Maybe (Chapter 3)

4 copy

Tittle : Maybe?

Author : Wulan fitriani

Cast : Byun Baekhyun, Lee Rai, EXO member

Leigth : chaptered

Rate : Teeneger

Genre : Married life, Romance comedy

 

 

..Berapa gelas yang kau ingin kan?

 

 

-0-

 

“hah??!!” hampir belasan mata tertuju pada meja dipojok kiri dekat jendela, dimana pusat keributan terjadi.

 

“kau jangan bercanda hyung..” Jongin memukul pundak Baekhyun sambil tertawa mengejek. Baekhyun sedikit terhuyung saat Jongin memukulnya.

 

“dia? Istrimu?” Sehun menyipitkan matanya untuk melihat Rai yang terduduk didekat kasir meja.

 

“ssstt.. pelankan suaramu” Baekhyun menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Teman-temannya ini memang harus diajari etika.

 

“kau pikir kita akan percaya?” Jongin menyenderkan tubuhnya lalu menyeruput cappuccino milik Sehun. Saat Sehun ingin merebutnya, cangkir itu sudah mendarat dibibir tebal Jongin dan Sehun terlalu jijik untuk merebutnya.

“dia terlalu lebih untukmu..” tambahnya saat selesai menghabiskan cappuccino sisa Sehun.

 

“hei!” Baekhyun beringsut. Ingin rasanya Baekhyun menyumpal mulut setan temannya itu.

“apa perlu aku tunjukan surat nikahku?” Baekhyun berusaha menunjukkan wajah seriusnya. Dia hanya ingin temannya tahu dan tidak membahas hal ini terlalu lama, karna bisa saja Rai mendengar pembicaraan mereka.

 

“bawa kemari saja hyung..” tantang Sehun yang kembali menyuap pancakenya.

 

“ah sudahlah.. percuma juga..” Baekhyun menghela dan menyeder  pada kursi. Teman-temannya itu memiliki kepala yang keras. Tangannya memijit pelan pelipisnya. Sehun dan Jongin terdiam. Mereka memajukan tubuhnya merapat pada Baekhyun.

 

“jadi benar?” tanya sehun berbisik. Baekhyun sedikit mengintip dari celah jarinya.

 

“tapi…” Jongin memiringkan kepalanya.

“kau direktur, dan istrimu..” Jongin dan Sehun mengalihkan pandangannya pada sesosok yang mereka bicarakan.

 

“hmph.. kau tidak bisa membodohi kami hyung. Atau kau bilang seperti itu karna kau tak ingin bersaing denganku? Eoh?” Jongin menahan tawa mengejeknya. Dengarkan Jongin, seorang istri direktur tidak mungkin berkerja ditempat biasa seperti ini. Dan lagi, Jongin sangat hafal kalau Ibu Baekhyun memiliki cabang butik dimana-mana. Lalu mengapa istrinya harus repot-repot kerja ditempat seperti ini.

 

“untuk apa aku bersaing? Rai tidak akan berpaling dariku” Baekhyun menyombongkan diri. Dia menurunkan tanganya lalu melipat kedua tangannya diatas dada. Dia sempat melirik Rai yang terlihat mengobrol dengan pria tadi menyambutnya.

 

“benarkah? Lalu sikap acuh tadi?” Jongin semakin gencar memojoki Baekhyun. Sedangkan Sehun hanya mengangguk-angguk setuju dengan mulut yang berlumuran madu. Baekhyun menatap bawahannya dengan tatapan datar.

 

“aish!!! Sudahlah aku muak!!” Baekhyun menggebrak meja dan berdiri lalu mengancingkan salah satu kancing jasnya. Jongin dan Sehun hanya melongo melihat reaksi Baekhyun. Terlihat sekali kalau Baekhyun hanya membuat dirinya terlihat marah.

“kalian bayar tagihannya” setelahnya, Baekhyun berjalan cepat meninggalkan mereka. Saat sampai didekat kasir Baekhyun tidak sengaja beradu pandang dengan Rai yang berada beberapa meter darinya.

 

“selamat datang kembali tuan..” Rai membungkuk sambil sedikit berteriak.

 

“eoh..” Baekhyun mengangguk kikuk, dia seperti melihat Rai yang biasanya. Tapi mungkin saja itu profesionalitas kerja. Baekhyun tidak mau ambil pusing dan kembali mengambil langkah panjang.

 

“hyung!!!” Jongin dan Sehun berteriak tak terima saat Baekhyun mengucapkan mantra tadi.

 

“hyung.. kau yang bayar yah.. aku lupa bawa dompet..” Sehun tersenyum garing sebelum akhirnya ikut berlari menyusul Baekhyun.

 

“oy! Bocah tengik!!” Jongin bangkit lalu menunjuk Sehun yang melambaikan tangannya dari luar jendela.

“aish..” Jongin menyisir rambutnya kebelakang dengan jari. Lalu berjalan santai kearah kasir.

 

 

-0-

 

 

“hai sayang, cepat bangun ini sudah siang.. kau kan berjanji akan membawaku kekebun binatang..” suara yang tidak asing menyeruak dalam keheningan. Seorang wanita tersenyum manis memperhatikan prianya bergelutak dengan selimut.

“sayang..” panggilnya lagi. Prianya mulai terusik dan bergerak gelisah dalam balutan selimut yang mengubur dirinya. Wanita itu masih setia didepan ranjang, tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya yang buncit.

 

“eung..” prianya itu mencoba mendudukkan dirinya dengan mata yang masih tertutup. Mengusap matanya dengan telunjuknya. Matanya terbuka perlahan, samar-samar terlihat seorang dengan surai panjang berada tepat didepan ranjangnya.

 

“Rai?!” mata pria itu membulat sempurna saat melihat Rai berdiri terseyum dihadapannya.

 

“Rai! apa yang kau lakukan? Apa-apaan perut itu?!” pria itu menjerit histeris. Dia menunjuk-nunjuk Rai tak percaya.

 

“hei nak lihatlah ayahmu..” Rai terkekeh sambil mengelusi perut buncitnya.

 

“nak?”

“anak siapa yang ada dalam perutmu?” pria itu mendekat pada Rai memperhatikannya tak percaya. Menekan-nekan perut Rai mencoba mastikan jika perut Rai bukanlah bantal ataupun balon yang disembunyikan.

“kemarin bukankah kau bilang kau tidak hamil..” pria itu sedikit berteriak. Dia seperti orang kurang waras sekarang. Dia menjambak rambutnya frustasi.

 

“kau percaya pada ucapanku?” Rai masih saja tersenyum bahagia. Dia menyikut pria itu dengan sikutnya.

 

“tidak mungkin..” pria itu menggeleng dan berjalan mundur sedikit.

 

Kring..

 

“aku angkat telpon dulu.. cepat mandi dan bersiap..” lagi Rai tersenyum lalu berlalu dari hadapan prianya.

 

 

 

“tidak..”

 

 

 

 

“tidak..”

 

 

“TIDAK!!” Baekhyun spontan terduduk dari tidurnya dengan rambut yang sudah tidak berbentuk dan banyak jiplakan kain diwajahnya. Nafasnya terengah dan jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya. Kepalanya menoleh ke segala arah.

 

“hah.. hah.. mimpi.. tadi Cuma mimpi..” Baekhyun mengusap kasar wajah halusnya. Diliriknya weker yang sedari tadi berbunyi

 

Kring..

Kring..

 

“hah sukurlah aku tepat waktu..” Baekhyun kembali menaruh jamnya dan berniat untuk membersihkan diri. Namun niatnya terhenti saat melihat gorden kamarnya yang tertiup angin, dia langsung berlari keluar kamar. Dan saat dia sudah berada diluar kamar, dia mendengar suara pintu yang tertutup.

 

“jadi jam segini dia pergi..” ini sudah hari kelima Rai tidak membangunkannya. Baekhyun selalu berusaha menyamakan waktu berangkatnya dengan Rai namun tetap saja Rai lebih dulu meninggalkan rumah, hanya sticky note dan kadang menu sarapan pagi yang Rai tinggalkan.

 

“mandi!!” Baekhyun baru teringat akan rencana awalnya.

 

Selesai mandi Baekhyun berjalan santai kearah dapur, berhenti diujung tangga untuk melihat ‘pesan harian’ yang Rai tinggalkan.

 

 

..Aku tidak buatkan sarapan, maafkan aku..

 

 

“aish! Disaat ada banyak waktu aku malah tidak sarapan” Baekhyun memasukan note itu kedalam kantung jasnya.

 

..Hei nak lihatlah ayahmu..

 

“mwoya?!!” suara itu tiba-tiba terngiang ditelinganya.

“sudahlah baekhyun, tidak usah difikirkan. Lagi pula hanya mimpi..” Baekhyun menggeleng lalu menepuk pipinya dua kali. Pagi ini tidak sarapan lagi.

 

-0-

 

 

13:01. Jam digital di atas meja kerja Baekhyun terus berkedip. Sudah lewat satu menit dari jam istirahat, namun Baekhyun masih saja berkutat dengan perkerjaannya. Padahal hari ini perkerjaannya tidak terlalu banyak, tapi entah kenapa terasa berat dan melelahkan.

 

Pintu ruangannya terbuka.

“hyung-”

 

“ayo ke café dekat kantor..” Baekhyun menyelesaikan berkas terakhirnya. Dia menoleh sebentar melihat Jongin yang membatu didepan pintu ruangannya.

 

“aku baru saja ingin mengajakmu kesana..” Jongin berjalan kearah Baekhyun lalu duduk dimeja kerja Baekhyun.

“ada apa? Merindukan istrimu? hm?” Jongin mendekatkan wajahnya sambil menaik turunkan alisnya. Baekhyun memutar bola matanya.

 

“hyung!! Ayo kita makan.. ada restoran babi yang enak dekat sini.” Sehun tiba-tiba muncul dari pintu kayu tersebut.

 

“baiklah. Ayo! aku ingin meyakinkan sesuatu..” mata Baekhyun menatap lurus sticky note kosong diatas mejanya.

 

“heh?” Jongin membuka mulutnya dengan mata yang melihat keatas.

 

“bukan apa-apa.. ayo!” Baekhyun merangkul Jongin kemudian Sehun dan membawa keduanya keluar dari tempat kerjanya.

 

“kita mau kemana hyung..”

 

“diam dan ikuti saja aku!”

 

 

-0-

 

 

“dari semua café kenapa café ini yang kau pilih?” baru sampai, Baekhyun sudah mendapat sambutan yang kurang sedap. Wanita yang menyambutnya menatap Baekhyun sinis.

 

“hei Rai..” Minseok menyikut Rai keras.

 

“kau ini..” Baekhyun menggigit bibirnya kesal.

 

“hmmph” terdengar seperti tawa yang tertahan. Baekhyun menoleh kebelakang. “bukan apa-apa” Sehun melambaikan tangannya didepan wajahnya. Baekhyun menatap temannya itu dengan mata yang menyipit.

 

“kau pelayan disini, jadi layani aku dengan baik..” Baekhyun kembali beralih pada Rai, dia memajukan wajahnya untuk memperjelas kedudukannya. Rai menghela nafas seperti yang sering Baekhyun lakukan.

 

“kau pergilah, cari café lain.. aku-” Rai tiba-tiba membungkuk sambil menutupi mulutnya.

 

“kau baik-baik saja?” Minseok yang dari tadi hanya memperhatikan, spontan memegangi Rai yang terhuyung menghawatirkan.

 

“ini pasti kualat, makanya berbuat baiklah pada pelanggan..” Minseok memijat kecil leher bagian belakang Rai. Rai kembali menegakkan kepalanya. Menatap Baekhyun dengan tatapan datar.

 

“lama-lama melihatmu aku jadi mual..” sebelum pergi Rai menyempatkan diri mengeluarkan kata-kata pedas itu.

 

“hei!!” Minseok meneriaki Rai yang pergi dengan sopannya.

“Rai itu, mengapa jadi seperti ini” Minseok memiringkan kepalanya. Sedikit berpikir tentang perubahan sikap Rai yang aneh. Belum lama berpikir, bahkan belum menemukan jawabannya, Minseok mengangkat bahu dan kembali pada pelanggannya.

“mari tuan saya antarkan..” Minseok dengan Ramah menuntun pelanggannya menuju meja.

 

 

 

..mual?

Ra-rai mual?

Ah tidak!

 

 

 

Baekhyun menggeleng kuat, dia berjalan pelan sambil menghitung ubin. Tatapan kosong penuh pikiran. Sekelebat muncul banyangan mimpinya tadi pagi. Baekhyun langsung menjatuhkan diri dengan kencang hingga bangkunya berdeckit keras. Dia langsung melemas dan menjatuhkan kepalanya keatas meja, menutupi wajahnya yang memanas. Jongin dan Sehun saling beradu pandang seolah bertanya ada apa dengan atasannya itu.

 

“hyung..” Sehun yang berada tepat didepannya menggoyangkan lengan Baekhyun hingga Baekhyun mengangkat wajahnya.

 

“menurut kalian…” Baekhyun memajukan wajahnya yang diikuti oleh Jongin dan Sehun. Dia agak ragu mengatakannya, terlebih pada temannya ini.

“apa… ra-i haaa.. mil?” tambah Baekhyun pada akhirnya. Dia langsung menaruh telunjuknya dibibir saat melihat Jongin dan Sehun membuka lebar mulut mereka.

 

“hamil?” mereka berbisik. Baekhyun mengangkat bahu tak yakin lalu kembali membawa pundaknya menyender pada kursi.

 

“kau sudah melakukannya hyung?” Jongin memperdekat wajahnya.

“bagaimana rasanya..” Jongin bertanya dengan wajah mesumnya, menaik turunkan alisnya seperti om-om.

 

“aku menikmatinya..” Baekhyun menatap kosong dinding dibelakang tubuh Sehun.

“HEI!!!!” Baekhyun berteriak seketika saat sadar akan kata-katanya.

 

“woaaaaa…. Daebak.. aku tidak menyangka pria seperti dirimu akan melakukannya.” Sehun bertepuk tangan dengan wajah takjubnya.

 

“seperti apa maksudmu.” Baekhyun merapatkan rahangnya.

 

“aku kira kau suka pria hyung. Bahkan aku belum percaya kau sudah menikah.” Sedetik kemudian tangan mulus Baekhyun sudah mendarat pada kepala Sehun. Sehun meringis sambil mengusap kepalanya.

 

“hyung, sudah berapa kali kau melakukannya?” Jongin terlalu antusias hingga ia membuat topik pembicaraannya sendiri.

 

“sekali, itu juga bukan kemauanku..” Baekhyun menghela kasar saat mengingat kembali dimana dia dengan buas ‘mengauli’ istrinya itu.

 

“bukan kemauanmu tapi kau menikmatinya, bagaimana bisa?” Jongin lagi bertanya.

 

“aku dalam pengaruh obat..” Baekhyun membulatkan matanya setelah menyadari kata-katanya. Dia mengutuk dirinya karna telah menjawab pertanyaan Jongin. Akan terdengar konyol kalau dirinya melakukan ‘ini-itu’ karna pengaruh obat. Dan pasti teman-temannya itu akan bersorak mengejeknya.

 

“mabuk?” tanya Jongin lagi. Baekhyun memilih diam untuk menjaga citranya.
“pesanan kalian, silahkan..” pelayan wanita datang dengan nampan penuh. Baekhyun mendongak saat mendegar suara yang terdengar familiar ditelinganya.

 

“kau harusnya lebih sopan..” nasihat Baekhyun pada sikap kurang sopan Rai pada pelanggan. Sepertinya hanya pada dirinya Rai bersikap seperti itu. Rai menaruh nampannya dan menaruh pesanan mereka satu per satu.

 

“belakangan ini kau sering kesini, mengapa?” tanya Rai tak menghiraukan kata-kata Baekhyun tadi. Baekhyun menelan udara menyadari sikap Rai.

 

“dia merindukanmu noona..” Jongin tersenyum penuh arti menjawabnya.

 

“hei! Aish..” Baekhyun menyikut Jongin kesal.

 

“ini istirahat makan siang kan? Seharusnya kau cari restoran makanan berat, perutmu itu juga butuh makanan yang bergizi. Jangan hanya minum susu dan makan cheesecake. Kau terlihat lebih kurus. Besok pergilah ke restoran nasi dekat kantormu..” ujar Rai sebelum akhirnya meninggalkan mereka tanpa permisi.

 

“eoh?” Sehun yang tadi sudah melahap pancakenya terhenti dan melihat Rai yang menjauh dan Baekhyun secara bergantian.

“jadi dia benar istrimu..” Sehun mengangguk paham.

 

“Oh Sehun…” Baekhyun mengeram kesal. Dia sudah pusing mendengar kata-kata itu.

 

“karna baru kali ini aku melihatnya seperti itu padamu. Biasanyakan dia selalu dingin padamu. Bahkan dia tidak pernah mengantarkan makanan kita..” Sehun mengingatkan sikap-sikap Rai sebelumnya.

 

“kau benar, apa dia sudah tidak marah..” Baekhyun mengangguk setuju. Ujung bibirnya terangkat sedikit karna kata-katanya.

 

“hyung…” Jongin dan Sehun memanggil Baekhyun dengan nada yang terdengar aneh.

 

“apa ini? Kau bilang pernakahanmu itu bukan keinginanmu. Tapi kurasa kau mencintainya.” Jongin menekan-nekan lengan Baekhyun dengan manja.

 

“mwoya? Dia sama sekali tidak termasuk dalam tipeku” Baekhyun mengibas-ngibas tangannya tak tertarik sambil membuang muka.

 

“kalau kau tidak mau berikan saja padaku..” Jongin tertawa kecil lalu menyedot lemon tea-nya.

 

“eoh, coba saja..” Baekhyun mengambil garpu untuk memulai makan siang manisnya.

..Kalau berani..

 

 

-0-

 

 

Langit jingga memudar, mempakkan cahaya gemerlap dilangit yang mulai menghitam. Seorang wanita dengan pakaian lusuh dan rambut yang berantakan terlihat membenturkan kepalanya berulang-ulang dengan lemari baju. Membenturnya dengan tempo yang stabil.

 

“ibu….” Panggilnya tanpa menghentikan kegiatannya.

 

 

“ibu….” Panggilnya lagi, suaranya lebih lirih dari sebelumnya.

 

 

“besok oppa ulang tahun.. dan aku masih belum bicara padanya..” wanita berjongkok lalu terduduk didepan lemari bajunya.

 

“aku harus bagaimana…” Rai merengek seperti bocah yang kelaparan. Kakinya menendang-nendang lemari baju yang ada dihapadannya. Rai sedikit frustasi dengan apa yang sudah dia lakukan sampai saat ini.

 

Rai bangkit lalu memperhatikan 2 sweater diatas ranjang.

“apakah akan menjadi sia-sia?” Rai menjambak rambutnya karna terlalu pusing. Di tidak mengira kalau hubungannya dengan Baekhyung akan sejauh ini. Dia pikir Baekhyun akan berpikir jika melihat perubahan sikapnya, tapi ternyata Baekhyun sama sekali tidak menegurnya tetang itu. Rai menghela kasar. Tubuhnya terlukai lemas diatas ranjang.

 

Rai spontan melihat jendela saat mendengar suara mobil masuk pekarangan rumanhnya.

 

“oppa datang! Aku bahkan belum masak apapun!” biasanya Rai akan langsung masak saat pulang berkerja. Lalu dia akan menyisipkan note untuk Baekhyun yang menyuruhnya untuk memanaskan makanannya. Tapi sekarang? Dia bahkan belum minum karna terlalu memikirkan masalahnya.

 

Rai bangkit dan berlari keluar dari kamarnya. Menuruni tangga dengan cepat lalu melengos kedapur tanpa memperhatikan sekitar. Bahkan dia tidak sadar kalau Baekhyun sudah berada didalam rumah. Baekhyun menaikkan ujung bibirnya sedikit.

 

“aku pulang..” ucapnya pada akhirnya.

 

Rai yang tengah mencari apron sempat terhenti namun kembali melanjutkan kegiatannya.

 

“sudah lama sekali aku tidak melihatmu didapur..” Baekhyun datang dengan setelan yang masih lengkap. Biasanya saat Baekhyun pulang, Rai akan membantu Baekhyun melepas jas dan membawakan tas.

 

“Rai air..” pinta Baekhyun yang sudah terduduk dikusri pantry. Rai dengan langkah dan sikap yang tenang menuangkan segelas air meniral untuk Baekhyun. Dia mulai memasang apronya.

 

“terima kasih” ucap Baekhyun saat Rai menyerahkan segelas yang berisikan air mineral padanya. Dia mulai meneguk minumnya dengan mata yang tak hentinya memperhatikan Rai yang hanya sibuk dengan kegiatannya. Bahkan tak satu pun kata terucap dari mulutnya.

 

“mandilah..”

 

“uhuk!!” Baekhyun tersedak saat mendengar Rai berucap. Baekhyun memukul-mukul dadanya untuk meredakan batuknya.

 

“ekhem! Baiklah..” Baekhyun mengangguk kikuk, dia turun dari kursi lalu berjalan menuju tangga. Belum sampai tangga Baekhyun berhenti dan berbalik.

“kuharap hari ini aku akan makan malam denganmu..” Baekhyun mengucapkannya tanpa melihat Rai, dia langsung berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Langkahnya tersara lebih cepat dari sebelumnya.

 

“ibu…” Rai berjongkok lalu menutup wajahnya. Dia terlalu gampang luluh dengan Baekhyun. Rai memukuli kepalanya kesal. Kalau sudah begini, dia harus bagaimana? Kan tidak mungking ujuk-ujuk dia berubah seperti biasanya.

“mengapa dia selalu bisa membuatku berdebar.. padahal kita kan sudah menikah..” Rai memegangi wajahnya yang memerah.

“yosh! Baiklah.. aku harus bisa bersikap biasa.. buat oppa menyadarinya, lalu bermaaf-an dan aku bisa memberikan hadiah ulang tahunnya..” Rai mengangkat kepalan tanganya tinggi-tinggi. Senyum semangat menghiasi wajahnya. Dia sangat yakin dengan kata-katanya. Dengan semangat Rai memulai kegiatan masaknya.

 

..kumohon ..

 

 

-0-

 

Rai menyender di balik pintu kamarnya. Tanganya terlukai lemas diantara tubuhnya. Tatapannya kosong, bahkan lebih terlihat seperti orang idiot.

 

“haha..” tawa hambar keluar dari mulutnya.

 

“hahahha.. ibu” tawanya berubah jadi rengekan. Rai berjalan gontai kearah ranjangnya. Rengekannya menjadi-jadi saat melihat dua sweater yang tergeletak diranjangnya.

 

“seharusnya sudah ku pikirkan kemungkinan ini..” Rai menghempaskan tubuhnya diranjang mungil miliknya.

 

Saat makan malam tadi. Baekhyun tidak mengucapkan kata apapun selain ‘terima kasih atas makanannya’. Dan itu membuat Rai frustasi mendengarnya.

 

“mengapa aku jadi sefrustasi ini? Ini semua kan salahku..” Rai menutupi wajahnya dengan bantal.

 

 

“selamat tidur..”

 

 

“eoh?” Rai bangkit dari tidurnya. Bantal yang menutupi wajahnya terjatuh bersamaan dengan terduduknya dia. Matanya berkeliaran mengitari kamar tidurnya. Tadi sayup-sayup Rai mendengar seseorang mengucapkan selamat tidur untuknya. Tapi tidak ada wujud apapun disekitarnya selain dirinya. Jantungnya menjadi berkerja dua kali lipat. Spontan dia berbalik menatap jendela.

 

“apa penyusup?” dengan menggigiti kuku jarinyanya dia berjalan was-was kearah jendela kamarnya.

 

“ah tidak mungkin.. mungkin saja aku berhalusinasi..” Rai langsung berbalik arah dan berjalan cepat menjauhi jendela kamarnya. Terlalu mudah mengubah pikirannya.

 

“bagaimana dengan ini?” Rai kembai beralih pada sweaternya. menggigit kuku jempolnya sembari berfikir. Matanya berkedip berkali kali.

 

“eoh!” seperti ada lampu yang menerangi kepala suram Rai, dia tersenyum lebar dengan mata yang berdekip berulang-ulang. Rai memukul dadanya bangga, ini kali pertama dia merasa otaknya sangat berguna.

“hahaa…”

 

 

-0-

 

 

 

Sebuah pintu terbuka tanpa suara. Seseorang dengan surai panjang menyembulkan kepalanya dibalik pintu. Rai menyipitkan matanya mencoba menyesuaikannya dengan cahaya remang dalam ruangan itu. Rai tersenyum lega saat menemukan sesosok pria tertidur pulas diatas ranjangnya. Rai menutup pintu kamar Baekhyun dengan perlahan. Jantungnya berdegup kencang, padahal dia hanya masuk kedalam kamar suaminya bukannya kandang buaya ataupun harimau. Dia sudah membuat keputusan yang bulat, dia akan melakukan rencananya hari ini. Tepat tengah malam.

 

Rai berniat memberikan sweater buatannya sendiri yang sudah terbungkus dengan kertas kado berwana coklat tua dengan pita pink diatasnya. Sebenarnya bisa saja dia memberikannya saat pagi hari sebelum Baekhyun bangun. Tapi, belakangan ini Baekhyun mulai bangun lebih pagi dari biasanya.

 

Rai melangkah masuk dengan perlahan, mengendap-ngendap persis seperti maling. Samar-samar terlihat Baekhyun yang tertidur pulas dikasurnya. Rai tersenyum sumbringah melihatnya. Sudah lama sekali tidak melihat wajah tertidur Baekhyun. Poni rambut Baekhyun yang mulai terlihat panjang membuat wajahnya tidak seutuhnya terlihat. Rai memegangi pipinya yang memerah. ..mengapa saat tidur pun tetap bisa membuatku berdebar.. Rai menggeleng keras, dia tidak boleh terlalu jauh menghayati wajah Baekhyun. Dia harus cepat menaruh kado itu dan sesegera mungkin keluar dari kamar Baekhyun.

 

Rai melempar pandanganya dengan mata menyipit kepenjuru ruangan, mencari tempat strategis untuk menaruh bawaannya. Berharap saat Baekhyun bangun yang pertama kali dilihat adalah kado darinya.  Rai tersenyum sendiri membayangkannya. Rai berjalan keujung ruangan saat melihat sofa santai didekat gorden, dia berniat meletakkan disana.

 

 

“hei!”

 

 

 

Degh!

 

 

Rai menhentikan kegiatannya. Rai kebali memeluk kado yang belum sempat dia letakan. Rai dapat mendengar suara langkah dibelakangnya. Suara langkah yang mendekatinya.

 

 

..penyusup!!

 

 

“IBU!!” teriakan Rai spontan pecah saat merasa sesuatu menyentuh pundaknya.

“menyingkir kau menyingkir! Aku sudah menikah, jangan dekati aku..” Rai berbalik lalu menepisnya dan dengan mata terpejam kuat, Rai mengayunkan kado yang dia bawa kesegala arah.

 

“Rai..” ayunan tangannya terhenti. Dengan perlahan dia membuka matanya. Mata yang belum sepenuhnya terbuka kembali tertutup karna cahaya yang tiba-tiba benderang. Saat Rai kembali membuka matanya, dia melihat Baekhyun berdiri dihadapannya dengan tanganya yang masih menempel pada saklar lampu.

 

“eoh? Oppa?” mata Rai membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Dia melongokkan kepalanya kebelakang tubuh Baekhyun mencari sesuatu.

“kemana larinya penyusup tadi?” Rai menengokkan kepalanya kesegala arah. Baekhyun menautkan alisnya lalu menghembuskan nafasnya. Rai itu benar-benar membuat kepalanya serasa pecah. Kemarin-kemarin wanita itu membuat otaknya lelah karna terus memikirkan perubahan sikap wanita itu. Dan sekarang saat otaknya beristirahat, dia kembali membuatnya berkerja dengan sikap yang sudah kembali seperti semula. Bodoh dan idiot.

 

“aish! rai apa-hoam..” Baekhyun berhenti karna menguap, dia masih belum sepenuhnya sadar.

 

“ah! Oppa, oppa.. jangan marahi aku oppa.. aku tidak berniat jahat padamu, sungguh!” Rai menutupi wajahnya dengan bingkisan yang ada ditangannya. Lalu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya didepan bingkisan yang menutupi wajahnya. Baekhyun terdiam, ujung bibirnya terangkat sedikit.

 

“hoam.. apa yang kau lakukan tengah malam dikamarku?” tanyanya dengan satu tangan yang mengusap kelopak matanya, tangan lainnya menurunkan bingkisan yang menutupi wajah Rai.

 

“eoh? Hehe..” Rai tersenyum konyol, menampilkan deretan giginya yang kurang rapih.

“ini..” Tangan Baekhyun terulur saat Rai menyerahkan bingkisan itu. Seyum Rai benar-benar mengembang saat ini. Ini sangat jauh dengan apa yang dia rencanakan. Dan dia sangat senang dengan perubahan rencana ini.

“selamat ulang tahun!!” ucapnya sambil merentangkan tangan.

 

“ulang tahun?” Baekhyun mengerutkan dahi. Kerutan dahi Baekhyun membuat rentangan tangan Rai jatuh. Secara otomatis tubuh Rai terjatuh ke sofa karna terlalu lemas.

“tanggal berapa sekarang?” Baekhyun memiringkan kepalanya.

 

“ya ampun.. sesibuk itukah dirimu sampai lupa kalau kau ulang tahun?” Rai menggeleng prihatin. Baekhyun yang tadi hendak pergi mencari kalender mengurungkan niatnya dan ikut terduduk bersama Rai.

 

“aku sibuk memikirkan dirimu…” ujarnya pelan saat bokong sudah merasakan sofa empuk miliknya.

 

“eoh? Kau bilang sesuatu..” Rai menoleh. Matanya mengerjap berulang-ulang.

 

“eh apa ini?” Baekhyun beralih pada apa yang dia bawa. Dia memutar kado yang Rai bawa tadi kesegala arah.

 

“buka saja..” suruh Rai berseri-seri. Dia mengubah posisinya hingga berhadapan dengan Baekhyun. Rai memperhatikan Baekhyun dengan teliti, dia ingin tau bagaimana reaksi Baekhyun dengan hadiahnya.

 

“handuk?” Baekhyun merentangkan sweater yang Baekhyun kira handuk didepan wajahnya. Rai menatap Baekhyun datar, tatapan tanpa harapan. Apa suaminya itu punya masalah dengan matanya. Baekhyun mengangguk menahan tawa saat tahu kesalahannya.

 

“apa kau suka? Aku juga punya satu.. aku merajutnya sendiri. Bagus tidak?” Rai melayangkan banyak pertanyaan pada Baekhyun. Bahkan dia sampai memajukan wajahnya karna terlalu antusias. Dalam sekejap Rai bisa langsung melupakan kekesalannya hanya karna melihat ujung bibir Baekhyun yang terangkat.

 

“sweater couple..?” Baekhyun menoleh medapati wajah berseri Rai didekat wajahnya.

 

“tidak juga sih..” Rai menelan ludahnya pahit lalu menjauhkan wajahnya. Dia tertunduk sambil memegangi punggung lehernya.

 

Baekhyun menjentikkan jarinya.

“ah iya benar! aku mengerti sekarang.. selama seminggu ini kau bersikap dingin padaku hanya karna kau ingin mengerjaiku ya? Eoh?” Baekhyun menodong Rai dengan jari telunjuknya.

 

“emm.. anggap saja seperti-..” tiba-tiba Rai menutup mulutnya dengan satu tangan. Tangan lainnya mencengkram perutnya.

 

“kau tertawa?” Baekhyun menyeringit saat melihat Rai terlihat seperti menahan tawa. Sepertinya pertanyaannya bukanlah sesuatu yang bisa digolongkan kedalam lelucon. Rai menggeleng dengan dahi yang mengkerut.

 

“belakangan ini aku sering mual..” Rai beralih mengelusi punggung lehernya. Rai memejamkan matanya erat lalu membukanya cepat. Baekhyun terdiam, matanya langsung tertuju pada perut Rai.

 

“mu-mual?” Baekhyun berubah gagap.

 

“aku rasa aku terlalu banyak makan..” Rai sangat ingat dua hari belakangan ini porsi makannya sangat banyak dari hari sebelumnya. Dari pagi, menjelang siang, istirahat makan siang, sore, malam, dan tengah malam. Rai sudah seperti monster kalau berhadapan dengan makanan. Tadi saja saat makan malam, dia masih makan saat Baekhyun sudah selesai.

 

“rai” panggil Baekhyun. Matanya menatap lurus mata Rai.

 

“ya?” Rai menoleh dan mendapati Baekhyun yang menatapnya dengan tatapan menelisik. Rai bahkan sampai memundurkan diri dengan perlahan.

 

.. apa dia dalam pengaruh obat? lagi?

 

“mungkinn kah kau…” Baekhyun menggantung kata-katanya.

“ah tidak! Lupakan” Baekhyun menggeleng kuat, dia seperti tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“apa ada hal yang ingin kau lakukan selain ini?” Baekhyun mencoba mengalihkan topik. Dia melirik jam kecil di nakas. Lumayan jauh dari tempatnya duduk, bahkan bisa dijamin Baekhyun tidak dapat melihat jarum jamnya.

 

“tidak, hanya itu yang ingin ku lakukan. Kau tidurlah lagi.. sudah malam besok masih harus berkerja kan?” Rai menghembuskan nafasnya lega, dia menyimpulkan seyumnya dan beranjak dari duduknya. Berjalan hendak keluar dari kamar Baekhyun. Namun belum genap empat langkah, Rai berhenti dan berbalik.

“mau aku buatkan susu?” tawar Rai, dia menaikan kedua alisnya. Wajahnya benar-benar menyebalkan. bahkan Baekhyun merasa akan menelan istrinya kalau wajahnya tidak juga berubah dalam jangka singkat.

 

“kau mengejekku?” Baekhyun ikut bangkit dan mendekatkan dirinya dengan Rai.

 

“hahah, aku hanya bercanda..” Rai memundurkan wajahnya.

“selamat tidur..” dia berjalan mundur dari tempatnya. Lalu berbalik dan berjalan normal.

 

“Rai.. apa kau masih ingin tidur denganku?”

 

“mau!” Rai spontan berbalik.

“eh? Bukan! Ma-maksudku-” Rai mengibaskan tanganya dengan mata yang membulat. Mulutnya terus terbuka mencoba menyanggah dengan apa yang dia katakan sendiri. Dia lumayan kaget dengan spontanitasnya sendiri. Sungguh membuatnya malu.

 

“kemarilah.. ini sebagai balasan karna sudah memperhatikan diriku..” Baekhyun mematikan lampu kamarnya lalu berjalan sedikit mendekati Rai. Menarik lengan Rai menyuruh Rai untuk mengikutinya.

 

“baiklah jika kau memaksa..” Rai menghela nafas, dia membuat dirinya terlihat terpaksa.

 

“iya iya.. terserah kau..” Baekhyun memutar bola matanya bosan. Dia berani taruhan kalau didalam hati Rai saat ini sedang melompat kegirangan.

 

“ayo! Tidurlah suamiku..” Rai mengamit lengan Baekhyun dan menuntunnya kesisi ranjang lalu dia berlari kesisi lainya. Rai menjatuhkan dirinya terlebih dulu sebelum Baekhyun. Dia memejamkan mata sambil mengingat-ngingat betapa nyamannya sprai milik suaminya itu. ‘Bahkan dia memiliki sprai yang dingin. Mungkin ini alasannya mengapa dia memiliki sifat yang begitu dingin’. Hah.. hiraukan saja pikiran ngawur Rai.

 

“lihatlah dirimu, tadi kau berlagak tidak mau..” ucap Baekhyun sinis, dan hanya mendapatkan cengiran konyol sebagai balasan. Baekhyun membaringkan tubuhnya diatas ranjang dingin miliknya.

 

“selamat tidur..” ujar Baekhyun sebelum dia memejamkan mata.

 

“selamat tidur juga suamiku..” balas Rai tepat didekat telinganya. Baekhyun sedikit mengerutkan jawahnya saat Rai membalas ucapannya.

 

Rai tersenyum lagi. Malam ini mungkin memang malam yang paling bahagia dari malam-malam sebelumnya. Rai memandangi suaminya yang mungkin sedang mencoba untuk tertidur. Dia sangat suka moment seperti ini. Dia bisa dengan leluasa memperhatikan Baekhyun tanpa mengganggu Baekhyun. Lagi dan lagi Rai terseyum, menatapi wajah suaminya yang mulai tertutup dengan rambut yang mulai memanjang. Rai bahkan tidak menyadarinya, selama itukah dirinya tak melihat Baekhyun.

 

 

“Ra-I” Rai membulatkan matanya kaget saat mendengar suara yang keluar dari bibir Baekhyun. Rai menatap Baekhyun dengan mata penuh, penglihatannya berkurang saat gelap. Dia mengelus dada saat melihat mata Baekhyun yang masih terpejam.

 

“ya?” jawab Rai setelah dia menetralkan suaranya.

 

“besok aku bisa pulang lebih awal, kau mau pergi kesuatu tempat?” Baekhyun membuka matanya lalu menoleh kesisi kirinya. Dia hampir memukul Rai saat melihat Rai yang menatapnya dengan mata yang membulat sempurna.

 

“benarkah?” Rai sampai terduduk karna terkejut.

“Oppa, Kau tidak dalam pengaruh alcohol ataupun obat kan?” rai mendekatkan wajahnya untuk memastikan. Dilihatnya mata Baekhyun yang masih terlihat bersih namun sudah tidak segar.

 

“aish! tidak, aku sadar sepenuhnya.” Seperti teringat sesuatu Baekhyun memerah sendiri. Dia membuang wajahnya dengan tangan yang terlipat didada.

 

“emm kemana yah..” Rai menaruh telunjuknya didagu untuk berpikir. Bukankah seharusnya berpikir menggunakan otak? Baekhyun meliriknya dari ekor matanya.

“taman bermain! Aku ingin ke taman bermain. Iya taman bermain.” Rai kembali mendekatkan wajah berserinya pada Baekhyun.

 

“aku tahu dengan kau mengucapnya sekali” Baekhyun menoleh bosan, dia menjauhkan wajah Rai dengan telunjuknya.

 

“hehe.. maaf..” Rai tersenyum konyol dengan jari telunjuk dan tengah berada diatas kepalanya. Baekhyun menghela nafasnya. Bagaimana bisa dia tahan dengan wanita seperti Rai.

“baiklah! Ayo tidur aku tidak mau telat bangun..” Rai kembali membaringkan tubuhnya lalu merarik selimut hingga menutupi wajahnya.

 

 

“selamat tidur..”

 

“eoh..”

 

-0-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Brengsek kau, Byun Baekhyun..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

To be continued…

 

 

 

 

 

Aloha.. ekhem-ekhem!

Assalamualaikum… wr.wb.

Ini pertama kalinya sih cuap cuap.. sebernya cuma mau kasih inpo buat yang baca ini cerita. Ini cerita bakalan kelar di 5 chapter. Dan saya #weesss berniat bikin side story dari Maybe. Entah itu tentang Kai, Sehun, manager atau pegawai café tempat Rai kerja, adeknya Baekhyun, atau mungkin aja emaknya Baekhyun. Yang pasti masih ada hubungannya sama ff ini.

Segitu dulu kali yak, besok lagi aja ngomongnya takut ayan/?..

Wabillahi taufik walhidayah, wassalamualaikum wr.wb. 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

JENG JENG JENG!!!!

  • Tempat favorit Baekhyun dan Rai ^3^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Anggep aja kamarnya tuan Byun :v

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Ini kamarnya Rai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Ruang keluarga Byun ^^

 

 

Iklan

11 thoughts on “Maybe (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s