PAINFUL (ONESHOT)

Picture3

FF Painful [ONESHOT] -Kim Jongin (KAI) EXO-

 

Author

@elvinahasna21 (IG)

@elvina_ellviina (twitter)

Main Cast

Kim Jong In a.k.a Kai

Park Haera

Genre

Angst, PG-15, Romance, School Life

Length

Oneshot

Dipost juga di : https://elvinafanfiction.wordpress.com/2016/02/09/painful/

Annyeong Readers! Btw ini my first post, so i’m so exciting! saya mengharapkan apresiasi dari para pembaca :) Semoga suka karena cast dari ff ini adalah KIM JONGIN!!! Omaigat siapa yang gak kenal dia para penggila kpop..

NO PLAGIAT!!! Cerita ini ‘pure’ hasil pemikiran otak saya yang mulai setres karena sekarang sudah kelas 12 SMA dan sebentar lagi Ujian Nasional :(Do’akan saya bisa masuk Pendidikan Dokter dan cepet-cepet bisa nulis lagi. ah banyak bacit wkwk, langsung aja, cekidot :D Jangan lupa like,comment nyaaa :D

——————————

[Author Pov]

Menunggu merupakan hal tersulit di dunia ini, manusiawi memang. Dan menunggu cukup melelahkan, terutama untuk urusan hati. Namja itu muncul kembali, menunjukkan batang hidungnya setelah hampir empat tahun menghilang tanpa kabar. Pandangannya berbeda, seolah tak mengenal yeoja yang ia jumpai di koridor di hari pertmanya sekolah di Great Academy High School, seolah mengoyak kembali luka lamayeoja itu, seperti tertimpa jutaan beton dan tertusuk jutaan duri. Sakit, tentu saja sakit. Siapa yang tidak sakit setelah penantiannya sia-sia, segala waktu yang digunakan untuk memikirkan laki-laki itu sangat terbuang percuma. Mungkin konyol, tetapi perempuan itu malah berusaha untuk membuka hati laki-laki itu, agar mengingatnya. Mungkin ia amnesia, atau mungkin pura-pura amnesia. Entahlah, tetapi perempuan itu selalu berfikir untuk mengganti kata “percuma” menjadi “berhasil” karena empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk seseorang yang menunggu.

Namun, apakah “percuma” itu bisa dijadikan “berhasil”? ketika yang dinanti itu datang dan kemudian pergi lagi? Lalu untuk apa namja itu menunjukkan batang hidungnya, memberi harapan besar kepada hati perempuan itu untuk memperjuangkan penantiannya, hatinya, pikirannya. Datang untuk mengucapkan kata perpisahan kah? Atau menggoreskan luka yang semakin dalam, lagi..?

 

****

Sinar matahari masuk dan menyeruak ke dalam kamar seorang gadis yang sedang ber-mimpi, mungkin mimpi indah, dan sinar itu jelas mengganggunya. Ia mengerjapkan mata dan sedikit meregangkan tubuhnya. Ia bangun perlahan dan dilihatnya benda kesayangannya itu, sebuah telpon genggam yang tak pernah lepas dari genggamannya.

“Oh gawat, setengah jam lagi gerbang akan ditutup. Sial!”

Ya, dia Park Haera. Gadis manis yang hatinya manis seperti wajahnya, dengan rambut panjang bergelombang dan terurai yang berwarna cokelat tua dan tanpa poni menambah kesan anggun dan cantik gadis berkulit putih susu ini. Ia tipe gadis yang senang berlama-lama di kamar mandi, merendam diri, bernyanyi atau pun perawatan kulit. Namun, dalam kodisi seperti ini, tentu ia akan mandi dengan kecepatan kilat, semuanya ia rapihkan dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, dan dia pun siap berangkat ke sekolah. Kecepatannya ini bisa saja tercatat ke dalam Guiness World Records, untuk mandi saja ia hanya menghabiskan kurang dari tiga menit, hal yang mustahil untuk seorang perempuan manis sepertinya.

Haera sudah sampai di sekolah dengan selamat, lima menit saja dia terlambat, ia bisa saja tidak akan sekolah hari ini. Dia bersekolah di Great Academy High School, sekolah ternama dengan nilai akademis tertinggi di Negara ini. Segera saja ia berlari menuju kelas yang berjurusan Ipa itu, ia tak akan mau terlambat di hari pertamanya sekolah di kelas sebelas ini, dan tentu saja perkenalan dengan wali kelas barunya, Lee sonsaengnim yang terkenal galak dan menghukum siapa saja dengan kesalahan sekecil apapun itu. Ia melihat bangku itu kosong, di depan dan dekat dengan meja guru. Ia pun duduk dan kelas pun dimulai.

————————

Bel pun berbunyi dan menandakan bahwa para siswa dipersilahkan untuk beristirahat selama empat puluh lima menit. Park Haera ingin ke perpustakaan, tentu saja untuk tidur sejenak atau sekedar membaca beberapa halaman dari novel-novel yang ada di sana.

“Ka….Kai…Kai oppa?”

Mata Haera terbelalak kaget, Ia merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat, semakin cepat hingga rasanya ingin loncat saja jantung itu dari singgasananya. Ia merasakan kaki dan tangannya bergetar, tumpukan buku-buku yang ada di tangannya nyaris jatuh dan rasanya tangan itu tak mampu lagi menopang buku-buku yang dirasanya lebih berat dari sebelumnya.

“Apa, aku salah lihat? Ah tidak mungkin!”

Deg….

Sungguh, matanya tidak salah lihat. Laki-laki itu mendekat, Haera semakin mudah mengenali wajahnya. Matanya masih normal, ia pun merekam dengan jelas wajah namja itu. Laki-laki yang hampir empat tahun menghilang, dan sekarang berada tepat di hadapannya.

“Kai Oppa? Jongin Oppa?”

“Ne..?” Jawab laki-laki itu, suaranya masih sama. Suara berat yang mampu melelehkan hati siapa saja yang mendengarnya.

“Kau , sejak kapan kau bersekolah di sini? Apa yang terjadi? Ke..kenapa baru muncul sekarang? Kemana saja? Apa kau baik-baik saja o..oppa? Selama empat tahun ini….” Mata Haera mulai berkaca-kaca, Ia melontarkan begitu banyak pertanyaan, pertanyaan yang selalu menghantuinya selama ini, Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya, Ingin Ia berhambur ke pelukan namja itu, matanya tak tahan menampung tetesan air itu dan air matanya sukses mengalir dan membasahi pipinya.

“Kau siapa? Kita pernah saling mengenalkah sebelumnya?” Deg.. Serasa di tampar dan tertusuk duri, serasa dirobek hatinya hingga hancur tak berbentuk. Segitu sakitnya kah? Ini bahkan teramat menyesakkan, kata kata yang baru saja dilontarkan laki-laki itu sunggu membuatnya ingin mati di tempat. Ia mengurungkan niatnya untuk memeluk namja itu, kakinya terasa kaku, terasa mati rasa hingga ia ingin jatuh dan menangis sekencang-kencangnya. Inikah namja yang dinantinya selama empat tahun terakhir?

“A..aku.. aku Haera, Park Haera, teman kecilmu oppa. Apa oppa sungguh tidak mengingatnya? Kita sudah hampir dua belas tahun bersahabat oppa..” Bahkan dia adalah cinta pertama yeoja ini, yang membuat dirinya selalu meleleh ketika berhadapan dengan namja itu.

“Aniyo, kurasa kau salah orang nona, maaf aku sedang buru-buru ke ruang guru. Karena aku baru pindah hari ini. Sampai jumpa.” Kai melontarkan senyum ramah, entah senyum terpaksa atau senyum pilu.

Park Haera mengurungkan niatnya untuk pergi kembali ke kelas, ia berlari sekencang mungkin ke atap sekolah. Tentu saja untuk menangis, menangis sekencang-kencangnya dan sepuas-puasnya. Perempuan mana yang tidak merasa sakit? Perempuan itu memiliki perasaan yang sangat kuat dan perasaan Haera kini sedang hancur berkeping-keping.

Bel pun berbunyi, segera ia menghapus air matanya. Ia melihat dirinya di layar handphone nya, matanya bengkak dan sembap. Ia tak mungkin ke kelas dengan keadaan seperti itu, Ia lebih memilih untuk ke UKS disbanding membuat orang sekelas heran dengan keadaan yang mengenaskan itu.

Baru saja Ia membaringkan tubuhnya, seseorang pun masuk dan sontak hal tersebut membangunkannya kembali.

“Kau sakit apa?” Tanya namja itu.

“Ah.. tidak, aku hanya sedang tidak enak badan dan badanku terasa lemas.”

“Mau ku buatkan teh manis hangat? Mungkin itu bisa membuatmu menjadi lebih baik.”

“Ah, ne.. Gomawo”

Laki-laki itu tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang rapih, senyumnya masih sama. Sangat manis seperti dulu, sifatnya pun sama. Setiap Haera sakit pasti Kai akan sangat perhatian dan menunggunya hingga sembuh. Otak Haera memutar seluruh memorinya dan kejadian-kejadian itu membuatnya tersenyum dan bahagia, namun saat kejadian di koridor dekat perpustakaan tadi itu membuat hatinya sakit lagi. Matanya berkaca-kaca lagi, namun Ia menahannya, segera menghapus buliran air mata yang dengan tidak sopan jatuh di pipinya tanpa izin dari pemiliknya.

“Ini tehnya, semoga kau cepat sembuh. Aku akan kembali ke kelas.”

“Terimakasih banyak, tapi.. tunggu! Untuk apa kau ke sini lalu segera ke kelas?” Haera penasaran, apa Kai tidak ingin bertemu dengannya? atau sebenarnya Ia sakit tetapi tidak ingin bersamanya di UKS ini?

“Aku hanya mengambil obatku yang tertinggal tadi pagi.”

“Kau sakit apa?”

“Tidak, ini hanya vitamin biasa. Oh iya, matamu sembap? Siapa yang berani menangisimu?”

“Ah, mianhae, tidak seharusnya aku bertanya seperti itu. Sampai jumpa..” Kai sempat berhenti sejenak dengan kata katanya yang pertama, tapi Kai tidak begitu mempedulikannya. Lalu Kai segera meninggalkan ruangan itu.

Haera tau, itu dia. namja yang ia nantikan. Sikapnya yang cuek, tatapan yang datar, suara yang berat, senyum yang mempesona dan juga perhatiannya yang membuat siapa saja akan meleleh. Apakah ia amnesia? Pikirnya dalam hati. Tapi mengapa bisa? Apa yang terjadi? Tidak sedikitpun dalam memorinya ada dirinya kah?

****

Kai memasuki kelasnya, tadinya Ia berniat untuk tidur di UKS karena kepalanya mulai pusing lagi. Namun gadis itu ada di sana, tidak mungkin seorang laki-laki dan seorang perempuan ada di dalam ruangan yang sama hanya berdua kan? Ah itu adalah alasan ke sejuta dari berjuta alasan, Ia merutuki dirinya sendiri. Kai bukan tidak mau seorang namja dan yeoja satu ruangan, permasalahannya, yeoja itu adalah Haera, Park Haera.. Dia lah yang mengisi 99% memori otak seorang Kim Jongin. Ah, tidak, bahkan 100% isi memorinya adalah Haera.

“Kenapa kita bisa bertemu lagi? Kenapa kau masih mengingatku? Kenapa aku melihat air mata lagi di pipimu? Sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu Park Haera, aku tidak ingin kau dan aku dekat lagi. Tapi hati ini menyuruhku untuk memulai lagi denganmu dari awal, seperti dulu. Jantung ini pun masih berdetak begitu cepat saat bertemu denganmu, seperti dulu Park Haera..” Kai berbisik dalam hatinya, sakit rasanya melihat perempuan itu menangis di hadapannya. Tapi Kai memiliki alasan, Kai tidak mungkin sejahat itu. Dia memiliki rahasia yang tak mungkin ada yang tahu. Biarlah Ia yang memendam rahasia ini, toh setiap manusia pasti memiliki rahasia.

Kai tidak fokus dengan pelajaran di hari pertamanya ini, semenjak Ia melihat perempuan itu. Hatinya kacau, pikirannya pergi entah kemana. Tapi tak lama kemudian bel yang menandakan pelajaran di hari ini selesai pun berdering. Ia bergegas merapihkan semua barangnya dan segera menuju mobilnya, Ia ingin pulang. Tidak ingin bertemu dengan Haera, itu akan membuat Haera semakin sakit jika melihatnya.

Namun rencananya gagal total, ia melihat Haera berjalan gontai di trotoar dekat sekolah, di satu sisiKai ingin tidak mempedulikannya saja tetapi di sisi lain 99,99% hatinya ingin segera turun dari mobil dan memarahi yroja itu karena pulang berjalan kaki dengan gontai dan ia baru saja sakit. Oh Tuhan, Park Haera!

Apa perempuan itu gila? Bagaimana jika dia pingsan? Kai segera meminggirkan mobilnya, menepis pikiran 0,01% yang tadi untuk mengacuhkannya saja. Dia bisa menjadi tidak waras jika hal buruk menimpa Haera.

“Kau.. yeoja yang tadi di UKS kan? Mengapa kau berjalan kaki? Bukankah seharusnya kau naik Bis atau Taksi atau dijemput oleh supirmu?”
Kai mengatur deru nafasnya, ia berusaha sebaik mungkin untuk bersikap datar.

“A..aku.. anu, tadi itu supirku menelpon bahwa ban mobilnya bocor. Aku menunggu taksi tapi tidak juga datang dan aku berfikir untuk berjalan kaki sambil menunggu taksi yang lewat.”
Haera sungguh gugup, bagaimana tidak? Laki-laki itu tepat berada di depannya, rasanya ingin pingsan. Jantungnya berdetak dengan cepat, sangat cepat.

“Naiklah ke mobilku, aku akan mengantarmu pulang.”
Bodoh Kai, apa dia sanggup berlama-lama dengan yeoja itu. Bagaimana jika pertahanannya runtuh dan segera memeluk yeoja itu nanti, bagaimana jika detak jantungnya menjadi cepat, sangat cepat dan keras sehingga yeoja itu bisa mendengarnya nanti.

“Tapi… itu akan merepotkanmu, Kai-ssi.”
Hatinya tercekat karena harus memanggil Kai dengan embel-embel -ssi bukan Oppa yang ia inginkan.

“Siapa bilang? Akan lebih repot ketika kau pingsan dan orang-orang akan kebingungan mengangkat tubuhmu yang berat itu.” Jongin sempat kaget mendengan panggilan sopan dari Haera, hatinya sakit mendengarnya, bukan panggilan itu yang ia ingin dengar, bukan!

“Ah, apa? Pingsan? Ah, iya aku baru ingat kalau aku sedang sakit, hehe..” Jantungnya semakin berdetak cepat, rasanya ia sembuh kembali.

“Oh iya, Park Haera imnida. Kita belum berkenalan secara resmi dan aku benar benar meminta maaf karena mengira kau adalah seseorang yang pernah kukenal dulu, tetapi kurasa aku salah orang, pikiranku sedang kacau akhir-akhir ini.” Haera tersenyum miris, kata kata itu terlontar begitu saja dari bibirnya.

Hati Kai bergetar, mengapa rasanya sangat sakit? Ingin rasanya ia menarik Haera ke pelukannya lalu meneriaki bahwa ini adalah Kai, Kim Jongin yang selalu bersamanya setiap hari, membangunkannya setiap Haera bangun kesiangan, berangkat ke sekolah bersama, menjahili Haera hingga nangis dan mengadu pada ibunya, menaruh cacing dalam sepatu Haera hingga Haera nangis dan meminta sepatu baru dan memaksa Kai untuk membelikannya, Kim Jongin yang selalu ada ketika Haera membuka korden kamarnya dan melihat Jongin di seberang kamarnya melambaikan tangan dan tersenyum setiap harinya.

Haera pun masuk ke dalam mobil, Kai tersadar dari pikiran gilanya, Ia langsung tancap gas dan mobil itu segera melaju dengan cepat. Suasana di dalam mobil pun semakin dingin. Tak ada yang berbicara atau bahkan memulai pembicaraan. Kai menyalakan musik untuk menyamarkan suara detak jantungnya, sesekali melirik ke arah Haera dan melihat Haera yang menyembunyikan senyumnya, tentu saja Haera senang. Setidaknya Ia bisa berada dekat dengan namja ini lagi. Sedikit sakit mengingat apa yang telah ia katakan, ia yakin bahwa ini adalah Kai, Kim Jongin yang selalu bersamanya, namun muncul berbagai keraguan dengan beribu kemungkinan, mungkin saja namja di sebelahnya ini operasi plastik, lalu namanya kebetulan sama.

Park Haera ingin mencari tissue, saat ia ingin mengambilnya tissue itu terjatuh. Kemudian diambillah tissue itu, namun sesuatu jatuh dari kotak tissue itu. Itu foto lima tahun yang lalu, saat merek liburan di gunung dan camping bersama keluarga mereka. Ia ingat, betapa bahagianya saat itu. Saat tawa, tangis menjadi satu.

DEG!

Kemungkinan-kemungkinan tadi hilang begitu saja di kepalanya, ini tidak salah lagi. Ini benar Kai, 100% Kim Jogin, bukan orang yang operasi plastik ataupun kebetulan sama namanya, ini benar dia..

Tunggu dulu, berarti seharusnya Kai mengingat dia, ini foto bersamanya. Namun ia urungkan niatnya untuk menunjukkan foto itu, tapi kenapa Kai masih menyimpannya? Apa Kai benar-benar amnesia?

****

 

Ini sudah enam bulan semenjak Ia bertemu Kai, Kai masih menunjukkan sikap yang sama. Mereka mulai dekat lagi, rasanya semua seperti dulu. Makan Ice Cream bersama, menonton film bersama. Tetapi Kai masih saja tidak mengenalnya. Separah itukah amnesianya?

“Kenapa melamun?”

“Ah tidak..” Gadis itu berbohong, tentu saja Ia melamun, memikirkan masalah yang belum juga terpecahkan.

“Apa kau mau ikut, ke taman bermain setelah pulang sekolah?” Laki-laki itu tersenyum, siapa yang tidak mau diajak “berkencan”? Walaupun sebenarnya mereka pergi ber-sepuluh.

“Tentu aku mau.” Gadis itu menunjukkan senyuman terbaiknya, Ia kelewat senang.

Sekolah pun usai, mereka bergegas untuk ke tempat tujuan mereka, yaitu taman bermain. Sudah lama Haera tidak mengunjungi Amusement Park semenjak laki-laki itu menghilang. Ia tahu bahwa Kai menyukai ketinggian, semua permainan pasti Ia coba begitupun dengan Haera.

Setelah asik bermain, mereka pun istirahat sejenak. Rasanya melelahkan berteriak histeris saking asyiknya dengan berbagai wahana permainan yang menakjubkan di sini. Haera memperhatikan Kai, wajah tampannya itu membuat Haera tak berhenti memandangnya. Namun ada raut berbeda di sana, tiba-tiba Kai pergi menjauh. Haera pun mengejarnya.

“Kai o..oppaa, oppa tidak apa-apa?” Haera sangat cemas, sangat amat cemas.

“Tidak, aku sangat sehat kok. Tiba-tiba saja kepalaku pusing. Mungkin karena kecapekan. Kembalilah bersama teman-temanmu, aku ingin menenangkan pikiranku sejenak.”

“Ah iya, berhati-hatilah Oppa, jika masih sakit sebaiknya kita pulang.” Baru saja Ia membalikan badannya, Ia mendengar suara seseorang terjatuh.

“OPPPPPAAAA!!!!!” Haera panik, sangat panik. Ia menangis sejadi-jadinya. Darah itu terus mengalir dari hidung Kai yang terkulai lemas tak sadarkan diri di tempat Ia berdiri tadi.

“Haejin-ah, Kyungsoo-ya, Raina-ya, semuanya tolooong..” Haera langsung berlari ke arah teman-temannya. Memberi tahu bahwa Kai pingsan.

Mereka langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Setelah Kai ditangani tim medis. Mereka pulang ke rumah masing-masing, kecuali Haera.

“Haera, kau tidak pulang? Istirahatlah, dan semoga Kai Sunbae lekas sembuh.” Ujar Haejin, salah satu temannya.

“Tidak, aku ingin menemaninya di sini Haejin-ah. Aku akan memastikan Ia akan baik-baik saja.” Ujar Haera pelan, seperti berbisik namun masih bisa terdengar oleh Lee Haejin.

“Baiklah, aku pulang dulu ya.” Haejin menepuk pundak Haera lalu bergegas pulang.

Haera memasuki kamar Kai, Ia menatap laki-laki itu sendu. Matanya berkaca-kaca. Sebenarnya ada apa dengan Jongin Oppa? Apakah Ia sakit? Apa ini berkaitan dengan amnesianya? Atau Kai memang hanya kelelahan?

Perlahan laki-laki itu mengerjapkan matanya. Ia masih sedikit pusing dan pandangannya berangsur-angsur mulai jelas. Ia melihat sosok perempuan yang tertidur di seberang kasur, perempuan itu terbaring di sofa dan tidur dengan sangat anggun.

“Haera? Apa dia menjagaku semalaman? Bagaimana jika Ia jatuh sakit? Ah gadis itu memang tidak berubah sejak dulu.”

Terlihat sang gadis juga menggeliatkan tubuhnya, Ia bangun dan meregangkan badannya. Haera melihat laki-laki yang Ia rawat semalaman sudah siuman. Terlihat jelas lengkungan manis di wajahnya, Raina tersenyum. Kai sudah mulai membaik rupanya.

“Oppa, ah ani, Kai sunbae, bagaimana keadaanmu? Mengapa kemarin kau…”

“Oppa! Panggil aku oppa mulai sekarang, arraseo? Aku sangat baik. Kemarin aku memang sedang kelelahan dan aku pingsan. Haha, memalukan memang.”

“Hah? Ah, a..arraseo Kai O..pppa..Kau membuat kami semua panik, Oo..ppaa. Terutama, emm.. terutama aku..” Yap, Haera malu-malu mengatakannya.

“Mendengarmu memanggilku oppa, rasanya aku sudah sembuh.”

Sontak semburat merah muncul di pipi yeoja itu, mukanya persis kepiting rebus saat ini

“Pulanglah, aku sudah membaik. Aku tidak mau kau sakit Haera-ya”

Tiba-tiba seorang dokter masuk dan menyuruh Haera untuk menunggu di luar. Haera pun keluar dengan raut wajah yang masih cemas.

“Kau sungguh kuat. Mengapa kau tidak katakana saja jika kau mengidam tumor otak? Ini penyakit yang sangat serius, Nak. Sebaiknya kau beritahu orangtuamu dan juga kekasihmu itu.” Ujar sang dokter panjang lebar.

“Tidak, dia bukan kekasihku, dok. Lagipula, cepat atau lambat waktu itu sebentar lagi tiba kan dok? Jadi untuk apa? Toh percuma.”

“Tapi, ini harus segera ditangani. Setidaknya kau akan…”

“Terimakasih atas perhatian dan semua yang telah dokter berikan untuk saya, dan terimakasih sudah menjaga rahasia ini. Saya senang bertemu dengan anda.” Kai hanya tersenyum setelah memotong perkataan dokter itu.

“Kalau begitu saya permisi, dan jika kau mau. Kau boleh pulang hari ini, dan jangan lupa untuk tetap rutin meminum obatnya. Permisi..”

Kai tersenyum tulus walaupun sesak itu menyeruak di dadanya. Baru saja Ia menjalani enam bulan setelah sekian laman Ia menghilang dari perempuan itu, dan tentu saja menghilangnya Kaitersebut secara disengaja. Ia tak mau Haera tahu penyakitnya. Itu akan menyakitinya lebih dalam lagi.

“Oppa, apa benar kau sudah boleh pulang?” Haera pun masuk ke ruangan.

“Ah, ya.. Aku akan pulang sekarang.”

“Syukurlah, berarti Oppa sudah baikan ya?”

“Emm.. ne.., aku sangat baik.” Kai tersenyum lagi, lalu Ia segera membereskan perlengkapannya dan bergegas pulang.

****

 

Haera melangkahkan kakinya perlahan menuju kelas, Ia tersenyum bahagia. Ia sangat senang bisa sedekat ini lagi dengan Kai. Tak sadar, Ia pun terjatuh menyandung sesuatu dan lututnya berdarah.

“Ah, appo..” Haera meringgis kesakitan.

“Kau tidak apa-apa?” Laki-laki itu mengulurkan tangannya, membantu Haera untuk berdiri.

“Ne.. gwaenchana, aku..aku hanya terjatuh, emm.. karena..”

“Karena memikirkanku?” Kai dengan mudah menebaknya, jantung Haera berdetak kencang tak karuan. Bagaimana bisa Ia tahu?

“Nde? Aniyo! ” Haera menunduk, wajahnya sudah merah semerah kepiting rebus dan tentu saja Ia malu.

“Hahah, arra arra, aku hanya bercanda..Sini, biar oppa obatin.”

Mereka pun menuju ruang UKS, diambilnya obat merah dan obat luka lainnya seperti alkohol, kapas, dll.

“Ah, appo, oppa.. neomu appo!!”

“Tahan sedikit ya? Kalau tidak diobati bisa infeksi.”

Haera memandangi Kai, wajahnya terlihat cemas saat mengobati luka Haera. Haera ingin sekali berkata bahwa Ia merindukan sosok di hadapannya ini. Mengapa Ia belum juga ingat dengan Haera? Apa lagi yang harus Haera lakukan. Bahkan momen-momen selama enam bulan terakhirnya ini banyak kejadian yang seperti mengulang kejadian di masa lalunya, saat mereka menjadi sepasang sahabat yang hari-harinya penug dengan canda tawa ataupun kesedihan. Bahkan mereka sudah seperti adik-kakak walaupun nyatanya memang mereka saling menyukai satu sama lain.

“Ah, sudah selesai. Lain kali hati-hati saat berjalan. Bagaimana jika hidungmu yang terluka? Haha..” Kai mencubit hidung Haera pelan, Haera meringgis kesal. Tentu saja itu membuat wajahnya terlihat memalukan, sangat merah seperti kepiting rebus.

****

“Anak-anak, sekolah kita akan mengadakan acara camping untuk tiga angkatan di gunung Semeru. Kalian bersiaplah, acaranya akan dilaksanakan minggu depan. Saya akan membagikan surat pemberitahuan dan surat izin untuk orangtua kalian, tolong sampaikan ya?”

“Iya Bu…” Para siswa menjawab serempak dengan semangat. Akhirnya mereka dikabarkan akan jalan-jalan setelah belajar mati-matian untuk ulangan akhir semester satu ini.

Seminggu terasa sangat cepat, mereka akan berangkat ke Gunung Semeru pagi ini. Para siswa sudah menunggu di halaman sekolah dan bis pun sudah berjejer rapih dengan nomor kelas di kaca jendela bis masing-masing.

“Dimana Haera?” Haejin mencari Park Haera kesana-kesini dan yang dicari belum memperlihatkan batang hidungnya.

“Jangan sampai dia ketinggalan bis.. Oh Tuhan…” Haejin pun bertemu Kai saat itu juga, Haera tidak bisa ditelpon. Ini gawat.

“Sunbenim, apa sunbae datang bersama Haera?”

“Aniyo, memangnya kenapa?” Kai pun kaget ditanyai hal tersebut.

“Haera masih belum datang, padahal pemberangkatan lima menit lagi dan handphone nya tidak bisa dihubungi, Sunbae.” Haejin panik sambil terus menghubungi Haera tapi hasilnya nihil.

“Oke, serahkan padaku. Dan aku akan pastikan bahwa Haera akan ikut acara ini.”

Kai langsung berlari kea rah mobilnya yang hampir saja melaju meninggalkan sekolah. Kai tentu memakai supir karena mobilnya tidak mungkin ditinggalkan di sekolah. Dengan cepat Kai melaju ke rumah Haera dan sesampainya di sana. Haera baru keluar dari pekarangan rumahnya.

“Haera!! Kenapa kau baru mau berangkat hah? Semua orang sudah berangkat semenjak sepuluh menit yang lalu.” Ujar Kai sedikit berteriak.

“Ah, mianhae. Aku semalam tidak bisa tidur, alhasil aku baru tidur jam tiga malam dan bangun kesiangan. Dan, kenapa kau malah ke sini oppa, kau tidak…”

“Sebaiknya kau cepat masuk ke dalam mobilku, kita akan ke Semeru dengan mobil ini.” Kai memotong kalimat yang dilontarkan Haera. Sebenarnya Kai ingin menjawab, bahwa Kai sangat cemas dan takut hal buruk terjadi kepada Haera karena Ia tidak datang dan terlebih lagi tak bisa dihubungi.

Akhirnya mereka melaju dengan kecepatan tinggi menuju Semeru. Di mobil sangatlah sunyi, tak ada yang berbicara. Mereka berdua sama-sama mengatur detak jantung masing-masing. Rasa itu masih sama, jantung itu tak bisa memperlambat detakannya ketika mereka berdua sedang bersama seperti ini, walaupun sebenarnya ada supir di bangku kemudi. Tetapi tetap saja, mereka masih canggung satu sama lain.

Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, mereka pun sampai di Gunung Semeru. Terlihat rombongan dari Great Academy High School juga sudah tiba dan mereka pun bergegas mendirikan tenda.

“Ah, aku cemas padamu Haera-ya.” Haejin berlari mendekati Haera yang baru sampai di dekat kelompoknya mendirikan tenda.

“Mianhaeyo, hehe aku bangun kesiangan lagi. Untung ada Kai oppa yang menjemputku.”

“Kalian sangat cocok, mengapa tidak jadian?” Tanya Haejin spontan.

“Hah? Itu, ah itu.. itu tidak mungkin Haejin.” Haera merasakan sakit lagi di hatinya, mana mungkin Kai Oppa menyukainya, mengingatnya pun tidak.

“Ah, aku bercanda Haera. Hehe.. ayo, bantu aku memasang tenda ini.”

****

Malam pun tiba, para siswa menyalakan api unggun dan bersenang-senang di sana. Ada yang bermain gitar, bernyanyi, berfoto-foto, memanggang daging dan ada juga yang lebih memilih untuk berdiam diri di tenda. Haera duduk sendirian, Ia menatap bintang yang berkilauan di langit yang gelap itu, Tentu sangat dingin di sini, dia sudah mempersiapkan segala perlengkapannya, kecuali syal untuk menutupi lehernya.

“Mengapa tak bergabung dengan yang lain?” Kai mendekat, Ia bingung melihat Haera yang lebih memilih untuk menyendiri.

“Ah, kau tidak kedinginan huh? Kau bisa saja sakit bodoh.” Kai langsung melepas syalnya dan melingkarkannya di leher Haera.

“Ah, aku lupa membawanya, gomawo kai oppa. Tapi bagaimana dengan lehermu?”

“Aku sudah biasa dengan dingin, cemaskanlah dirimu dulu Haera, kau itu yeoja, aku namja dan sudah jelas namja harus tahan banting kan, haha…” Kai tersenyum, sangat manis. Lengkungan itu seperti bulan sabit yang sedang bersinar pada malam itu. Sungguh indah.

“Kau tahu, aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku, aku merasa beruntung.” Kai melontarkan kata-kata itu begitu saja, seperti sebuah keajaiban. Sungguh sangat amat langka. Dan tentu saja Haera menganga tidak percaya.

“Bagaimana bisa?” Tanya Haera heran.

“Tentu bisa Kim Haera” Hati Haera terasa tercekik, tercabik namun bahagia. Panggilan itu, itu adalah panggilan masa kecilnya. Hanya Kai lah yang memanggilnya Kim Haera, dahulu Kai berjanji untuk menikahi Haera dengan begitu ia memanggilnya dengan marganya, yaitu “KIM”

Haera menangis sejadi-jadinya, jadi selama ini apa? Dia pura-pura amnesia atau dia baru mengingatnya kembali?

“Uljima, aku minta maaf. Aku seperti ini karena aku menyayangimu, sungguh aku tidak bermaksud. Seharusnya aku..” Kata-katanya terpotong, darah itu mengalir lagi dari hidungnya. Pandangan Kai semakin buram dan detik berikutnya tubuhnya sudah terkulai lemas di tanah, tidak sadarkan diri. Lagi..

“OPPPPAAA!!!KAI OPPA!! Ireona, jebal jangan bercanda seperti ini! Ireona jebal!! OPPPAA!!”

Keadaan pun ricuh, Kai langsung dilarikan ke rumah sakit di kaki gunung. Hanya beberapa yang mengantarnya, termasuk Haera. Dan yang lain melanjutkan acara camping-nya.

Setelah dua jam menunggu, seorang dokter keluar dri ruang perawatan. Wajahnya datar. Haera semakin cemas dengan keadaan Kim Jongin di dalam.

“Maafkan kami, keadaan nya sangat parah. Kami sudah melakukan yang terbaik.” Dokter itu hanya berkata singkat. Tangisan Haera pun pecah saat itu juga.

“Maksud dokter apa?!!! Tidak mungkin kan kalau, ah dokter pasti berbohong. Selama ini Kai Oppa baik-baik saja dok!”

“Baik-baik saja? Apa anda tidak mengetahui? Kim Jongin memiliki tumor otak yang sangat ganas, dan sepertinya Ia menahan penyakitnya sangat lama. Keadaannya sangat buruk, dan nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Maafkan kami.”

“Apa? Tumor? Dokter jangan bercanda! Ini tidak mungki, Dok!”

Dokter itu hanya menepuk pundak Haera lalu segera berlalu. Haera langsung masuk ke dalam ruangan berbau obat-obatan tersebut. Ia melihat sosok yang biasanya ceria dengan senyuman yang mampu melelehkan hatinya sudah diselimuti kain di sekujur tubuh kakunya.

“Jadi, ini Oppa? Ini mengapa kau pura-pura melupakanku? Kenapa kau tidak pernah sedikitnya jujur? Mengapa kau menghilang selama itu? Mengapa kau membuat hatiku kacau Oppa? Mengapa Kai tidak bertahan hingga akhir? Apa Kau harus pergi dulu? Setidaknya empat tahun adalah waktu yang sangat lama, sangat lama untuk kita menghabiskan waktu bersama, waktu yang cukup untukku mengatakan bahwa aku mencintaimu setiap hari, sangat cukup untuk berbagi rasa sakit yang kau pendam, cukup untukku lebih lama memelukmu dan memilikimu.”

Mungkin Kai pergi lagi untuk kembali lagi bersamanya suatu saat nanti, agar bisa lebih lama bersamanya ketika kembali kedua kalinya, mengumpulkan semua tenaganya untuk dihabiskan bersama kelak nanti.

Haera tidak bisa berhenti menangis, pikirannya kacau. Matanya sangat bengkak, hatinya sangat amat sakit. Baru beberapa saat yang lalu mereka saling tersenyum satu sama lain. Baru beberapa waktu mereka habiskan untuk saling mengenal satu sama lain lagi. Tapi semua hilang begitu saja, laki-laki ini bahkan sudah tidak bisa menghapus air matanya lagi, tidak bisa membuat jantungnya berdetak cepat lagi, tidak bisa membuatnya meleleh karena senyumannya, dan tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya barusan.

****

“Tahukah Oppa, saat pertama kali kita bertemu lagi saat empat tahun lalu? Bagaimana dengan keadaan langitnya? Apakah itu secerah hatiku yang melihatmu kembali setelah sekian lama? Dan bagaimana denga hari-hari yang kita lewati? Bagaimana kah keadaan langitnya? Aku bahkan tidak tahu oppa, aku tidak memperhatikan langitnya, karena aku hanya memperhatikan yang lebih cerah di banding langit saat itu, Kau!”

Haera tersenyum, Ia pun menghapus setetes air mata di pipinya yang tidak sengaja keluar. Ia perlahan meninggalkan tempat dimana orang-orang beristirahat untuk selama-lamanya. Ia tersenyum sambil menggenggap secarik kertas yang berisi ungkapan hati Kai yang terselip di buku diary nya. Ia sekarang mengerti semuanya dan mencoba untuk menerima semuanya. Kai ingin Ia tersenyum, setidaknya tersenyum untuk Kai di setiap detik di hidupnya.

“Tapi kenapa Oppa? Kenapa kau pergi? Apakah untuk kembali lagi suatu saat nanti? Dahulu kau pergi meninggalkan berjuta pertanyaan, dan sekarang kau pergi lagi meninggalkan luka yang belum sembuh ini, masih banyak pertanyaan yang belum kau jawab. Aku akan menunggu hingga saat itu tiba, empat tahun lagi ? Kita akan mengulang pertemuan itu? Atau kali ini bertambah menjadi lima tahun? atau bahkan delapan tahun? Aku tak peduli, Aku ingin kau menjelaskan semuanya, mungkin kau akan menjelaskannya di tempat nanjauh di sana, tunggu aku kesana, dan kau berhutang banyak penjelasan padaku!”

 

-END-

 

 

Huaaaaa, bagaimana??? Butuh sequel kah? Jangan lupa like dan komen nya, don’t be a silent reader guys! Terimakasih telah membaca ff ini hingga tuntas, semoga ff selanjunya bisa lebih baik lagi. Annyeong!!!

 

3 thoughts on “PAINFUL (ONESHOT)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s