Overcast

 

Overcast

 

Do Kyungsoo | OC

General | Slice of Life | Tragedy

A ficlet fanfiction by UQ (Sashnikxo)

 

 

 

Bukankah ini adalah cuaca yang sangat indah untuk saling bersua?

 

***

 

 

Pukul 12 siang

Gadis itu menulis dengan serius, pandangannya sepenuhnya terpusat pada buku tulis tebal di mejanya.  Sesekali ia mengulum bibir bawahnya kala ia kehabisan kata-kata untuk ditulis di atas lembaran kertas. Dahinya berkerut, rambut panjangnya jatuh menutupi pelipisnya seiring dengan pergerakan kepalanya.

 

‘Kenapa semua hal yang kaulakukan selalu memikatku?’ Gumam laki-laki yang duduk berseberangan dengan gadis itu.

 

Untuk beberapa saat, sang gadis meletakkan penanya, meregangkan kedua tangannya selebar mungkin.  Kyungsoo mengawasi gadis itu.  Dan hatinya tercabik begitu ia melihat sang gadis mencuri pandang ke arah seseorang yang tengah tertidur di bangkunya.

 

Kim Jongin. Sahabat sekaligus mantan pacar pujaan hati Kyungsoo.  Tidak, dia bukan lagi sahabatku, pikir Kyungsoo.  Jongin menghancurkan semuanya.  Janji antara mereka berdua yang tidak akan menyukai perempuan yang sama.

 

Apa dia masih memiliki perasaan untuk Jongin walaupun sudah putus? Kyungsoo hanya bisa bertanya dalam hati.  Ia sendiri tidak tahu apa yang tengah ditulis gadis itu.  Tapi satu yang Kyungsoo tahu pasti; Kim Jongin adalah sumber inspirasi gadis itu menulis.

 

‘Hari ini. Akan aku lakukan.’ Gumam Kyungsoo.

 

Pukul 5 sore

 

Kyungsoo mengetuk-ngetukkan kukunya di dinding.  Punggunya ia sandarkan ke dinding, matanya sibuk menerawang langit yang berangsur-angsur gelap setiap menit.  Pikirannya melayang entah kemana.  Tujuannya hanya satu.  Ia rela terlambat pulang sekolah demi gadis itu.

 

Suara langkah kaki menyadarkannya dari lamunan.  Senyum lebar terulas di wajahnya.  Dia datang, Kyungsoo berkata kepada dirinya sendiri.  Hatinya meletup, bahagia.

Gadis itu berjalan mendekat.  Ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak.  Entah apa yang ada di pikirannya.  Tetapi Kyungsoo mencoba berpikir optimis.

 

“Em…. cuacanya indah ya?”

Kyungsoo tahu itu adalah pertanyaan bodoh untuk mengawali sebuah pembicaraan.  Sedetik setelah berbicara ingin rasanya ia membenturkan kepala ke tembok karena telah melontarkan sapaan yang ‘murahan’.

 

Gadis itu terkekeh.  Kyungsoo dapat merasakan jantungnya berdebar.  Dia tersenyum karenaku.

 

“Ya… sangat indah.  Aku suka cuaca mendung seperti ini,”

Kamu menyukai musim salju, aku tahu itu, Kyungsoo tersenyum.  Tapi terima kasih atas usahamu untuk tidak mengecewakanku.

 

“Aku… sudah membaca bukumu,” kata gadis itu.  Ya, Kyungsoo sadar ia tidak pandai menyampaikan perasaan dengan perkataan.  Ia rela menulis sebanyak mungkin.  Dan hari ini, pada jam istirahat, diselipkannya buku itu ke dalam tasnya.  Berhasil, Kyungsoo sudah bisa merasakan euforia kemenangan di dalam dirinya.

 

“Tapi… aku tidak bisa,”

 

Perkataan itu menyambar diri Kyungsoo bak petir.  Seluruh syaraf tubuhnya terkejut.  Dadanya berdegup sakit.

 

“Ke… kenapa?” Bahkan lidahnya terasa kelu untuk sekedar berbicara.

 

“Putus dengan Jongin memang benar.  Tapi aku masih mencintainya….”

 

Seluruh dunia serasa berhenti berputar.  Laki-laki ini menggertakkan giginya dan menngepalkan tangannya dalam amarah.  Kenapa aku harus selalu kalah darimu, Kim Jongin?!

 

“Tapi aku mau menjadi sahabatmu.  Terima kasih karena sudah memperhatikanku selama ini,” gadis itu tersenyum manis.  Ada sepercik rasa malu, sedih, dan penyesalan dalam nadanya.  Kyungsoo tertegun.

 

“Sungguh… mau menjadi sahabatku?”  Kyungsoo seakan mendapat nafas hidup.  Pikirannya cerah, sebuah harapan menyembul cepat dari dalam hatinya.

 

 

“Ya, sahabat selamanya.” Jawab gadis itu.  Dan kini Kyungsoo yakin.

 

“Boleh aku memelukmu? Sebagai sahabat?” Tanya Kyungsoo.  Gadis yang sangat dicintainya itu mengangguk.  Kyungsoo melangkahkan kakinya dan merengkuh tubuh mungil gadis itu, memeluknya erat seakan ia dapat hilang sewaktu-waktu.  Oh, aromanya.  Lembut rambutnya di antara sela-sela jariku.  Oh, sayangku.

 

“Selamanya, ya kan?” Tanya Kyungsoo.  Yang dipeluk balas mengelus punggung Kyungsoo.

 

“Ya, selamanya.”

 

***

 

Surat Kabar Harian

 

Ditemukan dua mayat di belakang gymnasium sebuah sekolah ternama.  Korban adalab seorang perempuan dan seorang laki-laki, yang masih mengenakan seragam sekolah.  Ditemukan pisau tergeletak di dekat kedua tubuh.  Ditemukan sidik jari sang laki-laki di pisau tersebut; reka kejadian adalah penusukan yang dilakukan oleh sang laki-laki kepada sang perempuan, yang dilanjutkan dengan aksi bunuh diri sang laki-laki.  Keduanya mati akibat pendarahan dari tusukan langsung di jantung.  Polisi masih menyelidiki kasus ini lebih lanjut.

 

 

TAMAT.

 

Terima kasih sudah membaca ficlet ini!  Saya tunggu kritik dan sarannya.  Silahkan yang ingin ngobrol sama saya, bisa lewat blog pribadi atau di blog fanfiction atau lewat twitter.

 

Sampai jumpa di tulisan saya yang lain!

xoxo

 

UQ(sashnikxo)

One thought on “Overcast

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s