REMINISCENEnce (Chapter 1)

remis 1

REMINISCENENCE

[Part 1: Rain and Cry]

By Lachaille

Main Cast(s) : Zhang YiXing/ Lay, Heo Yeon Woo/ Jung Shin ||

Genre : Romance, Historical, Supranatural || Lenght : Captered || Rating : General

Disclaimer:

Ini murni ide aku tapi jujur, aku terinspirasi dalam Drama kolosal yang aku tonton, Drama That Moon that Embarces Sun dan Empress Ki. Dua drama yang memberikanku ilham akan cerita ini. Mohon tidak menghakimi dan berikan jejak komen/saran cerita ini.

Thanks a lot.

***

Cinta adalah kenangan yang buruk

Cinta adalah kenangan yang melukai

Kapan semuanya baik-baik saja?

Kapan mentari akan terbit lagi?

Seperti inilah semua bentuk perpisahan itu

*

*

*

Jaman Dinasti Yuan

 

Zhang YiXing salah satu jenderal tertinggi yang mendapat kepercayaan Raja Huizong pada Dinasti Yuan. Dalam peperangan untuk melawan musuh atau menaklukan kerajaan terdekat, Raja Huizong selalu mempercayakannya kepada Jenderal Zhang begitu juga dengan sistem pemerintahan, Raja Huizong selalu meminta pendapat Jenderal Zhang. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu tentang jati diri Jenderal Zhang selain Sang Raja Huizong. Rahasia itu selalu tertutup rapat dengan aman dan tetap menjadi sebuah rahasia.

Raja Huizong selalu menyimpan rahasia itu rapat-rapat, baginya Jenderal Zhang adalah aset berharga bagi Dinasti Yuan. Tapi, semua yang dilakukan Sang Raja adalah hal sia-sia bagi Jenderal Zhang. Bukan tahta atau kekuasaan yang diinginkannya. Hatinya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa memberinya kehangatan hati. Hati yang telah lama mati beratus tahun yang lalu.

Dan, semuanya berubah menjadi seperti harapan Jenderal Zhang saat dia datang memasuki istana. Gadis cantik yang penuh dengan ketulusan hati, yang mampu menggerakkan hati Jenderal Zhang yang telah lama mati. Heo Yeon Woo, adik dari Sarjana terbaik dan termuda pada masa Pemerintahan Raja Huizong, Sarjana Heo Yeon Sung dari Goryeo.

“Apa yang sedang kau lakukan disini, Nona?” tanya Jenderal Zhang saat pertama kali bertemu dengan Heo Yeon Woo.

Dengan keanggunannya, Heo Yeon Woo menatap Jenderal Zhang, dia menggangkat tangannya dan menunjuk pada sebuah sarang burung yang ada di pohon yang daunnya sudah mulai menggugur. “Aku melihatnya,”

“Lantas?”

“Tidak ada, Tuan. Maafkan aku,” jawab Heo Yeon Woo sopan dan memberikan hormat sebelum dia pergi meninggalkan Jenderal Zhang.

“Tunggu sebentar!” cegah Jenderal Zhang, hal itu membuat Heo Yeon Woo menggurungkan niatnya untuk melangkah pergi, “Siapa kau? Bagaimana bisa kau masuk ke dalam istana?”

“Saya datang bersama Ibu untuk melihat penobatan Kakak saya menjadi Sarjana disini,” jawab Heo Yeon Woo sopan.

“Siapa dia?”

“Heo Yeon Sung,” jawab Heo Yeon Woo, “Saya pamit, Tuan,” dan diapun melangkah pergi meninggalkan Jenderal Zhang sendiri.

Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidup Jenderal Zhang, dia bisa merasakan wewangian bunga sakura yang tumbuh di musim dingin seperti ini.

 

 

“Jenderal Zhang, aku membutuhkan pendapatmu tentang menggangkat seorang selir dari kaum bangsawan,” ucap Raja Huizong di atas singasanannya.

“Tentu, Yang Mulai,” sahut Jenderal Zhang hormat.

“Ibu Suri memberiku beberapa kandidat Selir terbaik. Putri Menteri Keuangan, Menteri Wang, Putri Menteri Pertahanan, Menteri Hwang dan Putri Sarjana terbaik dari Goryeo, Sarjana Heo. Mana menurutnya yang terbaik?”

“Hamba tidak tahu, Yang Mulai. Tapi, akan lebih baik jika mereka untuk datang kemari dan mendapatkan pendidikan dasar dari Ibu Suri dan Permaisuri untuk melihat sejauh mana pendidikan mereka,” jawab Jenderal Zhang, Raja Huizong hanya termangguk-mangguk untuk mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Jenderalnya.

“Tapi, Permaisuri terlihat tidak menyukai usulan Ibu Suri untuk mendapatkan Selir,”

“Lalu? Apa Anda akan mengabaikan ketidaksetujuan Permaisuri?”

“Aku menerima usulan mencari selir dari Ibu Suri untuk mendapatkan pewaris tahta-ku kelak,” ucap Raja Huizong dengan tatapan yang menerawang, hati Raja Huizong terluka mengingat dirinya yang telah menikah dengan Permaisuri cukup lama masih belum mendapatkan pewaris tahta kerajaannya dari Permaisuri-nya. Raja Huizong tahu apa resiko yang akan didapatkan dirinya jika dia menerima usulan dari Ibu Suri untuk menggangkat seorang selir, Sang Permaisuri akan sakit hati dan ketidaksetujuannya mungkin akan merenggangkan hubungan yang selama ini mereka jalin dengan ketulusan.

“Anda akan tetap melakukannya?”

“Tentu saja,” jawab Raja Huizong, “Segera kirim surat untuk ketiganya untuk mendatangi istana,”

“Baik, Yang Mulai,” sahut Jenderal Zhang patuh.

.

.

.

Hari-hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, ketiga putri dari para penjabat yang terpilih telah datang ke istana dengan tandu-tandu mereka. Mereka akan berkunjung ke istana dari pagi hingga menjelang sore hari selama satu minggu, seperti yang diperintahkan oleh Sang Raja. Para putri penjabat akan menemui Sang Ibu Suri Raja dan Permaisuri terlebih dahulu untuk memberikan hormat setelahnya mereka akan mendapat pendidikan dasar istana dari dayang-dayang senior yang berpengalaman.

“Aku Putri dari Menteri Pertahanan Hwang Li Zian,” ucap Hwang Li Zian yang hari ini memakai pakaian sutra terbaik berwarna merah muda menyala dengan corak bunga-bunga segar.

“Aku Hwan Zhou Fei, Putri Menteri Keuangan,” ucap Hwang Zhou Fei dengan nada lirihnya.

“Aku Heo Yeon Woo, Putri dari Sarjana Heo,” ucap Heo Yeon Woo lembut dan memberikan hormat untuk kedua putri Menteri.

“Kau dari Goryeo?” cemoh Hwang Li Zian.

“Ya, Nona Hwang,” jawab Heo Yeon Woo sopan.

“Putri-putri, Anda telah datang semua,” ucap seorang dayang senior yang memberi hormat kepada mereka dan mulai memberikan pendidikan dasar di istana.

 

Tak terasa, hari ini adalah hari ke enam mereka berada di istana sebelum esok pengumuman siapakah yang akan menjadi selir bagi sang Raja Huizong. Heo Yeon Woo hanya duduk pada sebuah batu besar yang menghadap istana kecil yang digunakan untuk mengajarkan pendidikan dasar bagi mereka bertiga.

“Apa yang sedang Anda lakukan disini Putri?” tanya Jenderal Zhang yang tanpa sengaja dia melihat Heo Yeon hanya duduk diam di batu besar.

“Anda? Ehm~ Tidak ada,” jawab Heo Yeon Woo.

“Apa Anda gugup menunggu pengumuman Raja atau Anda gugup untuk menemui Raja?”

“Tidak dua-duanya,”

“Lantas?”

“Saya tidak ingin terpilih menjadi seorang selir Raja,” jawab Heo Yeon Woo lirih.

“Apa yang membuat Anda tak mengginginkannya? Para Putri menteri berlomba-lomba untuk mendapatkannya,” ujar Jenderal Zhang penasaran.

“Untuk apa kekuasaan? Mereka tidak akan kekal. Saya hanya ingin berada di luar sana, bisa membantu menolong seseorang yang benar-benar membutuhkan saya. Di Istana penuh dengan kompetisi untuk mendapatkan kekuasaan. Setelah mendapatkannya, apa akan mendapatkan ketenangan? Tentu saja tidak, Tuan,” jawab Heo Yeon Woo panjang lebar.

“Anda ingin bebas, Putri?”

“Setidaknya, Iya,” jawab Heo Yeon Woo lirih. “Putri Menteri Keuangan telah meninggal, akibat kematiannya pun masih tak diketahui apakah itu perbuatan mereka atau karena ilmu hitam? Tidak ada yang tahu,”

“Apa Anda takut?”

“Tidak,” jawab Heo Yeon Woo mantap.

“Inilah istana, Putri. Akan ada banyak intrik dan perebutan. Yang perlu kau lakukan adalah mempertahankan posisimu dan mendapatkan cinta dari Sang Raja,”

“Aku tak membutuhkan itu,”

“Aku menggerti,” sahut Jenderal Zhang yang menatap lekat-lekat wajah Heo Yeon Woo. “Saya permisi,”

Heo Yeon Woo hanya mengganggukkan kepala dan kembali menghela napas berat. Dia benar-benar tak ingin berada disini. Dia tak membutuhkan istana dan kekuasaannya. Dia hanya ingin bebas di luar untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.

“Putri, Anda berada disini! Anda harus bergegas menuju Istana Raja,” ucap dayang istana dengan raut wajahnya yang gelisah. Heo Yeon Woo segera bangkit dari duduknya dan akan melompat dari batu besar itu, “Mohon berhati-hati, Putri!”

“Iya,” jawab Heo Yeon Woo dan kemudian dia telah berhasil melompatinya, mendarat dengan mulus di tanah. Dayang istana segera membersihkan baju terbaiknya yang sedikit kotor dan merapikannya.

“Mari Putri!” ucapnya yang telah selesai membersihkan dan merapikan pakaiannya.

Saat dia baru sampai di Istana Raja, Hwang Li Zian baru saja keluar dari Istana Raja dengan wajah sombongnya, dia berhenti di samping Heo Yeon Woo, “Kau tidak akan mungkin terpilih,”

“Saya tahu itu, Putri,” sahut Heo Yeon Woo lembut dan memberikan anggukan hormat sebelum dia masuk ke dalam istana Raja.

Seorang Kasim yang berada di luar berteriak melihat dirinya dan rombongan dayangnya yang baru datang untuk memberiatahu kedatangannya. Setelah mendapat persetujuan Raja, Kasim itu menggantar Heo Yeon Woo masuk dan duduk di sebuah ruangan yang cukup luas. Dia duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruangan itu dengan meja bundar berwarna hijau yang dibagian tengahnya penuh dengan ukiran dan hiasan bunga sakura yang begitu indah. Dua dayang datang dengan membawa minuman untuknya –teh krisan yang memang ciri khas dari keluarga Raja Huizong. Heo Yeon Woo baru menyadari jika didepannya ada sebuah sekat putih dari kain yang memisahkannya dengan Sang Raja.

“Selamat datang di istanaku, Putri Heo Yeon Woo,” sapa Raja Huizong sopan.

“Terimakasih, Yang Mulai,” sahut Heo Yeon Woo sopan.

Tanpa basa-basi, rajapun mulai menanyai sang putri sarjana yang menurut rumor dia juga termasuk putri yang pintar dan penuh dengan sikap leluhurnya. Raja Huizong ingin menggetes tingkat wawasan yang dimilikinya dan raja terkagum akan fakta tentang rumor itu. Gadis cantik yang penuh dengan wawasan dan berbudi luhur.

“Terimakasih atas pujian dari Anda Yang Mulai,” ucap Heo Yeon Woo setelah mendapatkan bertubi-tubi pujian dari Raja Huizong.

“Senang bisa berbicara banyak denganmu, Putri Heo,” sahut Raja Huizong puas dan Heo Yeon Woo hanya memberinya hormat penuh kesopanan.

.

.

.

Setelah terpilihnya Selir untuk Raja Huizong yang secara kebetulan Ibu Suri juga menyukai putri Sang Sarja terbaik dari Goryeo. Heo Yeon Woo mulai berlatih untuk upacara pernikahannya. Raja Huizong juga telah memberinya sebuah Paviliun yang tak kalah indah dengan milik Sang Permaisuri. Berbagai gosip pun menyebar bak wabah penyakit yang menyakini jika Heo Yeon Woo akan menjadi kesayangan Raja Huizong dan akan menendang Permaisuri dari posisinya.

Berbagai rasa iri dan dendam membalut dan mendarah daging pada tubuh manusia yang penuh dengan kedengkian hati. Permaisuri pun melakukan konspirasi dengan Menteri Pertahanan Hwang untuk menyingkirkan Heo Yeon Woo dan menjadikan Hwang Li Zian menjadi Selir Raja. Untuk melancarkan rencananya, Menteri Hwang memerintahkan seorang Shaman terhebat dari Goryeo untuk membunuh Heo Yeon Woo secara perlahan.

“Persembahannya adalah gadis perawan,” ucap Shaman wanita itu.

“Dialah persembahannya,” ucap Permaisuri sambil menunjuk Hwang Li Zian yang duduk di sebuah tempat lingkaran dengan pakaian hitamnya yang polos tanpa adanya corak-corak bunga.

“Mohon untuk mengkonsentrasikan diri dalam tujuan Anda, Putri,” ucap Shaman itu pada Hwang Li Zian.

“Tentu saja,” ucap Hwang Li Zian penuh dengan kepercayaan diri.

Shaman itupun mulai merapalkan matranya dan sebuah asap hitam keluar menuju Paviliun Heo Yeon Woo, mencekiknya sebelum masuk ke dalam raganya.

“To-To… Da-yaa…” Heo Yeon Woo mencoba untuk meraih pintu paviliunnya, berharap Dayangnya yang berjaga diluar bisa datang membantunya.

Keesok harinya, Dayang Istana begitu terkejut melihat Heo Yeon Woo yang tergeletak tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat pasih dan demam yang cukup tinggi. Dokter Istana pun telah memeriksanya, tak ada satupun penyakit yang diketahui oleh Dokter Istana hingga sebuah perintah telah diputuskan oleh Sang Raja. Heo Yeon Woo akan di pulangkan ke kediamanannya untuk berjaga-jaga agar penyakitnya tidak menular pada anggota Keluarga Kerajaan.

.

.

.

“Tuan?” ucap Heo Yeon Woo lirih saat malam hari yang gelap gulita, dia melihat Jenderal Zhang yang duduk di sampingnya dengan pakaian bangsawan –bukan pakaian istananya sebagai Jenderal Raja. “Apa yang Anda lakukan disini?” tanya Heo Yeon Woo lirih, dia sebenarnya begitu lemah, untuk berbicara saja dia benar-benar membutuhkan tenaga yang cukup besar.

“Aku ingin menemuimu, Heo Yeon Woo,” jawab Jenderal Zhang setelah dia cukup lama. “Aku mendengar berita jika kau di kembalikan kembali ke kediamanmu,”

“Karena itukah, Anda…”

“Ya. Aku mengkhawatirkanmu,”

Heo Yeon Woo tertawa lirih, cukup lirih untuk didengar. “Apa saya sudah digantikan?”

“Aku tidak tahu, tapi kemungkinannya begitu,” jawab Jenderal Zhang.

“Terimakasih,” ucap Heo Yeon Woo lirih dengan air mata yang menetes keluar.

Jenderal Zhang segera menghapusnya dengan jarinya, “Cepatlah sembuh!”

“Saya… Ayah akan memberiku obat dan membuatku tertidur, Tuan,” ucap Heo Yeon Woo.

“Kau akan sembuh,” ucap Jenderal Zhang lirih dan menggenggam tangan kiri Heo Yeon Woo dengan lembut. “Kau akan sembuh dan aku berjanji akan menemanimu membaca buku apa saja yang kau inginkan,”

Heo Yeon Woo kembali menitihkan air matanya saat menatap Jenderal Zhang, “Anda begitu baik dan Anda juga sangat sulit untuk saya gapai, Tuan,”

“Yeon Woo…”

“Terimakasih untuk segalanya dan maafkan aku jika Anda tidak bisa menemaniku, Tuan,” ucap Heo Yeon Woo sangat lirih.

Jenderal Zhang segera menggeluarkan sesuatu dari baju depannya, sebuah tusuk konde dengan sebuah naga dengan dua bola berwarna merah dan putih abu-abu, Jenderal Zhang memberikannya ke dalam genggaman Heo Yeon Woo, “Aku melihat wanita-wanita Goryeo memakai tusuk konde setelah mereka menikah,” ucap Jenderal Zhang.

“Tu-tuan…”

“Jika kau sembuh, aku berjanji akan menikahimu,”

“Anda…”

“Aku akan meninggalkan segala kekuasaanku untuk bersamamu, meskipun itu adalah nyawaku, aku akan memberikannya,” ujar Jenderal Zhang sambil memegang tangan Heo Yeon Woo yang menggenggam tusuk konde pemberiannya.

“Tuan… Terimakasih untuk segalanya dan perasaanmu untukku,” ucap Heo Yeon Woo. “Dilain kehidupan, aku akan menjaga hatimu,” gumam Heo Yeon Woo lirih.

Jenderal Zhang hanya menggaggukkan kepala lirih dengan wajah tak bisa dipungkiri betapa sedih dan hancurnya dia. “Aku, Aku memiliki perasaan ini saat pertama kali kita bertemu,”

“Begitu juga dengan saya, Tuan,” sahut Heo Yeon Woo lirih.

“Sembuhlah!” pinta Jenderal Zhang dan Heo Yeon Woo hanya mengganggukkan kepala lirih.

“Cepatlah pergi! Ayah akan segera datang,” suruh Heo Yeon Woo lembut dan Jenderal Zhang dengan cepat melesat pergi meninggalkan kamar Heo Yeon Woo.

Tak lama kemudian, Sarjana Heo datang dengan sebuah nampan dengan mangkuk putih yang berisi obat yang sudah dia campuri racun, “Yeon Woo, minum obat ini. Mungkin rasanya pahit tapi ini akan membantumu melepas semua rasa sakitmu,”

Heo Yeon Woo hanya mengganggukkan kepala lemah dan Sarjana Heo segera menggangkat tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Dengan hati-hati, dia meminumkan obat itu. “Apa pahit?”

“Sangat pahit, Ayah,” jawab Heo Yeon Woo yang lemah dan tubuhnya mulai terasa lemah dan kebas.

“Maafkan ayah, ayah akan menyusulmu nanti, nak. Kau tahu betapa ayah mencintaimu?”

“Aku tahu ayah. Aku menggerti,”  jawab Heo Yeon Woo, serta merta, Sarjana Heo memeluk tubuh putrinya yang semkain lemah.

“Yeon –,” Heo Yeon Woo segera menghentikan gerakan Sarjana Heo untuk menggeluarkan tusuk konde yang sengaja dia simpan di balik bajunya.

“Ayah, biarkan aku membawanya pergi. Hanya ini yang kuinginkan,” pinta Heo Yeon Woo lirih.

“Tentu. Tentu apapun itu yang kau inginkan,” sahut Sarjana Heo yang terisak.

“Aku menggantuk ayah, biarkan aku tidur dipelukan Ayah –,”

Sarjana Heo hanya mengganggukkan kepala dan memeluk lebih erat tubuh putrinya. Isakan tangisnya mulai menjadi saat dia tak merasakan deru napas ataupun detak jantung putrinya. Heo Yeon Woo telah pergi meninggalkan segalanya. Impiannya. Ketulusannya. Senyumannya. Kelembutannya. Cinta dan hatinya.

.

.

.

Jenderal Zhang murka akan kepergian Heo Yeon Woo, dia menyalahkan segalanya yang terjadi pada Raja Huizong dan seperti sifat-sifat manusia lainnya, Raja Huizong tak ingin disalahkan atas segala yang terjadi. Kemurkaan Jenderal Zhang tak bisa terelakkan lagi. Pembatain berdarah pun terjadi, dengan mata kepalanya sendiri Raja Huizong melihat kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari mata Jenderal Zhang saat membantai keluarga Istana dan para penghuni istana lainnya, tak luput juga Jenderal Zhang membunuh Raja Huizong sebagai pembantaian terakhirnya dalam rintikan hujan, Heo Yeon Woo-nya melihat semua yang dia lakukan atas kemarahan yang ia lampiaskan.

Untuk pertama kalinya, Jenderal Zhang menunjukkan jati dirinya pada halayak dan kemudian membantainya. Menghisap darahnya dan menjadikan beberapa dari mereka seperti dirinya, menjadikan mereka kaumnya –Sang Vampir.

 

 

P.S :

Banyak hal yang aku ganti disini meski udah riset historical ceritanya, karena emang aku buat beda sih cuman masih megang beberapa tokoh yang memang ada di historicalnya (ga semua juga). Semoga kalian suka. Thank you udah mau buang-buang waktu buat baca cerita aku 😀

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s