Solar Twins (Chapter 2)

Solar Twins

Judul              : Solar Twins Chapter 1

Author            : parkhyera (AFF: parkhyera)

Genre             : family, angst, drama.

Length            : Chaptered

Rating             : 15+

Main cast        :

  1. Kim Jong In
  2. Park Hyera (OC)

Supporting Cast:

  1. EXO Member
  2. And many more

 

Disclaimer      : FF ini murni milik saya. Kesamaan ide cerita murni kebetulan belaka. FF terinspirasi oleh novel barat berjudul ‘Crossfire series’. Saya menghargai setiap komentar. Baik dari kritik dan saran akan saya tampung. FF ini sudah saya post di Asianfanfics dengan judul yang sama. Terima kasih ^^

 

 

“Aku pulang..”, ucapku lemah.

Ketika aku masuk ke dalam apartement, ibuku menyambutku dengan wajah bangun tidurnya. Ibuku sedang menonton televisi sambil mengecap camilan yang ibu beli beberapa hari yang lalu.

“Selamat datang..”, ucapnya menoleh padaku. Namun kemudian matanya tertambat pada televisi lagi. Pasti sedang menonton drama itu lagi, batinku.

Aku langsung menuju dapur dan mengambil air putih. Kejadian di taman masih membuatku shock. Aku tak menghiraukan ibuku dan langsung masuk ke dalam kamar. Kututup dan kukunci pintu rapat.

Punggungku bersandar pada daun pintu. Air mata menetes lagi namun tak ada suara isakan yang keluar dari bibirku. Membayangkan ibuku seorang.. Ah bahkan menyebutnya saja lidahku sudah kelu. Aku tak percaya. Ibuku..

Tidak! Belum tentu itu benar! Bisa saja itu semua hanya rekayasa Kris. Bisa saja dia dendam padaku dan membalasnya dengan perbuatan ini. Iya benar. Ini semua hanya rekayasa Kris!

Kuambil ponselku dan mengetik nama “Kris” di layar. Kutempelkan ponsel di telingaku. Air mata yang menetes telah kuhapus. Terdengar nada dering yang menandakan dia mengaktifkan ponselnya.

“Hello, babe”, angkatnya.

Kris.. Aku sungguh ingin menendang wajahmu saat ini.

“Why, babe?”, ucapnya lagi. Kuatur nafasku agar tidak tampak emosi.

“Kris.. Kumohon hentikan semua ini..”, ucapku memohon.

“Hentikan apa, babe hmm?”, balasnya menggodaku.

Aku benci ketika dia menyebutku dengan sebutan itu. Babe.. Kurasa hampir seluruh wanita yang dia dekati dia sebut dengan babe. Membuatku merasa murahan.

“Rumor itu dan foto palsu itu. Jika ini caramu balas dendam, tolong jangan seret nama ibuku! Cukup aku, Kris!”, balasku sedikit membentak.

“Bagaimana jika itu bukan rumor dan foto itu adalah asli?”, ujarnya santai.

“…”

“Coba kau tanyakan ibumu apa yang dia lakukan setiap malam di bar. Okay, babe?”

Pembohong..

Kris berusaha balas dendam padaku. Kris mengejarku seperti anak anjing selama tiga tahun ini. Kuakui Kris baik padaku, namun dia juga melakukan hal yang sama pada Hyuna, Gyuri, Chaeyeon dan hampir sepuluh perempuan cantik lainnya. Bahkan guru kimia kami, Mrs. Bae Suzy juga menjadi sasarannya. Seluruh perempuan cantik itu pernah menjadi teman dekatnya bahkan menjadi pacarnya.

Tidak denganku sayangnya. Aku tahu bahwa kebaikannya tidaklah tulus. Ditambah lagi usahanya gagal karena aku menyukai Luhan, bukan dia. Luhan baik dan hanya menyukaiku. Kris tidak menyerah agar bisa mendapatkanku. Aku yakin seluruh rumor ini ia ciptakan agar Luhan membenciku.

“Babe..”, suaranya menyadarkanku..

 

Klik

 

Aku memutus panggilan tersebut. Suaranya begitu terngiang di otakku. Bagaimana jika dia benar? Kris tidak pernah bertindak sejauh ini sebelumnya. Dan foto itu terasa begitu sangat nyata. Dalam foto itu begitu jelas tubuh wanita yang mirip ibuku yang tak berbalut busana sedang dipeluk Kris di ranjang. Walaupun dalam foto itu wanita yang mirip ibuku itu sedang menutup matanya – tertidur – namun itu sangat mirip.

Coba kau tanyakan ibumu apa yang dia lakukan setiap malam di bar.

Bagaimana jika seluruhnya adalah benar? Apa yang selanjutnya harus kulakukan?

 

Pukul lima sore aku keluar dari kamar. Kulihat ibu sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Kuperhatikan gerak-geriknya. Ibu memakai kaos berwarna hitam berlengan pendek dan memakai rok pensil selutut. Tak ada yang salah menurutku.

Wajahnya dipoles secukupnya dengan bedak sewarna kulitnya yang pucat. Bibirnya yang berwarna merah jambu dipoles dengan lipstik merah maroon. Matanya diberi eyeliner tipis namun elegan. Tak ada yang salah menurutku.

Ibuku jauh dari kesan seorang pelacur.

Kusandarkan tubuhku di dinding sehingga membuat ibu menyadari kehadiranku. Masih menatap gerak-gerik ibuku yang memasukkan segala kebutuhannya bekerja: bedak, lipstik, eyeliner, ponsel, dompet, kaca, pakaian ganti dan sebuah bungkusan berwarna hitam. Hmm.. Aku tak pernah tau isi bungkusan itu.

“Hey, kau sudah bangun? Ibu akan berangkat. Makan malamnya sudah ibu siapkan. Jangan lupa makan, hm?”, ucapnya padaku.

Aku berjalan menuju dapur dan membuka panci berisi makanan. Ibu memasak sup ikan untukku. Bukan makanan kesukaanku tapi aku akan tetap lahap memakannya.

Ibu mendekat padaku dan mencium kedua pipiku. Kebiasaannya sebelum berangkat. Bukan budaya kami. Ibu terlalu banyak menyerap kebudayaan Barat.

“Ibu berangkat dulu.. Bye”

“Tunggu..”, ucapku sambil memegang lengan ibuku.

 

Coba kau tanyakan ibumu apa yang dia lakukan setiap malam di bar. Kata-kata Kris terus terngiang di kepalaku. Bagaimana jika seluruhnya benar?

 

“Apa yang ibu lakukan di bar?”, ucapku terus terang.

Ibu mengernyitkan dahinya.

“Kau bertanya apa yang ibu lakukan? Ada apa, darl?”, ucapnya.

Aku terdiam. Masih menatap wajah yang mirip sekali denganku. Seakan aku sedang berkaca.

“Tentu ibu bekerja, darl..”, ucapnya lagi sambil merapikan rambutku ke belakang telingaku.

“Apa yang ibu lakukan di bar?”, ucapku sama.

“Ibu bekerja, darl. Kau tahu kan apa yang dilakukan seorang pramusaji seperti ibu?”, ucapnya.

Ibu pernah mengajakku ke tempat kerjanya hingga usiaku sepuluh tahun. Ketika lewat tengah malam, aku dengan sendirinya akan tertidur di sofa ruang pegawai. Usiaku sebelas tahun saat ibu meninggalkanku sendiri dirumah saat ibu bekerja. Aku sudah cukup besar, kata ibu saat itu.

“Ada apa? Apa yang mengusikmu?”, tanyanya khawatir.

Khawatir dengan keadaanku. Atau malah khawatir jika pekerjaannya yang sebenarnya terungkap. Aku tidak yakin.

“Kris bilang ibu adalah.. em.. bisa disewa.”, ucapku. Percayalah bahwa ketika kuucapkan kata tersebut, tenggorokanku terasa begitu sakit. Aku tak sanggup untuk mengatakan kata pelacur.

Apa yang sudah kau lakukan, Park Hyera?! Mengapa kau begitu meragukan ibumu? Ibumu adalah orang yang baik!

Seketika mata ibu tak tenang. Senyumnya yang sedari tadi tersungging hilang. Nafasnya memburu.

“Tidak.. Itu tidak benar, darl.. Sudah ya.. Ibu nanti terlambat. Sampai jumpa besok..”, ucapnya.

 

Bohong.

 

Ibu segera keluar dari apartement dan menutup pintu. Menyisakan diriku yang tertunduk. Ada sengatan tajam di ulu hatiku. Bohong.. Ibu telah berbohong padaku. Ibu akan selalu mengalihkan pandangan matanya ketika berbohong. Matanya tidak tenang. Oh Tuhan..

Tubuhku merosot begitu saja setelah ibu hilang dari pandanganku. Membayangkan ibu menjual dirinya begitu menyakitkan. Ibuku.. Orang yang selama ini kupikir paling baik di dunia ini, ternyata tidak sebaik yang aku pikirkan. Ibuku..

 

Dibantu dengan masker dan kupluk hitam, aku melangkah ke dalam bar tempat ibuku bekerja. Tak mau berasumsi lebih jauh lagi dan mencari fakta. Waktu menunjukkan pukul 12 malam sehingga banyak dari pengunjung sudah mabuk dan tak menyadari keanehanku. Aku memilih duduk di ujung bar sambil mengamati gerak-gerik ibuku yang mengantar minuman ke pelanggan.

Hingga pukul 1 dini hari, masih tak ada yang aneh. Kerumunan pelanggan mulai sepi. Banyak yang dari mereka juga tertunduk  – mabuk −. Pekerjaan ibu mulai senggang. Kulihat bahwa ibu hanya duduk di balik meja seraya memperhatikan wajah-wajah para pelanggan yang masih bertahan. Aku bisa melihat tatapan kosong ibu. Mungkin masih memikirkan apa yang tadi kutanyakan.

Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari ketika ada seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan bertatto dengan usia sekitar 50 tahunan menghampiri ibuku. Lelaki itu bercakap-cakap dengan ibu. Tak lama, seorang lelaki bertubuh tinggi dan cukup atletis menghampiri mereka. Kupincingkan mataku untuk memperjelas penglihatanku. Lelaki bertubuh atletis itu merangkul pinggang ibuku dan mencium bibir ibuku.

Tak ada reaksi penolakan dari ibuku.

Aku masih terdiam.

Tidak.. Semua ini tidak benar, kan? Ini semua hanya halusinasiku saja, kan?

Lelaki bertubuh tinggi besar dan bertatto kemudian pergi meninggalkan ibu dengan lelaki bertubuh atletis tersebut. Tak lama, ibu dan lelaki tersebut naik ke lantai dua melewati sebuah tangga yang bertuliskan ‘staff only’.

Aku segera bergerak mengikuti kemana mereka pergi. Keadaan sekitar yang mulai sepi mendukung gerak-gerikku untuk mengikuti mereka. Setelah naik melewati tangga, aku bisa melihat mereka berdua masuk ke dalam sebuah kamar.

Untuk sepersekian detik duniaku seperti berhenti. Jantungku begitu kencang berdebar. Tubuhku kaku. Kakiku enggan melangkah.

Suara-suara desahan mulai menggema. Terkutuklah ruangan tersebut yang tidak dilengkapi dengan peredam suara. Aku bisa mendengar jelas suara-suara nista tersebut. Kalian mungkin bisa mengelak bahwa itu suara orang lain mengingat ada 3 kamar di lantai ini. Namun aku mengenali suara itu. Suara itu.. milik ibuku.

Air mata tak bisa kusembunyikan ketika aku menyadari suara mendayu-dayu itu adalah suara ibuku. Ibuku yang baik, yang lembut dan berhati hangat ternyata..

 

Seorang pelacur.

 

4 thoughts on “Solar Twins (Chapter 2)

  1. Author aku suka nih ffnya ya tuhan kalo aku punya ibu kaya gitu bakal kabur dari rumah seorang ibu yg jadi panutan malah kaya gitu jadi pelacur gimana kalo anaknya tau pasti malu bgt . Disini jongin belum keluar ya thor pasti tambah seru deh . Semangat thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s