Carmine (Chapter 1)

jongin14

Carmine – Part.1

By : Ririn Setyo

Kwon Eunji || Kim Jongin || Song Jiyeon

Genre : Romance ( PG – 15)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya http://www.ririnsetyo.wordpress.com

“Kenapa aku harus menyukainya?”

“Karena dia tampan.”

“Iya, aku tahu dia tampan, malahan kelewat tampan. Lantas?”

Jiyeon menghembuskan napasnya, dia melirik Eunji sepintas, lalu kembali sibuk memandangi salah satu pria tinggi yang tengah bermain basket dengan teman-temannya di lapangan terbuka, di belakang sekolah dekat taman. Jam istirahat sebentar lagi usai, tapi tidak ada satu siswi pun yang mau beranjak dari pinggir lapangan, ataupun dari bangku taman yang menghadap lapangan. Semua orang masih terlalu asik melihat pria-pria tinggi, tampan, berebut bola oranye besar. Meski berkeringat, terengah-engah, dan tidak peduli sama sekali dengan kehadiran mereka, tapi mereka, termasuk Jiyeon dan Eunji, tetap saja meneriakkan kata-kata penyemangat untuk pria-pria itu.

“Sebentar lagi kau delapan belas tahun, Eunji.”

“Iya, lalu?”

Jiyeon menarik napas panjang berulang-ulang, lalu duduk merapat di sisi Kwon Eunji, sahabatnya, mereka sudah saling kenal semenjak masih berusia tiga tahun.

“Memangnya kau tidak ingin punya pacar?”

Mata kanan Jiyeon berkedip, menunggu reaksi Eunji yang justru hanya memandangnya bingung.

“Ingin, tapi apa hubungannya dengan Jongin?”

“Ayolah, Eunji.”

“Apanya?”

“Aku akan menjodohkanmu dengan Jongin, bagaimana? kau mau ‘kan?”

Seketika Eunji tertawa, bahkan sampai terbahak-bahak. Dia menekan kening putih Jiyeon dengan telunjuknya, Jiyeon cemberut, dia kesal bukan kepalang.

“Apanya yang lucu?” tanya Jiyeon.

“Kau.”

“Aku?”

“Iya, kau. Kenapa dari sederet pria di sekolah kita, harus Kim Jongin?”

“Karena dia tampan dan baik hati.”

“Aku pasti ditolak, Jiyeon. Aku ini bukan tipenya, aku tahu itu.”

“Dari mana kau tahu?”

“Lebih masuk akal jika Jongin menyukaimu. Kau sangat cantik sedangkan aku,”

“Kwon Eunji.”

“Itu kenyataannya. Sudahlah, berhenti bercanda. Lebih baik kau sebutkan nama pria selanjutnya yang akan kau jadikan pacar, siapa? Chanyeol, Zitao, Yixing, siapa, eoh?”

“Aku sedang tidak berminat punya pacar, mereka semua payah.”

“Wuah, benarkah? Apa Kris benar-benar sulit dilupakan? Kau bilang dia laki-laki brengsek.”

“Memang dia brengsek.”

Eunji tertawa, kentara sekali jika dia sedang mengejek Song Jiyeon.

Jiyeon cantik, ramping, tidak terlalu pendek, dan berlekuk dalam posisi pas di beberapa bagian yang seharusnya. Iris hitamnya tampak bening, kulit putih susu, rambut panjang berkilau seperti mutiara hitam, ketika sedang marah pipi putih Jiyeon akan bersemu merah jambu. Banyak sekali pria di sekolah mereka yang suka pada Jiyeon, tapi Jiyeon bukan gadis yang mudah ditaklukkan, terhitung dia hanya punya dua mantan kekasih sejak mereka sekolah di GreenHigh Internasional School.

Sangat berbeda jauh dengan Kwon Eunji. Dia pendek hanya 161 centimeter, matanya sipit nyaris tanpa lipatan, wajah bulat, tidak terlalu mancung, pucat, kurus. Kwon Eunji jauh dari standar cantik yang ada di negerinya, meski Jiyeon selalu mengatakan jika Eunji sangat menarik dan punya daya tarik tersendiri yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Eunji juga tidak sekuat Jiyeon, dia tidak suka olah raga, dia selalu saja demam jika mencoba berolah raga. Eunji juga bukan siswi pintar, prestasinya hanya sebatas peringkat lima belas di kelasnya. Dengan semua keterbatasannya, Eunji selalu enggan punya pacar, dia terlalu tak punya nyali jika pria yang disukainya menolak, karena alasan klasik yang menyakitkan. Dia bukan gadis cantik.

“Sudahlah, ayo kita kembali. Sebentar lagi kelas Science Mr. Bang dimulai, dia akan membunuh kita berdua jika terlambat.”

Eunji bangkit, dia menarik Jiyeon, tidak peduli ketika Jiyeon menolak, gadis itu masih ingin melihat aksi Jongin melempar bola ke dalam keranjang. Kim Jongin, kapten basket sekolah mereka itu, sangat ahli dalam menciptakan tembakan tiga angka.

~000~

Meyakinkan Eunji untuk punya pacar sama saja seperti meminta gadis itu untuk olah raga. Susahnya minta ampun, Eunji selalu berkilah ini itu, memiliki segudang alasan untuk menolak sederet pria yang Jiyeon tawarkan pada gadis itu.

“Baiklah, kalau begitu pilihan yang tersisa hanya Kim Jongin.”

“Ah, dia lagi, dia lagi. Kenapa harus ada nama Jongin sih?”

“Karena dia adalah pria terbaik dari pria-pria yang ada di sekolah kita, aku sangat yakin kau akan bahagia jika bersamanya.”

“Cih, kau seperti Cenayang. Tahu dari mana aku akan bahagia dengannya? Diterima sebagai kekasihnya saja sulit, mustahil, Song Jiyeon.”

Eunji cemberut, Jiyeon tidak peduli. Di atas meja kaca di depan mereka tersaji black forest bikinan ibunda Jiyeon, cake favorit Jiyeon dan Eunji sejak kecil. Semilir angin senja menyapa keduanya, beranda kamar Jiyeon terasa lebih dingin di awal musim semi. Jiyeon menyuapkan sepotong black forest ke dalam mulutnya, dia mengamati Eunji sebentar, lalu berkata :

“Kau cantik dan menyenangkan, Jongin pasti menyukaimu.”

“Jangan bercanda, cantik dari mananya? Samantha vs Eunji, eoh pasti akan terlihat seperti Beauty and the Beast.”

Eunji mengukir namanya dan Samantha dengan ujung garpu yang digenggamnya, lalu menaikkan bahu, kembali menyantap cake banyak-banyak ke dalam mulutnya.

“Semua wanita di dunia ini cantik, Nona Kwon.”

“Tapi tetap saja, mata tidak bisa dibohongi.”

Jiyeon menyeringai, dia mulai muak dengan Eunji yang selalu saja menjelekkan dirinya sendiri.

“Aku berani bertaruh, Kim Jongin pasti menyukaimu, jika saja kau mau menampakkan dirimu di depannya.”

“Aku tidak suka berhayal.”

“Ah, bagaimana jika selama ini, ternyata Jongin menyukaimu diam-diam?”

“Mustahil.”

“Mungkin saja, kalian kan sering bertemu. Ayolah Eun, kalian sangat cocok. Mau ya, aku jodohkan dengan Jongin?”

“Jawabanku tetap tidak, tidak dan tidak, titik.”

“Eunji?”

“TIDAK!”

“Terserah.”

Jiyeon kesal, dia memilih menikmati cake dan menghentikan perdebatan konyolnya bersama Eunji.

~000~

Siapa yang tidak kenal sosok Kim Jongin di GreenHigh Internasional School, dia sangat ramah, pintar, kapten basket, penerus tahta dari salah satu perusahaan besar di Korea Selatan. Jongin jauh dari predikat playboy tengik, meski dia bisa melakukan itu dengan wajah tampannya. Dulu Jongin punya kekasih, Samantha Kim, gadis paling cantik di sekolah mereka, tapi hubungan mereka kandas setelah satu tahun terjalin. Sejak saat itu Jongin belum pernah memproklamirkan gadis lain sebagai kekasihnya.

Terlalu banyak gadis yang menyukai Jongin, tapi belum ada satu pun yang menarik perhatiannya. Dia sudah melupakan Samantha, tapi belum yakin untuk menjalin hubungan baru. Tapi itu dulu, sebelum dia menyadari keberadaan Kwon Eunji. Gadis yang selama ini tidak pernah terlihat di jangkauan matanya, gadis yang selalu hanya bersembunyi di balik bahu Jiyeon dan tidak pernah menyapanya. Jongin mengenal Jiyeon sejak gadis itu berpacaran dengan Kris, sahabatnya. Dia kerap bertemu Jiyeon tiap kali Kris membawa gadis itu untuk berkumpul bersama, dan sejujurnya tiap itu juga dia bertemu Eunji.

“Aku benar-benar tidak bisa meyakinkan Eunji untuk menyukaimu, Jong. Dia sangat pesimis dan menganggapku hanya membual.”

Kata-kata Jiyeon kemarin kembali terngiang di dalam benak, menari-nari di pikiran, hingga membuat suasana hati Jongin menjadi agak kelabu. Jongin meminta bantuan Jiyeon untuk menjadi comblang antara dirinya dan Eunji, gadis yang berhasil mengusik detak jantungnya. Jongin masih sangat ingat dengan senyum gugup Eunji beberapa minggu lalu, ketika mereka tidak sengaja hampir bertabrakan di depan pintu lapangan basket in door.

“Eoh, Jongin, maafkan aku.”

Hanya kata itu yang terucap ketika tangan kecil Eunji menyentuh dadanya, sentuhan singkat yang berhasil membuat jantung Jongin berdetak kencang, kelu, wajahnya bersemu merah jambu. Dia hanya memandangi Eunji yang gugup, lalu tetap diam, ketika gadis itu tergesa-gesa berlalu dari hadapannya.

Jongin mengusap dadanya yang masih bergemuruh, sudut-sudut bibirnya tertarik tanpa pernah dia menyadarinya. Ada ribuan kupu-kupu cantik terbang rendah di sekitarnya, mengelitik perutnya. Jongin salah tingkah, dia tersenyum seperti orang gila. Dan setelah itu yang Jongin tahu, dia ingin selalu melihat Kwon Eunji, tanpa pernah peduli apa alasannya.

~000~

“Ya Tuhan, Jiyeon. Bisakah kita bertukar tugas? Aku janji akan menyelesaikan tugasmu dalam satu hari.”

Eunji lagi-lagi memohon, mereka tarik ulur di depan pintu lapangan basket in door yang terbuka, dari sana mereka bisa melihat ada tiga anggota tim basket tengah berlatih. Jiyeon menyeringai, dia melepaskan rangkulan Eunji, senyum tipis penuh kemenangan terulas di bibir Jiyeon, dia senang sekali hari ini.

“Tidak. Kau harus melakukannya sendiri.”

“Jiyeon,” Eunji kembali memohon, Jiyeon tidak peduli.

“Kau sudah kenal Jongin sejak aku masih bersama Kris, lalu kenapa kau harus segugup ini? Atau— jangan-jangan selama ini, kau menyukainya ya?”

Jiyeon terkekeh, Eunji terbelalak.

“Bu—bukan, bukan seperti itu.” Eunji gelagapan.

“Ayo mengaku.” Jiyeon semakin semangat menggoda Eunji.

“Aku tidak menyukainya, sungguh.”

“Lalu kenapa kau gugup sekali, eoh?”

“Itu—- itu karena…,”

Candaan Jiyeon yang ingin menjodohkan dirinya dengan Jongin adalah penyebabnya. Sejak perdebatan mereka yang terakhir, Eunji seperti punya ketakutan tersendiri terhadap sosok Jongin, padahal sejatinya dia sudah mengenal pria itu hampir selama dua tahun (Jiyeon yang mengenalkannya waktu itu, Eunji bahkan pernah ke rumah Jongin bersama Kris dan Jiyeon, meski selama ini nyaris tidak pernah ada interaksi apapun di antara mereka)

“Kalau begitu, ayo.”

Jiyeon menarik Eunji, tapi Eunji kukuh menahan, dia berpegangan di pinggiran pintu.

“Ditunda, jangan sekarang Jiyeon, aku harus mengumpulkan—-“

“Jong!”

Eunji menunduk, Jiyeon memang sulit sekali dibantah. Dia melepaskan rangkulan Jiyeon, Jongin menatap mereka berdua. Pria itu tersenyum, melambaikan tangan, lalu mendekat.

“Hai, Ji.”

Jongin menyapa, dia tersenyum pada Jiyeon dan Eunji. Jiyeon balas menyapa, Eunji diam saja, seperti biasa, dia berdiri di belakang Jiyeon, tak mau terlihat.

“Ada waktu tidak?”

“Sekarang?”

“Iya, Eunji ingin bicara padamu.”

Eunji kaku, dia memukul bahu Jiyeon.

“Eunji?”

Jongin memiringkan kepalanya, Eunji semakin kaku, ragu-ragu dia berbalik, tersenyum lebar yang terlihat aneh, Jongin mati-matian menahan tawa.

“Ayo, Eunji, katakan apa keperluanmu.” Jiyeon semakin mendesak.

“A—aku…,” Eunji mati kutu.

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Kwon Eunji?”

Jongin tersenyum, Eunji lemas seketika, dia kehilangan semua kata-katanya.

“Hey, ayo bicara. Eunji ingin mewawancaraimu, Jong. Tugas kelas bahasa minggu ini.”

Jiyeon mengambil alih, Eunji diam saja, dia masih terpesona. Jongin lagi-lagi tersenyum, membuat Eunji serasa mau mati.

“Eoh, begitu ya. Sepertinya tidak bisa sekarang, bagaimana kalau di jam istirahat kedua, atau pulang sekolah nanti saja?” Jongin menatap Eunji.

“Eunji, Jongin bertanya padamu.”

“Eoh, yah, baik— baiklah.” Eunji tertawa sumbang. “Tidak masalah kok, kapan kau ada waktu saja.” Eunji tersenyum, lebar dan jelas sangat berlebihan. Dia tidak peduli, berada dekat dengan Jongin membuat otak Eunji yang pas-pasan semakin tersumbat.

“Aku duluan ya, aku lupa, aku ada janji dengan Yoojin. Ah, dia pasti marah sekali, aku terlambat.” Ucap Eunji lebih pada dirinya sendiri, lalu tanpa aba-aba dia sudah terbirit-birit meninggalkan lapangan basket.

“Sepertinya kau harus berusaha lebih giat, Eunji sangat keras kepala.” Ucap Jiyeon, dia memandang Eunji yang baru saja menghilang di balik pintu.

“Sama sepertimu.”

“YAK!”

“Serahkan saja padaku. Aku pasti akan berusaha sekuat jiwa untuk mendapatkan gadis yang aku sukai, terima kasih, Ji.”

“Untuk apa? Aku bahkan gagal meyakinkannya.”

“Terima kasih karena selama ini sudah mengenalkan Eunji padaku, meski aku terlambat menyadarinya.”

“Lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali. Dia gadis yang istimewa percayalah padaku.”

Jongin mengangguk. “Yah, dia istimewa.”

~000~

Eunji mengerutu, dia menghentakkan kakinya di lantai perpustakaan sekolah yang hitam mengkilap. Sebenarnya perpustakaan bukanlah tempat favorit Eunji, jika bukan karena alasan terpaksa, dia tidak akan pernah sudi untuk datang ke tempat yang sebagian orang bilang, adalah gudang ilmu. Eunji selalu merasa mengantuk jika berada di perpustakaan. Tapi berbeda dengan hari ini, Eunji terpaksa ke perpustakaan, Jiyeon yang memintanya.

“Bantu aku mencari buku literatul tentang sejarah Napoleon.” Pinta Jiyeon penuh harap.

“Kenapa tidak cari sendiri saja?”

“Aku harus menemui Zitao di taman, ada yang harus aku luruskan dengannya. Tolong aku Eunji, aku mohon, eoh?”

Eunji menggeleng, tapi Jiyeon tidak peduli. Gadis itu berlalu begitu saja, setelah mendorong Eunji ke arah perpustakaan. Jiyeon hanya terdengar tertawa ketika Eunji memakinya, gadis itu berbalik sebentar, melambaikan tangan, Eunji ingin sekali melempar bola basket ke wajah Jiyeon yang mengejeknya.

Eunji hampir mati bersama tumpukan buku tebal yang di peluknya di depan dada, buku-buku tentang sejarah Napoleon yang mendunia ternyata banyak sekali. Dia terhuyung-huyung, meraba-raba langkahnya, tumpukan buku menghalangi penglihatannya. Dalam hati Eunji bersyukur, dia yang tidak pintar, hanya mendapat tugas untuk mewawancari kapten basket sekolah mereka.

Tadinya Eunji sangat senang dengan kenyataan itu, dia bahkan menertawakan Jiyeon habis-habisan. Lalu semua berubah ketika Eunji sadar siapakah yang menjadi Kapten Basket sekolah mereka.

Kim Jongin.

Ya Tuhan, Eunji baru menyadarinya. Terlalu asik menertawakan kesialan Song Jiyeon, dia sampai lupa jika Kapten Basket yang dimaksud adalah Kim Jongin, pria yang akhir-akhir ini selalu menjadi bahan perdebatan Eunji dan Jiyeon. Dalam hati Eunji meralat doanya, dia sangat berharap jika dia saja yang mendapat tugas mengumpulkan sejarah Napoleon.

“Permisi.”

“Eoh, maaf.”

Eunji menggeser tubuhnya ke kanan, masih terhuyung-huyung, sepertinya ada seorang siswa yang terhalang olehnya. Eunji merapat pada rak buku, dia kembali ingin melangkah, tapi lagi-lagi suara berat laki-laki di depannya membuatnya bergeser, kali ini ke sisi kiri. Eunji benar-benar bingung, apa mau siswa di depannya ini, dia sudah memberi jalan, tapi kenapa siswa yang tidak dia ketahui wajahnya itu, masih saja menghalangi langkahnya.

“Yak! Apa maumu? Ini berat tahu. Jika kau ada masalah denganku, nanti saja. Setidaknya biarkan aku meletakkan buku-buku ini dulu di meja.”

Pria itu geming, masih berdiri di depan Eunji.

“Ya Tuhan.”

Eunji mendorong dirinya sendiri ke arah depan, tidak peduli lagi dengan sosok keras kepala yang membuatnya kesal. Eunji terkejut ketika siswa di depannya mengambil alih setengah buku yang dipegangnya, dia semakin terkejut ketika sadar siapa sosok yang menghalangi langkahnya sejak tadi.

“Jongin? Cari Jiyeon ya? Ah, dia ada di taman, kembalikan bukuku.” Eunji menunjuk buku yang dipegang Jongin dengan dagunya.

“Aku mencarimu.”

Eunji mengerjab, dia tersenyum sekilas.

“Eoh, ada yang bisa aku bantu? Tapi sebelumnya bantu aku membawa buku-buku ini, bagaimana?”

“Baiklah.”

Jongin memindahkan semua buku yang dibawa Eunji ke tangannya.

“Hey, tidak harus semua juga sih, aku bisa membawa sebagian.”

Jongin diam saja, dia membawa buku Eunji ke meja di ujung perpustakaan. Eunji hanya bisa mengikuti pria itu, dalam hati Eunji berharap, tidak ada satu siswi pun yang salah pengertian melihat Jongin membantunya. Jongin meletakkan buku-buku tebal itu di atas meja, manik cokelatnya melirik Eunji yang sudah duduk manis di depan tumpukan buku, sambil membolak balik lembaran buku, Eunji berkata :

“Oiya, apa yang ingin kau bicarakan, kenapa kau mencariku? Mau cari info tentang Song Jiyeon ya?”

Eunji berpaling sebentar, gadis itu tersenyum penuh arti.

“Tenanglah, Jiyeon belum memutuskan untuk berpacaran dengan siapa, jadi, aku rasa kau masih punya kesempatan.”

Jongin diam saja, rahangnya agak mengeras, tapi Eunji tidak menyadarinya. Sejak tadi gadis itu hanya melihat Jongin sesekali, tidak pernah benar-benar menatap ke arah Jongin. Eunji merasa gugup jika berlama-lama memandang pria tinggi itu. Jongin terlalu tampan, tinggi 185 centimeter, alis tebal, bangir, bibir seksi, manik cokelatnya yang tajam berefek melumpuhkan, senyum pria itu memabukkan, seringainya membuat Eunji lupa untuk sekedar menarik napas. Eunji sadar betul dengan pesona pria itu, jadi sebelum dirinya jatuh dan terluka, Eunji memilih untuk menghindar dan tidak pernah membiarkan matanya, terbiasa dengan bayangan sosok Kim Jongin yang nyaris sempurna itu.

“Berhentilah bersikap sok tahu, Kwon Eunji. Aku kesini bukan untuk mencari tahu tentang Jiyeon, aku tahu dia di taman bersama Zitao.”

Jongin duduk di samping Eunji, dua siswi cantik yang duduk di seberang mereka melirik, menatap tertarik pada Jongin yang sama sekali tidak melihat mereka. Eunji agak salah tingkah, dia benar-benar takut jika ada yang salah paham, dia tidak ingin mencari masalah.

“Bukankah tadi aku sudah bilang, aku mencarimu.”

“Ap— apa? Untuk apa? Sepertinya kita tidak pernah ada urusan sebelumnya.”

Kening Eunji berkerut halus, dia memberanikan diri menoleh pada Jongin. Sial manik cokelat itu menatap Eunji sangat lekat, Eunji sampai tidak bisa menemukan detak jantungnya sendiri.

“Kau harus mewawancaraiku ‘kan?”

“Ah, ya, wawancara ya.” Eunji terkekeh kaku, dia bingung, Jongin masih saja menatapnya. “Iya, wawancara, aku lupa.”

Eunji berpaling, dia menghembuskan napas panjang berulang-ulang. Dalam hati dia memaki Jiyeon, jika bukan karena candaan Jiyeon tentang Jongin tempo hari, dia pasti tidak akan segugup ini. Eh, kalau dipikir-pikir kenapa juga Eunji harus gugup, toh, Jongin tidak menyukainya dan dia juga tidak suka Jongin, lalu kenapa dia harus terlihat buruk di depan pria yang selama ini bahkan tidak pernah sadar dengan kehadirannya.

Eunji berani bertaruh jika Jongin tidak akan pernah ingat jika dulu dia sering menyapanya, pernah menawarkan diri membantu pria itu menyelesaikan tugas bahasa, menemani Jongin naik bus ketika mobilnya mogok di tengah jalan. Beberapa kali Eunji bahkan pernah ke rumah Jongin, dia yang merasa tersisih dan tidak punya pasangan, justru sering menghabiskan waktu dengan orangtua Jongin. Dia tahu pria itu memelihara Piranha, ibunya suka Lily putih dan ayahnya suka bermain catur bersamanya. Dulu, Kim Jongin terlalu sibuk bersama Samantha.

Eunji tersenyum, dia menggeleng sebentar, menertawakan dirinya sendiri yang sudah bersikap berlebihan. Jongin bukan siapa-siapa, dia hanya teman dari sahabatnya, tidak lebih.

“Aku belum menyiapkan pertanyaannya, Jong. Mungkin— besok atau lusa saja ya, wawancaranya, tidak masalah ‘kan? Atau kau sibuk hari itu?”

Eunji bersyukur karena dia sudah lebih tenang, dia menatap Jongin sesekali, tangannya masih sibuk membolak balik lembaran buku di depannya.

“Kenapa kau tidak pernah mau menatapku?”

“Apa? Aku— apa maksudmu?“ Eunji menunjuk dirinya sendiri, lalu terkekeh hambar.

“Apa karena selama ini aku tidak pernah melihatmu? Jadi kau juga tidak mau melihatku?”

“Eh?”

“Kita sudah saling kenal sejak dua tahun lalu, kita selalu bertemu tiap kali tim basket mengadakan acara, atau saat Kris datang ke rumahku bersama Jiyeon. Benar ‘kan?”

“Ah, yah, benar. Apa ayahmu masih suka bermain catur? Sejak Jiyeon putus dengan Kris aku jadi tidak pernah mengunjungi ayahmu, taman bunga ibumu bagaimana? Terakhir ke sana, aku dan Bibi Kim sedang menanam Lili.”

Eunji tersenyum, dia sama sekali tidak sadar dengan celotehannya. Jujur Eunji sangat merindukan orangtua Jongin yang baik dan hangat. Jongin diam saja, dia hanya memandangi Eunji, dalam hati dia semakin menyesali diri. Kenapa tidak dari dulu saja dia melihat gadis itu, kenapa dulu dia begitu buta hingga tidak pernah sadar dengan Eunji, kenapa dia tidak menemukan Eunji lebih dulu ketimbang Samantha yang mencampakkannya demi pria lain.

“Semua baik-baik saja. Ibuku pernah menanyakanmu.”

“Benarkah?” Eunji berbinar.

“Nanti kita pulang bersamanya ya, aku tunggu di parkiran, kau mau ‘kan?”

“Ap—apa?”

Eunji beku, mata sipitnya membesar, dia diam macam orang kena tenun.

“Kita ke rumahku, memangnya kau tidak ingin melihat taman bunga ibuku? Lily yang kalian tanam sudah tumbuh sangat cantik.”

Eo—Eoh, iya, Lily ya, aku—-“

“Jangan lupa. Aku tidak akan pulang sampai kau datang.”

Jongin tersenyum, Eunji lunglai. Pria itu mengacak rambutnya sebelum beranjak. Eunji memaku, wajahnya panas, dia bahkan tidak berkedip, terlalu terkejut dengan apa yang dia dengar. Belum lagi sentuhan Jongin barusan, seperti sengatan listrik, Eunji lumpuh, jantungnya bergemuruh, dia bahkan tidak peduli dengan bisik-bisik para siswi yang melihat kejadian barusan.

 

~TBC~

3 thoughts on “Carmine (Chapter 1)

  1. Hm semoga jongin beneran suka sama eunji deh agak minder juga sih ya disukain sama jongin kapten tim basket ganteng tinggi pula . Takutnya cuma main main aja mending menghindar daripada terlalu berharap . Ditunggu chap selanjutnya ya thor semoga jongin bisa ngeyakinin eunji kalo dia suka beneran

  2. Kak Ririn! Aku suka banhet sama ff yang kakak bikin. Pasti bikin baper dan castnya bias aku semua :”v
    Keep writing ya kak! Maaf kalo aku jadi siders, tapi aku seneng banget kalo muncul ff yang nama authornya Kak Ririn Setyo. Saranghae eonni!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s