Supermom

SUPERMOM

 

 

Title : Supermom

 

Author : Marie Rose Jane (@janeew_)

 

Genre : Romance

 

Length : Oneshoot

 

Rating : PG 15

 

Cast : Oh Sehun dan Jang Surin (OC)

 

Hello! Kali ini saya bawakan ff bergenre romance-family! Semoga kalian suka ya!

Oh ya, jika kalian berminat membaca fanfic-fanfic saya yang belum dipublish dimanapun kecuali di wordpress pribadi saya, berkunjung saja ke : http://ohmarie99.wordpress.com jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian setelah kalian berkunjung ke wp saya!

 

Thanks and happy reading!

 

**

“Ya! Cepat turun, sarapan sudah siap!” Seorang ibu muda yang kini tengah mengenakan sebuah apron berwarna pink terang itu tampak sibuk menata berbagai macam makanan di meja makan berbentuk bundar dihadapannya. Tidak lama setelah teriakannya barusan, dua orang yang dipanggilnya pun langsung turun dengan tergesa-gesa. Yang pertama sampai pada meja makan dan langsung menempatkan diri di kursi yang sudah ia patenkan menjadi miliknya itu adalah seorang anak laki-laki bernama Oh Rei, siswa kelas dua salah satu sekolah dasar internasional yang terdapat di daerah Apgeujeong. Sementara yang terakhir sampai ke meja makan adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan setelan kerja rapi itu diketahui bernama Oh Sehun, yang tidak lain tidak bukan adalah suami dari seorang ibu muda bernama Jang Surin.

“Oh Rei, buku cetakmu sudah kau masukan semua, kan?” Rei mengangguk kemudian mengambil alih piring berisikan nasi yang disodorkan oleh ibunya dan mulai mengambil berbagai macam lauk yang ada dihadapannya. “Makanlah sup-mu dulu sebelum kau makan yang lain agar tenggorokanmu tidak kering.” Kata-kata itu selalu berulang setiap paginya membuat Rei yang kini tertangkap basah melewatkan supnya untuk kesekian kalinya itu mau tidak mau hanya menurut. “Ah, Surin-a, kau lihat jam tangan yang kemarin ku pakai? Aku mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya sama sekali.” Kini giliran Sehun yang mengambil alih piring berisikan nasi yang disodorkan oleh Surin. “Makanya lain kali jangan meletakan barang dengan sembarangan! Itu aku meletakannya dimeja tamu.” Sehun hanya tersenyum kemudian beralih ke ruang tamu untuk mengambil jam tangannya lalu segera kembali ke meja makan untuk menikmati sarapannya.

Sehun dan Rei mulai menyantap sarapannya sementara Surin masih sibuk menyiapkan bekal untuk keduanya. Dengan rajin Surin meletakan beberapa kotak makan tersebut dengan tas yang terpisah. Surin tidak lupa untuk memasukan susu cokelat beserta satu buah apel untuk masing-masing tas. Setelah selesai, Surin meletakan tas makan itu diatas meja makan sementara Sehun dan Rei langsung tersenyum, menyampaikan ucapan terima kasihnya.

“Rei-ya, kau belum menata rambutmu ya? Aish, kau itu sudah besar, sudah harus tahu bagaimana cara menata rambut sendiri.” Surin segera naik ke lantai dua menuju kamarnya untuk mengambil sisir, tidak lupa juga dengan dasi Sehun yang tampak tertinggal di kasur. Dengan gerakan tergesa, Surin segera menata rambut Rei sementara anak itu masih sibuk menghabiskan sarapannya. “Sehun-a, kau melupakan dasimu.” Surin melempar dasi yang berada di bahunya pada Sehun yang dengan cepat menangkapnya. Sehun memasangnya dengan asal membuat Surin berdecak. Ibu muda yang tampak sangat sibuk mengurus dua bayi besar itu segera beralih pada Sehun dan langsung memakaikan laki-laki itu dasi dengan rapi. “Nah, sekarang apalagi yang kurang?”

“Ah, dimana mantel kalian? Aish, sudah ku bilang berkali-kali untuk selalu membawa mantel kalian. Sekarang ini musim sedang tidak menentu.” Surin segera naik ke lantai dua dan beberapa menit kemudian turun dengan dua buah mantel yang ia sampirkan pada tangan kanannya. Sehun mengambil mantel tersebut kemudian segera memakainya, begitu pula dengan Rei. “Jangan lupa tas kalian. Ah ya, aku sudah memasukan minuman vitamin di tas bekal. Jangan lupa untuk meminumnya.” Surin berujar panjang sambil merapikan mantel Sehun dan Rei secara bergantian.

“Ayo, kita sudah terlambat.” Ujar Sehun yang kini mengoper satu tas bekal yang ia pegang pada Rei. “Kami berangkat dulu, ya.” Sehun mengecup dahi Surin cepat begitupun dengan Rei yang kini sudah memeluk Surin. Sehun segera membantu Rei untuk masuk ke dalam mobil dan setelah itu ia berlari kecil untuk membuka gerbang sementara Surin yang kini melipat kedua tangannya itu hanya memperhatikan laki-laki itu dari halaman rumah. “Hati-hati di jalan. Ah ya, Sehun-a, apa kau sudah memasukan kertas penting yang kemarin kau tinggalkan di meja tamu?” Surin berseru kemudian Sehun segera membalasnya dengan seruan ‘sudah’. “Aku berangkat dulu! Tolong tutup pintu gerbangnya ya. Aku akan bawakan makan malam jadi kau istirahat saja, tidak usah memasak makan malam.” Sehun tersenyum seraya langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Sementara Surin melambaikan tangannya kemudian menutup pintu gerbang tersebut.

Surin menghela napasnya pelan. Seperti itulah pekerjaannya setiap pagi. Beruntung hari ini mereka tidak bangun terlambat jadi semuanya masih dapat dikerjakan dengan rapi dan baik. Surin memang harus bangun pagi lebih awal, menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk kedua orang yang paling ia sayangi itu, serta juga mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya disamping memasak. Untung saja sekarang Rei sudah bisa pulang sendiri dengan menggunakan bus sekolah, ia juga sudah dapat berangkat dan pulang sendiri dari kursus piano yang ia dalami, sehingga Surin tidak perlu lagi repot-repot mengantar-jemputnya seperti dulu.

Surin mulai merapikan kamar tidur Rei dan mengganti seluruh sprei dengan sprei yang baru. Sehun sudah berkali-kali berdiskusi mengenai menyewa jasa pembantu rumah tangga, namun berkali-kali juga Surin menolaknya. Sejujurnya Surin hanya senang ketika baik Sehun maupun Rei membutuhkan bantuannya. Surin senang melakukan semuanya untuk kedua orang itu. Surin senang ketika mereka mengucapkan terima kasih setelah Surin melakukan sesuatu untuk mereka. Mungkin seperti itulah perasaan seorang ibu. Setelah selesai dengan kamar tidur Rei, ia beralih menuju kamarnya dan Sehun. Surin benar-benar melakukannya semua dengan sendiri termasuk menyapu serta mengepel lantai kamar mereka. Karena terlalu bersemangat sedari tadi pagi, Surin bahkan tidak menyadari kalau sedari tadi ia terus saja bersin dan demam yang tadi pagi tidak begitu tinggi, sekarang naik drastis membuat Surin terduduk di pinggir kasur seraya meletakan vacuum cleanernya begitu saja.

Surin memijat pelipisnya pelan seraya mulai membaringkan tubuhnya dikasur. Tepat ketika Surin baru saja menemukan posisi yang tepat, ponselnya bergetar berkali-kali menandai adanya sebuah pesan masuk yang ternyata adalah dari Sehun. Surin meraih ponselnya dan segera membuka pesan dari Sehun yang ternyata sudah menumpuk itu.

From : Hun

Istirahat saja, tidak usah membereskan rumah atau apapun yang melelahkan hari ini.

 

From : Hun

Sedang apa kau sekarang? Sudah ku bilang istirahat saja hari ini jangan melakukan aktivitas yang melelahkan dulu.

 

From : Hun

Tadi malam kau demam tinggi dan aku benar-benar khawatir karena melihatmu sudah melakukan aktivitas seperti biasa pagi ini. Apa kau sudah benar-benar sehat? Kau harus beristirahat, kau tampak sangat kelelahan akhir-akhir ini. Aku akan membeli makan malam, jadi kau tidak perlu memasak makan malam. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu.

 

From : Hun

Sekarang cepat balas pesanku dulu. Apa kau baik-baik saja?

 

Surin tersenyum lemah. Tidak, ia tidak merasa baik-baik saja. Demamnya sangat tinggi dan kepalanya terasa berat. Ia tidak dapat bernapas dengan lancar karena flunya yang bertambah parah. Surin rasa ia memang terserang flu berat. Surin baru saja ingin mengetikan balasan yang mengatakan bahwa ia tidaklah apa-apa, namun tiba-tiba sebuah panggilan video call dari Sehun muncul di layar ponselnya membuat Surin terkejut dan mau tidak mau akhirnya ia mengangkat video call tersebut.

“Mengapa lama sekali sih membalas pesannya?” Surin yang dapat melihat tatapan tidak sabar Sehun hanya tersenyum lemah. Laki-laki itu tampak tengah berada di ruang kerjanya yang sunyi. Seketika Surin bersin membuat Sehun langsung menatapnya cemas. “Sudah ku duga, kau flu berat. Apa kau sudah meminum obat?” Surin langsung menggeleng, ia tidak punya tenaga bahkan untuk mengeluarkan suaranya.

“Cepat cari obat flu di kotak obat dan langsung istirahat. Jangan mengerjakan pekerjaan rumah dulu. Ah ya, untuk makan siang, kau tidak perlu memasak, delivery bubur hangat saja.” Sehun mengoceh panjang sementara Surin hanya mengangguk-angguk perlahan. “Matamu sampai berair dan bibirmu tampak pucat. Hidungmu juga sangat merah. Aish, haruskah aku pulang dan menemanimu dirumah hari ini?” Surin langsung menggelengkan kepalanya cepat. Gadis itu mengambil tissue yang berada di meja kecil dekat kasurnya guna menutupi hidungnya yang merah.

“Ya, tuan arsitek handal, bagaimana bisa kau bersikap tidak professional hanya karena istrimu terserang flu yang dapat dikategorikan biasa? Tidak perlu. Selesaikan saja pekerjaanmu hari ini. Habiskan makan siangmu, ya. Aku tutup dulu, masih ada beberapa pekerjaan lagi yang harus aku selesaikan.” Surin bersuara dengan suara yang terdengar serak membuat Sehun semakin khawatir.

“Pekerjaan apalagi, sih?” Nada suara Sehun terdengar seperti benar-benar melarang Surin untuk melakukan apapun hari ini membuat Surin hanya memutar bola matanya malas. “Aku harus mengambil laundry hari ini dan harus mengantarkan baju olahraga Rei yang tertinggal di meja makan ke sekolahnya. Hari ini ia ada ekstrakurikuler futsal dan aku tidak tega kalau nanti ia harus repot-repot pulang dulu ke rumah.” Jelas Surin panjang kemudian tidak lama setelah itu terdengar helaan napas Sehun. “Lalu? Apalagi yang harus kau lakukan hari ini?” Tanyanya sementara Surin sudah bersin-bersin untuk kesekian kalinya.

“Aku masih harus berbelanja karena persediaan bahan makanan sudah menipis.” Sehun menatapnya dengan tatapan khawatir. “Hanya itu saja, kan? Mengambil laundry, mengantar baju olahraga, lalu berbelanja?” Sehun mengabsen satu persatu sementara Surin mengangguk-angguk.

“Karena kau berkata akan membelikan makan malam, berarti aku tidak perlu memasak hari ini. Ya, hanya tinggal membantu Rei mengerjakan tugas-tugasnya saja setelah ia pulang dari ekstrakurikulernya nanti sore.” Tambah Surin diikuti helaan napas Sehun. “Ya sudah, sekarang yang paling pertama dari antara semuanya, kau harus meminum obat dan tidur selama satu-dua jam untuk meredakan sedikit sakit kepala dan flu beratmu itu.” Surin mengangguk-angguk, menurut. “Kalau begitu, sampai bertemu nanti sore. Jangan lupa. Kau harus minum obat dan istirahat sebentar sebelum kau melakukan semua kegiatanmu itu.” Setelah mengucapkan kata ‘baiklah’ serta salam perpisahan, Surin mematikan sambungan video call tersebut seraya memijat pelipisnya pelan. Kepalanya benar-benar terasa pening dan hidungnya tidak dapat bekerja seperti biasanya.

Sehun benar, Surin rasa ia harus meminum obat dan istirahat paling tidak satu sampai dua jam sebelum ia melakukan semua kegiatan panjangnya hari ini. Surin langsung berjalan menuju dapur untuk mencari obat flu. Setelah meminumnya, Surin kembali ke kamar dan langsung membaringkan tubuhnya dibawah selimut hangatnya. Surin rasa ia benar-benar harus beristirahat.

**

Sehun berjalan mengendap-endap ke arah kamar tidurnya dan Surin dengan baskom kecil berisikan air dan tidak lupa juga sebuah handuk kecil. Jam sudah menunjukan pukul sebelas dan Surin masih terbaring di tempat tidur dengan nyaman. Sehun menghela napas lega mengetahui Surin benar-benar menurutinya. Sepertinya Surin juga lupa memasang alarm, membuat Sehun semakin lega. Sehun tidak bisa konsentrasi dengan semua pekerjaannya karena memikirkan Surin yang keras kepala akan tetap melakukan semua kegiatannya yang padat itu padahal ia sedang sakit sampai-sampai Sehun harus pulang sebelum jam makan siang tiba karena begitu khawatir terhadap istrinya itu.

Tentu saja kalau bukan karena Sehun direktur utama perusahaan tersebut, ia tidak akan mudah pulang semaunya saja seperti sekarang ini. Walaupun Sehun juga memiliki jadwal meeting setelah makan siang nanti, Sehun dengan sengaja menundanya esok hari agar hari ini ia dapat menemani Surin seharian dirumah. Sehun menaikan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh Surin seraya mengecek suhu tubuh wanita itu dengan punggung tangannya. Demamnya sudah tidak terlalu tinggi dibandingkan semalam. Sehun segera mengompres dahi Surin dengan perlahan, tidak ingin sampai membangunkannya. Surin menggeliat membuat Sehun langsung beku dengan seketika. Kalau sampai Surin bangun, maka rencananya hari ini akan gagal. Sehun buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan meninggalkan kamar tersebut.

Ya, Sehun berencana untuk menggantikan Surin melakukan seluruh kegiatan wanita itu seharian ini. Sehun tidak mau Surin memaksa dirinya yang sedang sakit melakukan rentetan kegiatan berat sehingga ia merelakan meeting pentingnya dan memilih untuk pulang lebih awal hari ini. Sehun mengetukan jari telunjuknya pada kepalanya seraya berjalan mondar-mandir di dapur. Sehun sebenarnya bingung harus memulai kegiatan Surin yang sudah ia catat di note ponselnya itu dari mana. Sehun menjentikan jarinya ketika akhirnya ia mendapat pencerahan.

Sehun mengambil tas berisikan baju olahraga Rei yang tertinggal diruang tamu. Ya, ia harus mengantarkan baju olahraga milik anak satu-satunya itu terlebih dulu mengingat sekarang sudah hampir jam makan siang dan berarti juga sebentar lagi jam pulang sekolah akan tiba. Sebelum Rei benar-benar pulang kerumah dan mengambil sendiri baju olahraganya, Sehun harus sudah lebih dulu tiba disana. Karena mengantar baju olahraga berarti juga keluar rumah, Sehun harus menyatukannya dengan berbelanja jadi ia tidak perlu bulak-balik keluar rumah. Selain berbelanja, Sehun juga tidak lupa untuk mengingatkan dirinya tentang mengambil laundry ditempat langganan Surin. Sehun segera mengambil daftar belanjaan yang sudah Surin tulis dan tempel di depan kulkas dengan cepat. Ia buru-buru mengambil kunci mobilnya dan segera melaju untuk melakukan tiga kegiatan Surin dari kesekian banyaknya kegiatan yang masih harus di selesaikan.

**

“Appa! Untung saja appa mengantarkan baju olahragaku.” Rei dengan senang langsung berhambur ke pelukan Sehun yang kini mengacak rambutnya dengan gemas. “Aigu, kapten futsal kecilku ini tampak senang sekali karena melihat ayahnya yang tampan datang.” Sehun menyerahkan tas berisi baju olahraga itu seraya memegang kedua bahu kecil Rei membuat anak laki-laki itu mendongak menatapnya. “Lain kali, kau harus lebih bertanggung jawab. Kau tidak boleh meninggalkan baju olahragamu lagi begitu saja. Kalau saja appa tidak pulang lebih awal, maka ibumu lah yang akan mengantarkan baju olahraga ini. Memangnya kau tega melihatnya jauh-jauh naik bus hanya untuk mengantarkan baju olahraga?” Rei langsung menggeleng seraya mengercutkan bibirnya. “Aku janji tidak akan membuat eomma sampai seperti itu.” Sehun tersenyum senang kemudian mengacak rambut Rei pelan.

“Bagus. Sudah sana latihan. Appa masih harus melakukan pekerjaan eomma yang lainnya.” Rei menaikan alisnya seolah melayangkan pertanyaan. “Memangnya mengapa appa harus melakukan pekerjaan eomma? Bukankah pekerjaan appa itu dikantor, menggambar bangunan dan semacamnya?” Tanyanya polos membuat Sehun tertawa kecil. “Hari ini eomma sedang tidak enak badan dan appa harus menggantikannya melakukan semua pekerjaannya. Lagipula, sepertinya appa bosan menggambar terus.” Tanggap Sehun sementara Rei menautkan kedua alisnya, tampak seperti sedang berpikir keras. “Appa tunggu disini sebentar, ya. Jangan kemana-mana.”

Rei berlari menuju pinggir lapangan bola sekolahnya, dan tampak mengambil tasnya. Anak laki-laki dengan tinggi yang jauh melebihi teman-teman sepantarannya itu tampak berbicara dengan pelatihnya. Sehun yang melihat itu segera membungkukan kepalanya sopan pada pelatih Rei ketika laki-laki paruh baya itu melihatnya sambil tersenyum. Rei segera berlari menghampiri Sehun yang masih setia menunggunya.

“Ada apa? Mengapa malah membawa tasmu dan bukannya latihan?” Tanya Sehun sementara Rei langsung menunjukan deretan giginya yang rapi. “Aku meminta ijin untuk tidak ikut latihan hari ini kepada Coach Kim. Aku juga ingin membantu appa melakukan pekerjaan eomma. Lagipula aku rasa sepertinya aku bosan menendang bola terus.” Sehun tertawa menanggapi ucapan tidak terduga Rei barusan. Sehun segera menggandeng tangan Rei dan menuntunnya ke arah parkiran setelah mereka berpamitan pada Coach Kim, pelatih Rei.

“Baiklah, sekarang kita harus berbelanja setelah itu mengambil laundry. Apa kau siap?” Ujar Sehun seraya memasangkan sabuk pengaman untuk anaknya yang tepat duduk disebelahnya itu. “Tentu saja jawabannya adalah siap!” Balas Rei dengan bersemangat membuat Sehun juga jadi ikut bersemangat untuk melakukan kegiatan-kegiatan Surin yang lainnya bersama dengan anak sematawayangnya itu.

**

“Mengapa daftar belanjaan ini tidak habis-habis, sih?” Sehun berceloteh seraya memasukan beberapa jenis sayuran yang tertulis di daftar belanjaan. Rei sedari tadi hanya memegang saku mantel yang dikenakan Sehun sambil sesekali membantu ayahnya mencari barang-barang yang tertulis di daftar belanjaan itu. “Baiklah Rei, kita absen dulu satu per satu agar tidak ada yang terlupa. Sayuran sudah semua, daging ayam sudah, sapi sudah, berbagai macam bumbu juga sudah lengkap, apel sudah, pisang sudah, pear dan alpukat kesukaan ibumu juga sudah. Tinggal barang-barang keperluan untuk membersihkan rumah saja yang belum.” Sehun memasukan list belanjaannya kemudian mendorong trolinya menuju ke deretan lain untuk mencari sabun cuci piring, pembersih lantai, dan peralatan mandi seperti shampoo, sabun cair, pasta gigi dan sebagainya yang Surin tuliskan dibagian paling bawah list tersebut.

“Appa, mengapa kita tidak beli makanan ringan?” Rei berujar membuat Sehun langsung menimbang perkataan anaknya itu. “Benar juga. Nanti, setelah appa menyelesaikan semua daftar yang dituliskan ibumu, ambil semua makanan ringan yang kau mau.” Sehun tersenyum kecil seraya terus mendorong trolinya. Ia berhenti ketika ia melihat sabun cuci piring yang sepertinya sering ia lihat di dekat westafel dapur rumahnya. “Appa, aku langsung ke bagian makanan ringan saja, ya.” Sehun yang tidak tega melihat wajah bosan Rei karena sedari tadi menemaninya berbelanja, akhirnya mengangguk dan seketika itu juga Rei langsung berlari senang menuju ke bagian makanan ringan. Sehun mendorong trolinya untuk mencari barang-barang yang masih belum ditemukannya yaitu pembersih lantai dan juga peralatan mandi. Ternyata berbelanja memang tidak mudah. Jika kau tidak tahu dimana letak-letak barangnya, maka berbelanja akan menjadi kegiatan yang cukup banyak memakan waktu.

Setelah berputar selama sepuluh menit, akhirnya Sehun menemukan salah satu merk shampoo dan pembersih lantai yang Surin maksud dalam daftar belanjaannya. Sehun tersenyum senang sambil kembali mengabsen semua barang belanjaannya yang ternyata sudah seratus persen lengkap. Sehun hendak mendorong trolinya menuju ke kasir namun tiba-tiba ia teringat akan Rei. “Oh astaga, Rei!” Sehun berseru panik seraya memutar trolinya dan mendorong troli tersebut cepat-cepat ke arah bagian makanan ringan, namun ia tidak menemukan anak sematawayangnya disana. Sehun yang sudah benar-benar panik segera kembali ke tempatnya dan Rei berpisah.

Ia menghela napasnya lega ketika menemukan Rei terjongkok tepat di depan rak sabun cuci piring. Rei terlihat ketakutan sambil memegang dua bungkus makanan ringan ditangan kanan dan kirinya yang jauh lebih kecil daripada bungkus makanan tersebut. Sehun segera menghampiri Rei, dan langsung mengangkat Rei ke dalam gendongannya. “Appa! Aku pikir Appa sudah pulang duluan!” Seru Rei sambil terisak. Sehun menenangkan Rei seraya menepuk punggung anak kecil itu dengan perlahan. Sehun harusnya tidak membiarkan anaknya berpisah darinya di pasar swalayan yang besar seperti ini.

Meskipun mereka hanya berpisah selama sepuluh menit, Sehun dapat merasakan betapa paniknya ketika ia menyadari Rei tidak ada disampingnya. Apalagi anak yang sedang dalam pelukannya sekarang ini. Ia pasti sangat terkejut membuat Sehun tidak henti-hentinya menepuk punggung Rei sambil sesekali mengecup puncak kepalanya, menenangkan anak kecil itu. “Maaf, seharusnya appa tidak seceroboh itu. Sudah, jangan menangis lagi. Ayo kita beli banyak makanan ringan kesukaanmu ini.” Sehun berujar seraya mendorong trolinya perlahan, dan setelah itu Rei berhenti menangis.

Seketika Sehun merasa salut pada Surin. Selama ini ia selalu membawa Rei pada saat berbelanja, bahkan dulu saat umur Rei yang masih kecil dan sedang dalam tahap aktif, Surin tetap membawanya dan wanita itu dapat mengendalikan semuanya dengan baik. Sementara Sehun, belanja yang harusnya selesai dalam waktu satu setengah jam oleh Surin, menjadi dua jam setengah jika ia yang mengerjakannya. Di tambah pula dengan hampir hilangnya anak sematawayangnya.

Sehun memang harus belajar banyak dari Surin.

**

“Maaf, tapi anda harus membawa kertas laundry-an anda jika ingin mengambil baju laundry-an anda.” Sehun memandang Rei yang hanya mengangkat bahunya, seakan tidak tahu-menahu soal cara mengambil laundry-an. Tanggapnya membuat Sehun menghela napas berat. “Tidak bisakah hari ini saya mengambil bajunya dulu, lalu besok baru menyerahkan kertas tersebut?” Sehun berujar sementara sang pelayan langsung menggelengkan kepalanya cepat. Sehun benar-benar tidak mungkin kembali ke rumah hanya untuk mengambil kertas tersebut, lalu kembali lagi kesini. Tujuannya menyatukan kegiatan mengantar baju olahraga, berbelanja, sekaligus mengambil laundry menjadi satu adalah untuk menghemat waktu sehingga Sehun dapat mengerjakan pekerjaan Surin lainnya yang belum diselesaikannya.

Sehun bukannya lupa dengan kertas laundry tersebut, melainkan ia tidak tahu jika mengambil laundry harus menyerahkan kertas yang Sehun pikir seperti kertas tebusan tersebut. Selama ini mereka memang menggunakan jasa laundry untuk semua baju-baju kotor mereka, namun yang menangani bagian ini bukanlah Sehun melainkan Surin, jadi wajar saja kalau Sehun tidak tahu-menahu mengenai kertas laundry tersebut.

“Ya, Oh Sehun!” Suara seseorang yang sangat Sehun kenal menyapa telinganya, membuatnya segera menoleh ke arah pintu masuk. “Byun Baekhyun? Sudah lama sekali tidak bertemu. Mana Jimi?” Sehun langsung menyalaminya seraya menepuk punggungnya, begitupun juga dengan Baekhyun yang tampak sangat senang bertemu dengan teman lamanya. Sudah hampir satu tahun Sehun tidak pernah menemui teman semasa SMA-nya itu. Terakhir kali mereka bertemu adalah pada saat acara reuni tahun lalu, dan setelah itu mereka berdua hanya berhubungan melalui sambungan telepon saja. “Jimi? Mungkin ada di dalam. Wanita itu sedang sibuk akhir-akhir ini mengurusi usaha laundry-nya ini. Bahkan wanita super itu rencananya akan membuka cabang di daerah Myeongdong dan Yeouido.” Ujar Baekhyun membuat Sehun langsung terkejut. “Jadi, selama ini Surin berlangganan di laundry milik Jimi?” Tanyanya, tepatnya pada dirinya sendiri. Mungkin inilah alasan mengapa Surin memberitahunya beberapa bulan yang lalu bahwa sekarang ia tidak lagi berlangganan dengan laundry Goo yang hanya berbeda tiga rumah dari rumah mereka.

“Aku juga baru tahu kalau ternyata keluargamu berlangganan di laundry milik istriku ini. Tapi wajar saja, karena laundry ini belum lama resmi dibuka. Usaha laundry ini baru diresmikan sekitar tiga bulan yang lalu.” Jelas Baekhyun membuat Sehun hanya mengangguk-angguk. “Kau kemari dengan anakmu? Annyeong, Rei-ya.” Sapa Baekhyun seraya mengacak rambut Rei yang langsung membungkuk sopan. “Annyeong haseyo, Uncle Byun. Sudah lama aku tidak bermain bersama dengan Baekji!” Baekhyun tertawa ketika Rei menyebut nama anak perempuannya dengan Jimi. “Wah, sudah lama sekali tidak mendengar panggilan ‘Uncle Byun’ darimu. Makanya, sering-sering mainlah kerumah. Baekji juga sudah menanyakan kabarmu.” Tanggap Baekhyun membuat Rei langsung mengagguk, menurut. Rei menggoyangkan tangan Sehun, seolah meminta ijin sementara Sehun hanya mengangguk dan tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Rei.

“Ah ya, tunggu sebentar, biar ku panggilkan dulu wanita super itu. Jimi-ya! Byun Jimi!” Baekhyun yang tampak mengenakan setelan kerja rapi itu masuk ke dalam dan memanggil istrinya. Sepertinya Baekhyun baru saja akan menjemput Jimi pulang ke rumah mereka setelah ia sendiri telah menyelesaikan pekerjaannya di perusahaan tekstil yang Sehun ketahui adalah milik Baekhyun pribadi. Tanpa Sehun sadari kini ia sudah tersenyum simpul. Sebuah pikiran tentang istrinya itu melayang dikepalanya, membuatnya semakin jatuh hati pada sosok Surin. Wanita itu rela mengantar dan mengambil sendiri laundry yang jadi lebih jauh dari jarak rumahnya hanya karena ia ingin berlangganan dengan temannya yang baru saja membuka sebuah usaha.

“Oh astaga, Oh Sehun! Tumben sekali bukan Surin yang kemari.” Jimi menjabat tangan Sehun, sementara Rei langsung berbungkuk sopan membuat Jimi gemas sampai-sampai kini ia sudah mengecup kedua permukaan pipi merah milik Rei. “Kau harus main ke rumah, Baekji sudah mencarimu terus.” Jimi berujar membuat Rei langsung mengangguk-angguk. “Ah ya, kau bisa ambil baju laundry-anmu. Semua sudah beres. Tolong ambilkan laundry-an atas nama keluarga Oh, ya.” Jimi langsung menyuruh pelayan yang masih memperhatikan mereka itu untuk mengambil laundry-an Sehun. “Tidak apa jika memang tidak bisa diambil dulu. Aku lupa membawa kertas laundry-nya.” Ujar Sehun sementara Jimi langsung mengibaskan tangannya. “Tidak usah pakai-pakai kertas. Ambil saja laundry-annya.” Tanggap Jimi cepat membuat Sehun tersenyum lega.

“Tapi, mengapa hari ini tumben sekali kau dan Rei yang mengambil laundry?” Tanya Jimi sementara Baekhyun tampak masih mendengarkan mereka. “Surin sedang tidak enak badan jadi aku memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini dan berencana untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan Surin. Tapi ternyata tidak mudah. Matahari sudah hampir tenggelam dan aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah lainnya.” Ujar Sehun membuat Jimi dan Baekhyun tertawa. Baekhyun bahkan sudah menepuk pundak Sehun berkali-kali. “Kau ini ternyata bisa romantis juga ya, Oh Sehun.” Ujar Baekhyun dan tawa langsung memenuhi ruangan.

Tidak lama, pelayan itu kembali dengan membawa satu kantong besar yang langsung Sehun ambil. “Ah ya, apa laundry kalian tidak menyediakan jasa kurir untuk mengambil dan mengantar?” Tanya Sehun membuat Jimi langsung menepuk dahinya. “Aku hampir saja lupa. Mulai minggu depan, kami sudah menyediakan jasa kurir untuk laundry ini. Kau bisa lihat di brosur ini.” Sehun mengambil brosur tersebut dan membacanya sebentar. “Untung saja sudah dimulai minggu depan. Kalau begitu, mulai minggu depan, aku akan menggunakan jasa kurir sehingga Surin tidak perlu lagi bolak-balik kesini.” Sehun langsung mengisi daftar yang berada di brosur tersebut dan menyerahkannya pada pelayan yang langsung menerimanya. “Woah, selain romantis ternyata kau juga sangat perhatian, ya.” Ledek Baekhyun membuat Sehun tertawa. Sehun segera menyelesaikan pembayaran, walaupun awalnya Baekhyun dan Jimi memaksanya untuk tidak membayar. Setelah perdebatan kecil yang berhasil dimenangkan oleh Sehun, Sehun langsung berpamit diri mengingat ia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi.

“Kami juga sudah mau pulang sebentar lagi. Kalau begitu, hati-hatilah dijalan. Sampaikan salam kami untuk Surin. Semoga ia cepat sembuh, ya.” Baekhyun berujar sementara Sehun sudah berada di dalam mobilnya dengan kaca yang terbuka. “Tentu saja akan aku sampaikan. Salam juga untuk Baekji. Kapan-kapan Rei pasti akan main kesana.” Sehun bersuara seolah mewakili Rei yang kini sudah melambai girang ke arah Baekhyun dan Jimi. “Annyeong, Uncle dan Aunty Byun!” Seru Rei dan setelah itu Sehun langsung melajukan mobilnya menuju rumah. Sehun harap Surin masih belum bangun sehingga ia dapat menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Sekalipun Surin sudah bangun, Sehun tidak akan membiarkan gadis itu melakukan apapun yang berat hari ini. Sehun sudah bertekad untuk melakukan semua pekerjaan Surin meskipun ternyata cukup berat dan melelahkan. Kalau saja pemilik laundry itu bukan Jimi, maka sudah pasti Sehun terpaksa kembali ke rumah untuk mengambil kertas laundry.

“Appa! Cepat sedikit! Aku ingin buang air besar!” Rei berseru membuat Sehun langsung menolehnya dengan sangat terkejut. “Ya, Oh Rei, kau harus bisa menahannya sebentar! Sekarang, pegangan yang kuat pada sabuk pengamanmu!” Setelah melihat Rei sudah melakukan yang dipintanya, Sehun buru-buru melajukan mobilnya dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. “Ini namanya keadaan darurat!” Sehun berseru panik ketika melihat wajah Rei yang kini terlihat tegang.

**

“Sekalian saja kau bersihkan tubuhmu. Sudah menjelang malam, tidak baik jika mandi terlalu malam.” Sehun berujar seraya membantu Rei turun dari mobil. Rei langsung berlari ke dalam rumah sedangkan Sehun memutuskan untuk mengeluarkan kantong-kantong belanjaan dari bagasi mobilnya terlebih dahulu.

Dengan telaten Sehun memasukan semua barang belanjaannya ke dalam lemari pendingin. Sehun sampai harus berkali-kali mengeluarkan apa yang sudah dimasukannya ke dalam lemari pendingin tersebut karena pintu lemari pendingin itu tidak dapat ditutup kembali. Sehun berdecak kesal lalu mengeluarkan dua ikat sayuran yang sedari tadi mengganggu pandangannya. Ia mengambil satu baskom berukuran sedang lalu mengisinya dengan air kemudian ia segera memasukan dua ikat sayur tersebut kedalam baskom berisi air itu. “Nah, dengan begini sayurnya akan bertahan lebih lama.”

Sehun mengecek satu kantong berisikan makanan ringan. “Hm, supaya lebih tahan lama maka semua makanan ringan ini harus dimasukan ke lemari pendingin.” Sehun memasukan satu per satu makanan ringan yang ia beli itu ke dalam lemari pendingin yang sudah semakin penuh. Sehun tersenyum puas ketika ia berhasil menutup pintu lemari pendingin tersebut. “Sekarang apa lagi?” Sehun melihat ke sekeliling dapur lalu menepuk dahinya. “Oh ya, betul! Makan malam. Lebih baik pesan atau masak sendiri saja, ya?” Sehun terlihat menimbang-nimbang, namun akhirnya ia mengambil ponsel yang ia letakan di dalam saku celana panjangnya.

“Eomma!” Seru Sehun sementara terdengar balasan galak dari seberang sana. “Aish, kau ini mengaggetkanku saja! Kau kan tahu umur ibumu ini sudah tidak muda lagi! Jantungku sudah melemah!” Tegurnya membuat Sehun tertawa kecil. “Maaf, maaf, aku kan hanya memastikan apa ibuku yang cantik ini masih sering marah-marah atau tidak. Ternyata masih. Eomma, aku membutuhkan bantuanmu.” Sehun langsung menuju ke inti sementara ibunya hanya tertawa kecil.

“Bantuan apa lagi? Minggu ini eomma dan appa akan mengunjungi Surin dan Rei ke rumah kalian, jadi kalau butuh bantuan nanti saja saat hari Sabtu.” Ujar ibunya membuat Sehun mendengus. “Surin sedang sakit dan aku ingin membuatkannya bubur yang dulu sering eomma buat ketika aku sakit. Aku yakin ia akan langsung sembuh begitu makan bubur dengan ramuan khas eomma itu.” Seketika ibu kandung Sehun itu tertawa diseberang sana membuat Sehun tersenyum kecil.

“Aish, kau ini ada-ada saja. Surin sedang sakit? Pasti ia terserang flu karena kelelahan lagi? Yasudah, nanti akan ku kirimkan lewat pesan singkat resep buburnya. Jangan lupa untuk memberinya obat sesudah makan dan suruh untuk istirahat total. Kali ini, kau harus bisa menjaga Rei sendiri dengan baik.” Ujar ibunya panjang sementara Sehun hanya mengiyakan setiap nasehat tersebut. “Kalau begitu, apa perlu kunjungannya dimajukan jadi esok hari? Aku dan ayahmu akan membawakan beberapa makanan dan obat-obatan herbal untuk Surin.” Eommanya berujar lagi sementara Sehun langsung melarangnya dengan sopan.

“Tidak perlu, eomma dan appa bukannya besok harus check-up rutin ke dokter? Aku bisa mengurus Surin dan Rei jadi eomma tenang saja. Hari Sabtu nanti aku akan menjemput kalian berdua.” Tanggap Sehun cepat. “Aigu, anak bungsuku ini perhatian sekali dengan kedua orangtuanya. Yasudah, kalau begitu aku tutup sekarang ya. Tunggu sebentar untuk resepnya. Sampai jumpa hari sabtu. Sampaikan salamku pada Surin dan Rei.” Ujar ibunya dan setelah Sehun mengucapkan kata terima kasih, ibunya langsung memutuskan sambungan telepon tersebut.

Sambil menunggu ibunya mengirimkan resep, Sehun berjalan ke lantai dua, hendak mengecek keadaan Surin. “Rei-ya, mandinya jangan terlalu lama nanti kau masuk angin.” Sehun mengetuk pintu kamar mandi, lalu mulai menaiki tangga yang menuju ke lantai dua rumahnya setelah mendengar jawaban ‘iya’ dari anak laki-lakinya itu. Sehun membuka pintu kamarnya dengan perlahan, tidak ingin membuat Surin bangun dari tidur nyenyaknya. Sehun tersenyum ketika melihat wanita itu masih terbaring dengan posisi yang tidak berubah. Sehun menyentuh dahi Surin untuk memastikan suhu badan Surin. Sehun menghela napas lega ketika suhu tubuh Surin sudah kembali normal. Wanita itu memang butuh waktu untuk istirahat total. Sehun tersenyum senang seraya mengecup dahi Surin dengan perlahan. Ketika ia bangun nanti pasti keadaannya akan jauh lebih baik.

Tiba-tiba ponsel Sehun bergetar, menandakan adanya sebuah pesan masuk yang ternyata dari ibunya. Sehun langsung berjalan mengendap-endap untuk keluar dari kamar tersebut. Sehun membaca satu per satu resep tersebut sembari berjalan kembali menuju dapur. Meskipun ia berencana untuk menghubungi ibunya lagi karena tidak mengerti dengan bumbu-bumbu yang dituliskan di pesan tersebut, Sehun tetap bertekad ingin membuatkan bubur spesial untuk Surin seperti Surin yang sudah setiap hari membuatkannya makan pagi, siang, dan juga malam setiap harinya.

**

Surin membuka matanya lalu memperhatikan sekelilingnya. Ia meregangkan otot-ototnya seraya menguap. Belum pernah ia merasa sesegar ini setelah bangun dari tidurnya. Surin segera beranjak turun dari kasurnya masih sambil menguap berkali-kali. Surin harus segera menyiapkan makan pagi sebelum Sehun dan Rei bangun. Ia mengambil ponselnya di meja kecil yang berada di dekat kasurnya. Surin terbelak ketika melihat penunjuk waktu yang muncul pada lock screen ponselnya. “Sekarang jam 9 malam?” Ujarnya panik lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Ia menepuk dahinya ketika tidak melihat sosok Sehun yang tadinya ia pikir tengah tertidur nyenyak.

Seketika Surin ingat bahwa pagi tadi ia meminum obat dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. “Astaga aku sudah tidur berapa lama?! Rei! Ia pasti sedari tadi belum makan! Aish, bodoh sekali aku ini!” Surin buru-buru keluar kamar dan berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Tiba-tiba ia melihat Sehun tengah duduk di sofa ruang tamu sambil mengerjakan pekerjaannya lewat dari laptop yang ia letakan di meja kaca ruang tamu tersebut sementara Rei tampak berada di sebelahnya dengan buku-buku pelajaran yang berserakan memenuhi meja kaca itu, bercampur dengan map-map berisi kertas milik Sehun. Sehun segera menolehkan kepalanya seraya menyuruh Surin untuk tidak berisik, terbukti dari satu jari telunjuknya yang ia tempelkan pada bibirnya. “Ssst, jangan berisik. Rei sudah tertidur.” Sehun berujar dengan sangat pelan sambil melirik ke arah Rei yang sedang meletakan kepalanya diatas buku cetaknya, tertidur dengan sangat lelap.

“Duduklah dulu, aku akan pindahkan Rei ke kamar. Tenang saja, ia sudah selesai dengan semua tugasnya. Hanya saja tadi ia berkata bahwa ia ingin menemaniku sampai aku selesai dengan pekerjaanku. Akhirnya ia ketiduran disini.” Sehun menjelaskan seraya menggendong Rei dengan sangat hati-hati, takut akan membangunkan anak kecil itu. Surin mendudukan dirinya seraya merapikan buku-buku Rei. Wanita itu menghela napas berat. Meskipun keadaannya sekarang sudah benar-benar membaik akibat dari obat yang diminumnya serta istirahat hampir seharian penuh, besok pekerjaannya akan jauh lebih berat daripada hari ini.

“Apa yang sedang kau pikirkan sampai alismu bertaut seperti itu? Ini makanlah dulu. Aku sengaja membuatnya dengan resep yang dikirimkan eomma. Beruntung sekali karena rasanya enak.” Sehun menyodorkan mangkuk berisi bubur buatannya lalu menempatkan dirinya tepat disebelah Surin. Ia menyentuh dahi gadis itu lalu tersenyum ke arahnya. “Baguslah, kau sudah sembuh.” Sehun berujar sementara Surin memperhatikan wajah lelah laki-laki itu dengan tatapan khawatir. “Kau tampak lelah sekali. Apa pekerjaanmu di kantor hari ini berjalan dengan baik-baik saja?” Tanya Surin seraya menyentuh punggung Sehun yang langsung tersenyum lebar.

“Kau ini. Kau sedang sakit dan malah mengkhawatirkanku bukannya mengkhawatirkan dirimu sendiri?” Sehun mengacak rambut Surin gemas. “Hari ini aku pulang pagi karena aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Saat tiba dirumah, aku melihatmu sedang tertidur nyenyak jadi aku memutuskan untuk membiarkanmu berisitirahat dulu hari ini sampai kau bangun dengan sendirinya. Tenang saja, aku sudah menyelesaikan semua tugasmu hari ini. Mengantar baju olahraga Rei, berbelanja, dan juga mengambil laundry.” Jelas Sehun sementara Surin langsung menatapnya dengan tatapan bersalah. “Ah ya, mulai minggu depan kau tidak perlu lagi bulak-balik ke tempat laundry milik Jimi karena aku sudah memesan jasa kurir untuk mengambil dan mengantar bajunya.” Jelas Sehun seraya memberikan senyuman senangnya. Surin langsung menghela napas seraya meraih tangan Sehun. “Terima kasih.” Ujarnya pelan namun Sehun masih dapat dengan jelas mendengarnya.

“Jadi kau benar-benar berbelanja?” Surin mengalihkan pembicaraan ketika ia merasakan matanya mulai berair. Surin tidak hampir menangis karena sedih, Surin terharu. Ia terharu karena perlakukan Sehun padanya. Ia terharu karena sifat Sehun yang begitu peduli padanya. Surin tertawa kecil ketika Sehun menaikan bahunya santai dengan ekspresi wajah yang seakan bangga pada dirinya sendiri. “Biar aku cek.” Surin berjalan menuju dapur lalu ia terkejut setengah mati ketika dengan perlahan ia membuka pintu lemari pendingin yang begitu penuh. Surin tertawa seraya mengeluarkan semua makanan ringan yang menjadi penyebab lemari pendingin tersebut penuh. Saat hendak meletakan semua makanan ringan itu, Surin melihat satu baskom berisikan air dan sayur yang sudah terlihat tidak segar. “Astaga jadi kau memasukan semua makanan ringan ke dalam kulkas, lalu membiarkan sayuran ini diluar dengan air seperti ini?” Surin tertawa terpingkal-pingkal sementara Sehun menghampirinya dengan tatapan bingung. Surin kini bahkan sudah memukul Sehun berkali-kali tanpa menghentikan tawanya.

“Bodoh! Makanan ringan ini diletakan diluar lemari pendingin sampai besok juga tidak apa-apa. Seharusnya sayuran yang kau letakan di dalam. Aish, kau ini!” Surin masih terbahak sementara Sehun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sudahlah, berhenti menertawakanku. Setidaknya aku berhasil membeli semua barang yang ada di daftar belanjaanmu.” Ujar Sehun membela diri. Ia melirik Surin yang kini beralih pada lemari pendingin yang ada dihadapan mereka. Wanita itu membenahi semua letak bahan makanan yang begitu berantakan menjadi susunan yang teratur. Tidak lupa juga ia memindahkan semua makanan ringan yang dibeli Sehun pada lemari makanan yang tertempel di dinding tepatnya diatas meja dapur tersebut. “Bagaimanapun juga, terima kasih karena sudah membantuku hari ini.” Ujar Surin seraya mengubah posisi berdirinya jadi berhadapan dengan Sehun.

“Tentu saja kau harus berterima kasih. Hari ini aku benar-benar kewalahan.” Surin tertawa menanggapi ucapan Sehun barusan. “Baru mengantar baju olahraga Rei, berbelanja, dan mengambil laundry serta memasak bubur saja kau sudah kewalahan?” Ledek Surin membuat Sehun menghela napas berat. “Entahlah. Semuanya terasa jauh lebih berat, bahkan lebih berat daripada mengerjakan pekerjaanku dikantor.” Sehun memeluk Surin dan meletakan dagunya di puncak kepala gadis itu. Ia memejamkan matanya seraya mengeratkan pelukannya seolah memeluk Surin erat-erat dapat mengembalikan energinya yang hilang entah kemana setelah seharian ini melakukan rentetan pekerjaan yang sebelumnya belum pernah ia kerjakan.

Sehun tersenyum ketika Surin dengan perlahan mulai mengelus punggungnya lembut. “Jangan berlebihan, tentu saja berbelanja, mengambil laundry, memasak, dan mengurus anak itu tidak seberat pekerjaanmu dikantor yang mengharuskanmu duduk seharian penuh di depan layar komputer dan berkas-berkas yang memusingkan. Aku sampai mengkhawatirkanmu setiap hari karena hal tersebut. Kaca mata bacamu juga semakin tebal. Kau menggantinya dan tidak mengatakannya padaku, kan?” Surin memukul punggung Sehun membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. Surin langsung buru-buru mengelusnya lagi membuat Sehun tertawa kecil.

“Tidak juga. Aku lebih memilih pekerjaanku daripada harus mengerjakan semua pekerjaanmu setiap harinya.” Ujar Sehun lalu mengacak rambut Surin dengan dagunya. “Memangnya seberat apa?” Surin berujar menanggapi. “Asal kau tahu saja, saat di supermarket tadi aku hampir saja kehilangan Rei, lalu saat di laundry, aku hampir tidak bisa mengambil baju-baju kita karena aku lupa membawa kertas yang digunakan untuk mengambil laundry-an tersebut, saat memasak bubur pun aku tidak sengaja memegang pinggiran panci sehingga keempat jariku merah seperti ini.” Sehun mengadukan semuanya pada Surin dengan nada sedih seraya memperlihatkan keempat jarinya yang memerah pada Surin. “Tenang saja, ini sudah aku berikan obat oles.” Sehun berujar lagi seolah dapat membaca ekspresi khawatir Surin.

Surin melepas pelukannya kemudian beralih memegang kedua ujung lengan kemeja putih Sehun. “Apa? Pasti kau mau meminta maaf karena kau pikir kau membuatku melakukan semua kegiatan itu?” Tebak Sehun membuat Surin langsung menundukan kepalanya. “Justru aku yang ingin meminta maaf. Aku tidak tahu setiap hari kau harus melakukan semua kegiatan melelahkan itu berulang-ulang. Kau benar-benar melakukan semuanya dengan baik selama ini dan aku bahkan tidak sempat berterima kasih padamu untuk itu.” Surin menatap Sehun lurus-lurus. Yang ia temukan hanya sebuah ketulusan dari manik cokelat milik laki-laki itu membuatnya tidak sanggup untuk menahan air mata yang kini mulai memenuhi pelupuk matanya.

Sehun menangkup wajah Surin dengan kedua tangannya. “Kalau kau adalah salah satu dari pahlawan maka mungkin kau akan disebut sebagai Supermom.” Surin tertawa seraya meneteskan satu bulir air mata yang jatuh begitu saja. “Aku membutuhkanmu, Rei membutuhkanmu, kita membutuhkanmu maka seorang Supermom tidak boleh sakit.” Sehun mengecup kedua mata Surin yang kini terpejam. “Kalau selama ini aku jarang mengatakannya, maka sekarang adalah waktunya. Terima kasih, Surin-a.” Sehun mengecup bibir Surin dengan mata yang terpejam sementara Surin kini sudah kembali meneteskan air matanya.

Sebuah ucapan terima kasih paling bermakna yang pernah Surin terima. Surin benar-benar merasa dibutuhkan dan ia tidak bisa untuk tidak bahagia mendengar kalimat barusan. Surin tidak ingin mengkategorikan pekerjaannya sebagai seorang ibu itu adalah suatu pekerjaan yang berat dan melelahkan karena sejujurnya, ia melakukan semuanya dengan tulus untuk dua orang yang paling ia sayangi itu.

Kini Surin benar-benar merasakan bagaimana berada diposisi seorang ibu. Mereka tulus mencintai dan menjaga keluarganya bahkan terkadang mereka lupa untuk melakukan semua hal tersebut untuk dirinya sendiri.

“Aku menyayangimu, Supermom.”

Sehun memeluk Surin erat-erat seraya menepuk-nepuk punggung wanita kesayangannya itu yang kini sudah menangis terisak.

Dan pada saat itu juga Sehun tahu bahwa ia benar-benar beruntung memilikinya.

-FIN

Gimana-gimana?! Semoga suka ya! Ditunggu komentar dan masukannya! Ini bisa dapet ide ff Sehun jadi papa gini tuh karena dia belakangan ini pake kacamata mulu duh gemes banget liatnya. Dewasa banget kalo udah pake kacamata, nah thanks to kacamatanya Sehun karna tiba-tiba jadi pengen bikin ff yang ber-genre gini. Semoga gak ngebosenin ya. Makasih juga udah mau sempetin baca bahkan sampe kata-kata terakhir ini(?) Sekali lagi terima kasih sudah membaca! Semoga kalian suka. Please send your thoughts about this ff on the comment box! Thanks and see ya! Kunjungin wordpress pribadi saya untuk ff yang lainnya ya. Here’s the link : http://ohmarie99.wordpress.com Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disana ya!

Anyway! Hari Sabtu, 27 Febuari 2016 akhirnya bisa diberi kesempatan untuk ketemu EXO! Puji Tuhan! Semua usaha keras ujung-ujungnya bakal dibales juga dengan yang baik:-) Penantian panjang akhirnya berhenti juga! Doain ya, semoga semuanya lancar sampai konser selesai, semuanya diberikan kesehatan dan semoga juga konsernya berjalan dengan baik tanpa kurang satu apapun.

So grateful. Let’s make an unforgettable moment together, boys!

See you soon EXO.

See you soon my dearest,

Oh Sehun.

 

Don’t forget to visit my wp -> http://ohmarie99.wordpress.com See you on the next ff!

 

17 thoughts on “Supermom

  1. Ahhhhhhh my feels :”’ nyentuh bgt sampe ke hati, ikutan terharu. Semuanya tergambar jelas dan tersampaikan. Suka bangeeet!!!
    And anyway have fun buat author-nim (dan para reader lainnya) yg nonton exoluxion sabtu besok. Too bad msh blm dikasih kesempatan buat nonton :’D wish for the best to the entire show!
    Btw, ditunggu ff lainnya, kalo bisa sih marriage life, karena…belakangan ini para memberdeul entah kenapa keliatannya makin dewasa aja😂 fighting and keep writinggg!

    1. omg makasih banget banget bangeeeeet! seneng banget kalo kamu sukaaaa!

      Amin makasih ya! jangan sedih, pasti masih ada waktu lain! Aku doain kalo nanti ada next concert semoga kita bisa nonton bareng ya!

      HUHUHU betul banget makin dewasa mereka tapi kelakuan tetep aja/? sekali lagi makasih banget ya udah mau baca dan komen!<3

  2. That good good/efek Luhan Mode :v
    Feelnya dapet banget hihi. Jadikan Surin beneran wanita tangguh banget. Ngurusin rumah tangga emang ga ada habisnya kalo dipikir. Setiap saat pasti ada aja yang dilakukannya, ya kek Surin yang pagi-pagi udah bangun, siapin sarapan anak-suami, siapin bekal, terus masih bersih2 dan banyak lagi.
    Hahaha..tapi melas juga Sehun jadinya kkk~
    Si Rei juga mencerminkan Sehun child vers. sempurna banget dah ini

    Ohh..ditunggu ff yang lain yap! Yang lebih seru harus/maksa*plakk

    TTT.TTT EXOLUXIONINA
    kek mimpi banget gitu. setelah penantian 1,5thn mereka dateng lagi hahaha
    ya walopun aku nasibnya sama. kagak bisa nonton kkk~
    FIGHTING

    1. HUHUHUHUH makasih buat komen manisnya ya! Ini jadi motivasi banget buat nulis lagiiiii! Sekali lagi terima kasih banyak!!!

      Pasti, pasti, pasti! Doain ya supaya setiap postingan aku selalu ada progress huhuhu.

      Tenang aja pasti nanti ada saatnya kok kamu ketemu mereka!! Semangatttt!

  3. Author kreatif deh kalau kata guru sastra aku orang kaya author itu peka sama keadaan yang mau dijadiin cerita buktinya author nulis ff ini karena terinspirasi kacamatanya sehun. aku suka banget ff ini jadi aku bisa dapet feelnya rei yang dapet kasih sayang dari ortunya gak kaya aku dari kecil gak pernah di sayang sama ortu ketemu ortu aja setahun sekali. ehh… kok aku jadi curhat ya mian author hehe…>

    1. Awwwww makasih yaaaa manis banget komentarnya! Aku seneng kalo kamu suka sama ff ini! Jangan sedih-sedih ya, yakin deh mereka sayang kok sama kamu, namanya juga orangtua. Tenang aja, yang sayang sama kamu tuh banyak termasuk oppa/? semangaaaat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s