All-Mate911 (Chapter 1)

All-Mate911

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

Note : Sooooo akhirnya aku kembali ke sini setelah Ten Years Forwarded, yay! Sebelumnya udah nulis juga, tapi karena beberapa alasan nggak kukirim ke sini. Alasannya males sih sebenernya. Timpuk aja udah #plak Dan, cerita ini aku ga tau bakal jelas apa nggak *biasanya juga nggak sih* tapi mari kita lihat saja ke depannya. Hehehe. Kritik dan saran juseyong~😄

~all-mate911~

–selamat datang di reuni terburuk sepanjang masa–

 

Ryu Sena sudah terbiasa dengan sahabatnya yang suka pulang-pergi seenaknya dari tempat tinggalnya, tapi itu bukan berarti Sena menyukainya, apalagi jika Han Jimin melakukannya pada hari Senin pagi.

“Sampai kapan kau akan menganggur dan menghabiskan waktumu bermalas-malasan sepanjang hari?” gerutu Jimin ketika Sena menyuruhnya pergi dan kembali lagi nanti sore.

Nah, Sena merasa layak tidur lebih lama. Setelah dua minggu yang panjang, semalam Sena akhirnya mendapat telepon untuk menjadi pasangan seorang laki-laki di pesta lajang temannya. Tadinya Sena berpikir pestanya pasti membosankan dan setelah dipamerkan ia akan dihiraukan seperti dulu (ceritanya panjang), tapi ternyata ia cukup menikmatinya. Laki-laki itu—pelanggannya—orang yang menarik dan mereka banyak tertawa. Dan benar-benar tampan, meski Sena rasa ia tidak menyukai perempuan.

Yah, hidup ini memang sebuah lelucon besar.

“Aku punya pekerjaan,” jawab Sena dengan mata terpejam rapat.

“Menjadi teman bayaran tidak termasuk pekerjaan!”

“Nah, kenapa kau tidak carikan pekerjaan di balik meja untukku kalau begitu? Jangan lupa cantumkan ‘tidak punya ijazah’ dan ‘tidak punya pengalaman kerja’ dalam lamaranku.”

Sena mendengar hela napas kesal. Jelas ada yang mengganggu pikiran Jimin, tapi Sena masih terlalu mengantuk untuk peduli.

Setelah protesnya soal pekerjaan tidak mempan, Jimin mencoba hal lain, “Kenapa kau tidak keluar dan berkencan seperti wanita normal?”

“Aku berkencan,” jawab Sena. “Dengan banyak orang, malah. Kalau-kalau kau penasaran, semalam aku berkencan sampai jam tiga pagi. Karena itulah aku masih mengantuk.”

Jimin sengaja menulikan diri dari sarkasme Sena. “Kau bisa saja punya kehidupan normal kalau kau tidak memilih menemani pria-pria sakit jiwa kesepian yang mencari teman lewat aplikasi bodoh itu.”

Aplikasi bodoh yang dibicarakan Jimin adalah All-Mate911, aplikasi ponsel pintar yang menyediakan teman untuk disewakan. Sena adalah salah satu penyedia layanan. Apa pun kebutuhannya—pasangan pesta, teman menangis setelah berpisah dengan pacar, teman untuk berbagi rahasia, teman makan siang, teman jalan-jalan dengan anjing, apa saja selama tidak melanggar hukum—dapat dipenuhi dengan satu telepon.

Dan kalau kau pikir tidak mungkin ada orang yang membutuhkan layanan konyol ini, kau akan terkejut bahwa sebenarnya banyak, dan hampir semua dari mereka berasal dari kaum elite. Sena biasanya mendapat permintaan setidaknya sekali seminggu untuk remeh-temeh itu. Dan bayarannya lumayan—setidaknya cukup untuk bertahan sampai permintaan berikutnya.

“Aku tidak hanya terlibat dengan laki-laki. Perempuan juga. Siapa pun yang mau membayar untuk teman instan,” hanya itulah yang bisa Sena katakan.

“Kau paham maksudku!” seru Jimin tidak sabar. “Sampai kapan kau akan menjajakan diri untuk orang-orang sinting yang bahkan tidak kau kenal seperti ini?”

Sena menegakkan punggung dan membuka matanya sedikit untuk menatap Jimin. “Han Jimin, All-Mate bukan sarana pelacuran. Dan kau tidak bisa mengalihkan kecemasanmu tentang hubunganmu dan Luhan padaku. Itu tidak adil, Kawan.”

Tebakan Sena jelas tepat sasaran, karena kedua daun telinga Jimin seketika memerah seakan seseorang baru merebusnya. “Jangan mengalihkan topik! Kita sedang bicara tentang hidupmu yang sia-sia!”

Sena menguap lebar-lebar. “Tidak perlu diingatkan, semua orang tahu itu,” balasnya ringan. “Sekarang, dengar ini: cari Luhan dan kendurkan keteganganmu dengannya, oke? Kembali lagi ke sini jam empat.”

Kemudian Sena menjatuhkan kepalanya kembali ke atas bantal dan bergelung membentuk bola, sementara Jimin menggerundel sebal dengan suara rendah.

 

***

 

Park Chanyeol biasanya hanya muncul di kelab tempat Byun Baekhyun bekerja sebagai bartender setiap Sabtu atau Jumat malam, jadi kemunculan Chanyeol malam itu—masih memakai setelan kerja lengkap dengan jas dan dasi yang dilonggarkan menggantung di leher jenjangnya—membuat Baekhyun menatapnya dengan alis terangkat heran.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Wiski,” pesan Chanyeol begitu duduk di kursi tinggi bar. “Dan aku sedang banyak pikiran.”

“Benar. Kau hanya datang ke sini saat sedang banyak pikiran,” Baekhyun pura-pura menggerutu sambil menuangkan pesanan laki-laki itu dan mengulurkan gelasnya.

Chanyeol menenggak setengah dari wiskinya, lalu mengerutkan wajahnya saat cairan itu menuruni tenggorokannya dengan sensasi panas menyengat, langsung ke dalam lambungnya yang kosong.

“Ew.” Baekhyun menggeleng-geleng tidak terkesan. “Kendalikan ekspresimu. Kau membuat makan malamku menggelegak.”

Chanyeol mendengus dengan lagak selangit. “Kau bercanda. Wajah yang luar biasa ini bisa membuatmu jatuh cinta.”

Baekhyun membuat ekspresi omong-kosong-apa-yang-kau-bicarakan. “Kalau begitu, jelaskan kenapa kau muncul di kelab pada Senin malam seorang diri.”

“Coba kupikirkan. Hmm, karena aku terlalu keren untuk punya teman?”

My ass.”

Chanyeol menyengir dan menghabiskan sisa minumannya dalam sekali tenggak, lalu memesan gelas kedua.

“Kau tidak muncul di pesta Junmyeon-ie hyeong kemarin malam,” kata Baekhyun.

Kali ini Chanyeol menyesap minumannya sedikit-sedikit dari bibir gelas. “Aku sibuk.”

“Yang benar saja.” Baekhyun bersedekap seraya memutar bola matanya. Kedua matanya dibingkai riasan berlebihan yang anehnya tampak cocok untuknya. Rias mata itu membuat matanya tampak besar dan tajam. “Buatlah alasan yang lebih tulus.”

“Apa misalnya?”

“Bagaimana dengan ‘aku mati suri’?”

Chanyeol tertawa hambar pada sarkasme Baekhyun. “Lucu.”

“Terima kasih.”

“Yah, kau sudah tahu. Aku tidak punya alasan untuk datang. Jadi aku tidak datang.”

“Kau pikir kau begitu eksklusif, padahal kau hanya kesepian dan takut.”

“Aku memang ekslusif,” balas Chanyeol. “Aku tidak kesepian. Dan aku harus takut pada apa tepatnya?”

Baekhyun tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk dengan wajah sok penuh pengertian, seakan-akan ia tahu jauh lebih banyak tentang Chanyeol daripada Chanyeol sendiri. Chanyeol benci sekali saat ia melakukan itu.

“Omong-omong soal pesta semalam, apa kau tahu All-Mate911?”

Chanyeol tidak mengerti apa hubungannya pesta dan All-Mate911. Terlebih lagi, apa itu All-Mate911? Kedengarannya seperti nama organisasi sosial.

“Yeah, mengingat sifat anti-sosialmu, tentu saja tidak,” kata Baekhyun, meraba ekspresi tolol Chanyeol dengan tepat. “Itu aplikasi yang menyewakan teman.”

“Hah?” Chanyeol melongo. Apa pula?

“Aku mencobanya kemarin. Aku menelepon seorang gadis untuk menemaniku ke pesta. Namanya Song Ahyoung. Orangnya menarik. Begitu bertemu denganku, dia memperkenalkan diri dan langsung bersikap seolah-olah kami teman baik. Dia bahkan memanggilku oppa. Kau tahu, semua orang percaya saat kubilang dia pacarku.”

Baekhyun tertawa seolah itu benar-benar lucu, sedangkan Chanyeol hanya mengerutkan wajahnya. “Kau memperkenalkan orang asing sebagai pacarmu?” Chanyeol tidak percaya ada orang yang semudah itu.

“Yep. Gadis itu tidak keberatan. Untuk itulah dia dibayar, kan.”

“Gadis yang tidak beres.”

Baekhyun mengangkat bahu dengan ekspresi nakal di wajahnya. Lalu, tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi ekspresi aku-punya-ide-bagus. Chanyeol juga benci saat wajahnya begitu. “Hei, kenapa kau tidak mencobanya juga?”

“Apa?”

“Pesan seorang teman.”

Apa?”

“Berikan ponselmu.”

“Tidak.”

“Cepat, sebelum aku menelanjangimu.”

Chanyeol mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya dengan enggan, karena ia tahu Baekhyun cukup sinting untuk menelanjanginya di sini kalau Chanyeol menolak memberikannya.

Baekhyun mengutak-atik ponsel Chanyeol dengan seringai yang membuat tengkuk Chanyeol merinding. “Nomor identitasmu,” katanya.

“Kenapa kau butuh itu?”

“Jangan banyak tanya.”

Chanyeol menyebutkannya dengan enggan. Ia mendadak punya bayangan mengerikan: suatu hari Baekhyun akan menyuruhnya menjarah kantor polisi dan Chanyeol berakhir di penjara karena tidak bisa menolaknya.

“Ini.” Baekhyun mengembalikan ponselnya. “Aplikasinya sudah terpasang dan aku sudah mendaftarkan namamu. Kau tinggal melihat-lihat penyedia layanan mereka dan memilih mana yang cocok.”

“Aku tidak akan memilih yang mana pun.”

Baekhyun tersenyum misterius. “Lihat dulu. Kau tidak pernah tahu.”

Chanyeol menghabiskan wiskinya dan menyimpan kembali ponselnya seraya membatin, Tidak akan.

 

***

 

Chanyeol tiba di apartemennya sekitar pukul tiga pagi, merasa ringan, santai, dan agak mengantuk berkat sedikit alkohol. Pikirannya berada di awang-awang sementara pandangannya terpaku pada langit-langit kamar.

All-Mate911. Lelucon macam apa lagi itu. Dunia ini semakin aneh saja.

Chanyeol melarang dirinya memikirkannya lagi, tapi itulah masalahnya—semakin dilarang, ide itu menancap di otaknya seperti akar rambut.

Chanyeol mungkin tidak mengenal dirinya sendiri, tapi ia tahu satu hal. Ia tidak bisa penasaran. Dan kalimat Baekhyun tadi berhasil memancing rasa ingin tahunya.

Yah, tidak ada salahnya melihat-lihat.

Chanyeol merogoh ponselnya dan menyentuh ikon kotak putih dengan angka 911 merah muda berhias hati yang sebelumnya tidak ada di menu ponselnya. Aplikasi itu terbuka dan langsung menampilkan lambang perempuan dan laki-laki seperti yang ada di pintu toilet. Yang benar saja, apa harus norak begitu?

Chanyeol memilih opsi perempuan dan muncul daftar nama-nama dan topik favorit mereka, mungkin bermaksud untuk mempermudah seleksi. Ia menggeser layar ke bawah mencari nama Song Ahyoung—karena Baekhyun bilang gadis itu menarik dan Chanyeol ingin tahu kenapa—dan menemukannya dengan mudah. Di bawah nama itu tertera hal favorit: makanan, cerita yang berakhir bahagia, fashion, alkohol, uang.

“Menarik, heh?” gumamnya. Selera Baekhyun benar-benar perlu dipertanyakan.

Chanyeol menyentuh nama Song Ahyoung dan profilnya terbuka. Ia membaca nama, tempat dan tanggal lahir, tinggi dan berat badan, domisili, rating (3.5 dari 5, mungkin Song Ahyoung tidak begitu buruk). Ada ikon telepon di kanan atas, tepat di sebelah fotonya.

Chanyeol baru memerhatikan karena ia membaca profilnya dulu, tapi ketika akhirnya ia menemukan foto itu, kantuknya mendadak buyar. Ia menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas, tapi foto itu tidak berubah. Masih gadis berwajah bulat dengan rambut hitam panjang, dan entah karena operasi, riasan, atau sekadar editing yang bagus, tapi seharusnya kedua matanya tidak sebesar itu, hidungnya tidak semancung itu, dan senyumnya tidak semenarik itu.

Chanyeol tahu karena ia yakin ia mengenali gadis di foto itu. Hanya saja namanya bukan Song Ahyoung. Namanya Ryu Sena.

 

***

 

Sejak Sena mengusir Jimin dari kamarnya beberapa hari lalu, ia belum mendengar kabarnya lagi. Tapi ternyata ia tidak perlu menelepon untuk mengecek, karena Jimin tahu-tahu muncul. Kali ini, sahabatnya itu tidak berceloteh atau mengomel. Ia hanya masuk (tanpa permisi, seperti biasa), duduk di dekat kaki Sena di tepi tempat tidur, dan diam. Sena menebak Jimin akan meledak dalam beberapa menit, jadi ia dengan bijak terus membaca novelnya.

“Aku sudah berpisah dari Luhan.”

Sena mengangkat wajahnya dan menemukan tampang merana Jimin dan matanya yang sembab.

“Semalam aku melihat si brengsek itu berciuman dengan gadis yang selalu datang pada malam pertunjukan bandnya.”

“Oh, itu buruk.” Sena ingin mengatakan sesuatu yang lebih prihatin, tapi ia tidak bisa memikirkan satu pun.

Jimin mengusap wajahnya dengan punggung tangan. “Luhan bilang ini bukan salahku. Dia hanya… tidak bisa terikat.”

Sena cukup mengenal Luhan (Jimin mengejar laki-laki itu seperti orang gila jadi mau tidak mau Sena terlibat juga untuk menahannya) dan sejujurnya ia sama sekali tidak melihat ada laki-laki baik dan setia pada wajah tampan-garis-miring-cantik Luhan. Sena sudah pernah memberitahu Jimin sebelum mereka berkencan, tapi Jimin tidak mendengarnya.

Sena berdeham. “Kau akan menemukan yang lebih baik,” katanya, dan ia pikir kalimatnya cukup bagus.

Jimin menyedot ingus. Suaranya seperti traktor. “Kalau sampai Luhan tidur dengan gadis itu, aku akan membunuhnya.”

Oke. Pengalihan, segera. “Eh, Han Jimin, bagaimana kalau kita—”

Sena tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena ia mendengar ponsel kerjanya berbunyi. Ia melompat cepat dari tempat tidurnya untuk mengambilnya di antara tumpukan baju dan tas. “Hei, santai saja dulu. Aku harus menjawab ini,” Sena berkata pada Jimin sebelum menjawab teleponnya dengan suara yang paling ceria, “Di sini Song Ahyoung dari All-Mate911. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Sena mendengar deham yang rendah dan dalam, kemudian suara berat laki-laki berkata, “Namamu… Song Ahyoung?”

Suara itu membuat jantung Sena melonjak. Kedengarannya seperti pelanggan potensial, dan ini belum seminggu sejak si tampan. Ini benar-benar minggu baik. “Ya,” jawabnya. “Dan kau?”

“Eh…”

Sena sudah terbiasa dengan reaksi canggung dan bingung seperti ini. Mereka yang baru mencoba selalu begitu. “Ini pertama kalinya kau memakai jasa All-Mate, benar?”

“Eh, ya.”

“Kalau begitu, apa kau punya uang?”

“Apa?”

“Uang,” ulang Sena. “All-Mate menyediakan teman yang harus kaubayar.”

“Oh, ya. Aku punya uang.”

“Bagus.” Percuma saja kalau suaranya seksi atau wajahnya tampan tapi tidak bisa membayar. “Nah, kenapa kau mengakses All-Mate?”

“Seseorang merekomendasikannya. Maksudku, kupikir aku mau mencoba.”

“Kau tidak punya teman?”

“Entahlah. Mungkin?”

“Kasihan,” ucap Sena polos. “Jadi, kau membutuhkanku untuk apa?”

Deham lagi. Astaga, suaranya membuat lutut Sena gemetar. “Aku tidak tahu. Apa yang bisa kaulakukan?” kata suara di seberang sana.

“Aku melakukan apa yang seorang teman lakukan. Aku menemanimu, kalau kau ingin ditemani. Aku mendengarmu, kalau kau ingin bicara. Aku membantumu, kalau kau butuh bantuan.”

“Kedengarannya… bagus.”

Sena tertawa pelan. “’Aneh’ lebih tepat. Tapi, kau tahu, a friend in need is a friend that you pay for.”

“Aku cukup yakin seharusnya a friend in need is a friend indeed.”

Yeah, tapi memangnya ada yang namanya teman sejati di dunia ini?”

Hening sejenak. “Kau benar,” katanya. “Bisa kita bertemu?”

Wah, ini baru. Biasanya seorang pelanggan akan berkata, ‘Ayo bertemu’ atau ‘Datanglah ke tempat ini’. Sena tidak pernah mendapat ajakan. Lucu juga. “Tentu saja. Apa yang kau ingin aku lakukan?”

“Kau mungkin… bisa menemaniku makan malam?”

Nah, ini bahkan lebih bagus lagi. Sena akan dibayar untuk makan. Apalagi yang kurang? “Ke mana aku harus pergi?”

“Ada restoran Prancis di dekat kantorku. Akan kukirimkan lokasinya padamu.”

“Baiklah.”

“Aku akan membuat reservasi atas namamu. Eh, Song Ahyoung?”

“Yep.”

Ada keheningan ragu sejenak, seolah orang itu akan mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya hanya berkata, “Datanglah ke sana jam enam.”

Sena mengakhiri panggilan dengan seulas senyum lebar. Hidup ini indah.

“Kau benar-benar jalang,” desis Jimin. “Siapa pun yang mendengar suara genitmu itu akan berpikir kau ini pelacur.”

Sena nyaris lupa Jimin masih ada di sana. Ia menatap gadis itu dan mengangkat bahu. “Aku jalang yang beruntung, yeah.”

“Bagaimana jika suatu saat kau mendapat panggilan jebakan dan berakhir diperkosa?”

“Astaga.” Sena memutar bola matanya. “Aku mungkin cacat, tapi aku masih bisa bela diri. Dan aku tidak sebodoh itu.”

“Sesukamulah.”

Karena Jimin sudah cukup baik untuk menggerutu, ia akan baik-baik saja ditinggal. Jadi Sena berbalik dan bergegas mencari pakaian yang layak. Ia tidak tahu apakah restoran Prancis punya aturan berpakaian atau apakah makanannya enak, tapi apa pun itu pasti lebih baik daripada ramyeon instan. Apalagi Sena sudah makan itu tiga hari berturut-turut.

 

***

 

Chanyeol tidak yakin untuk apa ia melakukan ini. Mungkin ia berharap ia salah. Atau mungkin ia justru berharap sebaliknya. Entahlah, yang jelas, setelah memikirkannya selama berhari-hari, Chanyeol memutuskan untuk mencobanya. Seandainya itu bukan Ryu Sena, ia mungkin bisa menikmati makan malamnya hari ini dengan seorang teman (bayaran). Apalagi ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke restoran Prancis.

Tapi, kalau itu benar-benar Ryu Sena…

Chanyeol tidak punya rencana sama sekali. Ia hanya menunggu apa yang akan datang padanya.

Chanyeol membuat reservasi untuk dua meja—satu atas nama Song Ahyoung, dan satu lagi atas namanya sendiri. Ia menempati meja atas namanya dan mengamati meja lainnya sambil terus memerhatikan jam tangan.

Ketika sudah lewat sepuluh menit dari jam enam, Chanyeol hampir lega dan memutuskan untuk pergi segera dari sana.

Saat itulah ia melihatnya.

Ryu Sena sungguhan, memasuki restoran dengan gaun hitam selutut tanpa tali, rambutnya digerai di atas bahunya yang terbuka. Wajahnya dirias sederhana dan ia tampak hampir sama seperti di foto. Entah gadis itu memang bertambah cantik selama beberapa tahun terakhir atau sel-sel otak Chanyeol sedang rusak.

Sena menanyai pelayan yang berjaga di pintu, kemudian ia diantar ke meja Song Ahyoung. Debar jantung Chanyeol meningkat ketika gadis itu terus mendekat dan ia khawatir gadis itu akan melihat ke arahnya, tapi ternyata tidak.

Sena duduk dan jarak mereka sekarang hanya hitungan langkah. Chanyeol bisa lari sambil menutupi wajahnya dengan buku menu, atau ia bisa berdiri dan menghampirinya saat ini juga. Pilihan pertama lebih menggiurkan.

Tapi Chanyeol melakukan yang kedua.

Ia berdiri dari kursinya, melangkah lebar, dan pindah tempat ke hadapan gadis itu. Mereka bertatapan sedetik dalam diam. Waktu serasa berhenti. Chanyeol bertanya-tanya apakah Sena masih mengingatnya. Bagaimanapun sudah bertahun-tahun berlalu. Chanyeol cukup yakin gadis itu tidak pernah berharap bertemu dengannya lagi. Chanyeol sendiri tidak benar-benar ingin, hanya saja… ia juga tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang.

“Tadi aku menelepon perempuan yang ada di aplikasi All-mate untuk seorang teman makan malam.” Chanyeol menyandarkan punggungnya ke kursi dan bersedekap. “Di sana ditulis namanya Song Ahyoung. Dua puluh empat tahun. Tertarik pada makanan, fashion, uang, dan apalah.”

Sena membulatkan matanya dan tampak seperti mati. Ya, Chanyeol tahu gadis itu mengenalinya.

“Jadi, apa yang kau lakukan di sini, Ryu Sena?”

Dan Sena jelas tidak senang bahwa Chanyeol juga masih mengingatnya. Oh, yeah, ini akan buruk.

“Kenapa—” suara yang keluar dari tenggorokan Sena seperti tercekik. Ia berdeham keras. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Seperti yang kubilang tadi. Aku memesan teman.”

Sena mendengus. Ia tampak benar-benar menakutkan. Mungkin seharusnya Chanyeol lari saja tadi. Sekarang sudah terlanjur. Ia harus bertahan.

“Dan kurasa tidak mungkin itu kebetulan aku,” Sena berkata tajam. “Kau tahu itu aku, dan kau ingin mempermainkanku lagi seperti dulu. Itu keahlianmu, kan? Mempermainkan orang.”

Sebelum Chanyeol sadar, Sena sudah berdiri dan berderap meninggalkan restoran. Sesuatu dalam dada Chanyeol mendorongnya untuk melompat berdiri dan mengejarnya keluar.

“Ryu Sena!” Chanyeol menyambar tangan gadis itu untuk menghentikannya, tapi Sena berbalik dan menyentaknya lepas nyaris seketika. Meski begitu, ia sempat merasakan betapa dinginnya kulit yang ia sentuh. Dan Chanyeol melihat bahu Sena naik-turun seiring napasnya yang memburu. “Aku tidak mempermainkanmu dulu,” ia berkata cepat sebelum Sena membuka mulut. “Dan aku juga tidak mempermainkanmu sekarang.”

“Tidak mempermainkanku.” Sena bersedekap. “Kalau begitu, untuk apa?”

“Aku ingin…” Tidak ada kata yang keluar. Apa? Apa yang Chanyeol inginkan?

Sena tertawa sini. “Kau tahu? Kuharap kau mati saja dan tinggalkan aku sendiri.”

Sena menyetop taksi yang melintas, dan kali ini Chanyeol tidak menghentikannya. Baru ketika gadis itu menghilang dari pandangannya, jawabannya terbesit dalam pikiran Chanyeol.

Aku ingin tahu apakah kau masih membenciku.

 

= to be continued =

8 thoughts on “All-Mate911 (Chapter 1)

  1. Hadoooh kak, ini super sekali 😍😍😍 yg 10 years forwarded jg itu aku g abis pikir, dpt ide kyk gt drmn. trus itu katanya sena cacat, emg dia ada cacat gt? Aku msh blm terlalu nyantol d part itu. Pokoknya jjang lah kak, ditunggu yaa, semngaat!!^^

  2. Ihh…. as usual ih… suka deh
    sama pembawaan karakter fiksi kamu. hidup dan nggak ngebosenin lol.
    Dan ini adalah ff pertama diani yang aku baca setelah lama vakum dari dunia ff.

    Btw paling suka sama karakter Baekhyun yang punya mata cetar tapi cocok. ngakak waktu sadar kalo klien Sena yang dibilang ‘seperti tidak suka wanita’ itu Baekhyun. ampe segitunya banget hahahahahahahaha.
    ditunggu chapter selanjutnya… keepwriting

  3. Sukaaaaaa banget ide fiksi mu.. tapi rada bingung?? Ada hubungan apa chanyeol dan sena?Terus Kenapa sena gak ada ijazah gituu??

  4. idih ide ceritanya langkahhh ya say teman panggilan hehehe… gua rasa ini bakal seru hihihi…😀

    ada apa sena dan chanyeol dimasa lalu keep writing ya chingu sama ijin baca chapter selanjutnya😉

  5. wow setelah ten years forwarded, ada ff seru lagi dari author favorit. padahal baru baca ff author nim untuk pertama kalinya kemaren, tapi langsung ngefans banget sama author nim satu ini. semoga ff ini bisa berkesan kayak ten years forwarded ya author nim, fighting! =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s