Bittersweet : Seulgi

bittersweet

Author : Iefabings

Main Cast :

  • EXO’s Kai as Kim Jongin
  • Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi
  • EXO’s Sehun as Oh Sehun

Genre : Romance, hurt, college life, friendship

Rating : PG-13

Length : Multi chapter, currently 17, the last chapter

Previous Chapter : The Circle | He’s My BoyfriendI Hate You | A Weird Dream | ApologyWhat IfShe’s My GirlfriendStupid, Dumb, IdiotTruth Or Dare |  Call You MineI Feel WarmFavorite Mistake | We’re Friends, Right?Love LetterUnfortunatelySorry Sorry |

^^Selamat Membaca^^

Jika kau jatuh cinta pada dua orang, maka pilihlah yang kedua. Karena jika orang pertama sudah cukup baik, kau tidak akan jatuh cinta pada orang kedua.

Itu kata orang kebanyakan.

Mungkinkah yang terjadi padaku ini karena aku telah salah memilih? Aku memilih Sehun atas dasar kesetiaan, bukan karena dia yang pertama atau kedua. Dan sepertinya… kini aku menyesal. Semuanya tidak baik-baik saja, malah semakin buruk dan penuh tekanan. Jika bukan karena aku salah pilih, lantas kenapa?

Oh, mungkin karena aku tidak bisa menentukan mana orang pertama dan mana yang kedua. Awalnya aku berpikir Sehun adalah orang pertama yang ku cintai karena dia adalah orang pertama yang memilikiku. Lalu aku menelaah lagi ke masa lalu, saat aku bertemu Jongin untuk pertama kali. Semakin aku pikirkan hingga detik ini, semakin aku paham bahwa sebenarnya itu adalah awal cinta di antara kami tumbuh. Melalui tatapan kami yang bertemu, ruang dan waktu telah menyiapkan jeda bagi kami untuk mengisinya dengan cinta. Tapi aku terlalu gegabah. Aku terlalu terburu-buru memulai hubungan dengan orang lain sehingga cinta itu tidak bisa tumbuh dengan baik.

Aku tidak sempat menyadarinya. Lalu timbullah berbagai andai dalam benakku.

Andai aku mengenal Jongin lebih awal lagi.

Andai saat itu aku belum bertemu Sehun.

Andai Jongin dan aku punya kesempatan lebih banyak untuk mengobrol.

Andai aku tidak terburu-buru mengatakan ‘iya’ atas pernyataan cinta Sehun.

Andai Jongin yang menyatakan cinta lebih dulu.

Andai….

Andai aku punya kesempatan untuk bersama Jongin.

Semakin aku memikirkannya, semakin aku menyesal. Hingga saat ini, jika aku sendirian dan tanpa sengaja merenung, ingatanku pasti terbang pada Jongin. Dan semakin sakit tahu bahwa aku tidak sempat membuatnya bahagia. Aku tidak sempat bahagia bersamanya. Malah… yang dia katakan… kenangan bersamaku adalah rasa sakit.

Aku menyesal.

Untuk jawaban atas pertanyaan yang Jongin utarakan malam itu, aku memang masih bingung dengan hatiku. Jika aku menjawab Sehun, maka dia pasti akan merasa sakit mendengarnya. Jika aku menjawab dirinya, aku takut perasaan yang ku sebut cinta ini hanyalah dalih atas kekecewaan karena mengetahui kenyataan tentang Sehun. Ya, ini membingungkan. Aku tidak tahu mengapa Tuhan memberiku jatah kisah cinta yang begitu membingungkan. Aku begitu tertekan hingga rasanya ingin pergi saja. Pergi jauh dan menghapus semua ingatanku.

Bisakah kalian memahaminya? Aku hanya tidak ingin menyakiti hati siapa pun. Alasanku memilih Sehun adalah karena selama ini dia telah memberikan kebahagiaan untukku. Mengetahui bahwa aku menduakannya saja pasti sudah menyakitkan, bagaimana bisa aku membuatnya lebih sakit lagi dengan meninggalkannya?

Mengenai Jongin… malam itu saat aku mengakui pengkhianatanku pada Sehun, lalu dengan pasrah mengikutinya pergi meninggalkan Jongin, bukan karena aku sengaja menyakitinya. Aku hanya berpikir mungkin Jongin lebih kuat dari Sehun. Ku pikir dia bisa mengerti karena memang sejak awal aku adalah milik Sehun. Juga saat itu, aku masih mengira dia sama seperti playboy lainnya yang bisa berganti pasangan dengan mudah. Aku mengira dia pasti akan cepat melupakanmu dan mendapat pengganti baru.

Ternyata tidak.

Dia terus menunjukkan ketulusannya, juga bahwa dia bersungguh-sungguh atas perasaannya. Yang dia bilang cinta, ternyata memang cinta. Bagaimana bisa aku mencampakkan cinta yang begitu besar ini? Oh, aku merasa semakin buruk. Tapi sudah terlanjur. Sebagai seseorang yang sudah memiliki kekasih, aku merasa harus tetap setia. Jadi seberapa seringnya Jongin menunjukkan cintanya padaku, sebesar apa pun sakit yang ku tahan karena tidak bisa bersamanya, aku memilih setia. Bukankah setia itu adalah perbuatan baik? Aku percaya jika melakukan perbuatan baik, maka Tuhan akan memberikan kehidupan yang baik juga untukku.

Ternyata belum. Aku harus menerima kenyataan menyakitkan yang tidak biasa. Sebenarnya saat itu aku ingin marah. Tidak hanya pada Sehun, tapi juga pada pria bernama Kris itu. Tapi aku langsung sadar diri. Aku jauh lebih buruk dari yang Sehun lakukan. Tentu saja dia berhak menduakanku, bukankah aku sudah menduakannya? Dan mungkin saat itu dia benar-benar butuh seseorang di sisinya, sementara aku tidak bisa. Aku memang sempat bertindak egois, meminta Kris meninggalkan Sehun. Saat itu aku tidak memikirkan bagaimana perasaan Sehun. Aku tidak berpikir bahwa mungkin saja Kris bisa lebih membahagiakan Sehun. Yang ku pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar Sehun tidak meninggalkanku.

Pada akhirnya dia memang tidak meninggalkanku. Aku pikir dengan tetap bersama, maka kisah kami akan membaik seperti semula. Kami akan melakukan banyak hal penuh cinta, saling merindukan, dan mempersiapkan rencana pernikahan kami di masa depan. Aku tidak peduli ini sedikit memaksakan keadaan. Saat Sehun memintaku menunggunya membawa ‘Sehun yang dulu’ kembali, aku pikir memang benar-benar akan memperbaiki keadaan di antara kami.

Tapi lagi-lagi pikiranku salah. Bahkan setelah aku telah bersabar menunggunya kembali, semua tidak membaik. Aku mencoba bahagia untuk menghargai usahanya, tapi tidak bisa. Yang ku rasakan adalah kehampaan. Kami memang tersenyum seperti biasa. Saling mengatakan cinta seperti sebelumnya. Tapi setiap kali menatap matanya, aku tidak menemukan cinta itu lagi. Aku menangis keras pada Tuhan. Apa ini karena aku terlalu memaksakan diri? Apa ini artinya saat itu aku seharusnya memilih Jongin dan meninggalkan Sehun saja? Atau memang sebenarnya mereka berdua bukanlah untukku?

Maka malam ini, dengan kemantapan hati, aku duduk dan tersenyum menyambut kedatangan Sehun yang baru saja melewati pintu cafe. Dia membalas senyumanku lalu membuka syalnya dan duduk di hadapanku.

“Lama menunggu?”

Aku menggeleng singkat kemudian menggeser segelas kopi ke arahnya. “Sudah ku pesankan.”

“Kau memang selalu pengertian,” dia mengusap pipiku dan tersenyum. Aku tahu dia berusaha keras untuk memperlakukanku dengan penuh cinta. Namun mata itu tidak bisa membohongiku.

“Sehun-ah,” aku menggenggam tangannya di pipi, hanya sesaat sebelum ku lepaskan. “Ada yang ingin ku katakan.”

“Aku tahu, makanya kita bertemu sekarang kan,” kata Sehun, menyesap kopinya sedikit.

Saat itulah, aku melepas cincin putih yang selama beberapa bulan ini melingkari jari manisku. Mata Sehun—yang tadinya melirik ke dalam gelas—kini melirikku, tepatnya jemariku. Lalu tatapannya berakhir di cincin yang ku letakkan di atas meja, tepat di hadapannya. Dia berdeham singkat, meletakkan gelas kopinya di sebelah cincin itu.

“Sepertinya harus kita akhiri, Sehun-ah.”

Sejenak kami terdiam. Hanya ada suara helaan nafas Sehun, sesekali. Mungkin dia sedang berpikir mau menjawab apa. Aku terus menunggunya memberi respon.

“Seulgi, aku pikir kau bisa memberiku kesempatan untuk membawanya kembali.”

“Aku telah memberikannya, Sehun. Tapi masalahnya bukan padamu. Masalahnya adalah kita.”

“Seulgi, maaf….”

“Ayolah, Sehun. Jangan minta maaf, aku semakin merasa bersalah. Sungguh, ini bukan karena aku kecewa padamu. Aku benar-benar merasa kita sudah tidak merasakan cinta lagi. Setiap kali menatapmu, aku hanya melihat rasa bersalah dan permintaan maaf. Kau tahu tidak, itu justru membuatku terbebani. Akhirnya kita hanya saling merasa terbebani satu sama lain. Itu bukan cinta namanya.”

Sehun tertunduk. Yang ku katakan tadi benar, kan? Aku harap dia mengerti dan bisa menerimanya.

“Apa kita akan tetap bertemu?”

Aku langsung meraih tangannya, menggenggamnya. “Aku hanya ingin kita sama-sama bahagia. Awalnya aku masih dikuasai oleh egoku dan berkeras bahwa kita bisa memulainya kembali. Butuh waktu cukup lama untuk menyadari bahwa bahagia kita bukanlah bersama.”

“Bisa kan, kita tetap bertemu? Sebagai teman, mungkin?”

Aku bernafas lega. “Tentu saja. Aku berusaha membuat ini berakhir tanpa rasa sakit. Jadi di masa depan nanti kita masih bisa menjalin hubungan baik. Ku harap kelak kau menemukan seorang gadis yang lebih baik dan benar-benar bisa membahagiakanmu.”

“Tidak ada yang sebaik dirimu, Seulgi.”

“Kau juga, tidak ada yang bisa menandingi kebaikanmu,” ucapku tulus.

“Terima kasih untuk segalanya,” dia mengambil cincin itu, mengantonginya. “Sangat indah.”

“Iya, biar bagaimana pun itu indah.”

Lalu kami berdiam lagi, saling menatap. Setidaknya kali ini tanpa rasa bersalah. Hatiku merasa lega dan aku yakin Sehun pun begitu.

“Jadi… apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Entahlah, mungkin fokus dengan kuliah,” jawabku sambil mengangkat bahu.

“Sukses kuliahnya.”

“Kau juga.”

Sejenak kami hanya tersenyum satu sama lain. Memang masih belum terbiasa seperti ini, bersikap sebagai teman biasa. Tapi aku yakin selanjutnya kami akan terbiasa. Aku berharap ini adalah awal dari sesuatu yang baik di antara kami.

“Kalau begitu aku pulang,” Sehun beranjak dari tempat duduknya. “Oh, kau mau ku antar?”

“Tidak, aku masih menunggu seseorang. Dia bilang akan datang jam 10 nanti,” jawabku, berbohong. Bukan karena aku sengaja menjauh. Aku hanya ingin membuat ini lebih mudah bagi Sehun, juga bagiku.

“Masih satu jam lagi….”

“Aku bisa menunggu sambil baca novel,” kutarik novel yang ku bawa dari dalam tas.

“Baiklah, kalau begitu sampai nanti,” ucapnya sebelum benar-benar berbalik.

“Sampai nanti,” balasku seraya melambai. “Entah kapan,” tambahku lirih, sangat lirih sehingga Sehun tidak pernah mendengarnya.

Ya, mungkin itu menjadi pertemuan terakhir kami. Aku menatap punggungnya yang menjauh. Ini lebih baik dari pada harus selalu menatap mata bersalahnya.

Ku arahkan pandanganku ke luar cafe, melihat kendaraan yang lalu lalang, juga pejalan kaki yang lewat. Tanpa sengaja saat menopang dagu, ku lihat sepasang kekasih sedang bergandeng tangan dan tersenyum satu sama lain. Mereka sangat ku kenali. Jongin dan Yoonhye. Tidak bisa ku pungkiri bahwa ada sedikit rasa iri dengan posisi Yoonhye. Dulu, aku punya kesempatan besar untuk bisa berada di posisi itu dan tersenyum seperti Yoonhye saat ini. Walau begitu, aku juga merasa lega dan ikut bahagia. Jongin benar, cara yang baik untuk mencintai seseorang adalah dengan mengupayakan kebahagiaannya. Sekarang aku ikut bahagia dengan melihatnya bahagia.

Perlahan aku memahaminya. Ini bukanlah suatu konsekuensi karena aku salah pilih. Pada dasarnya, bukan kita yang memilih dengan siapa akan berbagi cinta nantinya. Tuhan lah yang memilihkan seseorang untuk kita, dan nantinya dia akan mengirimkannya saat waktunya tiba. Jika Jongin memang seseorang yang akan Tuhan kirimkan untukku, kelak kami akan dipertemukan lagi dalam keadaan dan kesempatan yang jauh lebih baik. Tanpa rasa sakit, tanpa beban, dan tanpa pengkhianatan.

***

Dua tahun kemudian

Apa kalian ingin tahu apa yang terjadi pada kami setelah dua tahun berlalu? Kami semua baik-baik saja. Setidaknya itu yang ku yakini, karena aku kehilangan kontak sama sekali dengan Jongin dan Sehun.

Aku dan Jongin memang satu kampus, tapi kami sangat jarang bertemu. Berbeda fakultas dan jurusan salah satu penyebabnya. Tanpa The Circle tidak alasan untuk bertemu. Dan aku sudah keluar dari organisasi itu beberapa hari setelah mengakhiri hubunganku dengan Sehun. Sesekali aku dan Jongin mengobrol via LINE, bahkan juga berkirim voice note. Dia juga pernah mengajakku makan bersama, tapi aku tolak karena tidak mau Yoonhye salah paham. Lagi pula menurutku akan lebih baik jika kami benar-benar menjaga jarak. Kian lama obrolan kami kian singkat, frekuensinya pun berkurang. Akhirnya benar-benar tidak pernah mengobrol lagi. Aku pernah iseng membuka profil LINEnya dan dia menggunakan fotonya bersama Yoonhye sebagai direct picture. Dia pasti bahagia bersama Yoonhye, aku yakin. Walau akhirnya mereka putus. Itu kabar terakhir yang ku dapatkan kira-kira 6 bulan kemudian sebelum ponselku rusak dan semua aplikasi, data, juga kontaknya hilang.

Tentang Sehun, ternyata pertemuan malam itu benar-benar menjadi yang terakhir. Kami tidak pernah bertemu lagi setelahnya. Aku sempat ingin menghubunginya paling tidak melalui pesan singkat, tapi aku bingung harus berbicara apa. Jadi dari pada canggung, aku putuskan untuk tidak memulainya. Hahaha, lucu sekali padahal dulu pernah saling mencintai. Mungkin kau merasa kecewa karena aku begitu mudahnya mengakhiri hubungan dengan Sehun. Aku juga tidak terlalu memaksamu untuk memahamiku. Sebenarnya aku juga tidak menyangka hubungan kami akan berakhir dengan mudah dan enteng, mungkin karena kami sudah sama-sama melewati rintangan menyakitkan, juga tangis yang banyak. Bisa dikatakan, aku sudah lelah. Sehun juga pasti demikian. Yang jelas, saat ini aku semakin yakin bahwa langkah itu adalah benar. Aku tidak tahu setelah putus denganku dia menemukan gadis lain dan berkencan lagi atau tidak. Kami benar-benar putus kontak.

Kalian pasti juga penasaran dengan yang terjadi pada Soojung. Keadaannya baik. Sebenarnya aku kehilangan kontak juga dengannya. Tapi terakhir kali tanpa sengaja bertemu dengannya di sebuah cafe, dia sedang bersama seorang pemuda tampan. Aku yakin mereka berkencan. Syukurlah, menurutku dia pantas mendapatkan pemuda yang baik.

Oh iya, aku sampai lupa menceritakan keadaanku sendiri. Aku baik-baik saja, tentu saja. Aku juga memiliki seseorang di sisiku. Kali ini aku tidak akan membuat kesalahan lagi dan sangat berharap dia adalah yang terakhir. Aku tidak menyesal karena telah melepaskan Sehun dan Jongin karena kini memiliki dia. Walau dia tak seromantis Sehun dan tak sekeren Jongin, semua perlakuannya membuatku merasa begitu dicintai.

Satu hal lagi. Jika kau jatuh pada dua orang sekaligus, maka kau tidak perlu sibuk berpikir harus pilih yang mana. Akan lebih baik jika kau tinggalkan keduanya. Karena sebenarnya, kau tidak berhak atas kedua cinta itu. Biarlah Tuhan yang menentukan untukmu, saat hatimu telah siap untuk menerima satu cinta saja.

Ah… sepertinya aku jadi sok bijak sekarang. Tetap saja, itu kembali lagi pada dirimu sendiri. Aku hanya menulis sesuai dengan apa yang ku alami. Kau boleh membenciku atau mengasihaniku. Yang jelas, sekarang kehidupanku sudah baik-baik saja. Begitu juga kehidupan Jongin dan Sehun. Aku yakin itu.

***END***

Author note :

Akhirnya, saya bisa mengatakan ini sekarang. Satu hal yang perlu kalian ketahui, yang sangat penting sehubungan jalannya cerita ini. Sebenarnya ini adalah kisah nyata. Bisa kalian percayai atau tidak sih. Eh, tapi untuk adegan (agak) dewasanya itu hanya pemanis(?) gak benar-benar terjadi kok :’D Semua pertanyaan dan permintaan pendapat yang saya ajukan itu semata-mata sebagai media untuk introspeksi dan saya ucapkan banyak terima kasih. Semua aspirasi kalian telah saya sampaikan pada ‘Seulgi’ langsung. Fanfiction ini saya tulis sebagai ucapan maaf ‘Seulgi’ yang belum tersampaikan hingga saat ini kepada ‘Jongin’ dan ‘Sehun’. Entah dimana mereka sekarang. Bisa jadi mereka membaca ff ini juga seperti kalian, di suatu tempat, lalu menyadari ini pernah terjadi pada diri mereka hahaha.

Semua quote, lirik lagu, puisi, gombalan(?), yang ada di dalam ff ini disadur langsung dari kenangan yang masih diingat oleh ‘Seulgi’. Dan mengenai ending yang (mungkin) membuat kalian kecewa, tolong jangan protes ke saya :’v Saya hanya menulis sesuai dengan apa yang terjadi dan masih diingat oleh ‘Seulgi’. Jadi untuk KaiSeul shipper jangan kecewa ya. SeulHun shipper juga, jangan marah-marah hehe. Misal suatu hari nanti ‘Seulgi’ dan ‘Jongin’ dipertemukan kembali oleh takdir atau bahkan mereka jodoh, mungkin saya akan membuat sequel ff ini. Eh, tapi jangan deh. ‘Seulgi’ sama yang sekarang aja udah :’v

Udah kali ya, ini note paling panjang yang pernah saya buat. Sebenarnya part ini sangat singkat karena memang hanya saya niatkan sebagai epilog :’v

Sampai jumpa di ff karya saya berikutnya!

34 thoughts on “Bittersweet : Seulgi

  1. Huwaaaaaaaaaaaaaaa endingnya😥

    Ya ampun betapa pilunya kai di sini coba :”)
    Aku sempet kesel sama dia yg mau rebut seulgi, pada akhirnya dengan twist sehun, aku sadar kai banyak berubah.
    Seulgi Oh No😦
    Aku menyesal dia tak jadi dengan siapapun.
    Tapi kisah ini masuk akal.

    Kebanyakan ff pasti menjadikannya dengan kai. Hatiku pilu, berharap kisah mereka ada kembali dalam tulisanmu. Huhuhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s