LOVE KILLER Part 8

img_2244

Title                     : LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Do Kyungsoo ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 : Chapter

Rating                  : T

Genre                   : School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

( Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

 

***

 

Meski pikirannya terus tertuju pada Jisoo, tapi Sooyong tetap fokus dengan pelajarannya. Dia tidak boleh terlihat lemah dihadapan Kyungsoo dan yang lain. Semua orang yang dulu menghormatinya kini berbalik melawannya. Dia harus bisa melindungi dirinya sendiri agar Kyungsoo tidak semakin semena-mena terhadapnya.

 

“Apa ada yang tahu kenapa Jisoo absen hari ini?” tanya Kyuhyun sebelum dia memulai pelajaran.

 

Chanyeol mengangkat tangannya dengan senyum jahil, “Mungkin Jisoo sedang sibuk berjuang mendapatkan cinta sang putri” ucapnya sambil melirik Sooyong yang duduk disebelahnya membuat murid yang lain tertawa dengan nada mengejek.

 

Sooyong tidak peduli. Dia hanya diam sambil menatap layar ponsel. Dia berharap Jisoo menghubunginya.

 

“Baiklah, buka buku paket halaman 49. Karena ada satu hal yang harus Sam kerjakan. Kalian pahami materinya lalu kerjakan soal yang ada, setelah itu kumpulkan” suruhnya yang ditanggapi dengan berbagai keluhan dari beberapa murid yang memiliki prestasi akademik pas-pasan. “Jangan sepelekan tugas ini karena 10 siswa yang mendapat nilai terbaik tidak perlu mengikuti ulangan minggu depan. Jadi kerjakan dengan benar dan ketua kelas yang akan memantau kalian”

 

Setelah memberikan tugas, Kyuhyun pergi meninggalkan kelas. Suasana kelas yang tadinya tenang kini mulai sedikit ribut. Mereka tidak mengganggu Sooyong tapi mereka terus membicarakannya dengan nada sindiran. Cepat-cepat Sooyong menyumpal telinganya dengan headset dan mulai mengerjakan tugas.

 

 

 

…………………………………………….

 

 

 

Ketika istirahat tiba, Sooyong seperti biasa mengantri untuk mengambil makan siang. Dibelakangnya Haneul dan Minji memperhatikan dengan tatapan tidak suka. Lalu tak sengaja lengannya menyenggol makan siang Haneul hingga isinya tumpah mengenai bajunya. Sooyong tidak meminta maaf. Dia berjalan menuju kursi yang berada tidak jauh dari tempat makanan.

 

Begitu dia duduk, Minji dan Haneul mendatanginya, “Ya! Bukannya kau harus minta maaf. Apa orang tuamu di rumah tidak pernah mengajarimu?”

 

“Mungkin Ibumu terlalu sibuk bekerja sampai tidak bisa mengajarimu bersikap sopan pada orang lain”

 

“Kenapa aku harus meminta maaf? Kalian juga tidak pernah minta maaf karena selalu menggangguku. Anggap saja itu balasan dari perbuatan kalian”

 

“Dasar gadis sombong. Ya! Harusnya kau sadar, selama ini kami segan padamu karena Kyungsoo. Kau pikir kami suka berteman dengan gadis sombong dan angkuh sepertimu? HyeRa bahkan mengalahkanmu dalam sekali telak”

 

“Sekarang tidak ada yang membelamu lagi. Seorang Bokdong bahkan tidak bisa berkutik dihadapan tuannya kau tahu!” Minji dan Haneul terus saja mengoceh membuat ketiganya kini menjadi pusat perhatian.

 

“Sekarang Kim Sooyong menjadi targer ­bully-an mereka. Orang berkuasa itu bisa membuatmu melakukan apa saja termasuk menyakiti orang lain” Syuhan yang duduk didepan HyeRa berkomentar dengan suara pelan.

 

HyeRa merasa kasihan dengan Sooyong. Tidak ada seorang pun yang berada disisi gadis itu sekarang. Meski Sooyong terlihat kuat, tapi hatinya tidak bisa berbohong. Dia pasti terluka menerima perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Dia ingin menolong tapi kata-kata Suho mengurungkan niatnya. Lagipula dia tidak suka terlibat dengan masalah orang lain dan Sooyong tidak meminta bantuannya.

 

Perdebatan ketiganya terhenti begitu Suho berdiri sambil menggebrak meja. Sontak Minji dan Haneul menoleh kearah Suho yang duduk dimeja seberang bersama teman-temannya yang setia.

 

Suho mendekati meja Sooyong. “Kalian berdua kenapa berisik sekali sih! Tidak bisakah kalian menikmati makan siang dengan tenang!” dia menatap tajam keduanya.

 

Kyungsoo yang sedari tadi asyik menonton tercengang karena Suho merusak pertunjukan tersebut tanpa seizinnya.

 

Minji dan Haneul diam. Mereka saling berpandangan dengan wajah takut. Kemudian keduanya pergi begitu Suho mengisyaratkan dengan gerakan wajah.

 

Kini tinggal mereka berdua. “Ayo keluar” suruh Suho dengan suara pelan.

 

Sooyong tidak bergeming. Dia menatap Suho bingung.

 

“Cepat! Kau mau tahu tentang keberadaan Jisoo kan?” ucapnya membuat Sooyong tertarik. “Ayo kita bicara diluar”

 

Dengan enggan Sooyong bangkit dari tempat duduknya. Begitu dia siap melangkah, dia terkejut saat tangan Suho merangkulnya. “Mwoya ige?” dia coba melepaskan diri. Dia merasa tidak nyaman.

 

Namun Suho tetap kukuh merangkulnya kuat membuat gadis itu akhirnya menyerah. “Jangan banyak bicara dan ikuti saja aku!” ucapnya kali ini dengan penuh penekanan agar Sooyong menurut.

 

Sebelum pergi, Suho sempat melirik HyeRa. Dia menunggu respon gadis itu dan dia terkejut karena HyeRa juga tengah melihatnya.

 

 

 

………………………………………………..

 

 

 

“Apa kau salah makan?” Sooyong melepaskan rangkulan Suho begitu keduanya keluar dari kantin.

 

“Aniya”

 

“Lalu kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini? Bukannya kau juga yang menyuruh mereka menggangguku?”

 

Suho menghela nafas. Tadi itu dia hanya ingin mencegah HyeRa. Dia tahu, HyeRa dan Sooyong tidak terlalu dekat, tapi dia tidak mungkin tinggal diam melihat semua ini. Bukan karena gadis itu ingin sok menjadi pahlawan, tapi yang dia tahu HyeRa tidak suka dengan orang yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Makanya dia langsung turun tangan. Dia tidak mau Kyungsoo juga ikut-ikutan menyakiti HyeRa. Laki-laki itu bisa melakukan cara licik sekalipun agar tujuannya tercapai.

 

“Anggap saja karena rasa kasihan” jawab Suho cepat.

 

“Aku tidak perlu rasa kasihan darimu”

 

Sifat keras kepala Sooyong membuat Suho harus bersabar menghadapi gadis ini. “Terserah kau saja. Aku tidak ingin berdebat”

 

“Apa yang mau kau bicarakan tentang Jisoo? Cepat katakan! Aku tidak mau berlama-lama denganmu”

 

“Ya ampun. Kau benar-benar menyukainya sampai kau jadi seperti ini?”

 

“Ini bukan hanya karena hubunganku dengan Jisoo. Tapi ini menyangkut kehidupan seseorang. Mungkin kau dan Kyungsoo terbiasa menyingkirkan orang yang berani mengacaukan kekuasaan kalian, tapi aku bukan orang seperti itu. Lagipula setelah hak asuhku selesai, aku akan tinggal di Jepang bersama Ayah. Aku tidak tahan harus hidup dengan melihat wajah kalian”

 

“Lalu bagaimana dengan Jisoo?”

 

Sooyong tidak menjawab. Dia justru menatap Suho dengan tatapan curiga, “Aku rasa ini bukan urusanmu. Siapa yang tahu kalau setelah ini kau mungkin akan mengatakannya pada Kyungsoo”

 

“Ya, mungkin kau benar, tapi aku tidak akan melakukannya. Apa kau sudah menghubungi Jisoo?”

 

Sooyong menggeleng. Dia membuang muka. Dia tidak ingin Suho melihatnya menangis karena itu sangat memalukan.

 

Dengan ragu Suho menepuk pelan pundak Sooyong untuk menenangkannya. Walau terkesan kaku, tapi Sooyong bisa merasakan ketulusannya.

 

“Kau sudah mencari ke apartment nya? Mungkin Jisoo disana. Kau harus segera menemukannya sebelum Kyungsoo berbuat lebih jauh lagi” Suho memperingatinya membuat Sooyong tahu dimana dia harus mencari Jisoo.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

Jam istirahat telah berakhir. Seluruh siswa memasuki kelasnya masing-masing. HyeRa dan Syuhan berjalan bersama. Didepan kelas, Suho tengah bicara dengan Chen. Dia menyadari kehadiran HyeRa. Dia tersenyum untuknya.

 

HyeRa hanya melihatnya biasa. Tidak tahu harus bagaimana setiap Suho tersenyum padanya. Perilaku laki-laki ini sangat membingungkan.

 

Suho menghalangi jalan HyeRa memasuki kelas, “Kau marah padaku?”

 

HyeRa menatapnya bingung, “Kenapa aku harus marah padamu?”

 

“Apa kau pikir senyumku ini barang obral yang bisa kau lihat dimana saja! Kau tidak merasakan sesuatu saat kau melihatnya?”

 

HyeRa semakin dibuat bingung. “Aku tahu tingkat percaya dirimu kelewat batas, tapi bicaralah dengan jelas. Aku tidak mengerti. Sekarang minggir! Kau menghalangi jalanku” dia menyenggol pundak Suho lalu memasuki kelas.

 

HyeRa masuk melalui pintu depan. Dia menemukan sesuatu yang aneh. Meja Sooyong hilang!

 

Sooyong yang baru masuk langsung sadar kalau mejanya tidak ada. Dia menatap seluruh teman sekelasnya. Ada yang tertawa, ada yang berbisik. Tatapan mereka merendahkannya.

 

“Ya! Kau tidak pantas sekolah disini” Minji mendorong pundak Sooyong.

 

“Lebih baik kau keluar sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri” tambah Haneul.

 

Sooyong menatap keduanya sengit. Ini pasti ulah mereka. Dia pun berbalik dan berlari keluar.

 

HyeRa tidak suka dengan sikap Minji dan Haneul. Teman macam apa mereka! Meski hubungan mereka hanya berlandas sebuah relasi, tapi ini sudah keterlaluan.

 

Suho menahan HyeRa. Dia tahu HyeRa akan melabrak Minji dan Haneul.

 

“Jangan menghalangiku” ucapnya penuh penekanan.

 

“Sudah kubilang jangan terlibat”

 

“Tapi mereka keterlaluan. Semua barang milik Sooyong hilang”

 

“Kau punya bukti kalau mereka yang melakukannya?”

 

HyeRa menatap Suho, “Hh. Aku lupa kalau kau teman mereka. Sikapmu tadi pagi sempat membuatku kagum tapi sekarang, kau membuka topengmu”

 

Ada perasaan sedih ketika HyeRa meragukan ketulusan Suho. Dia melakukan semua ini untuk melindunginya.

 

HyeRa memperoleh pelajaran berharga. Dia tidak boleh cepat menilai orang hanya karena satu sikap manis. Itu tidak menjanjikan kalau dia orang baik.

 

Shindong memasuki kelas dan seluruh siswa langsung duduk ditempatnya. HyeRa menatap tajam Suho sebentar sebelum dia duduk ditempatnya. Dia benci diskriminasi yang terjadi di sekolah ini.

 

 

 

………………………………………………….

 

 

 

Shindong hanya mengajar selama satu jam pelajaran. Sisanya dia berikan tugas lalu meninggalkan kelas. Para siswa mengerjakan 20 soal Seni Budaya dengan tenang. Mulut mereka kelu untuk mengobrol karena otak mereka harus dipakai untuk menemukan jawaban.

 

HyeRa selesai mengerjakan soalnya dalam sepuluh menit. Dia kedepan untuk mengumpulkan tugas. Setelah itu dia berencana keluar untuk membantu Sooyong.

 

“Kau tidak boleh keluar, murid baru” pernyataan dingin Kyungsoo menghentikan langkah HyeRa.

 

“Aku sudah menyelesaikan tugasku”

 

“Tidak ada yang boleh meninggalkan kelas ini”

 

“Kenapa aku harus mendengarkanmu? Ketua kelas saja tidak berkomentar apa-apa”

 

Suho mengangkat kepala karena dirinya disebut. Dia menatap Kyungsoo dan HyeRa bergantian. Kepalanya mendadak sakit. Dia sudah bersusah payah melindunginya tapi masalah muncul didepan matanya.

 

“Kembali ketempatmu, HyeRa”

 

HyeRa menatapnya. Kyungsoo tersenyum menang. Dia melempar senyum licik kepada HyeRa. HyeRa semakin kesal. Dia menatap tajam Suho dan Kyungsoo. Dia tidak mau tinggal diam.

 

“Jika kalian menggunakan kekuasaan untuk mengatur orang lain, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Aku melakukan apapun yang aku suka dan tidak ada seorangpun yang berhak melarangku!” dia berjalan mendekati pintu lalu menggeser kemudian membanting pintunya dengan keras setelah dia keluar.

 

Seluruh siswa menjadi gaduh dengan saling berbisik. HyeRa berani menantang Kyungsoo. Suho meremas pulpennya kuat-kuat. Sia-sia sudah perjuangannya melindungi gadis itu. Dia melirik Kyungsoo. Kyungsoo nampak tenang namun aura kejamnya terpancar keluar. HyeRa telah masuk daftar mangsanya. Kini Kyungsoo akan membuat perhitungan dengan gadis itu.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

HyeRa mencari Sooyong kesegala tempat. Dia berlari kesana kemari. Dia mengkhawatirkannya. Dia tidak mau bertanya kepada siapapun karena seluruh penghuni sekolah pasti sudah dicuci otaknya oleh Kyungsoo dan Suho. Dia mencari kebelakang sekolah. Matanya menoleh dan mencari dengan seksama.

 

Dan dia menemukannya!

 

Nampak sosok Sooyong duduk diatas mejanya. Gadis itu menatap kosong keatas. Dia melamun.

 

HyeRa mendekatinya dengan langkah pelan. Dia berusaha agar tidak mengejutkannya. “Kau baik-baik saja?”

 

Sooyong menurunkan kepalanya. Matanya berkaca. Dia terlihat sangat sedih. HyeRa jadi ikut merasakan kesedihan Sooyong.

 

“Aku benci sekolah ini” ucap Sooyong, “Aku sangat membenci Do Kyungsoo”

 

HyeRa memeluk Sooyong. Gadis ini memiliki banyak tekanan dari sekitarnya. Seorang anak yang selalu dituntut oleh Ibunya harus menanggung keegoisan laki-laki yang tidak dia suka. HyeRa jadi marah hanya dengan memikirkannya saja. Ujian ini terlalu berat untuk Sooyong.

 

“Aku ada dibelakangmu, Soo. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu” balas HyeRa dengan nada pasti.

 

Sooyong merasakan keyakinan dalam ucapan HyeRa. Dia mengangguk sebagai ucapan terima kasih. Air matanya mengalir. Dia menutupi wajahnya dipundak HyeRa. Dia ingin mengakhiri semuanya. Dia ingin pergi dari kehidupan yang memuakkan ini.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

HyeRa dan Sooyong kembali ke kelas setelah bel pulang selesai berbunyi. Mereka menunggu selama lima menit sampai memastikan seluruh siswa telah keluar dari kelas. Sebenarnya mereka bisa menunggu lebih lama agar situasi lebih aman agar terhindar dari perlakuan tidak bermoral tapi HyeRa tidak sabar untuk pulang. Dia ingin segera bertemu Ayah.

 

Kelas mereka telah kosong. Sedikitnya mereka bernafas lega. HyeRa mengambil tas lalu memakainya. Mereka hendak pergi sebelum Kai masuk dan dengan cepat menahan lengan Sooyong dibelakang tubuhnya. Kai menutup mulut Sooyong dengan tangannya yang lain.

 

Tidak berapa lama Kyungsoo masuk dengan santainya. Dia tersenyum miring pada Sooyong sebelum melempar pandangan kearah HyeRa, “Kau pikir kau bisa pulang dengan selamat hari ini” ucapannya terdengar seperti pembunuh yang siap menghabisi korbannya. Dia mendekati Sooyong lalu berhenti disampingnya. Dia mengusap rambut Sooyong yang membuat gadis itu bergidik ngeri. Wajahnya menjadi pucat.

 

Kyungsoo berbisik, “Tenanglah, Soo. Kita akan bersenang-senang” kemudian dia menatap HyeRa. “Aku akan melepasnya setelah kau bersujud padaku. Kau harus memohon dan menuruti semua perkataanku. Aku yang berkuasa disini. Semua orang mendengarkanku. Kalau kau melawan” dia memegang wajah Sooyong dengan kasar, “Kalian berdua akan terluka” ancamnya diakhiri tawa iblis yang membahana.

 

Sooyong menggeleng agar HyeRa tidak menuruti Kyungsoo. Dia harus pergi. Jangan pedulikan dirinya. Ini adalah masalah mereka berdua.

 

HyeRa mengepalkan tangannya dengan geram. Sial! Dia bisa terlambat pulang. Rasanya dia ingin meledak sekarang juga.

 

“Kau akan menyesal karena membuatku pulang terlambat hari ini” balas HyeRa tanpa rasa takut.

 

Kyungsoo tersenyum licik.

 

Sementara tidak jauh dari kelas mereka, Suho setengah mati berteriak, “Jangan halangi aku, brengsek!” Chanyeol dan Sehun menahan tubuhnya. “Kubilang minggir!!!” dia mendorong Chanyeol dan Sehun. Mereka dibuatnya mundur beberapa langkah.

 

Suho habis kesabaran. Dia tidak akan membiarkan Kyungsoo menyakiti HyeRa. “Maju dan lawan aku” suruhnya dengan tatapan dingin.

 

Chanyeol dan Sehun harus menurut pada Kyungsoo karena laki-laki itu mengancam mereka. Dan mereka sadar, Suho bukanlah tandingan keduanya. Tapi mereka tidak bisa mundur. Mereka pun maju dan perkelahian tidak bisa dielakkan.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

Sooyong tidak bisa hanya diam saja menghadapi situasi ini. Dia harus melakukan sesuatu. Dia sudah muak dengan sikap Kyungsoo yang semakin menjadi. HyeRa bahkan terseret dalam masalahanya. Kyungsoo dan Suho sudah saling bersiap untuk saling melayangkan pukulan. Sooyong harus menghentikannya. Dia injak kaki Kai hingga pegangan tangannya melonggar. Sooyong memakai kesempatan itu untuk segera melepaskan diri dari cengkraman pemuda berkulit tan lalu dia memukul kepala Kyungsoo dengan ujung tasnya hingga pertahanan lelaki itu sedikit oleng.

 

Suho terdiam ditempat, dia melirik Sooyong yang menatapnya dengan tatapan untuk segera pergi dengan membawa HyeRa selagi Kyungsoo kesakitan. Segera Suho menggenggam tangan HyeRa dan membawa gadis itu pergi.

 

“Dasar gadis sialan!” umpatnya marah. “Apa yang kalian lakukan, cepat kejar mereka!” Kyungsoo menyuruh yang lain untuk mengejar Suho dan HyeRa. Mereka harus menerima hukuman karena telah ikut campur atas segala masalahnya.

 

Namun semuanya terlambat begitu Kyuhyun datang ke kelas mereka. “Apa yang kalian lakukan dan kenapa kalian belum pulang?” tanyanya yang tidak dijawab satu pun. Kyuhyun melihat Kyungsoo dengan luka memar dikepalanya. “Kalian berkelahi? Sooyong-haksaeng, apa kau disakiti mereka?”

 

“Itu…” Kai menyela dengan wajah kebingungan.

 

Sooyong mendekati Kyungsoo. Dia menatap pria itu dengan wajah penuh kebencian. “Aku akan membalas semua perbuatan kalian. Kau tidak sepenuhnya lupa kan kalau aku punya Ayah yang berkuasa. Menurutmu apa yang akan ayahku lakukan saat ia tahu semua ini? Selama ini aku menahannya tapi kekasaranmu membuatku muak. Sadarlah, kau itu hanya pecundang yang menggantungkan hidupmu dari kekayaan Ayahmu. Kau terlalu meremehkanku, Do Kyungsoo”

 

Jleb!

 

Kata-kata Sooyong seperti pisau yang menusuk sampai kedalaman hatinya. Kyungsoo mungkin lupa bagaimana kerasnya tabiat gadis itu.

 

Kyuhyun yang tidak mengerti apapun hanya bisa menyuruh mereka untuk segera kembali ke rumah.

 

 

 

 

 

tbc ~

3 thoughts on “LOVE KILLER Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s