Step (Chapter 1)

Steps

  • Author : Cardova (@zhayrapiverz)
  • Cast             : Oh Sehun and OC
  • Support Cast : Exo Member
  • Length : Series
  • Rating : T, G
  • Genre : Psikologi, Family, Romance, Hurt, (Become Married Life)
  • Disclaimer : FF ini saia post di fb pribadi (Zayy Cardova) dan banyak tempat dengan nama Author yang sama. Semua yang saya posting adalah karya original otak saya (Saya mah Cuma nyalurin aja ke MS. Word bhaks) yaudelah Happy reading *bow

 

Seulbi berjalan dalam langkah cepat-cepat sesaat bel sekolah berbunyi lima menit yang lalu. Ia tidak ingin pulang terlambat lagi seperti kemarin dan membuatnya harus mendapatkan hukuman dari Ayahnya yang cukup mengerikan. Seulbi sangat takut bila bertemu ayahnya dan ia tidak berani sedetikpun menatap pria paruh baya itu sekalipun.

Luka dimasa lalu berusaha Seulbi tutup atau sekedar melupakan dengan susah payah namun ia gagal, berbuah Seulbi yang menjadi gadis pendiam dan sangat takut bila berhadapan dengan pria manapun termasuk Ayahnya sendiri

“SeulBi~ya!!” seorang siswa dari arah berlawanan mencengkeram lengannya membuat langkah Cepat Seulbi terhenti.

SeulBi menunduk begitu mengenali pemilik suara berat Oh Sehun yang menginterupsi pendengaran, membuat Seulbi gemetar ketakutan

“Lepaskan aku!” nada suara SeulBi semakin bergetar dengan pelupuk mata yang mulai berair “Kumohon Oh Sehun! Aku harus segera pulang!”

Sehun berjengit sembari menyentuh dagu SeulBi membuat gadis itu mendongak “Gwenchana?” Ujarnya nampak khawatir.

 

Beberapa waktu lalu sempat berhembus kabar yang entah datangnya dari mana bila Sehun menyukai SeulBi, tetapi hingga saat inipun Sehun tak pernah mengutarakan bagaimana perasaan yang sebenarnya pada siapapun termasuk kepada SeulBi sendiri. Setahu SeulBi, Sehun seorang player yang didekati banyak gadis. SeulBi tidak peduli dan ia tidak ingin berurusan dengan lelaki manapun.

Cepat-cepat SeulBi menepis tangan pria itu begitupun cengkraman pada lengannya, segera berlari secepat yang ia bisa menjauhi kerumunan para siswa siswi yang memenuhi koridor.

SeulBi menaiki taksi dan menyuruh Ahjussi menyetir dengan cepat agar ia tidak terlambat pulang. Sesampainya di rumah yang nampak kosong, ia segera berjalan hati-hati menuju kamar, menguncinya perlahan setelah berhasil menutup pintu dengan aman.

Sepasang kaki SeulBi melemas, ia terduduk di lantai dan bersandar pada pintu sembari menetralkan degupan jantungnya yang beradu cepat sedari tadi

‘Setidaknya aku pulang dengan aman’

 

♬•♬

 

Jokwon melepaskan dasi hitam yang terasa mencekik lehernya lantas melemparkan tas kantor mahalnya disembarang tempat. Terduduk di sofa ruang keluarga seorang diri, mengedarkan pandangan ke segela penjuru rumah yang nampak sepi Seperti biasanya ‘Apa dia sudah pulang?’ Jokwon berinisiatif melihat keadaan putri semata wayangnya na’as pintu telah terkunci rapat, rupanya benar bila SeulBi telah pulang sejak tadi

“Hey cepat  buka pintunya! Kita harus bicara” sentak Jokwon sambil lalu menggedor pintu kamar Seulbi sarkastik. Selalu seperti itu!

 

Jokwon Lama menunggu namun tak ada sahutan sedikitpun dari dalam ‘Apa dia tidur?’

“Hey cepat buka pintunya atau kalau tidak, aku akan membukanya dengan caraku sendiri!” Jo kwon kembali berteriak dengan raut dingin yang begitu menakutkan.

Perlahan knop pintu memutar perlahan, SeulBi menampakkan sedikit bagian kepalanya dan hanya memberi sedikit ruang  untuk berjaga-jaga bila JoKwon ingin memukulnya lagi “I..iya A-ayah?” SeulBi berbicara takut-takut dengan jemari bergetar dibalik pintu

“Mulai besok kau tidak akan tinggal disini lagi. Tinggalah di rumah calon suamimu sebelum kalian menikah dan jangan membantah!”

Deg. Sepasang lensa coklat SeulBi melebar dengan bibirnya yang sedikit terbuka “C-calon S-suami, nuguseyo..T-tapi A-ayah?”

“Tidak ada tapi-tapian. Cepat kemasi barangmu, besok calon suamimu akan segera menjemput kemari!” Jokwon mengakhiri percakapan menyakitkan diantara mereka

 

SeulBi terduduk menyandar pintu memeluk kaki. Perlahan air mata dari sepasang mata sayunya mengalir satu persatu dan semakin deras didetik berikutnya

‘Jadi seperti ini, aku akan berakhir seperti nasip Ibu dimasa lalu?’

Kapan ia mampu meneriakkan isi hatinya di depan orang? Kapan Seulbi berhenti menjadi penakut yang membuat dirinya terpenjara diatas luka?

 

♬•♬

 

SeulBi semakin menunduk tatkala pergelangan tangannya bertautan oleh pria yang akan menjadi suaminya kelak di kemudian hari. SeulBi masih berpikir apa yang baru saja terjadi pagi ini saat Jokwon -Appa SeulBi- tanpa raut berdosa langsung mengizinkan dirinya keluar dari rumah bersama lelaki yang SeulBi tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bagaimana bisa Oh Sehun akan menjadi suaminya? -ralat calon suami di masa depan?- Memikirkannya saja membuat SeulBi sangat pusing dan takut.

“Omo~ uri SeulBi sudah datang rupanya”

Sehun melepaskan genggaman tangannya, mempersilahkan SeulBi mendekati Seorang wanita paruh baya yang masih begitu cantik jumawa, Sehun Eomma

“Ne..Annyeong Haseyo..” seulbi berujar lirih sambil sedikit menunduk

Sehun eomma merangkul SeulBi yang nampak kikuk dengan tawa ringan renyahnya yang mencairkan suasana kaku diantara mereka “Tidak perlu malu-malu SeulBi~ya, anggap saja rumah sendiri, Arrachi? Nah sekarang ikutlah dengan Sehun, kita bertemu di ruang makan ya..”

SeulBi melirik Sehun menaiki tangga, pandangannya lantas beralih pada wanita paruh bayah itu lagi “Ahjumma..”

“Panggil saja eomma, SeulBi~ya!”

SeulBi mengangguk “A..aku tidak akan sekamar dengan Sehun kan?”

“Aigo~” sehun eomma tertawa kecil “Tentu saja tidak anakku, kalian masih SMA. Eomma baru mengizinkan kalian sekamar bila umur kalian sudah cukup dan bila kalian menikah suatu hari nanti..”

SeulBi mengangguk dalam raut sedikit lega “L..lalu pernikahan itu akan dilaksanakan kapan eomma?”

“Sepertinya masih lama, kita harus saling beradaptasi satu sama lain dahulu. Cha! Sekarang lihatlah kamarmu dahulu..” ucapnya mempersilahkan

 

Seulbi termenung di depan kamar barunya yang sedikit terbuka disana Sehun berusaha membantu meletakkan pakaian miliknya. SeulBi segera merampas tas pakaiannya dari Sehun dengan raut tidak suka “Aku bisa sendiri!”

“Oh geurae. Eomma menunggu kita  di ruang makan..”

“Kau sengaja melakukan ini?”

Alis sehun bertaut begitupun dengan dahinya yang berkerut tidak mengerti “Apa maksudmu SeulBi~ya ?”

“Kau merencanakan semua ini, supaya aku bisa tinggal bersamamu, begitu Sehun?”

Sehun menggeleng “Aku tidak tahu menahu. Ini semua rencana kedua orang tuaku dan kedua orang tuamu!”

Seulbi termenung dengan raut kesal “Rencana kedua orang tuaku? Eomma.. kau juga turut merencanakan ini padaku, waeyo?” Lirihnya

Sehun menghela lantas menarik tangan SeulBi “Kita harus sarapan!”

Seulbi menghempaskan tangan sehun yang berani menggenggamnya lagi “Jangan pernah sentuh aku Oh Sehun!” Ujarnya lantas meninggalkan Sehun yang masih terdiam dengan tatapan sulit diartikan

 

♬•♬

 

Dyo dan Chanyeol membawa nampan berisi banyak makanan ringan lantas menumpahkannya diatas meja. Baekhyun, Suho, Kai, Luhan dan Sehun segera mengambil satu persatu sembari berinteraksi satu sama lain

“Omo~ jadi kau dan dia sudah tinggal satu rumah Sehun-ah. Kalian akan segera menikah?” Baekhyun berkata dengan hebohnya

“Yak! Hyung jangan berisik eoh. Nanti terdengar yang lain!” Sehun menyahut dengan sebal

“Setahuku dikelas SeulBi tidak banyak bicara, dia sangat pendiam dan jaga jarak terutama dengan pria-pria disekitarnya. Dulu aku sempat berpikiran kalau dia menyukai sesama jenis?” celetuk jongin yang merupakan teman  sekelas SeulBi  “Tetapi menurutku SeulBi teman yang baik karena banyak yeoja yang dekat dengannya..” tambahnya

“Hey..apakah yeoja-yeoja itu kekasihnya semua?” Kali ini Chanyeol menyahut dengan nada sok serius yang justru terlihat aneh

Dyo segera menjitak Chanyeol yang berkata sembarangan “SeulBi cantik begitu, mana mungkin dia penyuka sesama jenis. Sehun, kurasa benar kata jongin bila SeulBi sedikit menjaga jarak dengan namja, kurasa kau harus mencari latar belakang dia bersikap demikian. Aku yakin sesuatu dimasa lalu sangat berdampak pada kehidupan psikologisnya..”

“Atau bisa jadi uri dongsaeng~ sudah jadi korbannya” luhan berbicara santai setelah sebelumnya hanya menyimak

“Apa maksudmu Hyung?” Sehun nampak tidak mengerti

“Tentu saja SeulBi menghindarimu juga atau mengacuhkanmu atau mungkin tidak menganggap kehadiranmu. Bisa saja kan begitu?”

 

Sehun berusaha menelan salivanya susah payah. Perkataan Luhan benar semua, selama Sebulan SeulBi tinggal bersamanya, gadis itu selalu menghindari Sehun tetapi anehnya ia sangat dekat dengan Ibunya sendiri “Kurasa aku harus menuruti perkataan Dyo Hyung..”

“Ugh kasihan sekali uri dongsaeng~ fighting eoh..” luhan menggoda dongsaengnya yang nampak menekuk wajah tampannya karena terus digodai

 

♬•♬

 

Sehun mencegat langkah Seulbi yang menghindarinya lagi “Kau tidak pulang denganku?”

Seulbi segera menepis tangan sehun dari bahunya “Tidak, Aku ada urusan!”

“Biar aku antar” tawarnya

“Ini bukan urusanmu Sehun, kau bisa pulang sendiri kan?” Seulbi  lalu meninggalkan Sehun yang masih terdiam menatap punggung gadisnya yang makin menjauh.

 

SeulBi menggenggam buket bunga krisan putih yang membawa dirinya di antara deretan pemakaman keluarga di kawasan pemakaman  yang nampak sunyi dan tenang. langkahnya berhenti saat menemukan nisan yang bertuliskan “Lee Sae Ra”  terduduk di atas rerumputan, meletakkan buket itu didepan nisan di atas tanah yang berumput hijau “Eomma…SeulBi datang, rasanya sudah begitu lama ya SeulBi tidak mendatangi rumah baru  eomma. Apa kabar eomma? Seulbi harap eomma baik-baik saja disurga..” SeulBi bermonolog. hembusan dingin angin senja seolah menjawab perkataannya. Ia terdiam sebentar mengusap nisan putih tersebut dalam raut penuh rindu “Eomma sekarang aku tinggal dirumah Oh Sehun, dia calon suamiku kelak. Saat itu dia pernah berkata jika kedua orang tuanya dan orang tuaku yang merencanakan ini. Apakah eomma juga turut dalam hal ini? Jika iya, mengapa demikian eomma? Eomma tahu  kan, aku tidak pernah menyukai namja dan aku tidak menginginkan dekat dengan namja manapun karena Appa. Dulu Appa tidak pernah sekalipun berhenti menyakiti eomma, membuat eomma menangis dan menderita bahkan diakhir hayat eomma..” bahu SeulBi mulai bergetar karena tangis “SeulBi tahu, saat itu eomma selalu bersikap kuat dan tenang di depan SeulBi walau nyatanya eomma sangat menderita kan? Eomma, sampai kapanpun SeulBi akan membenci appa, SeulBi akan terus membenci namja manapun tidak terkecuali Oh Sehun. SeulBi sangat  membenci mereka ..maafkan SeulBi eomma. SeulBi sangat jahat seperti ini..” seulbi menunduk sambil sesekali mengusap wajahnya yang basah dengan punggung tangannya sendiri. Seperti yang selalu terjadi di tempat ini, ia selalu menceritakan apapun yang terjadi pada Sae Ra.

Dari kejauhan seseorang memandangi Seulbi dengan raut sedih bercampur terkejut lantas meninggalkan tempat itu dengan langkah besarnya

 

♬•♬

 

Seoul di Malam hari sedang turun hujan badai yang sesekali terdengar suara gemuruh petir yang nampak menakutkan. Langit hitam kelabu tanpa bintang itu sesekali bercahaya kuning terang lantas kembali kelam karena kedatangan petir yang tiba-tiba.

Seulbi terduduk dilantai diantara nakas kecil dan ranjangnya sambil memeluk lutut, sesekali juga menutup kedua telinga dengan tangan saat petir kembali datang.

 

SeulBi sangat takut dengan petir yang berbunyi menakutkan, lebih menyeramkan dibanding bertemu hantu sekalipun. Tak lama setelah deretan gemuruh datang, lampu kamar padam secara tiba-tiba begitupun dengan lampu-lampu rumah dikejauhan yang ikut padam akibat hujan gemuruh yang cukup mengerikan malam ini.

SeulBi memekik tertahan, merasa mati rasa, membeku ditempatnya semula, ia takut harus meninggalkan tempatnya sekarang, ia takut kegelapan seperti ini jadi SeulBi mencoba menutup mata dengan bibir bergetar menahan tangis. Dalam hati ia terus menyebut “Eomma…tolong aku” agar kepanikannya mereda.

 

Sehun membawa sebuah lilin kecil, mengetuk kamar SeulBi beberapa kali namun tak ada jawaban. Dalam keraguan bercampur khawatir  Sehun memberanikan diri masuk ke dalam kamar itu ” SeulBi Eodiya?” Sehun mencari-cari keberadaan Seulbi dalam kegelapan dibantu setitik cahaya dari lilin hingga ia menemukan gadis itu disudut sana, tengah menekuk wajah diantara lutut “SeulBi-ya?” Sehun berjongkok setelah meletakkan lilin di nakas

 

Seulbi mendongak lantas memeluk sehun dengan sangat erat, hingga sehun membeku ditempatnya, hampir saja terhuyung bila ia tidak menapak dengan kuat.

 

Sehun menyadari jika Seulbi tengah menangis ketakutan dengan Bahu gadis itu nampak bergetar, Sehun menjadi tidak tega melihat SeulBi seperti ini. Gadis itu terlihat begitu rapuh di dalam pelukan “Tidak apa-apa, jangan takut. Aku meletakkan lilin di nakas, kau bisa tidur kembali..” sehun berujar sambil sesekali menepuk punggung Seulbi yang masih bergetar

“Aku takut…” lirihnya tanpa melepaskan pelukan itu

“Baiklah, aku akan menemanimu sampai lampunya hidup kembali. Sekarang kembalilah ke tempat tidur, lantainya sangat dingin Seulbi!”

Perlahan pelukan Seulbi mulai mengendur, tetapi ia mencengkeram lengan sehun dengan kuat masih dengan raut ketakutannya. Sehun tersenyum samar lantas membimbing Seulbi untuk berbaring.

 

Satu hal berat yang harus Sehun lakukan ia juga harus berada disamping gadis itu.

Sehun menarik selimut sampai pada batas leher mereka “Geurae, tidurlah SeulBi~ya..” Sehun mengusap-usap kepala seulbi yang bersandar di dadanya

“Jangan tinggalkan aku…”

“Aku tidak akan meninggalkanmu SeulBi..”

Malam yang dingin itu samar-samar menjemput alam sadar  mereka

 

♬•♬

 

“Aigo~ apa yang kalian berdua lakukan?”

Seulbi mengusap kedua matanya saat mendengar suara Eomma yang begitu keras dalam tidurnya. Begitu Kesadaran SeulBi mulai seratus persen ia terduduk sambil sesekali menguap “Waeyo eomma?”

Eomma hanya tersenyum sambil menggeleng dalam raut menggoda “Sepertinya memang pernikahan kalian harus segera dilaksanakan!” Ujarnya sambil bersandar pada pintu.

SeulBi mengerutkan hening, menoleh kesembarang arah hingga ia menutupi bibir mungilnya dengan telapak tangan ‘Bagaimana bisa Sehun satu ranjang denganku?’

“Ya! Apa yang kau lakukan di kamarku” seulbi menarik-narik tangan sehun, sedangkan pemiliknya nampak tertidur dengan tenang “Sehun bangun!” SeulBi dengan paksa mendudukkan Sehun yang masih  setengah sadar

“Apa yang kau lakukan?” Sehun berkata dengan suara yang masih serak khas orang baru bangun tidur.

“Aigo~ baiklah lanjutkan saja acara kalian. Sarapan sudah siap dibawah!” eomma melenggang pergi meninggalkan SeulBi yang nampak shock sedangkan sehun yang kembali tertidur pulas diatas ranjang  Seulbi

“Sehun cepat kembali ke kamarmu!”

“Astaga ini masih pagi, jangan berteriak SeulBi~ya!” Sehun menarik bahu Seulbi agar kembali tertidur lagi.

“Ya! Kau gila eoh. Bagaimana mungkin kita tidur bersama?”

Sehun membuka satu matanya lantas menguap “Eoh, Tadi malam bukankah kau yang meminta ditemani? Kau sudah lupa ya?”

 

Seulbi menutupi wajahnya sesaat memori semalam kembali berputar dalam pikirannya. Sehun benar, ini semua karena permintaannya

“Aku mau mandi. Kau harus keluar sebelum aku selesai!” SeulBi mengalihkan pembicaraan lantas berlari menuju ruang mandi karena wajahnya yang sukses memerah menahan malu

 

♬•♬

 

Gayoung dan Haera hampir saja menyemburkan jus mereka karena curhatan SeulBi yang sangat mengejutkan di siang terik seperti ini “Ya! Bagaimana bisa gadis terlampau polos sepertimu sudah tidur dengan seorang pria?” Haera memekik dengan keras, SeulBi segera menutup mulut sahabatnya itu.

“Ne aku setuju dengan Haera! rupanya uri SeulBi sudah bisa menyukai pria, Oh Sehun calon suaminya lagi..”

Sedangkan SeulBi menutup wajah dengan kedua tangan karena malu. Ternyata sebuah kesalahan menceritakan hal ini pada sahabatnya sendiri walaupun mereka sudah hampir tiga tahun bersama  “Dengar ya agashi bawel, aku tidak pernah menyukai Sehun dan itu semua kesalahan. Jangan pernah bahas ini lagi, arraseo?”  SeulBi lantas meninggalkan mereka berdua yang cekikikan melihat tingkah polos SeulBi.

 

Dilain sisi sekumpulan pria tampan itu juga sama shocknya dengan cerita Sehun “Omo~ ternyata SeulBi agresif juga ya? Aku tidak sangka gadis pendiam sepertinya bisa seperti itu. Wah dia benar-benar tipeku!” jongin berujar santai sambil memakan poky-nya

Sehun mendelik lantas menjitak kepala pria berkulit tan itu “Cari saja yeoja lain. Kenapa harus SeulBi? Shireo~”

“Hahaha jadi gosip itu memang benar ya Hun, kalau kau memang menyukainya bahkan sebelum kalian tinggal bersama?” Kali ini suho yang berbicara

“Hyung jangan ramai-ramai! Ini rahasia kita!!” sehun mengisyaratkan dengan telunjuknya

Mereka semua mengangguk mengerti “Lalu apa kau sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku, tentang mengapa SeulBi selalu menghindari pria?” Dyo bertanya

Sehun tersenyum lirih “Sepertinya aku sedikit mulai mengerti saat tempo hari mengikutinya ke pemakaman Ibunya SeulBi. Aku tidak tahu jika Ibunya sudah meninggal”

“Kasihan sekali gadis itu, aku ingin memeluknya..” kai berbicara lagi namun kembali mendapat jitakan dari Chanyeol

“Urusi saja Lee Ah Reum model super sexi itu Jongin!” Jongin langsung memberengut sebal

 

“Annyeong oppa, kalian sedang membicarakan apa eoh?” Rien dan dua temannya -Gami dan Sila- mendekati mereka dan turut bergabung.

Rien melingkarkan lengannya pada Sehun namun pria itu segera menepisnya “Jangan ganggu aku Rien!” Sehun berkata dengan raut datar dan dinginnya seperti biasa

“Oppa tidak bisakah kita kembali berpacaran seperti dulu? Terus terang saja aku masih menyukaimu, Kau tahu?”

Sehun menghela “Shireo~ kau sudah memiliki Jongkook dan kau dengan tega berselingkuh dengannya di belakangku. Sekarang urusi hidupmu sendiri!” Sehun beranjak meninggalkan rien dan teman-temannya. Terus terang saja mood Sehun menjadi sangat buruk bila berhadapan dengan gadis itu.

 

♬•♬

 

“Appamu dirawat di rumah sakit!” sehun berujar dengan panik ketika bertemu SeulBi di ujung koridor sepulang sekolah

“Oh lalu kenapa?” SeulBi berjalan ringan sambil menendang kerikil kecil

Sehun berdecak  “Ya! Kau tidak mengkhawatirkan keadaan-”

SeulBi menghentikan langkahnya “Dia tidak pernah mengkhawatirkan keadaanku” sahutnya dengan raut sendu dibalik sikapnya yang menunduk

“Tapi kita harus menjenguknya SeulBi~ya, dia appa kandungmu jangan lupakan itu!” sehun masih saja mengomel seperti ibu-ibu tidak dapat arisan

SeulBi makin menunduk, haruskah ia pergi menemui JoKwon appanya? Luka dihatinya belum sembuh saat JoKwon dengan raut tanpa dosa mendepak SeulBi dari rumah agar tinggal bersama Sehun, ya sejujurnya ada benarnya juga sih sebelum mereka menikah yang sesungguhnya. tapi mengapa harus bersikap demikian?

Sehun menghela lantas menarik tangan SeulBi, menuntunnya menuju mobil dan segera melesat menuju rumah sakit.

 

Sehun menyerahkan parcel buah pada SeulBi yang terdiam sejak tadi “Kenapa harus aku?”

“Karena kau anaknya!” Sehun berujar dengan santai sambil berjalan di koridor rumah sakit

“T..tapi dia tidak pernah menginginkanku ada..” Seulbi menggumam begitu lirih. Sangat lirih seolah ia mengatakan untuk dirinya sendiri. Sayangnya Sehun memiliki pendengaran yang tajam walau ia juga masih terdiam dibalik sikap santainya

“Cha! Masuklah kedalam..”

SeulBi nampak sangat malas melangkahkan sepatunya ke dalam seolah ia harus menceburkan diri kedalam lubang buaya yang begitu menyeramkan “Aku ikut di belakangmu!” Sehun seolah mengerti dengan sikap ogah-ogahan SeulBi.

Di dalam ruangan seorang suster baru saja mengecek keadaan JoKwon yang tengah membaca koran disore hari, kegiatannya lantas terhenti saat mendengar SeulBi  “Appa…”

“Oh kau datang?” Sahut JoKwon dengan raut tegasnya

SeulBi menunduk takut sambil berjalan meletakkan parcel buah tersebut diatas lemari “Bagaimana keadaanmu, Appa?” SeulBi berkata sangat lirih namun dalam jarak yang dekat dengan ranjang JoKwon

“Calon menantuku datang menjengukku juga, gomawo Sehun-ah. Kau sudah repot repot datang kemari” JoKwon tak mengindahkan pertanyaan atau mungkin lirihan SeulBi yang menanyakan keadaannya

“B..baik Ahjussi..” Sehun melirik Seulbi merasa tidak enak hati

“Ya! Panggil saja Appa, JoKwon appa” jokwon tersenyum sumringah

SeulBi termenung. Selama ia berada di sisi JoKwon, baru kali ini ia melihat senyum yang begitu mengembang dibibir Appanya.

 

Sebuah senyum yang menyiratkan kebahagiaan hanya karena kedatangan Sehun, lalu kapan hari itu datang saat JoKwon tersenyum bahkan tertawa karena SeulBi putrinya sendiri?

“Aku permisi dulu..” Merasa kehadirannya tak dianggap, SeulBi berjalan cepat meninggalkan pavilyun JoKwon.

Sehun menatap punggung SeulBi yang menghilang dibalik pintu lantas tersenyum canggung “Apakah appa tidak terlalu keras padanya?”

“Ahahaha dia memang seperti itu Sehun~ah. Tidak perlu perdulikan sikapnya yang manja..”

 

Angin sore bertiup menerbangkan rambut panjang SeulBi yang terduduk dibawah pohon Akasia rumah sakit di depan pavilyun sambil mengayun-ayunkan kaki.

Rasanya ingin sekali menangis dan ingin sekali berteriak bila mengingat kejadian tadi. Sebait memori dimasa lalu entah mengapa berputar di dalam pikiran Seulbi yang membuatnya semakin tampak menyedihkan di dunia ini

‘Sebenernya Appamu begitu menginginkan kelahiran seorang anak pria. Setelah kau lahir, eomma ingin memiliki anak lagi tetapi Appa tidak mau karena takutnya eomma akan memiliki seorang putri lagi..’

Perkataan Eomma kembali terbayang. Selama ini benar saja jika Jokwon bersikap seperti itu karena sesungguhnya ia tidak menginginkan kelahirannya.

Jokwon hanya menginginkan seorang putra yang kelak akan meneruskan perusahaannya bukan seorang putri, bukan SeulBi yang menjadi keinginannya.

Terang saja tiap kali memikirkan hal itu membuat SeulBi sangat sedih, ingin sekali Tuhan mencabut nyawanya dengan cepat walau sebenarnya dihati kecil SeulBi ia begitu menunggu saat-saat Jokwon menyebut namanya, tersenyum untuknya bahkan memeluknya, Hanya itu keinginan sederhana yang ingin sekali dirasakan SeulBi

“Ini..”

SeulBi mendongak, mendapati Sehun yang berdiri di depannya sambil sedikit menunduk lalu menyerahkan sebuah lolipop kecil

“Kau sudah selesai?”

Sehun meletakkan lolipop itu diatas telapak tangan SeulBi lantas menggiringnya pulang “Mengapa kau pergi, kau tidak merindukan Appamu?”

SeulBi sedikit risih karena berdekatan dengan Sehun, ia lantas sedikit berjalan menjauhinya “Ya! Memangnya aku terkena penyakit mematikan?” Sehun berdecak sebal karena SeulBi selalu menghindarinya

“Sangat salah aku pergi kesini!” sahutnya berlari meninggalkan sehun yang terdiam.

Sehun menghela sambil memasukkan tangannya kedalam saku, sepertinya ia mulai mengerti dengan segala sikap SeulBi selama ini, semuanya saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain. Secara rasional hal ini memang tidak dapat dinalar namun dari yang ia lihat, dengar dan rasakan sendiri ia dapat memberikan konklusi jika SeulBi memiliki masa lalu yang begitu pahit, sikap Appanya yang terlewat dingin dan mengapa SeulBi sampai tidak mau berdekatan dengan pria.

 

Sesuatu dalam diri Sehun mengembang karena perasaan aneh itu semakin membawanya begitu dalam pada rasa cinta karena SeulBi terlampau misterius dibalik sikap dinginnya

“Ya! Mengapa Kau berlari sangat cepat, apa kau pernah berteman dengan kuda?” Sehun berkata saat menjumpai SeulBi yang sudah bersandar di depan pintu mobilnya sambil sesekali memainkan gagang lolipop dalam mulutnya. Sehun senang, setidaknya SeulBi tidak menolak pemberiannya

“Kau tidak peka atau apasih? Ini sudah menjelang malam dan aku lapar”

Sehun terkekeh lantas mengusap kepala SeulBi sesaat mobilnya telah melaju di jalanan “Oh kalau begitu kita makan dulu”

“Ani..” sehun melirik sebentar “Aku tidak mau makan bersamamu, tapi aku mau makan malam dengan eomma dirumah”

“Geurae” sehun mengangguk. Satu hal yang hampir terlupa setelah tanpa sadar pemikiran ini terlintas, SeulBi sangat mendambakan sosok seorang Ibu yang telah begitu lama tidak menghiasi hari-harinya

 

♬•♬

 

“Eomma kenapa cepat sekali sih, apakah Eomma lupa kalau umur kami baru saja 18 tahun? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi” SeulBi merengek pada Eomma Sehun sesaat menyelesaikan makan malam dan mereka bertiga tengah menonton televisi bersama diruang tengah sedangkan Appa sehun adalah seorang pebisnis yang sangat sibuk meluangkan waktu di rumah, berbeda dengan Sehun eomma yang bekerja di butik sekaligus pemilik butik tersebut yang masih menyempatkan diri berada di rumah.

Sehun menoleh dengan sangat heran. Jarang sekali SeulBi berbicara panjang lebar apalagi dengan nada seperti itu kepada orang lain seolah tengah berbicara dengan eomma kandungnya sendiri. Aneh sekali.

Eomma terkekeh sembari mengusap rambut panjang SeulBi yang selalu tergerai dengan sayang “Appamu yang berbicara demikian setelah tadi menelpon Appanim dan eommanim SeulBi, jadi lusa kau dan Sehun datanglah ke butik eomma untuk vitting pakaian, setelah itu pergilah untuk membeli cincin pernikahan. Untuk konsep tempat pernikahan, eomma sangat yakin jika kalian menyukai rancangan eomma, jadi kau tidak perlu memikirkan hal ini!”

SeulBi mendadak terdiam sambil bersandar di sandaran sofa dengan raut tidak dapat diartikan “Araseo Eomma, kalau begitu SeulBi akan belajar dulu…”tak lama Seulbi meninggalkan Eomma dan Sehun yang saling bertatapan dengan pandangan sama-sama tidak mengerti “Eomma sih..”

“Apa? Eomma kan hanya menyampaikan yang Appanya SeulBi katakan!”

“Iya tapi SeulBi itu sensitif kalau menyangkut appanya!”

Eomma menghela lantas menepuk bahu Sehun “Cobalah hibur dia atau katakan sesuatu Sehun. Yah..apalah yang ada di pikiranmu!” bujuknya

“Kenapa Sehun? acara di televisi sedang bagus-bagusnya eomma. Lebih baik eomma saja yah!” Tolaknya

Sehun eomma memberikan death gleare-nya lalu menjitak kepala Sehun dengan sebal “Tapi kau yang akan menjadi suaminya Oh Sehun bukan eomma! Jadi cepatlah pergi sebelum kupotong uang sakumu!”

“Aish Arraseo Eomma..”

Sehun dengan  malas menaiki tangga, sesekali mengomel tidak jelas lantas mengetuk pintu kamar SeulBi beberapa kali. Mengacak rambut kecoklatannya karena SeulBi tidak kunjung membuka pintu membuatnya berinisiatif langsung masuk kedalam dan benar saja kalau SeulBi tidak kunjung membuka pintu, selain tengah memunggunginya, SeulBi juga mendengarkan Ipod di telinganya. Sehun jadi sebal sendiri  “Ya! Lee Seul Bi” sehun menekan-nekan pipi bersemu SeulBi.

Gadis itu melepas ipodnya, terkejut seraya bergeser kekanan karena jaraknya terlampau dekat dengan Sehun “Apa?”

Sehun terduduk di pinggiran ranjang sambil menyilangkan tangan di atas dada “Kau tidak ingin mencegah pernikahan kita, maksudku kau setuju dengan ini semua?”

SeulBi menutup buku Kalkulusnya masih dengan menunduk “Dan aku akan berhadapan dengan appa lagi karena ini? Apa yang terjadi dengan Appa kalau aku menolak ini -pernikahan- atau aku bisa saja melarikan diri sejauh-jauhnya dari Appa dan keluargamu juga karena ini?”

Dahi sehun berkerut begitupun dengan alis tebalnya yang saling bertautan karena pernyataan SeulBi begitu ambigu  “Maksudnya?”

Gadis itu kembali berujar “Aku akan mati di tangan Appa walau sejujurnya aku menginginkan hal itu. Tapi, aku tidak mau menjadi egois di mata Appa. Setidaknya aku pernah sekali membuat Appa bahagia karena diriku sendiri”

“SeulBi..” Gadis itu lantas mendongak “Jadi kau akan tetap menikah denganku walau sejujurnya kau tidak menginginkan hal itu?” Sehun bertanya dengan hati-hati takut akan menyinggung perasaan gadis itu

SeulBi terdiam beberapa waktu hingga akhirnya mengangguk lirih “Maaf Kalau kau juga tersiksa karena ini, aku berjanji bila sesuatu terjadi dan kita mendapat jalan keluar untuk berpisah, aku pasti akan menempuh jalan itu. Kau mengerti maksudku?”

Sehun mengangguk ‘Benar bila sejak awal SeulBi tidak menyimpan perasaan padaku’

“Baiklah kalau begitu” Sehun meninggalkan kamar SeulBi dengan perasan yang bergejolak aneh. Mengepal jemari hingga buku-bukunya memutih. Oh seharusnya Sehun tidak pernah berharap dan mengubur perasaannya dalam-dalam sejak rencana orang tua mereka yang begitu konyol terealisasikan. Seharusnya Sehun tidak pernah menyukai SeulBi dari pada berakhir terluka seperti saat ini.

 

Bagaimana kelanjutan kisah Seulbi Sehun?

Apa yang sebenarnya terjadi dengan kisah masa lalu SeulBi hingga membuatnya demikian?

Akankah Cinta Sehun hanya bertepuk tangan dan membatalkan pernikahan mereka?

 

Ps: Semoga terhibur dan harap tinggalkan jejak berupa like dan komentar ya readers yang baik:)

Annyeong~

 

 

Iklan

4 thoughts on “Step (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s