Chanyeol Appa! (Chapter 10)

part 10

 

Tittle    : Chanyeol Appa!

Part  10 : “Love” 

Lenght : Chapter

Rating                                    : PG 13+

Genre : Comedy, Romance and Family

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @deeFA_JiRa

Main Cast : ChanYeol EXO-K (Park Chan Yeol)

                     Hwayoung (Ryu Hwayoung)

                     Baek Hyun EXO-K (Byun Baek Hyun)

                     Ara Hello Venus (Yoo Ara)

                     Suho EXO (Kim Joon Myun)

                   Krystal f(x) (Kim Soo Jung)

                     Aleyna Yilmaz Ulzzang Baby (Park Shin Hye)

Annyeonghaseyo~ Finally, balik lagi dengan chapter 10 setelah lama hiatus.

Aku nulis part ini sambil dengerin lagunya Seo Ye Ahn-Permeate. Dan inilah hasilnya.

Mudah-mudahan para readers suka dengan part ini. Author amatiran ini ingin berterima kasih bagi yang sudah baca di part sebelumnya. Tinggalin jejak setelah baca ya ^^, baik itu berupa kritik maupun saran, atau yang lainnya. Supaya ceritanya bisa jadi makin baik. Don’t be Silent Reader. Thank you. *deep bow*

Read and Comment.

====================================================================

Perasaan Hwayoung campur aduk, yang tadinya tidak sabar untuk berjumpa dengan Chanyeol, kini malah menyesali dirinya. Di dalam hati kecilnya ia berharap agar Chanyeol sedikit saja bersikap manis padanya.

Chanyeol bingung pada Hwayoung yang tiba-tiba ngambek. Ia menarik tangannya, berusaha menghentikannya.

Waeyo?” tanya Chanyeol dengan suara aegyonya.

“Kau merasa kesal? Keurom, mianhae. Mengapa buru-buru pergi? Kau kan baru saja tiba”

Bulu kuduk Hwayoung berdiri, ia merasa seram mendengar Chanyeol berkata ‘mianhae’.

Heol! Ada apa ini?” batinnya.

Dag…dig…dug…, jantung Hwayoung berdegup kencang saat menatap wajah Chanyeol yang memelas. Pipinya kini merona merah.

Waeyo? Gwaenchanayo?” tanya Chanyeol sambil memegang pipinya yang panas.

Gwaenchana!” ia menampis tangannya.

Kaja!” Chanyeol mengajak Hwayoung ke suatu tempat.

***

@Eden Park

Lampu kelap-kelip bermacam warna, bunga-bunga bermekaran dan kincir angin menghiasi taman. Chanyeol dan Hwayoung berjalan mengitari taman. Ini  pertama kalinya Chanyeol berjalan berdua dengan Hwayoung. Mereka saling canggung satu sama lain. Sama sekali tidak ada pembicaraan.

Kaki Hwayoung mulai terasa sakit. Seharian memakai high heels sangat melelahkan. Ia duduk di sebuah bangku dan membuka sepatunya. Terlihat kakinya sedikit lecet. Chanyeol yang baru sadar kalau Hwayoung telah dudukpun ikut duduk di sampingnya. Ia melihatnya tengah memijit kakinya. Tanpa ragu, ia berlutut di depannya dan memijit kakinya.

“Seperti ini, bagaimana? Merasa baikan?” tanya Chanyeol.

“Oh…n-ne!” jawab Hwayoung terbata-bata.

Senyuman hangat terlukis di wajah Hwayoung sambil menatap Chanyeol.

“Kau masih ingat saat pertama kali Shin Hye lahir? Kau menangis sangat kencang, membuat dokter dan suster tertawa. Wajahmu jelek sekali!” Hwayoung kembali mengingat wajah Chanyeol saat berada di ruang bersalin.

Keurae?”

“Ne!”

Hwayoung tertawa terbahak-bahak mengingat kembali wajahnya. Chanyeolpun ikutan tertawa. Ia lalu duduk di sampingnya.

“Persaanku bahagia, tetapi sekaligus takut. Takut karena apakah aku pantas menjadi ayahnya? Apa dia tidak akan menyesal punya seorang ayah sepertiku? Apa aku bisa bahagia?. Tapi entah mengapa saat pertama kali aku menggendong Shin Hye, ia menggenggam tanganku erat sekali, seakan dia berkata ‘Appa, gwaenchana’ ” Jelas Chanyeol.

Perkataan Chanyeol membuat hati Hwayoung bergetar, kata-kata yang sama sekali tidak dibayangkan akan keluar dari mulut seorang Chanyeol. Apalagi melihatnya yang sedang memijat kakinya, tak dapat dipungkiri membuatnya tersipu.

“Sudah mulai baikan?” tanya Chanyeol.

“N-ne…” jawab Hwayoung yang buru-buru memakai kembali sepatunya.

Chanyeol duduk di sebelahnya sambil menatap ke depan.

“Aku minta maaf!” suara Chanyeol agak sedikit serak.

Waeyo?” tanya Hwayoung yang bingung menatap suaminya.

“Meninggalkanmu dan Shin Hye dalam waktu yang sangat lama”

Kalimat Chanyeol membuatnya kembali mengingat saat-saat terberat dalam hidupnya. Selama tiga tahun delapan bulan, ia meninggalkannya tanpa menghubunginya dan menjenguknya sekalipun.

 

Flashback

            Diluar sedang hujan deras dan anginpun bertiup sangat kencang. Suasana malam yang mengerikan membuat Hwayoung menelpon Chanyeol yang dari pagi berangkat ke Seoul untuk melihat pengumuman tes seleksi masuk perguruan tinggi. Ia kembali mengulang kuliahnya dari pertama karena ia mengundurkan diri dari universitas sebelumnya sejak ia menikah dengan Hwayoung.

            Berkali-kali dihubungi, nomornya sibuk. Malam semakin larut, Shin Hye yang berumur 17 bulan tidur di atas kasurnya, ia mengeluarkan keringat, tubuhnya panas, sehingga membuat Hwayoung khawatir.

Yeoboseyo?” jawab Chanyeol di seberang.

Hwayoung sangat senang telponnya akhirnya dijawab.

Odiga? Cepat pulang! Disini hujan lebat, anginnya juga kencang, aku takut sendirian. Shin Hye badannya panas, nafasnya juga terengah-engah”

“Ya ampun, kau ini ibunya bukan? Di kulkas ada obat demam, berikan padanya dan kompres badannya. Aku sedang merayakan kelulusan bersama teman. Sudah dulu ya. Jangan menelpon kalau bukan hal yang darurat. Araseo?”

Saat Hwayoung ingin berbicara lagi ternyata Chanyeol telah memutuskan teleponnya. Ia mencoba untuk mengkompres Shin Hye agar demamnya turun dan juga memberinya obat. Namun, demamnya tak kunjung turun dan Shin Hye mulai menangis. Keadaan Hwayoung sekarang adalah panik. Ia berusaha menenangkan Shin Hye dengan menggendong dan menyanyikannya lagu, tetapi putri kecilnya tak berhenti menangis sedetikpun. Ia kembali menghubungi Chanyeol, kali ini ia bukan tidak menjawab tetapi tidak dapat dihubungi.

“Kau sengaja mematikannya ya?” gerutunya.

“Shin Hye-ya, eomma ottokhe?, eomma tidak tahu harus apa. Uljimauljima…”

Hampir satu jam Shin Hye menangis, suaranya sudah mulai hilang dan panasnya makin tinggi dan ia kejang-kejang.

“Rumah sakit…rumah sakit…” gumamnya dengan berderai air mata sambil mengambil dompet dan payung.

Hwayoung langsung menggendong Shin Hye dalam dekapannya dan membawanya ke rumah sakit. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, hujanpun tak kunjung reda, sangat susah mencari taksi, jika ia berjalan terlalu jauh ia takut payung yang digunakannya tidak dapat melindungi Shin Hye dari dingin. Wajah Hwayoung semakin pucat lantaran Shin Hye tak bersuara sedikitpun, ia berlari sekencang mungkin untuk sampai di rumah sakit terdekat.

Tibalah ia di rumah sakit, dokter dan suster yang berjaga di IGD langsung mengambil Shin Hye untuk diperiksa. Hwayoung tersungkur di lantai, tangannya gemetaran. Dua orang suster membantunya berdiri dan mendudukkannya di sebuah kursi serta menyelimutinya. Dari keberadaannya yang tidak terlalu jauh, ia melihat dokter menaruh selang dan infus pada putri kecilnya. Tak kuasa melihatnya, ia menangis tersedu-sedu.

“Anda ibunya?” seorang dokter wanita menghampirinya.

“I-iya…”

“Saya sangat bersyukur, kondisi anak anda sudah dalam keadaan stabil. Dia harus beristirahat beberapa hari disini, sampai kondisinya membaik. Lain kali saya harap jangan ibu jangan meremehkan demam pada anak. Jika terlambat sedikit saja, akan fatal akibatnya. Namun sekarang ibu tenang saja, ada suster yang berjaga”

Hwayoung bangun untuk menuju tempat Shin Hye berbaring. Ia duduk di sebelahnya sambil memegang tangan putrinya. Tak henti-hentinya ia memanjatkan doa untuk kesembuhannya.

Mianhae, mianhae, eomma tidak bisa menjagamu” batinnya.

Ia terus mengeluarkan air mata sambil mengusap-ngusap kepala Shin Hye yang terbaring lemah, hingga ia ikut tertidur.

***

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, Chanyeol berpamitan dengan teman-temannya untuk pulang.

“Ya! Kau pulang nanti saja apa tidak boleh?” kata salah satu temannya.

“Kau ini bagaimana. Dia sudah kangen dengan istri tercinta” tambah temannya yang lain.

Yeobo…cepat pulang…”

Mereka meledek Chanyeol lantaran statusnya yang sudah menikah.

“Aish!. Ya!. Aku pulang karena busnya sebentar lagi datang, bukan karena dia. Yasudah, aku pulang. Jalisseo!

“Yosh!. Jalga!”

Chanyeol menuju halte bus sambil memegang handphonenya.

“Aih!, mati ternyata” gumamnya saat mendapati handphonenya yang kehabisan batre.

Tak lama duduk, bus datang. Matanya sangat mengantuk, ia mencoba tidur di dalam bus. Tetapi pikirannya kembali mengingat perkataan Hwayoung saat ditelpon ketika melihat seorang ibu yang menggendong bayi duduk di sebelahnya.

Pukul 4 pagi akhirnya bus berhenti, ia berlari menuju rumahnya. Ia mengambil kunci rumah dalam tasnya. Saat masuk, ia mendapati semuanya kosong. Ia langsung mengambil charger untuk mengecharge hpnya agar ia dapat menelpon Hwayoung. Ternyata ada beberapa pesan masuk saat handphonenya aktif.

Shin Hye demam tinggi, aku harus bagaimana?’ pesan yang dikirim Hwayoung.

Ia lalu menelpon Hwayoung untuk mengetahui keberadaannya. Namun, ia seperti mendengar suara handphone dari dalam kamar. Setelah dicek ternyata benar, handphone Hwayoung tertinggal.

“Apa jangan-jangan…”

Batin Chanyeol merasakan bahwa ada sesuatu pada Shin Hye. Ia mencarinya ke rumah sakit yang terdekat dari rumahnya.

Tibalah ia di rumah sakit yang jaraknya sekitar 2 km dari rumahnya. Ia menuju bagian informasi.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas resesionis.

“Saya ingin mencari seorang pasien. Bayi berumur 17 bulan, namanya Park Shin Hye. Apa dia dirawat di sini?”

“Mohon tunggu sebentar saya cek dulu”

“Ada, pasien yang bernama Park Shin Hye baru saja dipindahkan ke bagian anak, di kamar tulip. Dari sini lurus saja nanti belok ke kanan naik lift lantai ke lima, lihat ada tulisan pediatric, kamarnya selang tiga ruangan dari ruangan dokter Jang Hyeon So”

Gamsahamnida

***

@Tulip’s Room

Suara pintu yang terbuka membuat Hwayoung terjaga. Wajahnya langsung berubah saat melihat ternyata Chanyeol yang datang.

“Bagaimana keadannya?” tanya Chanyeol yang mengusap kepala Shin Hye.

“Apa dia bisa pulang hari ini? Mengapa kau meninggalkan handphonemu. Aku kan jadi susah menghubungimu” sambungnya.

Hwayoung serasa dijatuhi batu yang besar ke atas tubuhnya. Mengapa Chanyeol sama sekali tidak merasa bersalah? Mengapa ia malah menyalahkan dirinya yang meninggalkan handphone? Mengapa ia tidak bertanya apakah dirinya baik-baik saja? Mengapa ia tidak meminta maaf pada dirinya? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam batinnya. Ia menghampiri Chanyeol dan mendaratkan tamparan di pipi kirinya.

“Kau sama sekali tidak berguna! Kau lulus? Bagus kalau begitu. Cepat pergi dari sini! Aku tidak membutuhkanmu!”

“Kau marah hanya karena hal ini?”

“Shin Hye hampir mati!” Hwayoung meninggikan suaranya.

Chanyeol tersentak saat mendengarnya.

“Aku tidak ingin berdebat dengamu di hadapan Shin Hye. Aku minta kau pergi. Jika aku dan Shin Hye pulang dan kau masih ada, maka aku dan Shin Hye yang pergi. PERGI SEKARANG!!”

Chanyeol merasa sakit hati diusir oleh Hwayoung. Ia pulang ke rumah dan mengepak semua barangnya dan pergi menuju Seoul.

Flashback End

“Aku baru mengetahui cerita tersebut dari Ara. Bodoh sekali aku!” ujar Chanyeol.

Ada rasa penyesalan yang sangat mendalam di wajahnya. Tetapi tak bisa terungkapkan dengan kata-kata. Hwayoung menatap wajah Chanyeol dalam, ia pun memeluknya.

“Bukankah banyak hal bahagia juga terjadi? Tidak bisakah kau mengingat hal itu saja?” pintanya.

Mendengar pernyataannya, Chanyeol membalas pelukan Hwayoung.

Mianhae. Mianhae” bisiknya di telinga Hwayoung.

***

@Ara’s Room

Mata Ara tak bisa terpejam, pikirannya terus mengingat perkataan Baek Hyun.

“Kalau begitu bagaimana kalau kau menjadi kekasihku?”

Perasaannya bagai bunga yang bermekaran saat mendengarnya, yang membuatnya menjadi ragu adalah karena kalimat tersebut keluar dari mulut seorang Baek Hyun, playboy kelas atas dengan rupa dan senyum menawan. Perkataannya membuat ia harus berpikir seribu kali sebelum membuat keputusan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya terbuka, sosok Shin Hye terlihat dengan bantuan cahaya bulan.

Waeyo?” tanya Ara yang bangkit dari tidurnya.

Eomma bogoshippoyo” rengek Shin Hye.

“Bagaimana kalau kita menelpon eomma?”

Shin  Hye lalu mengangguk senang.

***

Hwayoung sangat senang saat mendengar suara putrinya. Ia begitu merindukan putri sematawayangnya.

Eomma, tidak bisakah malam ini kita tidur bertiga dengan appa?” pinta Shin Hye.

Belum sempat Hwayoung menjawab, Chanyeol langsung memotong pembicaraan mereka dan berkata bahwa ia akan menjemputnya sekarang. Kebetulan besok adalah hari minggu, ia juga mengajaknya untuk jalan-jalan ke taman bermain Neverland, tempat yang selalu dibicarakan putrinya.

“Kaja!” kata Chanyeol sambil menjulurkan tangannya dihadapan Hwayoung.

Tanpa ragu ia mengenggam tangannya dan tersenyum melihat tangannya dan tangan Chanyeol saling bergenggaman.

***

Siluet cahaya matahari pagi memasuki fentilasi yang ada di apartemen milik Chanyeol. Shin Hye telah duduk di depan meja makan menunggu Hwayoung, ibunya yang sedang menyiapkan sarapan. Hanya ada beberapa potong roti, telur dan beberapa makanan ringan lainnya di dalam kulkas. Hwayoung menjadi kasihan pada Chanyeol yang tak terurus seperti ini.

“Mungkin sebaiknya aku menambahkan beberapa won untuk biaya hidunya…” batinnya.

Chanyeol keluar dari kamar sambil mengucek matanya. Ia sangat senang melihat Hwayoung dan Shin Hye sedang menikmati toast.

Annyeonghi jumusyeoseoyo…” sapanya yang dibalas senyuman oleh keduanya.

“Appa, hari kita jadikan ke Neverland?” tanya Shin Hye pada Chanyeol yang duduk di sampingnya.

Chanyeol menganggukkan kepalanya. Lalu, Hwayoung mendekatinya dan berbisik.

“Kau tau tempat itu mahal!”

“Aku tau. Kau tenang saja, tidak pakai uangmu. Dasar pelit!”

Setelah selesai membereskan putrinya, Hwayoung tersadar kalau dirinya tidak punya baju selain yang dipakainya kemarin dan bajunya sudah bau. Ia memutuskan untuk menelpon Ara dan meminjam bajunya.

“Benarkah? Kalian akan jalan bertiga?” suara Ara kegirangan di seberang.

“Ne…”

“Chukkae, aku akan pergi ke sana sekarang!”

Lebih dari 15 menit Hwayoung menunggu dan Shin Hye sudah menggerutu ingin segera pergi. Saat bel berbunyi Hwayoung bergegas membukanya, sosok Ara dengan wajah berbinar-binar telah datang dengan satu plastik yang berisikan baju.

“Hwaiting!” kata Ara yang lalu pulang. Hwayoung hanya menggaruk-garuk kepala tak mengerti.

Ia memasuki kamar Chanyeol dan melihat isi plastiknya. Rasanya saat itu ia ingin sekali mengumpat. Bagaimana bisa Ara membawakannya baju atasan potrait neck berbahan katun berbalut dengan tile berwarna putih dan ada taburan bunga-bunga sakura kecil berwarna krem  dan bawahan rok trumpet berwarna hitam selutut, serta sepatu chunky berwarna hitam. Apa Ara mengira dia akan pergi berkencan? Ini terlalu berlebihan. Dengan terpaksa Hwayoung memakainya.

“Ayo kita pergi…” kata Hwayoung yang keluar dari kamar.

Chanyeol yang duduk di sofa sedang menonton TV bersama Shin Hye berdiri sangking terkejutnya. Jantungnya secara tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Seperti ada kereta api dengan kecepatan tinggi yang gesekan rodanya dengan rel memercikkan api.

Eomma yeppoda…” puji Shin Hye.

Hwayoung jadi salah tingkah, bukan karena pujian Shin Hye melainkan karena Chanyeol menatapnya.

***

Soo Jung memutar lagu milik San E ft Yerin 15& yang berjudul Me You di mobilnya. Ia menikmati alunan musiknya, sesekali ia bernyanyi mengikuti musiknya. Rambutnya yang digerai, make up soft-light dan bibir yang diberi lipstik warna pink membuatnya sangat cantik, apalagi dress hitam selutut berkerah halter membuat tubuhnya semakin kelihatan ramping. Ia menatap tiket pameran design arsitektur yang berada di tempat duduk sebelahnya.

Kurang lebih 20 menit mengendarai mobil, ia berhenti di depan sebuah apartemen. Ia memarkirkan mobilnya, lalu turun sambil membuka handphonennya untuk mencari kontak Park Chanyeol. Soo Jung berdiri di samping mobilnya, handphonenya melekat di telinga sebelah kanannya. Tak sengaja ia melihat sosok yang dikenalnya yaitu Chanyeol, saat ia melambaikan tangannya ia baru tersadar, ternyata Chanyeol tidak sendiri, ia bersama seorang anak kecil dan perempuan terlebih ia tidak menuju ke arahnya, malah sebaliknya.

Yeobseyo…” jawab Chanyeol di seberang telpon yang membuat Soo Jung terkejut.

“Kau di mana?” tanya Soo Jung yang padahal tak jauh dari tempat Chanyeol berdiri. Ia bisa melihat raut wajah Chanyeol yang sedang mengangkat telponnya.

“Saya sedang berada di luar kota, di Ilsan” bohongnya.

“Ah, benarkah?” jawab Soo Jung yang jelas tahu lawan bicaranya berbohong. Tak dapat digambarkan raut wajah Soo Jung. Ia sangat kesal,

“Kau lupa? Aku mengajakmu ke pameran design arsitektur” sambungnya.

“Maaf sekali, saya lupa. Maafkan saya, (*(&&*^^%$##$$%^&” tiba-tiba Chanyeol membuat seolah-olah sinyalnya tidak bagus.

“Maafkan sa-..”

Soo Jung langsung memutuskan telponnya tanpa sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya.

Ia menatap Chanyeol yang lalu menggendong putrinya dan menggenggam tangan Hwayoung dan lalu masuk ke dalam sebuah mobil. Hatinya sangat panas, ia sangat kesal, ia berdandan sangat cantik demi menemui Chanyeol, tapi akhirnya seperti ini.

Ada seorang perempuan yang keluar dari apartemen tersebut, kira-kira umurnya 30an. Soo Jung menghampirinya.

“Permisi, apa anda tinggal disini?” tanyanya.

“Ia nona, ada apa?”

“Emmm, anda mengenal Park Chanyeol?”

“Tentu saja. Apartemennya selang satu dari apartemenku. Anda mau ke apartemennya? Tapi, tadi dia sudah keluar dengan anak dan istrinya”

Soo Jung tersentak mendengar perkatannya.

“Dia sudah menikah?” tanya Soo Jung.

“Ia dia sudah menikah, dengar-dengar saat umurnya 19 tahun. Anda tidak tahu ya? Wajarlah, soalnya istrinya tinggal di Ilsan dan berkerja di kantor Safe IT Company. Banyak yang tidak tahu memang kalau dia sudah menikah, karena banyak yang mengira anaknya itu adalah adiknya”

Batin Soo Jun tersentak saat wanita tersebut menyebut Safe IT Company. Perusahaan tempat kakak kandungnya bekerja.

“Kalau boleh tahu, nama istrinya siapa?”

“Maaf, saya lupa nama lengkapnya, mmm…kalau tidak salah Hwayoung”

Soo Jung merespon dengan anggukan sembari tersenyum. Kemudian ia membungkuk hormat pada wanita itu dan berterima kasih.

“Hwayoung?” batinnya.

***

Laki-laki tampan memakai jas hitam memasuki sebuah café, ia melambaikan tangan pada seorang gadis yang telah menunggunya.

“Tumben mau menemui oppa. Ada apa?” Joon Myun menyapa adik perempuannya dengan pertanyaan.

“Memangnya tidak boleh?” Soo Jung merengut.

“Semenjak kau di sini baru kali ini kau menemui oppamu. Benarkah kau adik kandungku? Dasar bocah kecil!” sindir Joon Myun yang disambut dengan Soo Jung yang memelas.

“Bagaimana café mu? Berjalan lancar? Ada yang bisa oppa bantu?” tanya Joo Myun. Soo Jung menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka oppanya yang dulu suka mengerjai dan membullynya kini sangat perhatian padanya.

“Kau benar tidak berniat masuk ke perusahaan yang oppa katakan dulu? Mereka pasti menerima gadis berbakat sepertimu. Jangan sia-siakan kemampuanmu dalam arsitektur. Kau sudah menghabiskan waktu untuk sekolah di luar negeri di universitas terbaik, sekarang waktunya kau menunjukkan bakatmu”

Oh my gosh, belum sempat aku bicara, oppa sudah menasehatiku. Sekarang aku bukan anak kecil lagi. Kalau begitu kabar oppa seperti apa? Apa sudah menemukan seorang tambatan hati? Wajah oppa mengapa? Eh…ada ya?. Ayo, ngaku…”

“Kau ini, berani sekali meledek oppamu”

“Oppa kalau ngambek, mukanya mirip Choi Siwon Super Junior”

“Apa aku setampan itu?”

Ani, tentu saja lebih tampan Choi Siwon. Oh ya, by the way, di perusahaan oppa ada tidak yang bernama Hwayoung?”

Sebenarnya tujuannya utamanya bertemu dengan oppanya bukan karena ingin melepas rindu dengan oppa yang sudah lama tidak ditemuinya tetapi ia ingin menanyakan perihal Hwayoung. Tidak tahu mengapa, ia merasa ada yang janggal di antara Chanyeol dan Hwayoung.

Sebelum bertemu dengan Joon Myun, saat masih berada di depan apartemen Chanyeol, Soo Jung duduk di dalam mobilnya dan mencari nama Hwayoung di internet dengan ipadnya. Setelah mengecek hasil search yang keluar, ia melihat sebuah blog dan di situ ada foto Hwayoung. Dan ada kalimat, My Princess, My Everything, My Life is just for you my lovely daughter. Hadiah terbesar dalam hidupku. Park Shin Hye Saranghae…

Kemudian dia terus menggeser scroll ke bawah untuk membaca seluruh isi blognya. Ada kata-kata yang membuatnya terkejut, F*** Sh*** PCY. Dan ada beberapa kalimat curse lainnya yang selalu ada hastag PCY. Dan akun instagram milik Hwayoung semuanya berisikan foto putrinya dan dirinya. Dari 315 foto yang telah dipost, satupun tidak ada foto milik Chanyeol. Apalagi bio di akun instagramnya yang ditulis dengan bahasa inggris yang berarti sendiri mengajarkanmu banyak hal, sendiri menjadikanmu kuat.

“Siapa katamu?” tanya Joon Myun yang takut salah mendengar nama yang disebutkan adiknya.

“Hwayoung, Ryu Hwayoung. Apa ada?”

“Ada, dia anak buahku. Wae? Kau mengenalnya?”

“Ya, tau saja”

Joon Myun mendelik saat Soo Jung menjawab. Ia merasa ada sesuatu antara Hwayoung dan adiknya.

“Ada apa dengan Hwayoung? Kenapa raut wajahmu seperti itu?”

Soo Jung menghela napas dan akhirnya bicara.

“Sebenarnya, baru kali ini, setelah sekian lama, jantungku kembali berdetak saat melihat seorang pria. Pria itu bekerja di Cofee Shop ku. Dia menutupi identitasnya yang ternyata sudah menikah dan punya anak. Aku baru mengetahuinya hari ini, saat melihat mereka bertiga. Dan sa-…” belum sempat Soo Jung menghabiskan kalimatnya Joon Myun langsung angkat bicara.

“Dan ternyata istri pria itu adalah Hwayoung. Suaminya bernama Park Chanyeol”

Soo Jung sangat terkejut saat oppanya menyebut nama Park Chanyeol.

“Jangan pernah jatuh cinta dengan laki-laki brengsek sepertinya. Pecat dia!” perintah Joon Myun yang langsung berdiri meninggalkan Soo Jung.

Soo Jung mengejarnya dibelakang dan mencegatnya memasuki mobil.

“Apa maksud oppa Park Chanyeol brengsek?”

Ia terus menarik tangan oppanya agar tidak bisa masuk ke dalam mobil dan memaksanya untuk menjelaskan maksudnya, hingga akhirnya Joon Myun terpaksa berbicara.

“Mereka menikah karena kesalahan laki-laki ingusan dan brengsek bernama Park Chanyeol, yang meniduri Hwayoung hingga ia mengandung anaknya. Kau mengerti sekarang? Park Chanyeol laki-laki brengsek!”

Tak tergambar lagi raut wajah Soo Jung saat mendengarnya. Tidak percaya, shock, dan sakit hati, semuanya berkacamuk di hatinya.

“Mungkin saja Hwayoung itu perempuan yang tidak benar, makanya semuanya terjadi. Apakah oppa mendengar ceritanya secara jelas atau sepotong-sepoong?” dengus Soo Jung.

“Jangan pernah mengatakan apapun tentang Hwayoung. Kau tidak tahu apapun tentangnya. Dan oppa tidak akan segan-segan jika kau mengatainya. Dia perempuan baik-baik yang menanggung bebannya sendiri. Kau tidak tahu betapa menderita hidupnya memiliki suami yang kenak-kanakan dan terus dalam ikatan pernikahan walau tanpa cinta”

“Dari mana oppa tahu? Dari mana oppa bisa yakin? Kalau dia gadis baik-baik?”

Joon Myun melepaskan tangan adiknya yang memegang lengan kirinya.

“Aku tidak pernah salah dalam mencintai orang. Aku selalu mencintai yang tepat”

Joon Myun memasuki mobilnya yang menguncinya agar Soo Jung tak bisa membukanya. Berkali-kali Soo Jung mengetuk kacanya, namun ia langsung menekan gas dan meninggalkannya.

Shit!” umpat Soo Jung.

“Oppa menyukainya?” batinnya.

***

@Neverland

Jika dilihat sekilas, keluarga kecil milik Chanyeol terlihat sangat harmonis. Dibalik semua permasalahan yang ada di kehidupan mereka, hari ini tampaknya hal tersebut tak ada. Senyum lebar terus terpancar di wajah mereka. Entah mengapa Chanyeol terlihat seperti seorang ayah yang sesungguhnya saat ini, seorang ayah yang sangat mencintai dan menyayangi keluarganya. Tak dilepasnya tangan Shin Hye dan Hwayoung sedetikpun, seakan-akan takut kehilangan mereka. Matanyapun tak selepas dari mereka, ia terus menatap Hwayoung yang menjelaskan tentang kota Seoul yang tampak saat menaiki biang lala. Sesekali Hwayoung menyelipkan rambutnya ke belakang kupingnya, hatinya berdebar saat itu dan kembali mengingat kejadian dua hari yang lalu.

Flashback

Tiga orang suruhan Joon Myun telah membawa Chanyeol ke sebuah hotel. Mereka menyeretnya dengan paksa, berkali-kali ia mencoba melawan, tetapi sia-sia, tubuh mereka bak binaraga susah untuk dikalahkan.

            “Lepaskan!” perintah Joon Myun yang duduk di sebuah kursi di depan meja yang bertuliskan CEO.

            “Apa tujuanmu membawaku ke tempat ini? Ingin memamerkan bahwa ini hotel milikmu?” Ejek Chanyeol yang membenarkan pakaiannya.

            Joon Myun bangkit dari duduknya, ia lalu berdiri dan menuju jendela yang sangat besar di ruangan tersebut. Ia melipat kedua tangannya lalu menatap kota Seoul yang dipancari sinar senja.

            “Ada dunia yang tidak kau sadari di sekelilingmu. Dunia yang penuh dengan kebahagiaan. Dia berada di atas telapak tanganmu, tetapi kau tidak dapat menggenggamnya, sehingga saat kau membalikkan tanganmu, dunia itu jatuh. Untuk itu aku akan menangkapnya dengan kedua tangannya, lalu menggenggamnya dengat erat agar tak terjatuh” kata Joon Myun.

            Chanyeol yang berdiri agak berjauhan tersenyum sinis.

            “Kau menyuruh orang untuk membawaku ke sini hanya untuk mendengar potongan-potongan puisi omong kosongmu?” ejeknya. 

            Joo Myun lalu berbalik dan bersandar di jendela serta melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum dengan sebelah bibirnya.

            “Bersiaplah, ah, sepertinya kau tidak perlu bersiap. Sepertinya hal ini yang sangat kau inginkan dari dulu. Aku mencitai Hwayoung dan juga menyayangi Shin Hye. Tugasku adalah membahagiakan mereka dan aku akan membawa mereka pergi jauh dari kehidupanmu sehingga kau tidak perlu merasa ada beban dan tanggung jawab atas mereka” ucap Joon Myun sambil berjalan ke arah Chanyeol.

            “Aku akan me-re-but-nya!” tegas Joon Myun tepat di hadapan Chanyeol.

Flashback End

***

Sebuah Maybach terparkir mulus di sebuah café bintang tiga. Seorang supir berjas hitam keluar untuk membuka pintunya. Turunlah seorang laki-laki tamapan yang berpostur tinggi dan kaki yang jenjang. Ia memakai kemeja yang dilipat lengannya dan kacamata berwarna hitam. Supir tersebut membungkuk hormat padanya. Laki-laki itu melangkahkan kakinya ke dalam. Ia memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela.

Seorang pelayan wanita mendekatinya, laki-laki itu membuka kacamatanya yang membuat pelayan wanita terkejut dengan ketampanan wajahnya.

“Sse-sse-lamat datang…” sapanya terbata-bata.

“Panggilkan bos kalian” perintahnya.

Tak berapa lama, bos pemilik ini turun dari ruangannya di lantai tiga.

“Ada yang bisa bantu?”  tanya laki-laki bernama Choi Seung Wan yang merupakan pemilik café.

Laki-laki itu mengeluarkan kartu namanya dari dalam dompet dan menyerahkan pada Seung Wan. Seung Wan membelalakkan matanya, ia terkejut dengan anak seorang konglomerat Kim Woo Bin sekaligus pengusaha muda di Korsel tiba-tiba datang ke cafénya.

“Anda yang bisa saya bantu tuan?”

“Bawa gadis yang bernama Yoo Ara kehadapan saya sekarang” perintahnya. Seung Wan menyuruh karyawan yang lain untuk memanggil Ara yang tengah mengantarkan makanan di lantai tiga. Berselang beberapa menit, salah satu karyawannya telah membawa Ara.

“Ada apa pak?” tanya Ara setelah membungkuk hormat pada Woo Bin dan Seung Wan.

“Kau layanin tuan ini” kata Seung Wan yang lalu berbisik pada Ara, “Dia tamu VVIP. Very Very Very Very Important Person. Ingat itu!”

Ara menjawab dengan mengangguk.

Annyeonghasimnika. Selamat datang. Nama saya Yoo Ara.”

Woo Bin terus menatap Ara yang memakai seragam pelayan yang berwarna coklat dan sepatu kets berwarna putih serta rambut yang di kuncir kuda.

“Baek Hyun menyukai gadis seperti ini? Heh!” batinnya yang mengejek selera Ara.

“Anda ingin pesan apa?” tanya Ara dengan senyumannya yang lebar demi tamu VVIP.

“Silahkan duduk!” pinta Woo Bin.

“Maaf, saya sedang bekerja. Jadi tidak diperbolehkan”

“Perlu aku panggilkan bosmu, supaya kau mau duduk?”

“Silahkan duduk!” pinta Woo Bin dengan nada suara lembut dan senyumannya.

Dengan terpaksa Ara duduk. Dia bisa melihat teman-teman rekan kerjanya terkejut melihatnya. Ia merasa tidak nyaman.

“Jadi kau yang bernama Ara” kata Woo Bin yang membuat Ara di hadapannya yang duduk tegak bingung, dari mana laki-laki tersebut mengetahui namanya.

“Sekarang saatnya menggunakan jurusku” batin Woo Bin.

“Seperti namamu kau sangat cantik” ungkapnya.

“Terima kasih” sahut Ara dengan raut  canggung.

Woo Bin terus menatap Ara dengan senyuman terbaiknya. Ia sengaja melakukannya, untuk membuat Ara malu. Ia sangat puas ketika seorang gadis tersipu malu dan merona saat melihatnya.

“Apa ada yang aneh dengan saya?” tanya Ara yang bingung ditatap terus.

“mmm….mmmm” Woo Bin menggelengkan kepalanya.

“Baru pertama kali aku melihat gadis imut sepertimu. Tentu saja aku tidak akan mengalihkan pandanganku” sambungnya.

“Cowok ganjen” batin Ara.

“Kalau begitu, anda ingin pesan apa?”

“Pesan semua yang diinginkan nona cantik di hadapanku sekarang, aku akan membayarnya”

Ara serasa akan muntah saat mendengarnya. Di dalam hatinya ia terus menggerutu karena benci dengan laki-laki yang memerkan kekayaan. Ia lalu memanggil temannya yang juga pelayan untuk memesan makanan.

Suasana semakin aneh bagi Ara, ia tidak nyama terus ditatap Woo Bin, laki-laki yang baru saja dikenalnya lebih dari satu jam lalu. Ia memutar-mutarkan kepalanya agar tak melihat Woo Bin.

Woo Bin lalu mengeluarkan handphonenya. Ia lalu menelpon seseorang.

Grrrt….grrrt….hp Ara di dalam saku celananya berbunyi. Ia lalu melihat layarnya, ada sebuah nomor tidak dikenal. Ia menolaknya. Tiba-tiba handphonenya bergeta dan yang muncul nomor yang sama. Lagi-lagi ia menolaknya. Hinggal berkali-kali mungkin hampir 20 kali ia terus mereject nomor tersebut.

Nuguseyo?” Ara menjawab telpon dengan nada kasar serta raut wajahnya yang cemberut.

Wae geurae? Kenapa mukamu masam seperti itu?”

Micheoso? Nuguya?” lagi-lagi Ara mengeluarkan suaranya yang nyaring.

“Dibibir sebelah kananmu ada kotoran” kata suara laki-laki diseberang.

Ara berdiri melihat sekelilingnya, sepertinya yang menelpon berada di dekatnya. Lalu ia menoleh ke Woo Bin yang memegang handphone di tangan kanannya di kupingnya.

Micheoso?” kata Woo Bin membalikkan perkataan Ara tadi tapi dengan nada yang hampir tertawa.

Ara sangat terkejut, ia bahkan tidak bisa duduk saat Woo Bin menyuruhnya. Yang ada di kepalanya sekarang adalah bagaimana Woo Bin bisa mengetahui nomor telponnya.

“Duduk” pinta Woo Bin sambil memegang tangan kiri Ara dengan lembut.

“Kau stalker?” tanya Ara dengan mata melotot dan menghempaskan tangan Woo Bin.

Woo Bin tertawa terbahak-bahak saat Ara mengatakan dirinya stalker.

Ps-Ps-Psycho?” tanyanya lagi dan membuat Woo Bin makin tertawa keras hingga seluruh isi café melihatnya.

“Mungkinkah…mungkin kah…” Ara lalu mendekatkan dirinya ke hadapan Woo Bin, hingga jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Woo Bin melihat dengan jelas wajah Ara saat itu.

“Mungkinkah…kau orang yang ingin membeli lahan pear kakekku?” ucap Ara berbisik.

Aniyo…” jawab Woo Bin dengan nada yang sama dengannya.

Ara lalu tersenyum lebar dan duduk dengan lega.

“Ah, untung saja. Kalau benar sudah ku tendang selangkanganmu. Kalau begitu dari mana kau mengetahui namaku dan nomor handphoneku? Hmmm, apa aku seterkenal itu? Benarkah?” wajah Ara berbinar-binar.

“Sayangnya tinggiku hanya 163 cm. Coba saja tubuhku tinggi dan sebagus Uee. Pasti aku akan terkenal. Yah, tapi untungnya aku imut. Iyakan?”

Makanan yang telah dipesan Ara tadi telah tiba. Meja hampir tidak muat menampung seluruh pesanannya.

“Kau menyuruhku makankan?” tanya Ara.

“Hmmm” jawab Woo Bin.

Ara lalu mengambil sumpit untuk memakannya. Ara juga menaruh makanan untuk Woo Bin.

“Ayo dimakan…”

“Kau sudah bersikap tidak hormat padaku” kata Woo Bin.

“Benarkah? Haruskah aku melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan mengambil data pribadi dan menjadi seorang stalker? Tidakkan? Umurmu juga sepertinya tidak jauh dariku. Apa karena kau kaya lalu aku harus takut? Karena aku duduk, maka sekarang posisiku sama denganmu yaitu tamu. Saat aku berdiri baru posisiku berubah. Ayolah! Come on! Kau tidak seperti Goo Jun Pyo kan?” jelas Ara sambil terus makan.

“Ayo makan” sambungnya.

Karena kesal melihat Woo Bin yang hanya diam saja, akhirnya Ara menyuapinya.

“Kau tidak boleh seperti itu, ada makanan di hadapanmu tapi tidak kau makan. Kau tahu betapa banyak orang yang kelaparan di luar sana. Betapa banyak orang yang mati kelaparan. Untuk itu, berterima kasih pada Tuhan dan makanlah…”

Mendengar perkataan Ara, Woo Bin mengambil sumpitnya dan mulai memakannya.

Setelah selesai makan, ternyata masih banyak makanan yang belum tersentuh, Ara tidak sanggup untuk menghabiskannya lagi. Untuk itu dia ke belakang untuk mengambil beberapa tempat untuk menaruh makanan tersebut.

“Untuk apa?” tanya Woo Bin yang memasukkan kartu atmnya ke dalam dompet.

“Sayang dibuang”

“Kalau begitu sampai jumpa lagi nona cantik Yoo Ara” kata Woo Bin sambil memukul pundak Ara dengan lembut. Tiba-tiba Ara menarik lengannya.

“Ini, jalan sedikit lurus dari sini, kemudian belok kiri, di seberang jalan sebelah kanan ada panti asuhan namanya Sarang Bit, tolong antarkan ke sana”

“Aku?” tanya Woo Bin menunjuk dirinya.

“Iya, soalnya aku sedang bekerja, tidak boleh keluar. Dan baru selesai nanti malam. Bisa basi makannya”

“Ini…” Ara menyodorkan  dua buah kantung.

Woo Bin tersenyum, “OK!”

Woo Bin menuju mobilnya dan memasukinya saat supirnya membuka pintu. Ia lalu memerintahkannya untuk berhenti di sebuah panti asuhan. Ia menatap dua kantung yang diberikan Ara tadi dengan tersenyum.

***

@Ara’s House

Ibu Hwayoung dan ketiga adiknya, serta neneknya menggeser sedikit pintu dengan pelan agar tidak ketahuan mereka sedang menguping. Mereka penasaran, lantaran sekitar pukul 5 sore, Baek Hyun datang dengan pakaian yang sangat rapi, membuat seluruh isi rumah Ara terkejut. Apalagi neneknya, Baek Hyun datang dan meminta untuk bertemu dengan kakeknya Ara.

“Saya benar-benar mencintainya, Harabeoji…” kata Baek Hyun yang duduk degan melipat kedua kakinya dan membungkuk.

“Kapan dan mengapa?” tanya Harabeoji dengan nada komandan, maklum saja beliau mantan tentara.

“Sejak pertama kali saya jumpa dengannya di pernikahan Hwayoung-ssi. Dia berbeda dengan gadis lainnya. Susah untuk dijelaskan. Tapi, saya benar-benar mencintainya”

“Kalau begitu kau harus membuktikannya. Apakah kau bersedia?”

“Bersedia” jawab Baek Hyun tanpa berpikir sedetikpun.

“Hari minggu ini, ikut saya ke Gyeongju. Apa kau siap untuk tinggal disana selama 10 hari? Kau bisa mundur sekarang juga”

Animnida. Saya siap” ucap Baek Hyun sangat serius.

***

Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Seluruh keluarga besar Ara sudah berkumpul di meja makan.

“Aku pulang…” terdengar suara Ara di depan pintu. Ia cepat-cepat masuk karena mencium aroma kimchi jigae.

Imo…se-..” Ara berhenti berbicara sejenak saat mendapati Baek Hyun yang sedang makan malam bersama keluarganya.

“Sedang apa kau di sini?” bentak Ara pada Baek Hyun.

“Kenapa seperti itu cara bicaramu pada calon suamimu?” kata bibinya.

Mwo? Calon suami?”

“Dia akan melakukan tes selama 10 hari, agar Harabeoji tahu, dia layak atau tidak bersamamu” sahut Harabeoji.

Ara menatap Baek Hyun dengan tajam, tapi yang ditatap malah senyam-senyum sendiri.

“Ayo dimakan Byun seobang…” kata paman Ara sambil menaruh beberapa potongan daging dalam mangkuk nasi Baek Hyun.

Ara hanya bisa pasrah, kehabisan kata-kata dan terduduk lemas melihatnya.

***

Woo Bin merebahkan badannya sejenak di atas kasur dan menatap jam digital yang menunjukkan 21.45. Satu per satu ingatannya mengenai Ara datang. Ia seakan mendengar Ara berbicara di dekatnya dan tersenyum padanya. Tubuhnya yang tinggi memenuhi kasur. Ia mencoba menutup matanya, namun tidak bisa. Dilepaskannya kemeja yang dikenakan hingga terlihatlah badannya yang six-pack. Mengambil piyama dan menaruhnya di bahu lalu menuju veranda.

Pertemanan Woo Bin dan Baek Hyun banyak menjadi pertanyaan banyak orang. Mereka terkadang terlihat dekat, terkadang juga terlihat seperti musuhan. Sebenarnya, mereka berteman hanya karena perusahaan Byun Resident milik ibunya Baek Hyun bekerjasama dengan perusahaan Pallace Resident milik ibunya Woo Bin. Sehingga mereka harus berpura-pura berteman dihadapan mereka.

Persaingan-persaingan mulai terjadi sejak SMP. Mulai dari persaingan ketampanan, fashion, pelajaran, bahkan soal wanitapun menjadi persaingan bagi mereka. Tidak bisa ditentukan siapa pemenangnya. Mereka sama-sama tampan dan ulzzang dan memengkan hati wanita manapun tanpa mengenal usia.

Alasan yang mudah ditebak, mengapa ia mendekati Ara, semata-mata hanya karena persaingannya dan Baek Hyun.

Woo Bin tersenyum saat mengingat semua yang terjadi diluar dugaannya. Jurus mautnya adalah memuji seorang wanita dengan killer smile, maka wanita manapun pasti akan tersipu malu dan mulai terlihat salah tingkat. Kemudian berkata sesuatu yang cheesy dan romantic sambil terus menatap wajahnya, tanpa mengalihkan pandangan sedetikpun, terus menatap tepat di matanya. Selanjutnya kembali memuji sang wanita, saat-saat inilah yang sangat penting, dengan mata dan senyumnya ia akan menunjukkan bahwa ia telah jatuh cinta. Langkah selanjutnya, meminta handphone sang wanita dengan alasan untuk mengirim pesan, sebenarnya ia menuliskan nomornya. Terakhir tinggal menunggu saja, wanita tersebut pasti akan mengirim pesan padanya. Tahap lanjut, berkencan, setelah puas selama seminggu, maka akan diputuskannya.

Semua hal tadi selalu berhasil dilakukannya, tapi tidak dengan Ara. Ia malah telihat seperti stalker atau psycho di hadapan Ara. Baru kali ini ia menemui seorang gadis sepertinya. Seorang gadis yang tidak mempedulikan rayuannya, seorang gadis yang tidak melihat ketampanannya, seorang gadis yang tidak jatuh dalam perangkapnya, seorang gadis yang memperlakukannya seperti orang biasa. Dan dua hal yang bisa dirasakannya dari sosok Ara yaitu kehangatan dan membuat jatungnya berdebar.

“Seperti inikah fall in love at fist sight?” batinnya.

***

Menikmati hari bersama Hwayoung dan Shin Hye, membuat Chanyeol sangat bahagia. Setelah mengantarkan Shin Hye ke rumah orang tua Hwayoung, karena besok ibunya Hwayoung akan mengajak Shin Hye ke Jeonju bersama dengan Halmeoni karena ada acara pernikahan teman ibu Hwayoung di sana, sekalian mengajak Shin Hye berjalan-jalan, walaupun ia harus libur sekolah selama dua hari.

Chanyeol mengantar Hwayoung ke subway station. Hwayoung harus kembali ke Ilsan karena harus bekerja. Udara malam yang dingin menusuk ke tulang, Hwayoung sesekali mengusap tangannya yang kedinginan.

“Ini…” Chanyeol menaruh jaket yang dipakainya di pundak Hwayoung.

“Nomor berapa?” tanyanya yang melihat Hwayoung melihat tiketnya.

“23…”

Mereka duduk bersebelahan, tetapi tanpa sepatah katapun. Hwayoung terdiam memikirkan sesuatu, begitu juga dengan Chanyeol.

“Kereta tujuan Ilsan…” pengumuman tentang kereta tujuan Ilsan telah tiba terdengar oleh Hwayoung yang telah berdiri menunggu datangnya kereta.

“Keretanya sudah datang. Aku pulang dulu” kata Hwayoung sambil mengembalikan jaket milik Chanyeol.

“Hati-hati…” ucap Chanyeol yang langsung pergi meninggalkan Hwayoung yang masuk ke dalam kereta.

Pintu kereta telah tertutup, Hwayoung dapat melihat punggung Chanyeol yang berjalan menjauhinya tanpa membalikkan badannya.

Annyeong, nae sarang (selamat tinggal cintaku)…” bisiknya.

 

To Be Continue…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

25 thoughts on “Chanyeol Appa! (Chapter 10)

  1. chap 11nya kapan thor, jd penasaran sama pasangan ini. jangan bercerailah spt janji nya wktu pmberkatan itu. apa yg dipersatukan Tuhan tdk boleh diceraikan manusia. ciaaah. kalau do buat film kayakny lucu krna ada shinhye baekhyun sama ahra. tapi seru chanyeol sama hwayoung. keren thor smangat nulisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s