The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 1)

cats

Tittle            : The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 1)

Author       : Dwi Lestari
Genre         : Romance, Marriage Life

Length        : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Yenni Wilson / Hwang Yen Ni (Yenni) | Byun Baek Hyun (Baekhyun)

Support Cast :

Hwang Re Ni (Reni), Byun Seo Hyun (Seohyun), Song Hen Na (Henna), Do Kyung Soo (Kyungsoo), Park Chan Yeol (Chanyeol), Xi Lu Han (Luhan)

 

Disclaimer          : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note       : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning                : Typo bertebaran      

 

The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 1)

 

“Hello mom”.

“Oh, darling. You’re coming”, kata mothernya.

“Yes”.

“Come here, darling”.

“Yes, what happen mom”.

Kedua orang tuanya saling melihat.

“Why? Mom, Dad. Ani problems?”.

“No. Sit down, please!”.

Yeoja itupun segera duduk.

“Listen to me. We will come back to Korea. Tomorrow!”, kata orang tuanya.

“Tomorrow! But… Why?”, tanya yeoja itu.

“Your sister will marry”, kata mothernya.

“What? Marry? Reni will marry? Really?”.

“Yes, darling. Are you follow us”.

“Oh, sure. I wiil follow you”.

“Ok, darling. You must fine your self”, kata dadynya.

“Understand, Dad”.

Setelah percakapan itu, yeoja itu bersiap-siap untuk pulang ke Korea. Yeoja itu akan menghadiri pesta pernikahan kakaknya.

§§§

Sebuah pesawat telah mendarat di bandara Incheon dari New York. Semua penumpang segera turun. Tak mau ketinggalan, keluarga Wilson juga turun dari pesawat itu. Mereka membawa barang mereka masing-masing. Di bandara itu terlihat banyak orang yang sedang menjemput keluarga, saudara atau teman-teman mereka. Banyak orang yang membawa tulisan dari nama-nama orang yang akan mereka jemput.

Yeoja dari keluarga Wilson itu terlihat senang. Dia bahkan berteriak gembira. “Korea, I’m coming”. “Darling, enough. They will say you crazy, if you noise. Silent, please”, kata mothernya. “I’m sorry, Mom”, kata yeoja itu.

Keluarga itu segera mencari orang yang akan menjemput mereka. Mereka melihat kesana-kemari, dan akhirnya mereka melihat seseorang dengan tulisan ‘Wilson Family’. Mereka segera mendekati orang tersebut. “Come here, darling”, kata Dadynya. “Yes, Dad”, kata yeoja itu. Orang itu menyapa mereka.

“Kalian pasti keluarga Wilson”, tanya orang itu dengan ramah. “Yes, alright. Apa kau utusan dari keluarga Hwang?”, tanya Dadynya. “Ne tuan. Mari ikut saya. Mobilnya ada di sebelah sana”, kata orang tersebut. “Okay”, jawab mereka serempak.

Mereka mengikuti orang tersebut menuju mobil. Sampai ditempat mobil tersebut, orang itu membantu memasukkan barang-barang mereka ke bagasi mobil. Mereka segera naik mobil. Dan mereka segera pergi dari bandara tersebut.

§§§

Mobil Lexus hitam itu berhenti tepat di halaman keluarga Hwang. Supirnyapun segera turun yang diikuti oleh orang-orang yang ada di dalam mobil itu. Lalu supirnya mengeluarkan barang-barang yang ada di bagasi mobil dan mengantar mereka ke dalam rumah.

Di rumah keluarga Hwang tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan putrinya. Banyak orang sedang lalu lalang menata dan menghias setiap perabot yang ada di rumah itu. Sudah hampir separo dekorasinya selesai. Ketiga orang yang turun dari dari mobil segera masuk ke rumah keluarga Hwang itu.

Di dalam rumah itu terdapat meja-meja untuk tempat makanan dan minuman. Alat-alat makanan sudah ditata rapi di meja-meja itu. Sebagian sudah terisi makanan-makanan. Dan sebagian lagi sudah terisi minuman-minuman. Keluarga Wilson segera mencari keluarga Hwang. Setelah bertemu mereka saling manyapa.

“Hello eomma”, kata anak yeoja keluarga Wilson. Orang yang dipanggil eomma tersebut langsung menoleh. “Yenni, kau sudah datang”, katanya lalu mencium pipi kanan dan kiri Yenni. “Yes, eomma”, kata Yenni sambil tersenyum. “Bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu”, kata nyonya Hwang. “I’m fine, eomma. I miss you too”, kata Yenni. “Kau sendirian?”, tanya nyonya Hwang. “No no. I with my parents”, Yenni lalu memanggil kedua orang tuanya. “Mom, Dad, come here. This is Mrs Hwang”.

Kedua orang tua Yenni lalu mendekat. “Kalian juga ikut. Hallo, apa kabar”, sapa nyonya Hwang. Dia juga mencium pipi kanan dan kiri Mrs Wilson dan bersalaman dengan Mr Wilson. Mr Wison menjawab pertanyaan nyonya Hwang. “We are fine. Em… where Mr Hwang?”. “Oh, sebentar saya panggilkan. Appa, kemarilah. Ada Mr dan Mrs Wilson”, kata nyonya Hwang.

Dari arah lain terdengar suara tuan Hwang. “Ne eomma, ada apa?”, jawabnya sambil berjalan mendekati mereka. “Ada Mr dan Mrs Wilson”, kata nyonya Hwang. “Oh, kalian sudah datang?”, kata tuan Hwang lalu memeluk Mr Wilson dan berjabat tangan dengan Mrs Wilson. “Hello Appa! Remember me?”, kata Yenni. “Kau! Kau pasti Yenni?”, kata tuan Hwang. “Yes, alright”, kata Yenni sambil tersenyum. Tuan Hwang lalu memeluk Yenni. “Bagaimana kabarmu nak?”, tanya tuan Hwang. “I’m fine Appa, how about you?”, kata Yenni. “I’m fine too”, kata tuan Hwang, Yenni lalu tersenyum mendengar perkataan tuan Hwang.

“Oh ya, kalian beristirahatlah dulu. Kalian pasti lelah. Eomma, tolong tunjukan kamar mereka”, kata tuan Hwang. “Ne Appa. Ayo sayang”, kata nyonya Hwang sambil menggandeng tangan Yenni. Mereka berempat lalu menuju kamar yang dimaksudkan. Belum sampai di kamarnya Yenni teringat sesuatu, “Oh, I’m forget”, kata Yenni, “Where are Reni now, Eomma?”. “Reni ada di kamar atas kau mau menemuinya?”, tanya nyonya Hwang. “Yes, Emma. I hope she not forget me. I will meet she, Mom”, kata Yenni. “Yes, be careful, darling”, kata Mrs Wilson. “Yes, sure, Mom”, kata Yenni.

Yenni segera pergi ke kamar Reni. Dia menaiki anak tangga demi anak tangga. Tangganya sudah dihias dengan bunga dan berbagai hiasan lainnya. Dia sudah sampai di depan kamar Reni. Dia segera mengetuk pintu kamar itu. Namun tidak ada jawaban. Segera saja dia membuka knop pintu itu, ternyata tidak dikunci, dengan segera dia masuk kamar itu.

Dia melihat kesana-kemari dimana sosok Reni, namun dia tidak menemukannya. Dia mencari di kamar mandi juga tidak ada. Dia mendengar seseorang berbicara, dia segera mencari asal suara itu. Akhirnya dia menemukan Reni di balkon kamarnya. Yeoja itu sedang menelfon seseorang. Tapi Yenni rasa sudah selesai, karena Reni telah menutup telfonnya. Segera saja Yenni mengagetkannya.

“Door”, kata Yenni. Mendengar hal itu Reni kaget. “Aw…”, teriak Reni, dia segera menoleh kepada orang yang telah mengagetkannya. “Oh, kau! Kau Yenni kan?”, tanya Reni. “Yes, sure”, kata Yenni. Reni lalu memeluk Yenni dengan erat dan hal itu membuat Yenni susah bernafas. “Hei..hei. I can not breathe. You want kill me?”, kata Yenni. Reni lalu melepaskan pelukannya, “Mianhae, aku tidak sengaja”. Yenni lalu menarik nafas panjang, “O.K, O.K. No problem”.

“Kapan kau sampai?”, tanya Reni.

“A moment ago”, kata Yenni.

“Kau langsung dari New York?”.

“Yes, Miss. Haha…”.

“Kemarilah, kita duduk di dalam saja”, Reni mengajak Yenni duduk di atas ranjangnya. “Bagaimana kabarmu?”, tanya Reni.

“I’m fine, how about you?”.

“I’m fine too. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Oh ya, apa kau sendirian?”.

“No. I come with my parents”.

“Jinja!”.

“Yes. You know, I not believe if you will marry”.

“Aku juga tidak percaya kalau aku akan menikah”.

“Really! Then, why you will marry?”.

“Entahlah, semuanya terjadi secara tiba-tiba”.

“Are you don’t love your prospective husband?”.

“Bukan, bukan karena itu. Tentu aku mencintainya”.

“It’s means, you’re ready for married, Miss”.

Reni malah tersenyum mendengar ucapan Yenni.

“Why! Anything funny?”.

“Aniyo. Tidak ada yang lucu kok”.

“Why are you laugh?”.

“Bukan apa-apa. Aku hanya tertawa mendengar nada bicaramu”.

“Ah, enough. I’m tired. I wanna go to my bedroom. Do you wanna join?”.

“Tidak perlu. Aku mau bersiap-siap”.

“O.K. congratulation, Miss. Get ready fast, understand. Good bye”.

Yenni segera keluar dari kamar itu. Dia menuruni anak tangga demi anak tangga. Dia juga memperhatikan sekelilingnya. Dekorasinya sungguh bagus. Saat sampai di lantai bawah, orang-orang yang mendekorasi rumah itu sudah sepi. Tinggal orang-orang yang menyiapkan makanan dan minuman. Dia segera menemui nyonya Hwang.

“Apa kau sudah bertemu Reni?”.

“Yes, she is not changed, Eomma. She is the same as before”.

“Ne, begitulah kakakmu. Ya sudah, kau harus ganti baju. Sebentar lagi acaranya dimulai. Tamu-tamu eomma juga akan segera datang”.

“Yes, Eomma”.

Yenni segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia segera membuka koper miliknya dan mengambil baju yang sudah disiapkannya. Dia memakai minidress selutut warna biru laut, dengan lengan pendek. Dia membiarkan rambut panjangnya terurai. Setelah dirasa siap Yenni segera keluar dari kamarnya.

Dia melihat kesana-kemari, setelah menemukan orang yang dicarinya dia segera menemuinya. “Mom”, sapanya pada orang yang dicari tadi. Dan orang itu segera menoleh, “Hello darling. Oh, you are very beautiful”, pipi Yenni merona mendengar hal itu. “Really Mom!”, jawabnya sambil malu-malu. “Yes, sure darling”, kata mothernya. “Thank you, Mom”. Yenni tak sengaja melihat ke arah lain dan dia melihat piano. “Kenapa sayang, kau mau bernyanyi?”, tanya mamanya. Yenni malah tersenyum, “Kenapa hanya tersenyum, kalau kau ingin bernyanyi bernyanyilah”, kata eommamya. “Yes, eomma. I will sing”, Yenni segera menuju tempat piano itu. Dia duduk di depan piano itu. Dengan lihainya Yenni memetik not demi not piano itu, lalu dia bernyanyi dalam bahasa inggris.

There’s nothing I could say to you

Nothing I could ever do to make you see

What you mean to me

All the pain the tears I cried

Still you never say goodbye

And now I know how far you’d go

I know I let you down

But it’s not like that now

This time I’ll never let you go

I will be all that you want

And get myself together

Cause you keep me from falling apart

All my life I’ll be with you forever

To get you through the day

And make everything okay

I thought that I had everything

I didn’t know why life could bring

But now I see honestly

You’re the one thing I got right

The only one I let inside

Now I can breathe, cause you’re here with me

And if I let you down

I’ll turn it all around

Cause I would never let you go

I will be all that you want

And get myself together

Cause you keep me from falling apart

All my life I’ll be with you forever

To get you through the day

And make everything okay

Cause without you I can’t sleep

I’m not gonna ever ever let you leave

You’re all I’ve got you’re all I want, yeah…

And without you I don’t know what I’d do

I can never ever live a day without you

Here with me do you see

You’re all I need

And I will be all that you want

And get myself together

Cause you keep me from falling apart

All my life I’ll be with you forever

To get you through the day

And make everything okay©

Saat mulai bernyanyi lagu, semua tamu yang sudah hadir menatap ke arahnya. Mereka semua menikmati lagu yang dinyanyikan Yenni. Saat itulah keluarga pengantin pria datang. Mereka segera disambut oleh keluarga Hwang. Mereka dipersilahkan masuk. Saat melihat Yenni bernyanyi pengantin pria diam-diam memperhatikannya. Dia juga menikmati lagu yang dibawakan Yenni. Yenni tidak memperhatikan hal itu, karena dia terlalu asyik bermain piano sambil bernyanyi.

Disisi lain, dari arah samping rumah ada yang berteriak pada Reni. Reni segera melihat ke arah jendela. Melihat seseorang yang dia kenal, dia segera melemparkan tali ke luar jendela. Dengan hati-hati dia turun dari jendela kamarnya dengan tali itu. Orang yang tadi berteriak pada Reni segera menangkap tubuh Reni.

“Luhan, gomawo”, kata Reni pada orang itu. “Kajja, kita harus cepat”, kata orang itu. “Ne”, jawab Reni. Setelah memastikan keadaan mereka aman, mereka segera meninggalkan rumah itu dan pergi entah kemana.

Di dalam rumah itu, sudah penuh oleh tamu-tamu undangan, karena sebentar lagi acara akan dimulai. Yenni juga sudah selesai dengan lagunya. Suara tepuk tangan terdengar setelahnya. Yenni mengucapkan terima kasih pada mereka semua. Lalu dia segera mendekati mothernya.

“Good voice, darling”.

“Thanks, Mom. But I feel shame, Mom”.

“No problem darling. It’s good”.

“Really”.

“Yes, sure”.

Nyonya Hwang lalu mendekati Yenni.

“Suaramu indah sekali sayang”.

“Thank you, eomma”.

“Oh ya, sayang. Kenalkan ini tuan dan nyonya Pujambi. Mereka adalah calon besanku”.

“Hello Mr and Mrs Pujambi. My name is Yenni, Yenni Nadya Wilson. I’m young sister of Reni”, kata Yenni Baekhyunh.

“Oh, jadi kau saudara perempuan Reni”, kata Mrs Pujambi.

“Yes, alright”.

“Kau mirip sekali dengan Reni, tadi ku kira kau Reni”, kata Mrs Pujambi.

“Really”, kata Yenni sambil tersenyum.

“Baekhyun, kemarilah! Ini Yenni calon adik iparmu”.

Baekhyun lalu menatap Yenni, dia segera mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya pada Yenni, “Annyeong, aku Baekhyun”. Yenni membalas uluran tangan Baekhyun, “ I am Yenni. Nice to meet you Mr Baekhyun”. “Kau mirip sekali dengan Reni”, mendengar itu Yenni hanya tersenyum.

“Oh ya, dimana Reni?”, tanya Baekhyun.

“Dia ada di atas. Kau mau melihatnya?”, tanya nyonya Hwang. Baekhyun menjawabnya dengan anggukan.

“Yenni, kau bisa mengantarnya”, tambah nyonya Hwang.

“Sure, Eomma. Come on Mr Baekhyun”, kata Yenni.

Mereka berdua pergi ke kamar Reni. Sepanjang perjalanan menuju kamar Reni mereka mengobrol kecil untuk menghilangkan kecanggungan.

“Jadi kau saengnya yang ada di New York itu?”, tanya Baekhyun memulai pembicaraan.

“Yes, Sure”, jawab Yenni singkat.

“Kapan kau datang?”.

“At 16 o’clock”.

“Oh”.

Setelah sampai di depan kamar Reni, Yenni segera mengetuk pintu kamar Reni. Namun nihil, tidak ada jawaban. Segera saja dia membuka pintu kamar itu, karena memang tidak di kunci. Mereka segera masuk ke dalam kamar itu. Saat masuk ke kamar itu, hal pertama yang mereka lihat adalah baju pengantin Reni masih tergantung rapi di dekat lemari pakaian. Yenni segera memanggil Reni, “Miss Reni, where are you? You in bathroom?”, Yenni segera menuju kamar mandi, namun Reni juga tidak ada disitu. “Yuhu, Miss Reni”, tetap saja tidak ada jawaban. Yenni segera menuju balkon kamar Reni, disitu juga tidak ada Reni.

Yenni melihat tali yang diikat pada pagar balkon kamar itu, dan tali itu sampai ke tanah. Segera saja dia memanggil Baekhyun. “Mr Baekhyun, come here. You must see it?”. Baekhyun segera menemui Yenni, “Mworago?”. Yenni menunjukkan tali itu, “I think she’s gone somewhere”. Baekhyun mengambil nafas panjang, “Aku akan menghubunginya”. Baekhyun segera menelfon Reni, namun tidak ada jawaban. Berkali-kali dia menelfon namun tidak ada jawaban.

 

>>>TBC<<<

© Lagunya Avril Lavigne yang berjudul “I Will Be”

5 thoughts on “The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 1)

  1. Ceritanya bagus.. tapi sayang, bahasa inggrisnya amburadul.. diperhatikan lagi ya grammar-nya..
    Kyk yang “I hope she not forget me. I will met she, mom” seharusnya “I hope she won’t forget me. I will met her, Mom.”
    Terus kata “marry” lebih cocok ke ” Get married”
    Tapi secara keseluruhan bagus.. (y)

  2. Ah menarik ternyata Reni tak mencintai Baekhyun dan ia malah kabur bersama Luhan. Apakah kekasihnya?? So Baekhyun Will be Married With Yenny. Because accident Reny’s gone.. god.. sungguh menarik bagaimana nantinya ya gak sabar mau tau kelanjutannya .next chapternya ya

  3. bikin penasaran kenapa reni kabur mana sama luhan lagi.aku baru baca chapter ini. aku reader baru salam kenal dan ijin baca….next chapter….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s