Wonderwall : A Secret

wonderwalls

Author : Iefabings

Main cast :

• EXO’s Jongin as Kim Jongin

• Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi

• EXO’s Sehun as Oh Sehun

• Red Velvet’s Irene as Bae Irene

• EXO’s Suho as Kim Junmyeon

• EXO’s D.O as Do Kyungsoo

• EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

• EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol

Supporting cast : You’ll find it in the story *peace sign*

Genre : Romance, school life, friendship

Ratings : Teenager

Length : Multi chapter, currently 1

Author note :

Sesuai permintaan readers yang kecewa karena Bittersweet gak ada KaiSeul maupun HunSeul, saya membawa ff khusus KaiSeul. Kenapa KaiSeul? Karena saya suka Seulgi dan cinta Kai *plak*

Cerita ini mungkin sangat mainstream, tapi saya bawakan dengan gaya saya dan ada beberapa adegan yang terinspirasi dari kisah masa SMA saya sendiri *plaklagi*

Mungkin juga akan ada adegan yang terinspirasi dari drama, lagu, MV, dll, intinya ff ini akan saya bawakan dengan gaya saya(?)

^^Selamat Membaca^^

Wonderwal;

Won-der-wall, adjective

Someone you find yourself thinking about all the time, the person you are completely infactuated with.

I don’t believe that anybody feels the way I do about you now.

‘Cause maybe you’re gonna be the one that saves me.

And after all, you’re my wonderwall.

– Oasis –

.

.

.

.

.

I wanted to tell you all my secrets, but you become one of them instead

***

Sehun tersenyum miring, pada wanita cantik—teramat cantik malah—di hadapannya sekarang. Dicondongkannya tubuh untuk lebih dekat ke ceruk leher si wanita dan mulai menghidu aroma parfumnya.

“Kau tahu betul ini adalah tempat umum, kan?” wanita yang akrab disapa Irene itu juga tersenyum miring. Tangannya meraih kerah pakaian Sehun sehingga tubuh mereka makin dekat.

“Noona, lain kali jangan pakai parfum,” bisik Sehun sebelum mendaratkan kecupan di kulit leher Irene.

“Kenapa?” tanya Irene dengan alis terangkat.

“Nanti pacarku bisa mengenalinya. Dia akan curiga.”

Irene tertawa singkat. “Sekarang kau takut ketahuan pacarmu?”

Sehun tidak merespon pertanyaan itu, hanya meneguk vodcanya dengan ekor mata mengarah pada wajah Irene.

Sementara itu di sudut lain bar….

“Bocah playboy itu,” Baekhyun berdecak sambil memutar bola matanya.

“Dia lebih hebat dariku. Ah, sebagai hyung aku merasa dikalahkan,” timpal Junmyeon disertai kekehan singkat.

“Mendadak aku merasa kasihan pada Seulgi,” sambung Kyungsoo dengan nada sedih.

“Tidak ada yang perlu dikasihani. Nyatanya Sehun bisa memenuhi tugasnya sebagai seorang pacar bagi kedua perempuan ini. Tidak ada sekali pun tanda yang menunjukkan Seulgi menderita, kan?” papar Chanyeol sambil menunjuk-nunjuk pasangan yang asyik bercumbu itu.

“Itu karena Seulgi tidak tahu,” sergah Baekhyun, menjitak kepala Chanyeol. “Perempuan mana yang tak akan menderita jika tahu pacarnya selingkuh dengan seorang noona? Seulgiku yang manis tapi malang….”

“Jongin?” Junmyeon mengalihkan perhatiannya pada Jongin yang sedari tadi hanya diam dengan ponselnya.

“Oy,” sahut Jongin singkat. Sekilas dia melirik Junmyeon, lalu kembali menatap layar ponsel.

“Menurutmu bagaimana?” tanya Junmyeon.

“Apanya?”

“Yaaa kau sibuk apa sampai tidak memperhatikan obrolan kita?” Baekhyun menendang kaki Jongin pelan.

“Sehun itu Cassanova sejati. Hanya saja, dia punya satu orang yang begitu berharga untuk selalu dia pertahankan,” tukas Jongin, kini mengalihkan wajah dari ponsel.

“Nah, benar. Orang itu adalah Seulgi,” Chanyeol manggut-manggut.

“Sudah, kan? Itu pendapatku. Jangan ganggu aku lagi,” ucap Jongin, lalu kembali berkutat dengan ponsel di tangan.

“Pasti game,” Baekhyun mencibir melihat kelakuan Jongin.

Jongin hanya tersenyum sambil memandangi ponselnya. Sebenarnya bukan game. Dia disibukkan oleh hal lain.

***

Mereka adalah sekelompok siswa SMA, tapi bukan siswa biasa. Orang tua mereka berenam adalah orang-orang terkenal dengan kekayaan melimpah di Seoul. Istilahnya, mereka adalah Kingka. Dengan kuasa tinggi dan wajah tampan, wajar jika mereka juga menjadi idola di sekolah. Tidak sekedar mengandalkan kekayaan orang tua, mereka juga punya bakat masing-masing yang cukup membanggakan sekolah.

Adalah Kim Junmyeon, yang dipandang paling berwibawa dan bijaksana di antara mereka, sekaligus yang paling tua. Ayahnya seorang pejabat tinggi dan dikabarkan akan maju sebagai calon perdana menteri periode mendatang. Ibunya adalah seorang profesor di Universitas Korea. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Junmyeon mewarisi jiwa pemimpin orang tuanya. Kini dia menjabat sebagai ketua OSIS SMA Gangnam.

Lalu ada Byun Baekhyun, yang terkenal paling konyol dan supel dari keenam pemuda ini. Dia punya bakat di bidang seni tarik suara, turunan dari ibunya yang dulu seorang penyanyi terkenal. Ayahnya adalah presdir sebuah agency yang menanungi banyak artis besar. Sebenarnya Baekhyun bisa saja langsung debut di agency milik ayahnya. Tapi sang ayah lebih mementingkan pendidikannya, sehingga dia harus lulus dulu sebelum benar-benar menekuni dunia entertainment.

Satu orang yang tidak jauh beda konyolnya dengan Baekhyun, bernama Park Chanyeol. Dia adalah anak kedua dari pengusaha alat elektronik terbesar di Seoul. Chanyeol memiliki bakat memainkan berbagai alat musik dan banyak memenangkan kompetisi bermusik sejak kecil. Tidak hanya itu, dia juga menekuni dunia modelling dengan tubuh tinggi dan wajah tampannya.

Turun satu tahun lebih muda ada Do Kyungsoo yang pembawaannya selalu terlihat tenang. Sejak usia balita dia sudah menjadi bintang film dan drama. Ayahnya adalah seorang produser film besar dan ibunya adalah aktris terkenal. Keluarga Do banyak melakukan acara amal, juga menjadi donatur di beberapa panti asuhan dan sekolah. Itu yang membuat mereka disegani. Di sekolah pun, Kyungsoo begitu disegani oleh siswa bahkan guru.

Kemudian satu pemuda tampan berkharisma, memiliki kulit tan yang sexy dan jago menari. Kim Jongin, yang dijuluki The Dancing Machine. Banyak sekali penghargaan yang dia dapatkan dengan menggerakkan tubuhnya seiring irama musik. Fakta menariknya, Jongin adalah saudara sepupu Junmyeon. Ayah Jongin adalah pemilik rumah sakit terbesar di Seoul dan ibunya adalah dokter mata sekaligus kepala departemen di rumah sakit keluarga mereka. Harusnya memang Jongin mengikuti jejak orang tuanya, menjadi dokter. Tapi yang dia tekuni justru bertolak belakang. Tuan dan Nyonya Kim tidak bisa melakukan apa pun untuk hal itu karena Jongin termasuk anak yang keras kepala. Beruntung kakak perempuan Jongin masih bisa diandalkan, kini menjalani pendidikan dokter spesialis anak di Seoul National University.

Yang terakhir, paling muda, berkulit paling putih sehingga dijuluki Albino. Namanya Oh Sehun. Putra tunggal pemilik hotel berbintang setingkat hotel internasional. Tipikal anak yang penurut, terbukti dari niatnya untuk menuruti orang tuanya menjadi penerus perusahaan. Tatapan matanya mampu memikat perempuan mana pun dalam hitungan detik. Tak heran jika dia masih menerima banyak surat penggemar walau statusnya sudah tak sendiri lagi. Dia memiliki hobi yang sama dengan Jongin, bisa dikatakan rekan seprofesi. Mereka telah bersahabat sejak kecil.

Kesimpulannya, mereka berenam adalah sosok gebetan yang sempurna. Jelas banyak perempuan yang menggilai mereka, bahkan bermimpi menjadi Cinderella. Namun, setahun lalu ada sebuah peristiwa yang membuat fans Sehun merasa kecewa. Sehun mengencani seorang gadis ‘hebat’.

Gadis itu bernama Kang Seulgi. Latar belakang keluarganya tak kalah luar biasa dari keenam pemuda itu. Ayahnya adalah seorang jaksa, sedangkan ibunya seorang psikolog. Dia sangat cerdas, selalu menjadi ranking teratas. Cita-citanya adalah menjadi dokter hebat seperti ayah dan ibu Jongin. Ya, sejak kecil Seulgi dekat dengan mereka semua. Dimulai pada masa taman kanak-kanak dimana dia bersahabat dengan Jongin dan Sehun. Mereka bertiga tidak pernah terpisah sekolah, kadang Seulgi membuat candaan betapa bosannya dia bertemu dengan 2 pemuda itu. Dia dekat dengan 4 pemuda lainnya saat di sekolah dasar, dan selama bertahun-tahun hingga saat ini sudah terbiasa dikelilingi mereka.

Kembali pada topik tentang Sehun dan Seulgi, rupanya pernyataan cinta Sehun tidak sia-sia karena Seulgi menerimanya. Tentu saja mereka menjadi ‘The Hottest Couple’ di SMA Gangnam. Para fans Sehun jelas merasa iri pada Seulgi, namun juga mengakui bahwa gadis itu memang pantas bersanding dengan Sehun. Seulgi adalah gadis yang baik, ramah, mudah berteman dengan siapa pun. Sifat menyenangkannya itu lah yang seringkali membuat Junmyeon, Jongin, Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo merasa bersalah karena menyembunyikan sebuah rahasia darinya.

Sehun berselingkuh.

Pada mulanya hal ini memang tidak bisa dimaafkan, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Seulgi kelihatan begitu mencintai Sehun dan Sehun sendiri tidak pernah mengecewakannya. Terlebih lagi Sehun adalah sahabat mereka. Jadi mereka menyimpan rahasia itu rapat-rapat terutama dari Seulgi, selalu menjadi penonton yang berpura-pura tidak tahu apa-apa. Demi terjaganya persahabatan. Demi menjaga senyum Seulgi tetap merekah. Demi menjaga Seulgi dari patah hati. Apakah keputusan mereka salah?

Dan dari rahasia yang besar itu, ada satu rahasia yang lebih besar lagi. Satu rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun. Kecuali satu orang.

Jongin mencintai Seulgi.

***

Sejauh ini, hanya ada satu tujuan berharga dalam hidup Jongin. Membuat Seulgi tetap tersenyum. Dia menyukai senyumnya. Sebuah senyuman indah yang membuat mata sipitnya ikut melengkung hingga nyaris menghilang. Sebuah senyuman yang mampu menerangi harinya, bahkan mungkin hidupnya. Jongin tahu dirinya bukanlah alasan Seulgi tersenyum. Tak apa, baginya melihat Seulgi bahagia rasanya cukup.

Kalau ditanya sejak kapan Jongin merasakan itu, dia tidak tahu kapan pastinya. Hanya saja, sejak kecil rasanya dia tidak bisa mendapat hari baik jika belum bertemu dengan Seulgi. Sekedar memainkan rambutnya yang dicepol, atau mencubit pipinya sampai Seulgi marah-marah, itu sudah cukup. Bisa dikatakan, Seulgi adalah sumber energi setiap harinya.

Dia tidak lupa bahwa kini Seulgi telah dimiliki oleh sahabatnya sendiri, tentu saja tidak. Dia selalu merasa bersalah karena hanya diam saja melihat Sehun berselingkuh di belakang Seulgi. Dia merasa bersalah karena telah menjadi pengecut. Dia sadar, kepengecutannya itu membuatnya menjadi laki-laki yang sama sekali tidak pantas untuk Seulgi.

Seulgi, Seulgi, Seulgi dan Seulgi. Sampai kapan dia hanya bisa menjadi pengagum diam keindahannya?

“Apa yang kau pikirkan, Kkamjong?”

Bahkan saat gadis itu membuat panggilan untuk mengejek kulit gelapnya, dia merasa bahagia.

“Cari tahu sendiri,” jawab Jongin seperti biasa, berlagak dingin.

Mendadak Seulgi mencondongkan tubuhnya dan menarik-narik pipi Jongin dengan gemas. “Huuu dasar sombong. Kau pikir siapa dirimu, hah? Sudah tahu aku tidak suka direspon dingin begini. Minta maaf, cepat!”

“Ywaaa! Lwpaskwn tangwnmw!”

“Minta maaf dulu!”

“Okw maaf,” kata Jongin dengan terpaksa. Barulah dia bisa bernafas lega setelah Seulgi melepas pipinya. “Kau tahu betul pipiku tidak seelastis pipimu yang enak dicubit kapan saja, kan?” keluhnya sambil melakukan senam wajah singkat untuk memulihkan keadaan pipinya.

“Itu bahkan belum sebanding dengan cubitanmu selama ini. Aku masih merencanakan pembalasan yang besar,” balas Seulgi sinis. Memang, yang paling rajin mencubit pipi Seulgi adalah Jongin.

“Kau tidak pernah protes saat Sehun mencubitmu,” sergah Jongin tak terima.

“Karena dia pacarku.”

Jawaban itu membuat Jongin tak punya kalimat balasan. “Baiklah, kau menang,” dengusnya pasrah, dan Seulgi tertawa senang karena merasa menang. “Ngomong-ngomong, kenapa mereka lama sekali?” Jongin meraih gelas cola dan menyeruput isinya sedikit.

Malam ini mereka berada di bioskop untuk memenuhi undangan Junmyeon menonton film horror bersama. Karena Sehun bilang akan sedikit terlambat, maka Seulgi mengejutkan Jongin dengan mucul di dekat mobilnya secara tiba-tiba. Mereka berdua berangkat bersama, membeli pop corn dan tiket duluan sambil menunggu. Tapi kelima kawan mereka tak juga datang, sementara film akan diputar sepuluh menit lagi.

“Baekhyun dan Chanyeol sedang dalam perjalanan, Junmyeon oppa terhambat body guard, kalau Kyungsoo tidak ada kabar. Jongin, sepertinya ada tanda-tanda kita akan nonton berdua saja.”

“Oh, itu bencana,” ucap Jongin pasrah. Dia sangat mengenal Seulgi. Menonton film horror bersamanya berarti harus siap dijambak, dicubit, bahkan digigit. Yah, itu adalah cara Seulgi mengatasi ketakutannya saat tokoh hantu muncul.

“Ayolah, sudah jelas kau sangat menyukai kesempatan ini,” Seulgi menoel-noel lengan Jongin, berlagak sok genit. Jauh dalam lubuk hati Jongin, kalau dia boleh jujur, itu benar. Dia senang bisa mendapat kesempatan berdua dengan Seulgi.

“Dalam mimpimu,” didorongnya kening Seulgi dengan jari telunjuknya.

“Hoi, kami di sini!”

Panjang umur, Baekhyun dan Chanyeol muncul berdua. Baekhyun langsung menyambar pop corn dari tangan Seulgi dan memakannya.

“Ayo masuk,” Chanyeol menarik lengan jaket Seulgi, memaksa gadis itu masuk ke ruang teater.

“Yang lain belum datang, tidak boleh egois,” tolak Seulgi.

“Filmnya mau mulai, harus menunggu berapa lama lagi?” kata Chanyeol.

“Ayo, ayo cepat masuk!” Junmyeon tiba-tiba datang dan langsung mengajak masuk seenaknya. Disusul Kyungsoo beberapa detik kemudian.

“Nah, sudah lengkap,” kata Baekhyun. “Tinggal masuk.”

“Yaaa kalian melupakan pacarnya,” sela Jongin sambil menunjuk Seulgi yang mulai sering menoleh ke arah pintu masuk.

“Dia pasti terlambat, orang seperti itu tidak bisa ditunggu,” timpal Baekhyun tak acuh. Dia masuk duluan bersama Chanyeol.

“Seulgi, tak apa kan kalau menunggu Sehun di dalam saja?” tanya Kyungsoo.

“Oh… eh, iya deh tidak apa-apa. Ayo masuk sekarang,” wajah Seulgi masih terlihat ragu dan ia sempat menoleh ke pintu depan lagi sebelum mengikuti Kyungsoo dan Junmyeon masuk ruang teater.

Jongin menghela nafas. Seperti halnya Seulgi, dia menoleh ke pintu depan dulu.

‘Sehun, kau tidak akan membuatnya kecewa demi wanita itu, kan?’ batinnya, lalu melangkah masuk menyusul yang lain.

***

Benar saja. Jongin hanya bisa pasrah saat Seulgi membenamkan wajah di lengan kanannya. Tak hanya itu, Seulgi mencengkeramnya begitu kuat hingga dia meringis.

“Yaaa, itu hanya film,” bisik Jongin pada Seulgi.

“Aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini, Jongin,” suara Seulgi teredam karena wajahnya masih menempel di lengan Jongin.

“Hey, pacarmu ada di sini. Kenapa kau malah memeluk lelaki lain?” sebuah suara menginterupsi mereka. Sangat jelas, itu suara Sehun. Dia baru datang. Jongin melirik Sehun, sudah siap membiarkan Seulgi melepaskannya sebentar lagi.

Seulgi benar-benar melepas pelukannya di lengan Jongin dan berbalik ke Sehun.

“Untuk apa memeluk pacar yang datang terlambat? Aku mau selingkuh dulu sekarang,” timpal Seulgi, kembali merapat ke Jongin.

Tingkah Seulgi membuat Sehun terkekeh. Diacaknya rambut Seulgi pelan.

“Bodoh, kenapa berselingkuh dengan sahabatku?” Sehun bersandar sepenuhnya ke kursi teater. Hingga film selesai, dia biarkan Seulgi ‘berlindung’ pada Jongin.

“Akhirnya aku bisa bernafas lagi,” kata Baekhyun saat mereka berjalan keluar dari ruang teater. “Aku ingin muntah.”

“Ew, menjijikkan,” timpal Seulgi lalu memukul kepala Baekhyun.

“Mau sampai kapan kau akan selingkuh, eoh?” Sehun merangkul Seulgi dan membawanya lebih jauh dari Jongin. Seulgi hanya menggembungkan pipinya tanpa menjawab apa-apa. Biasa dia lakukan saat merasa kesal pada Sehun. “Aku minta maaf,” ucap Sehun seraya mengecup pipi Seulgi. “Yang penting kan akhirnya aku datang.”

“Jangan pernah terlambat lagi,” Seulgi meninju sisi kiri perut Sehun dengan tenaga yang tak seberapa. Sehun pura-pura meringis, walau Seulgi tahu itu hanya dibuat-buat.

Tiba di pelataran parkir, mereka menghampiri mobil masing-masing. Sehun masih merangkul Seulgi, membawa gadis itu ke mobilnya. Jongin melirik mereka berdua dari dalam mobilnya. Setelah setahun lebih menahan rasa nyeri setiap melihat Sehun dan Seulgi bersama, dia belum kebal juga. Justru semakin nyeri seiring bertambahnya waktu. Dia sendiri bingung apa yang harus dilakukan untuk mengatasi itu.

“Yah, mungkin suatu hari aku punya keberanian untuk mengkhianati teman dan merebutnya,” gumamnya pelan, tanpa ada satu pun yang mendengar.

***

Siang hari di sekolah pada jam istirahat. Jika siswa lain melewatinya dengan makan siang di cafetaria, maka gerombolan ‘extra ordinary boys’ lebih memilih berkumpul di peristirahatan mereka. Secara eksklusif sekolah menyediakan satu ruangan khusus yang dilengkapi sofa nyaman, arena billiard, minibar, dan home theatre. Semacam markas bagi mereka, diberi label EXO room dan tidak boleh dimasuki sembarang orang. Seulgi tidak tampak di sana karena terbiasa berdiam di perpustakaan.

Kyungsoo duduk tenang membaca skenario web drama yang dijadwalkan mulai shooting minggu depan. Baekhyun dan Chanyeol bermain billiard. Junmyeon tidak berada di sana karena sedang rapat OSIS. Jongin sedang duel menari bersama Sehun, hanya sebentar sebelum akhirnya Sehun memilih duduk dan menyalakan home theatre.

“Ini mulai membosankan,” Baekhyun meletakkan stik billiard kemudian bergabung dengan Sehun. “Yaa, sampai kapan kau akan main belakang dengan wanita itu? Siapa namanya? Irene?” tanyanya, menaikkan kaki ke atas meja.

“Sampai aku bosan,” jawab Sehun disertai seringaian.

Jongin tentu mendengar itu, tapi pura-pura tak peduli dan terus menari seperti orang gila.

“Bosan pada siapa maksudmu? Irene atau Seulgi?” tanya Baekhyun lagi, ingin memperjelas.

“Sudah ku bilang aku tidak akan pernah putus dengan Seulgi,” tukas Sehun.

Lalu terdengar suara buku-buku berjatuhan. Serentak mereka semua menoleh, termasuk Kyungsoo yang konsentrasinya jadi buyar karena suara itu. Rupanya buku-buku koleksi Junmyeon berhambur ke lantai.

“Maaf, tak sengaja ku senggol saat sedang menari,” kata Jongin sambil mengangkat bahu.

“Lain kali hati-hati,” ujar Kyungsoo, beranjak membantunya memunguti semua buku sekaligus merapikannya kembali. “Kau kan bisa latihan di ruangan dance.”

Jongin hanya cengengesan. Berkat bantuan Kyungsoo, semua buku itu rapi kembali dalam sekejap. Selanjutnya mereka bergabung dengan yang lain duduk di sofa.

“Aku masih bingung dengan hubungan kalian,” kata Baekhyun.

“Intinya aku menyayangi Seulgi. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatnya menangis karena patah hati,” papar Sehun tanpa rasa terbebani sedikit pun. “Seulgi adalah prioritas utamaku.”

“Ibaratnya, Seulgi itu permaisuri sedangkan Irene adalah selir,” celetuk Chanyeol.

“Semacam Seulgi adalah ibu negara dan Irene hanyalah wanita simpanan presiden,” tambah Kyungsoo.

“Oh, paham. Jadi Seulgi adalah makanan pokok, sementara Irene hanya kudapan,” sambung Baekhyun sambil manggut-manggut. Serentak mereka semua tertawa, kecuali Jongin. Dia ingin tertawa juga tapi tidak bisa. Akhirnya dia memaksakan diri dan itu malah terlihat aneh. Beruntung tidak ada yang menyadari itu.

“Entahlah, aku sangat mengharapkan kau segera bosan pada Irene lalu putus dan memusatkan perhatianmu hanya pada Seulgi,” Kyungsoo menimpali.

“Kalian memperlakukanku seperti penjahat.”

“Memang penjahat,” Baekhyun memukul kepala Sehun cukup keras.

“Dari pada memikirkanku dan Seulgi, kenapa tidak mencari teman kencan untuk kalian sendiri? Mungkin saja Seulgi merasa bosan karena selalu melihat wajah kalian tiap kencan denganku.”

“Tentu tidak, dia menikmatinya. Apalagi jika ada Jongin,” kata Baekhyun. “Iya kan, Jongin?”

“Hng? Iya mungkin,” sahut Jongin yang sibuk berkutat dengan ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari benda persegi panjang itu.

“Nah, aku lebih setuju jika Seulgi berkencan dengan Jongin saja,” sambung Chanyeol.

“Sama. Lebih baik Seulgi dengan Jongin,” Baekhyun menimpali.

“Aku mau pacaran dengan Seulgi kalau nanti kalian putus,” Kyungsoo menambahi, hanya berupa candaan.

“Wah, aku juga mau pacaran dengan Seulgi,” timpal Baekhyun lagi.

“Yaa kenapa semuanya mau menjadi pacar Seulgi?” Chanyeol menengahi dengan menepuk-nepuk meja. “Kalau mereka putus, Seulgi pasti memilihku menjadi pacar barunya.”

“Huuuuuuu,” Kyungsoo dan Baekhyun memukuli kepala Chanyeol bersamaan.

“Kalian ini apa-apaan? Seulgi mencintaiku,” Sehun tertawa pelan lalu beralih menatap Jongin. “Kalau kau bagaimana, Jongin? Mau berkencan dengan Seulgiku juga?”

“Apa?” seperti tersentak, fokus Jongin langsung berpusat pada Sehun karena pertanyaan tersebut. Lalu dia sadar bahwa semua perhatian teman-temannya tertuju padanya. “Ya… tentu saja mau.”

“Tidak mengejutkan, Seulgiku memang loveable,” kata Sehun dengan bangga.

“Kalau begitu berhenti selingkuh,” Baekhyun menendang kaki Sehun.

“Tanggung, sedikit lagi,” Sehun cengengesan. “Nanti malam aku akan bertemu dengan Irene noona di hotel.”

“Mwoya?” seru mereka serentak, mata Baekhyun membelalak.

“Apa-apaan kau ini?”

“Kalian mau check in?”

“Aku tidak peduli berapa usia Irene, tapi ingatlah kau masih seorang siswa SMA.”

“Sudah ya, kembali ke kelas dulu,” tidak mengindahkan semua respon kawannya, Sehun bangkit dengan sebuah cengiran. “Sampai nanti.”

Baik Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo masih menatap Sehun tak percaya. Sementara Jongin hanya diam dengan mengepalkan tangannya.

***

“Oppa!”

Seulgi yang baru saja keluar dari perpustakaan dengan buku dalam dekapannya, berlari ke arah Junmyeon. Pemuda itu terlihat bersama 2 pejabat OSIS lain sedang berbincang.

“Oh, Seulgi-ah,” sahut Junmyeon seraya tersenyum pada Seulgi. “Kalian duluan saja ke kelas,” ujarnya pada 2 temannya.

“Aku lapar,” ucap Seulgi saat tiba di hadapan Junmyeon dengan nafas sedikit terengah.

“Kalau berlari seperti itu kau bisa jatuh. Lihat, temanmu tertinggal,” Junmyeon mengedikkan dagu ke arah teman Seulgi yang menyusul di belakangnya.

“Aku lapar, oppa,” Seulgi mulai merengek karena Junmyeon tak juga melakukan sesuatu dengan rasa laparnya.

“Kenapa tidak ke EXO room?”

“Kan dari tadi aku belajar,” jawab Seulgi. “Apa Jongin ada di sana?”

“Aku lupa kau ini anak rajin,” Junmyeon mengacak rambut Seulgi. “Jongin pasti di sana. Ayo, ke sana bersamaku.”

Seulgi menoleh pada temannya, “Seungwan-ah, kau duluan ke kelas ya. Aku mau berburu makanan dulu.”

“Ah, baiklah. Sampai ketemu di kelas,” sahut gadis bernama Seungwan itu.

“Oppa, bagaimana dia menurutmu?” tanya Seulgi sambil menaikturunkan alisnya. Dia biarkan Junmyeon merangkul pundaknya ke EXO room.

“Dia siapa?” tanya Junmyeon bingung.

“Seungwan. Temanku yang tadi.”

“Kenapa bertanya seperti itu? Aku tidak paham.”

“Dia cantik atau tidak, kelihatan menyenangkan atau tidak, beri penilaian seperti itu. Astaga, oppa tidak peka,” gerutu Seulgi.

“Hahaha, arasseo,” Junmyeon tertawa pelan. “Cantik dan menyenangkan,” jawabnya kemudian.

“Oh, ayolah, aku tidak mengharapkan jawaban sesederhana itu,” keluh Seulgi, membuat Junmyeon makin tertawa.

“Kau bilang beri penilaian kan?”

“Oppa,” Seulgi menghela nafas. “Aku sedang mencoba menjodohkan kalian berdua. Kalau kau hanya memberi penilaian sebatas cantik dan menyenangkan, itu tidak akan berhasil.”

“Menjodohkanku? Siapa yang memberimu izin melakukan itu? Kau ini masih kecil sudah berlagak seperti ibuku,” protes Junmyeon seraya mengetuk kepala Seulgi.

“Ini permintaan Kim ahjumma,” Seulgi menepis gerakan tangan Junmyeon pada kepalanya. “Dia takut kau tumbuh kaku seperti ayahmu dan sulit mendapat jodoh. Ibumu hanya ingin melihat kau senormal remaja lainnya. Pergi berkencan dengan wanita yang imut, mentraktirnya makan, membawanya ke rumah, kalau nanti putus juga tidak apa-apa katanya.”

“Eomma bilang begitu?” Junmyeon tertawa lagi. “Ibu yang aneh. Orang tua lain akan melarang anak mereka pacaran karena takut mengganggu sekolah, tapi dia malah menyuruhmu mencarikanku teman kencan.”

“Terus terang, aku juga turut prihatin kalau kau jadi sekaku bapak calon Perdana Menteri.”

“Kalau begitu kau saja jadi pacarku. Bagaimana? Mau kan?” canda Junmyeon sembari mencubit pipi Seulgi dengan gemas.

“Yaaa, jadi kau juga menginginkan Seulgiku?”

Junmyeon dan Seulgi menghentikan perdebatan mereka karena interupsi dari Sehun. Entah sejak kapan Sehun berada di hadapan mereka.

“Sial, presiden datang. Aku tidak bisa menculik ibu negara,” timpal Junmyeon seolah ketakutan.

Sehun terkekeh karena ucapan Junmyeon mengingatkannya dengan obrolan di EXO room tadi.

“Aku tidak mau jadi ibu negara. Aku mau jadi dokter,” sanggah Seulgi yang kemudian melepaskan rangkulan Junmyeon.

“Kau tidak mau ke kelasmu?” tanya Sehun.

“Aku mau berburu makanan dulu di sana,” jawab Seulgi, menunjuk pintu EXO room di belakang Sehun.

“Tidak ada makanan, kembali ke kelas sana,” Sehun langsung merangkul Seulgi dan membuatnya berbalik ke kelas.

“Tapi aku lapar, Sehun-ah,” protes Seulgi, berusaha melepaskan rangkulan Sehun.

“Siapa suruh dari tadi belajar terus?”

“Kau mau aku gagal dalam olimpiade bulan depan?”

“Masih bulan depan.”

“Beri aku makanan.”

Lalu Sehun mengecup bibirnya. “Cerewet.”

Kalau sudah begitu, Seulgi tidak akan banyak bicara lagi. Pipinya langsung memerah dan salah tingkah, membuat Sehun makin gemas.

“Jangan pacaran di sini, nanti kelihatan guru lewat,” peringat Junmyeon dari belakang mereka.

“Tidak ada guru tuh,” Sehun menoleh sekilas, terus membawa Seulgi menjauh dari EXO room. Dan Seulgi tidak meronta lagi, mengikuti Sehun kembali ke kelas.

***

Jumat malam Jongin terasa membosankan. Yang dia lakukan hanya bermain game di kamarnya ditemani sekotak ayam goreng. Sampai bosan. Sampai ayamnya sudah habis semua. Dia sadar sudah habis saat hendak mengambil sepotong, tapi yang berhasil dia pegang adalah tulang. Mendesah singkat, dia terpaksa mempause gamenya dan membawa kotak ayam ke luar kamar. Biasanya orang tua Jongin sudah pulang pada jam segini, kecuali jika ada keadaan darurat di rumah sakit. Dia terus turun hingga tiba di dapur. Bisa ia dengar suara-suara sibuk yang menandakan ibunya tengah melakukan sesuatu di sana. Memang, salah satu hobi ibunya di waktu senggang adalah memasak.

“Eomma, aku mau ayam lagi,” pinta Jongin seraya membuang kotak bekas ayamnya ke keranjang sampah. “Whoaaaastaga!” pekiknya saat berbalik karena sosok Seulgi muncul tiba-tiba dengan cengiran lebar dan wajah belepotan tepung.

“Kaget ya? Dari pada main game sampai mati bosan, lebih baik ikut masak-masakan,” Seulgi menunjuk meja dapur yang agak berantakan dan penuh bahan makanan.

“Kenapa ke sini?” tanya Jongin, masih meraba dadanya yang berdebar.

“Bisa tidak sih, lebih ramah sedikit?” Seulgi menjitak kepala Jongin cukup kuat. “Aku bosan di rumah, jadi ke sini untuk membantu dokter Kim membuat kue.”

“Seulgi-ah, hasil cetakan tadi sudah kau masukkan dalam oven?” ibu Jongin muncul dengan beberapa loyang di tangan.

“Sudah, dokter!” sahut Seulgi dengan sigap. Ibu Jongin terkekeh sambil geleng-geleng kepala karena Seulgi masih saja memanggilnya ‘dokter’ walau dia sudah dianggap seperti anak sendiri. Seulgi sangat mengidolakan orang tua Jongin dan selalu bersikap seolah mereka berdua adalah guru besarnya. “Ayo, ikut memasak. Kau akan menikmatinya,” paksa Seulgi pada Jongin.

“Tidak mau,” Jongin buru-buru menjauh dari hadapan Seulgi.

“Sini ikut,” tanpa menunggu persetujuan Jongin, Seulgi menariknya ke dekat meja dan langsung memakaikan apron berwarna pink.

“Yaaa apa-apaan?” protes Jongin, berusaha melepaskan apron yang menurutnya memalukan itu.

“Biar bajumu tidak kotor!”

“Kenapa harus warna pink? Kau memakai warna biru kenapa aku pink?”

“Apa warna sebegitu pentingnya? Tidak ada yang melihatmu di sini kok. Ayo, bantu aku mencampurkan telur-telur ini ke dalam adonan itu,” Seulgi memberikan mixer pada Jongin, dan pemuda itu tidak bisa melakukan apa pun selain pasrah dan menurut. “Dokter Kim, hanya putih telurnya saja kan?” tanya Seulgi pada ibu Jongin yang sibuk membuat krim berbagai rasa.

“Benar, sayang. Sudah tahu caranya kan? Lakukan dengan hati-hati.”

Seulgi mengangguk mantap, kemudian mulai memecahkan telur dan memisahkan kuning dari putihnya. Jongin mengamati kegiatan Seulgi.

“Yakin bisa melakukannya? Kalau tidak bisa berikan pada eomma saja, dari pada nanti merusak kuenya,” kata Jongin yang tidak yakin dengan kemampuan Seulgi.

“Diam saja dan lihat hasilnya nanti. Tugasmu hanya mencampur itu,” sahut Seulgi dengan ketus, kemudian kembali fokus dengan telurnya. Tangannya masih terlihat kikuk, namun raut wajahnya begitu serius dan konsentrasi, melakukan itu dengan sangat hati-hati.

“Aku bisa tertidur karena menunggumu.”

“Cerewet,” Seulgi menginjak kaki Jongin dan melempar tatapan membunuh. Telur-telur yang sudah terpisah kini ia tuang ke adonan. “Campurkan sekarang.”

Jongin mencibir sekilas sebelum menyalakan mixernya, mulai mencampur adonan itu hingga mengembang. Walau seringkali dia sengaja menggoda Seulgi agar kesal, diam-diam Jongin mencuri pandang ke arahnya. Dan dia tersenyum setiap kali melakukan itu.

***

Kue yang mereka buat sudah jadi. Jongin dan Seulgi membawa sepotong ke lantai atas untuk dinikmati bersama. Seulgi sudah biasa keluar masuk kamar Jongin seolah itu adalah kamarnya sendiri, bahkan sesekali tidur di sana.

“Sambil nonton film, yuk! Atau drama,” Seulgi meletakkan kue bagiannya di meja belajar Jongin. Tangannya langsung mengutak-atik laptop yang bertengger di sana.

“Yaa, sopan sedikit,” Jongin langsung menutup laptopnya dan menjauhkan benda itu dari Seulgi. “Ini kan barangku.”

“Cih, sombong. Aku mau pinjam,” tapi Seulgi menarik dan membukanya lagi. Jongin mengalah lagi, memang tidak akan pernah menang kalau berurusan dengan gadis bermata sipit ini.

“Terserahmu saja lah,” akhirnya Jongin duduk di tepi tempat tidur, memakan kuenya sambil mengamati Seulgi.

“Besok temani aku ke toko buku ya,” kata Seulgi yang tengah sibuk menjelajahi semua folder di laptop Jongin.

“Kenapa tidak ajak Sehun?”

“Sudah. Dia bilang tidak bisa.”

“Kenapa aku harus mau?”

“Karena kau menyukaiku.”

Jongin tersedak kuenya dan batuk hingga sesak nafas. “Kau bicara apa sih?” timpalnya setelah batuknya reda.

“Pokoknya besok temani aku. Tidak usah banyak tanya makanya.”

“Iya, aku temani, beruang gendut.”

“Apa aku semakin gendut?” Seulgi memutar kursi hingga kini berhadapan dengan Jongin.

“Ya… sedikit.”

“Terima kasih karena sudah memperhatikanku.”

Jongin menatap Seulgi tak percaya. “Sama-sama.”

“Sebenarnya aku ke sini bukan untuk menemui dokter Kim, tapi menemuimu.”

“Oh, merindukanku,” alis Jongin terangkat dan sekilas dia mencibir.

“Ada yang ingin ku katakan….”

“Baiklah, aku siap mendengarkan.”

“Sebuah rahasia.”

Jongin diam beberapa detik dengan pandangan terarah ke wajah Seulgi. Kemudian ia letakkan kuenya di nakas.

“Rahasia apa?”

Tampak Seulgi menghela nafas panjang sebelum berucap. “Sepertinya Sehun memiliki pacar.”

“Bodoh. Dia memang punya pacar yaitu kau.”

“Jongin,” kata Seulgi dengan nada serius. “Yang ku bicarakan ini adalah perempuan lain. Sepertinya dia menemui orang lain secara diam-diam, di belakangku.”

Jongin terdiam. Ingin rasanya dia mengiyakan, lalu membeberkan semuanya secara jelas bahwa benar Sehun telah berselingkuh. Bukankah itu jalan keluar yang baik? Sehun dan Seulgi bisa langsung putus dan kesempatannya untuk dekat dengan Seulgi akan terbuka lebar. Sayangnya, tidak sesederhana itu. Ada banyak alternatif masalah yang mungkin akan terjadi jika dia melakukannya. Banyak yang akan rusak, lalu keadaan memburuk. Tidak hanya hubungan percintaan Sehun dan Seulgi, tapi persahabat mereka bertujuh juga.

“Kau terlalu banyak menonton drama,” sebuah respon yang menurut Jongin adalah terbaik untuk saat ini.

“Awalnya ku pikir juga begitu. Tapi semakin hari bukti-bukti tentang itu seolah datang sendiri.”

“Kalau kau mencintai Sehun, harusnya mempercayainya juga.”

“Benar sih….”

“Kau adalah prioritas utamanya, Seulgi. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa mengecewakanmu,” tutur Jongin, membuat Seulgi terdiam.

“Ku harap juga ini hanya sebagian dari ketakutanku akan kehilangannya,” ucap Seulgi, membuat Jongin merasa sedikit teriris.

“Jangan terlalu dipikirkan.”

“Tapi Jongin, jika kau mengetahui sesuatu tentang Sehun, bisa kan berpihak padaku?”

Kening Jongin berkerut. “Maksudmu?”

“Jangan menyembunyikan sesuatu dariku. Yah, kalian memang bersahabat. Tapi untuk yang satu ini, bisa kan kau memikirkan perasaanku juga?”

Tentu saja, Jongin selalu memikirkan perasaan Seulgi. Itu juga alasannya dia tidak membiarkan Seulgi tahu tentang Sehun.

“Kami semua menyayangimu, Seulgi. Jadi tidak akan kami biarkan siapa pun menyakitimu. Bagian mana yang belum kau pahami?” kata Jongin tulus.

“Benar juga sih,” sesaat kemudian, Seulgi tersenyum lagi. “Aku tidak perlu mengkhawatirkan itu karena aku punya kalian, EXO boys.”

“Sudah, kan? Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.”

“Yeah,” Seulgi naik tempat tidur dan berbaring di sana. Jongin merubah posisi duduknya menghadap Seulgi. “Kau sendiri bagaimana Jongin?”

“Aku apa?”

“Tidak adakah gadis yang kau sukai?”

Mendengar itu Jongin tertawa. “Ada. Tentu saja.”

“Benarkah? Kenapa tidak cerita padaku?”

“Belum waktunya kau tahu. Aku belum terlalu yakin juga.”

“Tetap saja… siapa tahu aku bisa membantu kan?”

“Tidak akan,” kata Jongin, ikut berbaring di sebelah Seulgi.

“Siapa orang yang kau sukai?” tanya Seulgi, menolehkan kepalanya pada Jongin.

“Kau benar-benar ingin tahu?” Jongin menolehkan kepalanya juga, sehingga kini mereka saling pandang dalam jarak dekat.

Seulgi mengangguk. “Iya. Siapa?”

Dalam jarak sedekat itu, seringkali Jongin hilang kendali. Mata jernih Seulgi yang menatapnya, lekukan hidung, juga bibir yang menguasai visusnya. Lalu kegilaan itu datang. Dia merubah posisinya hingga kini berada di atas Seulgi. Kedua tangan ia tumpukan pada tempat tidur agar tidak terlalu membebani tubuh gadis itu. Jongin mendekatkan wajahnya, tak lebih dari lima senti. Bibir mereka bisa bersentuhan dalam hitungan detik. Mungkin Seulgi juga dapat merasakan nafas Jongin menyapu wajahnya. Sedetik kemudian, Jongin menghela nafas dan berkata.

“Kau.”

***TBC***

Author Note (lagi) : Duh, saya harap ini tidak mengecewakan -_-v apa pun yang mengganjal silakan isi di kolom komentar ya. See you next chapter^^

19 thoughts on “Wonderwall : A Secret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s