My Beautiful Seducer Chapter 1A

My Beautiful Seducer Chapter 1A

img_2267

Author : Angel Devilovely95 (@MardianaSanusi)
Cast : Oh Sehun & Im Neyna (OC)
Other Cast :
Kim Jongin
Lee Kurumi (OC)
Park Hyejin (OC)
Genre : Romance
Rating : 17
Length : Chaptered
Disclaimer : Kalau belum baca Teaser monggo baca dulu ya ^^
Also posted on my WP (https://angeldevilovely95.wordpress.com/)

[#Teaser]

MBS Chapter 1 dibagi dua part soalnya kalo digabungin ada 9.615 kata. Haha banyak banget kan? Aku juga bingung kenapa bisa jadi sebanyak itu. Mau disingkat-singkat adegannya, tapi bingung adegan mana yang mau disingkat karna menurut aku Chapter 1 itu chapter pengenalan jadi semua adegan penting haha. Nah biar gak keblenger bacanya jadi dibagi dua part deh. Warning! You may be bored reading this FF! Dan maaf kalau ff ini mengecewakan harapan kalian. SELAMAT MEMBACA ^^
.
.
.
.
Perhatian seluruh penghuni kelas seketika tertuju pada dua objek, yaitu pada pria berusia 30 tahun yang tengah menerangkan materi di depan kelas dan pria berusia 20 tahun yang baru saja masuk ke kelas. Bisik-bisik antara penghuni kelas samar-samar terdengar. Kebanyakan dari mereka penasaran kejadian apa yang akan terjadi antara dosen dan mahasiswa tersebut. Meski kejadian serupa sudah pernah terjadi pada mahasiswa lain tapi mereka tetap penasaran reaksi mengerikan apa lagi yang akan ditunjukkan dosen killer berperawakan tinggi itu.

“Ma-maaf Professor, saya terlambat. Sa-saya masih bo-boleh ikut ke-kelas Anda?” Tanya Kang Juna terbata dengan nada sesopan mungkin lalu membungkuk hormat. Masih dalam posisi membungkuk, mahasiswa semester lima yang baru saja masuk ke kelas itu bahkan sampai bergetar menunggu reaksi dosen lulusan Harvard kebanggan Seoul National University itu.

Oh Sehun, Professor yang mengajar mata kuliah Translation itu menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap Juna tajam. “Jangan membungkuk!” Bentak Sehun kesal seakan tidak suka dengan sikap hormat Juna yang berlebihan. Juna tentu langsung berdiri tegap seperti sedang upacara kemiliteran dengan kedua tangannya yang mengapit rapi di sisi tubuhnya. Sementara 20 mahasiswa yang ada di kelas langsung berhenti berbisik.

“Baca peraturan yang sudah aku berikan! Terlambat lima menit saja kau tidak boleh masuk ke kelasku—” Sehun melirik arlojinya “—dan kau terlambat delapan menit.” Detik berikutnya, seringaian sadis menghiasi wajah tampan Sehun. “Bodoh. Kau mahasiswa. Jangan samakan dirimu seperti anak TK yang terus-terusan bertanya hal yang tidak mungkin Juna-sshi!” Sindir Sehun ketus. Tanpa berniat mengusir mahasiswanya yang terlambat itu dari jarak dekat, Sehun malah memilih berjalan santai ke arah meja dosen dan duduk menyender di tepi meja kayu tersebut. Melihat Juna yang hanya diam membatu di posisinya, Sehun menggeram “Tunggu apa lagi? Cepat keluar! Kau menganggu perkuliahanku tahu!”
.
.
.
.
Lagu Dr. Feel Good oleh girl band Rania menggema di dalam ruang latihan tari.

Strap me down onto my chair
My chair

Dua wanita dengan hot pants putih dan tank top pink meliuk-liukkan tubuhnya lincah sambil duduk di bangku mengikuti irama lagu.

I’ve been feeling really bad

Seorang gadis belia dengan celana legging hitam dan bra hitam meliukkan tubuhnya di tiang tepat di tengah-tengah kedua wanita tadi. Menggulung-gulung ujung rambutnya sambil menatap seduktif kaca berukuran besar di hadapannya, seakan-akan ada penonton di hadapannya. Koreografi yang lebih erotis dan berbeda dari koreografi asli milik girl band Rania yang dibawakannya bersama kedua rekannya akhirnya melambat saat lirik terakhir terdengar.

Oh Oh

Kedua wanita dengan hot pants dan tank top kemudian menggigit bibir bawahnya, mengakhiri penampilannya. Sedangkan gadis belia di tengah mereka mengakhiri penampilannya dengan mengigit jari telunjuknya sambil mengerling jahil.

“Haah akhirnya selesai juga.” Ucap Neyna lega. Gadis berusia 17 tahun berwajah cantik bak boneka dengan tubuh mungil nan sexy itu duduk sambil menyenderkan tubuhnya di dinding menghadap ke arah kaca.

“Neyna-ya nanti malam kau jangan pakai legging eoh.” Ujar Kang Yeri dan Lee Jina serempak menasehati Neyna. Yeri dan Jina, wanita berusia 24 tahun yang mengenakan hot pants putih dan tank top pink itu kemudian ikut duduk disamping Neyna.

Neyna terkekeh lalu mengangguk. “Eonni sekarang jam berapa?” Tanyanya penasaran pada Yeri dan Jina. Di ruangan berdominasi hijau yang ia gunakan untuk latihan menari itu sebenarnya ada jam dinding, tapi sayang sudah tidak bisa diandalkan lagi. Alias sudah rusak. Tidak ada yang bisa ia andalkan selain Yeri dan Jina untuk menanyakan waktu lewat handphone cangih mereka. Karna sebenarnya dia sendiri tidak punya jam tangan ataupun handphone seperti kedua rekan seprofesinya itu.

“Jam setengah enam sore Neyna-ya.” Sahut Yeri setelah mengecek jam di handphone miliknya.

Neyna memekik kaget. Ia tidak menyangka 15 kali latihan menari ternyata bisa menghabiskan waktu hampir dua jam, sementara tugas rumahannya belum ia selesaikan sama sekali. Jaket hitam bermotif kelinci miliknya yang tergeletak di lantai kemudian ia pakai. Neyna menguncir rambutnya setelah itu berdiri dan meminum sebotol air mineral yang ada di atas meja.

“Kau sudah mau pulang Neyna-ya?” Tanya Yeri menyelidik.

“Iya eonni.”

“Tidak usah buru-buru pulang Neyna-ya. Istirihat saja dulu di sini.” Ajak Jina sembari menarik tangan Neyna.

Neyna menggeleng “Aku harus bersih-bersih dan menyiapkan makan malam sebelum ke Club eonni.” Neyna menghela nafas berat lalu melepaskan genggaman tangan Jina “Sampai jumpa di Club eonni. Aku pergi dulu eoh.”

Neyna kemudian berjalan tergesa keluar ruangan tari. Ini sudah jam setengah enam sore, jarak gedung senam tempat ia berlatih menari sampai ke rumah membutuhkan waktu setengah jam dan celakanya lalu lintas Seoul di jam-jam sore seperti ini pasti akan padat. Bisa-bisa ia sampai di rumah pukul setengah tujuh malam. Belum lagi pekerjaan rumahannya sama sekali belum ia selesaikan. Neyna mengacak rambutnya frustasi. “Aaah bagaimana ini?” Neyna menghentikkan langkahnya, menghembuskan nafas sejenak sebelum akhirnya berlari kencang keluar gedung senam.

Keringat yang mengucur dari dahinya tidak ia hiraukan, Neyna terus berlari sampai akhirnya berhasil keluar gedung senam dan…BUGH

Tubuhnya oleng dan hampir saja terjatuh dengan posisi tertelungkup kalau saja tangan orang yang ditabraknya tidak buru-buru menangkap tubuhnya. “Kau baik-baik saja Agasshi?” Tanya Jongin lalu menegakkan tubuh Neyna.

Seketika Jongin terbelalak, lidahnya terasa kelu, tubuhnya terasa kebas. Gadis yang menabraknya, gadis yang menumpahkan kopi yang baru saja ia beli pada kemejanya, gadis di hadapannya saat ini luar biasa cantik. Belum pernah ia melihat gadis secantik ini sebelumnya. Dan Oh No! Ia terkesima!

“Oppa kemejamu jadi basah… Maafkan aku hmm.” Neyna mengeluarkan sapu tangan dari kantong jaketnya kemudian membersihkan kemeja Jongin.

Jongin terkesiap, ucapan dan tindakan Neyna berhasil membuatnya tersadar dari lamunannya. Jongin hanya diam, pandangannya tidak luput sekalipun dari Neyna. Gadis yang masih sibuk membersihkan tumpahan kopi di kemejanya itu tanpa sadar membuatnya tersenyum tipis. Belum berniat menghentikan aksi Neyna, Jongin pun berdehem sejenak sebelum berucap “Agasshi kau baik-baik saja kan?”

Neyna mendongak “Eum, aku baik-baik saja Oppa. Terimakasih sudah menangkapku eoh.” Ucapnya lalu tersenyum manis hingga lesung pipi miliknya terpampang sempurna.

“Oh God! Her smile is so beautiful!” Puji Jongin membatin. “Aggashi sudah hentikkan hmm.” Ucap Jongin lembut sambil menangkup tangan Neyna, seketika menghentikkan aksi gadis itu.

“Tapi kemejamu masih basah Oppa.”

Jongin tersenyum lembut, ia bahkan tidak keberatan dipanggil Oppa oleh gadis yang belum ia kenal sama sekali. “Aku punya kemeja ganti di mobilku, Aku bisa menggantinya dengan kemeja itu.” Ujarnya kemudian melepaskan tangkuppannya di tangan Neyna.

Neyna mengagguk lalu tersenyum lebar “Aku minta maaf sekali lagi Oppa. Ini—” Neyna meletakkan sapu tangan miliknya di telapak tangan Jongin “—terimalah ini Oppa, bersihkan kemejamu dengan sapu tanganku eoh.”

Jongin menggenggam sapu tangan berwarna dust pink berinisal IN yang disodorkan Neyna seperti sedang mencengkramnya. “Ini untukku?” Tanyanya penasaran.

“Eumm.” Neyna mengangguk lalu tersenyum manis “Itu untukmu, sebagai permintaan maafku Oppa.” Neyna mengerjab beberapa kali sambil menelengkan kepalanya, memperhatikan wajah Jongin. “Kau tampan Oppa, kau juga baik. Aku harap kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan yang lebih baik eoh.” Ucap Neyna sembari menggerakan jari telunjuknya di dada Jongin. “Annyyeong .” Neyna membalikkan tubuhnya lalu melangkah pergi meninggalkan Jongin yang hanya berdiri mematung di posisinya.
.
.
.
.
Sehun berjalan tergesa sampai berkali-kali menabrak orang disekitarnya. Setelah mendapat telepon dari rumah sakit, ia langsung menunda meeting pembukaan cabang baru mall miliknya di New York. Setelah selesai mengajar, ia memang berencana langsung berangkat ke New York tapi niatannya harus urung lantaran kabar duka yang ia terima dua puluh menit yang lalu.

Kamar mayat. Sehun langsung masuk ke ruangan bernuansa putih itu lalu menghampiri salah satu suster jaga yang ada di ruangan tersebut. “Saya Sehun, kerabat dari Chanyeol dan Hyera, korban kecelakaan setengah jam yang lalu.” Ucap Sehun setengah berteriak.

“Ah syukurlah Tuan sudah datang.” Kelegaan tersirat jelas dalam nada bicara suster bernama Dami itu karna akhirnya ada kerabat korban yang bersedia datang untuk mengurus administrasi jenazah. Sebelumnya saat dihubungi, beberapa nomor yang tercantum di daftar panggilan Chanyeol dan Hyera mengelak untuk datang dengan berbagai alasan. Dan Sehunlah satu-satunya orang di dalam daftar panggilan tersebut yang akhirnya meyanggupi untuk datang.

“Mari ikut saya Tuan.”

Tanpa basa-basi, Sehun mengikuti arahan Dami menuju ke bagian paling ujung ruangan dimana jasad kedua sahabatnya dibaringkan. Setibanya di ujung ruangan, Dami langsung membuka satu persatu kain putih yang menutupi jasad Chanyeol dan Hyera. Sehun menghembuskan nafasnya kasar sambil memijat pelipisnya. Wajah pucat Chanyeol dan Hyera dengan beberapa luka akibat kecelakaan tanpa sadar membuatnya menitikan air mata. Ia tidak menyangka kedua sahabatnya yang sama-sama yatim piatu itu akan mati mengenaskan seperti ini.

Tidak mau terlarut dalam kesedihan terlalu lama, Sehun akhirnya menghapus air matanya kemudian menutup kain putih Chanyeol dan Hyera satu persatu. “Kedua jasad ini sudah tidak punya kerabat dekat yang bisa diandalkan selain saya, jadi tolong urus segera jasad ini karna pemakamannya akan dilaksanakan besok pagi.” Titah Sehun otoriter yang langsung ditanggapi dengan anggukan patuh oleh Dami.

“Bayi mereka selamat kan?” Tanya Sehun pada suster lainnya yang ada di kamar mayat.

“Iya Tuan. Mari saya tunjukkan dimana bayi Tuan Chanyeol dan Nyonya Hyera.” Setelah berucap pada Sehun, suster itu pun berjalan keluar kamar mayat diikuti Sehun di belakangnya.

Jarak ruangan khusus bayi berada agak jauh dari kamar mayat. Sehun terus mengekor suster yang tadi sempat ia pinta menunjukkan keberadaan ruang khusus bayi. Ruangan bercat baby blue dengan beberapa bayi di dalamnya yang terlihat dari jendela kaca akhirnya menghentikkan langkah Sehun dan suster tersebut. “Bayi Tuan Chanyeol dan Nyonya Hyera ada di sana Tuan.” Tunjuk suster bermana Lee Yura itu pada satu-satunya bayi yang tengah menangis di ruangan khusus bayi 1 sampai 6 bulan itu.

Meski ia tidak suka anak kecil, tapi ingatannya cukup peka untuk sekedar mengenali wajah anak Chanyeol dan Hyera. Tanpa berniat masuk keruangan yang nampak steril itu, Sehun mengerutkan dahinya sambil terus memandangi anak mendiang sahabatnya itu dari balik jendela kaca. “Apa Hyejin terluka?” Tanya Sehun penasaran tanpa menoleh sedikitpun pada suster yang masih setia berdiri di sampingya.

“Sungguh keajaiban Hyejin tidak terluka sama sekali. Dia menangis karna haus. Sepertinya mendiang Nyonya Hyera lebih sering memberikan ASI daripada susu formula. Jadi saat para suster memberikannya susu formula Hyejin malah memuntahkannya.”

Raut cemas tampak di wajah tampan Sehun setelah mendengar penjelasan suster bermarga Lee itu. Ia tidak mungkin membiarkan Hyejin terus-terusan menangis karna kehausan seperti itu. Sebenci-bencinya ia pada anak kecil, biar bagaimanapun ia juga tidak tega melihat bayi berusia 5 bulan itu tersiksa hanya karna membutuhkan ASI. Tapi bagaimana caranya? Mendapatkan ASI tidak semudah mendapatkan susu formula yang dengan bebas di jual di seluruh supermarket. Pandangan Sehun tidak beralih sedikitpun dari Hyejin. Dahinya berkerut senada dengan alis tebalnya yang juga ikut bertaut kebingungan demi memikirkan solusi terbaik untuk anak mendiang sahabatnya yang rencananya akan ia adopsi itu. Seketika Sehun mengangguk mantap saat ide yang menjanjikkan tapi cukup gila menyapa pikirannya. “Tolong usahakan bagaimana caranya agar Hyejin bisa berhenti menangis. Beri mainan atau apapunlah. Aku akan kembali lagi kesini menjemput Hyejin tiga jam lagi.”
.
.
.
.
Bersih-bersih rumah dan memasak sudah beres. Sekarang ia tinggal berdandan sambil menunggu Song Ahjumma bangun tidur. Ahjumma yang mengajaknya tinggal bersama sejak Eommanya meninggal itu memang seperti ratu di rumah ini. Semua pekerjaan rumah mulai dari bersih-bersih sampai memasak harus ia kerjakan sendiri tanpa campur tangan Song Ahjumma sedikitpun. Song Ahjumma bahkan sudah membiasakannya dengan pekerjaan rumahan seperti itu sejak usianya 8 tahun, tepatnya sejak pertama kali ia mulai tinggal di rumah berukuran sedang ini. Beruntung, meski Song Ahjumma terkesan bossy tapi janda berumur empat puluh lima tahun itu tidak pernah memukulinya kalau ia berbuat salah. Hanya omelan atau makian berupa sindiran yang menjurus pada hutang Appanya saja yang seringkali ia terima dari mucikari kawakan itu.

Maklum saja, Appanya memang berhutang dengan jumlah yang fantastis, 100 juta won. Uang sebesar itu akhirnya habis tak bersisa untuk biaya investasi setelah Appanya di PHK. Tapi untung tidak bisa diraih, Appanya malah ditipu orang dan akhirnya Appanya kabur meninggalkannya dan Eommanya. Eommanya meninggal karena serangan jantung setelah mendengar berita mengerikan tersebut. Dan akhirnya Song Ahjumma menjadikannya pelampiasan untuk melunasi hutang Appanya yang entah kapan bisa lunas.

Neyna menghela nafas pelan mengingat kejadian memilukan itu. Ia sadar menangis tidak akan mengubah masa lalu. Tidak akan mengubah nasibnya yang sekarang. Lagipula ia akan kena masalah kalau Song Ahjumma sampai tahu kalau matanya sembab.

“Hah lebih baik aku mulai berdandan.” Ucap Neyna sambil merentangkan kedua tangannya keatas seperti habis bangun tidur.

Wajahnya yang sebelumnya sudah ia oleskan pelembab akhirnya siap untuk dipoles make up. Dioleskannya BB Cream ke wajahnya kemudian ia mengusapkan eyeshadow coklat, mengukir eyeliner, dan memakai mascara setelahnya. Tidak lupa, ia mengusapkan blush on di pipinya. Sebagai hasil akhir, Neyna memulas lipstick merah di bibir ranumnya yang sebenarnya sudah berwarna merah sepekat cherry. Alat make up yang dihadiahkan Jinna dan Yeri eonni saat ulang tahunnya ke-17 itu sukses membuat usianya tersamarkan. Wajahnya kini terlihat tiga tahun lebih tua dengan make up agak tebal seperti ini. Tentu itu menguntungkan untuknya, mengingat pekerjaanya memang menuntutnya tampil dewasa. Neyna merapikan alat make up miliknya, menggerai rambutnya lalu bersiap memakai pakaian untuk penampilannya di Club.
.
.
.
.
Ban mobil milik Sehun berdecit nyaring sesampainya di parkiran The Trapalace Apartment. Cepat-cepat ia melepas seat belt dan turun dari mobil. Sehun kemudian berjalan keluar area parkir menuju lobi apartment. Kaki jenjangnya akhirnya berhenti melangkah setibanya di depan lift di lobi apartment kenamaan tersebut. Dipencetnya angka 27 dan beberapa detik kemudian pintu lift itu terbuka. Sehun pun masuk ke dalam lift lalu menyenderkan tubuhnya di dinding lift. Raut cemasnya saat di rumah sakit kini sedikit berkurang lantaran ide gila dan korban yang akan melancarkan ide gilanya sudah ia bekuk. Masalah berhasil atau tidak mengeksekusi salah satu korban yang ia sambangi ini urusan nanti. Toh ia masih punya cadangan korban lain. Jadi ia tidak perlu pusing kalau sampai korban pertamanya ini menolak ide gilanya.

Pintu lift akhirnya terbuka, Sehun keluar dari lift kemudian berjalan menuju pintu bernomor 54. Tidak perlu repot-repot memencet bell pintu dan menampakkan wajahnya di intercom. Sehun langsung memencet empat digit nomor sandi di pintu apartement dan detik berikutnya pintu itu pun terbuka.

“Selamat datang Oppa.” Sambut Lee Kurumi dingin sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wanita berusia 29 tahun itu memang sudah berjaga-jaga di depan pintu setelah Sehun menelfonnya sepuluh menit yang lalu.

Tanpa berniat meladeni sambutan Kurumi, Sehun pun hanya menatap datar ke arah wanita berperawakan tinggi di hadapannya itu sebelum akhirnya berjalan santai menuju ke living room.

Kurumi mendengus kesal, Sehun selalu saja bersikap acuh padanya. Cepat-cepat ia mengubah posisi angkuhnya dan berlalu mengikuti Sehun yang kini sudah duduk di sofa. “Oppa tumben sekali kau kemari? Ada perlu apa?” Tanya Kurumi sinis. Wanita yang mengenakan dress rumahan lengan pendek berwarna biru dongker polos selutut itu lalu duduk di sofa berseberangan dengan Sehun. Menatap Sehun tajam, menunggu jawaban atas pertanyaan yang diajukannya.

Sehun menyilangkan kakinya, lalu menatap Kurumi tidak kalah tajam. “Chanyeol dan Hyera meninggal setengah jam yang lalu karna kecelakaan saat perjalanan ke Busan. Dan Hyejin, bayi mereka selamat dari kecelakaan maut itu. Sekarang Hyejin sedang tidak dalam kondisi baik.”

“Lalu?” Bukanya menampakkan raut berduka atau kasihan, Kurumi malah memasang tampang datar menungu kelanjutan cerita kekasihnya.

“Hyejin tidak terluka sedikitpun. Dia hanya menangis terus-terusan karna kehausan. Saat diberi susu formula, Hyejin selalu muntah karna mendiang Hyera selalu memberikannya ASI. Para suster kebingungan dengan kondisi Hyejin, begitupun denganku karna kau tahu kan mendapatkan ASI tidak semudah mendapatkan susu formula? Tapi sekarang aku tahu bagaimana solusinya.” Sehun menyeringai sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Solusinya adalah kau. Aku ingin kau yang memberikan ASI untuk Hyejin!” Titah Sehun tegas.

Kurumi terbelalak “Kau gila Oppa! Kau kan tahu aku tidak suka anak kecil. Aku saja ngeri membayangkan bagaimana aku menyusui anak kandungku nantinya. Dan kau malah menyuruhku menyusui anak orang lain. Tidak. Aku tidak mau.” Kurumi menggeleng berkali-kali, nafasnya memburu setelah melontarkan kalimat penolakannya barusan. Ditatapnya Sehun lebih tajam, tapi yang ditatap malah bersikap biasa saja. Dingin dan acuh seperti biasa.

Sehun sudah menduga Kurumi akan menolak tawarannya. Jadi ia tidak heran dengan penolakan bernada sinis kekasihnya itu. “Hyejin akan aku adopsi. Dia akan menjadi anakku dan mungkin anakmu juga karna aku akan menikahimu kalau kau mau mengubah keputusanmu.”

Kurumi mendegus kesal. Sambil menyisir poninya kebelakang dengan salah satu tangannya, Kurumi menaikkan sebelah alisnya sebelum berucap. “Kau ingin menikahiku hanya karna masalah ini? Kau gila Oppa! Selama tiga tahun kita pacaran, kau bahkan tidak pernah mengatakan bahwa kau mencintaku! Sekalipun tidak pernah. Jujur aku muak dengan sikap dinginmu itu Oppa. Aku muak dengan kesibukanmu yang entah sampai kapan akan berkurang. Aku benar-benar muak dengan itu semua kau tahu? Aku sudah benar-benar muak denganmu Oppa! Aku tidak ingin menikah denganmu. Aku tidak ingin menjadi ibu untuk Hyejin. Dan Aku…Aku ingin kita putus sekarang!” Teriak Kurumi kesal.

“Aku pikir cepat atau lambat kita akan menikah. Jadi bukan hanya karna adanya masalah ini aku mengajakmu menikah. Lagipula cinta atau apapun itu, aku tidak suka mengatakannya. Kau tahu pasti aku tidak suka melakukan hal-hal konyol yang kau bilang romantis itu. Aku juga sudah pernah bilang bahwa ‘aku memiliki perasaan yang sama denganmu’. Bukankan itu sudah cukup? Menyebalkan! Kau seorang arsitek handal tapi kalimat semudah itu saja tidak mengerti.”

Sehun kemudian berdiri, masih tetap di posisi bersebarangan dengan Kurumi. Sembari menyelipkan kedua tangannya di kantong celana, Sehun menatap Kurumi lebih tajam. “Kalau kau muak dan ingin putus denganku baiklah. Jangan pernah menjilat kembali kalimatmu. Aku terima keputusanmu. Hiduplah dengan baik. Aku pergi dulu.” Ucap Sehun dingin. Hanya ada perasaan kecewa, bukan sedih dalam benaknya. Kecewa karna sikap kekanakan dan egois Kurumi. Sehun menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar apartment Kurumi.
.
.
.
.
Pukul setengah sepuluh malam, setengah jam setelah ia menyambangi apartment Kurumi. Sehun menatap gedung mewah bertuliskan Ellui Club di hadapannya sambil menyeringai. Club termewah di Korea yang terletak di Gangnam, Seoul itu kini menjadi pelampiasan ide gilanya selanjutnya. Setelah sebelumnya Kurumi menolak tawarannya, Sehun yang memang sudah berencana akan membekuk korban berikutnya di Club ini tidak segan langsung masuk ke dalam Club. Suasana di hall utama Club sudah ramai dipenuhi pengunjung yang kebanyakan pria dengan penampilan borjuis.

Sehun yang memang sempat mengunjungi Club ini lima bulan yang lalu bersama rekan bisnisnya nampak heran dengan suasana hall Club. Pasalnya sekarang ini baru setengah sepuluh malam dan masih terbilang sore untuk bersenang-senang di Club tapi suasana hall Club sudah begitu ramai. Plang dan beberapa poster berdisgn serupa yang di tempel di dinding Club akhirnya menarik perhatian Sehun.

“JYN Strip Dancer will be performed tonight?” Gumam Sehun sambil menilik lebih lanjut poster berukuran cukup besar yang di tempel di dinding itu. Hanya ada gambar siluet tiga wanita di poster itu, tapi dari siluet ketiga wanita itu Sehun bisa melihat dengan jelas tubuh molek ketiga penari telanjang tersebut.

“Apa karna penampilan penari telanjang ini suasana hall Club jadi begitu ramai?” Sehun memicingkan matanya, menilik waktu penampilan para penari telanjang tersebut. Ternyata tinggal dua menit lagi. Sehun menyeringai “Apa salah satu dari ketiga wanita ini saja yang aku jadikan korban selanjutnya ya?” Gumamnya lagi. Sehun mengusap-usap dagunya sambil mengerutkan dahinya, berusaha menimang kalimatnya barusan. Mencari gadis jalang di Club ini memang tidak sulit, tapi daripada repot-repot mencari lebih baik memanfaatkan umpan yang sudah ada di depan mata kan?

Sehun mengangguk mantap. Keputusaanya sudah bulat. Salah satu dari ketiga penari telanjang itu akan jadi korban berikutnya. Sambil menunggu penampilan ketiga penari telanjang itu, Sehun kemudian duduk di salah satu sofa di pinggir hall. Dari posisinya sekarang, ia bisa dengan jelas melihat MC yang mulai bercuap-cuap menyambut penampilan JYN Strip Dancer. Teriakan para pengunjung pria pun tambah riuh saat intro lagu Dr. Feel Good dari Girl Band Rania mulai dimainkan.

Tirai yang menutupi sebagian area stage Club mulai terbuka, menampilkan Jina dan Yeri dengan pakaian lengkap khas suster. Kedua gadis itu kini berjalan ke tengah stage saat lirik awal lagu dimulai.

Dr Dr cheoembuteo neukkyo wasseosseo
Nal bomyeo museum sangsang haneun geonji

Jina dan Yeri mulai menari, meliukkan tubuhnya serempak. Dua kursi yang selalu mereka jadikan alat untuk menari belum mereka jamah lantaran lirik lagu belum berpindak ke refrain.

Soljikhi eu nubichi sirchin anhasseo
Gidarin geotcheoreom nae momi tteollyeo

Masih terus meliukkan tubuhnya, Jina dan Yeri pun melepas satu persatu kancing jas suster yang mereka kenakan kemudian melempar asal jas berwarna putih tersebut. Tank top putih dan hot pants hitam senada yang tertutup di balik jas suster kini terpampang, menampilkan kilasan tubuh molek Jina dan Yeri.

I need a fi fi fix
Some type of dru dru dru drug

Neyna berjalan berlenggak-lenggok memasuki stage membuat teriakkan para pengunjung pria semakin kencang. Sehun memicingkan matanya, menilik penyebab teriakkan histeris para pengunjung pria. Satu alisnya terangkat saat pandangannya menangkap sosok mungil nan cantik yang kini mulai menari serempak bersama kedua penari sebelumnya.

Teuknyeolhi nege gwansimeul gatgo
You got me feeling fff feeling feeling.

Neyna mengigit bibir bawahnya sambil menyisir poninya kebelakang dengan salah satu tangannya. Setelah itu, kedua tangannya disatukan keatas dan tubuhnya meliuk mengikuti irama lagu.

[Reff] Dr Dr feel good come make me feel real good
Ttakttakhaedtdeon maeumi jogeumssik pulline

Sambil terus meliukkan tubuhnya, Neyna menurunkan kedua tangannya kemudian beralih membuka satu persatu kancing jas suster yang ia kenakan. Setelah kancing jas suster itu terbuka sepenuhnya, Neyna lantas melempar asal jas tersebut. Sedangkan Jina dan Yeri meliukkan tubuhnya sambil duduk di kursi.

Lain dengan Jina dan Yeri, Neyna hanya mengenakan bra hitam polos dengan hot pants hitam. Sehun membelalakan matanya, ini pertama kalinya ia melihat penampilan penari telanjang secara langsung. Dan tubuh molek Neyna mampu membuatnya meneguk salivanya susah payah. Parah. Kejantannya bahkan mulai mengeras hanya dengan melihat tubuh setengah telanjang Neyna. Ia akui gadis penyebab teriakkan histeris para pengunjung pria itu berkali-kali lipat lebih sexy dari Kurumi.

[Still Reff] Dr Dr feel good come make me feel real good
Dapdaphaetdeon gaseumi eoneunsae pyeonhae

Jina dan Yeri mulai membuka tank top yang mereka kenakan hingga menampilkan bra mereka yang berwarna coklat polos senada. Jina dan Yeri kini hanya mengenakan bra dan hot pants sama seperti Neyna tapi teriakan para pengunjung Club tidak sehisteris saat Neyna membuka jas suster miliknya. Sehun juga hanya menatap tanpa minat pada tubuh molek Jina dan Yeri yang memang tidak sesexy Neyna.

[Still Reff] I wana feel real good I need to feel real good
I wanna feel real good cuz I been really bad bad

Jina, Yeri, dan Neyna serempak membuka hot pants yang mereka kenakan sampai menyisakan celana dalam berwarna hitam senada. Para pengunjung pria tentu langsung bersorak antusias melihat pemandangan menggiurkan di hadapan mereka. Begitupun dengan Sehun, pria itu memang tidak ikut bersorak antusias seperti para pengunjung pria lainnya. Tapi Sehun juga ikut antusias, terlihat dari gerakan refleks pria itu yang sontak berdiri saat melihat Jina, Yeri, dan Neyna membuka hot pants mereka. Sehun tidak mau munafik. Ketiga penari telanjang itu memang sangat sexy, tapi jujur ia lebih penasaran dengan penampilan setengah telanjang Neyna.

“Aigoo penampilan serba hitam Neyna sangat sexy eoh?” Tanya salah satu pria di samping Sehun pada temannya.

“Jadi gadis itu namanya Neyna?” Tanya Sehun membatin. Sehun terus memperhatikan gadis yang menjadi primadona sebagian besar pengunjung pria itu. Seringaian licik kembali terpampang di wajah tampannya. “Ok, I will try to catch you…Neyna.”

[Still Reff] I wana feel real good I need to feel real good

Masih dalam posisi duduk, Yeri dan Jina meliukkan tubuhnya sembari mengigit bibir bawahnya. Sementara Neyna menyenderkan tubuhnya di tiang yang ada di tengah Yeri dan Jina lalu meliukkan tubuhnya lincah disana. Sesekali Neyna mengerling jahil, mengigit bibir bawahnya, dan menggulung-gulung ujung rambut panjangnya yang memang sengaja digerai.

[Still Reff] I wanna feel real good cuz I been really bad bad

Jina dan Yeri mulai membuka pahanya lalu memutar kepalanya sampai membuat rambut sebahu mereka ikut tersibak. Lain dengan Jina dan Yeri, Neyna tidak lagi menyenderkan tubuhnya di tiang. Gadis cantik itu hanya menggenggam tiang dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengelus-elus pahanya sendiri.

Dapdaphaetdeon na chagawojin na
Geudaen modeungeol gochineun dakteo feelin fa feelin

Neyna membalikkan tubuhnya, kemudian menggoyangkan pingulnya. Salah satu kakinya terangkat sedikit melingkari tiang, bergerak naik dan turun mengikuti irama lagu. Gerakannya makin erotis saat sorak sorai para pengunjung Club terdengar makin histeris. Neyna mulai kembali membalikkan tubuhnya dan melepas lingkaran kakinya di tiang kemudian berjalan ke pinggir stage sambil betepuk tangan di atas kepala diikuti dengan Yeri dan Jina.

Ketiganya kembali meliukkan tubuhnya serempak. Lirik selanjutnya hampir saja dilantunkan, tapi tiba-tiba deru music berhenti seketika, digantikkan suara wanita paruh baya yang kini mengambil alih mic milik salah satu DJ.

“Jina dan Yeri kembali ke belakang panggung. Neyna tetap di panggung ini.” Titah Song Ahjumma sembari berjalan menghampiri Neyna, Jina, dan Yeri.

Para pengunjung Club, termasuk Sehun tampak kebingungan dengan aksi Song Ahjumma. Begitu juga dengan Yeri, Jina, dan Neyna. Ketiganya sontak berhenti menari dan menatap Song Ahjumma heran. “Lagunya belum selesai kenapa kami harus kembali ke belakang panggung Ahjumma?” Tanya Jina penasaran.

“Sudah jangan banyak bertanya. Kau dan Yeri cepat kembali ke belakang panggung. Pelanggan kalian sudah menunggu tahu!” Ucap Song Ahjumma ketus tanpa mic yang langsung dituruti oleh Jina dan Yeri.

“Ahjumma apa aku menari sendiri?” Tanya Neyna seraya menatap Song Ahjumma lekat-lekat.

Song Ahjumma menyeringai sembari mengelus puncak kepala Neyna sebelum buka suara “Tidak. Kau tidak perlu menari lagi Neyna-ya.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak menyuruhku kembali ke belakang panggung saja eoh? Kenapa kau malah menyuruhku tetap di panggung Ahjumma?”

Song Ahjumma meletakkan jari telunjuknya di bibir ranum Neyna “Sstt.. Diamlah Neyna-ya.” Setelah Neyna menuruti ucapannya, Song Ahjumma kemudian berjalan dua langkah lebih maju di depan Neyna. “Maaf mengganggu kesengangan kalian.” Ucap Song Ahjumma dengan ekpresi menyesal pada para pengunjung Club.

“Aku hanya ingin memberitahu kalau mulai malam ini Neyna bisa kalian sewa seperti Jina dan Yeri.” Song Ahjumma tersenyum cerah melihat reaksi antusias para pengunjung pria yang kini kembali bersorak histeris. Sehun hanya menyeringai, enggan ikut bersorak histeris seperti para pengunjung lainnya. Dewi fortuna sepertinya memihak padanya malam ini. Korban incarannya akhirnya bisa ia eksekusi sebentar lagi. Dengan mudah pula.

Lain dengan Song Ahjumma, Sehun, dan para pengunjung pria, Neyna hanya bisa terbelalak sambil memegangi dadanya lantaran jantungnya kini berdegup kencang. Melihat Neyna yang tetap diam di posisinya, Nara Ahjumma pun tergerak untuk kembali menghampiri gadis cantik itu. “Kau tahu kan hutang Appamu sangat banyak Neyna-ya?” Tanya Song Ahjumma sambil mencubit pinggang Neyna, berniat menyadarkan lamunan gadis di sampingnya.

“Akh” Neyna meringis, kemudian mengangguk menanggapi pertanyaan Song Ahjumma.

“Hutang Appamu tidak akan lunas hanya dengan kau menari. Jadi karna umurmu sudah cukup untuk aku jual, mau tidak mau kau harus melunasi hutang Appamu dengan menjadi pelacur hmm.” Song Ahjumma lalu melepas cubitannya di pinggang Neyna dan kembali memposisikan mic di depan bibirnya. “Karna Neyna masih perawan. Jadi kalian bisa menyewa Neyna malam ini mulai dari 3 juta won.” Song Ahjumma menjilat bibir bawahnya sebelum kembali berucap “Aku akan berikan Neyna malam ini pada kalian yang memasang harga paling tinggi.”

Perlahan, Neyna berjalan mundur, berniat kabur dari acara pelelangan dirinya. Ia bukannya tidak mau melunasi hutang Appanya. Ia hanya tidak mau menjadi pelacur. Lagipula mungkin saja kan pria yang akan membelinya nanti pria yang sudah tua renta atau pria jelek dengan tubuh gempal atau pria jelek dengan tubuh kurus kerempeng? Ah Tidak. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Apalagi melayani pria-pria dalam khayalannya itu secara langsung. Ia tidak mau.

Song Ahjumma peka. Wanita paruh baya itu menyadari pergerakan Neyna yang berniat kabur. Cepat-cepat Song Ahjumma menggerakkan jari telunjuknya ke samping seakan memberi kode pada dua bodyguard yang berdiri di dekat DJ untuk mengamankan Neyna. Dan tiga detik berikutnya, dua bodyguard berbadan tinggi besar itu sudah mengapit kedua lengan Neyna kemudian menyeret tubuh mungil Neyna ke belakang panggung. Kalimat protes bernada memohon yang dilontarkan Neyna tidak dihiraukannya, Song Ahjumma lebih memilih fokus dengan acara pelelangan bernilai lebih dari 3 juta won saat ini.

Tawaran dari para pengunjung mulai menggema di penjuru hall Club. Ada yang menawar Neyna 3 juta won sampai 8 juta won permalam. “Ayo ada lagi yang mau membayar lebih dari 8 juta won?” Tanya Song Ahjumma antusias. Sehun tidak mau ambil pusing dengan penawaran bernilai rendahan seperti itu, buru-buru ia melangkahkan kakinya menuju ke stage. Meski berdesak-desakkan, Sehun tetap tidak gentar melancarkan niatnya mengeksekusi Neyna demi Hyejin. Apalagi memangnya kalau bukan demi anak mendiang sahabatnya itu?

Setelah berhasil melewati kerumunan pria-pria hidung belang di sekitar stage, tanpa basa-basi Sehun langsung naik ke atas stage menghampiri Song Ahjumma. Raut heran Song Ahjumma dan cuap-cuap pengunjung Club tidak dihiraukannya, Sehun malah semakin mendekatkan tubuhnya di samping Song Ahjumma. “Hentikkan acara lelang bodohmu ini sekarang juga! Aku akan membeli gadis bernama Neyna itu dengan harga tinggi. Tidak hanya untuk malam ini. Tapi untuk jangka waktu yang lama.” Bisik Sehun tegas.

Song Ahjumma refleks tersenyum lebar “Asal kau tahu Appa Neyna memiliki hutang bernilai fantastis, 100 juta won. Kalau kau sanggup memberikan 100 juta won padaku aku akan berikan Neyna padamu sampai jangka waktu yang lama seperti yang kau bilang barusan.” Ucapnya tanpa mic. Song Ahjumma dengan senang hati memberikan Neyna kalau Sehun menyanggupi tawarannya. Karna sebenarnya ia juga sudah malas terus-terusan mengurus Neyna.

“Baiklah tiga milyar won cukup?” Tawar Sehun kali ini tanpa berbisik.

Song Ahjumma mengangguk mantap “Lebih dari cukup” Kekehan selanjutnya terlontar dari bibir Song Ahjumma. Wanita paruh baya itu kelihatan senang bukan main.

“Aku akan bayar lewat cek. Aku tunggu Neyna di ruang karaoke lantai dua. Bawa gadis itu padaku secepatnya atau kalau tidak—” Sehun menjilat bibir bawahnya lalu menyeringai “—3 milyar wonmu akan hangus.” Lanjutnya dengan nada mengancam sambil menatap Song Ahjumma tajam penuh intimidasi.

Song Ahjumma tentu langsung mengangguk patuh kemudian memposisikan kembali mic di depan bibirnya. “Maaf Tuan-Tuan, acara pelelangan Neyna harus saya sudahi karna alasan tertentu. Terima kasih atas partisipasi kalian sebelumnya.” Song Ahjumma tersenyum tipis pada Sehun setelah merampungkan kalimatnya sembari menekan tombol turn off pada mic di genggamannya. Tanpa membalas senyuman Song Ahjumma, Sehun hanya mencebikkan bibirnya acuh lalu melangkahkan kakinya turun dari stage menuju lantai dua.
.
.
.
.
Neyna sontak mengerjab cepat saat Song Ahjumma tiba-tiba melemparkan jas suster miliknya tepat di depan wajahnya. “Cepat pakai lagi jas sustermu!” Titah Song Ahjumma ketus. Wanita paruh baya itu tadi sengaja memungut jas suster milik Neyna yang tergeletak di atas panggung lantaran memang hanya jas suster itu satu-satunya pakaian yang Neyna kenakan saat menuju ke Club ini. Lagipula sebenarnya ia memang tidak menyiapkan pakaian ganti untuk Neyna saat berencana menjual gadis itu malam ini.

Neyna mengangguk lalu memakai jas suster miliknya. “Ahjumma apa aku benar-benar akan jadi pelacur mulai malam ini?” Neyna menatap Song Ahjumma lamat-lamat, berharap wanita paruh baya itu menggeleng atau mengatakan ‘Tidak’.

Song Ahjumma menyeringai “Tidak.” Jawabnya dingin.

Neyna menghela nafas lega lalu tersenyum sumringah “Terimaka—” Belum sempat ucapan terimakasihnya terlontar sepenuhnya, Song Ahjumma sudah lebih dulu membekap mulut Neyna. “Mulai malam ini kau memang tidak akan jadi pelacur Neyna-ya karna sepertinya orang yang baru saja membelimu padaku akan menjadikanmu lebih dari seorang pelacur.” Song Ahjumma kemudian melepas bekapannya di mulut Neyna dan beralih memulas lipstick di bibirnya.

“Aku jadi dibeli Ahjumma? Lalu kalau aku tidak jadi pelacur memangnya aku akan dijadikan apa Ahjumma?” Tanya Neyna penasaran sambil memasang tampang bingung.

“Istri, kekasih atau simpanan mungkin.” Song Ahjumma mengendikkan bahunya acuh lalu mengangkat dagu Neyna. “Pria itu sudah membelimu dengan harga yang sangat tinggi untuk jangka waktu yang lama. Dia bahkan melunasi hutang Appamu. Jadi layani dia dengan baik eoh.” Ucap Song Ahjumma sambil memulas lipstick berwarna merah yang sempat ia pakai di bibir ranum Neyna. Kemudian, Song Ahjumma melepas tangannya di dagu Neyna dan beralih menyisirkan rambut panjang Neyna.

Neyna terdiam. Jujur ia senang lantaran hutang Appanya akhirnya bisa lunas, pria yang membelinya itu secara tidak langsung telah menyelamatkannya. Biar bagaimanapun ia tetap harus berterima kasih pada pria itu. Tapi disisi lain sebenarnya ia takut. Ia takut bukan karna ia belum berpengalaman dalam berhubungan intim atau karna keperawanannya nantinya akan direbut paksa. Well, seperti khayalan mengerikannya sebelumnya saat di stage. Ia hanya takut dengan penampilan pria yang membelinya. Ia takut pria yang membelinya itu adalah pria yang jelek, tua renta, bertubuh gempal atau bahkan bertubuh kerempeng. Tanpa sadar Neyna bergidik ngeri hanya karna membayangkan penampilan pria yang membelinya. Diraihnya satu tangan Song Ahjumma yang terkulai lalu digenggamnya erat-erat “Ahjumma bagaimana penampilan pria yang membeliku eoh?” Tanya Neyna penasaran.

Song Ahjumma menyeringai “Pria yang membelimu punya tampang yang mengerikan. Datar dan menyebalkan seperti penjahat kelas kakap.” Ucapnya menakut-nakuti Neyna yang akhirnya membuat Neyna semakin takut. Song Ahjumma mengigit bibir bawahnya menahan tawa melihat ekspresi terkejut dan ketakutan di wajah cantik Neyna. Oh ayolah, pria yang membeli Neyna memang sangat tampan tapi tidak asik kalau tidak menakut-nakuti gadis polos seperti Neyna. Lagipula memang benar kan kalau pria yang membeli Neyna memiliki tampang yang datar dan menyebalkan? Itu semua terlihat dari sikapnya yang kelewat dingin dan cara bicaranya yang seenaknya. Song Ahjumma menyudahi kegiatannya menyisir rambut panjang Neyna lalu melepaskan genggaman tangan Neyna di tangan kirinya. “Sudah jangan memasang tampang jelek seperti itu. Sekarang lebih baik kau ikut aku menemui pria yang membelimu.”
.
.
.
.

NOT TBC YET—MOVE TO MBS CHAPTER 1B
Ok, jadi gini dalam FF MBS ini Sehun sadis bukan sadis kaya psikopat kaya di FF Closer yah. Kalau di FF MBS ini Sehun sadisnya itu omonganya kasar&pedes, tindakannya arogan terbilang semaunya terus gengsian. Jongin baru muncul sedikit di Chapter 1 ini dan mungkin akan muncul lebih banyak di Chapter 2.…Mungkin juga Neyna bakal lebih genit dan godain Jongin di Chapter 2?? Gatau liat nanti haha…

Makasih udah nyempetin baca hehe ^^

Regards

Angel Devilovely95

11 thoughts on “My Beautiful Seducer Chapter 1A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s