LOVE KILLER Part 10

12132409_485358354968349_7651521527407126747_o

Title                     :  LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 :  Chapter

Rating                  :  T

Genre                   :  School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

( Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

“Selamat pagi, Sooyong” sapaan seseorang yang tidak dia duga membuatnya mengernyit heran menatap pria jangkung didepannya. Sementara yang ditatap malah tersenyum kikuk. “Kenapa kau melihatku seperti itu? Eung, aku mau minta maaf”

 

“Park Chanyeol, are u okay?” tanya Sooyong tidak yakin pada kondisi mental pria ini. Dia berjalan memasuki sekolah diikuti Chanyeol dibelakangnya.

 

“Aku serius. Aku ingin minta maaf. Kau tahu kan aku tidak bisa melawan Kyungsoo. Aku terpaksa menganggumu meski sebenarnya aku tidak mau. Jadi tolong, maafkan aku”

 

“Lupakan saja” jawab Sooyong cepat sambil terus berjalan. Dia sedikit risih karena Chanyeol terus mengikutinya.

 

“Jadi aku dimaafkan?” seakan tak menyerah Chanyeol terus berusaha mencecarnya sampai gadis itu berhenti dan memutar tubuhnya hingga keduanya berhadapan.

 

“Untuk apa sih kau minta maaf kalau nantinya kau akan mengangguku” balas Sooyong sebal.

 

“Aniya. Aku tidak akan menganggumu lagi” ucapnya tegas.

 

“Entah kenapa aku sulit mempercayai ucapanmu”

 

“Aku serius. Karena Kyungsoo akan pindah keluar negeri”

 

“Benarkah?”

 

Chanyeol mengangguk. Dia melayangkan tatapannya kesebrang membuat Sooyong ikut mengalihkan pandangannya kepintu masuk dimana Kyungsoo dan Ayahnya baru saja keluar dari kantor kepala sekolah.

 

Wajah Kyungsoo terlihat begitu muram dan tak bersemangat. Dia ingin menemui Kyungsoo dan menanyakan keadaannya tapi Sooyong tidak mau melakukannya. Dia takut berdekatan dengan Kyungsoo. Bayangan dimana Kyungsoo mencelakainya membekas dalam pikirannya. Sorot mata yang dulu arogan dan penuh intimidasi kini digantikan oleh kesedihan dan rasa sesal.

 

Sebuah mobil sedan berhenti tepat didepan keduanya. Sebelum Kyungsoo masuk, dia sempat melihat Sooyong dengan perasaan campur aduk. Gadis itu membuang mukanya. Dia ingin mengakhiri semua hal buruknya bersama Kyungsoo dan menjalani hidupnya yang baru. Selamat tinggal Kyungsoo, semoga kau mendapatkan yang terbaik disana. Lalu Kyungsoo masuk kedalam mobilnya dan pergi.

 

“Kau tidak apa-apa ?”

 

“Ya, tentu saja” jawabnya tanpa ekspresi. Dia kembali melangkahkan kakinya ke kelas. Dalam hati dia bersyukur karena seterusnya dia akan menjalani hidup dengan baik tanpa ada seorang pun yang menjadi penghalang untuk mencapai semua kebahagiaannya.

 

 

 

………………………………………………….

 

 

 

Pintu kelas terbuka dari luar membuat pandangan siswa yang tadinya fokus dengan materi yang tengah diajarkan terinterupsi oleh sosok Jisoo dengan tubuh tingginya.

 

Semua murid kini menoleh padanya, khususnya Sooyong. Saat mata mereka bertemu, keduanya saling melempar senyum.

 

“Aku terlambat. Maafkan aku, Sam” Jisoo membungkuk.

 

“Jangan diulangi lagi, Jisoo-haksaeng”

 

Jisoo mengangguk lalu duduk dibangkunya yang berada di pojok belakang dan pelajaran pun kembali dilanjutkan.

 

“Sam akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari pria dan wanita. Kalian ambil kertas yang tersedia didepan. Setelah itu berkumpul bersama teman dengan nomor yang sama” Shindong menyuruh masing-masing murid mengambil kertas yang telah dibubuhi nomor. Suho sangat berharap bisa satu kelompok dengan HyeRa. Namun dewi fortuna tidak berada dipihaknya.

 

 

 

………………………………………………………..

 

 

 

Sepulangnya dari sekolah Suho terus memasang wajah ditekuk tidak mempedulikan Sooyong yang sedari tadi mengoceh tentang pembagian tugas diantara mereka.

 

“Ya! Sebenarnya kau mendengarkan aku atau tidak?”

 

“Ck! Aku kesal”

 

“Kenapa?”

 

“Kenapa harus pacarmu itu yang satu kelompok dengan HyeRa, bukannya aku!”

 

“Hhhh. Astaga. Hanya karena itu. Ya! Kau pikir aku senang satu kelompok denganmu”

 

Suho diam. Dia terus menekuk muka seperti anak kecil yang tidak diberi uang jajan.

 

“Hahhh. Terserah. Aku tidak peduli. Suka tidak suka pokoknya kau harus berpartisipasi dalam tugas ini, araseo? Kalau tidak, aku akan mengeluarkanmu” ancaman Sooyong membuat Suho pasrah. Dia pun mengerjakan bagiannya dengan setengah hati. Pikirannya terus terpacu pada HyeRa yang kini sedang mengerjakan tugas bersama Jisoo. Suho cemburu.

 

“Menyebalkan” selanya lagi membuat Sooyong yang sibuk dengan tugasnya kini menoleh. “Harusnya aku yang bersama HyeRa sekarang. Dia bahkan tidak membalas pesanku. Apa dia tidak penasaran atau khawatir dengan apa yang pacarnya lakukan bersama gadis lain. Oh, atau jangan-jangan dia bersenang-senang dengan kekasihmu”

 

“Ya! Memangnya apa yang kita lakukan? Kita hanya belajar kelompok. Kau berlebihan. Makanya cepat kerjakan tugasmu kalau kau ingin cepat-cepat menemui kekasih tersayangmu itu” Sooyong menarik nafas. Suho benar-benar merepotkan. “Lagipula Jisoo tidak mungkin menggodanya”

 

“Tapi dia menggodamu dari Kyungsoo” balas Suho tak mau kalah.

 

“Itu berbeda”

 

“Lalu apa? Jangan bilang kalau selama ini kau menyukainya diam-diam. Heol!”

 

“Ehm, bagaimana ya? Sulit untuk tidak menyukai Jisoo”

 

“Apa?”

 

“Kau mungkin tidak tahu tapi Jisoo benar-benar style-ku” Sooyong tersenyum malu membuat Suho bergidik melihat tingkahnya. “Pokoknya kau harus mengerjakan tugasmu sampai selesai. Kalau tidak, jangan harap kau bisa pulang dan menemui pacarmu!”

 

“Bagaimana kalau Jisoo dan HyeRa-“

 

“Tidak akan karena ada Hongbin-oppa yang mengawasi mereka!”

 

Suho ingin bicara lagi sebelum Sooyong menyumpal mulutnya dengan sepotong roti. “Kau harus banyak makan roti dan minum susu kalau kau ingin bertumbuh tinggi seperti Jisoo” ejeknya setengah bercanda.

 

Suho pasrah. Dia kembali mengerjakan tugasnya dengan enggan. Meski pikirannya tidak bisa tenang tapi sebisa mungkin Suho fokus pada tugasnya.

 

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Suho, Sooyong membuat sebuah rencana. Dia tersenyum jahil. Dia ambil ponselnya lalu mengirim KaTalk pada HyeRa.

 

“Mari bertemu 30 menit lagi”

 

Setelah itu Sooyong mengerjakan tugas dalam diam.

 

Dua puluh menit kemudian, Sooyong menyudahi kegiatan mereka. “Kau bisa pergi sekarang”

 

“Hah? Tapi tugasku belum-”

 

“Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran”

 

“Mmm~ Sepertinya kau ada janji dengan seseorang? Siapa dia?”

 

“Kau tidak perlu tahu”

 

“Baiklah” Suho pun bergegas memasukkan bukunya kedalam tas, kemudian dia pergi menuju pintu keluar dan berpapasan dengan dua lelaki berpakaian seragam. Suho berhenti sebentar. Dia perhatikan kedua lelaki itu yang kini telah duduk ditempat duduknya tadi. Sontak dia tersenyum jahil.

 

“Sepertinya seru kalau aku laporkan ini pada Jisoo. Ck” gumamnya senang sambil berlalu pergi menuju rumah HyeRa.

 

 

 

…………………………………………………

 

 

 

HyeRa melihat jam tangannya. 10 menit lagi dia harus bertemu dengan Sooyong. Dia melirik Jisoo. Laki-laki itu menempelkan kepalanya di meja. Dia nampak frustasi dengan tugas yang diberi Shindong.

 

“Hei, kau masih hidup?” HyeRa yang duduk didepan Jisoo menggoyang pundaknya.

 

Wajahnya terangkat, dia nampak suntuk dan matanya berbentuk garis. “Ahhh, aku baru sembuh tapi kepalaku sakit sekali” dia menyerah dengan tugasnya.

 

“Kita sudahi saja untuk hari ini. Kalau kubiarkan, lima menit lagi bisa-bisa kau kembali ke rumah sakit”

 

Jisoo memijat dua sisi kepalanya.

 

HyeRa menghela nafas. Dugaannya dan Sooyong ternyata benar. Mereka tidak bisa mengandalkan Suho dan Jisoo untuk menyelesaikan tugas.

 

“Kau bisa bawa motor? Perlu kuantar?” tanya HyeRa begitu mereka merapikan semuanya.

 

“Setelah tutup buku sakitku langsung hilang”

 

“Ck. Kau berlebihan. Kita hanya menyalin materi yang harus kita kembangkan”

 

“Yah apapun itu, membuat kepalaku sakit”

 

“Bagaimana kau menyelesaikan tugas-tugasmu sebelum ini? Aku tidak yakin kau mengerjakannya sendiri”

 

Jisoo menatap dingin, “Semua ini mungkin karena aku satu kelompok denganmu. Tubuhku merasakan radar berbahaya yang dikirim Suho. Laki-laki itu pasti mengomel sepanjang waktu karena tidak satu kelompok denganmu. Kulihat dia terus mengirim pesan tapi kau tidak membalasnya”

 

HyeRa tertawa lebar. Sedetik kemudian dia diam lalu memukul lengan Jisoo, “Ha ha lucu sekali”

 

Tebakan Jisoo memang benar. Dia menangkap kekesalan Suho begitu tahu dia tidak sekelompok dengannya. Saat HyeRa pergi bersama Jisoo pun, tatapan dinginnya mengiringi kepergian mereka. Dia terus mengirim pesan, bertanya mereka dimana? Apa dia tidak merindukannya? Dia frustasi karena terus memikirkannya.

 

Justru Suho yang membuat HyeRa frustasi dengan keprotektifannya.

 

Hongbin membuka pintu mobil untuk HyeRa. “Benar tidak mau kuantar?” tanyanya sekali lagi.

 

“Sekarang kau yang berlebihan. Cepat masuk sana”

 

“Baiklah, hati-hati, Jisoo. Aku duluan ya” pamitnya sebelum memasuki mobil.

 

Hongbin membungkuk sopan tanda pamit sebelum memutar untuk masuk. Jisoo membalas Hongbin dengan sopan dan menunggu sampai mobil HyeRa jalan.

 

HyeRa mengintip melalui kaca spion, dia melihat bayangan Jisoo yang perlahan mengecil. “Maafkan aku teman” sesalnya dalam hati. Setelah itu dia mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan kepada Sooyong, “Aku dalam perjalanan ketempatmu sekarang”

 

Ketika kaki Jisoo siap melangkah, dering ponsel menahannya. Dia melihat id pemanggil sebelum menerima panggilan, “Ada apa?”

 

“Kau pasti tidak percaya dengan apa yang kulihat”

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

HyeRa sampai didepan cafe dimana Sooyong menunggunya. “Oppa pulang saja. Aku akan pulang bersama Sooyong” perintahnya sebelum keluar dari mobil.

 

Begitu memasuki cafe, HyeRa mengedarkan pandangannya. Beruntung Sooyong duduk tidak jauh dari pintu jadi dia langsung menemukan gadis yang rambutnya dikuncir itu. Dia menghampiri Sooyong yang dihadapannya telah duduk dua siswa yang mengenakan seragam berbeda dengan mereka.

 

“Maaf, Soo. Aku terlambat” dia menarik kursi kemudian duduk disebelahnya.

 

Sooyong menggeleng dan tersenyum. “Tidak, HyeRa. Kami juga belum melakukan apa-apa”

 

HyeRa melihat dua laki-laki didepannya lalu tersenyum dan mengangguk seadanya.

 

“Hai, namaku Junhoe. Dan ini Jaehyun”

 

Laki-laki didepan HyeRa yang bernama Jaehyun tersenyum hingga mata sipitnya menghilang. Dia terlihat seperti Suho. Apa ketua kelasnya punya saudara kembar? Atau dia sedang mengawasinya sekarang? Kepala HyeRa menoleh kebelakang.

 

“Wae?” tanya Sooyong.

 

“Ah, tidak ada” HyeRa memberi cengiran.

 

“Kalau begitu kita langsung saja” Sooyong mengangkat pena, “Junhoe, bisa kau jelaskan tentang klub seni yang ada d Kirin?”

 

Mendengar itu HyeRa membuka bukunya. Dia juga siap dengan penanya untuk mencatat penjelasan Junhoe dan Jaehyun. Mereka adalah siswa Kirin Art High School. Mereka datang untuk membantu dua gadis ini menyelesaikan tugas dari Shindong. Mereka tidak bisa berharap kepada Suho dan Jisoo makanya Sooyong dan HyeRa bertemu untuk bekerja sama.

 

 

 

……………………………………………………

 

 

 

Jisoo melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia menyalip satu mobil dan mobil lainnya. Fokusnya adalah Sooyong. Dia harus segera membuktikan ucapan Suho yang menelponnya beberapa menit yang lalu. Suho bilang Sooyong bertemu dua laki-laki mencurigakan setelah mereka kerja kelompok. Dan Suho menakutinya dengan mengatakan Sooyong mungkin berselingkuh. Jisoo semakin menggas motornya.

 

Sooyong tidak mungkin mengkhianatinya. Dia tidak sepenuhnya percaya tapi ucapan Suho terus mengganggunya. Dia harus membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.

 

Butuh waktu sepuluh menit bagi Jisoo untuk sampai ke cafe. Dia berlari memasuki bagian dalam. Dia berhenti didepan pintu dan tidak butuh waktu lama untuk menemukan gadisnya. Dia tercengang dengan apa yang dia lihat. Suho benar. Sooyong bersama dua laki-laki tidak dikenal. Tapi Jisoo juga melihat satu gadis yang dia kenal duduk disebelah Sooyong. Apa-apaan ini! Dia mengeluarkan ponselnya dari saku.

 

Dia menghubungi Suho untuk membuktikan kebenaran penglihatannya. Pada deringan kedua, panggilan diterima diujung sana. “Ya! Kau bilang Sooyong bertemu dengan lelaki mencurigakan?”

 

“Benar. Kau sudah sampai? Kau bisa langsung menemukannya begitu memasuki cafe”

 

“Hh, tapi aku juga melihat HyeRa bersama Sooyong”

 

“MWO?!”

 

“Ini pemikiranku atau hubungan Sooyong dan HyeRa yang terlalu dekat hingga berselingkuhpun mereka rencanakan bersama?”

 

“Sial!” panggilan itu langsung dimatikan secara sepihak. Jisoo menurunkan ponselnya. Matanya terus tertuju pada Sooyong dan HyeRa. Matanya menyipit untuk meneliti. Dia akan menunggu Suho sebelum menghampiri keduanya. Tapi jika laki-laki itu macam-macam, dia akan langsung menyerang mereka.

 

Disisi lain, Suho memutar mobilnya. Dia yang dalam perjalanan menuju rumah HyeRa harus memutar kembali. Gadis yang seharusnya dia temui dirumahnya justru kencan buta dengan Sooyong yang baru saja dia tinggalkan. Bagaimana mungkin dia bisa kecolongan! Ini tidak boleh dibiarkan. Dia injak pedal gasnya hingga sedan merahnya melesat menembus jalanan kota Seoul.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

Sambil menunggu kedatangan Suho, Jisoo mencoba untuk menghubungi Sooyong namun gadis itu mengabaikan panggilannya membuat kecurigaannya semakin bertambah. Matanya terus memperhatikan gerak gerik Sooyong dan dua laki-laki didepannya.

 

Sementara itu Sooyong dan HyeRa sibuk menulis sembari mendengarkan penjelasan. Tanpa Sooyong sadari, selama memberikan penjelasan Junhoe terus memperhatikannya. Begitu pula dengan Jaehyun sampai kedua gadis itu menengadahkan kepala.

 

“Apa ada yang salah dengan wajah kami?” Sooyong bertanya dengan polosnya membuat Junhoe tersenyum.

 

“Ah maaf, dari tadi aku tidak bisa melepaskan tatapanku karena kau begitu cantik, seperti yang dikatakan teman-temanku di sekolah” Junhoe tersenyum dengan tatapan menggoda membuat Sooyong salah tingkah. Dia selalu seperti itu ketika seseorang memperhatikannya dengan detail.

 

“Ohya, sebelumnya aku tidak tahu tentangmu” Jaehyun menunjuk HyeRa dengan senyum malaikatnya membuat HyeRa berpikir mungkin laki-laki ini mempunyai hubungan darah dengan Suho.

 

“Aku baru pindah ke Genie satu bulan yang lalu” jawabnya cepat. Dia tidak berminat melanjutkan pembicaraan yang tidak penting. “Bisa kalian lanjutkan penjelasan kalian-“

 

“Bagaimana kalau kita lanjutkan wawancaranya besok? Kita bisa melanjutkan wawancaranya sambil menonton atau-“

 

“Apa?” suara khas seorang laki-laki membuat HyeRa dan Sooyong memalingkan wajah. Begitu keduanya menoleh, mereka terkejut mendapati Jisoo bahkan Suho menatap dua lelaki didepannya dengan tatapan membunuh.

 

“Kita ketahuan, Soo” sesal HyeRa dengan suara pelan.

 

Junhoe dan Jaehyun yang merinding ditatap seperti itu langsung bangkit dari tempat duduknya.

 

“Kalau begitu kita sudahi saja wawancaranya sampai disini. Kalian bisa menghubungi kami bila-”

 

“Bila apa hah? Ya! Jangan pernah mencoba untuk menghubungi kedua gadis ini. Kalian tidak lihat, kami berdua ini suaminya tahu. Suaminya!” kali ini Suho yang angkat bicara. Dadanya kembang kempis menahan emosi. Dia kesal karena HyeRa menemui pria lain tanpa sepengetahuannya.

 

“Sekarang kalian berdua cepat pergi” suruh Jisoo dengan tatapan dinginnya membuat dua lelaki tersebut segera pergi keluar cafe.

 

Sooyong dan HyeRa mengusap kepalanya. Wawancara mereka telah gagal dan tugas mereka tidak bisa selesai dalam waktu dekat.

 

Kini Suho dan Jisoo duduk menghadap kekasih mereka masing-masing.

 

“Ish! Kalian berdua benar-benar. Aku yakin, kau pasti dalang dibalik semua ini” HyeRa meremas rambutnya. Dia menyerah dengan sikap Suho yang terlalu protektif.

 

“Itu salahmu karena kau mengabaikan semua panggilanku. Aku mengkhawatirkanmu”

 

“Sayangnya alasanmu sangat gagal. Dan kau Jisoo, kau tidak berpikiran aku selingkuh kan?”

 

Jisoo tidak menjawab. Dia menoleh kearah Suho yang duduk disampingnya seakan ikut menyalahkan Suho atas semua kesalahpahaman ini.

 

“Semua karena Kim Joon Myun. Ya! Sekarang bagaimana dengan tugas kita? Kalau saja Suho tidak mengacaukan semuanya mungkin tugas kita sudah selesai hari ini”

 

“Hei, kenapa menyalahkan semuanya pada Suho? Mungkin apa yang dikatakan Suho bisa terjadi” HyeRa membelanya. Dia kasihan karena sepertinya lelaki itu begitu terpojok. Sementara yang dibela diam-diam tersenyum bangga. Dia semakin yakin kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

 

“Kau membela dia huh?” Sooyong tidak terima.

 

“Aku tidak membelanya. Aku hanya curiga karena Go Junhoe itu terus memperhatikanmu. Wajahmu bahkan memerah begitu dia memujimu.  Ah, dan tadi dia juga memberimu nomor pon-mphhh”

 

“Yak. Hentikan, Shin HyeRa!” Sooyong membungkam mulut gadis cantik itu. Dia tidak ingin Jisoo salah paham dan emosi. Meski sebenarnya Sooyong ingin melihat reaksi Jisoo tapi dia sedikit kecewa karena pemuda itu hanya diam sambil memasang tampang dinginnya seperti biasa.

 

“Aku ke toilet sebentar” Jisoo bangkit lalu pergi meninggalkan keheningan diantara ketiganya.

 

Sooyong yang tidak enak dengan situasi canggung seperti ini mencoba untuk bersikap biasa. “Eiy, kau tidak sadar kalau sedari tadi Jaehyun juga memperhatikanmu. Kau terkejut kan melihat wajahnya yang mirip dengan Suho”

 

“Apa? Ya! Ra-yaa!” kedua pasangan itu pun kembali beradu mulut dan Sooyong memperhatikannya sambil menikmati roti dan minuman yang dia pesan layaknya sebuah tontonan. Entahlah Sooyong merasa kalau hubungan mereka nampak begitu manis. Tak lama Jisoo kembali dari toilet. Masih dengan ekspresi yang sama tapi kali ini dia terlihat menghindari tatapan Sooyong. Mereka pun melanjutkan tugasnya hingga malam hari.

 

Setelah selesai Suho dan Jisoo berpisah untuk mengantar kekasih mereka kerumah masing-masing.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

Suho terus tersenyum mengingat pembelaan yang HyeRa lontarkan untuknya. Dia senang. Kapalnya telah diijinkan berlabuh. Dia mengantar HyeRa pulang.

 

“Hahhhhh”

 

Suho mendapati HyeRa semakin merebahkan tubuhnya. Dia nampak lelah. Suho ulurkan tangan kanannya ke pundak HyeRa. Dia pijit dengan sesekali menoleh ke jalan dan HyeRa. Mobilnya tetap stabil meski dia mengemudi dengan satu tangan.

 

“Baru kali ini mengerjakan tugas itu sangat melelahkan” HyeRa tepuk pundaknya bergantian.

 

“Jika kalian tidak merencanakan hal bodoh, tugas kita bisa selesai lebih awal”

 

“Kau dan Jisoo tidak bisa diharapkan”

 

“Kami juga berusaha, nona”

 

“Ahhhh, aku lelah” HyeRa memejamkan mata.

 

Suho tersenyum kecil. Dia menepikan mobil.

 

“Kenapa berhenti?” HyeRa bangun lalu menatap Suho.

 

“Kemari. Kau lelah kan” Suho melepaskan sitbelt miliknya dan HyeRa. Dia tarik tubuh HyeRa agar mendekat. Dia sandarkan HyeRa dipundaknya. Dia elus punggungnya dengan sayang. “Aku merasa bersalah karena telah membuatmu sangat lelah. Sebagai penebusan rasa bersalahku. Kubiarkan kau bersandar sebentar”

 

Ketua kelasnya semakin gila! pikirnya. HyeRa dorong tubuh Suho, tapi sulit. “Ck ck ck. Kau sudah mendapat ijinku, Ra~yaa. Jangan berontak”

 

HyeRa geli mendengar panggilan aneh dari Suho. Dia merinding. “Lebih baik antar aku pulang. Aku ingin beristirahat dikamarku”

 

Suho menatap HyeRa tidak percaya. “Kau… mengajakku kekamarmu? Apa ini tidak terlalu cepat” matanya berbinar dengan mulut terbuka senang.

 

“Iiihhhhh” HyeRa mendorong kepala Suho, “Terlalu cepat 100 tahun untukmu tahu!” Akhirnya tubuh mereka terlepas. Dia cemberut namun Suho tertawa lepas. Setelah tawanya reda dia duduk menghadap setir.

 

HyeRa menunggu. Tidak ada pergerakan dari Suho setelah itu. “Kenapa kau diam saja?”

 

“Hm?” Suho menoleh.

 

“Cepat jalankan mobilnya”

 

Senyum miring Suho tertarik. Dia menyodorkan pipi lalu menunjuknya berulang-ulang. Dia minta cium.

 

“Suho! Jangan memulai pertengkaran. Aku sangat lelah”

 

 “Yahhh~ kalau kau masih ingin disini, aku tidak masalah” gayanya sungguh menyebalkan dimata HyeRa. “Tidak perlu malu, Ra~yaa. Akui saja kalau kau juga menyukaiku” dia senggol lenggannya.

 

HyeRa diam menekuk wajah.

 

“Kau membelaku tadi. Bukankah itu artinya kau peduli padaku. Sebenarnya kau han-” ucapan Suho terhenti. Sebuah kecupan mendarat dipipinya. Wajahnya terasa panas setelah HyeRa memenuhi keinginannya. Gadis itu mencium pipinya!

 

Dia menoleh sementara HyeRa memalingkan wajah. Dia merasa malu.

 

Apakah kapalnya sudah diijinkan berlabuh?

 

Apa HyeRa menyambut uluran tangannya?

 

Boleh dia mengambil kesimpulannya sendiri?

 

Perasaannya terbalaskan. Dia mendekat.

 

HyeRa menoleh ketika dia merasakan tubuh Suho mengapitnya. “Y-y-y-yaa” dia terpojok sekarang. Jarak mereka hanya beberapa senti. Dia dapat melihat bola mata Suho yang menatapnya dengan lembut.

 

“Aku siap jika setelah ini kau akan memukulku. Tapi, bolehkan aku?” mereka saling menatap sebentar sebelum Suho mencium HyeRa. Dia pertemukan bibir mereka. Sudah sejak lama dia ingin mencicipi bibir ranum gadis ini. HyeRa selalu menggodanya.

 

Dia ulum bibir HyeRa. Tampak gairah dalam gerakannya tapi bibirnya tidak menuntut ciuman mereka. Dia tidak mau melukainya. Dia juga takut HyeRa langsung mendorongnya sedetik kemudian.

 

Tapi HyeRa tidak memberi penolakan. Justru dia menutup mata dan merasakan sentuhan bibir mereka. Dia nampak terbuai. Suho mendapat ijinnya.

 

Suho angkat dagu HyeRa untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan HyeRa berada didada Suho. Dia merasakan detak jatung pria ini. Debarannya begitu cepat. Jantungnya juga berimana dengan kencang sekarang. Jantung mereka seperti saling berlomba.

 

Gerakan Suho melambat. Dia hisap satu persatu bibir HyeRa sebelum melepaskan tautan mereka. Keduanya membuka mata bersamaan. Suho tersenyum, sementara HyeRa merona dalam diam. Suho kecup bibir HyeRa lalu berkata, “Terima kasih, Ra~yaa. Aku sangat mencintaimu”

 

 

 

……………………………………………….

 

 

 

“Kau tidak mau masuk dulu?” Sooyong menawari Jisoo untuk mampir kerumahnya.

 

Jisoo menggeleng cepat, “Eung, ini sudah terlalu malam. Lagipula ada PR yang harus aku kerjakan”

 

“Baiklah, selamat malam, Jisoo” Sooyong melambaikan tangannya sambil tersenyum kecil. Begitu ia ingin berbalik, Jisoo menahannya.

 

“Beritahu aku saat kau pergi ke Jepang”

 

“Sepertinya kau ingin sekali aku per-“

 

“Bukan begitu”

 

“Hm?”

 

“Aku hanya ingin mengantarmu dengan senyum, jadi kau tidak perlu merasa terbebani karena aku”

 

“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai beban”

 

“Iya aku tahu. Tapi kalau aku boleh memilih, aku tidak ingin kau pergi. Aku egois kan?”

 

“Kenapa?”

 

Jisoo menghela nafasnya membuang rasa sesak dihati. Haruskah dia mengatakan yang sesungguhnya pada Sooyong?

 

Dia menatap Sooyong yang juga menatap kearahnya menunggu jawaban atas pertanyaan tadi.

 

“Lupakan saja omonganku tadi” jawaban Jisoo membuat gadis itu sedikit tercengang.

 

Semburat kekecewaan tersirat dari raut wajahnya. Entah apa yang membuat Jisoo memilih menahan kata-katanya. Saat di cafe, Jisoo akui dia cemburu saat Sooyong tersenyum malu begitu Junhoe memujinya. Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Mungkin karena dia tidak ingin gadis itu merasa terkekang dengan sikapnya. Atau memang Jisoo tidaklah sepandai Suho yang sangat aktif mengungkapkan perasaannya pada HyeRa.

 

Sooyong tidak bicara apa-apa lagi. Dia langsung masuk dengan perasaan tak menentu. Tadi itu dia berharap Jisoo akan menahan kepergiannya, tapi ternyata tidak. Jisoo bahkan tidak berekspresi apa-apa saat HyeRa bilang Junhoe memberikan nomor ponselnya pada Sooyong.

 

Ketika kakinya sudah masuk kedalam rumah, Nyonya Choi menyambutnya dengan wajah serius. “Sooyong, kita bicara sebentar”

 

 

 

…………………………………………………

 

 

 

Dalam ruang kerja, Nyonya Choi menatap Sooyong dengan amarah yang ditahan. Gadis yang berdiri didepannya telah membuatnya kecewa.

 

“Pengacara Jung menghubungi Ibu. Dia bilang hak asuhmu sekarang berada ditangan Ayahmu”

 

Sooyong tidak berani menatap Ibunya. Dia merasakan aura Nyonya Choi yang tidak mengenakan.

 

“Setelah membatalkan pernikahan, kau mau meninggalkan Ibu? Kenapa kau tega melakukan itu kepada Ibu yang sudah mengurusmu selama ini. Mana balas budimu pada Ibu!” cecarnya sengit.

 

Sooyong menahan sesak dalam dada atas ucapan Nyonya Choi. Sampai kapan Ibu akan melukaiku? Apa Ibu pernah memikirkan perasaanku?

 

Sooyong angkat kepalanya. Matanya berair. “Aku ingin bebas, Bu. Aku lelah terus dimanfaatkan untuk bisnis Ibu”

 

“Itu demi kebahagiaanmu”

 

“Itu demi kebahagiaan Ibu!” balas Sooyong cepat. Intonasinya naik satu oktaf. Nyonya Choi tersentak atas sikap Sooyong. Air mata Sooyong mulai jatuh, “Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang Ibu maksud. Semua tekanan yang Ibu berikan padaku hanya demi diri Ibu sendiri. Apa Ibu pernah bertanya tentang perasaanku? Apa Ibu peduli pada pendapatku? Tidak! Ibu sama sekali tidak mendengarkan aku” dia hapus air matanya, “Aku akan tinggal bersama Ayah. Aku tidak mau jadi robot Ibu lagi. Selamat malam, Bu” dia membungkuk sopan. Dia masih punya etika untuk pamit kepada Ibunya. Setelah itu dia berbalik pergi.

 

Begitu dia menutup pintu ruang kerja. Air matanya kembali jatuh. Dia tidak bisa membendungnya lagi. Biarkan dia menangis kali ini. Dia butuh ruang untuk bersedih.

 

 

 

 

 

tbc ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s