Did You See (Chapter 1)

DYS POSTER

Author : Bitebyeol – Main Cast : Park Chanyeol & Ahn Alessa – Other cast will find by yourself – Genre : Romance, Family – Length :  Chaptered – Rating : Teen

I own the plot

https://hanajinani97.wordpress.com/

Sorry for Typos!

.

.

.

.

.

Seusai menghadiri rapat, Chanyeol kembali bergelut di ruang pribadinya dengan setumpuk laporan berkas dan evaluasi perusahaan. Menyandang kepercayaan sebagai wakil direktur, membuat posisi Chanyeol cukup disegani. Pemuda 23 tahun berparas rupawan dan juga bertubuh proposional itu sanggup menduduki posisi penting perusahaan dengan kredibilitas terbaik di Korea berkat kualitas dan kinerja profesionalnya .

Pada usia yang terbilang muda, Chanyeol meraih gelar master terbaik dari angkatannya di University of California, perguruan tinggi terkemuka yang sama dengan Ahn Jaehyun, sang direktur utama perusahaannya bernaung. Tak sulit bagi Chanyeol untuk mendapatkan posisi dengan jabatan penting, bukan hanya karena kredibilitasnya saja, namun Jaehyun telah mengenal Chanyeol dengan baik.

Chanyeol membuka tablet pribadinya, mengamati literatur grafik profit perusahaan yang mengalami peningkatan. Ahn Jaehyun terus menerus memberi pujian kepada Chanyeol ketika rapat mengenai kemenangan proyek tender kerjasama Korea-Amerika berlangsung. Bechtel, Vinci, dan Hoctief merupakan tiga jejeran perusahaan konstruksi terbaik di dunia. Terkait pada jaringan global yang terhubung dengan semua pasar utama berprofitabilitas tinggi .Chanyeol sendiri tidak menyangka bahwa presentasi dan lobi yang telah ia usahakan akan membawa perusahaan ini meraih proyek bernilai investasi menjanjikan.

The power charming of Chanyeol? Kata-kata Jaehyun itu yang membuat Chanyeol tergelak namun juga bangga.

Ahn Jaehyun mempercayakan perusahaannya kepada Chanyeol selama tiga bulan ke depan. Sebagai wakil direktur, Chanyeol telah terbiasa mendapat amanat serupa ketika Ahn Jaehyun berhalangan ke luar negeri. Presiden direktur itu mengatakan bahwa proyek global ini memerlukan keseriusan.

Chanyeol akhirnya meletakkan tablet dan merapikan berkas-berkasnya, lalu otaknya memerintah untuk membuka laci pertama meja kerja. Disana terdapat sebuah map dengan selembar kertas bermaterai. Kertas berisi kontrak mengenai putri tunggal Ahn Jaehyun. Materialnya tidak terlalu memberatkan, seperti yang dikatakan direktur utama itu bahwa ia hanya perlu menjaga dan mengawasi putri semata wayangnya. Yah , sebuah dilema para orang tua yang memiliki kesibukan luar biasa seperti pasangan Ahn Jaehyun dan Camila Clayton. Satu hal yang cukup menegaskan Chanyeol bahwa sampai kapanpun ia tak pernah bisa menolak permintaan Jaehyun. Pemuda itu mengingat kembali masa-masa dirinya ketika mengenyam pendidikan di Amerika.

Menurut pandangan orang lain, Chanyeol sangat beruntung seluruh pembiayaan kehidupan dan pendidikannya ditanggung penuh. Masa lalu Chanyeol tak begitu bagus. Di saat ekonomi keluarganya terpuruk, kepedulian seakan turut menyingkir menyisihkan diri. Kehidupannya sebagai seorang remaja sempat mengalami masa berat nan kelam. Keterpurukan kedua orang tua dan kakaknya yang juga membuat Chanyeol merasakan beban. Saat itulah uluran tangan Ahn Jaehyun membawa secercah harapan, dengan Chanyeol sebagai pemeran utama sebuah penawaran . Terkadang kehidupan dapat berjalan diantara kejam dan tulus bersamaan, Chanyeol tersenyum miris mengenang memori itu. Dengan segala pencapaian Chanyeol sekarang, tak ada yang tahu terdapat segumpal tuba pahit yang tetap bersemayam di hatinya.

Chanyeol kembali membaca isi kontrak dihadapannya, hatinya miris mengingat saat Jaehyun menatapnya dengan penuh harap dan mengatakan bahwa ini mungkin akan menjadi kontrak terakhirnya. Hanya mereka berdua yang memahami ‘kontrak terakhir’ yang di maksud Jaehyun. Obsidian kelam Chanyeol beradu mengerjap sesaat dengan helaan nafas panjang sebelum tangannya meraih bolpoin dan membubuhkan tanda tangan persetujuan kontrak.

.

.

.

.

.

.

“Alessa!” Seorang pemuda berjalan dengan tergesa menyapa pemilik nama yang di serukan. Gadis itu baru saja mengambil makanan yang ia pesan pada deretan antri cafetaria. Namun perlahan-lahan wajah terkejutnya berganti mengukir seulas senyum saat mengetahui siapa pemuda itu. Pagi ini Luhan terlihat segar seperti biasa dengan pakaian dan gaya rambut simple. Namun jangan salah, semua yang melekat di tubuhnya adalah balutan brand terkenal. Ia merupakan anak dari salah satu konglomerat pebisnis Korea-China.

“Luhan Oppa, aigoo mengagetkan saja.” Alessa memegang dadanya dengan ekspresi terkejut. Ia segera menyingkir dari deretan antri dan menunggu Luhan mengambil nampan makanannya. Kemudian mereka berjalan beriring menuju sisi cefetaria dimana Harin dan Kai telah menikmati makanan terlebih dahulu. Kebetulan tersedia empat kursi dan Luhan duduk pada bangku di samping Alessa.

“Oppa tadi menyusul ke kelasmu dan ternyata sudah berakhir. Tidak biasanya.” Luhan berkata pada Alessa seraya mengaduk makanannya. Mata gadis itu sedikit melebar mengetahui Luhan tak menemukannya di kelas.

“Tidak biasanya, kan Oppa. Semuanya merasa beruntung kelas berlangsung lebih cepat, Kris Saem begitu baik hari ini.” Alessa menyebutkan Kris, dosen yang mengajar di kelasnya. Gadis itu melempar senyum ramah pada beberapa teman yang melintas dengan menyapa.

Luhan mendengarkan dengan pandangan antusias. Asal tahu saja Kris terkenal sebagai dosen yang kelewat disiplin, memulai kelas tepat waktu namun jangan harap berakhir pada waktu yang tepat pula. Kris itu kerap kali memberi ‘bonus’ waktu dengan memperpanjang durasi pemberian materinya. Astaga dan penilaian orang-orang cenderung sama, benar-benar membosankan. Tetapi hari ini sebuah keajaiban telah terjadi.

“Woah, berarti kali ini Alessa akan mentraktir tambahan makanan kita.” Luhan langsung berceletuk. Kedua mata Alessa membulat dan malah ditanggapi anggukan kuat seorang gadis yang sedari tadi berada di antara mereka, Lee Harin. Sahabat Alessa itu langsung meringis kaku mendapat hadiah death glare mematikan.

“Ah memangnya kalian akan makan sampai berapa banyak?” Kelopak mata Alessa mengerjap pelan. Aturannya mereka boleh mengambil dua porsi dan itu saja sudah terasa cukup. Apalagi jika sampai membayar kelebihannya? Wah, mungkin ia akan melakukannya dalam keadaan sangat lapar.

“Haha, Oppa hanya bercanda hoobae-ku sayang.” Luhan mencubit gemas pipi Alessa tanpa menyadari efek perbuatannya. Kehangatan  bersemu pada pipi gadis bersurai panjang itu selama beberapa saat.

“Aigoo, kalian ini manis sekali.” Kai yang  menggigit ujung bibir, kemudian merangkul Harin kekasihnya.

“Aish, Kai aku belum selesai dengan makananku. Kau ini mengganggu.” Harin mengomel-ngomel heboh dengan perlakuan Kai. Pemuda itu mendengus kasar sambil menegakkan tubuh. Ia mengangguk paham saja, itu artinya Kai boleh berbuat seperti itu lagi setelah Harin selesai makan.

.“Jadi, Ayahmu mempercayakan seorang privat bodyguard? Wah, kerenKedua bola mata Lee Harin berbinar menggebu. Poin bodyguard membuat atensi Harin beralih penuh mendengar cerita pembuka dari Alessa. Mereka semua telah selesai dengan menu hidangan utama. Cafetaria Universitas Yonsei yang tergolong tidak terlalu ramai pagi ini membuat suara Harin menggema di ruangan. Lee Harin adalah anak bungsu dari seorang desainer Korea, Ibunya merupakan relasi bisnis Camila Clayton-ibu Alessa. Penampilannya tak jauh seperti Alessa, Lee Harin juga memiliki paras cantik dan gaya berkelas. Namun, untuk catatan, Alessa berpenampilan anggun sedangkan Harin sedikit lebih seksi. Cara bicara Harin memang terkesan terang-terangan, namun tetap saja membuat Kim Kai, kekasih Lee Harin semakin menyukainya. Bahkan sedari tadi Kai terus saja merangkul Harin membuat gadis itu risih. Mungkin otak Kai sudah di invasi oleh virus gadis-gadis Jepang, sekembalinya ia dari negeri sakura itu kemarin.

“Bagaimana menurut kalian, apa itu tidak berlebihan?” Alessa meminta pendapat. Seperti biasa Harin selalu menjadi yang pertama menanggapi.

“Apa kau yakin berbicara seperti itu?”

“Maksudmu?”

Harin menghela nafas, mengambil tisu makan. “Ah, Ayahmu pasti tak ingin kau kenapa-napa.” Ujarnya.

“Aish entahlah terkadang aku tak mengerti jalan pikiran Ayahku” Alessa mengaduk bubble tea lantas menyedot minuman itu dan melewati tenggorokannya. Ekspresinya mengernyit seakan merasakan sensasi pahit kopi tumbuk. Entahlah, mungkin akibat ia membicarakan ayahnya. Ups.

“Kupikir itu tidak terlalu buruk, bukankah Ayahmu bertujuan baik?” Luhan mengutarakan pendapatnya. Diantara mereka, mungkin Alessa-lah yang masih mendapatkan pengawasan dari orang tuanya. Meskipun sibuk, Jaehyun tak pernah berfikir untuk membiarkan putri mereka terseret kebebasan dalam artian negatif. Tidak dipungkiri baik Luhan, Harin dan Kai, ketiganya diberikan kebebasan penuh dari orang tua mereka.

“Ahh tunggu, bukankah dia itu namja? Bagaimana rupanya? Apakah dia tampan? Atau lebih tampan dari Kai?” Harin menanggapi dengan pertanyaan bertubi-tubi seolah Kai tidak berada disampingnya. Rangkulan posesif Kai yang sedari tadi menyiksa langsung terlepas disertai raut wajah melengos dan decakan sebal. Ia memilih mengadu bibir tipisnya dengan sesapan halus pada pinggiran cangkir berisi coffee latte panas. Dan Luhan hampir tersedak dengan bubble teanya melihat tingkah laku Harin-Kai yang menurutnya konyol.

Alessa tampak berpikir dan mengingat. Saat Ayahnya menunjukkan foto Park Chanyeol, Alessa menilai bahwa pria itu tak sekedar tampan tetapi juga berkharisma. Tetapi sayang menurut Alessa, kharisma Park Chanyeol adalah jenis kharisma yang tidak mencerminkan kesan bersahabat.

Hello Alessa, mungkin itu poin utama Jaehyun memilih Chanyeol sebagai bodyguard. Lalu bagaimana seorang bodyguard akan berperan jika bertampang lemah lembut?

“Hell.. tampan saja yang ada dipikiranmu. Aish sudahlah aku tidak mau membicarakannya. Lagipula aku belum bertemu langsung dengannya.” Alessa malas menjawab pertanyaan mengenai penampilan Chanyeol yang dilontarkan Harin, namun nada bicara diujung kalimatnya terdengar pelan. Gadis itu kembali berpikir, sejak tadi pagi ia mengantar ayahnya ke bandara lalu ke kampus dan sekarang kelas pada jam pertama sudah berakhir. Namun, belum ada tanda-tanda kehadiran Park Chanyeol. Apa dia mengamati dari kejauhan? Sejauh mana? Ahh Alessa sekarang sudah bisa mengeja namanya dengan benar.

PARK-CHAN-YEOL. Ia bergumam lalu mengangguk kecil.

“Biasanya bodyguard itu berada disekitar orang yang dijaganya kan?” Harin berujar diikuti anggukan Luhan yang tampak menikmati kunyahan snack dimulutnya. Gadis itu memandang ke sekeliling cafe sok menelisik. Diam-diam Alessa yang tampak cuek melirik sekilas mata berharap nalurinya menemukan sosok Park Chanyeol. Namun nihil, sejauh yang di perhatikan, ia hanya mendapati para mahasiswa kampus yang sebagian besar adalah teman-teman yang ia kenal. Gadis itu kembali sibuk dengan bubble teanya dan tersenyum samar. Baguslah, mungkin Park Chanyeol menolak permintaan Ayahnya.

“Ah , Oppa membawakan buku yang ingin aku pinjam, kan?” Alessa berseru pada Luhan seakan otaknya baru teringat. Pemuda itu tersenyum hangat mengeluarkan sebuah buku edisi terbatas yang Alessa maksud.

“Pakailah terlebih dahulu, jika ada kesulitan mengenai tugas itu, tanyakan saja pada Oppa. Arra?”

 

Chanyeol melonggarkan dasi pada kerah kemejanya yang terasa mencekik leher menimbulkan rasa gerah. Fokusnya tengah tertuju memeriksa sebuah dokumen di meja kemudian keningnya berkerut saat mendapati jadwal yang tertulis. Ia tetap memperhitungkan pergerakan jarum jam dipergelangan tangan kirinya yang mulai terarah menuju jam makan siang.

Selama ini Chanyeol tak pernah mempermasalahkan kepadatan urusan perusahaan. Namun ini pertama kalinya ia sedikit kewalahan karena mengabaikan memo alarm yang sengaja tersetel dua hari berselang rencana keberangkatan presdir Ahn. Ada sedikit perubahan pada jadwal yang sebelumnya tersusun, karena ia mengutamakan pertemuan dewan direksi yang baru usai 15 menit lalu.

“Minseok Hyung, bisa kan menangani jadwal wawancaraku untuk dua jam ke depan?“ Chanyeol mengatakan satu pesan yang tertuju pada seorang pria di hadapannya.

“Ye, tentu saja Pujangnim.” Disusul kesanggupan sekretaris bernama Kim Minseok itu, ia kemudian bangkit dari ruang kerja pribadinya yang bernuansa abu putih dengan membawa ponsel. Langkah Chanyeol memasuki lift menekan tombol menuju lantai dasar. Kemudian tergesa menapaki area basement.

“Yonsei University, baiklah.” Chanyeol begegas menuju mobilnya. Kuda besi merah pabrikan Ferrari melesat menembus lalu lintas Seoul menuju lokasi putri Ahn Jaehyun berkuliah. Pemuda tampan itu meletakkan ponselnya pada stand phone case di dasbor. Sesekali ia mengamati putri Jaehyun, Ahn Alessa yang terdapat pada ponsel berlogo apel tergigit itu. Gadis dengan rambut tergerai sepunggung yang tengah berpose tersenyum dengan tangan kiri memegang gelas bubble tea pada fotonya. Sekilas ia memiliki kemiripan dengan Ahn Jaehyun, mata cokelat gelap yang bersinar cerah dengan garis wajah perpaduan Korea-Amerika genetik orangtuanya.

Tiba lebih cepat dari waktu yang diperkirakan membuat Chanyeol mengakui bahwa kemampuan menyetir dan juga aksi mengebutnya semakin terasah dengan baik. Sebenarnya Chanyeol bukan pria seperti itu jika tidak dihadapkan pada situasi yang menurutnya membutuhkan hal-hal diluar kebiasaannya. Lagipula tidak teramat buruk, akhir-akhir ini Chanyeol menikmati waktu berkendara yang membuatnya lebih tertantang. Selama para penegak hukum jalanan mengenali posisi ah dalam artian yang lebih jelas adalah jabatan, kewenangan, kekuasaan dan materi. Rahasia umum yang telah dimengerti masyarakat Korea dan juga tidak ditampik oleh Chanyeol secara pribadi.

Menarik tuas rem parkir mobil pada tempat strategis ialah hal yang segera Chanyeol lakukan. Pemuda itu meraih ponselnya dari stand case dan tak lupa membuka laci dasbor untuk menemukan kaca mata hitam. Namun, rupanya niat untuk menyamarkan diri yang dilakukan Chanyeol meleset dari yang ia harapkan. Nyatanya, ketika kedua kaki jenjangnya menyentuh halaman universitas, tidak sedikit gadis yang menatapnya dengan pandangan tertarik. Mengacuhkan penampilannya yang menjadi pusat perhatian, Chanyeol tetap santai melangkahkan kaki memasuki area gedung. Pria itu memeriksa smartphone-nya yang telah terpasang aplikasi pendeteksi untuk mengetahui keberadaan putri Ahn Jaehyun. Tidak sulit sebab cafetaria terletak pada sisi terdekat, hanya perlu melewati hall memanjang disebelah kiri.

Pandangan Chanyeol menyapu seisi cafetaria, fokusnya terpasang tepat pada satu titik. Terdapat dua pemuda dengan dua gadis seumuran disana. Seorang gadis yang tampak bercengkrama dengan pemuda bertampang mesum disebelahnya. Sementara salah satu pemuda yang memiliki sepasang mata bak rusa tersebut terlihat menyadari kehadiran Chanyeol.

Pemuda bernama Luhan yang tengah memperhatikan gerak-gerik Chanyeol, meneliti penampilan pemuda jangkung itu lalu berbisik rendah pada gadis yang tengah menikmati suapan terakhir dessertnya.

“.. Al..apa kau mengenal pria itu? Sepertinya ia sedang berjalan ke arah sini.”

“What?” Alessa menegakkan kepala mengikuti pandangan Luhan. Langkah panjang pemuda tersebut terlalu mudah memupus jarak sekian meter menuju meja mereka seolah menjawab dugaan Luhan. Ia menegakkan tubuh 185 cm-yang benar-benar tegap dihadapan Alessa. Saat melepas kacamata hitamnya secara perlahan, barulah Alessa mulai menyadari identitas pemuda itu . Ia mengawalinya dengan deheman kecil sebelum memulai bicara .

Annyeonghasimika, Nona Ahn Alessa?” Ia menyebutkan nama sekaligus marga Alessa, menyapa sekaligus memastikan pengucapannya benar. Alessa menanggapi dengan raut wajah tak mengerti bercampur ragu. Seakan tahu kebingungannya, pemuda  itu kembali berbicara.

“Jeoneun Park Chanyeol imnida. Mulai hari ini resmi bertugas menjadi bodyguard pribadi, yang siap menjaga , melindungi dan mengawasi Anda, Nona Ahn Alessa. Semua ketentuannya telah tertulis di sini.” Pemuda bersuara berat itu-Chanyeol menjelaskan dengan detail seraya menunjukkan HD screen perjanjian kontrak melalui layar ponselnya.

Yah, seperti dugaan Alessa, pria itu ialah bodyguard yang telah ayahnya katakan. Pesona Park Chanyeol mengundang kesan takjub Harin, bahkan tidak dipungkiri juga oleh Kai dan Luhan. Berbeda dengan Alessa yang menyandarkan tubuh dengan lemas. Harapannya ternyata berbanding terbalik So, mari kita lihat bagaimana semuanya berjalan. Namun sepertinya Alessa harus berterimakasih pada Chanyeol yang telah berbaik hati menunjukkan secara jelas perjanjian kontrak selama tiga bulan itu. Karena tentunya tak perlu membuat Alessa bertanya terbawa emosi. Chanyeol menurunkan ponsel dan mengangkat sedikit senyum dari sudut bibirnya. Harin tak lepas memandang sisi wajah Chanyeol seolah tersihir, membuat Kai kembali cemburu oleh perilaku Harin.

“Saya rasa Anda juga telah mengenal saya, Nona Alessa” Percaya diri, Alessa mencibir didalam hati. Selama beberapa saat Chanyeol memaku pandangan pada Alessa yang berlagak sibuk menghindari tatapannya. Kemudian Chanyeol  melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu makan siang.

“Ah, ya. Anda tidak berminat pulang? Bukankah kegiatan kampus Anda telah berakhir? Hanya terdapat tiga kelas hari ini. Pertama adalah kelas Dosen Kris yang telah berakhir 45 menit lalu. Kemudian dua kelas lainnya, Dosen Jung dan Dosen Kang yang berhalangan hadir lalu meninggalkan tugas untuk kelas Anda.”

Kedua alis Alessa terlihat bertaut mendengar serangkaian penjelasan Chanyeol. Bagus sekali, sepertinya Chanyeol telah mengetahui jadwalnya terlebih dahulu. Cara berbicara Chanyeol seakan penuh dengan aturan.

“Terima kasih telah mengingatkan jadwal kelasku, Park Chanyeol-ssi .Namun, sayang sekali, agendaku hari ini belum selesai. Ayo, Harin-ah. Bukankah kau kemarin berkata akan menunjukkanku cabang butik terbaru milik ibumu ?” Gadis itu menarik tubuhnya dari kursi seraya menatap Harin yang mengalihkan pandangannya dari Chanyeol dengan tergagap. Seingatnya ia tak pernah mengatakan hal itu? Kalaupun ada, Harin merasa ia sudah menunjukkannya beberapa bulan lalu.

“Luhan Oppa, Kai? Tak masalah jika kalian ingin ikut, bagaimana?” Alessa menawari dengan tulus.

“Ah terimakasih Al, Oppa ada sedikit urusan setelah ini.” Luhan tersenyum lembut memandang Alessa dan Chanyeol yang sedang menatapnya datar. Kai juga balas menatap Alessa.

“Aku akan ikut dengan Luhan Hyung.” Jawab Kai , pria itu tampak memberi kode berkedip pada Harin. Namun, gadisnya tak peduli sebab ia masih memikirkan perkataan Alessa.

“Eh- tunggu dulu Al. Butik yang -mana?”

“Tck, ayolah Harin kita mulai berjalan. Kau akan ingat ketika sampai di mobil. Luhan Oppa terimakasih untuk hari ini, sampai bertemu besok.” Ketika langkah Alessa mulai terhentak, Harin segera bangkit menyetujui. Ia tak akan pernah membuang waktu untuk bersenang-senang. Well, meski ini bisa saja salah satu ide Alessa untuk menguji bodyguard tampannya yang bernama Park Chanyeol tersebut. Berjalan dengan jarak dibelakang kedua gadis cantik itu, tubuh tegap Chanyeol terasa melingkupi keadaan sekitar. Entahlah bahkan Alessa sendiri bersikap acuh mengalihkan pemikirannya.

Park Chanyeol yang mulai hari ini resmi menjadi bodyguard Alessa. Hah kata-kata macam apa itu? Dalam hati Alessa bertekad, memastikan bahwa segalanya akan berjalan dengan cepat hingga saatnya tiba. Yah, tiga bulan tidak akan terasa seiring waktu. Astaga bahkan baru beberapa jam berlalu, gadis beriris cokelat gelap itu sudah merindukan Ayahnya.

Park Chanyeol dan Ahn Alessa.

Sebuah takdir diantara mereka masih tertoreh halus, akankah ini menjadi menyenangkan atau sebaliknya?

Tbc….

 

Iklan

8 thoughts on “Did You See (Chapter 1)

  1. yuhuuuuu,, suka bangettt ff iniiiii,,,,,,, park chanieeeee ,, myyy chaniiiiiee,, my biasss,,,,, emang cucokkk di peranff apa ajaaaaaaa,, fightingggg authorrr 🙂 sarangheyooooooo 🙂

  2. wkwkwk chanyeol mesti cucok ya dpt peran jadi orang kaya lol.
    bagus… bagus…
    tapi pengen tahu nih kenapa kok chanyeol ampe sesedih itu pas tanda tangan kontrak trus inget kata2nya jaehyun ttg kontrak terakhir..
    dan… enak banget ya allesa -____- bapaknya ganteng bgt. ahn jaehyun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s