Six Hours (One Shot)

kai.png

Title   : Six Hours

Author : Fioppiall

Main Cast : Lumi, Kai

Genre : Friendship

Lenght : One Shot

 

Cerita murni milik saya, dan poster murni comot dari internet (maaf ya karena saya memang ga bisa buat poster hehe).

Sudah dipost diblog pribadi saya https://fioppiallblog.wordpress.com/2016/02/13/six-hours/

Oke happy reading ^^

“Selamat datang, bisa lihat tiketnya?”

Aku memberikan tiket pesawatku pada seorang pramugari yang tengah tersenyum ramah kepadaku.

Pramugari itu pun segera mengambil tiketku dan memeriksanya sesaat, sebelum akhirnya ia mengembalikan tiketku dan menyuruhku untuk segera masuk.

Aku berjalan menyusuri lorong di kelas bisnis. Menengok ke kanan dan ke kiri mencari letak tempat dudukku. Suasana nyaman dan mewah yang terasa di kabin ini membuatku sedikit tak fokus. Maklum, ini pertama kalinya aku berada di kelas bisnis sehingga membuatku sedikit terperangah dengan fasilitas dan kemewahan yang berbanding terbalik dengan kelas ekonomi yang biasa kutempati.

Tak berselang lama aku menemukan tempat dudukku. Tepat di sebelah jendela. Aku pun segera duduk dan mulai mengedarkan pandanganku keluar jendela pesawat.

Langit kota Seoul sangat cerah pagi ini. Matahari bersinar cukup terang, meski angin bertiup kencang dan membuat udara terasa agak dingin. Ini selalu menjadi suasana pagi favoritku selama berada di Korea. Aku pasti akan sangat merindukan suasana pagi ini saat di Indonesia nanti.

Ya, beberapa menit lagi aku akan segera meninggalkan Korea. Negara yang telah menjadi bagian hidupku untuk waktu yang lumayan lama, dua setengah tahun. Dan kini telah tiba saatnya untukku kembali ke negara asalku, Indonesia.

Aku masih menikmati detik-detik terakhirku di Korea ketika kurasakan kehadiran seseorang disampingku.  Aku menoleh, dan menemukan seorang pria dengan kulit putih kecokelatan duduk tepat disampingku. Wajahnya terlihat dingin, dengan rahang tegas dan tulang pipi tinggi. Dia terlihat tampan tapi juga menakutkan.

Aku melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia terlihat stylish mengenakan sweatshirt abu-abu, celana ripped jeans, dan sepatu kats hitam. Penampilannya juga terlihat semakin keren karena kacamata hitam yang dikenakannya.

Kembali kuarahkan pandanganku keluar jendela saat kurasakan pesawat ini mulai berjalan perlahan di sepanjang landasan pacu. Serentetan kata dalam bahasa Korea terlontar dari alat pengeras suara, diikuti terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Pesawat pun mulai take off, dan tak berapa lama lampu indikator sabuk pengaman dimatikan. Aku segera melepas sabuk pengamanku dan langsung mengambil telepon genggamku setelahnya. Aku tak ingin melewati pemandangan langit kota Seoul begitu saja.

Aku juga mencoba mengambil fotoku sendiri dengan berbagai gaya. Aku mengabadikannya dari berbagai sudut. Setelah puas aku langsung mengecek hasilnya sembari mengalihkan pandangaku dari jendela.

Saat melihat foto-foto tersebut aku tersenyum puas. Hasilnya bagus, sesuai dengan harapanku. Aku terus melihat satu per satu foto hasil jepretanku, hingga aku menemukan satu foto diriku yang turut menunjukkan wajah pria yang duduk disampingku. Sontak aku menolehkan pandanganku ke pria disampingku ini.

Dia masih mengenakan kacamata hitamnya, dengan earphone yang terpasang ditelinganya. Posisi kepalanya sedikit mengarah menghadapku. Nafasnya terdengar teratur. Sepertinya dia sedang tidur.

Melihatnya seperti ini, entah mengapa muncul sebuah dorongan dalam diriku untuk melihatnya lebih lama. Sesaat aku mempelajari wajahnya. Dia sangat pucat dan pipinya sedikit tirus. Alisnya lebat dan bibirnya juga tebal. Wajahnya ini terkesan angkuh dan dingin.

Aku kembali mengarahkan pandanganku pada telepon genggamku yang tengah menampilkan fotoku dengan pria disampingku ini. Dan melihat foto ini membuatku sekali lagi ingin memandangi wajah pria disampingku.

Entah apa yang ada dalam pikiranku ketika tiba-tiba aku dengan nekatnya memajukan tubuhku ke arah pria ini, sehingga wajahku hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Dari posisiku ini aku bisa mencium bau tubuhnya, dan merasakan hangat nafasnya yang berhembus disekitar wajahku.

Aku melihat ke arah kacamatanya, mencoba untuk memastikan sesuatu. Namun yang kutemukan justru hanya pantulan diriku saja disana. “Apa kau sungguh sedang tidur?” ucapku tanpa sadar.

“Tidak,” pria ini langsung membuka kacamatanya dan meletakkannya di atas kepalanya sesaat setelah dia mengucapkan kata itu.

Sontak aku membulatkan mataku dan membuka sedikit mulutku. Aku sangat terkejut sampai tidak bisa bergerak dari posisiku saat ini. Pria ini sukses membuatku malu dengan sikapku sendiri.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya masih dengan posisinya yang menatapku intens.

Aku segera menarik tubuhku menjauh darinya, “Ya, aku baik-baik saja,” jawabku kemudian setelah mampu menguasai diriku kembali. “Maaf, aku tadi…,”

“Tidak apa-apa,” ucapnya memotong perkataanku.

Aku menundukkan kepalaku menahan malu. Sikapku tadi sungguh sangat tidak sopan. Dan kini aku merasa seperti seorang pencuri yang ketangkap basah oleh korbannya.

Aku meremas kuat kedua tanganku mencoba menyalurkan rasa gugup yang kini mendominasi diriku. Mataku masih setia menatap sepasang sepatu lusuh yang membungkus kedua kakiku. Hingga aku tersadar aku tak lagi memegang telepon genggamku sejak tadi.

Segera aku memeriksa tempat dudukku untuk mencari telepon genggamku. Tapi aku tak menemukannya. Rasa panik pun mulai menyerang diriku dan tatapanku mulai mengarah kemana-mana.

“Kau cari ini?” suara itu sontak membuatku menghentikan aktifitasku mencari telepon genggamku.

Aku menoleh dan menemukan pria yang membuatku malu setengah mati beberapa detik yang lalu itu, tengah menatapku sembari menyodorkan sebuah telepon genggam kepadaku. Aku menatap telepon genggam itu dan tersenyum kikuk saat menyadari jika telepon genggam itu adalah milikku, “Ya, terima kasih.” Segera kuambil telepon genggamku dan langsung menyimpannya di dalam tasku.

“Apa kau tadi diam-diam sedang berusaha mengambil fotoku?” ucap pria itu tiba-tiba. Dia menatapku dengan tatapan menuduh sembari menyilangkan kedua tangannya. Kacamata sudah tak berada di kepalanya lagi.

“Tidak,” jawabku cepat. Aku bahkan mengibas-ngibaskan kedua tanganku dihadapannya.

Seulas senyum menghiasi wajahnya, “Benarkah?”

Aku menganggukkan kepalaku.

Pria ini nampak sedikit mengerutkan keningnya sesaat setelah aku menganggukkan kepalaku. Tatapannya masih mengunci mataku. Dan lagi-lagi sebuah senyum tipis kembali ditunjukkannya. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa jika pria ini sedang memikirkan sesuatu.

“Ada apa?” aku mulai merasa tak nyaman.

Dia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya kembali melihatku sembari meletakkan sebelah tangannya dibantalan lengan kursi dan menjadikannya sebagai penopang dagunya. “Apa kau tahu siapa aku?”

Aku mengerutkan dahiku, bingung. Apa maksud pria ini? “Tidak,” jawabku.

“Kau yakin?”

“Tentu saja.”

“Apa kau tak pernah melihatku sebelumnya?”

“Tidak.”

“Kau yakin?”

“Iya, aku yakin.”

Dan tawa kecil keluar dari mulut pria ini yang secara tak langsung memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang tertata rapi.

Namun tawa pria ini justru semakin membuatku bingung. Sikapnya sangat aneh. Tadi ia menuduhku ingin mengambil fotonya, sekarang ia mencoba memaksaku untuk mengingatnya? Hei, ada apa dengan pria ini? Kenapa dia bersikap seperti itu? “Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?” tanyaku akhirnya.

“Tidak, lupakan saja. Ngomong-ngomong tolong turunkan tirai jendelanya, cahaya dari luar akan mengganggu tidurku!” perintahnya. Dia memperbaiki posisi duduknya, menarik selimut hingga sedadanya, memasang earphone ditelinganya dan mulai menutup matanya.

Aku pun menurunkan tirai jendela pesawat tanpa melepaskan tatapanku darinya. Dan tanpa kusadari aku kembali mengerutkan dahiku. Pria ini sungguh sangat aneh.

Seiring dengan itu seorang pramugari yang sedang mendorong troli makanan menghampiri kursi kami. Sontak aku membuka meja lipatku. Dan pramugari itu segera meletakkan makanan di meja lipatku.

Aku hendak membuka makananku yang masih terbungkus rapi ketika suara pramugari itu memaksaku untuk kembali melihatnya.

“Tolong,” ucapnya melihat meja lipat pria disampingku yang masih tertutup.

Aku tersenyum sembari menggerakkan tanganku untuk membuka meja lipat yang berada dihadapan pria ini.

“Terima kasih,” ucap pramugari itu sembari memindahkan makanan dari troli ke meja lipat pria disampingku ini, dan segera berjalan menjauh dari kursi kami setelahnya.

Aku segera membuka pembungkus makananku dan mulai memakannya. Ya, makanan Indonesia di pesawat ini sangat enak, dan ini sudah pasti akan membantuku untuk mengatasi rasa laparku.

“Apa kau selapar itu?” suara itu sontak menghentikan aktifitasku yang tengah berusaha memindahkan makanan dari tangan ke dalam mulutku.

Aku menoleh ke asal suara tersebut dan menemukan pria yang duduk disampingku ini tengah menatapku geli.

“Ya,” jawabku sedikit malu. Namun, sesaat kemudian aku kembali menikmati makananku dan tak memperdulikan pria disampingku ini. Ya, rasa lapar yang kurasakan ini ternyata telah mengalahkan rasa maluku terhadap pria disampingku ini.

Aku makan sangat lahap hingga tak sadar jika makanan ini sudah hampir habis. Segera kuraih botol minum yang berada di antara mangkok makananku dan meneguk isinya hingga habis. Aku mengelap mulutku dengan tisu dan langsung menghempaskan tubuhku disandaran kursi setelahnya. Aku merasa sangat kenyang. Dan ini membuatku mengantuk.

Rasanya baru saja aku menutup mataku ketika telingaku mendengar suara cekikikan yang sedikit tertahan. Refleks mataku membuka sempurna.

Aku menoleh ke samping dan lagi-lagi melihat pria yang duduk disampingku ini tengah menatapku dengan sebuah senyuman yang sedikit ditahan diwajahnya.

“Kenapa?” tanyaku bingung.

Pria itu mengeser posisi tubuhnya mengarah padaku, “Apa perutmu tak sakit makan secepat itu?”

Aku mengerutkan keningku, bingung.

“Kau tahu, semua makanan ini kau habisi hanya dalam waktu kurang dari 10 menit.”

Aku membulatkan mataku tak percaya, “Benarkah? Secepat itu?”

Dia tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya, “Ya. Kau makan dengan sangat lahap.”

“Bagaimana kau tahu? Apa sejak tadi kau memperhatikanku makan?” tanyaku penasaran.

Dia sedikit terkejut saat mendengar pertanyaanku, “Ya, cara makanmu membuatku tertarik untuk melihatnya. Dan sepertinya kau sangat menikmati makananmu hingga tak menyadari jika dari tadi aku memperhatikanmu.”

“Oh hahaha, kau benar aku memang tidak menyadarinya karena tadi aku sangat lapar,” kataku menahan malu.

“Benarkah? Lalu, apa sekarang kau masih lapar? Jika iya kau bisa makan makananku. Aku dengan senang hati akan memberikannya untukmu.” ucapnya memandangku.

“Tidak terima kasih. Aku sudah kenyang,” kataku pelan. Aku tak yakin apakah pria ini memang sungguh berniat untuk memberikan makanannya kepadaku atau justru hal itu dilakukan hanya untuk meledekku. Tapi, terlepas dari semua itu sebuah pertanyaan muncul dibenakku, pria ini kenapa tiba-tiba bersikap baik padaku?

“Oh,” ucapnya sembari menggeser posisi duduknya kembali mengarah ke depan. Ekspresinya kini berubah datar. Dan dia kembali menutup matanya.

Aku memperhatikan pria ini. Bayangan akan sikapnya yang berubah-ubah terhadapku tiba-tiba berkelebat dibenakku. Hanya kurang dari 1 jam dia sudah menunjukkan beberapa reaksi yang beragam. Awalnya dia bersikap dingin. Lalu berubah waspada dan hati-hati. Kemudian dia bersikap asik seolah kita adalah teman lama. Dan sekarang dia bersikap acuh terhadapku! Ada apa sebenarnya dengan diri pria ini?

“Apa aku sebegitu tampannya hingga kau terus melihatku seperti itu?” dia membuka matanya dan menatapku lama.

“Apa?” kataku kaget.

Dia melepaskan earphone ditelinganya dan kembali mengarahkan tubuhnya menghadapku. Sebuah senyum mengejek menghiasi wajahnya, “Kau menatapku sejak tadi karena aku tampan kan?”

Perkataannya membuatku terbengong. Selain aneh ternyata pria ini juga terlalu pede! “Kau salah,” ucapku malas.

“Kau tak perlu bohong. Akui saja,” ucapnya yakin.

“Aku tak bohong. Apa yang aku katakan itu memang benar. Aku melihatmu bukan karena kau tampan!” kataku kesal.

“Jadi?” dia menarik sebelah alisnya keatas.

“Aku melihatmu karena kau terlihat seperti vampire!” jawabku asal.

“Apa? Vampire? Hahaha…” dia tertawa sembari memegang perutnya. “Kau konyol sekali.” katanya disela-sela tawanya.

Aku menatapnya tak tertarik, “Ya, aku memang konyol. Orang dengan tawa seperti itu tak mungkin mirip vampire.”

“Jadi memang benarkan kau melihatku karena aku tampan?” dia berhenti tertawa dan mulai menyunggingkan sebuah senyuman yang harus kuakui sangat manis itu.

“Terserah kau saja,” aku pun segera mengeser sedikit badanku membelakangi pria disampingku ini. Rasa kesal yang muncul karena sikap pria ini membuatku memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu perjalanan menuju Indonesia ini dengan tidur saja.

Namun, baru beberapa menit aku memejamkan mataku tiba-tiba terdengar suara yang menunjukkan jika lampu indikator sabuk pengaman kembali dinyalakan, yang disusul dengan pemberitahuan dari pilot yang mengabarkan jika pesawat di terpa cuaca buruk, sehingga meminta para penumpang untuk bersiap menghadapi turbulensi.

Aku segera menegakkan posisi dudukku dan dengan cepat kembali memasang sabuk pengamanku. Rasa takut seketika memenuhi diriku.

Tak berapa lama goncangan pun terjadi. Aku meremas bantalan lengan kursiku dengan sangat kuat dan langsung menutup mataku, berusaha untuk menyalurkan rasa takutku. Ya, turbulensi selalu membuatku merasa ketakutan dan ingin berteriak.

Goncangan terjadi selama beberapa menit. Namun perlahan goncangan di pesawat ini mulai memudar dan kemudian menghilang.

Meski begitu aku masih memejamkan mataku kuat. Aku tak berani untuk membukanya karena rasa takut masih menguasai diriku.

Disaat aku masih terfokus dengan rasa takut yang memenuhi pikiranku, tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku begitu hangat. Kubuka mataku lalu kulirik tanganku yang kini terasa hangat itu. Aku melihat tanganku yang tengah digenggam oleh seseorang. Pandanganku kini beralih pada seseorang pemilik tangan itu, yang tak lain adalah pria yang duduk disampingku. Dia menatapku kemudian tersenyum.

“Hei, kau tak apa-apa?” ia melepaskan genggamannya dari tanganku dengan hati-hati.

Aku memandangnya sekilas sebelum akhirnya mengedarkan seluruh pandanganku pada para penumpang yang berada di depanku. Mereka terlihat biasa saja. Bahkan raut ketegangan yang tadi mereka tunjukkan kini sudah tak nampak lagi. Semua sudah kembali normal. Meski para penumpang dan beberapa pramugari kini disibukkan untuk memungut mangkok makanan yang berjatuhan.

Pandanganku kembali mengarah padanya. Entah kenapa aku merasa ada raut khawatir tersemat di wajahnya, “Aku tidak apa-apa,” jawabku.

Aku melepas sabuk pengamananku dan mulai membungkuk untuk mengambil botol air minum yang terjatuh disekitar kakiku. Namun, saat aku akan mengambil botol itu tiba-tiba tanganku ditarik olehnya.

“Jangan!” dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebotol air minum dari sana. “Minum ini saja,” ujarnya sembari menyodorkan botol air minum itu padaku.

Aku menatapnya ragu.

“Tidak apa-apa. Minumlah,”

Aku pun mengambil botol air minum itu dan segera meneguk separuh isinya. “Terima kasih,” ucapku setelahnya.

“Sama-sama,” ujarnya tersenyum ramah padaku. “Apa ini pengalaman pertamamu naik pesawat?” lanjutnya sembari mengumpulkan mangkok makanan kami yang berjatuhan. Kini aku merasa sikapnya berubah menjadi hangat.

Aku pun ikut membungkuk bersamanya untuk mengumpulkan mangkok makanan kami, “Tidak, ini sudah yang kesekian kalinya.”

“Kalau begitu ini pasti pengalaman pertamamu merasakan turbulensi.”

“Tidak juga,” jawabku sedikit tersenyum.

Dia menatapku bingung, “Lalu kenapa kau terlihat sangat ketakutan tadi?” tanyanya sembari menyodorkan mangkok makanan kami kepada seorang pramugari yang berdiri tepat disampingnya.

Aku mengalihkan pandanganku pada pramugari itu, yang kini tengah membungkukkan sedikit badannya untuk meminta maaf atas peristiwa yang menyebabkan seluruh makanan kami berhamburan dilantai, sebelum akhirnya mengambil mangkok yang disodorkan oleh pria disampingku ini.

“Aku memang selalu takut saat merasakan turbulensi,” jawabku saat melihatnya.

“Apa sebelumnya kau punya pengalaman yang buruk soal itu?”

“Tidak. Aku tak punya pengalaman buruk dengan peristiwa turbulensi. Aku hanya selalu merasa ketakutan saat turbulensi terjadi,” aku melihatnya sekilas. “Ya, mungkin ini dampak karena aku terlalu sering menonton berita soal kecelakaan pesawat,” aku tertawa kecil.

Dia ikut tersenyum menanggapi perkataanku. “Ngomong-ngomong, apa kau ke Indonesia untuk pergi liburan?” nada suaranya berubah menjadi lebih akrab.

“Tidak, aku justru akan pulang.”

“Pulang?” dia mengerutkan sedikit dahinya. “Oh, kau orang Indonesia?”

Aku tersenyum, “Ya, aku orang Indonesia.”

“Lalu, apa yang kau lakukan di Korea? Apa kau habis liburan?”

“Aku baru saja menyelesaikan pendidikan S1-ku di Korea.”

“Kau kuliah di Korea? Universitas mana?” dia kembali menopang dagunya dengan sebelah tangannya, nampak tertarik.

“Di Seoul National University.”

Dia melebarkan sedikit matanya merasa takjub, “SNU? Wow, kau pasti sangat pintar.”

“Tidak juga.”

“Tak mungkin. Semua juga tahu jika SNU itu tempat orang-orang pintar. Kau terlalu merendah,” dia menyipitkan sedikit matanya.

“Dan kau terlalu berlebihan,” ucapku. Dan kami pun tertawa bersama setelahnya.

Saat ini rasa kesal dihatiku yang disebabkan oleh sikap pria ini sebelumnya, hilang dengan sendirinya. Sikapnya yang berubah menjadi baik membuatku lupa jika aku sempat merasa sangat kesal terhadapnya.

“Kau sendiri ada tujuan apa ke Indonesia?” tanyaku.

“Ada sebuah pekerjaan yang harus aku selesaikan di Indonesia.”

“Ooh…” responku singkat.

“Apa kau tinggal di Jakarta?” lanjutnya.

“Tidak. Aku tinggal di daerah lain.”

“Bali?” ujarnya cepatnya.

Aku tertawa melihat antusiasnya, “Bukan. Tapi Borneo.”

“Borneo? Kau tinggal di hutan?” tanyanya terkejut.

“Hahaa, tidak begitu,” aku tak dapat menahan tawaku melihat keterkejutannya. “Borneo tidak hanya berisi hutan. Disana juga banyak gedung-gedung perkantoran, universitas, hotel, taman bermain, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Ya, kurang lebih mirip dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta dan Bali. Walau masih sangat jauh sih,” jelasku panjang lebar.

“Ooh begitu,” dia mengangguk-anggukan kepalanya pelan. “Aku pikir disana hanya ada hutan yang berisi hewan-hewan buas.”

Aku kembali tertawa mendengar perkataannya, “Benarkah? Kalau begitu kapan-kapan kau harus mengunjungi Borneo saat berada di Indonesia, jangan Jakarta dan Bali saja yang kau datangi. Kau tahu, Indonesia punya banyak sekali tempat indah dan tempat itu tidak hanya di Jakarta dan Bali saja.”

“Ya, aku juga sering mendengar hal itu dari orang-orang. Media Korea juga sering membahasnya, meski yang paling disorot adalah Bali. Tapi, apa kau tahu sampai saat ini pun aku belum pernah ke Bali,” ujarnya. Ada nada sedih tersemat disana.

“Sungguh?”

Dia menganggukan kepalanya, “Setiap ke Indonesia aku hanya di Jakarta saja.”

“Kenapa begitu?”

“Karena pekerjaanku di Indonesia lokasinya selalu berada di Jakarta.”

Aku mengangguk-anggukan kepalaku mengerti. “Jadi, perjalananmu ke Indonesia ini juga hanya akan terfokus di Jakarta saja?”

Dia mengedikkan bahunya ringan sembari tertawa pelan, “Begitulah kira-kira.”

“Kalau begitu lain kali kau harus meluangkan waktumu untuk mengunjungi Bali.”

Dia menundukkan sedikit kepalanya, “Ya, semoga saja aku bisa memiliki waktu luang itu.”

Aku menatapnya lekat. Nampak raut kesedihan memenuhi wajahnya. Namun itu hanya berlangsung selama beberapa detik, sebelum akhirnya senyum kembali menggantung di wajahnya. Dia melihatku dan mulai membuka percakapan kami kembali.

Kami terus mengobrol dan tertawa bersama, dan melupakan fakta jika kami baru saja bertemu. Kami bercakap tentang apa saja seolah kami adalah sepasang teman lama yang baru bertemu kembali. Hingga kami tak sadar tiga jam telah kami lewati dengan hanya mengobrol dan tertawa.

“Kau tahu, ini pertama kalinya aku mengobrol begitu lama dengan seseorang yang baru aku kenal,” senyum masih menghiasi wajahnya.

“Aku juga. Bahkan tak tahu kenapa mengobrol denganmu tiba-tiba menjadi sangat mengasyikan. Padahal sebelumnya aku sangat kesal padamu,” gerutuku  pura-pura kesal.

“Kenapa kau bisa kesal padaku?”

“Habis tadi kau sangat kepedean dan terkesan sombong.”

“Hei, itu hanya perasaanmu saja. Aku tak seperti itu.”

Aku mengerucutkan sedikit bibirku, “Ya, terserah kau saja.”

Dia tertawa pelan, “Kenapa? Kau tak terima?”

“Tidak.”

Dia mendekatkan tubuhnya ke arahku, “Akui saja,” ujarnya setengah berbisik.

“Kau memang sangat kepedean,” kataku memutar bola mataku. Dan dia pun tertawa mendengar perkataanku.

“Ngomong-ngomong apa kau punya artis idola di Korea?” dia menatapku penasaran.

Aku melirik ke atas mencoba mengingat, “Sepertinya tidak ada,” jawabku melihatnya. “Memang kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja.” dia menggaruk lehernya pelan. “Tapi, apa kau sering mengikuti berita dari dunia entertainment selama di Korea?”

“Emm, sebenarnya aku tidak terlalu mengikutinya karena jadwal kuliahku saja sudah sangat padat. Tapi, bukan berarti aku tidak tahu sama sekali soal dunia entertainment Korea. Ya, adalah beberapa artis yang aku tahu.”

“Oh ya? Memang siapa saja artis yang kau tahu?”

Aku mengerutkan dahiku mencoba mengingat nama-nama artis Korea yang aku tahu, “Jo In Sung, So Ji Sub, Lee Min Ho, Song Hye Kyo, Super Junior, Big Bang, 2NE1, EXO…,” aku melirik ke atas. “Ya, masih banyak yang lain. Tak mungkinkan aku menyebutkannya satu-satu?” kataku malas.

Dia tersenyum malu, “Kau tahu EXO juga?” lanjutnya kemudian.

“Tentu saja. Mereka kan boyband yang lagi naik daun. Hampir semua media selalu memberitakan mereka.”

“Apa kau tahu nama-nama mereka?” dia menatapku menyelidik.

“Tahu tapi tidak semua. Aku juga tak tahu orangnya yang mana saja,” aku tersenyum malu.

Dia terbengong memandangku.

“Habis wajah mereka terlihat sama semua. Aku sampai tak bisa membedakannya.”

“Kau pernah bertemu mereka?”

“Tidak.”

“Sekalipun?”

Aku menganggukan kepalaku.

Dia memperbaiki posisi duduknya dan mulai memandang sekelilingnya, sebelum akhirnya kembali mengarahkan pandangannya padaku. “Apa kau mau bertemu mereka?”

Aku mengerutkan dahi, “Untuk apa?”

Dia melihatku heran, “Ya untuk melihat mereka secara langsunglah. Kau juga bisa berfoto bersama mereka kalau kau mau,” ujarnya kesal.

Aku menggaruk kepalaku pelan, “Tidak perlu. Lagian itu tak mungkin terjadi. Yang fansnya saja sulit untuk bisa bertemu mereka apalagi aku yang bukan siapa-siapa. Kau ini aneh-aneh saja,” kataku tersenyum.

“Apa kau yakin?”

“Iya, aku yakin.”

Dia kembali mengedikkan bahunya, “Baiklah.”

Seiring dengan itu sebuah pengumuman keluar dari alat pengeras suara yang mengabarkan jika petugas imigrasi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan melakukan pemeriksaan keimigrasian.

Tak lama berselang nampak dua orang petugas imigrasi menghampiri satu per satu kursi para penumpang.

Aku pun segera mengambil pasporku. Dan memberikannya pada seorang petugas imigrasi yang menghampiri kursiku dan pria disampingku ini.

Tak lama petugas imigrasi itu pun meninggalkan kursi kami setelah mengembalikan paspor kami yang telah distempel dan memberikan kami kartu imigrasi. Aku pun segera meraih tasku hendak menyimpan kembali paspor dan kartu imigrasiku. Namun saat akan kusimpan, pasporku justru terlepas dari tanganku dan jatuh tepat di bawah kaki pria di sampingku ini.

Aku baru saja akan membungkuk untuk mengambil pasporku saat dia terlebih dahulu membungkuk dan meraih pasporku yang jatuh dengan posisi terbuka.

“Lumi Sanjaya,” ucapnya membaca namaku. Dia menatapku sembari menyodorkan pasporku.

“Ya, itu namaku.”

“Nama yang unik. Lumi,” dia kembali menyebut namaku sembari tersenyum. “Tak terasa sebentar lagi kita akan sampai. Waktu berjalan dengan sangat cepat ya,” lanjutnya melihatku.

“Iya. Aku sudah tak sabar ingin segera sampai di Indonesia,” kataku antusias.

Dia menatapku sesaat, “Apa kau akan langsung meneruskan perjalananmu saat sampai nanti?”

“Tidak. Aku akan tinggal di Jakarta dulu beberapa hari untuk mengurus beberapa berkas.”

“Benarkah? Lalu kau akan menginap dimana?”

Aku mengedikkan bahuku, “Entahlah, aku belum tahu. Mungkin aku akan mencari sebuah hotel. Kau sendiri?”

“Aku akan menginap di hotel tapi aku tak tahu apa nama hotelnya. Semua keperluanku di Indonesia sudah diurus oleh perusahaanku,” dia menatapku lembut. “Semoga saja kita menginap di hotel yang sama ya,” lanjutnya. Senyum mengembang di wajahnya saat mengatakan itu.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Sedetik kemudian aku melihatnya meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah telepon genggam dari sana.

“Sebelum landing bagaimana kalau kita berfoto bersama?” dia melihatku bersemangat. Matanya bahkan memancarkan keceriaan.

Aku menganggukkan kepalaku, “Boleh.”

Kami pun berfoto bersama. Dia bahkan mengambilnya beberapa kali. Dia juga turut mengambil fotoku seorang diri. Katanya itu sebagai kenang-kenangan untuknya.

Dan setelah menunggu beberapa menit akhirnya kami pun sampai di Bandara International Soekarno-Hatta. Aku segera memakai tasku dan langsung berjalan menuju pintu keluar setelahnya. Sementara pria disampingku ini telah terlebih dahulu keluar bersama dengan beberapa pria Korea lainnya.

Saat aku turun dari pesawat aku dibuat heran dengan sikap beberapa gadis yang berteriak-teriak histeris. Bahkan salah satu dari mereka terlihat menangis.

Aku pun bertanya pada seorang petugas bandara yang berdiri tak jauh dariku, “Ini ada apa, Pak?”

“Ada artis Korea, mba,” katanya.

“Ooh,” aku membulatkan mulutku sempurna. Ya, artis Korea memang selalu mampu membuat para penggemarnya histeris.

Aku pun segera naik ke shuttel bus yang berada dihadapanku setelah mengucapkan terima kasih pada petugas bandara itu.

Saat tiba di bus aku melihat pria yang tadi duduk disampingku tengah duduk dengan beberapa pria Korea lainnya. Dia memakai kacamatanya dengan earphone yang terpasang di telinganya. Aku pun segera duduk di sebuah kursi kosong yang jaraknya cukup jauh dari tempat duduk pria itu. Kemudian aku mengedarkan pandanganku pada beberapa pria Korea yang duduk disekitar pria itu. Entah mengapa aku merasa familiar dengan wajah-wajah itu.

Bus ini pun akhirnya tiba di terminal kedatangan internasional dan aku segera menyeret langkahku cepat untuk keluar.

Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan mengambil barang-barangku dibagasi, aku pun segera melangkahkan kakiku menuju pintu keluar terminal kedatangan internasional. Namun alangkah terkejutnya aku saat melihat ribuan orang memadati pintu keluar terminal. Mereka yang mayoritas adalah perempuan berteriak tak karuan. Aku bahkan tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka teriakan karena teriakan mereka saling bersahutan.

Mereka membawa spanduk dan poster dengan berbagai macam ukuran. Hingga mataku menangkap tulisan yang tertera pada salah satu spanduk yang berisi ucapan selamat datang untuk boyband Korea terkenal yakni EXO.

Refleks aku menutup mulutku dengan salah satu tanganku tak percaya. EXO menggelar konser di Indonesia dan aku terbang dengan pesawat yang sama?

Aku pun memelankan langkahku dan mulai mengamati satu per satu poster-poster yang menampilkan wajah para personil EXO beserta dengan nama mereka.

Sontak langkahku terhenti dan badanku mendadak kaku saat aku melihat salah satu poster yang menampilkan wajah personil EXO yang sangat familiar untukku.

Ya, wajah personil EXO itu sangat mirip dengan wajah pria yang duduk disampingku saat di pesawat tadi. Astaga, apakah dia juga bagian dari EXO?

Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri saat segerombolan pria dengan wajah Korea melintas dihadapanku, yang diiringi dengan jeritan histeris para gadis-gadis yang menutupi jalan keluar terminal kedatangan itu. Sontak aku memalingkan wajahku menatap segerombolan pria Korea itu. Hingga tanpa kusadari mataku bertemu dengan mata pria itu. Dia tak lagi memakai kacamatanya. Dan senyum mengembang di wajahnya.

“Kai…,” desisku nyaris tanpa suara.

Dia tertawa menatapku sembari mengedipkan sebelah matanya padaku,  tepat saat dia melintas dihadapanku.

Oh Tuhan, jadi selama enam jam perjalanan tadi aku menghabiskannya bersama dengan Kai EXO??

THE END

 

2 thoughts on “Six Hours (One Shot)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s