Valeria

IMG_20150829_101430

Author : Cardova @zhayrapiverz

Cast : Oh Sehun and Song Jiyeon

Length : Oneshoot

Genre : Romance, Friendship, Hurt

Rating : T, G

Beautiful Cover by : Chenistry^^

 

Jiyeon selalu tampak cantik seperti mahkota Valeria merah. Disaat kisahnya hanya menyisahkan nama, ia akan tetap ada seperti Valeria perdu manhun yang merambat di hatiku~ Oh Sehun

 

Yonsei SHS, Seoul

23 August 2015

06.30 KST

Sehun terduduk pada pojokan kelas seorang diri dengan pandangan mata sebening kristal menerawang keluar jendela. Terlarut dalam dunia miliknya sendiri tanpa memperdulikan keadaan sekitar bahkan ke eksistensisan Luhan, Chanyeol, Kai, Baekhyun dan Suho sang ketua kelas yang begitu ingin menjadi chairmatenya -Mereka berdiri di kejauhan menatap iba Oh Sehun yang terdiam. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja sikap pendiam dan tertutup Sehun benar-benar mengerikan bagi orang lain. Ia tidak mengizinkan siapapun untuk singgah kembali disampingnya setelah kepergian Song Jiyeon ke haribaan sang pencipta.

Seorang gadis manis berlensa coklat bersurai lurus sepunggung yang menjadi wanita paling berpengaruh pada hidupnya.

Bagaimana bisa demikian?

Jiyeon adalah kekasih Sehun selama hampir lima tahun terakhir. Mereka telah melalui banyak hal bersama dalam suka dan duka, tangis dan tawa, masa-masa hangat dan jenuh telah mereka lampui bersama-sama bahkan jika saja ia memiliki keberanian cukup, Sehun akan menikahi Jiyeon saat mereka kuliah nanti. Memiliki dua anak namja dan yeoja yang lucu-lucu, tampan dan cantik seperti mereka.

Impian masa depan Sehun dan Jiyeon…

Terdengar konyol ketika kita mendengarkan impian mereka tetapi merekapun telah bersama-sama mengiyakan hal ini untuk diwujudkan dimasa depan.

 

Sayangnya hal itu menjadi mimpi, Hanya menjadi impian masa lalu Sehun dan Jiyeon karena mereka nyatanya tidak ditakdirkan bersama lebih lama lagi. Sehun harus kembali melanjutkan kehidupannya seorang diri seperti lima tahun lalu Tanpa Jiyeon, Tanpa senyum menawan gadis itu. Tanpa suara, sentuhan dan kecupan dari Jiyeon yang begitu Sehun cintai.

 

Sehun selalu bersedih tiap kali memikirkan hal ini. Bagaimana dering alarm dipagi harinya tidak akan terdengar kembali. Dahulu Jiyeon selalu menelpon setiap pagi demi membangunkan Sehun yang penyakit akutnya malas bangun pagi -Sehingga tiap pagipun Sehun selalu terbiasa menunggu sapaan manis Jiyeon yang sebenarnya selalu mengomel, terkadang Jiyeon juga mendapat request menyanyi mendadak dari Sehun yang kebetulan sudah bangun.

 

Jiyeon adalah tipe gadis yang banyak mengatur -mengatur Sehun dalam hal baik seperti jangan lupa makan, jangan lupa belajar, jangan lupa untuk berolah raga, jangan terlalu tidur malam dan sebagainya dan sebagainya, sangat melengkapi sifat cuek milik Sehun.

 

Jiyeon adalah orang pertama yang akan menyadari perubahan mood Sehun kalau-kalau pria tampan jakung itu sedang banyak diam dan melamun, jurus jitu yang selalu dikeluarkan Jiyeon adalah membawakan makanan favorit Sehun seperti jeli, coklat, pasta atau membawa Sehun ke atas bukit, gunung atau segala tempat tinggi dimana Sehun bisa berteriak sekeras yang ia bisa demi meluapkan segala hal yang mengganjal pada hati maupun pikirannya.

Setelah Sehun telah menumpahkan perasaannya, Jiyeon selalu berdiri disamping Sehun lantas memeluknya dengan erat, memberikan sebuah kekuatan “Kau tidak pernah sendiri Sehunnie sayang, kau selalu dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintai dan mempedulikanmu…jangan pernah merasa sakit sendirian, aku selalu siap menjadi tempat membagi lelahmu..” dan setelah itu perlahan namun pasti suasana hati Sehun kembali membaik, Sehun kembali tersenyun dan menjalankan segala rutinitas seperti biasanya.

 

Ketika menghadapi masa-masa jenuh, selalu ada saja yang membuat beberapa hal menjadi tampak buruk dan memperkeruh keadaan. Pada tahap ini Tuhan dan lingkungan sekitar menguji bagaimana mereka bertahan menghadapi fase ini. Masa masa dimana banyak kekasih memutuskan berpisah dan mengakhiri segalanya.

 

Jiyeon lelah dan Sehun juga lelah walau dihati kecil mereka tidak terlintas kata-kata perpisahan.

 

Sehingga baik Sehun dan Jiyeon sepakat mendatangi tempat-tempat mereka membuat kenangan untuk yang pertama kali. Sehun membawa Jiyeon ke sekolah menengah pertama mereka dulu, mengunjungi kelas keduanya dan terduduk di atas bangku tua yang masih sama seperti dahulu “Sehun lihatlah, dulu aku menuliskan SehunJiyeon di atas meja dan tulisan itu masih ada hingga saat ini…”

Sehun mengangguk dengan riang “Aku juga menuliskan JiyeonSehun dibangku milikku dan itu masih ada. Ah bukankah tulisan itu terlihat manis?”

Mereka saling berpandangan lalu tertawa mengingat kejadian dimasa lalu saat mereka pertama kali bersama dikelas tujuh Sekolah Menengah Pertama.

Sehun dan Jiyeon masih seorang bocah yang mengenal cinta pertama kali dengan Sehun adalah cinta monyet Jiyeon dan begitupun sebaliknya.

“Dulu Jongkuk Saem pernah menghukummu karena kau ketahuan tertidur dan ternyata kau juga lupa melupakan tugasmu, apa masih mengingatnya?” Jiyeon bertanya sambil mengedarkan pandangan ke penjuru kelas yang sudah sepi

Sehun yang terduduk disamping Jiyeon tampak tersenyum mengenang kejadian masa lalu itu “Yah itu memalukan Jiyeon-ah. Kalau saja Sungwoon hyeong tidak mengajakku melihat sepak bola sampai pagi aku pasti tidak akan ketiduran disekolah..” kenangnya

“Waktu itu aku sudah memperingatkanmu agar mengerjakan tugas sekolah dulu sebelum melihat bola. Kau berbohong dengan mengatakan sudah padaku..”

Sehun mengusap tengkuknya “Mianhae Jiyeon~ah…aku benar-benar keasikan melihat pertandingan Belanda melawan Italia saat itu..”

 

Sehun dan Jiyeon juga menikmati sore hari di atap gedung sambil menyaksikan beberapa siswa yang bermain basket dilapangan outdoor. Membiarkan helaian angin musim semi membelai rambut yang terurai bebas diatas langit yang telah bercorak oranye kebiruan serupa lukisan abstrak “Dulu Chanyeol dan Baekhyun pernah menculikku kemari dengan alasan kau tidak sadarkan diri. Aku sangat panik saat mereka tampak bersungguh-sungguh, ternyata saat aku tiba kau baik-baik saja bahkan tersenyum lebar sambil membawa balon berwarna-warni, menyebalkan sekali hunnie!” Jiyeon mencubit lengan Sehun yang tertawa konyol semakin keras

“Hahaha aku tidak tahu lagi harus bagaimana, kau sangat sulit diajak pergi kalau sudah bertemu dengan pujaan hatimu..”

Jiyeon mempoutkan bibirnya “Itu hanya sebuah buku Sehun, kau selalu saja cemburu pada benda itu…” suara Jiyeon berubah serak diakhir kalimat disusul pelupuk yang menggenang air mata saat kejadian Sehun berlutut di hadapan Jiyeon seraya mengutarakan bagaimana perasaannya kembali berputar di pikiran Jiyeon, kejadian lima tahun lalu “-humm.. Tapi kalau aku tidak datang kemari mungkin aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, mungkin aku tidak tahu bagaimana keadaanmu saat ini..Terima kasih ya..my lovely hunnie..”

Sehun mengusap punggung Jiyeon seraya memeluknya dengan erat seolah tak ingin membuat Jiyeon dihempas angin sore “Aku juga berterima kasih karena perasaan itu masih ada hingga saat ini, I Love You baby. Uri Jiyeon Saranghae~”

“Love you too Hunnie sayang, tetaplah bersama hingga kematian menjemput salah satu dari kita..”

 

Setelah kejadian itu hubungan mereka kembali hangat dan membaik. Tawa dan canda kembali hadir ditengah-tengah Sehun dan Jiyeon. Secara perlahan Sehun Jiyeon berhasil melalui titik jenuh hubungan mereka saat itu, dua tahun yang lalu.

 

Selain menjadi gadis protektif dan cerewet, Jiyeon juga gadis super parno tiap kali Sehun membandel tidak mau makan disaat Sehun jatuh sakit. Sebenarnya Jiyeon memahami bagaimana tidak enaknya sakit dan sama seperti Sehun, ia juga pasti kehilangan nafsu makan. Tetapi bukan Song Jiyeon namanya kalau tidak berhasil membuat Sehun sembuh dan makan dengan baik walau porsinya berkurang dari biasanya

“Hunnie~ kau tidak ingin melihat drama terbaru di televisi?”

Sehun yang hidungnya sudah merah dan mampet hanya menggeleng lemah diatas ranjangnya yang berselimut tebal “Kalau begitu kau harus cepat sehat ya, humm kau harus makan, setelah itu minum obat dan baru tidur lagi, arraseo?”

Sehun menggeleng, ia tidak pernah suka obat yang memiliki rasa pahit. Jiyeon meninggalkannya sebentar untuk mengambil makanan dan kembali lagi dengan membawa nampan, mengabaikan tolakan Sehun “Kau harus tetap makan walaupun hanya beberapa suapan!”

Sehun terduduk dengan wajah pucatnya karena Jiyeon harus membuat perutnya terisi dahulu “Aku tidak lapar nona Song Jiyeon. aku tidak ingin makan, lidahku rasanya mati rasa dan kepalaku rasanya berputar-putar seperti bianglala kau tahu?” Sehun merengek seperti anak kecil

Jiyeon terduduk disamping ranjang Sehun, merapikan rambut Sehun yang sedikit acak-acakan “Aku tahu hunnie, kau juga tahu kan kalau aku sakit, aku juga tidak ingin makan tetapi kau selalu berhasil membuatku makan..”

Sehun mengangguk “Ternyata rasanya benar-benar tidak enak. Aku tidak ingin sakit lagi. Eotokhe pokonya aku harus sembuh..”

Jiyeon tersenyum mengiyakan “Nah sekarang buka mulutmu dan makan pelan-pelan saja, semampu yang bisa kau cerna…”

Pada akhirnya Sehun mengunyah dengan perlahan dan menyerah pada suapan ke empat karena merasa mual kalau diteruskan lagi

“Kau pintar sekali, sekarang minum obatnya yah sebelum tidur..” Jiyeon memberikan beberapa tablet obat dengan segelas air “Adikku Jimi sangat berani dengan obat yang pahit sekalipun..”

“Aku tahu Jiyeon~ah aku juga berani dengan obat yang pahit..” Sehun berkata dengan bangga karena berhasil menenggak semua obatnya

“Iya kau juga hebat hunnie sayang..” Jiyeon menunjukkan raut leganya seraya memeluk Sehun karena biasanya pria ini lebih memilih tidur seharian dari pada minum obat “Cepat sembuh sayang, seongsaengnim sudah menunggumu di meja ulangan..” canda Jiyeon

“Jiyeon~ah kau membuatku semakin takut sembuh..”

“Tidak tidak..aku hanya bercanda. Baekhyun, Chanyeol, Luhan,Kai, Suho dan semua teman kelasmu merindukan kehadiranmu, Oh ne tidak terkecuali fangirling Oh Sehun yang setia menunggumu di pintu koridor, tetapi akhirnya mereka pergi karena kau masih belum masuk..”

“Aku juga merindukan mereka, Kalau begitu aku pasti akan sembuh baby~”

 

Satu hal lagi yang disukai Sehun dari Jiyeon yakni Jiyeon tidak pernah cemburu dan marah dengan kelakuan fans-fans Sehun yang begitu banyak disekolah, yang terkadang membuntuti dan memberikan pernak pernik seperti surat,boneka dan makanan. Jiyeon juga secara terang-terangan memberi Sehun nasihat agar bersikap hangat pada siapa saja yang memperhatikan Sehun dengan baik karena semua itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Sehun mendapat banyak perhatian dari semua orang yang mencintainya, bukankah hidup Sehun teramat sempurna dan bahagia?

Yah Sehun menyadari hal itu, ia bahagia dengan orang-orang yang mencintainya dengan tulus

 

ÓÓÓ

Yonsei SHS, Seoul 30 September 2015

06.30 KST

 

“Sehun~ah boleh aku duduk disini?” Luhan bertanya hati-hati karena ia takut Sehun akan menolaknya kembali

Sehun menoleh namun tak berniat mengatakan apapun hanya sebuah ‘anggukan’. Yah itu jawaban cukup bagi Luhan, setidaknya Sehun yang biasanya heboh dikelas dan sekarang berubah menjadi pria pendiam dan dingin tidak menolak Luhan kembali “Ehm kau sudah mengerjakan tugas fisika?”

Sehun mengangguk tetapi hatinya kembali sesak mengingat bayangan Jiyeon kembali “Hunnie sayang apa kau sudah mengerjakan tugas fisikanya Lee Saem? Jangan lupa mengerjakan jika kau tidak ingin mendapat hukuman dari beliau ne..”

Sehingga Sehun kembali menatap keluar jendela, mengalihkan pembicaraan Luhan yang sepertinya akan memberikan pertanyaan bertubi-tubi.

 

Disatu sisi Luhan kembali kecewa karena Sehun kembali mengacuhkannya. Di deret paling depan Chanyeol, Baekhyun dan Kai mengepalkan tangan ke udara seolah memberikan semangat pada Luhan agar tidak menyerah. Luhan mengangguk seperti ia baru saja mendapat transferan energi dari sahabatnya yang berseru semangat seperti pemandu sorak.

 

Ketika Jiyeon pergi untuk selamanya, sobat-sobat Sehunlah yang menjadi obat agar pria itu tidak larut dalam kesedihan mendalam menginjak hari ke lima puluh semenjak kecelakaan yang menewaskan Jiyeon dan keluarganya sepulang mereka mengunjungi orang tua Ibu Jiyeon di Daejeon.

Takdir Tuhan adalah sebuah misteri yang takkan pernah diketahui manusia satupun karena manusia hanya mampu berkehendak di dalam garis batas kekuasaannya, sedangkan Tuhan adalah dzat maha kuasa yang memberikan kehendak diluar batas manusia.

Begitupun dengan sebuah kematian yang kedatangannya tidak mampu ditepis maupun dihindari oleh tiap orang. Walaupun kematian itu sendiri akan membawa dampak yang menyakitkan bagi mereka yang ditinggalkan, Tuhan juga menyelipkan sebuah pelajaran berharga dari kematian itu sendiri yaitu pelajaran mengenai ketegeran, kesabaran dan menerima segalanya dengan lapang dada

 

“Kau tahu Sehun~ah, Song Jiyeon sama bersedihnya denganmu saat ini, melihatmu seperti ini membuatnya ingin kembali walau itu tidaklah mungkin. Tetapi aku sangat yakin bila suatu hari kelak kau akan menerima kematian Jiyeon dengan tangan terbuka walau itu menyakitkan sekalipun, aku yakin Jiyeon akan bahagia karena kau merelakannya pergi..”

“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku!”

Luhan menghela “Aku tahu Sehun~ah, Aku mengerti perasaanmu! Tetapi kau adalah seorang lelaki, kau harus kuat menghadapi segala hal yang ada. Boleh sesekali waktu kau merasa sedih dan terpuruk, tetapi setelah itu berjanjilah untuk bangkit dan menjadi yang terkuat di antara yang lain Sehun~ah, kau harus tetap menjalankan hidupmu seperti biasanya…”

Sehun meresapi segala perkataan Luhan yang entah mengapa terasa memberinya sedikit semangat penerangan. Namun Sehun tetap diam tak bergeming

“Kami tetap menunggumu Sehun~ah, menunggu Sehun kami yang dulu walau aku yakin tidak ada yang sempurna di dunia ini…” Luhan tersenyum lalu menepuk-nepuk punggung Sehun sebelum meninggalkannya sendiri kembali.

 

ÓÓÓ

Sehun Room , 2 September 2015

01.00 KST

 

Keringat dingin membasahi kening Sehun yang terus bergerak gelisah dalam tidur dan akhirnya membuat Sehun terbangun sebentar dengan kepala yang terasa berat dan berputar-putar, berjalan mengambil air dalam dispenser yang letaknya di samping pintu.

Sehun menghabiskan segelas air dalam sekali tegukan karena kerongkongan yang terasa kering

“Hunnie..”

Sehun meletakkan gelasnya lantas menoleh hingga kedua netranya membola saking terkejutnya “Jiyeon~ah?”

Sesosok gadis cantik dengan tubuhnya yang bercahaya berdiri di dekat ranjang Sehun, gaun putih menawannya menjuntai ke lantai dan rambut Jiyeon terurai dengan sebuah bunga yang melingkari kepala mungilnya seperti seorang peri. Walaupun wajahnya bercahaya, jiyeon nampak lesuh dan lemah seolah tak memiliki tenaga sedikitpun. Jiyeon terlihat tak memiliki secercah energy dari atas tempatnya berpijak

 

Sehun berjalan mendekat dan tanpa basa basi segera memeluk Jiyeon dengan rasa rindu yang tak mampu Sehun pendam lagi, Ia teramat merindukan Jiyeon. Namun tidak bisa. Sehun hampir saja terjatuh mencium lantai yang dingin, sosok Jiyeon di depannya ini seperti sebuah angin yang tidak mampu tersentuh dan tembus pandang

“Mengapa aku tidak bisa memelukmu Jiyeon~ah? Mengapa aku tidak bisa menggapaimu?” Sehun berujar dengan suara serak bercampur frustasinya

Jiyeon hanya menatap Sehun dengan pandangan hangat namun ia menangis perlahan dengan pipi pucat yang terlihat basah

“Jiyeon-ah jangan menangis. Uljjimayo chagia..” Sehun mencoba menghapus air mata yang membuat gadisnya menangis, ia membenci melihat Jiyeon menangis karena bagi Sehun, Jiyeon adalah gadis paling kuat yang pernah ia temui. Jiyeon adalah sosok gadis yang tegar dan ceria

“Ini gambaran hatimu Sehun~ah, bukankah seharusnya kau yang menangis sepertiku dan tidak memendamnya terlalu lama?”

Sehun menggeleng menahan sesak yang telah mengoyak hatinya kembali karena rasa rindu ini begitu menyakitinya, begitu menyiksa namun Sehun tak kuasa melakukan apapun agar memberi keleluasaan hatinya dari rasa sakit

“Sehun~ah aku datang sebentar untuk mengucapkan selamat tinggal. Saat itu aku pergi begitu saja tanpa pamit, tanpa mengucapkan satu katapun padamu. Aku menyesal membuatmu seperti ini.. mianhae Sehun~ah..”

Sehun menunduk sambil memejamkan mata “Kau sudah pergi Jiyeon~ah! Kau takkan bisa hidup kembali bukan?”

“Sehun~ah aku melihatmu sangat menyedihkan dari atas Arsy sana..kumohon lepaskan kepergianku, kumohon jangan membuatku bersedih seperti ini hunnie, kau membuatku terbelenggu dengan rantai-rantai ini…” Jiyeon berkata dengan suara menyedihkan yang membuat Sehun tidak mampu lagi membendung air mata “Jangan menyiksa dirimu sendiri Sehun~ah..”

“M-maafkan a-aku Jiyeon~ah..” Suara Sehun semakin serak tatkala mendapati sebuah rantai panjang yang menembus punggung Jiyeon, yang membuat Jiyeon tidak mampu berkutik dan hidup bahagia di alam lain karena Sehun terus membuatnya terbelenggu

“Rantai itu membuatmu sangat sakit Jiyeon~ah?” Sehun berkata disela-sela tangisnya yang telah pecah

Jiyeon terdiam namun jemarinya terulur berusaha menghapus jejak-jejak kesedihan di wajah Sehun. Jiyeon membenci saat-saat seperti ini ketika ia tak mampu melakukan apapun demi membuat Sehun setidaknya tersenyum, Jiyeon merasa gagal membuat belahan jiwanya bahagia dan akhirnya berakhir terluka “Hunnie aku tidak bisa menghapus air matamu kembali, aku tidak bisa. Aku tahu aku sangat bodoh dan tidak bisa melakukan apapun agar kau tidak menangis lagi, maafkan aku..”

“Kau juga masih menangis Jiyeon~ah dan bukankah semua itu karena aku? Karena aku terlalu mencintaimu dan tidak merelakan kepergianmu yang terlalu cepat ini. Jiyeon~ah maafkan aku, kau tersiksa dan terantai seperti itu karena aku, maafkan aku Jiyeon~ah..”

 

Dalam keheningan pagi yang menyimpan pertemuan mereka berdua, Akhirnya Jiyeon mengangguk dalam raut lega yang tiada terkira “Kau tidak perlu meminta maaf, kau bersikap demikian karena kau tidak siap akan kepergianku hunnie., aku hanya ingin mendengar keikhlasanmu untuk merelakan aku pergi. Sehun~ah Aku masih berada di hatimu walaupun kau tidak akan mampu melihat dan mendengar suaraku lagi…”

Sehun turut mengangguk “Terima kasih karena kau mau datang dan mengucapkan perpisahan padaku Jiyeon~ah, kau benar bahwa selamanya kau akan tetap berada di hatiku. Pergilah Song Jiyeon, aku mengikhlaskan kepergianmu, beristirahatlah dengan tenang…”

Raut pucat Jiyeon berbinar terang, tangisnya telah terhenti diganti sebuah senyum menawan yang membuat Sehun turut menghentikan kesedihannya, merasa hati Sehun hangat kembali setelah hampir saja membeku

Entah mengapa Sehun merasakan suatu keringanan dalam hati kecilnya

“Terima kasih Sehun~ah, kau membuat rantainya hilang, terima kasih karena membuat bebanku lebih berkurang!”

Sehun tersenyum senang melihat sebuah rantai yang awalnya membuat Jiyeon nampak terkekang dan menderita kini telah terlepas sepenuhnya walaupun ia tetap tidak mampu menyentuh Jiyeon kembali karena mereka berbeda partikel

“Chukkae! Kau sudah bebas Jiyeon~ah”

Jiyeon tersenyum “Hunnie…jika kau tidak bisa melupakan aku, maka jangan berusaha keras untuk melupakannya. Simpan saja segala kenangan itu dan kenanglah jika kau ingin mengenangnya. Berjanjilah kalau kau akan menjadi Oh Sehun yang kuat, ceria dan hangat kepada siapapun seperti dulu lagi..”

“Ini sangat berat Jiyeon~ah, tetapi aku berjanji akan melakukannya untukmu..”

Jiyeon melangkah mendekati Sehun lantas memeluknya, walaupun mungkin mereka tidak mampu saling menyentuh satu sama lain, baik Sehun dan Jiyeon tetap memejamkan mata dengan tenang seolah merasakan kehadiran satu sama lain untuk yang terakhir kalinya. Menyalurkan kerinduan satu sama lain walaupun mungkin baik Sehun dan Jiyeon tidak mampu saling menyentuh

“Sehunnie sayang aku harus pergi, waktuku sudah habis..jagalah dirimu baik-baik..” Jiyeon melepaskan pelukannya, mengusap wajah Sehun walau tak mampu merasan lembutnya kulit itu “Tetaplah tersenyum walau itu hal menyakitkan sekalipun. Saranghae~”

Sehun mengangguk sambil melambaikan tangan “Selamat tinggal Song Jiyeon, aku juga mencintaimu…”

 

ÓÓÓ

Sehun House, 3 September 2015

05.45 KST

 

Sebagai Sentuhan terakhir Sehun merapikan kemeja dan memakaikan jas sekolah, mematut sebentar di depan cermin “Sempurna Oh Sehun, kau selalu tampan..”

Sehun menyampirkan tas sambil berjalan keruang makan dimana keluarga kecilnya berada. Saat itu Ibu Sehun tengah menyiapkan makanan. Appa Sehun sedang membaca koran pagi ditemani secangkir teh hangat, Sungwoon kakak Sehun sedang membantu merapikan seragam Kyuri adik terkecil sekaligus anggota paling muda dikeluarga Sehun

“Pagi semua…” Sehun menyapa sambil terduduk ditempatnya seperti biasa tanpa raut dingin maupun tidak berekspresi seperti akhir-akhir ini

“Eomeo Sehun~ah kau yakin sudah sehat dan ingin berangkat sekolah?” Ibu Sehun meletakkan punggung tangannya diatas dahi Sehun, berkata setengah panik bercampur kaget “Yah panasmu sudah turun, aneh sekali..”

“Waeyo, memangnya apa yang terjadi denganku?” Sehun bertanya pada tiap pasang mata yang menatapnya terkejut seperti baru saja melihat hantu di pagi-pagi buta

“Kau sakit selama dua hari dan hampir tidak sadarkan diri, kau benar-benar lupa?” Sungwoo angkat bicara sedangkan Sehun hanya menggeleng ‘Benarkah begitu?’

“Sehun~ah kalau kau merasa belum sehat jangan paksakan diri untuk pergi sekolah terlebih dahulu..” Samdong Ayah Sehun melipat korannya dan menoleh pada Sehun sebentar sedangkan Ibu Sehun telah kembali duduk pada kursinya. Sehun sendiri makin tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, lebih tepatnya mengapa ia bisa sakit dan tidak sadarkan diri hingga dua hari padahal Sehun merasa dirinya baik-baik saja bahkan merasa bahagia pagi ini

Baiklah semua pikiran itu Sehun abaikan terlebih dahulu karena perut Sehun telah mengadakan konser keroncong di dalamnya

“Yak! Hati-hati oppa, kau bisa tersedak.. makanlah pelan-pelan!” Kyuri menggelengkan kepala melihat kebiasaan makan oppa-nya yang selalu saja seperti orang kelaparan -ya walaupun sebenarnya Sehun sungguh-sungguh kelaparan.

 

Setelah beberapa waktu berlalu satu persatu dari mereka segera pergi ke tempat tujuan, Samdong mengantarkan Kyuri sekolah, Sungwoon pergi kuliah pagi dan begitupun dengan Sehun yang berangkat paling akhir karena ia banyak menghabiskan makanan pagi ini “Eomma apakah benar aku sakit selama dua hari?”

Ibu Sehun mengangguk “Ya. Kalau kau masih saja tidak sadarkan diri hari ini, eomma akan membawamu ke rumah sakit. Kau yakin baik-baik saja hunnie?”

“Ne eomma..” Sehun mengambil tasnya yang tergeletak “Sesuatu yang tidak terduga baru saja menimpaku eomma, aku yakin semua orang tidak akan percaya dengan yang aku alami semalam..”

“Memangnya apa?” Sehun eomma turut mengantar kepergian anaknya hingga ke daun pintu.

Sehun menghidupkan motornya sambil memasang helm sebelum melajukan motornya “Semalam Aku baru saja bertemu dengan Song Jiyeon…”

 

ÓÓÓ

Yonsei SHS, Seoul

06.36 KST

 

Para siswi fans Sehun seperti biasanya menunggu di depan koridor dengan raut cemas menunggu kedatangan senior mereka yang akhir-akhir ini nampak menyedihkan sekaligus pendiam semenjak kematian kekasihnya Song Jiyeon. Mereka semakin khawatir saat Sehun tidak datang kesekolah karena sakit selama dua hari “Apa hari ini Sehun oppa akan datang?” Celetuk seorang siswi berkaca mata

“Mollayo tapi aku berharap Sehun oppa akan masuk hari ini..” sahut siswi berambut sebahu dengan membawa lolipop di tangannya

“Kalau dia masuk, aku akan memberikannya coklat saat istirahat..” celetuk gadis berkuncir kuda yang tidak melepaskan pandangannya dari pintu gerbang, berharap kalau-kalau Sehun datang

“Itu ide bagus, biasanya coklat bisa membuat orang tenang dan memperbaiki mood” ucap seorang siswi yang sibuk memainkan gadget terbarunya

Sehun memarkirkan motornya sambil berjalan santai ke arah koridor. Dari kejauhan ia sudah melihat beberapa siswi berkumpul menatapnya dengan raut lega bercampur senang “Mereka mengkhawatirkanku?” Sehun menggumam tatkala melihat sekumpulan siswi yang menunggu kehadirannya

 

“Oppa bagaimana keadaanmu?”

“Apa kau sudah sehat kembali?”

Sehun menghentikan langkahnya sebentar “Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku, sebaiknya kalian kembali ke dalam kelas..”

“Ne..” mereka membungkuk dan berjalan teratur meninggalkan Sehun yang kembali meneruskan perjalanannya menuju kelas.

 

Baekhyun, Chanyeol, Luhan, Kai dan Suho tengah bercanda disamping jendela dengan senyum sumringah dan kehebohan seperti biasanya “Kita bisa merencanakan sebuah party untuk menghibur sobat Ice Prince kita. Aigoo~..” Baekhyun membekap mulutnya sesaat Sehun berjalan ke arah mereka

“Wae Hyung?” Kai menyahut dengan penasaran

“Sehun! Sehun datang…”

Mereka semua menoleh dengan raut terkejut bercampur senang. Alis Sehun bertautan tetapi ia tetap mencoba tersenyum walau raut wajah mereka nampak aneh sekaligus konyol “Hey ada apa dengan kalian?” Sehun bertanya

“Sehun~ah neo gwenchana?” Suho bertanya

Sehun mengangguk dengan senyum yang masih tersungging membuat Luhan menggiring Sehun ke bangkunya diikuti Chanyeol, Kai, Baekhyun dan Suho yang mengekor dibelakang

“Apa kau sudah sembuh Sehun~ah? Ibumu bilang kalau kau tidak sadarkan diri selama dua hari. Kau baik-baik saja, maksudku kau tidak salah minum obat kan hari ini?”

Sehun mengangguk yakin “Aku baik baik saja hyeong, kau mungkin tidak percaya kalau aku menceritakan ini..”

“Apa..apa..cepat katakan!” Chanyeol menyahut tidak sabaran

Sehun lantas menjawab dengan santai “Song Jiyeon! dia datang dan mengucapkan selamat tinggal padaku semalam..”

Baekhyun tersenyum sebal lalu menjitak Sehun “Jangan bercanda Sehun~ah, kau pasti sudah gila..”

“Sungguh aku tidak bohong, dia… ingin aku merelakan kepergiannya karena jika tidak ia akan tersiksa di alam sana..” Sehun menghela sebentar sebelum kembali menatap sobatnya yang nampak menunggu “Humm Luhan hyeong benar, aku harus mengikhlaskan kepergian Jiyeon mulai dari sekarang..”

Luhan tersenyum bangga sambil menepuk bahu tegap Sehun “Aku percaya padamu Sehun~ah, walau terasa berat kau harus tetap menjadi pria yang kuat sekalipun hal itu menyakitimu ㅋㅋㅋ..”

Sehun mengangguk “Gomawo Baekhyun, Kai, Chanyeol, Suho dan Luhan hyeong yang selalu menghiburku. Kalian menyadarkanku kalau aku sangat membutuhkan kehadiran kalian..” mereka mengangguk dengan raut lega seraya menghujani Sehun dengan pelukan. Pelukan hangat dari para sahabat yang akan tetap ada walau satu orang telah meninggalkan Sehun.

 

‘Walaupun luka dan kesedihan itu masih basah dan belum kering sekalipun, Kita tidak harus berdiam diri agar lukanya mengering. Tetapi akan lebih baik jika kau mengisi segala sesuatunya dengan baik. Kepergian seseorang yang kau cintai bukanlah akhir dari segalanya karena mungkin saja Tuhan telah menyiapkan sebuah rencana yang indah dibalik setiap kejadian yang terjadi’~@zhayrapiverz

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s