Unlogical Time? #6

PhotoGrid_1453032335183

Unlogical Time? #6

Author : Blue Sky

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Cast : Oh Sehun & Song Daera (and Other cast)

Genre : Fantasy, Married Life

Unlogical Time?

~*~

Sehun tersenyum bahagia, lelaki itu berjalan memasuki restoran di mana para Direktur sedang menikmati sarapan pagi mereka.

“Sehun-ssi? Kau dari mana saja?” tanya Minri yang tiba-tiba telah berada di samping Sehun

“Aku harus kembali ke seoul sekarang”

Minri terbelalak “Apa? Seoul? Tapi rapat terakhir belum di laksanakan”

“Aku serahkan padamu untuk mengurusnya” jawab Sehun singkat

Belum sempat lelaki bertubuh tegap itu melangkahkan kaki, Minri meraih pergelangan tangan Sehun “Kenapa kau mau kembali ke Seoul secepat ini? Dan meninggalkan pekerjaan?”

Sehun mendengus kasar “Istriku Daera.. Dia sedang hamil”

Nafas Minri nyaris tercekat, Ia melepaskan genggamannya pada lengannya. “Aku harus pergi, dan memberitahukan pada Direktur Sang” Lelaki itu berbalik dan meninggalkan Minri.

Tangan Minri bergetar, Ia masih saja mematung. Sedetik kemudian bulir kristal keluar dari sudut matanya.

“kurasa kau bahagia, tapi aku tidak” gumam Minri

Flashbcak

“siapa asistenku?” tanya Sehun pada Ayahnya. Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum

Seorang gadis terlihat di ambang pintu ruangan, Sehun terkejut melihatnya dan ia tersenyum bahagia “Minri-ah”

Ia segera mendatangi Minri “Apa kau asistenku?”

Gadis itu tersenyum tipis dan menyilangkan tangannya “Tentu saja, tidak ku sangka anak ingusan Oh Sehun telah menjadi direktur”

“jangan bodoh, aku bukan anak ingusan” tepisnya

“Ingatlah, umurmu masih 21 tahun. Bekerjalah dengan baik, Arraseo?”

eo, Arra”

“oh iya? Lagi pula aku noona, kenapa kau memanggilku seperti tadi?”

Sehun tersenyum “karena kau sahabatku, bukan noona bagiku”

Mereka berdua pun tertawa, memulai awal baru dalam dunia pekerjaan.

~*~

“Apa nyonya merasa baikkan?” Tanya Ahjumma, wajah Daera masih terlihat pucat pasih “Ne, lebih baik sekarang”

“saya akan membawakan anda sarapan nyonya”

Daera hanya bisa mengangguk, Ia terduduk lemas di atas ranjang.

Belum sempat Ahjumma melangkahkan kakinya, suara dering telepon berbunyi. Daera segera berbalik, mendapati nama Sehun yang tertera di layar ponselnya.

Ahjumma, itu dari Sehun. Bisakah kau yang mengangkatnya?” pinta Daera.

Ahjumma segera mengangguk, meraih ponselnya dan menekan tombol hijau pada layar ponsel

Yeoboseyo”

“Apa Daera baik-baik saja?” terdengar suara Sehun dari ujung sana

“Ya Tuan, dia sudah baikkan”

“Berikan apapun yang dia mau, aku sedang di perjalanan menuju seoul”

“Ya Tuan” tutupnya

Ahjumma menaruh kembali ponsel tersebut di atas meja nakas

“Apa yang dia katakan?” Tanya Daera

“Tuan sedang dalam perjalanan kembali”

 

“Ibuu” Daehun terlihat berlari memasuki kamar dan segera menaikki ranjang mendekati Daera

“Ibu kenapa? Apa ibu sakit?”

Daera menggeleng “tidak, ibu hanya sedikit pusing saja” jawabnya

Daehun memeluk Daera, pelukan dari tangan mungilnya membuat Daera merasa nyaman. Perutnya yang sedari tadi terasa keram mulai berkurang. Ia mengusap puncak kepala Daehun “Daehun belum sarapan kan? Mau sarapan bersama Ibu?”

Daehun mendongakkan kepalanya, Mata beningnya membulat kemudian ia tersenyum “Aku mau”

“baiklah, ayo kita sarapan” seru Daera dengan semangat, wajahnya yang sedari tadi pucat kini tak terlihat sama sekali. Ia memggenggam erat tangan mungil Daehun yang tidak lain adalah anaknya di masa depan.

~*~

Sehun melihat sekelilingnya di mana terdapat Mobil yang berlalu lalang, pohon-pohon, gedung yang menjulang serta langit biru cerah membuat suasan hatinya kian gembira. Ia tengah dalam perjalanan menuju seoul, lelaki itu terlihat seperti orang bodoh bahkan mungkin lebih tepat layaknya orang gila yang tersenyum sendiri.

Ia meraih ponselnya, mendapati foto Daera yang di jadikan sebagai walpaper pada ponselnya. Daera yang terlihat memakai Gaun berwarna putih

“Aku sangat menyayangimu” gumam Sehun

…..

 

“wwoo, lihatlah. Dia dari Jeguk high school” terlihat 3 orang anak lelaki memakai seragam putih namun seorang anak lelaki memakai seragam sekolah berwarna biru tua yang menandakan dia dari sekolah menengah jeguk

“jadi namamu Oh Sehun?”

Lelaki yang berumur 15 tahun itu menatap tajam “Apa yang kalian inginkan?”

Seseorang menarik kerak baju Sehun “YA! Rupanya kau konglomerat?”

“cepat ambil tasnya”

Salah satu Temannya pun menarik tas sehun dengan paksa dan membuka seluruh isi dalam tas tersebut “kembalikan tasku brengsek!!” Sehun melayangkan pukulannya tepat di wajah lelaki yang menarik kerak bajunya.

Terjadi pertengkaran sengit di antara Mereka berdua, hingga 2 orang lainnya membantu untuk memukuli Sehun dengan membabi buta

YA!! ANAK INGUSAN” teriak seorang gadis yang memakai seragam olahraga membuat 3 orang tersebut menghentikan aksinya “Dia lagi”

Gadis itu tersenyum “3 lawan 1? Cih!! DASAR PENGECUT”

“Jangan ikut campur kau dasar!!” teriak lainnya

Gadis itu melirik Sehun, Darah segar telah keluar dari sudut bibirnya dan juga matanya yang mulai lebam

“Apa yang orangtua berikan pada kalian? Apa kalian belajar menjadi preman?”

Salah satu dari 3 anak lelaki tersebut memajuki Gadis itu “MAJU KAU DASAR BRENGSEK”

Stik baseball melayang di tengah terangnya cahaya, Mata Sehun buram dan tak bisa melihat dengan jelas

6 Menit kemudian…

“Angkat tangan kalian!! CEPAT!!”

3 anak lelaki itu pun menjawab serentak “Ne” dan mengangkat kedua tangan mereka, wajah mereka pun tak kalah lebam dari wajah Sehun.

“Ingatlah!! Jika aku melihat kalian untuk ke tiga kalinya di sini, nyawa kalian akan melayang. MENGERTI?!”

“Ne” jawabnya serentak layaknya latihan militer internasional.

“oke pergilah”

3 anak lelaki itu pun segera berlari meninggalkan Sehun dan juga gadis itu.

“Apa kau tidak apa-apa?”Tanyanya

Sehun berbalik “Ne? Lumayan”

Gadis itu meraih sesuatu dalam tasnya dan memberikan pada Sehun “Ini, ambillah”

Kening Sehun berkerut samar “plester luka?”

eo, lukamu tidak terlalu parah. Tapi ku ingatkan kau untuk berhati-hati. Oke?” Gadis itu tersenyum membuat Sehun yang melihatnya seketika membeku

Ya! Dae, apa yang kau lakukan di situ? Cepatlah”

Gadis itu berbalik mendapati kawannya yang telah memanggilnya “aku harus pergi, jaga dirimu baik-baik. Annyeong” Gadis itu meninggalkan Sehun yang sedari tadi hanya tersenyum “Dae?” gumamnya, Ia menatapi plester luka bermotif bintang tersebut dan kemudian tersenyum.

….

 

Sehun memasuki VIP room di sebuah restoran milik bibinya Jung. Makan malam telah disiapkan untuk mereka para direktur, sebenarnya lelaki itu tidak bersemangat dan ingin segera beristirahat. Ia menduduki kursi dan melihat sekelilingnya berharap ia bisa menemukan sosok bibi Jung namun nihil, wanita paruh baya itu tak ada. Seketika Sehun menatap seseorang, Gadis dengan rambut pendek sebahu yang memakai seragam pelayan pada restoran itu.

Ia merasa mengenalinya bahkan sangat mengenali gadis itu, dia adalah seseorang yang selama ini Sehun cari dan ingin bertemu dengannya walaupun hanya satu kali. Lelaki itu sama sekali tak percaya, Ia memalingkan wajahnya ketika sepasang mata gadis itu menatapnya. Membuat Sehun salah tingkah dan segera menyantap makanannya dengan perlahan, Ia lebih dulu menghabiskan wine pada gelasnya berharap gadis itu yang mendatanginya untuk menuangkan kembali Wine. Dan yang benar saja, harapan Sehun seketika terkabul

Gadis itu mendatanginya

“Maaf, apa tuan Ingin dituangkan wine?”

Sehun berusaha untuk bersikap tenang, ia hanya menggeleng “sudah cukup”

Gadis itu mengangguk mengerti dan hendak pergi

“Tunggu!”

Sehun melirik papan nama gadis itu

“Apa kau pelayan baru di sini?” lanjutnya

Ne?”

“Aku tidak pernah melihatmu”

Gadis itu mengangguk dan tersenyum “Ya

tuan, saya pelayan baru di sini”

Sehun mencoba bersikap dingin dan hanya mengangguk, gadis itu pun berlalu. Namun perasaan Sehun betul-betul serasa ingin tertawa puas, ia telah mengantongi nama gadis itu “Song Daera” gumamnya

…..

“Kenapa kau datang ke sini Sehun? Tumben sekali kau ingin bertemu denganku” ucap bibi jung yang merupakan salah satu pemilik restoran terkenal di korea

“Aku ada perlu dengan bibi” Sehun melayangkan senyumannya “kenalkan aku padanya”

Kening wanita paruh baya itu berkerut samar “siapa?”

“Song Daera, dia pelayan yang bekerja di restoran bibi kan? Aku ingin mencaritahu tentangnya”

~*~

Daera kembali mondar mandir di kamarnya, seketika Ia terhenti dan mengelus perutnya yang datar “apa aku hamil sungguhan?” Ia mengacak rambutnya “sejak kapan diaa..! Aisshh!!” dan kembali mondar mandir, ia melirik jam yang menunjukkan pukul 2 siang. “ahh, aku lapar”

Seketika pemikiran Daera di penuhi oleh makanan di mulai dari pizza, puding, cheese cake dan sebagainya. Membayangkannya membuat Daera tergiur sendiri, namun gadis itu segera menepisnya “tidak!! Jangan makan itu”

“nyonya?” terlihat Ahjumma yang berdiri di ambang pintu, wanita paruh baya itu terlihat melongo dengan sikap Daera “oh? Ahjumma”

“Apa anda menginginkan sesuatu? Tuan berpesan jika ada yang anda inginkan kami akan segera melaksanakannya nyonya”

Daera tertunduk dan mengelus perutnya “Aku tidak tahu, tapi aku lapar”

….

Tak berselang lama, di hadapannya kini telah berjejer pizza, cheese cake, dan puding seperti yang gadis itu inginkan, dalam sekali sambaran ia melahap segalanya membuat Ahjumma meneguk saliva memperhatikan sikap Daera yang layaknya benteng kelaparan “oh iya, di mana Daehun?”

“dia sedang tidur nyonya” Ahjumma segera membungkuk “Maaf, nyonya saya akan ke bawah”

Daera mengangguk “eo, kamsahamnida Ahjumma” dan kemudian Ahjumma berlalu pergi.

Daera masih sibuk melahap makanannya “Kurasa masa depan menyenangkan” ia tersenyum bahagia, namun sedetik kemudian ia terdiam dan menepis pemikirannya “Tidak!! Ku tarik kataku tadi, aku harus kembali”

Ia melihat sekelilingnya “Tapi.. Bagaimana caranya?”

Terdengar suara samar hentakan sepatu, Daera sangat mengenal suara hentakan tersebut. Ia segera meraih garpu “itu pasti dia”

Suara knop pintu kamarnya pun terbuka, Daera mendapati Sehun yang tersenyum kepadanya. Namun bukannya di balas senyuman Daera malah memasang mata pembunuh layaknya elang yang akan memangsa tikus. Sehun melangkah masuk “berhenti di situ!!” Langkah lelaki tersebut terhenti.

Daera turun dari ranjangnya, mulutnya masih berlumurkan saus pizza. Ia mengacungkan garpu pada Sehun “Sejak kapan kau lakukan itu?”

Kening Sehun berkerut samar “lakukan apa?”

Daera menyipitkan matanya “jangan berpura-pura bodoh” gadis berambut pendek itu menunjuk ke arah perutnya, membuat Sehun mengangguk mengerti “Entahlah, sepertinya bulan lalu. Apa kau lupa? Padahal kau sendiri yang menginginkannya”

“APA??” Matanya terbelalak, lidahnya seketika kelu dan tubuhnya yang terasa kaku. Mendengar perkataan Sehun membuat Gadis itu skak mat dalam sekali sentakan.

“Apa kau tidak apa-apa?” Sehun melirik makanan yang berjejeran di sofa “sepertinya kau makan banyak” lelaki itu tersenyum dan mengecup kening istrinya.

“Aku akan mandi dan mengganti pakaianku. Lanjutkanlah makanmu” sebelum Sehun berlalu, ia mengacak rambut istrinya “kau tahu? Aku sangat bahagia” kemudian ia tertawa lepas dan segera berlalu dari hadapan Daera.

Gadis itu masih saja mematung dan tidak pernah beranjak sedikit pun dari posisi sebelumnya “Dia.. Diaa.. Dan aku, aku yang memintanya?” Ia mengacak rambut pendeknya, frustasi dengan apa yang terjadi di masa aneh ini.

….

Daera menyilangkan tangan di atas dada, pipimya mengembung membuat sehun terkekeh melihat tingkah istrinya. Mereka berdua tengah duduk di kursi taman bercat putih tersebut. “Apa kau ingin pergi? Ke paris? Jepang? Atau inggris?” tanya Sehun dengan menunjukkan senyum terbaiknya

Daera melirik tajam “Jangan mengajakku bicara” Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya.

Aigoo, kau semakin susah di ajak bicara. Apa ini karena kau mengidam?” Goda Sehun. Telinga Daera semakin memanas, Ia tidak bisa menerima situasi yang mendadak ia hadapi di mana dirinya kini tengah mengandung.

“Aku bilang jangan mengajakku bicara!!” Tepisnya sedangkan Sehun hanya tersenyum “eo, baiklah”

Seketika Gadis mungil itu merasakan perutnya yang keram, membuat ia merintih merasakan sakit “Ah, Se.. Sehun”

Sehun terlihat panik “kenapa?”

“perutku serasa keram” Daera berusaha berdiri, namun ia terhuyung dan sontak membuat Sehun menahan tubuh gadis itu. Secara refleks pun Daera terkejut dan tatapan mereka saling bertemu “Kau tidak apa-apa?” bukannya membalas pertanyaan Sehun, Gadis utu hanya terdiam dan memaku menatap wajah Sehun yang bisa di bilang terpahat sempurna. Matanya yang tajam dan berkharisma itu membuat jantung Daera serasa akan berhenti.

“Apa karena ini aku yang di masa depan menyukaimu?” Gumam Daera dengan nada yang pelan.

“Apa?”

Daera segera menepis, ia bangkit dan melepaskan lingkaran tangan Sehun yang memegangi punggunya “Aku…” belum sempat mengeluarkan satu kata pun, perut Daera kembali terasa sakit. Ia hanya menggigiti bawah bibirnya

“Aissh..” rintihnya sambil mengusapi perutnya. Sehun segera menarik tubuh mungil gadis itu di dalam dekapannya. Ia memeluk hangat Daera, membuat Gadis itu seketika terkejut. “kau ingatkan dulu? Saat kau mengandung Daehun kau mengatakan jika aku memelukmu maka perutmu tak akan merasa sakit”

Daera hanya terdiam, dan betul saja perutnya seketika berhenti memberontak. Hanyalah rasa nyaman yang ia rasakan. Entah mengapa tapi pelukan Lelaki itu terasa sangat hangat baginya membuat Ia refleks membalas pelukan Sehun kemudian tersenyum malu. Pipinya pun merona tipis dan merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya..

“ibuu.. Ayahh” teriak Daehun. Sontak Sehun dan Daera berbalik, mereka pun melepas pelukan satu sama lain. Daera terlihat sangat malu, Ia menutupi sebagian wajahnya dengan rambut pendeknya. Daehun berlari ke arah mereka membuat Sehun seketika berjongkok dan meraih tubuh mungil Daehun ke dalam dekapannya “Apa yang ayah dan ibu lakukan di sini?”

Sehun mengangkat tubuh mungil Daehun ke dalam gendongannya “tidak ada”

“oh iya, Daehun-ah. Sebentar lagi kau akan mempunyai adik”

Mata bulat Dehun terbelalak”benarkah Ayah?” Sehun tersenyum “eo, cobalah tanya ibumu”

Daehun berbalik tersenyum riang “benarkah ibu?” ia menunjukkan wajah polosnya yang ingin segera mendengar jawaban dari Daera.

Daera masih saja mematung. Dengan perasaan yang canggung dia pun menjawab “Iya Daehun-ah” dan tersenyum tipis

Daehun berteriak riang, pipinya yang tembem membuat Sehun gemes dan menciumi pipi anaknya itu

“Aku lapar. Apa kita bisa makan sekarang?”

“Aku juga!!” sahut Daehun. “Baiklah, Ayo kita masuk” Sehun berbalik sambil menggendong Daehun. Tangan satunya meraih pergelangan tangan Daera “Apa kau baikkan sekarang?” Daera awalnya hanya terdiam namun sedetik kemudian ia tersenyum “eo” mereka pun berlalu memasuki rumah sambil bergandengan dengan seulas senyum bahagia di wajah Sehun dan juga Daehun. Perasaan Daera pun juga sangat bahagia, ia tak pernah menyangka bahwa akan sebahagia ini di masa depan. Dulu ia senpat berpikir bahwa mungkin hidupnya tak akan pernah bahagia bahkan tak ada yang mencintai dan menyayanginya sepenuh hati, namun pemikirannya itu terpatahkan dan jujur ia sangat bahagia dan berterima kasih untuk Sehun yang bagaikan sebuah hadiah dan telah hadir  dalam kehidupannya.

~*~

Minri baru saja keluar dari ruangan rapat, beberapa menit yang lalu rapat di laksanakan tanpa adanya Sehun. Para Direktur berhamburan keluar meninggalkan ruangan

“Ahn Minri-ssi” tegur seorang wanita paruh baya

Minri berbalik dan kemudian tersenyum pada wanita paruh baya tersebut yang tidak lain adalah Istri dari Direktur Sang.

Ia membungkuk “Ya, Nyonya Sang?”

“di mana perginya Direktur Oh?”

“Direktur Oh telah kembali ke seoul”

Istri Direktur Sang sedikit terkejut “Ada keperluan apa dia kembali ke seoul?”

Minri sempat terdiam, Ia menarik nafas dan membuangnya kemudian tersenyum “Istrinya sedang hamil, nyonya Sang”

Nyonya sang terkejut dan kemudian tersenyum, memberitahukan pada Minri untuk menyampaikan salamnya pada Oh Sehun dan juga istrinya. Wanita paruh baya tersebut kemudian meninggalkannya.

…..

FLASHBACK

Sehun memberikan sebuah ice cream pada Minri, lelaki itu pun menduduki kursi taman yang bercat putih tepat di samping Minri “Apa kau lelah?” Sehun mengangguk “Lumayan”

“Udaranya sejuk” Minri berbalik memperhatikan wajah Sehun yang membuat hatinya teduh, wajah tenangnya yang selalu membuatnya tersenyum di sepanjang harinya jika bertemu dengan lelaki itu.

“Minri, Apa kau masih mengingat gadis yang ku ceritakan padamu?”

Minri tersadar dari lamunannya “Ah, iya aku masih mengingatnya. Kenapa?”

Sehun tersenyum sekilas “Aku sudah menemukannya, dia tidak berubah tetap cantik”

Seketika Minri terasa sesak namun ia mencoba tenang dan tersenyum lembut “Kau menemukannya? Aku kira kau sudah melupakannya”

Sehun menggeleng “tentu saja aku tidak akan melupakannya”

“Diaa.. Bernama Song Daera”

Minri hanya terdiam.

….

Sehun menghadap pada cermin besar, memperhatikan dirinya yang telah berbalut setelan jas yang membuatnya terlihat semakin tampan. Ia tersenyum dan sekaligus gugup “Jas ini sangat cocok untuk anda Tuan” ucap Mr. Hwang seorang desainer yang mengurus pakaian Sehun dan juga Daera di hari pernikahan mereka. Sehun tersenyum namun Ia juga semakin gugup “kamsahamnida Hwang”

Pintu ruangan luas tersebut terbuka, terlihat minri yang telah berbalut gaun berwarna biru dan rambutnya yang dibiarkan terurai

“Minri-ah” Sehun tersenyum begitu pula Minri

“Uwaa.. Kau terlihat tampan” puji Minri.

“Benarkan?” Sehun berbalik kembali menghadap pada cermin,  Ia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

“Apa kau bahagia?” Tanya Minri

Tanpa berbalik Sehun hanya mengangguk “Tentu sa..” belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, Sehun tercekat dengan tangan Minri yang telah memeluk pinggangnya dari belakang “Minri?”

“Aku tidak bahagia, Oh Sehun. Aku mencintaimu”

Mata lelaki itu terbelalak, ia terkejut mendengar pernyataan Minri. Ia seketika membeku “Ku mohon, tinggalkan dia” Lanjut Minri. “Minri-ah..”

“Aku mohon, Tinggalkan dia. Bisakah kau menikah denganku saja?”

Sehun melepas tangan Minri yang memeluk pinggangnya “Maafkan aku, tapi hari ini adalah hari pernikahanku dengan orang yang sangat ku cintai”

Pipi pucat gadis itu telah basah akibat air mata yang bercucuran “Sehun-ah, apa kau tidak bisa mencintaiku saja? Akan ku lakukan apapun untukmu”

Sehun mendengus kasar “noona, apa kau tahu? Kau sudah kuanggap Sahabatku sejak kecil? Dan bahkan kau sudah ku anggap kakakku sendiri”

“Aku tidak perduli dengan sahabat atau apapun, aku hanya ingin memilikimu” Ucap Minri dengan tegas, Ia sama sekali tidak menginginkan seseorang yang ia cintai di miliki oleh orang lain. Hatinya telah tertutupi oleh ego nya sendiri.

“Min..” Minri menciumi bibir Sehun dengan paksa, membuat Sehun terkejut sekaligus geram. Ia segera mendorong tubuh Minri agar melepaskan ciumannya

Noona, hentikan!! Kenapa kau menjadi seperti ini, eoh?”

Sikap Minri sudah seperti kesetanan “Aku tidak perduli!!”

Terdengar suara teriakan dari ruangan sebelah, Sehun mengenali suara tersebut yang merupakan suara Daera “Apa yang kau lakukan pada Daera??”

Minri hanya terdiam, Sehun merasa panik. Lelaki itu segera menuju pintu ruangan tersebut namun nihil, pintu tersebut terkunci

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi”

Sehun menatap tajam Minri, terlihat amarah yang keluar dari sepasang matanya “Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Daera”

Sehun berusaha mendobrak pintu tersebut dengan sekuat tenaganya “percuma kau…” seketika mata Minri terbelalak melihat pintu yang telah terbuka, Wajah Sehun terlihat sangat marah. Lelaki itu segera berlari menuju ruangan pengantin wanita. Ia terkejut mendapati tidak adanya pengawal di depan pintu, Ia berusaha membuka pintu tersebut namun terkunci. Amarahnya semakin menjadi ketika tak mendengar suara apapun dari dalam ruangan tersebut “Daera-ah” teriaknya

Brakk!!

Pintu terbuka dengan cepatnya, ruangan di dalam sangat kacau. Sehun meluruskan pandangannya, mendapati Daera yang memegang sepatu high heels nya dengan wajah terkejutnya “kenapa kau mendobrak pintu itu?”

“kau tidak apa-apa?” Sehun melirik seorang lelaki yang berpakaian jas hitam dengan wajah yang lebam atau bisa di bilang babak belur “kau apakan dia?” Tanyanya

“Dia menyerangku, jadi kupukuli saja” jawab Daera enteng

“Dengan itu?” Sehun menunjuk pada sepatu high heels yang entah berapa senti tingginya pada genggaman Daera “tentu saja. Ternyata sepatu ini berguna juga”

Sehun mengusap jidatnya kasar “kau membuatku khawatir” sedetik kemudian semua orang berkerumun, “Ada apa ini?” teriak ibu Sehun karena terkejutnya melihat ruangan yang kacau balau serta Gaun Daera yang terlihat sedikit sobek.

Para pengawal memasuki ruangan tersebut, “Apa yang kalian lakukan? Bukannya sudah ku bilang untuk menjaga Daera!! Eoh?!” Amarah Sehun begitu saja meluap, “cepat gantilah Gaun Daera” perintah Sehun

Terlihat Minri yang berada di tengah kerumunan tamu, Ia menyaksikan amarah dari wajah Sehun. Tangannya mengepal dengan erat “Aku gagal kali ini” ia segera mundur dan melangkahkan kaki jauh dari tempatnya berpijak tadi “Lihatlah nanti. Aku tidak akan berhenti sampai di sini Song Daera”

~*~

 

Suara dering telepon tiba-tiba terdengar, Minri meraih ponselnya dan segera menekan tombol hijau pada layar ponsel

“Yeoboseyo?”

“…”

“Ya, ingatlah tugasmu”

“jangan pernah gagal kali ini”

 

 

TO BE CONTINUED..

 

Haiii.. Lanjut lagi dengan part 6. Gimana menurut kalian? Apa ceritanya semakin bagus? Atau kebanyakan typo? -_- mianneee, author hanya bisa menulis ampe kek gini. Pemikiran author lagi error para readers. Oh iya thank you yang udah comment. Aku ngebaca semua comment kalian lohh, senang banget authorr and Thank you very much untuk para pembaca setia ff Unlogical time. See you next chapter ^^)/

35 thoughts on “Unlogical Time? #6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s