mau bagaimana lagi, berita murahan di televisi membuat situasi begitu menguntungkan untukmu…,” ucapan Seojung terhenti saat Jiyeon mengintrupsi, tegas dan dingin.

“Bukan hanya aku Nyonya, tapi Chanyeol juga sangat diuntungkan.Ingat, dia bahkan terbebas dari jerat hukum karena berita di televisi.Ironis memang, dimana seharusnya aku menjebloskan putra brengsekmu itu ke penjara, tapi aku justru menyelamatkannya dengan menjatuhkan harga diriku sendiri.Anda… tidak lupa itukan?”

Seojung mengepalkan tangannya, rahangnya mengatub begitu rapat.Ia ingin marah, ia ingin menyangkal namun ucapan Jiyeon terlalu benar untuk bisa disanggahnya. Song Jiyeon menyelamatkan putranya, menyelamatkan harga dirinya, itu kenyataannya.

“Tentu saja aku tidak lupa itu Jiyeon, karena fakta itulah aku menyetujui pernikahanmu dengan Chanyeol.Aku tidak terbiasa berhutang budi pada siapapun, termasuk padamu. Jadi sekarang kita impas, kau dan bayimu akan terus menjadi bagian dari keluargaku. Bayimu akan menjadi seorang Penerus Park yang berkuasa, aku menjamin itu.”

Jiyeon tertawa sumbang, ia semakin muak pada hidupnya sendiri. “Impas. Ya kita impas Nyonya Park Seojung.” jawab Jiyeon seraya mengalihkan pandangan dari Seojung, ia merasa sesak, merasa benci hidup dalam skenario yang membuatnya ingin berteriak dan memaki.

Jiyeon mulai lelah.

~000~

Jiyeon berjalan sedikit tergesa menuruni anak tangga menuju ruangan luas di ujung selasar, Yixing mengatakan jika Chanyeol baru saja tiba di rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di Osaka dan Jiyeon ingin sekali melihat pria itu.Rasa rindu yang bersarang di hati semakin tak terkendali, tak melihat Chanyeolselama dua hari membuat Jiyeon hampir mati.Jiyeon teramat sangat merindukan ParkChanyeol.

Langkah Jiyeon terhenti tiba-tiba, ia mengusap pelan perutnya yang menegang. “Ada apa?Bukankah kau ingin melihat ayahmu?” gumam Jiyeon dengan memandang perutnya.

Jiyeon menarik napas, tangannya masih mengusap perutnya yang kian menegang. Samar Jiyeon mendengar suara Chanyeol sedang berbicara dengan Jinhwan, ia pun mengurungkan niat kaki untuk melangkah masuk dan memilih berdiri mematung di ambang pintu. Jiyeon menjulurkan lehernya, matanya berbinar menatap wajah lelah Chanyeol, duduk di depan Jinhwan yang terlihat tenang seperti biasa. Namun selanjutnya tubuh Jiyeon memaku, mendengar rentetan kalimat yang Chanyeol ucapkan.Kalimat itu terasa seperti belati yang menikam dadanya tanpa ampun, mengoyaknya hingga hancur berkeping-keping.

“Keputusanmu untuk menikahi Jiyeon terdengar sangat tidak masuk akal, apa kau pikir ini adil untuk wanita itu, Chanyeol?”

Chanyeol menerawang, tersenyum dalam balutan rasa kalut yang tak jua beranjak.“Apa lagi yang bisa aku lakukan selain mempertanggungjawabkan perbuatanku padanyaHyung, bayi itu butuh ayah dan aku adalah ayahnya.Kenyataan yang tidak bisa aku sangkal sampai kapanpun, meski aku mengerahkan semua kekuasaan yang aku miliki.”

“Apa sekarang kau sudah jatuh cinta pada Jiyeon?Atau… dia yang sudah jatuh cinta padamu?”

“Cinta…,” Chanyeol tertawa sumbang.“Aku sudah tidak pantas untuk mendapatkan cinta Hyung, semuanya sudah habis termakan oleh perbuatan bejat yang kerap kulakukan.Mungkin ini hukuman dari Tuhan.”

“Jiyeon sudah menyelamatkanku padahal akulah yang bersalah di sini, aku berhutang budi padanya Hyung.Aku benar-benar tidak bisa mengabaikan fakta itu sampai kapanpun, aku rela kehilangan gadis yang aku cintai asalkan Jiyeon bisa memaafkanku suatu hari nanti.”

“Tidak ada hubungan yang akan terjalin baik, jika hanya didasari rasa bersalah dan hutang budi, Chanyeol.”

“Aku tahu.”

~000~

Jiyeon memakukan pandangan pada roti bakar bertabur keju yang tersaji di atas meja, ia tak berniat menyentuhnya sedikitpun dan membiarkan roti bakar kesukaannya itu mendingin. Jiyeon hanya ingin menangis lalu menghilang dari kehidupan Chanyeol sesegera mungkin, ia semakin tak sanggup menanggung lara hati yang kian membuat pijakan kakinya limblung.

“Jiyeon, kau sakit?”

Suara berat Chanyeol membuyarkan lamunan Jiyeon seketika, ia mendongak, menatap Chanyeol yang menatapnya khawatir. Seketika butiran air mata memenuhi soket beningnya, Jiyeon terisak tanpa mampu ia kendalikan, membuat Chanyeol segera beranjak dari bangku yang di dudukinya. Pria itu duduk berlutut di depan Jiyeon, mengerakkan jemarinya untuk menahan laju air mata yang semakin tak bisa Jiyeon bendung.

“Jiyeon, ada apa?”

Jiyeon memandang Chanyeol seraya menjauhkan jemari Chanyeol yang berada di pipinya, ia ingin sekali mengatakan jika ia ingin membatalkan pernikahan dan pergi dari pria itu sejauh mungkin. Namun lidah Jiyeon terasa kelu, tatapan hangat Chanyeol meleburkan niatnya untuk pergi.Jiyeon benar-benar tak sanggup jika harus keluar dari garis kehidupan Chanyeol, benar-benar tak sanggup jika harus bernapas tanpa sosok Chanyeol di sampingnya.

Tanpa rencana tangan Jiyeon terulur, ia menarik bahu Chanyeol dan memeluknya seerat yang ia bisa. Jiyeon tidak peduli saat Chanyeol terkejut karena ulahnya, ia tidak peduli apa yang kini dipikirkan oleh Chanyeol, yang Jiyeon tahu dia tidak ingin kehilangan Chanyeol untuk alasan apapun.Jiyeon ingin bersikap tidak peduli jika Chanyeol tidak menginginkannya, jika Chanyeol terluka karena telah melepaskan seseorang yang pria itu cintai karena dirinya. Jiyeon benar-benar ingin bersikap tidak peduli, namun semakin ia mencoba rasa sakit semakin menikam jantungnya, menjalar di tiap urat nadi hingga Jiyeon tak bisa bernapas dan serasa mati.

Jiyeon melepaskan pelukannya, ia menatap nanar Chanyeol yang masih terkejut. “Chanyeol-ssi… aku… aku…,” ucapan Jiyeon terputus saat tangan hangat Chanyeol kembali menyeka airmata di pipinya, pria itu tersenyum hingga membuat Jiyeon semakin terisak.

“Apa apa?Apa aku menyakitimu lagi? Apa aku…,“ Jiyeon mengeleng cepat.

“Tidak. Aku hanya merasa sedih tanpa aku tahu penyebabnya.” ujar Jiyeon samar, Chanyeol mengeryit tangannya kembali terulur menghapus jejak air mata di pipi Jiyeon.

“Berhentilah menangis dan membuatku khawatir.”Chanyeol mengenggam jemari Jiyeon erat.“Hari ini kita akan ke butik, kau akan mencoba gaun pengantinmu, bagaimana menurutmu?”

Jiyeon terdiam, rasa sakit kembali mendera dadanya.Namun senyum Chanyeol mengaburkannya, niat tulus pria itu untuk menebus kesalahan pada akhirnya membuat Jiyeon mengangguk setuju. Sekali lagi Jiyeon ingin bersikap egois dan berharap ia akan bisa terus melakukannya, karena hanya dengan cara itu Jiyeon bisa bertahan di sisi Chanyeol.

~000~

Jiyeon berdiri mematung di depan seorang karyawan butik yang memperlihatkan satu gaun cantik di tangannya, hasil rancangan dari salah satu desain terkenal Korea Selatan. Sang perancang yang berdiri di samping karyawannya meminta Jiyeon untuk mencoba gaun indah itu, gaun panjang berwarna putih tanpa lengan dengan aksen pita kuning emas tepat di bawah dada.Jiyeon melirik Chanyeol yang berdiri di sampingnya, pria itu mengangguk singkat seraya mengusap kepalanya, meminta beberapa karyawan butikmenemani dan memastikan Jiyeon baik-baik saja selama di ruang ganti.

Tiga puluhmenit kemudian tirai putih yang menutupi ruang ganti terbuka, menampakkan sosok Jiyeon dalam balutan gaun pengantinnya. Rambut panjang Jiyeon sudah diikat sedemikian rupa ke arah belakang, ia menatap Chanyeol yang seketika beranjak dari sofa yang di duduki pria itu. Senyum lebar bertabur kebahagian menghiasi wajah Jiyeon saat Chanyeol mendekatinya, membisikkan satu kata yang membuat wajah pucat Jiyeon bersemu merah muda.

“Cantik.”Chanyeol mengusap wajah Jiyeon lembut, menatap penuh arti pada wajah Jiyeon yang masih bersemu. “Kau menyukai gaunmu?” tanyaChanyeol dan dibalas anggukan oleh Jiyeon.

“Aku sengaja memilih gaun yang simple agar tidak menyusahkanmu saat di altar nanti.”

“Gaun ini indah, terima kasih.”

Jiyeon masih tersenyum saat pandangan mereka bertemu, menatap lekap mata hitam Chanyeol yang memandanginya. Namun lagi-lagi rasa sedih menjalari hati Jiyeon saat iatak menemukan sosok dirinya di mata Chanyeol, tak menemukan secercah kebahagiaan di balik manik hitam Chanyeol walau pria itu kini tengah tersenyum. Jiyeon menunduk, ia mengusap pelan perutnya yang menegang. Jiyeon memejamkan matanya sesaat, berharap jika dirinya sanggup menahanrasa sesak yang kembali menghimpit dadanya, berharap iatidak menangis setidaknya untuk saat ini.Jiyeon tidak ingin membuat Chanyeol kembali mengkhawatirkan dirinya.

“Setelah ini kau mau makan sesuatu?Di dekat sini ada restaurant yang enak, jika kau mau kita bisa makan siang di sana.” tawar Chanyeol.

Jiyeon menimang sebentar, ia memang lapar, selalu lapar lebih tepatnya. Dan makan dengan ditemani Chanyeol adalah waktu paling membahagiakan untuk Jiyeon, dia bahkan bisa menghabiskan semua makanan di atas meja asalkan Chanyeol menemaninya.

“Baiklah.” jawab Jiyeon sebelum berlalu kembali ke dalam ruang ganti.

Restaurant itu sangat indah dan mahal, bergaya Korea klasik yang sangat eksklusif. Setiap tamu yang datang akan di tempatkan dalam saturuangan tertutup yang dibatasi pintu geser, di masing-masing ruangan terdapat satu meja panjang dengan empat atau enam kursi lesehan sesuai pesanan para tamu. Jiyeon duduk berhadapan dengan Chanyeol, pria itu membantu Jiyeon yang kesusahan untuk duduk karena perutnya yang semakin besar.Jiyeon tersenyum, ujung hidung Chanyeolbaru saja menyentuh keningnya kala pria itu membungkuk, senyum Jiyeon kian lebar saat pada akhirnya Chanyeol mencium keningnya.

“Pesanlah semua makanan yang kau mau.” ucap Chanyeol saat pelayan datang ke ruangan mereka, Jiyeon pun mengangguk dan memesan banyak makanan.

Tak sampai lima belas menit semua makanan yang Jiyeon pesan sudah tersaji di atas meja, dari nasi, sayur, daging, ikan, hingga kimchi. Dan seperti biasa, Jiyeon melahap habis hampir semua makanan di atas meja, membuat Chanyeol tertawa pelan seraya mengusap lembut puncak kepala Jiyeon.

“Kau selalu makan banyak sekali, sebenarnya siapa yang lapar?Kau atau putri kita?”Chanyeol tersenyum, tangannya kali ini mengusap sisa kimchi yang tertinggal di ujung dagu Jiyeon, membuat wajah pucat Jiyeon seketika berubah merah muda.

“Entahlah… mungkin kami berdua.” jawab Jiyeon lalu kembali menyantap sisa Kimchi dari mangkuk yang dipegangnya.

“Setelah ini apa kau mau jalan-jalan?Di beranda samping restaurant ini adaCoffee Shop dantaman bunga gantung yang sangat indah, jika kau mau kita bisa minum kopi di sana.”

“Taman bunga gantung?” tanya Jiyeon, ia menghentikan gerakan tangannya untuk kembali menyantap Kimchi.

Hemm… kau mau melihatnya?” tanyaChanyeol seraya menggenggam jemari Jiyeon, membawanya ke depan mulut hingga Kimchi yang tadinya ingin di makan Jiyeon kini sudah berada di mulutnya.

Jiyeon tersenyum, ia pun kembali menyumpit Kimchi dan menyuapkannya pada Chanyeol. Jiyeon tertawa pelan saat Chanyeol menerima suapannya, seraya mengangguk sebagai jawaban dari ajakan pria itu. Senyum Jiyeon kian lebar, iamerasa jika kini rasa bahagia benar-benar berpihak padanya, dan Jiyeon sangat berharap rasa yang tengah ia sesapi saat ini tidak akan pernah memudar.

Satu jam berlalu, mereka beranjak ke kafé yang Chanyeol tawarkan. Chanyeol duduk di bangku kafe, menikmati kopi hangat yang tersaji di atas meja kayu di depannya.Ia menatap sekilas ke arah pintu kafe, menunggu Jiyeon kembali dari kamar mandi.Chanyeol merogoh sesuatu dari dalam saku jaket putih yang di pakainya, menatap sepasang cincin emas putih yang kini ada di atas telapak tangan. Samar senyum Chanyeol terbentuk, mengingat niat awal saat ia memesan cincin tersebut beberapa bulan lalu, sebelum malam kesalahan bersama Jiyeon mengacaukannya. Cincin itu akan ia sematkan di jari manis seorang gadis yang akan menjadi calon istrinya, di jari gadis yang ia cintai, YangYoojin.

Perih seketika mengepung Chanyeol, menyesap melewati pori sebelum menjalari urat nadi. Bersemayam di dasar hati, menyempitkan paru-paru hingga Chanyeol merasa sulit bernapas.Kini semua hanya tinggal anggan yang menguap sebelum sempat digapai, tak bisa diperbaiki sekuat apapun Chanyeol berusaha.Semua sudah berubah, kini tidak ada lagi Yoojin, yang ada hanyalah sosok Song Jiyeon. Gadis asing yang samar namun pasti telah menjatuhkan rasa cintanya pada Chanyeol, rasa yang semakin membuat Chanyeol tak berdaya dan semakin sulit untuk mengabaikan Jiyeon. Wanita yang tengah mengandung darah dagingnya, wanita yang rela terluka berkali-kali hanya untuk bisa bertahan bersama Chanyeol.

 

Jika sudah begini, masih pantaskah Chanyeol menolak kehadiran Jiyeon di hidupnya? Entahlah… Chanyeol juga tidak tahu jawabannya.

 

“Chanyeol.”

Seketika Chanyeol menegakkan kepalanya, menatap terkejut sosok pria tampan yang berdiri di depannya.

“Sehun?” tegur Chanyeol masih dengan keterkejutannya, ia menyimpan kembali cincin ke dalam saku.

“Aku… sedang menikmati kopi siangku di sini.” jawab Sehun, pria itu tampak kaku, matanya bergerak gelisah.

Eoh, aku juga.” balas Chanyeol tak kalah kaku.

Pada akhirnya Chanyeol mempersilahkan Sehun untuk duduk di depannya, dan setelah itu hanya ada kesenyapan di meja mereka hingga puluhan detik ke depannya. Mereka sudah tidak pernah berkomunikasi lagi sejak tiga bulan lalu, sejak Sehun meminta Jiyeon membuat pernyataan di depan polisi tempo hari. Chanyeol ingin sekali menanyakan keadaan Sehun, biar bagaimanapun Chanyeol tetap menganggap Sehunsebagai orang terpenting di hidupnya setelah kedua orang tuanya.Chanyeol sudah tidak peduli dengan apa yang Sehun lakukan padanya, kebersamaan mereka selama bertahun-tahun mengikis rasa kecewa Chanyeol pada Sehun. Denting waktu terus berputar lambat, kesunyian semakin menyelimuti mereka berdua, hingga pada akhirnya suara Sehun terdengar, melayangkan satu pertanyaan yang membuat rasa sesak kembali menghinggapi hati Chanyeol.

“Aku dengar dari Bibi Park Seo, kau akan menikahi Jiyeon, benar begitu?”Chanyeol  hanya menggangukkan kepalanya.

“Kau yakin?” tanyaSehun sekali lagi. “Kau tidak mencintainya, kau tidak pernah menginginkan gadis itu, lalu untuk apa kau menikahinya?”

“Dia membutuhkanku… bayi kami membutuhkanku, aku tidak bisa membiarkan mereka berdua kembali menderita karena aku, Sehun.”

“Dengan mengorbankan cinta dan perasaanmu?”Sehun menatap Chanyeol lekat.“Yoojin juga membutuhkanmu, Chanyeol.”

“Kau bisa mengantikanku…,” ucapan Chanyeol terputus saat Sehun memotongnya.

“Omong kosong!Aku memang mencintainya, tapi bukan berarti aku ingin menggantikan posisimu di hati Yoojin.”Sehun tersenyum miris. “Sudah terlalu lawas jika aku masih memimpikan cinta Yoojin untukku, dia mencintaimu dan selamanya akan selalu begitu.” tuntasSehun, suaranya samar tertutup rasa putus asa akan keadaan Yoojin yang memprihatinkan.

Sehun mendesah gelisah, rasa sesal kembali datang menghampiri saat Sehun menatap wajah frustasi Chanyeol, ia ingin sekali memutar waktu dan mengembalikan semua yang terjadi pada tempatnya semula. Sungguh Sehunsangat menyesal sudah menyakiti dua hati dari orang yang sangat ia sayangi di dunia ini.

“Yoojin dirawat intensif selama dua bulan terakhir oleh dokter psikiater karena pernyataanmu dan Jiyeon tempo hari, Yoojin benar-benar tidak bisa menerima perpisahan kalian.”Sehun mengepalkan tangannya kuat, semakin tersiksa saat Chanyeol justru hanya tersenyum.

“Kau bisa menjaganya lebih baik dari aku menjaganya Sehun, aku percaya itu.”

“Chanyeol.”

“Aku melepaskannya untukmu, karena sekarang aku punyadua wanita yang harus aku jaga disisa hidupku di dunia ini.”

“ParkChanyeol.”

“Berjanjilah untuk menjaga Yoojin dengan baik, buat dia kembali tersenyum dan kembali bisa menyambut dunianya.” ucap Chanyeol sesaat sebelum beranjak dari bangku yang di dudukinya.

“Yoojin ada di sini.” ucap Sehun, seketika langkah kaki Chanyeol terhenti.“Temui dia dan perbaiki hubungan kalian,” lanjut Sehun seraya berlalu begitu saja dari hadapan Chanyeol, meninggalkan Chanyeol yang memaku, menatap sosok Yoojin dari balik pintu kaca.

Sementara itu Jiyeon baru saja keluar dari pintu kamar mandi, mengelus perutnyaberkali-kali yang tiba-tiba saja menegang.Napas Jiyeon sedikit sesak, bayinya menendang sangat kuat hingga menekan ulu hati.Ia mempercepat langkahnya agar segera bertemu Chanyeol, Jiyeon yakin bayinya akan menjadi lebih tenang jika pria itu mengelus perutnya. Namun langkah kaki Jiyeon terhenti tanpa rencana, senyum yang sempat mengembang kala manik beningnya menangkap sosok Chanyeol sirna tanpa bekas.

Dari tempatnya berpijak, Jiyeon dapat melihat Chanyeol berdiri memaku di depan meja kafe yang tadi mereka tempati bersama, pria itu memandang seorang gadis yang membuat Jiyeon tak bisa bernapas. Jiyeon mengepalkan tangannya kuat hingga bukunya memutih, memaku saat mendapati kaki Chanyeol melangkah keluar dari pintu kaca beranda.Jiyeon mengikutinya, desakan air mata yang melipir di pelupuk mulai mengaburkan pandangan Jiyeon. Langkahnya pun mulai tertatih, menatap sosok gadis di depan sana, melayangkan pandangan dengan isak yang tertahan.

Gadis itu YangYoojin terlihat diam di tempat, memandang Chanyeol yang berdiri beberapa langkah di depannya.Tak ada kata yang terucap kala pandangan mereka bertemu, melebur dalam tetesan air mata pesakitan yang semakin meluncur tak terbendung dari sepasang mata sabit gadis itu.Ia menggenggam ujung dress yang ia kenakan, menahan langkah kaki untuk tidak menghambur memeluk Chanyeol. Yoojin merasa sesak, tak tahan terperangkap dalam rasa terlarang yang tak mungkin untuk hubungannya dengan Chanyeol.Dalam satu gerakan Yoojin membalikkan tubuhnya, meninggalkan kafe tanpa sepatah kata, meninggalkan Chanyeol yang tetap tegak di tempatnya.Meninggalkan Jiyeon yang menangis di tempatnya, berdiri di sisi kanan kafe.

Jiyeon memandang wajah terluka Chanyeol, dadanya sakit serasa di cabik belati.Ia menatap Chanyeol yang pada akhirnya berbalik ke dalam taman gantung, pria itu tak melihat ke arahnya. Jiyeon berjalan tertatih ke arah luar kafe, air matanya semakin berjatuhan saat melihat Yoojin yang menangis di dinding luar kafe. Gadis itu memukul mukul dadanya, melafalkan namaChanyeol berkali-kali. Yoojin tampak sangat rapuh, gadis itu terlihat jauh lebih terluka dari dirinya. Tetap menangis tersedu hingga sosok pria lain mendatanginya, merangkul pundak Yoojin dan membawanya menjauh.

Jiyeon membalikkan tubuhnya, langkahnya terhuyung, ia bahkan harus bertopang pada dinding jika ingin bisa terus berdiri dan tidak beringsut ke lantai. Jiyeon terisak tertahan, butiran air mata jatuh tak tertahan di atas pipinya yang memucat, mengiringi rinai hujan yang tumpah dari langit, membahasi tanah Seoul yang kini ia pijak. Jiyeontahu pasti jika Chanyeol tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan ini, ia tahu sejak awal jika pernikahan ini hanyalah kebahagian semu yang berusaha Chanyeol ciptakan untuk menebus kesalahan pria itu. Ia juga tahu jika Chanyeol tidak pernah menginginkan dirinya untuk bersama pria itu di sisa hidup mereka. Jiyeon tahu kemana hati Chanyeol berlabuh, ia tahu jika sampai kapanpun hati Chanyeol tak akan beranjak dan berlayar ke tempat lain.

~000~

Jiyeon duduk menyendiri di beranda luar kamarnya, menatap langit malam yang masih menyisakan rintik hujan.Berkali-kali Jiyeon mengusap perutnya yang masih saja menegang sejak kepulangannya dari kafe, semakin membuat napasnya sesak dan semakin membuatnya ingin memeluk sosok Chanyeol.Namun Jiyeon mengabaikannya saat menatap wajah frustasi Chanyeol di mobil, pria itu bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun hingga mereka berada di rumah. Jiyeon lebih dari paham apa yang kini tengah Chanyeol rasakan, laki-laki itu terluka karena keegoisannya.

Satu usapan lembut di bahu bersamaan dengan selimut tebal yang kini membungkus tubuhnya, sontak membuat semua lamunan Jiyeon berserakan.Ia berpaling, terkejut mendapati sosok Chanyeol yang sudah duduk merapat di sisi tubuhnya. Pria itu tersenyum, membingkai bahu Jiyeon dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya yang lain bergerak ke arah perut Jiyeon.

“Perutmu sakit?” tanyaChanyeol lembut, Jiyeon diam, ia hanya menatap Chanyeol nyaris tanpa kedipan.

Tanpa kata tambahan Chanyeol menarik tubuh Jiyeon hingga wanita itu bersandar nyaman di dadanya, mengusap pelan perut buncit Jiyeon dengan senandung yang biasa ia lantunkan tiap kali ia mengusap perut wanita itu.Mata bening Jiyeon terpejam saat rangkulan Chanyeol mengerat, menikmati dekapan pria itu selama mungkin sebelum waktunya habis untuk itu.

“Sudah merasa lebih baik?”

Chanyeol melepaskan pelukannya saat Jiyeon mengangguk, ia mengeluarkan sepasang cincin dari balik saku kemeja yang dipakainya. Senyum Chanyeol mengembang, ia memasangkan satu cincin ke jari manisnya, lalu meraih jemari Jiyeon yang mendingin, menyematkan satu cincin di jari manis wanita itu.

“Seharusnya aku memakaikan cincin ini saat aku melamarmu tempo hari, maaf aku melupakannya.” ucap Chanyeol dengan senyum bodohnya.

Jiyeon memaku, menatap cincin cantik yang kini nyata melingkar di jari manisnya.Ia menatap Chanyeol yang masih tersenyum lebar, menatap laki-laki yang telah membuatnya tanpa sadar jatuh ke dasar rasa cinta tanpa tahu caranya untuk kembali, menatap laki-laki yang berusaha menutupi semua pesakitan demi sebuah senyum hangat untuk dirinya. Tanpa kata Jiyeon menarik bahu Chanyeol, memeluknya erat, dia terisak, meluapkan semua rasa sakit yang semakin menghujam hulu hati.Jiyeonmerasa tak mampu menemukan oksigen di paru-parunya,dia semakin mengeratkan pelukan di bahu Chanyeol, rasa bersalah pada Chanyeol yang terluka karenanya semakin membayanginya, mengejarnya tanpa henti.Tangisan Jiyeon semakin terdengar saat tangan Chanyeol bergerak memeluk punggungnya, ia semakin tak sanggup menerima semua perlakuan hangat Chanyeol demi menembus kesalahan pria itu.

“Berjanjilah setelah malam ini kau tidak akan menangis lagi, Song Jiyeon.” bisik Chanyeol tepat di telinga Jiyeon, membuat Jiyeon semakin tersedu, membiarkan semua luka hati dikesenyapan malam ini terbawa bersama tangisannya.

~000~

The Wedding Day’s

Ballroom

Di dalam ruang tunggu bagi pengantin wanita, Jiyeon tampak sudah siap dengan gaun pengantinnya.Ia berdiri di depan cermin setinggi badan, menggenggam erat bouket mawar biru di tangannya, ia memandangi wajahnya yang sudah terpoles makeup, rambut panjangnya pun sudah dicepol kebelakang.Jiyeon terlihat sangat cantik.Suara ketukan dari arah pintu membuat Jiyeon berpaling, menatap sosok Im Jinhwan yang sudah berdiri menjulang di ambang pintu. Pria dingin itu menatap Jiyeon sekilas sebelum melangkah memasuki ruangan, jas hitam membalut tubuh tegab Jinhwan, rambut sebahunya di ikat kebelakang sedemikian rupa hingga membuat sosok Jinhwan terlihat lain dari biasanya.

“Apa yang membuatmu memanggilku, Song Jiyeon?” tanya Jinhwan tanpa senyum di wajahnya yang jumawa.

“Aku butuh bantuanmu, hanya kau yang bisa membantuku Jinhwan-ssi.” jawab Jiyeon pelan, ia mengencangkan genggaman pada bouket mawar biru di tangannya.

“Membantumu?”

Jiyeon mengangguk sekilas, ia mendekati Jinhwan, menyerahkan bouket mawar dan sepucuk surat dalam amplob biru yang dipegangnya pada Jinhwan. “Aku ingin pergi, aku ingin mengembalikan semua ke tempat yang seharusnya.” Jiyeon hanya tersenyum samar, menatap keterkejutan di wajah Jinhwan.

“Aku tahu kau sangat menyayanginya, karena itulah kau harus membiarkan aku pergi.Dia pantas bahagia dengan wanita yang ia cintai. Jadi… bisakah aku pergi dari sini Im Jinhwan-ssi?” ucap Jiyeon pelan, menahan desakan air mata yang siap meluncur di pipinya.

Jiyeon kembali tersenyum saat Jinhwan mengangguk setuju, ia pun melangkahkan kakinya, berjalan pelan melewati Jinhwan.Jiyeon terus melangkah menjauh, berharap ia mampu untuk terus melangkah kian jauh tanpa membalikkan tubuhnya. Melupakan semua anggan untuk hidup bersama laki-laki yang dicintainya dan kembali menempatkan pria itu sebagai orang yang menghancurkan dunianya. Jiyeon memilih untuk kembali pada kenyataan yang telah lama ia abaikan, kembali ke dunia yang telah lama ia lupakan. Jiyeon pada akhirnya menyerah untuk bersikap egois dan melepaskan cintanya.

“Park Chanyeol, aku mencintaimu.”

Sementara itudi luar ruangan, Seojung berdiri di tengah Ballroom bersama Chanyeol, senyumnya mengembang, ia tengah menerima ucapan selamat dari para koleganya. Seojung terlihat berbeda dalam balutan hanbok dengan jeogori warna putih dan chima berwarna merah terang.Ia mengusap jemarinya sesaat, menarik napas lega untuk perhelatan pesta pernikahan putra tunggalnya. Seojung menatap Chanyeol yang berdiri di sampingnya, tangannya terulur, merapikan dasi dan tuxedo yang Chanyeol kenakan. Senyum Seojung kian lebar saat menatap kebahagiaan yang berpendar di wajah Chanyeol, walau Seojung tak begitu menyukai pernikahan ini, namun jauh di dasar hati, Seojung tetap merasa sangat bahagia, karena sejak dulu bagi Seojung, kebahagiaanChanyeol adalah alasan utamanya untuk terus bernapas di dunia ini.

Chanyeol tersenyum menatap Jinhwan yang berjalan mendekatinya, ia tampak mengeryitkan dahi kala mendapati bouket bunga mawar biru milik Jiyeon ada dalam genggaman pria itu. Chanyeol merasa gelisah tanpa sebab, ia memandang Jinhwan yang berdiri mematung di depannya. Tanpa kata yang membuat Chanyeolsemakin kalut dalam kecemasan, Jinhwan menyerahkan bouket mawar dan selembar amplob biru pada Chanyeol.

Hyung… kenapa kau membiarkannya pergi?”

Seketika Chanyeol terhenyak, pijakannya limblung, ia menatap Jinhwan dengan tidak percaya, mengerang tertahan, mengeluarkan makian untuk pertama kalinya pada sosok Im Jinhwan seraya berlari keluar dari Ballroom begitu saja. Namun sesampainya di luar Ballroom Chanyeol merasa jika semuanya sia-sia, semuanya sudah terlambat. Dunia tak berpihak padanya, karena Jiyeon memilih pergi meninggalkannya dan tidak akan pernah kembali.

~000~

5 Year’s Later

Restauran’s – Seoul, South Korea

Chanyeol melambaikan tangannya pada sosok Seojung yang baru saja melewati pintu kaca restaurant, siang ini mereka kembali makan siang bersama di restaurant yang menjadi tempat favorit mendiang ayahnya.Hubungan Chanyeol dan Seojung sudah semakin membaik, begitu pula dengan kesehatan Seojung.Wanita konglomerat itu sudah kembali memimpin dan menjadikan Shinhwa Corporation di bawah kendalinya.

“Aku dengar nilai Inves perumahan mewah yang kau bangun di Barcelona semakin meningkat,” ucap Seojung seraya menyantap makanannya, tersenyum saat Chanyeol mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

Hemm… bahkan lebih tinggi dari yang pernah aku bayangkan, Ibu pasti tidak akan percaya jika aku menyebutkan nominalnya.” saut Chanyeol, dia terkekeh ringan.

“Aku selalu percaya dengan kinerjamu, kau… mewarisinya dari ayahmu.”

“Dan juga darimu, Ibu.”

Seojung tersenyum, meminum segelas air dan menyelesaikan makan siangnya.Seojung menopang tangannya di atas meja, menatap Chanyeol yang masih menghabiskan makan siangnya.Ia tampak menimang satu pertanyaan yang tertahan di kerongkongan sejak lama, meragu untuk terlayang namun hatinya sangat ingin tahu.

“Apa selama di Spanyol kau pernah mengunjungi pedesaan Ribera del Duero?” akhirnya Seojung melontarkan pertanyaannya, ia sedikit menyesal saat raut wajah Chanyeol berubah terkejut, bahkan pria itu menghentikan makan siangnya.

“Tidak.” jawab Chanyeol pelan, ia meletakkan alat makannya di atas piring, meminum segelas air guna melonggarkan tenggorokannya yang seketika tersumbat.

“Sudah lima tahun berlalu, apa kau tidak ingin melihatnya?” Seojung kembali melontarkan pertanyannya, ia semakin tak sanggup melihat Chanyeol yang seperti sekarang ini.

Putra tunggalnya itu kesepian, terlihat sangat hancur saat pesta pernikahanlima tahun silam gagal sebelum kaki Chanyeol sempat menginjak altar. Pria itu berubah menjadi pengusaha yang gila kerja tanpakenal waktu, terlihat dingin dan terkesan baik-baik saja. Namun Seojung sangat tahu tentang rasa kehilangan yang berusaha Chanyeol sembunyikan, ia juga tahu jika Chanyeolselalu menghabiskan waktunya berjam-jam di dalam kamar bayi yang ia siapkan untuk calon anak yang tak sempat Chanyeol lihat.

“Bayi itu perempuan, sangat cantik.Ia mewarisi mata dan juga senyummu.”

“Mereka sudah hidup bahagia, Ibu, aku tidak punya hak untuk kembali mengacaukannya.”

“Ya kau benar, mereka sudah bahagia.Kebun Anggur yang kau jual murah nyaris cuma-cuma pada Coraimo berkembang sangat baik,” Chanyeol menatap Seojung terkejut.“Aku tahu kau memperhatikan mereka dari jauh, aku ibumu, ingat itu.Aku bisa tahu segala hal tentang putraku, tentang setengah bagian dari jiwaku.”

Seojung beranjak dari sofa  yang di dudukinya, mengusap pelan pundak Chanyeol yang menegang sebelum ia berlalu, meninggalkan Chanyeol yang memaku di atas sofa yang di dudukinya. Chanyeol merogoh sesuatu dari dalam saku jas hitamnya, menatap nanar sepucuk surat dalam amblob biru, surat yang menjadi vonis kesepian di dalam hidupnya selama lima tahun berlalu.

ParkChanyeol, maafkan aku.

Aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini, aku tidak cukup kuat untuk bertahan bersamamu.

Aku ingin kembali.Aku ingin kembali ke masa dimana aku tidak mengenalmu, kembali ke dunia dimana aku tidak pernah menangis dan tersakiti, kembali pada tempatku yang seharusnya.

Aku tidak menyesal telah mengenalmu, bahkan jika aku bisa mengulang waktu aku bersedia untuk bertemu denganmu lebih awal, agar kehadiranku tidak melukai duniamu dan orang-orang yang kau sayangi.

Aku hanyalah sebuah kesalahan yang tidak kau inginkan, bukan kejahatan yang sengaja kau ciptakan untuk kesenanganmu.Jadi aku rasa sekarang, kau pantas untuk bahagia ParkChanyeol.

Berbahagialah dan kembalilah ke masa dimana kau tidak mengenalku, dimasa kita tidak saling kenal dan anggaplah kita tidak pernah bertemu.

~000~

The Vineyard

Ribera del Duero–South Spanyol

Jiyeon masih asik memandang hamparan biru yang tengah menaungi dataran tinggi di utara Spanyol, duduk di sebuah bangku kayu tepat di bawah bohon besar, menikmati semilir angin musim semi yang dihantarkan oleh gemericik sungai Duero, mengalir di sepanjang daerah berbatu Ribera del Duero, terasa begitu sejuk menerpa wajah putihnya. Sesekali ia menatap ke arah kebun Anggur yang terbentang luas di depannya, menatap Soledad dan Coraimo yang tampak berdebat kecil tentang kapan sebaiknya Anggur mereka dipanen. Jiyeon tersenyum, mengalihkan pandangan pada sosok gadis kecil yang berdiri di ujung kebun Anggur, gadis kecil yang selalu mengingatkannya pada sosok pria yang ia cintai hingga detik ini.

“Ibu…,” gadis kecil itu berlari menghampirinya, mengeluh tentang Soledad dan Coraimo yang terus saja berdebat.

“Biarkan saja Tyra, kakek dan nenekmu memang seperti itu ‘kan?” Jiyeon tersenyum menatap wajah Tyra yang tertekuk, ia merapikan helaian rambut hitam Tyra yang sudah melewati bahu,berserakan oleh hembusan angin musim semi.

“Ibu, kapan Ayah akan datang?”

Jiyeon terdiam sesaat, kembali mencari alasan yang bisa ia lontarkan untuk menjawab pertanyaan putrinya, pertanyaan yang selalu Tyra tanyakan sejak gadis kecilnya itu lancar bicara dan mengerti tentang arti sosok seorang ayah.Selama ini Jiyeon hanya memperlihatkan foto Chanyeol pada Tyra dan berbohong dengan mengatakan jika Chanyeol bekerja di negara yang jauh dan belum bisa kembali.

“Mungkin… sebentar lagi.” Jiyeon tersenyum samar, mengusap gemas pipi Tyra yang putih kemerahan.“Jika kau berjanji untuk menjadi anak baik, ayahmu pasti akan datang.”

“Benarkah?”

Hemm…,”

Jiyeon meraih tubuh kecil Tyra ke dalam dekapannya, memeluknya erat guna meredakan rasa sesak yang selalu saja datang tiap kali Tyra mengingatkannya pada sosok Chanyeol.Jiyeon memejamkan matanya sejenak, menghela napas pajang lalu melepaskan pelukannya.Ia menatap wajah Tyra lekat, memandang putri kecilnya dimana darah Chanyeol mengalir di sana. Gadis kecil yang mewarisi senyum dan sepasang manik hitam Chanyeol, gadis kecil yang selalu membuat hari-harinya penuh warna dengan semua kenakalan yang dia lakukan.Tyra tumbuh menjadi sosok gadis kecil pemberani, sangat peduli dan menyayangi orang-orang di sekitarnya.

Jiyeon mengusap puncak kepala Tyra, ia melayangkan pandangan ke arah depan dan seketika itu juga ia merasa dunianya berhenti berputar.Dari arah pandangnya kini, Jiyeon dapat melihat sosok Chanyeol yang tersenyum ke arahnya.Berjalan kian dekat hingga hanya menyisakan beberapa langkah di antara mereka.Pupil bening Jiyeon melebar, ia berdiri namun kakinya kaku dan tidak bisa digerakkan. Gemuruh dari dalam dadanya mengiringi riuh rendah yang kini menaungi hatinya, Jiyeon benar-benar tak bisa percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

“Chanyeol…,” gumam Jiyeon lirih nyaris seperti bisikan, mendatangkan genangan cairan bening di sudut matanya.

“Ayah!”

Jiyeon mengerjab saat Tyra berteriak, gadis kecil itu menguncang lengannya sebelum berlalu menghambur ke arah Chanyeol yang terkejut.Pria itu seketika berjongkok, tangannya bergetar, bergerak pelan membingkai wajah Tyra yang menatapnya berbinar. Senyum Chanyeol seketika mengembang kian lebar, matanya pun sudah berembun, menyambut kebahagian yang begitu meluap-luap hingga ia tak mampu menahannya.

“Kau?”

“Ayah.”

Tanpa menunggu lebih lama Chanyeolsegera menarik Tyra ke dalam pelukannya, terisak pelan seraya menciumi kepala Tyra berkali-kali.Chanyeol melonggarkan pelukannya, menciumi wajah Tyra hingga gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak lalu kembali memeluk gadis kecilnya erat.Chanyeolbenar-benar tidak menyangka putri kecilnya sudah sebesar ini, ia tidak menyangka jika putrinya mengenali wajahnya padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

“Ternyata Ibu tidak berbohong, Ayah benar-benar datang jika aku menjadi anak baik.”

Tyra tertawa senang, ia melepaskan pelukannyadi bahu Chanyeol seraya menghambur memeluk Jiyeon. “Terima kasih Ibu, aku akan memberitahu Kakek dan Nenek jika ayahku sudah datang.” tuntas Tyra lalu berlari menuju taman Anggur.

Chanyeol menegakkan tubuhnya, ia memandang Jiyeon yang menatapnya dalam diam. Samar mereka berdua tersenyum, meluapkan semua rasa yang sempat tertinggal lama di belakang sana. Chanyeol melangkah lebih dekat, menatap lekat wajah Jiyeon yang terlihat masih sama dengan apa yang terekam di dalam memorinya.

“Terima kasih. Terima kasih sudah mengenalkanku padanya, bahkan sebelum kami pernah saling melihat satu sama lain. Dia sangat cantik…,”

“Tyra… namanya Tyra Park.”

Kesunyian tak beranjak dari sisi Chanyeol dan Jiyeon saat mereka sudah duduk berdampingan di kursi kayu, mereka sama-sama menatap putri mereka yang kembali berdebat bersama Soledad dan Coraimo di kebun Anggur. Soledad dan Coraimo sengaja meninggalkan Chanyeol bersama Jiyeon setelah mereka menyapa satu sama lain beberapa saat lalu, Soledad lebih dari paham dengan binar bahagia yang berpendar dari balik mata bening Jiyeon saat ini.

“Apa… selama ini kau hidup dengan baik? Bagaimana dengan pernikahanmu, kau dan dia bahagia ‘kan?” tanya Jiyeon pada akhirnya untuk memecah kekakuan di antara mereka.

“Tidak terlalu baik.” jawab Chanyeol, pria itu masih menatap ke arah kebun Anggur.“Calon istriku meninggalkanku begitu saja di hari pernikahan kami.”

Jiyeon membeku, ia mengenggam ujung dress biru mudanya hingga bukunya memutih, kesunyian pun kembali menyergap mereka berdua.

“Tapi jika yang kau maksud adalah pernikahanku dengan Yoojin, maka tidak ada yang bisa aku ceritakan padamu.”Chanyeol mengambil jeda pada ucapannya, iamenoleh, iris hitamnyamemicing, menatap lekat Jiyeon yang terlihat gelisah.

“Yoojin menolak lamaranku empat tahun silam,”

“Apa?”

“Setelah dia dinyatakan sehat aku melamarnya, tapi dia menolakku. “Chanyeol tertawa pelan. “Yoojin menolakku karena dia merasa aku telah menyerahkan setengah hatiku pada wanita lain, dia… tipikal wanita yang tidak ingin berbagi.” jawab Chanyeol masih dengan tawa pelan di ujung bibir.

“Lalu… apa yang dia lakukan sekarang?”

“Dia sudah menjadi desainer handal di Paris, dia sangat sibuk.”

“Paris?”

Hemm… setelah menolak lamaranku dia terbang ke Paris, mengejar ambisinya untuk menjadi desainer yang dikenal dunia. Dia bilang dia ingin mengencani pengusaha kaya di Paris sana.”

“Apa?”

Chanyeol tertawa seketika melihat wajah terkejut Jiyeon, tanpa sadar tangan Chanyeol bergerak mengusap puncak kepala Jiyeon hingga membuat wanita itu memaku wajahnya bersemu merah jambu. Mengembalikan rasa yang sudah susah payah Jiyeon kubur dalam-dalam agar tidak kembali naik ke permukaan, kini nyata menyembul diam-diam di permukaan hatinya.

“Ada lagi yang ingin kau ketahui, Song Jiyeon?”Jiyeon menggeleng pelan.“Eoh, perlu kau tahu jika aku memarahi JinhwanHyung karena telah membiarkanmu pergi hari itu.”Chanyeol menegakkan tubuhnya, tangannya terulur menyambut Tyra yang berlari kencang ke arahnya, mengabaikan Jiyeon yang terkejut di atas bangku kayu yang didudukinya.

Hohoho… jangan berlari terlalu kencang, Sayang.”Chanyeol mengangkat Tyra ke dalam gendongannya, ia kembali menciumipipimerah jambu Tyra dan memberikan sedikit gelitikan di tubuh putrinya hingga Tyra tertawa.

“Ayah bagaimana jika kita ke kebun? Aku ingin memperlihatkan semua anggur yang sudah masak dan Ayah boleh mencicipinya jika mau.”

“Dengan senang hati, Tyra Sayang.”Chanyeol menurunkan Tyra dari gendongannya, menggenggam jemari kecil Tyra lalu mulai melangkah, namun baru dua langkah Chanyeol terlihat berhenti saat Tyra berbalik.

“Ibu, kau juga harus ikut.”

Jiyeon tersadar dari semua pikirannya, ia tersenyum lalu menggenggam tangan Tyra sebelum mereka melangkah bersama-sama ke kebun Anggur.

“Bulan depan Sehun akan menikah, dia mengundangmu.”

“Sehun?”

Hemm… ibuku mengenalkannya pada salah satu putri dari kolega ibuku.”

Jiyeon hanya diam, iamemilih memandang kebun Anggur di depannya.Namun di menit selanjutnya Jiyeon sudah mengalihkan pandangan saat mendengar Tyra dan Chanyeol bercerita panjang lebar, menceritakan apa saja yang Tyra lakukan selama ini sebelum kedatangan Chanyeolyang terasa begitu mengejutkan. Tanpa sadar senyum bahagia terlukis di wajah Jiyeon, ia memandang Tyra dan Chanyeol bergantian. Menatap pria yang dulu selalu ia maki dan ia pernah bersumpah tidak akan memaafkan pria itu sampai kapanpun, Jiyeon pun beralih menatap Tyra, gadis kecil yang dulu tidak pernah ia inginkan sedikitpun, kini telah menjadi setengah bagian dari nyawa hidupnya.

“Park Chanyeol.”

“Yah?”

Jiyeon menarik sudut bibirnya, matanya memandang Chanyeol hangat.

“Aku…aku memaafkanmu.”

Tanpa rencana Chanyeol menghentikan langkahnya, menatap tidak percaya pada sosok Jiyeon yang tersenyum ke arahnya. Senyum tulus yang mengiringi kalimat paling membahagiakan yang pernah Chanyeol dengar dan sudah ia nantikan sejak lima tahun silam. Kalimat yang membuat Chanyeol merasakan kelegaan luar biasa, kalimat yang meringankan langkah kakinya, kalimat yang akan menghapus mimpi buruk selama hampir lima tahun hingga ia selalu menghabiskan malamnya dengan terjaga.

Chanyeol mengalihkan pandangan pada sosok Tyra yang memintanya untuk kembali melangkah, senyum lebar Chanyeol pamerkan pada putri kecilnya yang kini sudah kembali bercerita panjang tentang kebun Anggur yang akan dia pamerkan sebentar lagi. Genggaman tangan Chanyeol pun mengerat, ia menatap Jiyeon yang tertawa pelan di sepanjang kaki mereka melangkah, langkah pertama mereka dalam iringan senandung hangat musim semi yang kini nyata menyambut dunia mereka.

-THE END-

 

FF ini gak adasequel, ini udah final dan cerita ini benar-benar sudah tamat,Saiiya membebaskan kepada kalian untuk berpikir sendiri, dengan imajinasi kalian masing-masing tentang hasil akhir untuk FF ini.

See u Manusia KECE… and Enjoy MyStory’s

Regard,

Ririn Setyo

18 thoughts on “The Night Mistake (Part 11 – END)

  1. Finally selesai juga the night mistake nya
    euh baper baper..banjir air mata di ending2 nya
    Sebenernya pingin lihat sequel, tapi eonni udah bilang kaga ada sequel2 an😂
    Bagus banget cerita ini dari awal-akhir. Mendebarkan, sedih, seneng, kesel sama marahnya. Pokonya paket komplit deh..keren banget
    Chanyeol, Jiyeon, Tyra semoga mreka jadi keluarga kecil yg bahagia suatu hari nanti. Serius ini keren bgt kalo jadi film unni..
    Daebak💕💕💕😭

  2. Pas pertama tau ini part trakhir q lgsg scroll kebawah pgen tau gmn akhrnya…hmmmmm… Gak bisa berkata ap2… Nyesek,sedih,terharu n bhagia pda akhrnya.. Ini ff pertama yg q bca smpe berlinang airmta
    . sumpah… Bgus bgttt,bkin dada sesek..endingny pun gak jauh beda dri perkiraanku.. Good job author.. Tpi syang klo baca ff diblognya pribadi author kdg suka dipritect n klo mw komen jga susah…huhu.. Anyway.. Daebakkk bgt dah ff ini… Ff pling terfavoritlah versi saya…

  3. astagaaaaa terharu sumpahh sama endingnya :’) feelnya dapet banget lagi. pokoknya keren deh! walaupun aku masih pengen sequelnya😦 hiks.. but this story is the best!! kereenn!

  4. huwaaaaaaa happy ending…
    kirain chanyeol bkalan milih yoojin…dan trnyata dy skg ma jiyeon…
    syukur deh kl gt…cz q lbih milih chanyeol ma jiyeon drpd yoojin…
    akhirx semua hidup bhgia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s