The Gray Autumn (Chapter 2)

IMG_20160103_094350

The GrayAutumn – Part.2

By : Ririn Setyo

Song Jiyeon || Oh Sehun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda  http://www.ririnsetyo.wordpress.com

“Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Chanyeol harus membuat pesta pernikahan semeriah itu.”

Sehun melepaskan jas hitam yang membalut tubuh tingginya sesaat setelah dia memasuki kamar tidur, membuangnya sembarang di atas karpet abu-abu motif abstark berbulu halus, membentang luas hampir menutupi seluruh permukaan lantai dingin kamarnya. Jiyeon berjalan beberapa langkah di belakangnya, wanita itu tampak tidak peduli pada semua celotehan Sehun, dia tetap berjalan memasuki kamar tanpa kata. Jiyeon menuju meja rias seraya meletakkan tas tangannya di sana, melepaskan anting batu sapir lalu berjalan ke kamar mandi. Namun langkah wanita itu terhenti, saat Sehun kembali mengeluarkan suaranya.

“Pesta penikahan? Benar-benar lelucon yang menurutku sangat membosankan dan tidak penting.”

Jiyeon membalikkan tubuh langsingnya yang sempurna, menatap datar Sehun yang kini hanya menyisakan celana pendek dan singlet putih di tubuh tingginya. Jiyeon mendengus seraya tertawa sumbang, Sehun menghentikan niatnya untuk berjalan menuju walk in closet miliknya. Menatap Jiyeon yang menatapnya benci, selalu seperti itu sejak—- entahlah Sehun tidak begitu ingat sejak kapan wanita itu jadi begitu membencinya.Mungkin sejak Sehun mengambil alih perusahaan kosmetik milik ibu Jiyeon dan membawa sekretaris pribadinya menginap di rumah mereka. Ya mungkin sejak itu.

“Tentu saja terlihat tidak penting di mata laki-laki brengsek sepertimu, OhSehun. Kauyang tak punya hati tentu saja tidak akan pernah mengerti makna pernikahan, yang kau tahu hanya bagaimana mendapatkan lembaran kertas saham berharga jutaan dolar, benar begitu?”

Sehun tertawa lantang, dia berjalan hingga berdiri di depan Jiyeon, tangan laki-laki itu terulur menyentuh ujung dagu Jiyeon dengan ibu jarinya. Iris hitam sepekat malan miliknya, menatap tak peduli pada Jiyeon yang menajamkan tatapannya.

“Terima kasih untuk pujiannya, Oh Jiyeon! Kau benar-benar mengerti tentang diriku yang sebenarnya.”

Jiyeon membalikkan tubuhnya, berjalan menuju kamar mandi. Dia menghentikan langkahnya, tanpa berbalik wanita cantik itu mengucapkan sebaris kalimat, dingin, datar, yang hanya membuat Sehun menggangkat kedua tangannya tidak peduli di belakang sana.

“Berhenti memanggilku dengan margamu Sehun, karena aku tidak akan pernah sudi merubah namaku menjadi Oh Jiyeon, sampai kapan pun!” ucap Jiyeon sebelum pada akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.

~000~

Jiyeon melepaskan pakaiannya, berjalan menuju bathtub yang sudah terisi air dingin, merebahkan tubuhnya perlahan,seraya menikmati lembutnya air dengan tetesan minyak beraroma vanilla yang disukai Jiyeon sejak dulu. Jiyeon menyandarkan kepalanya di ujung bathtub, menerawang saat kilasan kenangan manis bersama Sehun di awal pertemuan mereka berputar pelan di memorinya. Kenangan yang justru membuat Jiyeon tersenyum getir, bersamagulungan rasa sesal yang membelitnya hingga sekarang.

Kenangan manis yang ingin sekali Jiyeon hapus dari memori hatinya, kenangan yang ingin sekali Jiyeon kubur di dasar hati terdalam hingga dia tak mampu untuk membawanya kembali ke permukaan. Kenangan yang jika Jiyeon bisa memutar ulang waktu, tak pernah diharapkannya sedikitpun. Kenangan yang mengikat hatinya begitu kuat, pada sosok brengsek yang justru telah memenangkan seluruh hati dan cintanya.

Jiyeon memejamkan matanya, menenggelamkan seluruh tubuh dan wajahnya ke dalam air dingin, membiarkan napasnya terhenti untuk beberapa detik, membiarkan jantungnya berdenyut lemah saat tak ada oksigen yang mampu di pompa jantung dan berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Ya Jiyeon sangat berharap dia segera terbangun dan menemukan semuanya kembali baik-baik saja.

3 Years Ago

Song’s Ballroom – Anniversary Jiyeon’s Parent

First Time in Love

Dengan ragu Jiyeon keluar dari dalam mobil mewah berwarna hitam saat seorang valet parking  membuka pintu mobilnya, tepat di depan pintu ballroom milik keluarganya. Ballroom bergaya Victoria, sangat mewah danelegant, dari ukiran berkelas di tiap sudut ballroom serta perabotan yang terdalam di dalamnya.Ballroom yang sudah di penuhi oleh para kerabat dan kolega dari kedua orangtuanya yang malam ini, merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 25 tahun.

Hembusan napas berat kembali keluar dari kerongkongan Jiyeon yang terasa kering, kering karena sejak tadi gadis itu terus mengomel tidak jelas pada bibi Jung yang malam ini, bertugas memastikan gadis itu mau datang ke pesta. Seorang bibi paruh baya yang sudah mengasuh Jiyeon sejak hari pertama gadis itu lahir ke dunia, bibi paruh baya yang hanya mampu tersenyum dengan gelengan pelan di kepala, tiap kali Jiyeon memaki sang ayah yang memaksanya datang malam ini.

Berbalut gaun panjang dari perancang ternama yang sudah mendunia hingga menutupi mata kaki, sewarna tulang dengan model kemben berhias belt dari bebatuan mulia yang berkilau. Rambut panjang Jiyeon yang kali ini sewarna hazelnut dibiarkan tergerai, mengenggam tas tangan dari bebatuan swarovski yang membuat penampilan Jiyeon terlihat sempurna. Dan semakin sempurna saat kaki jenjang gadis itu, terbalut high heellimited editionberwarna gold dengan tinggi sepuluh centi meter.

Jiyeon mengerjab seraya memajukan sedikit wajahnya ke arah pintu ballroom yang terbuka, pintu  yang akan membuat Jiyeon bergabung bersama para tamu undangan orang tuanya. Wangi Wine mahal dari puluhan tahun lalu berkualitas terbaik yang pernah ada, menguar di segala penjuru ballroom. Bau yang sayangnya tidak pernah disukai Jiyeonkarena selalu membuat hidungnya tidak nyaman, Jiyeon selalumengosok ujung hidungnya dengan jari telunjuk berulang-ulang, jari yang kini kuku-kukunya berhias nail polish sewarna coklat marun.

Jiyeon mulai melangkah pelan memasuki ballroom, mengibaskan sedikit gaun panjang yang di kenakannya seraya mengedarkan pandangan guna menemukan sosok kedua orang tuanya.Semua mata kini mengalihkan pandangannya pada Jiyeon, pada sosok dengan pahatan wajah yang nyaris sempurna hingga para kaum hawa yang ada di dalam ballroom merasa iri. Sesekali gadis itu tampak tersenyum tipis pada orang-orang yang menatapnya, senyum yang membuat orang-orang percaya bahwa Tuhan baru saja menurunkan malaikat-Nya ke dunia.

“Ayah!”

Song Jongki laki-laki yang telah membuat Jiyeon menyandang marga Song di depan namanya itu menoleh, tersenyum hangat pada Jiyeon yang berkacak pinggang, lalu berjalan mendekat. Meninggalkan sejenak para tamu undangan bahkan sang istri di belakang sana, demi sang malaikat kecilnya yang terlihat tak bersahabat malam ini.Jongki tahu betul apa gerangan yang terjadi, gadis itu sedang kesal karena Jongki telah membatalkan acara jalan-jalan Jiyeon ke Milan demi acara perayaan ulang tahun pernikahannya malam ini, memblokir pesawat Jet gadis itu untuk tidak bisa lepas landas tadi siang. Jiyeon mengamuk karena Jongki baru saja membuang kesempatan gadis itu untuk menyaksikan Milan Fashion Week yang sudah ditunggu gadis itu dari tahun lalu.

“Hai Sayang, terima kasih sudah mau datang,” ucap Jongki diamengecup kening Jiyeon.

“Terpaksa datang ayah, ingat itu!” Jiyeon mengingatkan, mengeraskan wajahnya, bibirnya mengerucut, namun sayangnya ekspresi Jiyeon tetap saja terlihat terlalu manis di mata Jongki.

“Maafkan ayah, setelah ini ayah janji akan mengantinya dengan makan siang bersama di negara manapun yang kau mau, bagaimana?” Jongki mengedipkan satu matanya penuh arti, mengapit bahu Jiyeon seraya membawanya mendekati tamu yang masih berbincang bersama istrinya— Song Jieun.

“Bagaimana jika kita menyelam di taman laut yang ada di Bunaken?” Jiyeon mulai terlihat bersemangat, rasa kesal gadis itu tiba-tiba sudah hilang dan menguap begitu saja saat Jongki berkali kali mengusap kepalanya.

“Bunaken?”

“Eoh! Pulau menakjubkan yang ada di negara Indonesia, aku jamin Ayah pasti tidak akan menyesal dan akan ketagihan, taman lautnyasangat indah.” Jongki tertawa kecil menatap wajah antusias Jiyeon, wajah penguat hati yang begitu disayanginya melebihi dia menyayangi dirinya sendiri.

“Baiklah Sweet Heart, kita berangkat besok pagi,” ucap Jongki sesaat sebelum melepaskan rangkulannya, kembali menyapa para tamu bersama Jieun dan Jiyeon yang berada di samping kiri dan kanannya. Laki-laki itu terlihat menoleh seraya kembali merangkul Jiyeon, saat gadis itu mengecup pipinya seraya berbisik.

“Aku sangat menyayangimu, Ayah.”

Sementara itu di pintu depan Sehunbarusaja memasuki Ballroom yang terlihat sudah penuh, orang-orang dalam balutan gaun malam dan jas-jas mewah berharga jutaan dolar, dia terlihat mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ballroom demi menemukan sosok sang tuan rumah. Sosok yang sudah dikenal Sehun sejak laki-laki itu masih remaja, sosok yang sudah menjadi sahabat orangtuanya sejak dulu.Sehun tersenyum seraya berjalan mendekat saat mata hitam pekatnya, menemukan Jongki dan sang istri berdiri di ujung sana. Dia menyambar segelas wine dari nampan pramusaji yang berlalu lalang seraya kembali melanjutkan langkahnya, namun langkah laki-laki itu terhenti karena seseorang baru saja menabrak punggungnya.

Wine dalam genggaman tumpah dan membahasi tangannya, sedikit mengotori ujung jas yang di kenakannya saat ini. Sehun mendengus kesal seraya berbalik, bermaksud mencaci seseorang yang telah mengacaukan penampilannya malam ini. Namun semua cacian Sehun tertahan di ujung kerongkongannya, mata laki-laki itu terpana, terjerat pada sosok gadis cantik yang berdiri dengan wajah sangat menyesal di depannya.

“Maafkan aku.” ucap gadis cantik di depan Sehun, gadis anggun dengan semua kesempurnaan ragawi yang tak terbantahkan. Gadis itu sibuk memerintahkan pelayan untuk membereskan kekacauan ini

“Aku benar-benar tidak sengaja, apa kau mau menganti pakaianmu? Aku bisa meminta,—“

“Jiyeon?”

Kali ini gadis itu yang terdiam, menatap Sehun, matanya mengerjab, terkejut. Gadis itu terlihat berpikir tentang sosok yang baru dilihatnya yang ternyata sudah mengenalnya, gadis yang kembali mengerjab, lalu tersenyum kaku seraya mengigit ujung bibir semerah cherry miliknya.Ekspresi yang sungguh terlihat manis di mata Sehun, hingga membuat pria itu tertawa pelan.

“Siapa ya?”

“Kau tidak ingat denganku?” tanya Sehun, dia membersihkan tangannya dengan tissue yang disodorkan seorang pelayan padanya.

Jiyeon menggeleng pelan, dia sedikit sungkan hinggawajahnya terlihat bodoh. Sungguh Jiyeon merasa tidak enak ketika memorinya benar-benar tak mampu mengingat sosok yang kini sudah tersenyum, senyum yang terasa begitu memikat dan hangat.

“Baiklah,aku rasa aku perlu bantuan ayahmu, agar kau bisa mengingatku, Song Jiyeon.”

“OhSehun!”

Jiyeon dan Sehun sama-sama menoleh saat suara Jongki menguar di telinga mereka, tangan pria itu terentang lalu emeluk Sehun hangat. Jiyeon mengerutkan dahinya, dia merasa semakin binggung, sang ayah terlihat sangat akrab dengan laki-laki itu.

Oh Sehun? Memangnya dia siapa?

“Sepertinya putri Paman melupakanku,” ucap Sehun, dia melirik Jiyeon, membuat gadis itu menatapnya dantersenyum kaku.

“Benarkah?” Jongki menatap Sehun sekilas sebelum akhirnya menatap Jiyeon. “Jiyeon, ini OhSehun anak teman ayah yang dulu menetap di China, kau tidak ingat?” Jiyeon kembali berusaha untuk mengingat, namun nihil gadis itu tetap tidak ingat walaupun dia merasa pernah melihat Sehun sebelumnya.

“Sehun, dia yang pernah mengantarmu ke sekolah saat ayah tak bisa mengantarmu saat kau masih berusia sepuluh tahun, waktu kita masih tinggal di Chinatiga belas tahun lalu.”

Jiyeon menghembuskan napasnya saat pada akhirnya gadis itu dapat menemukan sosok Sehun di memorinya, bisa mengingat tentang sosok laki-laki yang pernah beberapa kali dia temui saat gadis itu masih menetap di China bersama keluarganya. Laki-laki yang pernah mengendongnya saat Jiyeon terjatuh di taman belakang rumah, saat sedang berlatih mengendarai sepeda.

Eoh!SehunOppa, maaf aku benar-benar lupa, kau terlihat berbeda.” Ucap Jiyeon pada akhirnya, tersenyum malu dengan menyentuh ujung rambutnya yang bergulung di bagian bawah.

“Benarkah?Apa aku terlihat sangat tampan hingga kau tidak ingat padaku,” goda Sehun, Jongki tertawa, mereka tidak sadar saat Jiyeon menunduk,rona merah jambu tiba-tiba sudah menghiasi wajah gadis itu.

~000~

Jiyeon menarik dirinya dari dalam bathtub, napasnya tersengal,dia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu dan suara teriakkan kencang di belakangnya. Teriakkan yang melafalkan namanya, suara yang bahkan tidak ingin Jiyeon dengarlagi. Jiyeon melipat kakinya, dia menutup telinganya, mengerang, butiran bening tanpa perintah mengalir dari dua sudut mata beningnya yang terpejam.Jiyeon bahkan membanting gelas kecil berisi lilin aromatherapydi ujung bathtub, saat suara itu kembali memanggil namanya.

Jiyeon menyembunyikan wajah basahnya di antara sela lutut kaki, dia terisak, entahlah Jiyeon merasa jika beban hatinya begitu berat, merasa jika dia sudah tidak kuat dengan apa yang di pikulnya saat ini. Jiyeon sudah tak mampu berpijak dengan benar saat menemukan sosok yang menghancurkan hatinya begitu dalam, justru selalu bercokol di pikirannya, mengikat begitu kuat hingga Jiyeon tak mampu mengabaikannya sampai detik ini.

“Aku membenci mu, OhSehun!”

~000~

Suara tepuk tangan membahana di dalam ballroom saat Jongki turun dari podium,dia bru saja memberi kata sambutan dan ucapan terima kasih untuk semua yang hadir dan memberikan doa untuk pernikahannya. Dia merangkul bahu Jiyeon, memberikan kecupan sayang di kening Jieun sang istri.

“Selamat malam,”

Seketika Jongki menoleh diikuti oleh semua orang yang memenuhi ballroom, seorangpria tampan sudah berdiri di atas podium. Tersenyum hangat pada semua orang hingga wajah tampannya terlihat semakin sempurna, laki-laki itu berdehem sebelum akhirnya bersuara.

“Paman Song selamat untuk usia pernikahanya, 25 tahun tentu bukanlah waktu yang singkat, benar begitu? Ayahku benar-benar minta maaf karena tidak bisa datang langsung karena masih tertahan diMiami, aku juga ingin mengatakan jika malam ini terasa begitu istimewa untukku, karena….“ Sehun mengantungkan kalimatnya, menoleh pada sosok Jiyeon yang berdiri di depan sana.

“… aku kembali bertemu dengan seseorang yang dulu pernah ada di hidupku, seseorang yang selalu aku anggap sebagai malaikat Tuhan yang akan menemani sisa hidupku di dunia ini.”

Jiyeon mengangkat kepalanya menatap kearah Sehun yang ternyata sudah menatapnya, pria itu tersenyum hangat, tanpa sadar Jiyeon tersenyum, debaran jantungnya tak terkendali, tatapan memabukkan Sehun menelusup hingga ke dalam relung hati.Tatapan yang menjadi awal terbentuknya kembali hubungan Sehun dan Jiyeon di kemudian hari, hubungan yang terasa begitu manis hingga tanpa sadar membuat Jiyeon menyerahkan seluruh hidupnya pada Oh Sehun.

~000~

Jiyeon mendongak saat sepasang tangan menarik paksa tubuhnya dari dalam bathtub, membalut tubuh polosnya dengan handuk seraya menarik gadis itu keluar dari kamar mandi. Jiyeon menatap sosok kejam di depannya, napasnya memburu, bibirnya sudah membiru, dia kedinginnan nyaris beku. Jiyeon memaki dirinya saat linangan airmata sialan yang membuatnya terlihat lemah di depan pria itu,justru begitu lancang kembali mengaliri pipi pucatnya.

Pria itu menatap tajam sosok mengigil Jiyeon seraya menghempaskan cengkraman tangannya di lengan wanita itu, dia berbalik tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Berjalan melewati puluhan pelayan yang sudah memenuhi ruang tidur mereka, para pelayan terlihat khawatir, mereka segera membungkuk dengan anggukan mengerti saat laki-laki itu mengeluarkan perintahnya, sesaat sebelum keluar dari kamar dan membanting pintu hinggameninggalkan bunyi dentuman yang cukup keras dibelakangnya.

“Hangatkan Jiyeon, segera!”

~000~

Satu pelayan muda menarik bangku berukir saat Jiyeon baru saja tiba di depan meja makan, sang pelayan terlihat cekatan mensajikan potongan buah segar ke dalam mangkuk biru, siraman yougortlalumembungkuk hormat saat Jiyeon berterima kasih untuk sarapannya paginya. Wanita cantik itu menikmati sarapannya santai, tak peduli dengan sosok Sehun yang sejak tadi sudah duduk di meja makan, memperhatikan Jiyeon yang sesekali terlihat mengusap ujung hidungnya yang berair dengan lembaran tissue di atas meja.Sehun duduk di ujung meja tepat di samping Jiyeon, dia terus menatap wajah pucat Jiyeon seraya menyunggingkan seringai tajam yang sayangnya tidak dipedulikan oleh Jiyeon. Wanita itu terlalu malas berdebat dengan Sehun sepagi ini, namun harapanya kandas saat Sehun meletakkan alat makannya lalu mulai mengeluarkan suara beratnya.

“Berhenti merendam tubuhmu di dalam bathtub, jika kau ingin mengakhiri hidupmu Jiyeon,karenausahamu itu tidak akan pernah berhasil,.” Jiyeon melirik Sehun yang kini telah menopang dagunya di atas kedua tangan, bertumpu di atas meja. “Kau cukup berdiam diri di bawah hujan ataukau bisa berlari mengelilingi rumah ini dan bisa kupastikan napasmu akan berhenti dengan sendirinya.”

Eoh! Ide bagus, aku benar-benar lupa jika aku alergi air hujan dan tidak boleh lari lebih dari sepuluh menit.” Jiyeon memasukkan satu sendok yougort buah ke dalam mulutnya, mengunyahnya santai. “Aku akan mencobanya lain waktu, akuakan mencoba segala cara untuk dapat melepaskan diri dari hidupmu,OhSehun.” Jiyeon tersenyum seraya kembali menikmati sarapannya.

Sunyi. Tak ada yang mengeluarkan suara untuk beberapa detik ke depannya. Mereka sama-sama tengelam dalam pikiran masing-masing, pikiran yang tidak akan bisa dimengerti oleh siapapun selain mereka sendiri.

Hey! Kau mau coba ini,” Jiyeon menyodorkan satu sendok sarapannya pada Sehun, pria itu mengeleng cepat. Buah dan Yougort? Yang benar saja,Sehun sangat tidak suka buah yang di sajikan dengan susu basi itu.

“Jiyeon!”

Sehun mendelikkan matanya, menatap Jiyeon yang sudah tertawa, dia masih menyodorkan sarapannya pada Sehun. Namun tiba-tiba tanpa sadar Sehun membuka mulutnya, menerima suapan Jiyeon dan membiarkan wanita itu membersihkan bibirnya dari sisa yougort dengan ujung jari,ketika tanpa sadar Jiyeon memanggilnya dengan sapaan diawal perkenalan mereka puluhan tahun yang lalu.

“Ayolah Oppa!

Jiyeon tertawa saat melihat Sehun menguyah buah dengan mata setengah terpejam, menikmati kebersamaan mereka yang terkadang bisa terjalin begitu hangat. Hubungan hangat tanpa rencana yang sering kali tercipta secara tiba-tiba di antara mereka, walaupun di detik sebelumnya mereka baru saja beradu argument yang menaikkan emosi jiwa.Jiyeon tidak mengerti dengan itu, begitu pula Sehun, mereka berdua hanya menikmatinya tanpa repot-repot mencari alasannya.

Namun tawa Jiyeon berhenti seketika saat suara langkah seseorang memecahkan kehangatan mereka, langkah seorang wanita cantik, mengenakan stiletto hitam sepuluh centi meter hingga membuat tubuh gadis itu menjulang bagai model di atas panggung runway. Berbalut jas pink, dress berpotongan dada rendah sewarna senada sebagai dalaman, rambut panjang bergelombang, lekukan tubuhnya terlihat sempurna di tempat yang seharusnya.

“Selamat pagi!”

Wanita itu mengambil tempat di samping Sehun tepat di seberang Jiyeon, tersenyum, menuang susu ke dalam gelas dengan tidak peduli. Menyentuh tangan Sehun seraya mengenggemnya erat saat Sehun menatapnya, mengusap kepala wanita itu lembut.

“Aku memutuskan untuk kembali bekerja mulai hari ini,” Jiyeon bersuara seraya beranjak dari bangku yang di dudukinya, Sehun menatapnya.

“Apa? Bekerja? Dimana?” Sehunbenar-benar terkejut

Bekerja? Bukankah gadis itu sudah dilarang bekerja oleh Jongki, karenaSehun beralasan bahwa Jiyeon tidak boleh kelelahan. Pendapat yang mendapat persetujuan langsung dari Jongki yang begitu percaya pada Sehun, pada sosok yang di yakini Jongki akan menjaga putri tunggalnya dengan sangat baik.

“Tentu saja di perusahaan ayahku,” Jiyeon memerintahkan beberapa pelayan untuk membawakan tas kerjanya yang masih berada di dalam kamar. “Kau tentu tidak akan lupa jika aku sudah menyerahkan semua hakku, di perusahaan ibuku padamu suamiku sayang.”

Jiyeon menatap muak wanita yang masih mengenggam tangan Sehun, membalikkan tubuhnya seraya berlalu dari hadapan pria itu. Namun baru tiga langkah Jiyeon yang pagi ini mengenakan dress biru dan luaran semi formal berwarna kuning pucat itu, membalikkan tubuhnya, menatap Sehun sekilas.

“Aku sangat muak melihat wanita murahanmu itu Sehun, jadiaku tidak ingin lagi melihat wajah rendahannya berada di hadapanku, saat aku sedang menyantap makananku. Jika terulang bisa kupastikan aku akan mematahkan hidung palsunya, hingga dia tidak bisa lagi bernapas! Kalian mengerti?”

Wanita itu— Kim Minra — wanita yang berpredikat sebagai sekretaris pribadi Sehun, langsung meraba hidungnya, dia terlihat marah. Minra adalah wanita yang Jiyeon temukan di salah satu kamar yang ada di rumahnya, sedang merangkak di atas tubuh Sehunnyaris tanpa busana. Wanita yang membuat Jiyeon depresi hingga harus mengkonsumsi obat tidur di malam-malam setelahnya, wanita yang membuat Jiyeon semakin membenci seorang OhSehun.

~000~

“Selamat pagi, Sayang,” Jongki memeluk Jiyeon erat, putri cantiknya baru saja memasuki ruang kerjanya. “Ayah sangat terkejut dengan keputusanmu semalam, kaubenar-benar sudah membicarakan ini dengan Sehun?” tanya Jongki.

Eoh! Dan dia sangat setuju ayah, lagi pula dia sering meninggalkanku sendirian di rumah untuk bekerja dalam waktu yang lama. Aku bosan!” Jiyeon memajukan bibirnya, membujuk sang ayah untuk mengabulkan keinginannya kali ini.

Sungguh Jiyeon ingin sekali berada di luar rumah, berada jauh dari tempat yang selalu membuatnya merasa diikuti oleh bayang-bayang Sehun, laki-laki yang selalu saja menyakitinya.

“Baiklah jika Sehun setuju, berarti tidak akan ada masalah. Tapikenapa kau ingin di perusahaan ayah? Kenapa tidak membantu ibumu saja, Jiyeon?”

Jiyeon menghembuskan napasnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa hitam yang ada di belakangnya, menata penampilan rambut panjangnya yang sedikit kusut karena Jongki mengajaknya tadi.

“Sehun Oppa sudah membantu ibu disana, jadi aku membantu Ayah di sini.” Ucap Jiyeon, dia menyembunyikan semua yang terjadi dari sang ayah.

Menyembunyikan semua kebusukan Sehun agar sang ayah tidak melukai pria itu, meski Sehun selalu menyakitinya, Jiyeon tetap saja tidakakan pernah bisa melihat Sehun terluka, tidakakan pernah bisa melihat Sehun terpuruk dan kembali ke ambang kebangkrutan seperti dulu.Jiyeon tidak pernah sanggup menghancurkan Sehun dan itu adalah satu-satunya fakta yang sangat Jiyeon benci hingga saat ini.

~000~

Jongki merangkul bahu Jiyeon saat mereka berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya, berjalan menuju ruang meeting yang akan dimulai sebentar lagi. Meeting pertama Jiyeon dengan klien sang ayah di hari pertama dia bekerja, Jiyeon antusias sekaligus gugup, sejak dia menikah dengan Sehun Jiyeon memutuskan berhenti bekerja sebagai CEO di perusahaan ibunya.Jongki tersenyum ke arah seorang laki-laki tinggi yang baru saja tiba di depan ruang meeting, dia tampan, senyumnya memabukkan tapi terasa hangat dan bersahabat. Pria itu mengulurkan tangannya pada Jongki, sikap hormatnya semakin menambah wibanya, dia sedikit melirik ke arah Jiyeon yang berdiri di samping Jongki.

“Perkenalkan dia putriku, Song Jiyeon. Ah! Maksudku Oh Jiyeon, putri ku sudah menikah,” ralat Jongki, lalu tertawa kecil. “Dia yang akan membantumu mendesain mobil, sesuai dengan harapanmu.”

Laki-laki itu mengangguk seraya tersenyum,tangannya terulur, menjabat jemari Jiyeon hangat.

“Kim Jongin! Senang berkenalan denganmu, Oh Jiyeon.”

TBC

 

 

 

Iklan

19 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 2)

  1. aku sedikit bingung sama Sehun Jiyeon, saling benci, tapi disisi lain juga keliatan saling cinta dan menyakiti satu sama lain,eaaaaa
    rumit lah

  2. Sehun itu sebenernya sayang ga sih sama jiyeon ?? Hah .. galau ..
    Trus ko bisa”nya sekertaris diajak oulang kerumah satu rumah sama istrinya ..
    Sebenernya disini sehun tub jahat ato gmna si ??

  3. Kisah sehun sama jiyeon bener” misterius.. sehun sebenarnya knapa sih kok jahat ma jiyeon? Penasaran sma lanjutannya^^

  4. sehun sebenernya sayang ya sama jiyeon, sehun selingkuh sama minra, jahat ihh sehun, wahh ada jongin, semangat yaa thor buat nulis ff ini:)))

  5. sehun selingkuhnya terang terangan banget sih:’3 bikin sakit hati jiyeon terusss U.U untung jiyeon nya sabar ngadepinnya:’)

  6. omg knp sehun jhat bgt y ma jiyeon …apa slah jiyeon coba…seligkuh didepan mata terang2an lg…kasihan v jiyi…wah ada kai tuh…ayo jiyi qm ma kai aja bem impas hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s