LOVE KILLER (Part 9)

LOVE KILLER

 

Title                     :  LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Do Kyungsoo ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 :  Chapter

Rating                  :  T

Genre                   :  School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

( Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

 

 

 

 

 

***

 

Suho dan HyeRa berlari meninggalkan kelas. HyeRa melihat Chanyeol dan Sehun yang terkapar tidak berdaya. Mereka kenapa?

Dia ingin bertanya tapi dia terasa sulit menghentikan laki-laki yang nampak serius menggenggam tangannya dan membawanya berlari.

Suho harus membawanya ketempat yang jauh. Dia sendiri belum puas karena belum menghabisi Kyungsoo. Berani sekali dia coba menyentuh HyeRa. Gadis ini miliknya!

Mereka hampir mencapai pintu keluar gedung. HyeRa berhenti lalu menarik tangannya agar Suho juga berhenti. “Tunggu”

“Ada apa?” tanya Suho tidak sabar. Sebenarnya mereka tidak perlu lari. Dia bisa menghabisi Kyungsoo jika laki-laki itu mengejarnya. Dia belum kehabisan tenaga meski sudah menjatuhkan dua lawan sekaligus, tapi kakinya terus bergerak.

HyeRa menatap wajah Suho. Dia perhatikan dengan seksama. Ada luka dipipinya. Luka itu telah menjadi perhatian sejak Suho datang menyelamatkannya, lalu dia melihat Chanyeol dan Sehun yang tidak sadarkan diri. Artinya mereka habis berkelahi. Suho datang menolongnya dan berkelahi dengan temannya sendiri.

Tangan HyeRa terangkat. Suho membeku ketika wajahnya disentuh oleh tangan hangat HyeRa. Pipinya terasa panas.

Mata mereka bertemu. Jantung Suho berdebar lebih cepat. Hatinya melonjak gembira. Ada perasaan nyaman ketika mereka bertatapan tidak dalam kondisi saling beradu. Ada perhatian dalam mata HyeRa dan itu ditujukan untuknya.

“Kau terluka”

Suho meraih tangan HyeRa. Dia ingin mengatakan betapa dia rela melakukan apa saja demi dirinya. Biarpun tubuhnya harus terluka dan merasakan sakit yang teramat sangat. Selama kau baik-baik saja, aku tidak apa-apa.

Tapi mulutnya terkunci rapat.

Mungkin hatinya tidak sejalan dengan otak yang sudah menyusun kalimat sebaik mungkin agar HyeRa terharu, namun momen ini tidak ingin dirusaknya. Biarkan sebentar lagi mereka saling menatap. Biarkan kehangatan tangannya kurasakan. Biarkan detak jantungku bergemuruh hebat. Suho ingin meresapi semua itu dalam diam.

“Nona” panggilan khawatir dari Paman Song menghancurkan semuanya. “Nona baik-baik saja?” Paman terlihat panik.

“Aku tidak apa-apa, Paman”

“Saya khawatir. Nona tidak menjawab telponnya dan” Paman melirik Suho sebentar. Sebenarnya Paman tidak ingin mengganggu, tapi Paman terpaksa melakukannya, “Kita terlambat untuk makan malam dengan Tuan Besar”

“Oiya, Ayah!” HyeRa tersadar kalau sejak tadi dia menunggu jam pulang.

HyeRa melihat Suho. “Ah” dia menarik tangannya enggan. Dia jadi merasa tidak enak, “Terima kasih telah datang menolongku. Aku harus pulang sekarang”

Suho melempar senyum tipis. Senyum itu mengantar kepergian HyeRa. Dia melihat sosoknya melewati pintu lalu memasuki mobil yang pintunya dibukakan Paman Song. Dia tidak rela. Dia belum mau berpisah dengan gadisnya secepat ini. Ah, HyeRa bukan gadisnya. Belum!

HyeRa belum menjadi gadisnya. Tangannya mengepal penuh semangat. Dia akan segera menjadikan HyeRa sebagai miliknya.

……………………………………………………

Dalam perjalanan pulang Sooyong terus menangis memikirkan nasibnya selama ini. Tapi sekarang, setidaknya dia bisa sedikit lega karena Kyungsoo tidak akan berani mendekatinya lagi. Sooyong sudah punya cara untuk menghentikan Kyungsoo melalui Ayahnya. Sooyong pikir, hanya dengan kekuasaan Ayah lah semua masalahnya selesai dan dia bisa hidup dengan tenang tanpa perlu khawatir Kyungsoo akan mengganggunya. Sekarang tujuannya adalah mencari keberadaan Jisoo. Dia menyuruh supirnya untuk pergi ke tempat Jisoo. Sooyong harus memastikan bahwa Jisoo selamat.

Sedan hitamnya berdiri tepat disebuah apartment elit. Segera dia keluar dari dalam mobil ditemani supirnya untuk berjaga-jaga. Kini dia berhenti didepan sebuah flat. Jantungnya berdegup dengan cepat. Kembali dia hubungi Jisoo dan wajahnya sedikit lega mendengar bunyi ponsel dari dalam flat. Dengan tangan gemetar dan hati yang melonjak karena dia akan bertemu sang kekasih, Sooyong menekan password yang sebelumnya diberitahu Suho.

Tanpa pikir panjang setelah pintu terbuka, Sooyong masuk kedalam ruangan yang sekelilingnya gelap. Dia meraba-raba dinding untuk mencari stop kontak dan ketemu. Setelah lampu menyala dia mencari Jisoo ke sekeliling ruangan yang terlihat berantakan. Sebersit pikiran jelek mampir kekepalanya namun dengan cepat dia menepisnya.

Begitu dia sampai disebuah kamar, matanya menangkap kaki seseorang yang terbaring di ranjang dengan selimut menutupi seluruh badannya. “Jisoo” gumamnya. Dia sibak selimut yang menutupi kepala dan terkejut melihat Jisoo yang sekarat dengan luka disana-sini.

“Kenapa kau ada disini?” suara serak Jisoo semakin terdengar parau. Dia dekap laki-laki itu dengan erat. Air mata bahagia pun turun dengan sendirinya.

Dia melepas pelukannya dan menatap Jisoo dengan begitu prihatin. “Apa ini sakit? Apa yang telah mereka lakukan padamu? Aku takut begitu tahu kau tidak ada disampingku” gadis itu kembali menangis.

“Maafkan aku, Soo. Sekarang pergilah, jangan pedulikan aku. Kau harus tinggal bersama Ayahmu. Dia akan melindungimu, kau tidak perlu takut lagi pada Kyungsoo”

Sooyong menggeleng. Bukan ini yang ingin dia dengar. “Jangan bicara terus. Sekarang aku akan membawamu kerumah sakit. Setelah ini kau tidak perlu kembali pada Kyungsoo. Aku akan melindungimu. Kau mencintaiku kan? Aku sudah mengakhiri semuanya jadi kau tidak perlu khawatir”  dia tersenyum kemudian memanggil supirnya untuk membawa Jisoo ke rumah sakit.

………………………………………………

Pukul 10 malam HyeRa tiba di kamar. Acara makan malam selesai 30 menit yang lalu. Dia siap untuk tidur. Saat akan beranjak ke tempat tidur, ponsel diatas nakas berdering.

“Yoboseyo”

“Ini aku”

HyeRa terdiam. Dia mengenali suaranya.

“Apa aku mengganggu?”

“Tidak” entah kenapa HyeRa gerogi mendapat panggilan dari ketua kelasnya. Dia memegang dadanya yang sedang berlomba. Kenapa jantungnya berdetak sangat cepat.

“Aku akan mengatakannya langsung jadi kau bisa segera tidur”

“Darimana kau tahu aku akan tidur?”

“Ini sudah malam. Kau pikir apa yang seharusnya dilakukan jika malam sudah mencapai gelapnya? Kau ingin clubbing? Yah~ Meski aku tahu kau sanggup melakukannya”

“Ehem! Aku tidak ingin ribut. Sudah cukup bagiku harus berselisih denganmu di sekolah”

Terdengar tawa kecil diujung sana. Yang memancingnya duluan kan HyeRa. “Aku ingin menyampaikan sesuatu”

“Tentang apa?”

“Kau akan mengetahuinya besok. Baiklah, selamat malam”

HyeRa menunggu Suho menutup telponnya. Mereka sempat saling menunggu sampai akhirnya dengan berat hati Suho mengakhiri panggilannya.

HyeRa berpikir apa yang ingin Suho sampaikan. Apa dia akan menjelaskan betapa bahaya tadi dan memarahinya karena telah terlibat. Padahal dia telah memperingatinya.

Sudah terbayang bagaimana dinginnya tatapan Suho. Wajahnya seketika memerah. Kenapa dia jadi malu hanya dengan memikirkan laki-laki itu?

HyeRa tiduran lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ada apa dengannya. Kenapa tubuhnya bertingkah aneh. Mungkin dia hanya kelelahan. Dia harus segera tidur. Dia pun menutup matanya. Tapi kepalanya terus memikirkan Suho hingga mimpi menyamankan waktu istirahatnya.

***

HyeRa turun dari mobil dan menemukan Suho terduduk didepan mobilnya. Dia menghampiri laki-laki yang diduga tengah menunggunya.

“Bagaimana tidurmu?” tanya Suho ramah begitu HyeRa sampai didepannya.

“Sangat nyenyak” jawab HyeRa seadanya.

“Memikirkanku?” cengirnya yang membuat Suho semakin terlihat tampan.

“Apa yang ingin kau sampaikan?” balasnya jutek.

“Kau tidak bisa diajak bercanda” ekspresi Suho jadi serius.

HyeRa memalingkan muka. Candaan Suho membuat HyeRa malu karena dia benar memikirkannya semalam. Dia tidak mungkin mengakuinya.

“Ikut aku” dia menggenggam tangan HyeRa.

“Kita mau kemana?” tahannya.

“Mengajakmu ketempat yang kau suka”

“Kau mau memarahiku karena aku tidak mendengarkanmu kemarin? Kau bisa mengatakannya disini. Tidak perlu membawaku ketempat aneh lalu menghabisiku disana”

Suho tersenyum miring, “Kau takut?”

“Ya, aku sangat takut”

Suho tidak menyangka HyeRa akan menjawab secepat itu. Ekspresinya juga tidak menujukkan kebohongan. Jadi dia benar-benar takut. Aneh sekali.

Suho mengaitkan jemari mereka. Dia memberikan perasaan nyaman agar HyeRa tidak perlu khawatir. “Aku tidak akan memarahimu. Aku juga tidak akan melakukan hal yang kau khawatirkan. Percaya padaku. Aku hanya ingin membawamu ketempat dimana kita bisa bicara dengan tenang”

Wajah HyeRa melunak mendengar penjelasan Suho yang menenangkan hatinya. Suho tersenyum setelah dilihatnya HyeRa tidak lagi tegang. Mereka mulai berjalan.

Suho dan HyeRa memberikan kejutan kepada seluruh penghuni Genie. Pasalnya, dua manusia yang selalu berdebat kini terlihat akur. Mereka juga bergandengan tangan. Apa Tuhan telah menyentuh hati keduanya.

Xiumin dan Chen melihat Suho dan HyeRa yang melewati mereka. Keduanya membisu. Ada yang baru saja terjadi?

Suho menyombongkan diri didepan Xiumin dan Chen yang dulu mengejeknya karena tidak akan bisa menggenggam tangan HyeRa. Kini dia melakukannya. Tapi ada yang mengganggunya, dia ingin meluruskan hal tersebut lalu menyatakan perasaannya. Dia tidak mau berlama-lama.

Suho membawa HyeRa ke taman belakang. Suho sadar HyeRa menyukai bunga. Dilihat dari kalung yang pernah dia rampas, bandulnya berbentuk matahari. Matahari memberikan kehidupan pada seluruh tumbuhan didunia ini. Dan HyeRa pergi kesini saat dia hukum.

“Duduklah” suruhnya dengan suara lembut. HyeRa menurut. Suho tertawa geli, “Kau sudah besar sekarang”

“Apa maksudmu?” tanyanya sinis. Tubuh sebesar ini bagaimana mungkin dikatakan bayi!

“Kau mendengarkanku dengan baik. Kau tidak berontak sama sekali”

HyeRa menunduk malu, tapi dia segera mengangkat kepalanya lalu menatap bunga yang indah didepannya, “Karena aku percaya padamu” kemudian dia menatap Suho, “Aku sangat berterima kasih kemarin. Melihatmu yang terluka karena menolongku menyentuhku untuk memberimu kesempatan. Dan kau membuktikannya. Kau membawaku ketempat dimana kita bisa bicara dengan tenang”

Suho tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia tersenyum bahagia. Dia duduk disamping HyeRa. Mereka terdiam selama beberapa saat.

HyeRa tidak mengerti. Suho bilang ingin bicara tapi dia diam saja. Akhirnya dia beranikan diri untuk bertanya, “Jadi ada apa?”

“Aku menyukaimu”

Kedua mata itu saling bertemu. HyeRa tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Suho melihatnya dengan jelas. Dia tersenyum manis. “Aku tahu kau menyukai orang lain, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan membuatmu menyukaiku” dia bersimpuh dihadapan HyeRa, dia genggam kedua tangannya. Dia sampaikan semua ini dengan serius. Dia ingin HyeRa merasakan ketulusannya.

“Aku selalu mengganggumu agar aku bisa lebih dekat denganmu. Aku terus mengajakmu bertengkar agar kau terus mengingatku. Aku berusaha walau akhirnya tidak ada kata baik dalam hubungan kita. Jadi aku ingin memulainya sekarang. Aku, menyukaimu”

…………………………………………………….

Kini tidak ada yang mengganggu Sooyong. Kyungsoo bahkan tidak menampakkan diri di sekolah. Saat dia datang, kawanan Kyungsoo menatapnya dengan wajah tak suka. Sooyong sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Dia menyimpan tasnya lalu pergi keluar kelas untuk menghirup udara segar sekalian menunggu kedatangan HyeRa. Dia ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Karena menolongnya, Kyungsoo hampir mencelakainya.

Senyumnya mengembang ketika melihat HyeRa dari kejauhan. Dia berniat memanggilnya namun tak jadi begitu melihat HyeRa tengah berbincang dengan Suho dan keduanya terlihat bahagia.

“Sepertinya mereka” Sooyong tidak melanjutkan kata-katanya saat Suho mengajak HyeRa kearah taman belakang.

………………………………………………………

“Kemarin kau tidak apa-apa? Maafkan aku. Karena menolongku kau hampir saja terluka” saat istirahat Sooyong mengajak HyeRa makan siang bersamanya.

HyeRa menggeleng, “Aku baik-baik saja” jawabnya dengan senyum mengembang. Sooyong menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Ada apa? Berhenti menatapku seperti itu. Kau membuatku merinding”

“Apa kau dan Suho-“

“Tidak” sela HyeRa cepat. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan”

“Memang apa yang aku pikirkan?” tanyanya polos. Segera Hyera mengganti topik. Dia tidak ingin Sooyong menanyainya lebih jauh. Dia hanya bingung harus memulainya dari mana. ” Oh ya, bagaimana dengan Jisoo?”

“Dia baik. Pulang sekolah aku akan menengoknya lagi” mata Sooyong berbinar setiap kali membicarakan Jisoo. HyeRa lega, dia berhasil mengalihkan pembicaraan.

“Syukurlah kalau begitu. Nanti sore aku juga mau menjenguknya”

Sooyong mengangguk lalu menikmati makan siang mereka. “Kau mau mendengarkan lagu?” tawar Sooyong sambil menyerahkan sebelah headset nya. HyeRa mengangguk lalu memasang headset tersebut kesebelah telinganya. Mereka makan sambil mendengarkan musik bersama-sama. Tak mereka pedulikan tatapan aneh orang-orang. Karena pada saat ini, hanya mereka berdua yang bisa merasakan kebahagiaan itu.

……………………………………………………

“Aku sudah mencatat semua materi pelajaran selama kau tidak masuk sekolah. Jadi selama di rumah sakit jangan banyak tidur. Kau harus belajar untuk mengejar ketinggalanmu. Ohya, sebentar lagi ujian jadi kau harus cepat sembuh, Jisoo” Sooyong menaruh beberapa tumpuk buku ke meja disamping tempat Jisoo berbaring.

“Kau tahu Soo, kepalaku selalu pusing setiap melihat buku pelajaran yang menumpuk” laki-laki itu mengeluh sembari mengusap-usap kepalanya.

“Ya! Kau harus banyak belajar. Sebentar lagi kenaikan kelas. Nilaimu bahkan tidak ada yang bagus. Kau tidak mau kan kalau nanti aku jadi seniormu karena kau tidak naik kelas”

“Kalau aku tidak naik kelas kau mau memutuskanku begitu? Huh!” Jisoo cemberut. Dia membuang pandangannya kearah lain membuat Sooyong gemas padanya. Dia raih kedua pipi Jisoo kemudian membelainya lembut.

“Aigoo~ Aku cuma bercanda. Kenapa kau begitu lucu saat cemberut seperti ini. Baiklah, yang penting sekarang adalah kau harus segera sembuh”

“Kapan kau pergi ke Jepang?” pertanyaan Jisoo membuat Sooyong bingung. Dia tidak ingin menjawabnya karena takut membuat Jisoo sedih. Kemudian keduanya terdiam.

“Aku keluar dulu sebentar!” Sooyong berdiri namun Jisoo menahan tangannya. Dia menatap Sooyong lalu menepuk tempat disebelahnya, menyuruh Sooyong untuk mendekat. Dengan ragu Sooyong mendudukkan diri diranjang tersebut. Dia tidak berani menoleh kesamping karena kini dia sibuk mengatur detak jantungnya. Lalu dia merasa kedua tangan Jisoo melingkari perutnya yang rata. “Jisoo”

“Tidak apa-apa kan?” Jisoo memastikan bahwa Sooyong merasa nyaman. Gadis itu mengangguk dengan senyum. Jisoo menaruh kepalanya dibelakang Sooyong. Wangi shampoo Sooyong membius indera penciumannya. Sementara Sooyong terpaku dalam posisinya. Deru nafas Jisoo bahkan bisa dia rasakan dari jarak yang begitu dekat. Sooyong rindu mereka bercengkrama seperti ini. Rasanya hangat dan tidak mau lepas.

Kini dia merasakan tangan kekar Jisoo membelai rambutnya begitu lembut membuat detakan jantungnya bertambah cepat, tapi Sooyong tidak peduli karena dia merasa sangat senang. Dulu Sooyong tidak mau dekat dengan lelaki ini meski hanya sebentar. Tapi sekarang, Sooyong tidak ingin jauh darinya.

“Aku mencintaimu, Soo” begitu Jisoo ingin menciumnya bunyi pintu yang dibuka menyadarkan mereka berdua. Dengan cepat Sooyong menjauhkan diri dari Jisoo dengan melepas paksa lengan kekarnya.

Kepala HyeRa menyembul lalu tersenyum kikuk melihat ekspresi keduanya yang terlihat malu-malu. Pipi Sooyong memerah. “Apa aku datang disaat yang tidak tepat?” dia merasa tidak enak.

“Apa kubilang, jangan terburu-buru” Suho muncul dibelakang HyeRa. Mereka berdua datang menjenguk Jisoo.

“Aku tidak mengajakmu!”

“Lalu aku harus membiarkanmu pergi dengannya? Sudah kubilang aku tidak akan membiarkan kalian bersama!”

“Kenapa kau sangat keras kepala”

“Kau yang tidak mendengarkan orang lain”

“Apa terjadi sesuatu diantara mereka?” tanya Jisoo pada Sooyong.

“Tadi pagi kulihat Suho menggandeng tangannya dan mereka pergi ke taman belakang”

“Tapi mereka terlihat semakin tidak akur” Jisoo jadi pusing mendengar pertengkaran HyeRa dan Suho yang tak berujung.

Sooyong mengambil tindakan, “Suho, HyeRa, ini rumah sakit. Kalian harus tenang”

Mmph!

Suho membekap mulut HyeRa, “Aku sudah membuatnya diam”

HyeRa gigit jari Suho didepan mulutnya.

“Arrrgh!!! Yak!”

“Ssttttttt! Kau harus tenang. Ini rumah sakit” balas HyeRa kemudian menjulurkan lidah.

Suho mengeram gemas. Dia sudah menyatakan perasaannya tapi tidak ada perubahan dalam hubungan mereka. Adu mulut selalu terjadi ketika mereka bersama. Tapi HyeRa mau diantar olehnya, walau dengan sedikit paksaan. Karena Suho tidak mau HyeRa berada dalam satu mobil dengan Hongbin.

HyeRa menghampiri Jisoo lalu bertanya tentang keadaannya. Suho mengikuti HyeRa dibelakang. Dia nampak peduli dengan Jisoo. Dia membawa buah-buahan yang mereka beli dalam perjalanan.

Sooyong menerima pemberian Suho. Dia mengeluarkan sebuah apel. “Kau mau?” tawarnya kepada Jisoo yang dibalas anggukan olehnya. Dia mengambil pisau kecil diatas meja dan dengan lihainya mengupas kulit apel. Setelah itu dia memotong apelnya menjadi beberapa bagian. Dia letakan dipiring kecil. Kemudian dia ambil garpu lalu menyuapi Jisoo.

HyeRa merasa geli, “Apa sebaiknya kami pergi? Aku merasa seperti pengganggu yang diusir secara halus”

“Kau ingin aku suapi juga?”

HyeRa melirik tajam Suho. “Kau sudah gila!” balasnya dengan gerakan mulut.

Dia melihat Jisoo dan Sooyong, “Aku pulang dulu ya. Semoga kau cepat sembuh, Bokdong”

“Terima kasih telah datang menjengukku”

“Ya, lain kali aku akan datang sendiri” balas HyeRa yang terdengar seperti bisikan namun Suho mendengarnya dengan jelas.

“Laporkan padaku jika dia melakukan itu” perintah Suho pada Jisoo.

“Dia bukan anak buahmu” HyeRa memukul lengan Suho sebelum berbalik pergi.

“Apa kau akan terus seperti itu?” tanya Sooyong.

“Dia yang tidak pernah membalasku dengan lembut”

“Terima saja nasib kalian” ucapan Jisoo menusuk hati Suho. Dia tekuk wajahnya karena sebal.

“Aku pergi” pamitnya dingin.

Jisoo dan Sooyong tidak tahu harus berkomentar apa lagi tentang hubungan Suho dan HyeRa. Setelah keduanya menghilang, Jisoo menggenggam tangan Sooyong. Mereka bertatapan lalu saling melempar senyum. Sooyong kembali menyuapi Jisoo. Akhirnya tidak ada lagi yang mengganggu waktu mereka.

……………………………………………….

Suho mengantar HyeRa pulang. Mereka duduk dalam diam. HyeRa masih kesal perihal Suho melarangnya pergi bersama Hongbin. Memangnya dia siapa!

“Aku yang akan mengantar menjemputmu mulai besok”

“Hh, kau jadi pembantuku?” balas HyeRa ketus dengan terus melihat keluar jendela.

“Aku berjaga-jaga agar kau tidak bersamanya”

“Aku punya banyak supir untuk mengantarku”

“Kau aman selama itu bukan dia”

“Kenapa kau mengaturku? Aku tidak-“

“Kalau kau ingin mengatakan kau tidak menyukaiku, jangan lakukan itu”

“Kau sangat menyebalkan” tegas HyeRa dengan penuh penekanan. Mereka telah sampai.

“Aku tidak akan membiarkanmu bersamanya, HyeRa. Aku akan membuatmu menyukaiku!” Suho dan HyeRa saling menatap. HyeRa malas terus didikte laki-laki ini.

“Hongbin-oppa adalah kakak bagiku. Kenapa kau berpikir Oppa akan merebutku darimu? Apa yang kau tahu tentang aku? Kenapa kau bicara seakan kau tahu semuanya! Oppa memberikan perhatian yang tidak diberikan Ibuku karena Ibu lebih menyayangi HyeJin sejak dia lahir. Ibu menginginkan anak laki-laki! Oppa juga menjagaku seperti Ayah yang hanya memberikan materi tanpa peduli aku membutuhkannya atau tidak! Kenapa aku harus menjaga jarak dengan orang yang kuanggap seperti keluargaku sendiri?! Kau mengerti sekarang?” setelah selesai HyeRa keluar lalu menutup pintunya dengan keras. Dia berlari masuk kedalam. Dia sangat kesal.

Suho memukul setir. Dia sangat bodoh. Apa yang sejak tadi dia ucapkan. HyeRa pasti sakit hati. Hongbin bukan pria yang disukai HyeRa, tapi dia dianggap kakak olehnya. Suho salah. Dia menyesal. Dia tidak ingin hubungan mereka kembali buruk. Dia harus memperbaikinya.

……………………………………………….

Malamnya, HyeRa termenung di taman belakang. Dia menatap kosong bunga-bunga didepannya. Dia terus memikirkan perkataan Suho. Ketika laki-laki itu menyatakan perasaannya dan ketakutannya pada Hongbin. Dia itu sangat bodoh!

“Annyeong~” sebuah pot kecil dari bunga matahari muncul didepan wajahnya, “Aku anggota baru di rumah ini, Nona” dia bergerak saat bicara.

HyeRa melihat Hongbin lalu tersenyum, “Oppa” dia menerima potnya.

“Kau selalu menjadi yang pertama tahu anggota baru kita sebelum aku menanamnya”

HyeRa tersenyum lagi lalu menunduk menatap bunga.

“Ada apa, nona?”

“Oppa, terima kasih” dia menatapnya, “Oppa dan Paman Song yang paling mengerti aku. Oppa selalu berada disampingku. Oppa juga peduli padaku. Entah itu karena pekerjaan atau Oppa memang memikirkanku, aku sangat berterima kasih. Aku menyayangi kalian” mata itu selalu menatapnya lembut. Tidak pernah ada kemarahan atau tatapan tidak suka. Dia begitu sabar.

Hongbin mengusap rambut belakang HyeRa dengan lembut, “Aku juga menyayangi nona. Diluar tuntutan pekerjaan, nona adalah adikku yang manis”

Keduanya merasakan hal yang sama. Mereka saling menyalurkan kasih sayang keluarga.

“HyeRa” yang dipanggil menengok. HyeRa berdiri melihat Suho dihalamannya. Hongbin ikut berdiri dan menatapnya.

“Kenapa kau disini?”

“Aku datang untuk meminta maaf” Suho mendekat. Dia menatap Hongbin sebelum mempertemukan matanya dengan HyeRa, “Aku minta maaf karena telah membuatmu tidak nyaman dengan perasaanku. Aku juga berprasangka buruk pada Hongbin-hyung. Maafkan aku”

Hongbin melihat HyeRa tidak mengerti. Tapi HyeRa menunggu Suho menyelesaikan kalimatnya.

“Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Nafasku sesak setiap melihatmu bersama pria lain hingga membuatku gelap mata. Aku tidak berpikir jernih. Aku membuatmu kecewa. HyeRa, maafkan aku. Hyung, maafkan aku”

Hongbin tersenyum, “Aku akan pergi. Kalian bicaralah” sedikitnya dia memahami situasi.

Suho senang Hongbin mengerti keadaannya. Dia merasa lebih leluasa setelah kepergiannya. Dia mempertipis jarak diantara mereka. Dia tatap mata indah HyeRa. “Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku tidak suka jika kau tidak bersamaku. Aku akan berusaha menunjukkan sisi baikku hingga kau tersentuh. Aku akan melakukan apa saja agar kau merasa nyaman bersandar padaku. Aku bersungguh-sungguh, HyeRa. Tolong beri aku kesempatan”

HyeRa tidak mengerti bagaimana perasaannya pada Suho. Dia nampak tenang. Dia berdebar ketika Suho menyatakan perasaannya. Dia juga selalu gugup setiap Suho memandangnya. Apa itu cinta? Dia ingin mencari jawabannya.

HyeRa mengangguk.

“Terima kasih, Ra~yaa” Suho memeluk HyeRa dengan semangat. Jantungnya semakin bergemuruh ketika tubuh mereka bersentuhan. Wajah HyeRa memerah. Dia malu.

Suho memegang pundak HyeRa. Dia tersenyum kecil. Sangat tampan! puji HyeRa dalam hati. Dahinya yang lebar, matanya yang kecil, pipinya yang sedikit bulat, hidungnya yang mancung, dan bibirnya. Kenapa HyeRa jadi mengamati pria ini. Dia semakin malu.

Suho mendekatkan wajah mereka. HyeRa membeku. Laki-laki ini akan!

“Jangan” HyeRa membekap mulut Suho.

Suho bertanya dengan matanya.

“Banyak pelayan yang melihat kita”

Suho raih tangan HyeRa dimulutnya kemudian dia cium. Dia juga memegang kepala HyeRa kemudian mengecup keningnya. “Kita mulai pelan-pelan” keduanya tersenyum.

Suho kembali memeluk HyeRa. Untuk pertama kalinya dia merasa candu kepada seseorang. Sekali memeluk HyeRa membuatmu ingin terus memeluknya. Tubuhnya pas dalam dekapannya. Tinggi mereka juga hanya berbeda beberapa senti. Pasangan yang sangat ideal.

Suho berbisik untuk meyakinkan gadisnya sekali lagi, “Aku mencintaimu, Ra-yaa.”

 

~ tbc ~

One thought on “LOVE KILLER (Part 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s