Skizofrenia

 

Title     : Skizofrenia

Author : rindaapus

Main cast: Oh Sehun, Park Saerin and others

Genre  : angst, hurt, romance

PG       : 15 PG

Length : Oneshoot

Disclaimer: FF ini karya resmi milik author, maafkan bila banyak typo dan kesalahan~ warning!! Baca genre.

Karena cinta tak pernah memandang kekurangan~ Skizofrenia~

 

Semilir angin berhembus menerpa beberapa helaian rambut gelombang gadis cantik yang tak lain adalah Park Saerin, udara pagi ini sangat menyejukkan suasana hatinya. Begitu damai dan tentram. Perlahan, kaki putihnya mulai memasuki sebuah gedung berlantai lima yang terlihat seperti sebuah gedung sekolah. Gadis itu tersenyum kecil, ia terus memandangi sebuah kelas yang kini berada dihadapannya. Jemari tangannya memegang slot pintu, dengan perlahan pintu kelas itu terbuka.

“Anyeonghasaeyo, songsae-nim” ucapnya sambil menunduk. Seluruh isi kelas terkejut dengan kedatangan Park Saerin, puluhan pasang mata menatapnya dengan aneh.

“Park Saerin-ssi? Waeyo kau kembali ke kelas, apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Kim Songsaenim menghampiri gadis itu.

“Ne. aku tidak menyukai UKS” jawabnya masih dengan kepala tertunduk. Ia terlalu takut melihat sekelilingnya.

“Oh begitukah? Baiklah duduklah dengan tenang di tempatmu”

Saerin melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya yang berada di pojok ruang kelas, semua mata tertuju padanya. Tatapan layaknya pisau yang siap untuk mengiris-iris tubuhnya. Ia berjalan dengan kepala tertunduk.

“Kenapa dia kembali ke kelas ini? menyebalkan sekali!” ucap Jung Hani tepat ketika Saerin berjalan.

“Benar. Tidak sadarkah dia, kedatangannya di kelas ini sangat mengganggu kita?!”

“Oh lihatlah, dia bahkan terlihat sangat menakutkan dimataku” ucap Hani dengan mata yang terus menatap Saerin.

Gadis putih itu menghela nafasnya yang mulai tak beraturan, bahkan seluruh isi kelassedang membicarakannya saat ini! Tiba-tiba dadanya terasa sesak, rasa sesak yang dialaminya semakin membuncah ketika suara teman-temannya terdengar menggema di kedua telinganya.

Dasar yeoja gila!

Aku tidak menyukainya!!

Jika dia mati, hidup kita akan tenang.

Psikopat!

Manusia tak berguna!

Saerin sudah tidak tahan lagi! Gadis itu, menutup telinga dengan kedua telapak tangannya, bisik-bisik ejekan tentangnya semakin menggema, saat ini seperti ratusan anak panah menusuk-nusuk kepalanya bertubi-tubi tanpa ampun.

“AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!”

Saerin berteriak keras sambil tangannya masih menutupi kedua telinganya, ia semakin histeris tak terkontrol, dadanya semakin sesak dan kepalanya sangat sakit, suara-suara itu terdengar sangat memekakkan gendang telinganya. Kim songsaenim yang mengetahui hal itu dengan segera membawa Saerin kembali ke UKS. Semua isi kelas memandangi gadis itu dengan ekspresi takut meskipun kejadian seperti ini memang sudah biasa terjadi. Benar-benar mengganggu ketentraman kelas!

“Ck! Dasar psikopat!!” maki seorang siswa laki-laki dan di barengi tawa seluruh isi kelas, terkecuali dengan dua orang yang terlihat serius dengan buku yang mereka baca.

***

“Kita jadi belajar bersama dirumahku kan?” tanya seorang siswi, Lee Nayoung.

Namanya termasuk jejeran murid populer disekolah itu, selain wajah yang cantik nan rupawan bak model, ia juga dikaruniai otak yang cerdas, sikapnya yang santun dan pembawaannya yang ramah membuatnya disukai oleh semua murid, khususnya siswa laki-laki. Terlahir sebagai anak tunggal dari pemegang saham di salah satu perusahaan terbesar di Korea Selatan, membuatnya tak menginginkan apapun lagi, terkecuali lelaki dihadapannya. Oh Sehun.

“Tentu. Kau pulang bersamaku saja” ucap Sehun berjalan melewati Nayoung menuju tempat parkir, gadis itu tersenyum senang melihat Sehun, walaupun sikap cueknya masih lelaki itu tunjukkan padanya. Nayoung mengikuti langkah Sehun dari belakang sambil terus tersenyum kagum melihat betapa sempurnanya sosok dihadapannya itu.

Sementara itu, Park Saerin melihat mereka berdua dari kejauhan. Gadis berkuncir kuda itu terus mengamati gerak-gerik Sehun dan Nayoung. Tiba-tiba rasa sesak di dadanya muncul kembali, ia melihatnya! Gadis itu, gadis jahat! Saerin segera berlari ke arah mereka berduaIa benar-benar melihatnya! Gadis jahat itu tengah membuntuti Sehun dari belakang dan membawa sebuah pisau tajam yang siap untuk di tusukkan ke tubuh Sehun. Ia harus segera menghentikan hal itu sebelum gadis jahat itu melukai Sehun!

“Aaaa” teriak Nayoung kesakitan saat merasakan seseorang dari belakang tengah menjambak rambutnya.

Sehun yang mendengar hal itu buru-buru menolehkan kepalanya kebelakang, Park Saerin!

“Gadis jahat! Kau tidak bisa melakukan hal itu pada Sehun!” Tarikan kedua tangan Saerin semakin kuat, membuat Lee Nayoung tak henti-hentinya meringis kesakitan.

“Park Saerin! Apa yang kau lakukan huh?!” Sehun menarik tangan Saerin, menghentikan kelakuan aneh gadis itu. Nayoung memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat tarikan tangan Saerin.

“Nayoung-ssi, gwenchana?” tanya Sehun khawatir. Nayoung lagi-lagi hanya mampu tersenyum mengabaikan rasa sakitnya melihat sikap Sehun yang belakangan ini terlihat sering memperdulikannya.

“Gwenchana” Nayoung mencoba meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya baik-baik saja.

Kini pandangan mata Sehun tertuju pada Saerin, ia masih mencengkram erat lengan gadis itu yang terus mencoba memberontak. Mata hitam Sehun menatap tajam Saerin.

“Lepaskan aku! Aku akan menghentikan kejahatan gadis itu!” Saerin terus meronta-ronta meminta Sehun untuk melepaskan cengkraman di lengannya.

“Ani, sebelum kau menghentikan sikap anehmu!”

“Dia akan membunuhmu Oh Sehun! Gadis jahat itu akan menikammu dengan pisau dari belakang. Aku melihatnya! Aku melihat dengan mata kepalaku!” Saerin mencoba meyakinkan lelaki itu dengan apa yang baru saja dilihatnya, sementara itu Nayoung terlihat bingung dengan perkataan Saerin. Membunuh? Menikam? Pisau? Sebenarnya apa yang sedang Saerin bicarakan?

Sehun tersenyum tak percaya dengan ucapan Saerin, gadis itu selalu berkhayal yang aneh-aneh. Saerin tidak bisa membedakan antara realita dan khayalannya, ia tidak bisa!

“Aku tidak percaya” ucap Sehun namun dengan cepat Saerin menggigit tangan Sehun dengan kencang membuat pria itu dengan reflek melepaskan cengkramannya.

Saerin segera mendekati Nayoung. Bukk. Sebuah pukulan mendarat tepat diwajah Nayoung, tangan Saerin mulai menjambak rambut gadis itu. Nayoung tak mampu menghindar karena serangan bertubi-tubi dari Saerin. Sehun yang melihat hal itu, dengan cepat menarik tubuh Saerin yang semakin histeris. Namun  tenaga Saerin rupanya tak main-main, ia begitu sulit menjauhkannya dari Nayoung. Mau tak mau, Sehun menarik tubuh Saerin dan mendorong tubuhnya dengan kasar. Lelaki itu melihat yeoja dihadapannya dengan penampilan yang acak-acakan, darah segar keluar dari hidung yeoja cantik itu.

“Gwenchana? Akan ku antar kau pulang”

Sehun segera membawa Nayoung pergi dari tempat itu, meninggalkan Saerin yang terjatuh tanpa meninggalkan sepatah katapun. Gadis yang dijuluki psikopat itu meringis kesakitan, merasakan lututnya yang sedikit nyeri. Luka!

Saerin merasakan sakit itu lagi, sesak yang memenuhi dadanya ketika melihat luka di lututnya. Ia menggigit tangannya yang mulai bergemetar hebat. Sehun menyakitinya, pria itu melukainya!

***

Glup glup glup glup. Gelembung udara keluar dari hidung gadis yang saat ini tengah merendam kepalanya kedalam bath up kamar mandi. Glup glup glup glup. Sedari tadi ia terus melakukan hal itu sampai perutnya terasa panas karena terlalu lama berada didalam air. Saerin mengangkat kepalanya, merasakan udara bebas yang masuk kehidungnya.

“Aku akan melakukannya sendiri..” kalimat itupula yang terus keluar dari mulutnya, ia terus meracau mengucapkan kalimat itu dan kembali menenggelamkan kepalanya. Glup glup glup glup glup glup…. Saerin mengangkat kepalanya yang ia rasa sudah tak mampu untuk bernafas. Gadis itu selalu melakukan hal itu, percobaan bunuh diri.

“Aku akan melakukannya sendiri..” ucapnya yang kesekian kali, Saerin berjalan ke dapur.srekkkk. Sebuah pisau tajam merobek lengan kirinya, bau anyir darah segar tak henti mengalir dan tak sedikit yang berceceran dilantai.

Pintu apartemen gadis itu terbuka, dengan cemas Sehun mencari Saerin berada. Darah?Darah segar berceceran dilantai. Lelaki itu sudah menduga! Saerin pasti akan mencoba bunuh diri lagi, Sehun segera mengikuti arah bercak darah itu sebelum semuanya terlambat!

Gadis yang dijuluki psikopat itu melangkahkan kakinya masuk kedalam air dalam bath up yang digunakannya tadi. Perlahan, ia merendam tubuh mungilnya. Seketika air dalam bath up berubah menjadi kemerahan dari darah yang mengalir dari lengannya, luka itu bertambah perih saat terkena air. Tangan kirinya masih membawa pisau tajam, Saerin menyandarkan kepalanya, mata hitam miliknya menatap kosong pisau tajam dihadapannya.

“PARK SAERIN!!” teriak Sehun tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki itu segera mendekati Saerin.

“Saerin-a. kumohon jauhkan pisau itu…” ucap Sehun cemas, ia takut Saerin melakukan hal yang ceroboh. Saerin seperti tak merespon perkataan Sehun, pandangan matanya kosong.

“Saerin-a. kau bisa mendengarku?”

“Kumohon letakkan pisau itu” Sehun memelas, memohon gadis itu untuk meletakkan pisau tajam itu.

“Jika kau mendekat, aku akan membunuhmu!” ancam Saerin sambil menodong Sehun dengan pisau yang dipegangnya. Ekspresi wajahnya sangat menyeramkan.

“Kumohon letakkan benda itu..” ia harus menyingkirkan pisau itu dari Saerin!

Sehun mendekati Saerin perlahan, “Selangkah lagi kau mendekatiku, aku akan membunuhmu!” lelaki itu tak memperdulikan ucapan Saerin. Srekkkk. Gadis itu tak pernah main-main dengan ucapannya.

“Kau orang jahat! Kau melukaiku! Aku bisa melakukannya sendiri.. apa kau tidak lihat? Aku bisa melakukan itu sendiri!” suara Saerin terdengar sangat payau, sedetik kemudian air mata itu menetes dari sudut mata indanya. Ia benar-benar memiliki masa lalu yang buruk.

Sehun meringis merasakan nyeri ditelapak tangannya, bau anyir darah tercium menusuk indra penciumannya. “Miannhae…” ringis Sehun kesakitan namun masih mencoba mengambil alih pisau itu dari tangan Saerin, tak diduga gadis itu membiarkan Sehun mengambilnya. Perlahan, Sehun mulai memahami Saerin. Lelaki itu tersenyum singkat penuh kelegaan, ia menarik Saerin  keluar dari bath up yang penuh darah.

***

Sehun membawa sepiring buah apel merah ditangan kanannya, sedangkan di tangan kiri lelaki tampan itu tengah menggendong seekor anak kucing Persia berbulu putih tebal dengan penuh sayang.

Cklekk. Pintu apartemen Saerin terbuka, Sehun dan Saerin memang bertetangga. Apartemen keduanya hanya berjarak tiga ruangan saja. Sehun merupakan siswa pindahan dari Jepang dua tahun yang lalu. Semenjak kepindahannya, ia terus memperhatikkan gerak-gerik Saerin yang dianggapnya sangat aneh, gadis itu sangat cepat merubah ekspresinya dari sedih menjadi bahagia, begitu juga sebaliknya. Tak jarang ia mendengar gadis itu berbicara sendiri.                        Sehun baru mengerti setelah mendengar cerita dari para tetangganya jika Saerin memang menderita penyakit Skizofrenia –sebuah penyakit kejiwaan serius yang menyebabkan ia kesulitan membedakan antara realita dan khayalan-karena masa lalunya yang buruk. Lelaki itu merasa iba dan mencoba berteman dengan gadis itu. dan sejauh ini hanya dirinya yang mau berteman dengan Saerin dan hanya dirinya yang dianggap teman oleh Saerin.

Sehun juga mengerti kode apartemen Saerin karena dirinya sering datang untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja,  membawakan makanan, atau hanya sekedar berkunjung jika ia bosan. Entah kenapa, Sehun menyukai itu. Semua orang tahu bahwa Saerin adalah seorang penderita Sikrozofenia berjiwa psikopat, tak terkecuali dirinya. Namun ketika melihat Saerin tertawa bahagia dalam dunianya, ia lega. Karena tak ada yang terluka sejauh itu. Baik Saerin maupun orang lain yang berada didekatnya.

“Kau merasa lebih baik?” tanya Sehun menghampiri Saerin yang duduk di atas sofa, lengan kiri gadis itu masih berbalut kain putih karena goresan pisau kemarin, Saerin terlihat asyik mendandani sebuah boneka hello kitty berukuran besar dihadapannya sambil bersenandung kecil. Sehun tak kuasa menahan senyumnya melihat Saerin yang tenang. Lelaki itu menaruh sepiring apel merah itu di meja.

“Aww..” ringis Sehun ketika kucing persianya mencakar telapak tangannya yang masih terluka. Saerin menghentikan aktivitasnya, ia memandangi Sehun yang sedang kesakitan.

“Kucing nakal..” ucap Sehun memeluk erat kucing itu dalam dekapannya.

“Ah aku melupakan sesuatu. Saerin-a, aku akan kembali” Sehun meletakkan anak kucing itu ke atas meja dekat sepiring apel merah, kemudian berlalu pergi menuju apartemennya.

Saerin menatap kucing itu dengan pandangan kosong, “Kau sudah menyakiti Sehun” Saerin segera mengambil pisau buah didalam piring itu.

“Aku kembali~” Brukkkk.. sekotak makan siang untuk anak kucing barunya terjatuh ketika ia melihat Saerin dengan baju penuh bercak darah sambil menggenggam pisau di tangan kanannya. Mata hitamnya turun melihat keatas meja, kucing barunya.

“Dia menyakitimu! Kau tenang saja. Aku akan melenyapkannya” Saerin bersiap untuk menancapkan kembali pisau itu ketubuh anak kucing yang sudah tak berbentuk itu, namun dengan cepat Sehun mencegahnya.

“Hentikan! Kau tidak perlu melakukan itu” Sehun menggenggam erat tangan Saerin, matanya menatap sedih sekaligus ingin mual melihat pemandangan di atas meja itu.Kucing yang malang. Sehun melihat bercak-bercak darah yang juga mengalir dilantai, ia menarik tubuh Saerin keluar dan berjalan menuju apartemennya, Saerin hanya diam dan menurut.

“Mandilah dan ganti pakaianmu dengan ini, setelah itu beristirahatlah disini. Aku akan memanggil petugas layanan kebersihan untuk membereskan semuanya” Saerin menurut apa yang diperintahkan oleh lelaki itu.

“Baru dua hari yang lalu aku memiliknya~” lirih Sehun tertunduk lemas.

***

“Apa kau tidak berniat untuk kembali ke Jepang?” tanya seorang siswa laki-laki, Kai.

“Ani. Aku lebih senang berada disini. Meskipun jauh dari orang tua”

“Tapi bukankah memang benar, berada di satu atap dengan orang tua seperti terpenjara hahaha” keduanya tertawa di hari yang membahagiakan sekaligus mengharukan itu. Hari dimana mereka melepaskan statusnya sebagai murid SMA dan melanjutkan cita-cita yang selama ini mereka impikan. Masa depan telah menanti mereka dengan senyuman ceria –wisuda.

“Anyeonghaseo Oppa-deul” sapa seseorang yang tak lain adalah Lee Nayoung, yeoja terkenal yang banyak dikagumi oleh para pria. Sehun dan Kai reflek menolehkan kepalanya. Kai menatap  Nayoung dengan tatapan kagum, matanya tak sedetikpun ia lewatkan dari wajah cantik yeoja itu.

“Oh. Anyeonghaseo, Nayoung-ssi” jawab Sehun, lelaki itu menyikut pelan bahu Kai yang terlihat sedang tak berkonsentrasi.

“Oh.. Hehe. Mianhae. Anyeonghaseo, Lee Nayoung-ssi” Kai membungkuk pelan kearah gadis itu, ia kemudian berpamitan karena teman-temannya yang lain sedang menunggunya.

“Dia memang seperti itu” ucap Sehun di barengi dengan senyum yang membuat Nayoung semakin gila di buatnya.

“Em.. Saerin oddiseo? Aku tak melihatnya. Apa dia tak datang?” tanya Nayoung, Sehun baru menyadari bahwa ia juga tak melihat gadis itu sama sekali. Apa dia sakit?

“Aku bertaruh dia akan mati didalam sana hahaha” tawa Hani dibarengi tawa kedua teman-temannya melewati Oh Sehun dan Nayoung begitu saja. Sehun mulai curiga dengan geng pembuat masalah itu.

“Gadis psikopat itu tak ada gunanya untuk hidup. Bukankah begitu?” tanya Hani kepada teman-temannya.

“Siapa gadis psikopat yang kau maksud?” Sehun berjalan mendekati Hani dan teman-temannya, sementara Nayoung mengikutinya dari belakang.

“Siapa lagi kalau bukan Park Saerin, gadis berpenyakit jiwa itu” jawab Hani enteng, Sehun mengepalkan tangannya erat. Selama ini ia sudah diam tak menghiraukan perlakuan teman-temannya pada Saerin karena semakin ia peduli, semakin banyak yang membenci Saerin. Tapi sekarang, persetan dengan semuanya!

“Apa yang kalian lakukan padanya!?” gertak Sehun mencengkram kuat bahu Hani, gadis itu meringis kesakitan. Semua murid terkejut dengan sikap lelaki itu, selama ini yang mereka tahu Sehun tidak pernah peduli pada Saerin.

“Sehun Oppa, waeyo kau bertingkah seperti ini?” tanya salah seorang teman Hani. Kim Yejin.

“Dimana Park Saerin?” Sehun tak menggubris pertanyaan Yejin, lelaki itu malah semakin mempererat cengkramannya di bahu Hani. Yeoja itu hanya mampu meringis kesakitan

“Kau seperti bukan dirimu, kenapa kau bertingkah seperti ini?” tambah Kim Yejin.

Sehun sudah merasa muak dengan semua ini, dari awal seharusnya ia menjaga Saerin. Ia berfikir jika dirinya melindungi gadis itu, pasti para siswi semakin membenci Saerin karena ia termasuk golongan siswa populer disekolahnya. Namun sekarang semua sudah selesai, toh masa SMA sudah berakhir hari ini juga.

“Aku kau tanya sekali lagi dimana Park Saerin?!!!!!!”

***

Sementara itu, Saerin duduk dengan memeluk lututnya erat. Tubuh Saerin bergemetar hebat, kondisinya sangat buruk saat ini. Seragam wisudanya basah kuyup, rambut acak-acakan, hidungnya mengeluarkan darah dan juga beberapa luka di tubuhnya. Dada Saerin kembali sesak, selalu seperti itu ketika ia melihat luka. Ribuan jarum terasa menusuk-nusuk kepalanya saat ini. Pandangannya mengabur namun sedetik kemudian matanya melihat pemandangan yang begitu menyakitkan.

“Kau tahu kenapa aku sangat membencimu gadis buruk rupa? Huh!?” tanya bibi Park, tangan kirinyanya menarik kuat rambut seorang anak berusia 7 tahun. Dijambaknya rambut itu dengan kuat kebelakang. Sementara itu, Saerin kecil hanya mampu meringis kesakitan.

“Jawab aku anak dungu?!!” teriaknya memukul kepala Saerin berulang-ulang dengan tangan kanannya.

“Mo.. molla.. Bi…bi Park..” jawab Saerin kecil menahan rasa sakitnya. Brakkkk. Mendengar jawaban itu,  didorongnya tubuh kecil Saerin dengan kasar.

“Wajahmu!! Wajahmu sangat mirip dengan ibumu! Dan aku membencinyaaa!!!” kedua tangan Bibi Park mencekik leher Saerin. Gadis kecil itu menendang-nendang kakinya, ia tidak bisa bernafas.

“Ayahmu menikahi Ibumu yang jelas-jelas adalah seorang psikopat! Ibumu sudah mencemarkan nama baik keluarga ini!!!” teriaknya mendorong tubuh Saerin, gadis kecil itu langsung terbatuk-batuk, setidaknya ia lega sudah bisa bernafas.

“Kau pantas untuk mati! jika kau hidup untuk waktu yang lama. Kau akan mewarisi sifat Ibumu yang psikopat itu! Kehormatan keluarga ini akan semakin tercemar!”

Byuuuuur. Ember yang berisi air es itu mengguyur seluruh tubuh mungilnya. Saerin menggigil kedinginan, wajahnya sangat pucat. Bibinya selalu melakukan hal itu padanya semenjak 3 bulan terakhir, sejak Ayah dan Ibunya meninggal. Bibi Park melemparkan rotan ke arah Saerin.

“Pukul dirimu sendiri” kata Bibi Park dengan wajahnya yang sangat menakutkan dimata Saerin kecil.

“Mw.. mwo? Apa yang bibi katakan?” jawabnya menggigil.

“Pukul dirimu sendiri dengan rotan itu!!” teriak Bibi Park tepat dihadapan wajah Saerin.

Saerin kecil hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan bibinya, ia terlalu takut untuk melawan. Wajahnya sangat pucat, bibirnya membiru. Perlahan tangannya mengambil rotan itu. Plaakk..plakkk.. Saerin kecil memukulkan rotan itu ke lengannya, ia sangat lemas merasakan penyiksaan yang dilakukan setiap saat oleh Bibinya.

“Lebih keras lagi!!!” gertaknya membuat Saerin semakin takut, plakkk…plakkkk..plaak.. Saerin kecil mengeraskan pukulan itu di lengan kirinya, air matanya tak henti mengalir. Ia sudah tidak tahan, tenaganya sudah terkuras habis.

***

Byuuuurr.. Ember berisi air es seperti biasa mengguyur wajahnya di pagi hari.

“Bangunnnnn!! Apa kau sudah mati hah?” bentak Bibi Park. Saerin kecil buru-buru terbangun dari tidurnya. Ia tak berpindah tempat sejak tadi malam, gadis itu pingsan dan tertidur di tempat itu hingga pagi.

“Setelah ini kau harus mengerjakan semua tugas rumah, mencuci baju, mencuci piring, memasak, menyapu, mengepel, menyetrika, dan semuanya harus kau lakukan dengan benar! Araaaa!!” bentaknya lagi-lagi. Bibi Park memang tak menyukainya sejak dulu saat Ayah dan Ibunya masih hidup, beliau tak pernah berkata yang halus padanya. Gadis kecil itu hanya mampu mengangguk lemah, semua bagian tubuhnya terasa nyeri. Bibi Park mengambil rotan disamping tubuh Saerin.

“Untuk sapaan pagi” ucapnya dengan senyum bak iblis bersiap untuk memukulkannya ke tubuh Saerin.

“Aku akan melakukannya sendiri..” kata Saerin meraih rotan itu, ia lebih lega melakukan hal itu sendiri. Setidaknya, yang membuatnya terluka adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jadi, tidak ada yang bisa disalahkan disini. Plakk… plaakk..

“Kemarikan rotan itu jika kau tidak memukuli dirimu sendiri dengan keras, aku yang akan memukulimu!” ancamnya.

“Aku akan melakukannya sendiri..” ucap gadis kecil itu kesekian kalinya.

“Kau tahu kenapa Ibumu bisa meninggal?” Gadis kecil itu menggeleng pelan.

“Karena aku membunuhnya!” Saerin tercengang mendengar ucapan yang keluar dari mulut bibinya, tubuhnya gemetar. Bibi Park benar-benar kejam!

“Aku juga membunuh Ayahmu agar aku lebih leluasa untuk selanjutnya membunuhmu” Saerin semakin mengepalkan kedua tangannya erat, ia tidak percaya sebuah ikatan darah bisa terputus dengan mudahnya. Mata gadis kecil itu menyilatkan kemarahan.

“Apa bibi tidak ingin meminta maaf?” tanya gadis itu polos.

“Hahahaha minta maaf? Aku tidak akan pernah melakukannya!” teriaknya.

“Kumohon minta maaflah pada Ayah dan Ibu”

“Mwo? Apa saat ini kau sedang menyuruhku? Lalu setelah aku meminta maaf pada mereka, selanjutnya kau akan menyuruhku untuk meminta maaf padamu, begitu?!! Beraninya kau memerintahku!!!!” tendangan bertubi-tubi dari Bibi Park Saerin kecil dapatkan, ia hanya mampu diam, menangis, berharap semua ini akan segera berakhir.

 Sehari setelah kejadian itu, sebuah kejaian mengejutkan tejadi. Bibi Park meninggal karena sebuah peluru menembus dada sebelah kirinya oleh seorang polisi. Ya.. sepandai apapun tupai melompat, pasti ia akan terjatuh juga. Begitu pula dengan kejahatan yang dilakukan Bibi Park semuanya terbongkar. Ia telah membunuh Ibu dan Ayah Saerin, ia juga telah menyiksa gadis itu setiap hari. Mati! adalah kata yang pantas untuk wanita iblis itu.

Namun semenjak kematian Bibi Park yang dilihat dengan langsung oleh Saerin, gadis itu menjadi sedikit berubah. Kondisi kejiwaan dan mentalnya terganggu. Hal itu karena tekanan yang selalu dialaminya dan juga factor genetic yang diwariskan oleh Ibunya. Dalam hidupnya, ia beranggapan Bibi Park belum mati. Dia masih hidup dan terus mengajak Saerin ke tempat dimana bibinya berada, Bibi Park selalu muncul dihadapannya ketika Saerin berniat untuk mengakhiri hidupnya.

“Aku akan melakukannya sendiri…” ucap Saerin tak tenang, ia mencari-cari sesuatu diruangan itu yang dianggap bisa melukai tubuhnya. Tak beberapa lama, sebuah tongkat kayu berukuran 1 m berhasil ia temukan. Gadis itu bersiap memukul tubuhnya sendiri.

“Aku akan melakuka….” Kegiatannya terhenti ketika ponsel putih miliknya bergetar. Dadanya bergemuruh hebat, Bibi Park pasti sedang mengintainya, mengajaknya bermain ketempatnya. Bibi Park orang jahat! Tubuh Saerin bergemetar hebat, tangannya mengeluarkan keringat dingin. Ponselnya tak berhenti berdering, ia mengambil ponsel disakunya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Oh Sehun calling.. bahkan Bibi Park sudah merencanakan hal ini! ia sengaja merubah namanya menjadi Oh Sehun untuk mengintainya setiap saat, Orang jahat itu pasti ada disekitar sini. Bibi Park pasti akan menemuinya dan membunuhnya. Tidak! Ia harus selangkah lebih dulu membunuh iblis itu.

Khayalan Saerin semakin tak terkontrol, ia tidak bisa membedakan antara realita dan ilusinya. Saerin memegang tongkat itu erat-erat, gadis itu harus membunuh iblis yang selama ini mengganggunya. Braaakkk.. Pintu ruangan itu terbuka dengan reflek Saerin melemparkan tongkat itu kearah kepala Sehun. Sayang sekali, lemparannya tak meleset sedikitpun membuat Sehun memegangi dahinya yang mengeluarkan darah, Nayoung yang melihat hal itu langsung berteriak meminta tolong agar Saerin dan Sehun cepat bawa ke rumah sakit.

***

“Sehun Oppa, kau harus mengobati luka dikepalamu” ucap Nayoung menghampiri Sehun yang sedang duduk didepan ruangan Saerin, menunggu gadis itu diperiksa oleh dokter.

“Ani-ya.. Gwencahana. Hanya sedikit goresan” ucap Sehun mengeluarkan senyuman yang membuat Nayoung semakin menggilainya.

“Andwae! Ayo ikut aku” Nayoung menarik tangan Sehun, membawanya ke taman belakang rumah sakit. Gadis cantik itu mengeluarkan kotak P3k didalam tasnya. Dan mulai merawat luka Sehun.

“Gomawo.. Tapi kenapa kau membawa benda-benda seperti ini?” tanya Sehun.

“Ne.. karena aku sangat ingin menjadi dokter” jawab Nayoung sambil tersenyum, senyum yang membuat semua pria berdesir.

“Benarkah? Kupikir kau akan bekerja di perusahaan Ayahmu”

“Aku akan menyerahkannya pada suamiku kelak” ucap Nayoung memberi kode kepada Sehun, ia ingin pria itu yang akan menggantikan posisi Appanya.

“Oh seperti itu” jawab Sehun sambil memangut-mangutkan kepalanya, Nayoung mengerucutkan bibirnya kesal. Rupanya, pria itu tak juga menyadari bahwa ia sangat menyukai Sehun. mungkinkah ini saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya? Toh, ia pernah berjanji akan menyampaikan perasaannya pada Sehun saat acara wisuda sekolah. Benar, ia tak boleh mengulur waktu lagi.

“Sehun Oppa?”

“Ne”

“Aku tahu ini bukanlah waktu yang tepat karena kau dan Saerin dalam kondisi yang tidak baik. Tapi kupikir aku harus mengatakan ini padamu. Sejujurnya, aku sangat menyukaimu. Aku sudah lama memendam perasaanku, aku tidak membutuhkan apapun lagi selain kau. Aku berharap kau juga memiliki perasaan yang sama denganku” kata Nayoung sambil menundukkan kepalanya, sejujurnya saja ia sangat malu mengatakan ini. ia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, biasanya para pria yang selalu mengejarnya.

“Mianhae Nayoung-ssi. Tapi kupikir lebih baik kita berteman saja” ucap Sehun menggenggam tangan Nayoung, Sehun tidak tega melihat ekspresi wajah Nayoung yang seperti itu.

“Wae?” tanya Nayoung mengangkat kepalanya. Sehun bangkit dan berbalik membelakangi Nayoung.

“Aku berfikir jika ada seseorang yang lebih membutuhkanku” jawab Sehun sambil melangkahkan kakinya pergi.

“Kau menyukai Serin? Bukankah dia sakit?” tanya Nayoung, ia masih berharap Sehun akan membalikkan badannya dan mengatakan bahwa lelaki itu mencintainya.

“Bukankah cinta memang tak pernah memandang kekurangan?” tanya Sehun melirik Nayoung sekilas kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Nayoung yang berlinang air mata karena mendapat penolakan dari Sehun.

***

Sehun melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Saerin berada. Greepp. Lelaki itu mendekap dari belakang tubuh mungil Saerin yang terkejut atas perlakuan Sehun, ia meletakkan dagunya dipundak gadis itu.

“Melamun lagi?” tanya Sehun tanpa melepaskan dekapannya.

“Aku hanya mengingat masa-masa SMA kita” ucap Saerin sambil tersenyum rindu, tangannya menggenggam lembut lengan Sehun yang mendekap tubuhnya.

“Jadwal penerbangan dua jam lagi, kita harus segera kembali ke Amerika untuk pengobatan terakhirmu”

“Arraseo”

“Kau harus melakukannya dengan cepat dan sungguh-sungguh agar kita cepat menikah” kata Sehun dengan entengnya.

“Mwo? menikah?” tanya Saerin melepaskan dekapan Sehun, ia terlalu terkejut.

“Tentu saja, apa kau tidak mau menikah denganku?” tanya Sehun.

-end-

 

Hai, untuk sequel kalian bisa langsung kunjungi wp author karena mungkin author bakal disibukkin sama ujian, gomawo^^

http://www.rindaapus.wordpress.com

6 thoughts on “Skizofrenia

  1. endingnya agak gimana gitu ya,, hahah endingnya kecepetan gak sih??
    setau aku dia sm sehun masih disekolah saat saerin dikerjain sm temen temennya,, tp kok akhirnya udh diminta ke amerika sm sehun terus ada kata kata menikah hahaha

    1. Hai, thanks bgt udah kasih coment. ini ceritanya lagi flashback gitu. jadi pas saerin buka pintu kelas itu dia flasback ke jaman SMA. Baca juga sequelnya yaa^^ click aja linknya.

  2. endingnya ko gitu say huaaaaa…
    kejer nih gua kalo cuma gitu doang huaaaa….

    padahal bagus ceritanya kenapa gak dibikin longshoot aja sih biar keyen ceritany huaaaa…

  3. well, ceritanya bagus.. ^^b, cuman mungkin karena ini oneshoot, jadi agak padet banget.. kalo di panjagin dikit, pasti tambah T.O.P!!

  4. Coba dikembangin lagi. Dibikin jadi berapa chapter gitu jadinya bakal bagus banget!!!! Berasa nonton drama bacanya keren idenya aku sukaaa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s