Another Me (Chapter 2)

IMG-20160130-WA0000

Title                 : Another Me

Author             : Jojjomi

Length             : chapters

Genre              : Fantasy, romance, family

Rating             : T

Cast                 : Kwon Alice, Oh Sehun (EXO), and many more.

A/N                 : this story belong to me. Info tentang makhluk – makhluk fiksi dalam cerita           ini dapat dari beberapa FF fantasy lain dan google tentunya.

 

Chapter 2

Look at the mirror! You’ll find another reflection of yours…

 

“kenapa El? Kau seperti baru saja melihat hantu? Aku merasakan energimu tadi, sungguh! Kamu melepasnya begitu saja membuatku kaget. Ada sesuatu di dalam sana?” tanya Yinghan begitu khawatir setelah melihatku terburu-buru keluar dari dalam kamar mandi.

Aku baru selesai mandi dan sosok itu muncul lagi ketika aku bercermin untuk merapikan diriku. Kemarin aku sudah tidak ketakutan lagi ketika melihatnya tapi kalau saja dia akhirnya berhasil bersuara memanggil namaku berulang kali sambil mengulurkan tangan seolah ingin meraihku. Teringat pesan dari Bobby aku langsung saja melepas energi kekuatanku, berharap dengan sengatan listrik dari energi yang aku lepaskan hantu sialan itu bisa segera menghilang.

Tapi hasilnya nihil.

Dia tetap disitu. Didalam cermin berdiri disebelahku, masih berusaha meraihku dan terus memanggil namaku hingga aku langsung melesak keluar kamar mandi.

“tak apa Yi, hanya-“ aku diam sesaat. Berpikir apakah sebaiknya aku menceritakan soal ini pada Yinghan atau tidak.

“Alice? “ tepukan tangan Yinghan dipundakku membuat aku kembali terfokus padanya.

“kau tau selain hantu, incubus, dan scubus apalagi makhluk selain manusia yang bisa membentuk atau meniru diri kita begitu mirip. Begitu sama. Seolah itu memang kita?” aku beranikan bertanya padanya. Aku tau dia salah satu murid paling pintar di angkatanku. Dan aku juga tau kalau pengetahuan malaikat tentang segala jenis iblis yang ada di jagat raya ini sangat tinggi dibandingkan vampir seperti diriku.

“pengetahuanku belum sejauh itu untuk mengetahui makhluk apalagi yang bisa merubah wujudnya meyerupai kita dengan sangat mirip, El” wajah Yinghan berubah lemas, merasa menyesal karena tidak bisa menjawab pertanyaanku. “ada apa memangnya? Kau melihat sesuatu di dalam kamar mandi? Mungkin Lu ge tau soal itu. Mau aku tanyakan padanya? Aku bisa langsung bertelepati dengannya sekarang juga” lanjutnya antusias.

“tak perlu Yi!” cegahku langsung, menangkup pipinya berusaha membuyarkan konsentrasinya untuk mulai bertelepati dengan kakak laki-lakinya. Yinghan hanya menatapku bingung.

“mungkin aku hanya berhalusinasi saja tadi karena terlalu lelah hari ini. jangan mengganggu Luhan, dia pasti sudah tidur sekarang” berusaha tersenyum manis pada Yinghan untuk meyakinkannya bahwa masalah ini tidak terlalu penting. Untung saja gadis itu percaya padaku, dia mengangguk kecil kemudian ikut tersenyum.

“kau bisa cari tahu di perpustakaan kalau kau memang sangat penasaran dengan itu, El” pesan Yinghan sebelum beranjak menuju ranjangnya.

Hening. Setelah Yinghan membaringkan tubuhnya dan mungkin saja sudah terlelap sekarang, aku masih duduk di ranjangku sendiri. Memikirkan ucapan Yinghan barusan, tidak ada salahnya juga mencari tahu dari buku-buku di Perpustakaan.

Setelah selesai dari kelas sihir aku langsung berlari menuju perpustakaan. Tidak peduli dengan kegiatan makan siang karena sesungguhnya kaum vampir tidak membutuhkan makan makanan seperti lainnya, menyesap darah satu orang atau seekor harimau saja sudah bisa menghilangkan rasa lapar seharian.

Perpustakaan Cove Crown. Ruangan besar seukuran dengan aula dimana seluruh lantai berdiri rak-rak buku besar dan tinggi yang berjajar memenuhi ruangan. Langsung saja aku menelisik setiap tulisan yang tertulis di sisi rak buku menunjukkan jenis buku apa saja yang berjajar rapi didalam rak itu. Errh… aku sendiri tidak tau harus mencarinya di kelompok buku apa. Sejarah? Buku tentang scubus dan incubus? Buku tentang hantu?

Setelah mengelilingi seluruh perpustakaan akhirnya aku memutuskan untuk mengambil semua buku yang berhubungan dengan apa saja dengan tiga makhluk itu, buku sejarah iblis, dan buku tentang sihir merubah wujud. Banyak? Ya memang. Jangan pikir aku membawa sendiri tumpukkan buku – buku super tebal itu ya, tentu saja aku menggunakan kemampuan telekinetisku untuk membuat buku-buku itu terbang dibelakangku, mengikutiku menuju tempat membaca di pojok ruangan. Tempatnya sangat di belakang memang, sengaja aku mencari tempat yang tidak terlalu banyak dilewati anak-anak lainnya. biarpun hanya ada satu murid yang berada disana. Aku bisa merasakan dari auranya kalau ia vampir. Laki-laki dengan rambut coklatnya yang aku tau bernama Oh Sehun. Tapi ia sedang tidur jadi kupikir dia tidak akan mengganggu.

Akupun mulai membaca satu persatu buku – buku itu. Membolak balik setiap kertas dalam buku tebal ini, membaca dengan jelas mencari tahu informasi mengenai sesuatu yang dapat merubah wujud seperti diri kita atau sesuatu yang memang sudah mirp dengan diri kita selain saudara kembar sendiri.

“bisakah kau lebih lembut ketika membalik kertas kertas itu? Suaranya sungguh mengganggu tidurku”

Aku segera menoleh pada anak lelaki yang sejak tadi tertidur disampingku. Ia terbangun dan tiba-tiba bersuara, memprotes apa yang sudah aku lakukan pada kertas tua malang di tanganku.

“maaf” sautku singkat dan kembali pada kegiatan awalku. Membaca.

“perubahan wujud? Peniru wujud? Kenapa kau tidak mencari buku tentang doppleganger juga?” Sehun kembali bersuara. Aku rasa dia sudah memperhatikan buku-buku yang aku baca sejak ia terbangun tadi.

“doppleganger?” tanyaku antusias. Menatapnya penuh selidik, berusaha menemukan kemungkinan kalau dia tidak sedang melontarkan lelucon padaku dengan menyebut sesuatu yang teras asing padaku.

“hmm. Kau tau soal presiden Amerika, John F. Kennedy. Dia melihat doppleganger dirinya didalam kamarnya. Doppleganger sesuatu yang sangat mirip dengan kita secara fisik, katanya kalu kita sendiri melihat doppleganger kita itu tandanya kita akan segera mati” ekspresi wajahnya masih begitu datar ketika menjelaskan soal doppleganger padaku.

“mati kau bilang? Apa presiden Amerika itu kemudian mati setelah melihat dopplegangernya?”

“ya. Dihari berikutnya dia mati karena tertembak.”

Tenggorokanku tercekat. Tak tau harus menanggapi apalagi dari cerita Sehun. Mati? Akan mati nantinya setelah melihat doppleganger diri kita sendiri? Tapi aku sudah bertahun tahun melihat itu dan aku masih hidup sampai sekarang. Benarkah aku akan segera mati? Tidak. Aku belum merasakan bagaimana rasanya bertarung sesungguhnya. Bukan di lapangan arena atau saat kelas pertahanan atau saat latihan dengan saudara-saudaraku maupun daddy.

“apa doppleganger muncul bisa dimana saja? Tidak hanya selalu di cermin? Atau jendela atau bayangan di genangan air? Atau apapun seperti sendok dan benda lainnya yang bisa memantulkan diri kita?” tanyaku lagi, masih penasaran tentang bagaimana doppleganger muncul.

“cermin? Pantulan diri? Apa kau melihat dopplegangermu huh?” Sehun mulai memasang tampang curiga, ia mencondongkan badannya mendekat padaku, matanya mengamati wajahku. Mencari sendiri jawaban dari pertanyaannya barusan.

“tidak! Mendengar istilah itu saja baru ini apalagi melihat diriku yang lain” sanggahku cepat.

“ya kau benar. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika ada satu lagi atau lebih dari dua Kwon Alice di dunia ini. satu seperti ini saja sudah menjengkelkan” bibirnya menyunggingkan senyuman miring, mengejekku.

Terserahlah. Aku tidak pernah berminat menanggapi ucapan orang-orang soal sifatku yang menjengkelkan di mata mereka. Tapi Oh Sehun sendiri, dia kasus khusus karena selama ini tidak pernah ikut campur dengan apa yang aku lakukan. Baru ini dia berani meledekku. Sudahlah. Suka – suka dia mau berkata apa, lebih baik aku kembali membaca buku yang lainnya yang masih menumpuk menunggu untuk aku baca.

Beberapa menit berlalu tapi tak ada suara apapun yang ditimbulkan dari Sehun. Aku meliriknya sedikit, memastikan apa anak itu masih ada disana atau tidak. Mendapati sehun kembali melipat tangannya dimeja untuk dijadikan kepalanya bertumpu kembali tidur. Tidur lagi saja sana. Tidur yang nyenyak.

Sesaat aku berpikir apa jadinya kalau gadis-gadis Cove Crown berada di posisiku saat ini? duduk dekat disamping Oh Sehun yang sedang tertidur pulas. Mungkin mereka akan berteriak histeris karena bahagia, atau malah langsung memeluk Sehun sampai anak itu sesak? Hahaha aku geli membayangkannya.

Siapa yang tidak akan senang jika berada di posisiku sekarang ini? berada begitu dekat dengan Oh Sehun. Vampir idola selain Chanyeol. Dia juga teman Chanyeol sih, sahabat lebih tepatnya karena sejak tahun pertama mereka berdua selalu kemana mana bersama dengan satu vampir lelaki lagi, Kim Jongin. Sehun termasuk yang paling digilai juga dari mereka bertiga. Vampir pendiam yang akan langsung menghilang jika sudah dikerumuni gadis-gadis Cove Crown. Tidak seperti dua temannya yang lain yang akan begitu suka dan betah jadi pusat perhatian maupun duduk dikelilingi para gadis, Sehun tidak pernah bisa menampakkan dirinya begitu lama di muka umum kecuali saat di kelas.

“ahaa… pemilihan tempat yang bagus untuk pacaran, El” suara berat milik seseorang yang sudah sangat aku kenal terdengar dari ujung rak buku tak jauh dengan tempatku membaca. Dengan malas aku menoleh padanya dan memutar kedua bola mataku kesal ketika mendapatinya berjalan mendekatiku dengan memasang tampang gelinya.

“shut up, Bobby! Siapa yang berpacaran memangnya hah? Kau tidak lihat aku sedang membaca?” sahutku kesal sambil menatap tajam padanya.

“sopanlah sedikit pada kakakmu, El! Lagipula tak masalah kalau kau mau berpacaran disini juga dengan siapapun aku tidak masalah. Aku tidak akan mengadu pada daddy” Bobby mengerlingkan matanya kemudian mengusak rambutku.

“don’t touch my head!” bentakku pada Bobby, detik berikutnya aku melecutkan listrik dari energi yang aku lepaskan. Reflek saja Bobby menjauhkan tangan sekaligus badannya dariku dibarengi suara kursi terbanting dari sebelah kiriku. Oh yaampun aku lupa. Ada Sehun di dekatku, pastinya dia juga akan merasakan efek dari lecutan listrik yang aku keluarkan tadi.

“tidak bisakah kau membiarkanku untuk tidur dengan tenang?!” sembur Sehun langsung. Dia sudah berdiri waspada, matanya mendelik tidak suka padaku, wajah pucatnya terlihat begitu kesal karena lagi-lagi kegiatan tidurnya aku ganggu.

“sorry, aku tidak bermaksud. Aku yang membuatnya reflek melepaskan energinya, lanjutkan saja tidurmu” itu Bobby. Dia meminta maaf pada Sehun atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Sebenarnya itu termasuk salahnya juga kalau saja Bobby tidak memegang kepalaku dan mengusak rambutku aku tidak akan reflek melepas kekuatanku sembarangan. Dia pasti juga sudah tau kalau aku benci ada orang yang menyentuh kepalaku.

“tidak perlu. Aku sudah tidak mengantuk lagi, mataku sudah sangat segar karena aliran listrik dari adikmu” ucap Sehun sambil berlalu pergi meninggalkan aku dan Bobby.

 

Normal POV-

Bobby menatap Sehun hingga vampir bermarga Oh itu menghilang dibalik rak buku. Bagus saja, tak ada yang berani berbicara seperti itu padanya selama ini, baik teman seangkatannya apalagi anak – anak angkatan dibawahnya. Oh Sehun memang tidak pernah punya takut, dia bisa melakukan hal itu pada kepala sekolah sekalipun.

Tidak peduli dengan kejadian barusan, Alice hanya mengendikkan bahunya dan melanjutkan membaca buku yang masih belum ia sentuh sejak tadi. Kakaknya masih berdiri disampingnya, ia memperhatikan Alice yang kini sudah serius membaca. Anak itu selalu tidak pernah peduli dengan apa yang ada di sekelilingnya, batin Bobby.

“hei, apa yang kau… El?!” tubuh Bobby menegang ketika membaca judul-judul buku yang berserakan di meja Alice. “katakan padaku kalau bacaanmu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan sosok itu?” lanjut bobby setelah mendudukkan dirinya di kursi sebelah kanan adikknya.

“memang iya. Dia muncul lagi. Dan kali ini dia muncul sambil terus memanggil namaku” desis Alice. Suaranya terdengar seperti sudah sangat frustasi dengan semua yang ia alami ini.

“bukankah sudah lama sekali dia tidak muncul? Kenapa sekarang lagi? Kupikir dia tidak akan pernah datang lagi”

“Aku juga berpikir seperti itu. Dan kau tahu? Lecutan listrik dari energi yang aku keluarkan sama sekali tidak berpengaruh padanya.”’ gadis vampir itu memerosotkan bahunya, bersandar lemah pada kursinya. “jangan beritahu mommy dan daddy soal ini, please” lanjut Alice dengan nada memelas. Dia tidak mau orang tuanya khawatir, juga tidak mau daddynya yang ia kenal begitu berlebihan akan datang ke Cove Crown dan menjemput paksa putrinya atau melakukan berbagai inspeksi dadakan di Cove Crown, menyingkirkan benda apapun yang bisa menimbulkan refleksi atau bayangan.

“tenanglah, jangan takut. Ada aku dan Hanbin, kau bisa langsung memanggil kami jika sosok itu muncul lagi dan melakukan hal aneh padamu. Kami selalu membuka jalur telepati kami padamu, Jun dan Jennie.” Anak pertama keluarga Kwon memeluk erat gadis disampingnya. Mengusap punggung adiknya penuh sayang. Bobby sendiri juga sedikit takut setelah mendengar cerita Alice bahwa sosok itu kembali muncul, apalagi kali ini sosok itu sudah bisa berbicara walau hanya memanggil nama adiknya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama sosok itu tidak menyerang adiknya, tapi kalau sampai sosok itu berhasil mengucap kalimat lain atau melukai adiknya itu yang sangat ia takutkan.

Sudah jam dua lebih tapi Alice tidak bisa tidur juga. Vampir pengendali naga itu hanya berguling-guling cemas diatas ranjangnya. Sesekali melirik pada gadis malaikat yang sedang tertidur pulas diseberang ranjangnya, takut kalau-kalau suara decitan ranjangnya mengganggu tidur sahabatnya.

Tidur pulas? Ah omong kosong. Semua makhluk yang bukan manusia mana pernah benar-benar tertidur. Mereka hanya membaringkan tubuh mereka dan memejamkan mata mereka untuk beristirahat, menghilangkan lelah karena seharian telah mengeluarkan cukup banyak energi.

mata Alice menatap langit-langit kamarnya. ia merasa tenggorokannya begitu kering, tubuhnya mulai melemah sejak siang tadi. Darahnya berdesir, mendorong tubuhnya untuk segera pergi melompati jendela kamarnya, melompat keatap kastil Cove Crown, melayang keluar gerbang menuju hutan untuk mencari binatang liar atau makhluk berdarah apapun yang bisa ia temui nantinya untuk memenuhi rasa lapar yang sedang ia alami saat ini. tapi mati-matian ia menahan hasrat itu, bukan hanya hukuman membersihkan ruang penyimpanan yang super besar tanpa menggunakan kekuatannya atau sihir sedikitpun, ia bisa mendapat hukuman yang lebih dari itu.

Sebenarnya di ruang makan Cove Crown juga sudah tersedia tumpukan kantong darah untuk murid-murid vampir yang ada disana. Tapi keluar kamar pada jam segini juga sama saja dengan melompat keluar lingkungan sekolah.

“peduli apa dengan hukuman! Aku butuh makan!” bisik Alice. Dengan kecepatan vampir yang luar biasa ia sudah berhasil keluar dari kamarnya tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Gadis yang kini memakai piyama tidur begitu berhati-hati menyusuri koridor asrama. Ia bisa saja melesat langsung ke ruang makan tapi selalu ada salah satu guru yang berpatroli di asrama. Kecepatannya melakukan perpindahan pasti akan diketahui oleh gurunya nanti, maka itu ia harus ekstra hati-hati kali ini, menahan gejolak tubuhnya setiap kali menghirup aroma darah dari para were setiap melewati pintu-pintu kamar lain.

Alice berhenti sebentar setelah berhasil menuruni tangga, mengawasi koridor, memastikan kalau tidak ada penjaga atau salah satu guru di sana.

Setelah dipastikan aman, ia kembali berjalan. Berbelok menuju koridor yang akan menghubungkan jalan menuju ruang makan. Tapi belum sempat ia melangkah, sekelebat cahaya berwarna keemasan melintas didepannya, mengitarinya beberapa kali sebelum akhirnya berhenti tepat didepan Alice dan menunjukkan sosok dari cahaya keemasan tadi.

“well… kau pasti tidak punya kebiasaan tidur sambil berjalan bukan Kwon Alice? Karena aku yakin makhluk seperti kita tidak mungkin bisa tertidur apalagi bisa mengidap penyakit sleeping walker” sesosok elf wanita berdiri dihadapan Alice. Sayapnya yang berwarna keemasan sedikit transparan berkepak begitu cantik dan mengagumkan. “jadi jelaskan padaku apa yang membuatmu berkeliaran di koridor saat lewat tengah malam begini, dear?” lanjut elf cantik itu.

“maaf, Miss Song. Aku tidak bermaksud untuk berkeliaran aku hanya lapar. Aku butuh makan” jawab Alice setengah berbisik. Tenaganya sudah diambang batas akhir sekarang. Untuk vampir seumurannya memang masih membutuhkan banyak darah untuk kekuatannya.

“astaga. Aku rasa aku harus mengusulkan satu peraturan baru pada kepala sekolah untuk memberikan setidaknya dua kantung darah di kamar para murid vampir” elf cantik yang dipanggil Miss Song oleh Alice itu menatap kasihan pada gadis vampir didepannya. “kalau begitu ayo ke ruang makan denganku, dear” Miss Song menarik tangan Alice mengajaknya terbang menuju ruang makan.

Victoria Song. Elf cantik itu adalah salah satu guru di Cove Crown, guru kelas sihir lebih tepatnya. Salah satu guru wanita yang paling cantik di Cove Crown, dan tentunya kecantikan guru itu tidak hanya dikagumi oleh para laki-laki sesama guru tapi oleh para murid juga. Memang dia selalu mengumbar senyum dan tatapan teduhnya kepada para murid baik didalam maupun diluar kelas, tapi dia tidak akan segan untuk memberikan hukuman berat pada anak-anak. Alice selalu suka melihat sayap guru elf itu yang berwarna keemasan dan lebih terlihat transparan.

Inilah perbedaan antara elf dan malaikat. Mereka sama-sama makhluk bersayap, selalu betah melayang dan berlama-lama berada di udara. Hanya saja, para malaikat tinggal di langit, ada sebuah kerajaan atau permukiman dibalik awan-awan putih diatas sana adalah tempat tinggal para malaikat, sedangkan para elf tinggal di sebuah pulau yang terletak begitu jauh dari jangkauan manusia. Pulau hijau seperti greenland katanya, penuh bunga-bunga berbagai warna dan pepohonan super besar yang rindang sebagai tempat tinggal mereka. malaikat bisa membaca pikiran makhluk lain, sedangkan elf tidak. Dan perbedaan lainnya terletak pada sayap-sayap mereka. malaikat memiliki sayap super besar yang berbulu, sedangkan sayap elf lebih kecil daripada sayap malaikat, tidak memiliki bulu namun terlihat trasnparan walau kadang memunculkan warna warna indah seperti milik Victoria.

Dua wanita berbeda ras itu akhirnya mendarat mulus di tengah ruang makan. Mereka berjalan menuju pintu diujung kiri ruang makan, pintu itu menghubungkan ruang makan dengan dapur dan ruang penyimpanan kantung-kantung darah untuk para vampir.

“well, dear. Sepertinya ada vampir lain juga yang sedang menyantap makan malamnya yang terlalu terlambat” bisik Victoria pada Alice. Sejak memasuki ruang makan memang mereka berdua merasakan adanya makhluk lain didalam sana. Benar saja, ketika mereka membuka pintu coklat gelap yang terbuat dari pohon ek, mereka melihat ada laki-laki yang seumuran dengan Alice dan satu laki-laki paruh baya sedang duduk berhadapan didepan lemari tempat penyimpanan kantung darah.

Alice terbelalak melihat laki-laki muda yang duduk disana bersama salah satu koki sekolahnya. Baru tadi siang vampir pemilik manik biru itu bertemu dengan sosok laki-laki yang kini juga menatap Alice sama kagetnya.

“kelaparan pada tengah malam juga nona?” tanya koki paruh baya yang kini sedang membungkuk memberi hormat pada Victoria dan Alice. Alice hanya mengangguk singkat, tak butuh waktu lama koki itu meninggalkan tempat duduknya untuk menuju lemari penyimpanan dan dia benar-benar menghilang dibalik pintu lemari itu untuk mengambil kantung darah di ruang bawah tanah. Kantung-kantung darah memang disimpan di ruang bawah tanah dan pintu itu adalah pintu menuju ruang bawah tanah.

Guru elf yang datang bersama Alice sedikit mendorong Alice untuk duduk disebelah Sehun, duduk di kursi tempat koki tadi. Alice hanya menurut, matanya terus menatap gelas di ganggaman Sehun, masih ada sedikit darah yang belum diteguk Sehun di gelas itu.

“sabar, dear. Jangan berpikir untuk merebut makanan temanmu, milikmu sedang diambilkan oleh Seok” Victoria mengelus pundak Alice.

Tak lama koki bernama Seok itu muncul dari dalam ruang penyimpanan kantung darah, ditangannya sudah ada empat kantung darah.

“sebenarnya porsiku tidak sebanyak itu juga, Seok” sergah Alice ketika melihat jumlah kantung darah yang dibawa oleh Seok.

“hahaha. Satu dari empat kantung ini untuk tuan muda yang duduk disampingmu itu, nona. Aku juga sudah hafal sebanyak apa porsimu ketika makan” kekeh Seok geli melihat ekspresi kaget Alice. “eat well kids!” seru Seok setelah memberikan kantung darah pada Sehun dan Alice. Langsung saja Alice meraih gelas kosong yang terletak tak jauh darinya kemudian membuka kantung darah ditangannya dan menuangkan semua isinya kedalam gelas dan meneguknya secepat yang ia bisa.

Rasanya seperti dilahirkan kembali ketika darah dalam gelas itu menyentuh tenggorokannya dan mengalir terus menuju perutnya. Rasa laparnya sudah teratasi, lapar yang sudah ia tahan sejak tadi yang mengakibatkan ia tidak bisa beristirahat dengan tenang. Disebelahnya, Sehun hanya menatapnya tak percaya. Gadis yang selama ini ia tau begitu menjaga sikapnya setiap saat, selalu ‘act like a princess’ kapanpun dan dimanapun ia berada, gadis yang selalu menatap jijik para were yang suka berlarian kesana kemari. Sekarang menikmati makanannya dengan begitu bar-bar, tidak sabaran seperti vampir baru.

Setelah selesai dengan satu gelas penuh tadi, Alice kembali menyambar kantung darah kedua miliknya, ia begitu tidak sabaran ketika membuka kantungnya, dahinya berkerut, bibirnya mendecih sebal, taringnya sudah memanjang begitu runcing. Sehun kembali membelalakkan matanya ketika Alice merobek kantung itu dengan giginya dan langsung menyesap darah dari kantung di genggamannya. Satu-satunya vampir laki-laki di ruangan itu menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Alice pada kantung-kantung darah itu. Wajar saja kalau dipikir lagi, Sehun juga akan menjadi sangat bar-bar bahkan lebih dari ini kalau sudah sangat kelaparan.

“apa kau sering mengendap keluar dari kamarmu untuk menuju kesini, Oh Sehun?” suara lembut Victoria menginterupsi Sehun, mengalihkan pandangannya dari Alice. Anak itu hanya mengangguk dan meneguk habis darah dalam gelasnya. “ohh, aku memang harus mengusulkan hal itu pada kepala sekolah. Kasian sekali vampir muda kalau harus kelaparan tengah malam” lanjut Victoria yang kini sudah kembali melayang diudara. Sayapnya mengepak begitu cepat membuat cahaya keemasan berpenjar keluar dari sayapnya. Guru itu terbang pelan berkeliling melihat-lihat seisi dapur.

Menyesap darah dikantong ketiga sambil sesekali melirik Sehun yang kembali memperhatikan Alice setelah menghabiskan santapannya. Alice sudah merasa diperhatikan vampir disampingnya sejak tadi, karena rasa laparnya jadi dia biarkan saja apa yang dilakukan Sehun, tapi laki-laki itu tidak memindahkan matanya untuk menatap Alice membuat Alice akhirnya risih juga.

“aku bisa mencolok kedua matamu dengan cakar naga milikku kalau kau masih terus memandangku dengan pandangan seperti itu, Oh Sehun!” bentak Alice pada Sehun, otomatis Sehun berjengit kecil, kaget dengan suara dan gerakan badan Alice yang tiba-tiba membentaknya dengan mencondongkan badannya mendekat kearah Sehun.

“silahkan saja, kalau kau mau membantu Frank membersihkan kandang kuda dan berpatroli di hutan selama akhir pekan sebagai hukumanmu karena berani melakukan hal itu padaku” sahut Sehun tenang masih menatap Alice.

“sshh! Jangan membuat keributan, kids! Cepat selesaikan makan kalian lalu aku akan mengantar kalian kembali ke kamar kalian masing-masing. Go go!” sela Victoria menghentikan pertengkaran kecil mereka.

“tidakkah seharusnya kita mengatakan hal ini pada daddy?”

“sudah kukatakan padamu, Hanbin. Jangan ya jangan. Alice sudah memintaku untuk merahasiakan ini. aku tau dia tidak mau berurusan dengan daddy di sekolah”

“yah, aku juga tidak mau. Sesungguhnya aku juga akan malu kalau daddy sampai datang kemari dan melakukan hal-hal aneh untuk melindungi putrinya”

Dua vampir tampan yang kini sedang duduk di tangga puncak kastil kembali meributkan masalah yang dialami adik mereka berdua. Lagi-lagi berdebat harus atau tidak mereka melaporkan masalah ini pada ayah mereka. Hanbin, anak kedua keluarga Kwon, sesungguhnya dia punya firasat buruk setelah mendengar cerita Bobby kalau adiknya kembali melihat sosok yang selalu adiknya temui pada benda apapun yang memunculkan refleksi diri adiknya. Entahlah, firasatnya hanya mengatakan kalau Alice kali ini tidak akan baik-baik saja dari yang sebelumnya, dan biasanya firasat buruk yang Hanbin rasakan selalu terjadi. Dia tidak mau adiknya terluka. Tidak akan, fikirnya.

“kau tau kita tidak bisa selalu mengawasinya selama 24 jam. Saat ia berada di asrama kita pastinya tidak akan bisa mengawasinya, kecuali kau mau menyusup kesana hanya untuk mengawasi Alice” ucap Hanbin lagi memecah keheningan.

“yah aku akan sangat senang melakukan itu, menyusup ke asrama putri…” mata Bobby menerawang ke atas, membayangkan kemungkinan menyenangkan yang bisa ia dapat kalau ia menyusup masuk ke area asrama para gadis. Vampir yang lebih muda dari Bobby, yang kini duduk di belakang Bobby memberi tinju di punggungnya. Adiknya tau pikiran kotor yang melintas dipikiran Bobby, lagipula Hanbin juga tau kelakuan kakaknya jika menyangkut wanita. Bobby termasuk woman criminal juga. “tidak Alice, tidak juga kau! Apa kalian tidak bisa lebih sopan pada aku hah?! Aku juga tidak akan melakukan hal bodoh seperti menyusup begitu, aku tidak mau mendapat hukuman tahun ini. cukup tahun kedua dan ketigaku buruk penuh hukuman” ucap Bobby membantah tuduhan dalam pikiran Hanbin. Jangan lupakan kalau vampir adalah makhluk yang bisa membaca pikiran, jadi tanpa Hanbin mengatakan apa yang ia pikirkan pada Bobby-pun, vampir yang akan mewarisi kepemimpinan keluarga Kwon itu tau apa isi pikiran adiknya.

“kalau kita memberitahu Yinghan soal ini bagaimana? Yinghan selalu bersama Alice jadi kita bisa meminta bantuannya untuk mengawasi Alice” Hanbin memberi usul, tidak menghiraukan umpatan-umpatan Bobby dalam pikirannya. “gadis malaikat itu adik Xi Luhan, dia salah satu murid paling hebat di angkatannya. Tidak ada salahnya mempercayakan keselamatan Alice padanya” lanjut Hanbin.

“ya! Adik kita juga tidak kalah hebat dari malaikat itu!” sanggah Bobby tidak terima Hanbin memuji anak lain, makhluk dari ras yang berbeda dari mereka pula.

“i know. Aku tau bagaimana Alice dan kekuatannya. Tapi kita tidak akan tau apa sosok itu lebih lemah atau lebih kuat dari Alice”

“sudahlah. Sementara kita saja yang mengawasinya. Alice masih baik-baik saja, aku berkali-kali mengingatkannya untuk segera menghubungi kita kalau terjadi sesuatu” setelah mengatakan hal tersebut, Bobby langsung melesat menuruni anak tangga untuk kembali ke kelasnya. Meninggalkan Hanbin yang masih terduduk diam disana. Sungguh, perasaannya masih saja tidak enak. Mengingat kejadian bertahun-tahun lalu, kegilaan yang pernah dilakukan daddynya.

 

-TBC-

Iklan

2 thoughts on “Another Me (Chapter 2)

  1. serru…..bgt ceritanya…
    jadi sehun vampir jg to???
    eh tp dia gk satu kelas sama alice ya?
    yg satu kelas chanyoel kan,,
    kegilaan apa yg dilakukan daddy nya alice ya, apa ini ada hubungannya dgn hantu krmbaran alice itu?

  2. Seru seru …
    Sehun disini cuma murid biasa kyak alice ya ??
    Oh iya jangan” hantu itu emang kembaran nya alice kali …

    Author di chap 1 aku komen tp gagal mulu .. Itu kenapa ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s