Haunted House

Haunted House

img_2269

By : avatar

Cast : Kim Junmyeon (EXO), Shin Hyesoo (OC)

Genre : Romance, Comedy

Length : Oneshot

Rating : G

Disclaimer : I own the plot and the stories. This story is purely mine, I created it myself from my own wild imagination. Cast besides OC(s) belongs to God and their relatives. I might posted this story on another blog. Last but not least, please don’t be plagiators and siders! Thank you for your concern.

Terinspirasi dari EXO’S SHOWTIME Ep 10!

Originally posted on HERE

.

.

.

.

.

.

 

Bulu kuduk Junmyeon seketika meremang ketika menyadari kemana Hyesoo membawanya. Mata Hyesoo berbinar ketika sampai di depan wahana yang ingin dicobanya. Berbanding terbalik dengan Junmyeon yang sudah mengeluarkan keringat dingin sebesar butir-butir jagung. Matanya sudah memelas seperti  memohon—memang memohon—kepada kekasihnya supaya tidak usah memasuki wahana yang sudah berada persis di depan mata mereka.

“Hyesoo-ya, aku akan menemanimu menaiki wahan apa saja asal jangan masuk ke sana, eoh? Ayolah, kumohon.” Kedua mata Junmyeon sudah memelas menatap Hyesoo berharap kekasihnya akan berbelas kasih kepadanya. Tapi sepertinya, keberuntungan sedang tidak memihak pada dirinya.

Hyesoo menggeleng tegas, “Tidak, kau harus mau masuk ke sana. Tidak ada tapi. Aku tidak akan melepaskan tanganmu, aku janji.” Kata Hyesoo sambil tersenyum, tapi ada yang aneh dari senyuman gadis itu. Seperti senyuman licik. Junmyeon yang sudah terlanjur takut hanya mengangguk pelan berusaha percaya dengan omongan Hyesoo.

Junmyeon berusaha menelan salivanya, ketika kedua kaki Hyesoo perlahan tapi pasti maju mendekati pintu masuk wahana yang bertuliskan “Haunted House” di atas pintu masuknya dengan tulisan yang tidak main-main ukurannya. Sesampainya di pintu masuk mereka masih harus mengantre terlebih dahulu dan Junmyeon menghembuskan napas lega karena bisa sedikit mengulur waktu. Tapi memang sepertinya hari ini keberuntungan sedang tidak memihaknya.

Antrean terasa seperti tiba-tiba menghilang, orang-orang yang tadinya sibuk berdesakkan di depan mereka untuk masuk ke dalam dengan cepat sudah masuk semua. Menyisakan Hyesoo dengan ekspresi ‘bisakah cepat sedikit?’dan Junmyeon dengan lutut yang bergetar ketika menyadari mereka adalah giliran selanjutnya.

“H-Hyesoo-ya, k-kita k-keluar saja, ya?”

“Tidak mau, waktu kita untuk mengantre akan terbuang sia-sia nanti. Ayo cepat jalan.” Junmyeon hanya bisa pasrah ketika Hyesoo menarik lengan kanannya memasuki arena rumah hantu.

Aura mencekam kental sekali terasa ketika mereka menjejakkan kakinya ke dalam. Setidaknya itu yang dirasakan Junmyeon. Tidak lupa dengan kegelapan yang menyambut mereka. Hyesoo dengan tenang terus memimpin langkah mereka di depan, sesekali berseru ke arah Junmyeon. “Sayang, lihat kan? Tidak menakutkan.”

Tidak menakutkan pantatmu, Shin Hyesoo.

Tidak ada jawaban. Junmyeon terlalu takut untuk mengalihkan fokusnya dari sekitarnya, takut-takut kalau ada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Sementara Hyesoo masih asyik sendiri menikmati pemandangan sekitar. Junmyeon mulai berpikir sepertinya ada yang tidak beres dengan kekasihnya.

Tangan Hyesoo menuntun Junmyeon untuk berbelok di tikungan selanjutnya. Kedua kaki Junmyeon baru saja hendak melanjutkan langkahnya ketika ada yang menjatuhi kepalanya. Dan kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya.

“AAAAAAAAH!” Suara Junmyeon menggelegar di sepanjang lorong. Dirinya melompat-lompat ke sana kemari berusaha mengusir apa pun yang barusan jatuh di atasnya. Tangannya mengibas-ngibas di udara, di atas kepalanya dan tanpa sadar melepaskan genggaman tangan Hyesoo.

Saatnya melaksanakan rencana, batin Hyesoo

Tanpa sepengetahuan Junmyeon, Hyesoo lari sekencang angin melalui sisa-sisa rintangan yang masih lumayan banyak. Hyesoo tertawa sendiri di dalam hati membayangkan akan jadi apa Junmyeon sendirian terjebak di rumah hantu. Sudah sejak kecil Junmyeon tidak pernah berani masuk ke wahana yang satu ini. Baru hari ini sepanjang sejarah dirinya mau masuk ke rumah hantu karena permintaan sang kekasih.

Napas Hyesoo sedikit tersengal-sengal ketika dirinya sudah sampai di dunia luar. Hyesoo tersenyum puas dengan apa yang barusan dilakukannya. Perbuatannya bisa dikatakan keji, mengingat Junmyeon bisa mati berdiri di dalam sana.

 

****

 

“H-Hyesoo, Shin Hyesooo! Ya! Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda, kau di mana?!” Tangannya sudah basah dengan keringat dingin saat menyadari gadis itu sudah meninggalkannya sendirian di dalam wahana sialan ini. Padahal dirinya memberanikan diri untuk masuk hanya demi kekasihnya itu.

“Lihat saja kau, Hyesoo.” Kedua tangannya sudah mengepal—sambil bergetar—di kedua sisi tubuhnya. Tapi sepertinya Junmyeon memang tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan sisa perjalanan sendiri. Daripada menunggu dijemput Hyesoo, dirinya bisa mati ketakutan duluan. Jadi menurutnya lebih baik untuk menjalankan pilihan yang pertama.

Kedua tangannya meraba-raba dinding sekitar, berusaha berjalan di tempat yang minim akan penerangan ini. Junmyeon berani bersumpah demi apa pun, kalau ini adalah kali terakhirnya dirinya masuk ke dalam rumah hantu. Sementara tangannya masih setia menempel di dinding tembok.

“Ayolah Junmyeon, kau bisa melakukannya. Pikirkan pikiran bahagia, pikirkan tempat bahagia, pikirkan segala sesuatu yang bahagia.” Junmyeon menyemangati dirinya sendiri dan berusaha menjaga kewarasannya.

Junmyeon sampai pada tikungan selanjutnya. Di lorong yang ini, tempatnya sedikit, hanya sedikit, lebih terang, jadi dirinya tidak perlu meraba-raba mesra dinding lagi. Kedua obsidian Junmyeon sibuk berpendar ke sana kemari sambil tetap melanjutkan langkahnya ke depan. Kelegaan sedikit melanda perasaannya ketika dirinya hampir mencapai tikungan berikutnya dan tidak ada yang muncul. Ketika hendak sampai di ujung lorong, tiba-tiba ada yang mencengkeram kaki kirinya.

“HUAAAAAAH!!!!! Hentikan! Aku mohon!” Junmeyon melompat ke sana kemari berusaha melepaskan cengkeraman tadi, yang sejatinya sudah lepas beberapa detik yang lalu. Sementara Hyesoo tertawa terbahak-bahak di luar ketika mendengar suara teriakan Junmyeon membahana hingga keluar.

 

****

 

Wajah Junmyeon sudah pucat pasi dan sepertinya bisa pingsan kapan pun. Untungnya, ini adalah lorong terakhir. Tapi lorong ini adalah lorong paling sempit dan paling panjang dibandingkan dengan yang lain. Junmyeon hanya bisa menghela napas berat. Dirinya bahkan kagum masih bisa bernapas hingga detik ini.

“Kapan ini akan berakhir?” Lirihnya sambil perlahan melangkahkan kedua kakinya menyusuri lorong terakhir. Entah kenapa perasaan Junmyeon kurang enak. Padahal lorong yang dilaluinya saat ini kosong dan tidak ada satu pun boneka-boneka manusia yang menakutkan.

Ketika sampai setengah perjalanan, Junmyeon merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Junmyeon mengumpulkan keberanian untuk menengok ke belakang. Beberapa kali menghembuskan napas sambill memejamkan matanya dan akhirnya memutuskan untuk menengok.

“TOLOOOOONG!!! IBUUU!!!” Kedua kakinya berlari sekuat tenaga ketika mendapati sesosok makhluk, entahlah, Junmyeon sendiri tidak yakin apa itu, sedang berdiri tepat di belakangnya. Dirinya tahu itu hanya orang yang didandani untuk menakut-nakuti para pengunjung, tapi pikirannya terlalu kalut dengan ketakutannya.

Junmyeon melancarkan aksi langkah seribunya dan menengok sekali ke belakang untuk mendapati sosok tadi ternyata mengikutinya  mengejarnya dari belakang. Tanpa disadari dirinya sudah berada di ujung lorong dan sosok tadi sebenarnya sudah tidak mengejarnya lagi sejak entah kapan.

Dirinya akhirnya bisa bernapas lega ketika menyadari sinar matahari menerpa wajahnya. Napasnya memburu tak karuan. Kedua tangannya memegang erat kedua lututnya, sambil membungkukkan tubuhnya untuk mengambil napas.

Napasnya masih belum stabil ketika mendapati sudah ada dua kaki jenjang yang berdiri di depannya. Junmyeon mendongak ke atas hendak mengucapkan sumpah serapah kepada sang pemilik kaki dan hanya mendapati senyum tanpa dosa dari Hyesoo.

Aigoo, akhirnya Junmyeon-ku berhasil melewati rumah hantu sendirian.” Ucap gadis itu sambil mengelus sesekali menepuk punggung kekasihnya yang masih membungkuk. Junmyeon berdiri sambil berkacak pinggang, kepalanya menengadah ke atas, mengais-ngais udara yang sudah habis karena berteriak tadi.

“Shin Hyesoo, apa-apaan kau tadi?!” Nada bicara Junmyeon menandakan napasnya sudah kembali stabil. Di sisi lain, Hyesoo hanya terkekeh geli. “Kau harusnya mendengar teriakanmu di dalam tadi. HAHAHAHA.” Hyesoo tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit karena menertawakan Junmyeon. Tapi Junmyeon tidak menganggap hal ini lucu, masih menghunus Hyesoo dengan tatapan marahnya. Dirinya beranjak pergi ketika menyadari kemarahannya sama sekali tidak digubris gadis itu yang masih sibuk tertawa ria.

Hyesoo menyadari Junmyeon sudah beranjak pergi meninggalkannya dan segera menyusul pria itu. Rupanya pria itu sedang marah. Hyesoo mengakui, perbuatannya kali ini memang sedikit keterlaluan. Gadis itu lalu mensejajarkan langkahnya dengan Junmyeon.

“Iya-iya, baiklah aku minta maaf.”

“….”

“Junmyeon, ayolah. Maafkan aku, hm?”

“….”

CHUP

Junmyeon mendapati kecupan manis dari bibir Hyesoo yang mendarat di pipi kirinya. Gadis itu benar-benar, kalau sudah begini Junmyeon akan susah untuk tidak memaafkan Hyesoo. Junmyeon sekilas mencuri pandang ke arah Hyesoo dan mendapati gadis itu tengah menatapnya lekat-lekat.

“Cih, menggodaku, hm?” Hyesoo tersenyum tiga jari mendengar pertanyaan Junmyeon, menandakan kekasihnya itu sudah tidak marah lagi. Dalam sekejap lengan Hyesoo sudah terselip di antara lengan dan tubuh Junmyeon.

“Kau masih mau naik wahana apa?”

“Aku rasa cukup untuk hari ini, berkat dirimu.” Hyesoo hanya terkekeh. “Jangan ulangi lagi, ok?” Lanjut Junmyeon dan gadis itu hanya mengangguk cepat.

CHUP

Hyesoo mematung di tempat ketika kecupan Junmyeon mendarat di cherry-nya. Untuk beberapa saat dirinya hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, sebelum kembali tersadar Junmyeon sudah berlari sambil tertawa geli. Menjahili balik kekasihnya tidak ada saahnya, bukan?

“YA! Kim Junmyeon!” Wajahnya memerah karena malu dan menahan marah. Beberapa pasang mata sudah tertuju pada mereka tapi tidak lama. Sementara Hyesoo setengah berlari menyusul Junmyeon dengan sumpah serapah yang siap meluncur dari kedua bibir manisnya.

 

 

FIN

 

A/N:

Nginget OT 12 ceritanya *baper* /ehem/ Maafkan ke gaje-an tingkat dewa dari cerita di atas. Sekalian numpang promosi, bisa dikunjungi blog pribadi aku disini yaaa. Ketjup mwah :*

 

Best regards,

avatar

2 thoughts on “Haunted House

  1. ///baper maksimal///
    Tapi kalo nginget yg di rumah hantu malah ingetnya Tao😂😂😂 tp nice author nim bikinnya Suho😄 feelnya dpt. Niceee!

    1. Abisny dia g ditayangin wkt msk rmh hantu, jd aku imajinasiin aja. Dan jdlah suho kyk di atas :”) makasih udh mampir yaa ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s