Valentine’s Day

Valentine’s Day

Author           : mardikaa_94

Genre            : romance, school life

Rating            : teen, PG-15

Length           : oneshoot

Cast                : Kim Jongin, OC (you)

~happy reading~

Apa yang ada dipikiran kalian saat mendengar kata ‘Valentine’s Day?’ mungkin sebagian dari kalian akan berpikir untuk menghabiskan waktu diluar rumah bersama pacar, atau sahabat. Mungkin juga ada yang berpikir untuk meminum coklat panas sambil membaca buku di halaman depan rumah. Atau belanja sampai isi dompet habis tak tersisa. Banyak hal yang bisa dilakukan saat hari valentine, kan?

Terutama bagi sepasang kekasih.

Mungkin untuk kalian—yang mempunyai kekasih, hari valentine adalah hari dimana kalian menghabiskan waktu bersama. Dari membolos sekolah, pergi ke bioskop, makan siang di kedai pinggir jalan, photo box, ke taman dan membeli permen kapas, bahkan bertukar coklat. Atau bahkan yang lebih ektrem, berciuman atau berpelukan. Iya, kan?

Dan untuk kalian—yang belum mempunyai kekasih, mungkin kalian akan berbondong-bondong melakukan ritual agar Tuhan sudi menurunkan angin topan disertai hujan badai agar mereka—yang berkencan tentunya, tidak bisa merayakan hari kasih sayang. Setidaknya itu yang banyak dikatakan teman sekolahku.

Tapi percayalah, sendiri itu lebih baik. Itu pikiranku saat ini. Kenapa? Karena menurutku, percuma jika mempunyai pacar seperti dia. Namja tampan yang bahkan, lokernya penuh dengan coklat dan surat cinta walaupun itu bukan hari special. Dia popular, sangat popular. Bagaimana tidak? Dia adalah anak dari pemilik perusahaan K Group. Perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Sudah tak terhitung berapa uang yang ada didompetnya. Ditambah tubuhnya yang super atletis; lengan kekar dan tubuh berotot yang sangat pas dibadannya. Ditambah tinggi semampai yang makin memperindah manusia ciptaan Tuhan yang satu ini. Kulit tan-nya, benar-benar eksotis. Apalagi rambutnya yang berwarna coklat tua. Ah sudahlah, jika ingin membicarakan kelebihannya, mungkin sampai bumi terbalik pun, tidak akan ada habisnya.

Aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana bisa dia menyukaiku. Kami bertemu untuk pertama kalinya di halte bis dekat sekolah. Saat itu musim panas, cuaca saat itu benar-benar terik. Saking panasnya, aku sampai harus membuka rompi sekolahku. Peluh membasahi pelipisku, yang hanya kuhapus dengan tangan. Aku merutuki diri sendiri karena tidak bawa payung atau sapu tangan. Lalu, dia datang. Dia menyapaku, menanyakan namaku, dan kelas berapa aku. Setelah berbasa-basi sebentar, dia mengajakku ke kedai eskrim di seberang jalan. Awalnya aku menolak, karena memang uangku pas-pasan untuk membayar bis. Akhirnya dia bersedia untuk mentraktirku. Siapa yang tidak senang makan eskrim dengan namja tampan di siang bolong. Ditraktir pula!

Saking senangnya, aku sampai tidak melihat bahwa lampu untuk pejalan kaki sudah berubah warna menjadi merah. Dia menarikku dengan cekatan, membuat tubuhku terhuyung ke pelukannya. Hangat, hanya satu kata itu yang terlintas dipikiranku. Kurasakan detak jantungnya yang berpacu seiring dengan deru napasnya yang tersengal, mungkin dia terkejut dan panic. Dia tidak perduli dengan banyaknya pasang mata yang memperhatikan kejadian memalukan barusan. Yang dia lakukan hanya memarahiku dalam posisi dia memelukku sambil mengelus rambutku. Aku ingat, masih sangat ingat, dengan apa yang dia ucapkan waktu itu. Kata-kata yang dalam sekejap mampu membuat seluruh ototku melemas, serasa semua tulangku copot berantakan.

“kau membuatku takut. Tolong, jangan lakukan hal bodoh macam itu lagi. Aku mengkhawatirkanmu.”

Ok, mungkin kalian pikir itu hanyalah kalimat yang biasa saja. Bahkan terdengar berlebihan dengan apa yang aku ucapkan tadi. Tapi sumpah, badanku lemas saat dia mengucapkan kata itu. Dan, di kedai eskrim, tak henti-hentinya kami mengobrol sambil sesekali tertawa terbahak karena celotehan yang dia buat. Dan mulai saat itu, aku menjadi temannya.

Hari demi hari yang biasanya ku habiskan di atap sekolah seorang diri sambil membaca buku atau mendengarkan music, sekarang berubah menjadi obrolan panjang  dengan dia. Kami saling menceritakan tentang diri kami masing-masing, sampai mengungkapkan rahasia terbesar kami sekalipun. Kira-kira sudah tiga bulan aku dekat dengan dia. Menjadi temannya. Menjadi tempat bersandar saat dia membutuhkan seseorang untuk menjadi sandarannya. Menjadi teman curhatnya. Menjadi sahabatnya. Tanpa pernah dia tahu bahwa sejak dulu, saat dia mengucapkan kata itu, hatiku sudah bertuliskan namanya.

Sampai suatu hari, di musim semi, saat jam istirahat di atap sekolah, kami berbincang seperti biasa. Tidak ada yang berbeda, sampai dia memintaku menutup mataku. Saat itu aku tidak punya pikiran apa-apa. Hanya, mungkin dia ingin menjahiliku. Itu saja. Tapi, dugaanku salah. Dia melakukan sesuatu diluar dugaanku. Benar-benar diluar dugaanku. Saat dia memintaku untuk membuka mata secara perlahan-lahan, disitulah rasa campur aduk menusukku. Senang, bingung, takut bahwa ini hanyalah lelucon. Banyak sekali. Tapi, saat dia mengungkapkannya, dengan mata berbinar dan senyum khas miliknya, aku yakin. Bahwa ini tidak main-main.

“aku menyukaimu saat pertama masuk sekolah. Aku tidak berani mendekatimu karena kau begitu pendiam. Jadi kupikir kau cuek dan dingin. Tapi dugaanku salah, waktu aku melihatmu di halte bis yang sedang mengomel karena panasnya cuaca hari itu, aku memberanikan diri untuk menyapamu, menanyakan namamu padahal aku hapal sampai tanggal lahirmu berapa, dan mengajakmu makan eskrim. Sungguh, saat kau menerobos lampu merah itu, aku panic, aku takut kau kenapa-napa. Jadi dengan cepat, kutarik badanmu, dan tak kusangka hasilnya kau malah jatuh kepelukanku. Maaf ya, waktu itu sebenarnya aku senang, makanya aku sok mengomelimu yang masih dalam pelukanku. Walau sebenarnya aku sangat bahagia. Hehe. Dan setelah hari itu, niatku semakin bulat untuk mendekatimu, sampai aku yakin, hari ini, aku akan menyatakannya. Dengar baik-baik, ya. Aku tidak mau ini gagal karena inilah sisa nyaliku. Kalau kau menolakku, kau ambil coklat putih ditangan kananku. Tapi, kalau kau menerimaku, ambil coklat yang ada di tangan kiriku. Kau paham? Kalau kau paham, aku akan memulainya. Kau… mau menjadi yeojachinguku?”

Ini bukan mimpi, kan?. Pikirku tepat saat dia menyelesaikan kalimatnya. Napasku berhenti. Jantungku serasa melompat keluar. Lidahku kelu bahkan hanya untuk menelan ludah, tubuhku kaku bahkan hanya untuk berkedip, aku senang. Tentu saja sangat senang. Siapa yang tidak senang saat ditembak di hari valentine oleh namja tampan yang sudah lama kau sukai?

Dengan tangan gemetar, kuambil coklat yang ada ditangan kirinya. Tanda aku menerimanya. Melihat wajahnya yang ‘super lega’ membuatku tertawa terbahak. Menertawakan wajah bodohnya yang masih terlihat tampan sedang cengengesan seperti bocah yang dibelikan mainan baru oleh ibunya.

Dan sejak hari kasih sayang itu, kami berpacaran.

Hari ini tepat setahun aku dan dia berpacaran. Tapi, tidak ada tanda-tanda dia peduli akan hari yang menurutku sangat bersejarah ini. Mungkin dia sibuk. Itulah pikiranku saat ini. Ah, maaf. Dimana sopan santunku? Orang yang sedari tadi kuceritakan pada kalian adalah laki-laki bernama Kim Jongin. Ingat ya, Kim Jongin. Sudah tidak perlu aku memperkenalkan dia seperti apa, kan? Yang perlu kalian tahu bahwa dia adalah ketua klub basket di sekolah. Dan hari ini, hari yang harusnya kulewati dengan Jongin, harus pupus karena Jongin—sang leader, mengadakan rapat untuk perlombaan minggu depan. Ah, sialnya hidupku seminggu ini. Kau tahu? Semenjak seminggu lalu, dia berubah, jarang mengobrol denganku, jarang menyapaku saat berpapasan disekolah, malah, tidak pernah mengajakku chattingan. Sudah ku SMS, telpon, chat via LINE, apapun. Tidak ada yang dia balas. Mungkin aku punya kesalahan. Pikirku waktu itu. Sesaat setelah Jongin hanya mematikan telepon dariku. Tapi, setelah kupikir-pikir, aku tidak mempunyai kesalahan padanya. Oh, mungkin dia lelah. Itu juga salah satu pikiranku. Keesokan harinya, setelah jam ekskul habis, aku menunggunya di depan gerbang sekolah. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dia keluar bersama beberapa temannya. Dengan cukup keberanian, kupanggil namanya. Tetap berusaha menyunggingkan senyum walau sebenarnya takut akan diacuhkan. Dan, dugaanku benar. Dia malas untuk bertemu denganku. Bahkan, menatap wajahku saja rasanya enggan.

“pergilah, aku lelah, sedang tidak ingin diganggu. Oh ya, maaf. Saat hari itu tiba, aku tidak bisa pergi bersamamu. Aku ada rapat dengan anggota ekskul basket.”

Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tanpa senyuman. Tanpa tangan yang menyentuh ujung kepalaku lembut. Tanpa salam. Sungguh, itu bukan Jongin. Dengan langkah gontai, kulangkahkan kakiku menuju rumah. Menangis dikamar sendirian, dalam kesunyian. Meratapi nasib menjadi pacar seorang namja tampan yang ternyata berhati dingin.

Kalian pasti sedih bukan diacuhkan oleh orang yang kalian sayangi? Bahkan itu pacar kalian sendiri? Kalau iya, aku juga merasa demikian. Hari ini. Hari yang harusnya menjadi peringatan setahun usia jadian kami. Akan aku ubah menjadi hari putusnya hubungan kami. Iya, aku akan memutuskan Jongin.

Dengan kesiapan mental, sepulang sekolah, seperti waktu itu, aku menunggunya di depan gerbang. Berharap dia keluar seorang diri. Dan saat aku mulai lelah menunggunya, ada sebuah SMS. Dari Jongin. Yang berisi:

Masuklah, kutunggu kau di dalam ruang music.

Hanya itu? Astaga. Beraninya dia mempermainkanku bahkan disaat seperti ini? Sambil menarik napas panjang kulangkahkan kakiku dengan malas. Sampai beberapa saat kemudian.

Lama sekali.

“baweel!”

Kali ini, kulangkahkan kakiku dengan cepat dan besar. Bersiap untuk menyemburnya dengan kata-kata makian yang sudah berada diujung lidahku. Saat sampai didepan pintu masuk, mati kau Jongin. Begitulah doaku sebelum memasuki ruangan itu.

Ternyata dalamnya gelap. Gelap sekali. Tidak ada penerangan sedikitpun. Aneh. Biasanya akan ada cahaya matahari walau gordennya ditutup. Apalagi sekarang masih jam tiga sore. Cukup untuk cahaya matahari menerobos sedikit ke sini. Perasaanku jadi tidak enak. Saat aku bingung ingin keluar atau mencari Jongin, pelan tapi pasti, lampu mulai menyala satu persatu. Redup. Lampunya tidak seutuhnya menyala. Kulihat semuanya kosong. Hanya ada harum mawar disana sini. Ini wangi kesukaanku. Saat sedang melongo dan berpikir dengan apa yang sedang terjadi, terdengar dentuman piano. Suaranya benar-benar lembut. Aku kenal lagu ini. Lagu yang selalu aku nyanyikan bersama Jongin. Kuputar tubuhku untuk melihat siapa yang bermain piano itu. Dan ternyata benar, Jongin yang memainkannya. Hanya satu kata yang terlintas diotakku. Benar-benar tampan.

Setelah selesai melakukan aktivitasnya itu, Jongin mendekat kearahku. Dan membisikkan;

“kau suka? Ini special untukmu. Aku berlatih memainkan lagu itu selama seminggu. Maaf karena aku mengabaikan semua pesan dan telponmu. Tapi aku begitu karena sedang latihan untuk menyanyikan lagu itu. Maaf juga untuk yang didepan gerbang waktu itu. Waktu itu aku benar-benar lelah. Aku jadi tidak sadar berbicara seperti itu padamu. Maaf ya.”

“tidak apa-apa. Aku memaafkanmu. Kau tahu aku selalu memafkanmu, Jongin-ah.”

“terimakasih. Kalau begitu,” kata-katanya menggantung di udara saat dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya.

Sebuah kalung yang sangat indah.

Simple, biasa, tidak terlalu mewah, tapi elegant. Katanya, sangat cocok untuk leher jenjang sepertiku. Sekarang, kalung hitam manis itu sudah melingkar manis di leherku. Senang sekali rasanya.

“mau hadiah tambahan?”

“apa?” tanyaku polos saking bahagianya. Tidak sadar bahwa ada senyum licik tercetak dibibir Jongin.

CHU~

Kecupan singkat dibibirku. Hangat, manis, memabukkan. Semua menjadi satu. Kujamin pipiku memerah menyaingi tomat yang baru dipetik. Kalian bisa bayangkan betapa bahagianya aku sekarang?

Ah, jangan lupakan bahwa ini adalah pertama kalinya kami berciuman. Dan saat otakku belum mampu memproses dengan benar kejadian yang baru kualami, dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. Membisikkan satu kata yang sudah pasti membuat kebahagianku lengkap.

“saranghae.”

END

 

Anyyeonghaseyo!

Ketemu lagi sama aku ya! Haha. Ini ff kedua (padahal yang pertama aja belom kelar -_-) gimana? Feel-nya kurang dapet, ya? Maaf deh kalo karyaku kurang memuaskan. Hehe, masih belajar qaqa^-^

Aku cuma mau ngingetin, Happy Valentain’s Day buat jomblo akut karena ngarepin bias. Hoho ^_^ (padahal author-nya juga begitu. .-.) tapi yasudahlah. Kita harus mensyukuri kalau kita jomblo. Iya gak sob? *sok akrab.

Yasudahlah kalau begitu. Terimakasih sudah membaca karya saya yang tidak ada apa-apanya ini. Gomawo ^-^

 

-tunangan Chanyeol, istri Sehun-

2 thoughts on “Valentine’s Day

  1. Kirain bakal ada drama2nya dulu, eeeh ternyata udah beraksi aja Jongin nya😂 bikin pake cast yg lain dan alur cerita yg lain jg dong author nim! Kkk fightingg! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s