Wonderwall : Chanel N°5

wonderwalls

Author : Iefabings

Main cast :

• EXO’s Jongin as Kim Jongin

• Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi

• EXO’s Sehun as Oh Sehun

• Red Velvet’s Irene as Bae Irene

• EXO’s Suho as Kim Junmyeon

• EXO’s D.O as Do Kyungsoo

• EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

• EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol

Supporting cast : Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan

Genre : Romance, school life, friendship

Ratings : Teenager

Length : Multi chapter, currently 2

Previous chapter : A Secret |

^^Selamat Membaca^^

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Iya. Siapa?”

Detik berikutnya, Jongin telah menindih Seulgi dengan jarak wajah yang begitu dekat. Ditatapnya manik kembar gadis itu lekat, penuh keseriusan.

“Kau.”

Lalu hening. Seulgi balas menatap matanya tanpa sepatah kata. Ekspresi wajahnya sekarang sulit dibaca.

“Wow, aku terkesan,” kata Seulgi datar, kemudian mendorong Jongin. “Kau bisa menjadi playboy sejati dengan taktik seperti itu. Aku nyaris tertipu juga.”

Dengan terciptanya jarak antara mereka, Seulgi bisa melepaskan diri dan menarik nafas dalam.

“Hanya menjawab pertanyaanmu,” Jongin mengangkat bahu.

“Ku rasa aku harus pulang sekarang,” Seulgi membenahi rambutnya sebelum berjalan ke pintu kamar.

“Tidak menginap?”

“Besok aku harus berangkat lebih pagi ke sekolah. Sayang sekali tidak bisa menemanimu tidur. Jangan sedih ya,” ucap Seulgi dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

“Percayalah, aku sangat bersyukur kau tidak bisa menginap,” timpal Jongin. “Tapi kenapa berangkat pagi di hari sabtu?”

“Bimbingan.”

“Benar juga, kutu buku memang beda.”

“Aku kutu buku populer, sepertinya.”

“Pergi sana,” Jongin melempar satu bantal ke tubuh Seulgi, berniat mengusir.

“Yaaa!” Seulgi memungut bantal itu dan melemparnya balik. “Kau beruntung aku sedang buru-buru. Lain kali akan ku balas,” decaknya lalu meninggalkan kamar Jongin.

“Hati-hati,” kata Jongin lirih, sangat lirih. Seulgi jelas tidak mendengarnya. Menit berikutnya dia mengintip Seulgi yang keluar dari rumahnya lewat jendela.

***

“Ku pikir kau takut pada pacarmu,” Irene berdiri bersedekap di ambang pintu, menatap Sehun. Pemuda berkulit putih susu itu baru saja tiba di hotel tempat janji pertemuan mereka. Tanpa meminta izin dahulu, dia mendorong Irene ke dalam kamar sehingga dia bisa masuk, kemudian menutup pintu.

“Tidak ada yang ku takutkan,” jawab Sehun dengan wajah tanpa ekspresinya. “Kau sudah makan malam?”

“Tentu saja sudah, ini jam berapa, Oh Sehun?” tawa Irene meledak. Dia berjalan ke tempat tidur, duduk di tepiannya menatap Sehun. “Wajahmu tidak terlihat baik-baik saja.”

“Aku juga tidak mengerti,” Sehun menampakkan senyum yang sulit diartikan. “Aku merasa sedikit lelah, noona.”

“Kalau begitu berbaringlah.”

“Bukan lelah yang seperti itu,” Sehun mendudukkan dirinya di sofa, menuang whine yang tersedia di sana.

“Biar ku tebak. Kau bingung akan menghentikan ini sampai kapan?” Irene menyusulnya ke sofa, ikut menuang whine ke gelasnya sendiri.

“Sekarang kau mulai memahamiku,” ucap Sehun sebelum meneguk whine sampai habis.

“Aku selalu memahamimu, kau saja yang tidak sadar.”

Selama beberapa menit Sehun hanya meminum whine. Irene pun tidak melakukan apa pun, hanya menatapnya. Jika suasana hati Sehun sedang seperti ini dia memilih menunggu.

Setelah meneguk gelas kelima, Sehun menatap Irene. “Apa menurutmu yang ku lakukan ini salah?”

“Salah,” jawab Irene disertai anggukan.

“Aku tidak akan bertanya apa yang harus ku lakukan,” Sehun terkekeh, meletakkan gelas kosongnya di meja. Kemudian dia merebahkan diri di sofa, berbantalkan pangkuan Irene. “Biarkan aku tidur seperti ini, noona.”

Irene tidak menjawab. Itu adalah salah satu caranya untuk mengatakan ‘iya’. Maka ia gunakan tangannya untuk membelai rambut Sehun hingga terlelap.

***

Kira-kira 6 bulan lalu….

Suasana hati Sehun sedang tidak baik. Tidak ingin memberi tahu kawannya, dia memilih menyendiri di kamar hotel dengan botol vodca. Irene yang merupakan karyawan berprestasi, malam itu untuk pertama kalinya mendapat tugas melayani tuan muda langsung.

“Aku baru melihatmu pertama kali,” Sehun memicingkan matanya saat melihat karyawan asing melayani dirinya. “Mana manager Huang?”

Irene membungkuk sebelum menjawab. “Manager Huang telah naik jabatan, tuan muda. Mulai hari ini beliau tidak akan melayani tuan lagi.”

“Kau juga naik jabatan ya,” timpalnya dengan wajah datar. “Tuangkan.”

Irene menurut, menuangkan minuman itu ke gelas Sehun. “Apa mau saya putarkan musik?”

Alis Sehun terangkat. “Musik?”

“Iya, tuan. Untuk membantu mengembalikan mood.”

“Menurutmu aku kehilangan mood?”

“Dari penilaian saya… iya.”

“Sok tahu,” kata Sehun datar. “Tapi boleh.”

Tak sampai semenit, suasana kamar dipenuhi oleh irama musik klasik. Yang Sehun lakukan selama beberapa menit hanya minum dan minum. Irene yang memperhatikannya mulai merasa iba.

“Minuman tidak akan pernah menyelesaikan masalah anda, tuan muda.” Sehun meliriknya, tapi tak menghiraukan ucapannya dan terus minum. “Anda bisa menceritakan semua beban kepada orang yang dipercaya, dari pada terus minum sampai mabuk hanya membuat lupa sesaat. Esok hari beban itu akan datang lagi.”

Mendengar itu, Sehun tertawa. “Kau hanya perlu melakukan apa yang ku suruh, bukan berceramah.”

“Perlu diingat, anda masih di bawah umur,” tekan Irene.

“Walau kau lebih tua, kau hanya seorang pelayan.”

“Saya sadar itu,” sahut Irene. “Ini bukan suatu nasihat, saya hanya merasa perlu melindungi tuan muda sebagai rasa hormat pelayan kepada majikannya.”

Gelas yang masih terisi separuh itu ia letakkan di meja. Sehun menatap tajam Irene, namun tidak punya satu kalimat pun untuk membalas.

“Jangan biarkan apa pun menggangguku,”ucap Sehun akhirnya, merebahkan diri di sofa. Irene tersenyum simpul, tidak menjawab iya atau tidak. Dia hanya membereskan botol dan gelas vodca tadi dengan hati-hati, tanpa suara.

***

Jam istirahat makan siang. Seulgi sedang tidak mood belajar hari ini, apalagi ke perpustakaan. Dihampirinya bangku Seungwan lalu duduk di atasnya.

“Temani aku yuk,” ajak Seulgi.

“Perpustakaan?” tanya Seungwan.

“EXO room.”

“Aku mau ke kantin saja,” Seungwan buru-buru berdiri. Dia tahu betul kalau EXO room tidak bisa dimasuki sembarang orang. Mungkin Seulgi bisa keluar masuk ruangan itu dengan bebas karena dia adalah teman dekat mereka. Tapi Seungwan tidak. Dia hanyalah siswi biasa.

“Kau kan temanku, ayo ikut sajaaaa,” Seulgi menarik paksa Seungwan keluar kelas.

“Aku takut mereka tidak suka, Seulgi-ah.”

“Kata siapa? Junmyeon oppa pasti senang kau datang,” Seulgi terus menarik Seungwan menaiki tangga.

“Junmyeon oppa? Benarkah?”

Bingo! Seulgi tersenyum ke arah Seungwan, lebih tepatnya menyeringai. “Tuh, benar kan? Kau suka Junmyeon oppa.”

“E-eh, tidak. Aku hanya tidak percaya padamu,” kata Seungwan cepat.

“Ayo percepat langkahmu,” tingkah kikuk Seungwan malah membuat Seulgi makin semangat menyeretnya ke EXO room. “Nah, itu Kyungsoo. Oi, aktor Do!” panggilnya saat melihat pemuda bermata bulat itu membuka pintu EXO room.

“Seul,” sahut Kyungsoo. “Sehun tidak ada.”

“Aku mencari Junmyeon oppa, bukan Sehun,” sahut Seulgi. “Mau makan. Di dalam pasti ada makanan, kan?”

“Ada sih, tapi…” Kyungsoo melirik Seungwan, membuat gadis itu langsung menunduk karena merasa tidak enak.

“Seul, aku makan di kantin saja,” bisik Seungwan.

“Aku makan di dalam ya, tapi bersama temanku. Kalau kalian mengusirnya, persahabatan kita berakhir,” ancam Seulgi, membuat Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya.

“Siapa juga yang mau mengusirnya,” kata Kyungsoo, lalu beralih pada Seungwan. “Namamu Son Seungwan, kan?”

Seungwan langsung membungkuk. “Iya, salam kenal, Do Kyungsoo-sshi.”

“Hahaha, aku sudah mengenalmu. Ayo masuk,” Kyungsoo membuka pintu lebih lebar agar kedua gadis itu masuk.

Seungwan merasa sedikit bingung dengan ucapan Kyungsoo tadi, tapi tidak punya nyali untuk bertanya. Dia hanya mengekori Seulgi masuk.

“Menari terus!” komentar Seulgi saat melihat Jongin sedang menari bebas. Kemudian dia berjalan ke sofa, bergabung dengan Junmyeon, Baekhyun dan Chanyeol duduk di sana.

Seungwan berdiri canggung, tidak berani duduk. Memang benar dugaan Seulgi bahwa dia menyukai Junmyeon. Berada di dekat orang yang dia sukai tentu tidak mudah.

“Jangan berdiri terus, duduklah,” Kyungsoo menghampirinya dan tersenyum ramah.

“Tidak apa-apa?” tanya Seungwan ragu.

“Tentu saja. Kenapa kau kelihatan begitu takut pada kami?” Kyungsoo tertawa lagi. “Ayo duduk,” dia meraih tangan Seungwan dan menuntunnya untuk ikut duduk.

“Wah, Seulgi bawa teman,” kata Baekhyun saat melihat Seungwan duduk di samping Kyungsoo. “Kenal aku, kan? Byun Baekhyun.”

Seungwan tertawa pelan. “Tentu saja kenal,” ucapnya.

“Bagus, sekali-kali bawa temanmu agar kami tidak kelihatan seperti sekumpulan gay,” ujar Chanyeol sembari mencomot sepotong pizza.

“Berwrti bolwh akw mwmbawa banywk twman?” tanya Seulgi dengan mulut penuh pizza.

“Siapa yang melarang?” sahut Junmyeon. “Asal jangan bawa sekelas, ruangannya tidak muat.”

“Oke, besok aku bawa banyak teman.”

“Seul, aku pinjam ponselmu,” Baekhyun menadahkan tangannya.

Tanpa banyak tanya, Seulgi memberikan ponselnya.

“Seungwan, kenapa tidak makan?” celetuk Kyungsoo, karena sedari tadi melihat Seungwan hanya diam saja.

“Oh iya, kau kan juga lapar. Ini makan, Wan-ah,” Seulgi mengambilkan sepotong pizza untuk Seungwan.

“Yaa Kangsseul, passwordnya apa?” tanya Baekhyun dengan pandangan fokus ke ponsel Seulgi.

“Kangseulgom, diketik dengan alphabet,” jawab Seulgi.

“Kenapa Kangseulgom?” tanya Baekhyun.

“Seulena Gomez?” celetuk Chanyeol, dan semua tertawa serentak.

“Lucu ya,” Seulgi memutar bola matanya. “Itu sebuah nickname dari seseorang.”

“Oh, aku tahu,” Baekhyun mengangkat tangannya. “Kang Seul Gom maksudnya Kang Seul Beruang.”

“Ya, ya, tidak usah diperjelas,” timpal Seulgi. “Jongin-ah, ayo makan. Jangan menari terus,” panggilnya pada Jongin yang masih sibuk menari.

“Tapi aku tidak pernah mendengar Sehun memanggilmu Seulgom,” sambung Junmyeon.

“Memang tidak pernah, karena bukan dia yang memberikan nickname itu.”

“Lalu siapa?” tanya Junmyeon.

Seulgi mengunyah pizzanya perlahan sebelum menjawab, “Ada lah pokoknya.”

***

“Gendut sekali, sih!” ejek Jongin kecil sambil mencubit pipi Seulgi dengan gemas.

“Aku tidak gendut!” Seulgi kecil memprotes dan memukul tangan Jongin agar berhenti mencubitnya. “Sakit!”

“Kamu sehari makan berapa kali? Kenapa bisa segendut ini?” tidak ingin berhenti menjahili Seulgi, Jongin memainkan rambut cepol Seulgi dengan gemas.

“Menyebalkan!” gerutu Seulgi, berlari ke arah ayunan agar tehindar dari Jongin. Dia menahan kekesalannya hingga kedua pipinya menggembil dan justru membuat Jongin makin ingin mengusilinya. Jongin berlari menyusulnya ke ayunan, berlagak mengikuti semua gerakan dan ekspresi Seulgi. “Jangan mengikutiku!”

“Jangan mengikutiku!”

“Ih, aku yang bicara duluan!” sungut Seulgi.

“Ih, aku yang bicara duluan!” ulang Jongin.

“Aku adukan eomma ya, nanti!”

“Aku adukan eomma ya, nanti! Memangnya cuma kau yang punya eomma? Wleee,” Jongin terus meledeki Seulgi.

“Jangan main denganku lagi! Huh!” Seulgi turun dari ayunannya, berlari kecil ke kelas taman kanak-kanak. Jongin masih tidak menyerah, mengikuti Seulgi hingga ke kelas.

“Seulgi, kamu lihat beruang itu?” tanya Jongin seraya menunjuk gambar beruang madu yang terlukis di dinding kelas mereka.

“Lihat, memangnya kenapa?” balas Seulgi ketus.

“Mirip kamu. Hahaha.”

“Dasar jelek! Kulit hitam!” Seulgi melempari Jongin dengan crayon-crayonnya.

“Aku ganti namamu ya! Kang Seul Gom~” ledek Jongin, makin tertawa puas. (Gom dalam bahasa Korea berarti beruang)

“Namaku Kang Seulgi!”

“Kang Seulgom~”

“Seulgi!”

“Seulgom~”

“Kkamjong jelek!”

“Kang Seulgom~”

***

Setidaknya, dengan memanggil Seulgi ‘beruang’ Jongin bisa lebih dekat dengannya. Tapi panggilan itu telah lama tak ia ucapkan sejak menyadari bahwa Seulgi mungilnya tumbuh menjadi seorang gadis. Tidak tahu kapan tepatnya dia selalu merasa nyaris kehilangan kendali setiap Seulgi menempel padanya. Rasanya debaran jantung Jongin makin hebat jika mereka berdekatan, padahal sejak kecil sudah biasa saling tempel satu sama lain. Dia pikir akan cukup dengan menjadi sahabat saja. Namun perasaannya semakin tumbuh, dan berubah menyiksa saat Sehun berhasil mendapatkan hati Seulgi. Benar kata orang, tidak ada yang namanya persahabatan antara lelaki dan perempuan.

“Jongin, menurutmu aku beli yang ini apa yang ini?” tanya Seulgi sembari memperlihatkan dua buku tebal ke hadapan Jongin.

“Dua-duanya,” jawab Jongin asal, malas berpikir.

“Begitu ya,” Seulgi menatap buku itu lagi dengan ragu. “Yang ini saja deh.”

Sesuai dugaan, Seulgi tidak mengikuti saran Jongin melainkan memilih salah satu. Memang selalu seperti itu. Walau Seulgi meminta pendapat orang, pada akhirnya dia mengambil keputusan berdasarkan pendapatnya sendiri. Jongin sudah sangat hafal.

“Sebenarnya kau cari buku apa saja sih?” tanya Jongin saat melihat Seulgi kembali mencari-cari buku. Mereka berdua masih memakai seragam karena sepulang sekolah tadi langsung ke toko buku.

“Novel seri karya Cathy Hopkins dan novel bergenre Scifi,” jawab Seulgi dengan pandangan fokus ke rak buku.

“Belum ketemu juga?” tanya Jongin.

“Kalau belum ketemu untuk apa aku mencari? Dasar bodoh,” decak Seulgi, menggeleng-gelengkan kepala.

Jongin memutar bola matanya, “Ambil saja yang banyak. Ini, ini, dan ini,” diberikannya beberapa buku secara acak pada Seulgi. “Biar tidak usah kembali lagi ke sini untuk waktu yang lama.”

“Aduuuh, kamu bisa diam tidak sih?” Seulgi mengambil semua buku itu dan mengembalikannya ke tempat semula. “Aku hanya beli yang sedang ingin ku baca.”

“Kutu buku memang sulit dimengerti,” Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.

“Jadi sekarang kau memanggilku kutu buku?”

“Kau suka panggilan itu?”

“Mhm.”

“Nerdy.”

“Ayolah, aku lebih suka panggilanmu padaku semasa kecil,” kata Seulgi tak sabar.

“Kang… Seul… Gom?” tanya Jongin, tapi Seulgi diam saja. “Padahal dulu kau selalu protes.”

“Setidaknya lebih baik dari Nerdy. Aku jadi seperti anak culun yang sering dibully.”

“Begitu saja marah,” Jongin mengambil satu buku yang tak begitu tebal kemudian memukulkannya pada kepala Seulgi.

“Aku berencana menyelidik ke hotel milik ayah Sehun,” kata Seulgi.

“Hah? Menyelidik apa?”

“Tentang yang ku ceritakan semalam.”

Lalu ingatan Jongin melayang ke obrolan mereka semalam. “Astaga, kau serius?”

Seulgi bersandar ke rak buku, menghadap Jongin lekat. “Kau mau menemaniku tidak?”

“Aku melarang keras.”

“Ya sudah, aku berangkat sendiri,” Seulgi kembali melangkah ke rak buku lain, sengaja menyenggol tubuh Jongin dengan wajah ditekuk.

“Hey, hey,” Jongin menahan tangannya. “Kau tidak serius, kan?”

“Aku serius, Jongin. Sudah beberapa kali aku menghirup bau parfum yang berbeda di pakaian Sehun. Itu parfum wanita, tapi bukan parfum yang biasa ku pakai. Kau pasti paham kan maksudku?” penjelasan Seulgi kali ini sukses membuat Jongin terdiam.

“Kau merasakannya?”

“Ayolah, aku memang diam saja selama ini, tapi aku cukup peka,” kata Seulgi.

“Bisa jadi kau terlalu peka.”

“Kau tidak berpihak padaku. Terima kasih,” Seulgi memukul dada Jongin, merajuk seperti anak kecil. Wajahnya yang ditekuk tidak hilang juga.

“Hey, hey,” Jongin menahan tangannya lagi dan membuatnya berbalik. “Aku bersamamu. Jangan marah….”

“Kau lebih mencintai Sehun,” Seulgi mengerucutkan bibirnya.

“Kau pikir aku gay apa…?”

“Huh!”

“Aku temani, kapan pun, kemana pun, beri tahu aku saja harus apa. Jangan marah begini, makin jelek.”

“Belikan aku eskrim,” rengek Seulgi sambil berpuppy eyes.

“Apa hubungannya…?”

“Aku marah nih—“

“Oke!” Jongin pun memilih pasrah. Sudah jelas dia tidak akan menang berdebat dengan Seulgi. Lihat saja sekarang gadis itu cengar cengir penuh kemenangan.

***

Junmyeon melangkah di sepanjang lobi hotel. Ini adalah hotel milik orang tua Sehun, jadi dia sering berkunjung. Jelas, semua orang mengenalinya dan menunjukkan rasa hormat. Ada satu kamar yang memang disiapkan khusus untuknya. Dia datang hanya untuk menenangkan diri—itu yang diketahui oleh semua karyawan hotel. Sebenarnya, ada alasan khusus yang membuatnya sering datang.

“Aku ingin dilayani oleh manager Bae,” pintanya sambil tersenyum teduh. Karyawan itu mengerti, lalu setelah membungkuk dia bergegas pergi untuk memenuhi permintaan Junmyeon. Sambil menunggu, Junmyeon masuk kamar dan menyalakan televisi dengan volume rendah.

Tak lama setelahnya, seorang perempuan dengan seragam hotel masuk. Dia membungkuk dalam walau Junmyeon yang membelakanginya tidak melihat.

“Selamat malam, tuan Kim. Ada yang bisa saya bantu?”

Junmyeon menoleh cepat, tersenyum pada perempuan itu. “Tidak perlu seformal itu. Kau bisa memanggilku Junmyeon seperti yang lain, Irene.”

Irene tersenyum sekilas. “Anda adalah tamu.”

“Apa bedanya aku dengan Sehun? Oh, perlukah aku memanggilmu noona juga?”

“Jangan bercanda, tuan Kim,” potong Irene masih dengan sopan santun penuh. “Saya hanya akan menjalankan tugas, jadi tolong, jangan mempersulit saya.”

“Kalau begitu temani aku minum.”

“Baiklah,” Irene mendekat ke meja Junmyeon untuk menuangkan whine ke gelas kosong yang ada di sana. Hanya menuangkan whine, kemudian meletakkannya lagi dan berdiri dengan wajah tertunduk, menunggu perintah selanjutnya.

“Ayolah, kalau aku bilang temani, berarti kau harus duduk di sampingku dan ikut minum.”

“Maaf, saya tidak bisa melakukannya. Itu menyalahi tugas saya.”

Mendengar itu, Junmyeon menghela nafas. “Hentikanlah, Irene. Mereka berdua adalah sahabatku. Aku tahu kau adalah perempuan yang baik,” kini wajah Junmyeon berubah serius.

“Jika tidak ada yang perlu saya lakukan lagi, saya permisi, tuan,” Irene berucap dengan tegas, lalu beranjak pergi.

“Bae Irene!” Junmyeon menahan pergelangan tangan Irene.

“Aku mencintainya.”

Junmyeon terperangah mendengar itu, tapi tak lantas melonggarkan genggaman tangannya.

“Tidak mungkin,” kata Junmyeon.

“Dia tidak tahu, dan tidak perlu tahu. Cukup berhubungan seperti ini saja aku sudah bahagia.”

“Noona….”

“Hanya Sehun yang bisa membuatku tersenyum saat mendengar panggilan itu. Jangan panggil aku lagi,” Irene melepaskan tangan Junmyeon lalu benar-benar pergi meninggalkan kamar itu.

Junmyeon mengusap wajahnya kasar. Ada rahasia besar lain yang hanya diketahui oleh Junmyeon dan Irene. Junmyeon mencintai Irene secara sepihak, sedangkan Irene memiliki perasaan yang tulus untuk Sehun.

***

Esok harinya tepat setelah pulang sekolah, Jongin mengantar Seulgi ke hotel milik keluarga Sehun. Mereka masih mengenakan seragam sekolah. Sebenarnya itu atas dasar paksaan Seulgi yang terlalu buru-buru. Jongin sudah bilang setidaknya ganti pakaian dulu, tapi Seulgi berkeras untuk langsung ke sana.

“Padahal belum tentu Sehun datang ke tempat ini,” keluh Jongin saat mobilnya telah terparkir dan mesinnya ia matikan.

“Pasti ada petunjuk,” cetus Seulgi serius.

“Seperti sedang menyelidiki kasus pembunuhan saja,” sindir Jongin.

“Berarti kita adalah pasangan detektif?”

“Jangan sampai ada yang tahu selain kita. Sungguh, ini memalukan.”

“Wajahmu jangan menyebalkan begitu dong. Nanti aku traktir makan deh.”

“Tidak akan ada ceritanya. Pasti tetap aku yang bayar.”

“Kali ini serius—“

“Aku tidak percaya akan melakukan ini,” kata Jongin frustasi, menelungkupkan wajahnya ke stir mobil.

Tidak terdengar jawaban dari Seulgi, melainkan suara pintu dibuka lalu ditutup. Beberapa detik berikutnya, pintu di sebelahnya sudah terbuka dan Seulgi langsung menariknya turun.

“Ayo cepat turun!” paksa Seulgi, menarik kuat Jongin hingga keluar dari mobil.

“Iya, ini aku keluar, lepaskan aku!” Jongin pun turun dari mobil, dengan pasrah mengikuti langkah Seulgi yang menariknya masuk hotel.

Sebenarnya Jongin hanya berlagak sok malas, padahal dalam hati sangat was-was. Dia takut Sehun benar-benar memiliki janji bertemu Irene hari ini di hotel. Bukan takut rahasia Sehun akan terbongkar, tapi takut Seulgi patah hati, apalagi sampai menangis. Dia akan melakukan apa pun agar itu tidak terjadi.

Kepala Seulgi menoleh ke segala arah, entah apa yang dia cari. Jongin sudah seperti boneka yang tidak memprotes dibawa kemana-mana. Seulgi menariknya ke resepsionis.

“Kau, tanyakan pada mereka apa Sehun ke sini ya,” bisik Seulgi.

“Kenapa harus aku? Tidak mau.”

“Kalau aku yang tanya, nanti mereka mengadu pada Sehun. Cepat sana!” Seulgi langsung mendorong Jongin ke meja resepsionis.

“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” salah satu karyawan menyapa Jongin.

Sekarang dia jadi bingung. Ditatapnya kedua karyawan yang berjaga dengan polos—atau bodoh. Karyawan itu menatapnya bingung, karena Jongin tak juga merespon.

“Maaf, ada yang bisa kami bantu?” karyawan yang satu lagi—sepertinya tak sabar dengan keadaan itu—akhirnya mengambil alih.

“Ehm,” Jongin berdeham kikuk. “Ya, aku… mencari… Oh Sehun.”

“Tuan muda Oh?” kening karyawan itu berkerut, tapi sesaat kemudian matanya membulat cerah. “Anda teman sekolahnya pasti ya? Maafkan kelalaian kami,” lalu dia membungkuk hormat. “Tuan muda hari ini tidak datang.”

“Biasanya kapan dia datang?” secara tiba-tiba Seulgi muncul di sampingnya dan bertanya.

‘Katanya takut karyawan ini mengadu pada Sehun,’ batin Jongin.

“Kalau soal itu kami tidak tahu. Biasanya yang mengatur layanan kamar untuk tamu-tamu penting adalah manager Bae. Mungkin kalian berdua bisa bertanya padanya langsung.”

Mendengar itu, Jongin langsung panas dingin. Manager Bae yang dimaksud itu adalah Irene kan? Seulgi tidak boleh bertemu dengan wanita itu.

“Sayang sekali… kalau begitu terima kasih banyak. Maaf, mengganggu pekerjaan kalian,” pamit Jongin segera, kemudian menarik tangan Seulgi. “Sudah kan, dia tidak ada. Jadi sekarang pulang.”

“Tidak mau! Ayo cari yang namanya manager Bae dulu,” Seulgi merajuk, menahan tangannya agar tidak ditarik terlalu jauh oleh Jongin.

“Kau pikir mereka tidak sibuk? Jangan buang waktu karyawan di sini hanya untuk meladeni tingkah kekanakanmu.”

“Jadi aku kekanakan?” tiba-tiba Seulgi menghentikan langkahnya, juga melepas tangannya dari Jongin.

“Maksudku begini, Seulgi-ah—“

“Pulanglah, aku akan melakukan ini sendirian,” suruh Seulgi, kali ini wajahnya terlihat begitu serius, tidak merengek manja seperti tadi. Itu membuat Jongin merasa bersalah.

“Aku tidak bermaksud mengatakan itu padamu—“

“Jongin, terus terang aku percaya pada Sehun. Aku hanya ingin membuktikan bahwa kepercayaanku padanya tidak sia-sia. Apa itu salah?”

Mendengar itu membuat Jongin menghela nafas panjang. Belum apa-apa dia sudah menyakiti Seulgi.

“Oke, maafkan aku.”

“Kau pulang saja sana.”

“Iya nanti aku pulang bersamamu,” Jongin merangkul pundak Seulgi. “Setelah menemui manager Bae.”

Seulgi pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Jongin membantunya mencari karyawan bermarga “Bae” dengan bertanya ke sana kemari. Tentu saja dia lakukan itu untuk mengulur waktu. Memang dilema jika dihadapkan pada kondisi seperti ini. Dia berharap usaha ini cukup berhasil untuk mencegah pertemuan mereka.

“Kenapa tidak ketemu ya? Sepertinya wanita itu benar-benar sibuk,” gumam Jongin setelah beberapa kali bertanya, mereka tak juga bertemu dengan manager Bae.

“Kalau memang tidak bisa ditemui sekarang, kita pulang saja tidak apa-apa,” ucap Seulgi sembari melihat ponselnya. “Sudah malam.”

“Gantungan beruangmu hilang?” tanya Jongin setelah sadar ada yang kurang dari ponsel Seulgi.

Seulgi pun melirik bagian gantungan ponselnya, “Eh iya, tadi di sekolah masih ada. Apa jatuh di sini?” dia menunduk, mencoba mencari boneka itu di lantai.

“Makanya jangan asal tarik orang, jadi jatuh kan.”

“Mana ku tahu akan jatuh…” Seulgi membela diri, berbalik dan mencari boneka itu di sepanjang lantai yang mereka lewati tadi.

“Maaf, apa ini milik anda?” sebuah suara menginterupsi mereka. Baik Seulgi mau pun Jongin mendongak ke pemilik suara tersebut. “Tadi saya menemukannya di lantai.”

Jongin mematung. Pemilik suara itu adalah Bae Irene, wanita yang dari tadi Jongin cegah untuk bertemu Seulgi apa pun yang terjadi. Tapi semua gagal karena Irene sendiri yang menghampiri mereka.

“Benar! Itu punyaku!”

Tentu saja Jongin tidak bisa berbuat apa-apa saat Seulgi menghampiri Irene dengan senyum sumringah. Dilihatnya Irene balas menatapnya, terlihat was-was juga. Wanita itu memang tidak pernah bertemu dengan Seulgi, tapi dia pasti sangat mengenali Jongin. Mereka telah bertemu berkali-kali di club malam tempat dirinya biasa menemui Sehun.

“Baguslah…” jawab Irene ragu-ragu. Matanya melirik Jongin sekilas, seperti menanyakan sesuatu.

“Terima kasih banyak—oh, kau yang namanya manager Bae bukan?” pekik Seulgi setelah melihat nametag Irene.

“Saya?” lagi-lagi Irene melirik Jongin. “Iy-ya….”

“Apa Sehun sering datang ke sini? Maksudku, tuan muda Oh.”

Mendengar nama Sehun, Irene terdiam untuk beberapa saat. Jongin bisa melihat dia mulai paham dan menyadari siapa Seulgi. Lalu wanita itu menghela nafas.

“Cukup sering. Tapi akhir-akhir ini mulai jarang, nona,” jawabnya dengan penuh rasa hormat.

“Begitu ya…” Seulgi tampak berpikir. “Kira-kira kapan lagi dia akan datang?” tanyanya lagi.

“Saya tidak tahu. Tuan muda bisa datang kapan saja, dan itu lumayan membuat para karyawan bingung,” Irene terkekeh. “Apa nona adalah pacar tuan muda?” tanya Irene, berlagak sedang menggoda Seulgi.

“A-aku… eum…” Seulgi mendekat pada Irene, lalu berbisik. “Tolong rahasiakan ini ya. Aku tidak mau Sehun tahu kalau aku ke sini.”

Irene tertawa, “Imutnya. Saya akan rahasiakan. Tenang saja,” ucapnya meyakinkan.

‘Dia pandai berakting rupanya,’ batin Jongin, merasa lega karena Seulgi tidak curiga. Dia kemudian mendekati mereka berdua.

“Terima kasih banyak, manager Bae. Kalau Sehun datang, bisa hubungi aku tidak? Oh, sini, aku minta kartu nama atau nomor ponselmu,” pinta Seulgi.

“Tentu saja,” Irene mengeluarkan ponselnya dan memberikan benda itu pada Seulgi. “Anda bisa simpan nomor anda di ponsel saya, nanti akan saya hubungi,” ujarnya.

Dengan penuh semangat Seulgi menerima ponsel itu kemudian mengetikkan nomor ponselnya dalam sekejap.

“Aku tunggu, serius.”

“Sudah puas sekarang? Ayo pulang,” ajak Jongin.

“Sebentar,” kata Seulgi. “Manager Bae, aku ingin tahu kau pakai parfum apa?”

“Eh?” sekilas Irene dan Jongin saling pandang. “Saya… kenapa jadi menanyakan parfum yang saya pakai?” tanya Irene balik sambil terkekeh pelan.

“Aku suka wangi parfumnya. Besok mau beli!”

“Yaaa, parfum yang dipakai manager Bae tidak untuk anak kecil,” timpal Jongin seraya mengetuk kepala Seulgi.

“Tidak apa-apa,” Irene tersenyum pada Seulgi. “Saya memakai parfum Chanel N°5.”

“Chanel N°5,” gumam Seulgi, mengulangi ucapan Irene.

“Sudah, kan? Ayo pulang,” Jongin merangkul Seulgi dan membawanya lekas pergi.

“Ih, tidak sopan!” dengus Seulgi sambil memukul pelan perut Jongin. “Manager Bae, terima kasih banyak!” dia berbalik sekilas untuk mengucapkan itu pada Irene.

“Sama-sama, nona,” jawab Irene, kemudian membungkuk pada Jongin dan Seulgi yang pergi menjauh.

“Harusnya kau bilang terima kasih dulu tadi, baru pulang,” protes Seulgi.

“Yang butuh dia kan kau, bukan aku,” tukas Jongin.

“Kalau begitu terima kasih, telah menemaniku hari ini.”

“Sungguh? Kau berterima kasih? Wow,” Jongin menaikkan alisnya pura-pura takjub. Saat tiba di dekat mobilnya, dia membukakan pintu untuk Seulgi. “Bukan apa-apa, tadi juga kau tidak mendapat petunjuk apa pun, kan?” tambahnya, kemudian berjalan ke sisi kemudi mobilnya.

“Siapa bilang tidak mendapat apa pun?” kata Seulgi setelah Jongin naik dan memakai seatbeltnya.

Kening Jongin berkerut. “Memangnya kau dapat apa?”

“Kau pikir kenapa aku bertanya merk parfum manager Bae?” tanya Seulgi, namun Jongin tidak tahu jawabannya. “Wangi parfum itu sama dengan wangi yang ku hirup dari pakaian Sehun belakangan ini.”

Jongin tak memperkirakan ini sebelumnya, bahwa Seulgi begitu jeli. Mungkin itu pengaruh dari insting kewanitaannya, atau sebagian dari rasa takut kehilangan Sehun membuatnya semakin peka.

“Yang benar saja.”

“Aku serius.”

“Bisa jadi kau salah, ada banyak wangi parfum yang mirip. Dan kalau pun memang sama, bisa saja parfum manager Bae dan wanita itu sama, kan?”

“Jadi sekarang kau mengakui kalau Sehun punya selingkuhan?”

“Astaga, bukan,” Jongin buru-buru meralat ucapannya. “Aku hanya tidak habis pikir kau mencurigai manager Bae.”

“Aku tidak mencurigainya tuh.”

“Hah?”

“Aku hanya bilang itu wangi parfum yang sama, bukan mencurigai manager Bae.”

“Tapi kan sama saja kau—“

“Aku punya rencana untuk membuat Sehun mengatakannya sendiri.”

Tampaknya masalah ini makin gawat. Jongin tidak tahu harus terus membantu Seulgi menyelidik atau menghentikannya. Dia pikir keadaannya aman untuk sementara, ternyata tidak.

***

Sehun sedang berbincang dengan Chanyeol dan Baekhyun di bar saat ponselnya menerima panggilan dari Irene. Dia tersenyum, lalu menunjukkan layar ponsel pada kedua kawannya untuk pamer.

“Noona menelpon.”

“Yaa mau pamer pada kami?” Chanyeol menatapnya sebal.

“Sana angkat, anak manja,” Baekhyun ikut melempar tatapan sebal padanya.

“Maaf ya, sepertinya noona merindukanku,” kata Sehun sambil tertawa mengejek.

“Ku bilang cepat angkat sana!” Baekhyun hendak menendangi bokong Sehun, kalau saja dia tidak segera berlari menghindar.

Sehun berjalan ke sudut bar, cukup sepi dari suara musik dan orang yang berbincang.

“Ya, noona? Ada apa?”

“Kau ada dimana?” terdengar suara Irene melalui ponselnya.

“Di bar, bersama Chanyeol dan Baekhyun. Merindukanku?” goda Sehun. Untuk beberapa saat Irene hanya diam. “Apa terjadi sesuatu, noona?”

“Tidak…” jawab Irene singkat.

“Kenapa kau terdengar mencurigakan?”

“Aku hanya ingin mendengar suaramu,” lalu terdengar tawa Irene.

“Baguslah, berarti kau merindukanku.”

“Ya, bisa jadi,” kata Irene. “Tadi aku bertemu pacarmu.”

Senyum Sehun menghilang. “Seulgi?”

“Oh… namanya Seulgi ya?”

“Dimana kau bertemu dengannya? Dan bagaimana kau bisa tahu?”

“Hanya bertemu sebentar, dia sedang bersama Kim Jongin. Aku mengetahuinya sendiri kalau dia adalah pacarmu. Bisa dikatakan sebuah insting,” papar Irene.

“Kalian sempat berkenalan?” tanya Sehun.

“Sempat.”

“Baguslah, akhirnya kalian saling kenal.”

“Sungguh, responmu seperti itu?” tanya Irene tak percaya.

“Kau mengharapkan respon yang bagaimana?” Sehun balik bertanya.

“Entahlah….”

“Dia imut, kan? Semua orang menyukainya,” kata Sehun.

“Harus ku akui, iya. Aku tidak tega jika dia tersakiti.”

“Oh,” kata Sehun pelan. “Kita lihat saja nanti.”

“Sehun, sebanyak apa kau menyukaiku?” tanya Irene, tiba-tiba.

“Maaf, Chanyeol dan Baekhyun memanggilku. Sampai nanti,” Sehun langsung memutuskan telpon secara sepihak.

Sebenarnya itu bohong. Chanyeol dan Baekhyun terlihat mengobrol tanpa melirik Sehun sedikit pun. Ya, Sehun menghindari pertanyaan Irene. Pertanyaan yang menurutnya terlalu melankolis.

***

Siang itu Seulgi dan Sehun bermain ayunan menunggu jemputan. Keduanya masih memakai seragam taman kanak-kanak. Sehun sebenarnya tidak akan dijemput karena kedua orang tuanya terlampau sibuk. Dia sering ikut Seulgi atau Jongin pulang, baru pada malam hari ayah atau ibunya datang untuk menjemputnya. Kali ini giliran Seulgi yang ia tumpangi.

“Sehunnie, aku punya coklat,” tiba-tiba Seulgi mengeluarkan sebatang coklat dari saku seragamnya.

Sebelah alis Sehun terangkat. Tidak biasanya Seulgi mau berbagi makanan, dia jadi curiga.

“Coklatnya tidak enak ya?” tuduh Sehun curiga.

“Enak kok, ini kan coklat yang sering kita beli kalau pulang sekolah,” Seulgi membela diri seraya memperlihatkan label merk coklatnya.

Sehun berpikir sejenak, masih tidak percaya. “Kenapa mau memberikan coklat itu padaku?” tanya Sehun.

“Aku takut gendut,” jawab Seulgi, sok tua. “biar pipiku kempes,” dia menunjuk pipinya.

“Iya, kamu gendut sekali,” Sehun pun menarik coklat batangan itu dari tangan Seulgi.

“Kalau aku tidak gendut, aku bisa cantik, kan?” tanya Seulgi, dan Sehun hanya mengangguk karena terlalu sibuk memakan coklatnya. “Aku punya rahasia loh. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya,” kata Seulgi, merendahkan suaranya. Lagi-lagi Sehun hanya mengangguk. “Aku mau menikah dengan Jongin kalau besar nanti.”

“Kenapa dengan Jongin? Kenapa bukan aku?” tanya Sehun dengan wajah polos.

“Aku maunya sama Jongin, bukan kamu,” jawab Seulgi tak kalah polos.

“Ya sudah, nanti aku menikah dengan perempuan yang lebih cantik.”

“Nanti nikahnya sama-sama ya.”

Sehun mengangguk lagi, coklatnya telah habis. Tak lama kemudian, mobil yang dibawa oleh ibu Seulgi sampai di depan sekolah.

***TBC***

Author Note : Saya minta maaf kalau chapter ini hambar :”) belakangan ini memang lagi WB parah. Chapter selanjutnya akan saya perbaiki lagi. See you^^

Iklan

12 thoughts on “Wonderwall : Chanel N°5

  1. Yawlaaaaaa gimana ceritanya Suho bisa suka Irene =’)
    Konflik bertambahhhh! Haha
    Btw, sebel sama Sehun disini. Tiba2 disini juga sebel sama Irene haha, Sehun Selingkuh dan Irene udah kenalan sama Seulgi =’)
    Ya ampun Seulgi. Gangerti kalo jadi Seulgi ckck. Omg Seulgi pekaa banget hihi
    Seulgi sama Jongin aja udah *eh kalo langsung sama Jongin bubar dong ceritanya wkwkw* *abaikan*
    Btw part ini bagus kak! Teteuuppp Semangat kakkk! Ditunggu chapter selanjutnya hihi

  2. Author merendah, kkkk, gak hambar kok.. Jd tau masa lalunya kan.. Knp masa lalu Seulgi dominan sm Jongin tp jadiannya sm Sehun ya? Gmn ceritanya sih Sehun ambil hati Seulgi? Penasaran aja.. Sehun gak tegas ih suka apa gak sm Irene.. Yah kalo tegas bubar kali ya konfliknya.. Hehe.. Tp gw suka sm cara Sehun mempertahankan Seulgi.. Gw jg suka cara Jongin menyukai Seulgi.. Sama siapa aja gw sih setuju2 aja.. Asal Sehun gak selingkuh terus, nyesek hati gw! Kalo selingkuhnya sm gw sih ayo aja! *apalah! *plak!
    Ayo semangat lagi thor!

  3. waaa thor ternyata irene pelayan yak
    aku kira dia apaan gitu. Oh iya banyakin kaiseul thor, dududuh manisnya mereka ♥
    itu si junmyeon nape suka irene sih :3

  4. ternyata seulgi waktu kecil bilang ingin menikah sama jongin. tapi kenapa udah besar malah pacaran ama sehun????
    aaa semakin penasaran ajaa…
    jadi gak sabar nunggu chapter selnjutnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s