SO, WE ALL ARE GAY? (Chapter 7)

SO, WE ALL ARE GAY?

 

.

 

 

By tmarionlie

 

.

 

EXO Couple  | KaiSoo |  HunHan  | ChanBaek |  KrisTao

 

.

 

Yaoi  | Drama  | Friendship |  Hurt & Comfort  | Comedy |  Romance

 

 

 

 

 

 

 

 

-Previous Story-

 

 

 

”Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

 

Aku menarik tanganku dan berniat kabur, tapi dia menggenggam erat pergelangan tanganku.

 

”Ma-maafkan aku Sehun…dan tolong lepaskan aku…”

 

Aku mencoba melepaskan genggaman tangannya, tapi dia malah menarikku hingga aku terjatuh di ranjang, lantas dia berguling dan menindihku. Dia menatapku intens. Aku membuang wajahku kearah kanan, mencoba menghindari tatapannya. Tapi tangannya menarik pipiku agar kembali menatapnya.

 

Aku tercekat. Jantungku berdebar tak terkontrol. Aku sangat gugup.

 

”Jangan menghindariku terus….tatap aku Luhan” katanya tegas.

 

Nafasnya membelai hangat diwajahku.

 

”Ma-maaf….” hanya itu yang dapat kukatakan.

 

”Aku tau kau ingin mengatakan sesuatu….katakanlah apa yang ingin kau katakan…”

 

Aku membuang pandanganku lagi kesamping.

 

“Tak ada yang ingin kukatakan” jawabku berbohong.

 

“Luhan….”desaknya.

 

“A-aku tak bisa”

 

“Kenapa?”

 

“Aku hanya tak ingin berharap…aku takut mendengar jawabannya…” kataku pelan.

 

Lagi-lagi tangannya menarik wajahku, memaksaku agar menatapnya.

 

”Katakanlah…agar aku tau…” katanya lembut.

 

Aku menatap matanya dalam….dan kuberanikan diriku mengatakan perasaanku padanya.

 

”Aku mencintaimu….”

 

 

CHAPTER 7

 

 

 

 

 

 

Sinar matahari pagi menyeruak masuk ke dalam jendela apartemen yang berada di lantai 12 itu. Gorden kamar yang memang tidak ditutup sejak kemarin, membuat sinar matahari yang berwarna jingga keemasan itu bebas masuk ke dalam kamar yang saat ini berisi 2 pria imut yang tidur diranjang sambil saling berpelukan itu. Luhan, pria imut berusia 18 tahun itu, masih terlelap dipelukan pria satunya lagi yang lebih muda setahun darinya. Dan Oh Sehun, pria yang memeluk Luhan itu sebenarnya sudah terjaga sejak matahari belum muncul. Tapi dia sama sekali tak ada niat untuk beranjak dari ranjang. Dia masih merasa sangat nyaman dengan posisinya yang memeluk Luhan saat ini. Sejak dia bangun, tak ada yang dilakukannya selain memandangi wajah imut Luhan yang sedang tertidur. Luhan tidur dengan sangat lelap. Tentu saja, pasti dia sangat lelah kan? Soalnya kan kemarin malam mereka habis melakukan “this and that” hingga beberapa ronde (ehem).

 

 

Sehun menarik selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua hingga sebatas dada, lalu senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian kemarin.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

Flashback

 

 

 

“Aku mencintaimu….”

 

 

 

Luhan mengucapkan kata-kata itu dengan suaranya yang agak bergetar, dia sangat gugup. Matanya menatap Sehun dengan takut-takut. Luhan sedang menunggu respon dari pria berkulit pucat yang masih menindih tubuhnya saat ini.

 

 

 

Beberapa detik berlalu….tapi tak ada yang berubah pada ekspresi Sehun. Wajahnya masih tetap datar dan dia masih diam. Tatapan matanya yang tajam seolah ingin menguliti Luhan saat ini juga.

 

 

 

Luhan menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian dia mencoba menjabarkan lagi apa yang dikatakannya tadi agar Sehun mengerti maksudnya. Dia sadar kata-katanya tadi memang terkesan ambigu. Seharusnya dia mengatakan kalau dia menatap Oh Sehun sebagai seorang pria, bukan adiknya. Luhan merasa sangat bodoh. Dia mengutuk rasa gugupnya yang membuatnya harus mengulangi kata-kata yang bisa membuat jantungnya copot itu untuk kedua kalinya.

 

 

 

“Se-Sehuna….A-aku mencintaimu sebagai Xi Luhan yang mencintai Oh Sehun….perasaanku ini bukan perasaan seperti cinta seorang kakak pada adiknya…”

 

 

 

 

 

Gulp!

 

 

 

 

 

Luhan menelan ludahnya lagi dengan susah payah. Jantungnya berdebar-debar menunggu pria pucat diatasnya ini mengatakan sesuatu. Tapi beberapa detik terlewati, Sehun masih tetap diam.

 

 

 

Luhan merasa hatinya seakan robek. Pria imut itu sudah hampir menangis menahan sakit di dadanya. Dia sudah tau, Sehun tak akan pernah membalas cintanya yang tak normal itu.

 

 

 

Akhirnya Luhan pun mengalihkan pandangannya lagi kesamping, tak ingin menatap Sehun lebih lama, karena itu hanya akan membuat hatinya akan menjadi semakin sakit lagi. Tak butuh waktu lama, cairan bening itupun mengalir dari sudut matanya yang indah. Luhan menangis dalam diam.

 

 

 

“Maaf Sehun….lupakan saja yang kukatakan barusan….aku memang bodoh….”

 

 

 

Luhan memejamkan matanya, mencoba menahan rasa sakit dihatinya. Tapi jantungnya seakan tersengat listrik saat dia merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut menempel dipipinya. Luhan membuka mata dan menemukan wajah Sehun yang sedang tersenyum padanya.

 

 

 

Luhan merasa gugup lagi…dan juga bingung. Apa maksudnya?? Luhan masih tak mengerti. Tapi sikap Sehun barusan, membangkitkan harapannya kembali.

 

 

 

Baru saja Luhan berharap, tapi kata-kata Sehun selanjutnya sukses memupuskan lagi harapannya.

 

 

 

“Kau memang bodoh Ge….bagaimana bisa kau mencintai adikmu sendiri?” kata Sehun sambil menyentil dahi Luhan.

 

 

 

Luhan kecewa. Diapun tersenyum pahit.

 

 

 

“Mmm Aku tau…aku memang bodoh…maafkan aku Sehun…lupakan saja apa yang kukatakan tadi”

 

 

 

Luhan merasa tercekat.

 

 

 

“A-aku juga akan berusaha melupakannya…” lanjutnya kemudian.

 

 

 

Luhan sebenarnya merasa sangat tak rela saat mengatakan hal itu, tapi memang hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.

 

 

 

Tapi…

 

 

 

 

 

Sehun mengelus pipi Luhan dengan sayang.

 

 

 

“Kenapa?”

 

 

 

 

 

Luhan menatap bingung pada Sehun.

 

 

 

 

 

“Kenapa aku harus melupakannya? aku tak akan mungkin melupakan kata-kata terindah yang pernah kudengar dalam hidupku itu Ge… bila perlu aku ingin mendengarnya terus…jadi bisakah kau mengulanginya lagi Lu Ge?”

 

 

 

Sehun menggapai jemari Luhan dan menciumnya lembut. Luhan merasa sendinya melemas. Dia tak percaya Sehun memintanya agar menyatakan cintanya lagi. Apakah ini sungguhan? Luhan masih menatap Sehun yang kini menggenggam erat tangannya dan menempelkannya dipipi pucatnya sendiri.

 

 

 

Luhan masih ragu. Tapi suara Sehun membuat Luhan yakin kalau ini semua adalah kenyataan.

 

 

 

“Katakan lagi Luhan….apa kau mencintaiku?”

 

 

 

Akhirnya Luhan mengangguk pelan. Luhan pun mengatakannya lagi dengan yakin…

 

 

 

“Ya, Aku mencintaimu Sehun”

 

 

 

Luhan tak sempat melihat bagaimana ekspresi Sehun karena sekejap kemudian Luhan merasakan bibir Sehun sudah mengecup lembut bibirnya.

 

 

 

Luhan sangat terkejut, tapi akhirnya hanya memejamkan mata dan hanya menikmati ciuman Sehun dibibirnya.

 

 

 

Luhan merasa melayang. Ini adalah ciuman pertamanya. Dan yang lebih membahagiakan, ciuman itu didapatnya dari pria yang sangat dicintainya sejak kecil.

 

 

 

Jari-jari kedua pria yang berwajah mirip itu saling bertautan. Dan jantung Luhan serasa ingin meledak saat mendengar Sehun membalas cintanya…

 

 

 

“Aku juga mencintaimu Luhan… ”

 

 

 

Sehun mengatakannya disela-sela ciumannya.

 

 

 

Luhan hanya pasrah setelahnya. Membiarkan Sehun mengecupi setiap inci tubuhnya, dan membiarkan Sehun menguasai dirinya.

 

 

 

End Flashback

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

Sehun masih betah dengan posisinya. Matahari sudah semakin cerah, dan Luhan belum juga bangun.

 

 

 

Jari-jari Sehun mengelus pelan pipi Luhan, membuat pria mungil itu menggeliat dan perlahan membuka matanya.

 

 

 

”Morning Baby…” sapa Sehun sambil tersenyum lembut.

 

 

 

Oh, sapaan yang bagus Sehun!

 

 

 

Luhan pun tersenyum, dan bergerak bangun bermaksud duduk. Tapi sepertinya dia lupa kalau tubuhnya masih polos. Gerakannya yang duduk dengan cepat itu membuat selimut yang menutupi dadanya sedikit turun dan membuat dada serta perut mulusnya terekspos jelas. Luhan tersentak dan kembali berbaring sambil menarik selimutnya. Lalu dia memunggungi Sehun yang saat ini sedang menahan tawa dibelakangnya.

 

 

 

Mereka terdiam beberapa saat. Luhan masih sibuk berusaha menenangkan debaran jantungnya yang menggila, tapi jantungnya mendadak serasa berhenti saat dia merasakan jari-jari Sehun menyusuri lengkungan ditengah punggungnya yang telanjang.

 

 

 

Luhan menahan nafasnya. Kemudian Luhan memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri saat merasakan bibir Sehun mengecup lembut tengkuknya. Luhan menggeliat geli.

 

 

 

“Sehunnie…” rengek Luhan manja.

 

 

 

”Kenapa pagi-pagi sudah memunggungiku? tak mau melihatku, heummm?” goda Sehun.

 

 

 

Luhan sontak membalikkan tubuhnya.

 

 

 

“Bukan begitu….a-aku hanya….malu…..” kata Luhan dengan pipi bersemu merah.

 

 

 

Sehun terkekeh geli.

 

 

 

“Kenapa harus malu? Aku kan sudah melihat semuanya tadi malam” goda Sehun lagi.

 

 

 

Luhan menutup wajahnya dengan tangannya, lalu dengan cepat mendekat ketubuh Sehun dan menyembunyikan wajahnya didada adiknya itu. Dia benar-benar malu.

 

 

 

Sehun tertawa geli melihat tingkah kakak sekaligus kekasihnya itu, karena kini Luhan sedang bergelung di dadanya seperti seekor anak kucing yang imut. Sehun mengelus surai karamel milik Luhan dengan sayang.

 

 

 

“Gege…lihat aku…” goda Sehun dengan nada yang dibuat-buat.

 

 

 

Dan jawaban Luhan hanyalah gelengan kuat dipelukannya. Sehun tertawa geli dan membiarkan saja tingkah kekasihnya itu.

 

 

 

“Baiklah-baiklah…kau malu, eoh?”

 

 

 

Luhan mengangguk dipelukannya. Sehun pun mengacak rambut Luhan lalu mencari posisi yang nyaman untuk kepalanya yang masih diperban itu. Kemudiàn dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Luhan dan sesekali mengecup kepala pria mungil itu dengan gemas.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Chanyeol saat ini sedang memikirkan kejadian tak terduga yang dialaminya kemarin. Kemarin dia sedang menyusuri jalanan kota Seoul sendirian saat Kai menelepon dan mengatakan kalau Sehun terluka dan harus dilarikan kerumah sakit. Dengan terburu-buru dia bergegas kerumah sakit. Tapi ternyata dikoridor dia bertemu dengan Kai dan Sehun yang katanya sedang terluka itu berjalan tergesa-gesa meninggalkan rumah sakit. Entah mau kemana 2 pria berkulit kontras itu. Tapi Chanyeol merasa lega karena ternyata Sehun tidak terluka terlalu parah.

 

 

 

Chanyeol lalu bergegas menemui Kris dan Tao yang masih berada diruangan rawat Sehun, tapi sebelum sampai disana tanpa terduga dia melihat dengan Bekhyun dan Ji Eun yang baru saja keluar dari salah satu ruang dokter.

 

 

 

Chanyeol masih mengingat jelas bagaimana ekspresi Baekhyun saat melihat dirinya saat itu. Ekspresi sedih dan terluka…

 

 

 

Dan kenyataan mengejutkan yang didapatnya, adalah bahwa Lee Ji Eun, gadis itu yang ternyata telah kehilangan salah satu kakinya.

 

 

 

Tak ada pembicaraan apapun antara Chanyeol dan Ji Eun, karena sebelum Ji Eun melihat Chanyeol, Baekhyun sudah dengan cepat mendorong kursi roda gadis itu menjauh. Chanyeol hanya bisa memperhatikan mereka setelahnya, dan Chanyeol mendapatkan satu fakta, bahwa Baekhyun tak mencintai gadis itu. Baekhyun masih mencintainya. Chanyeol yakin itu.

 

 

 

Chanyeol bisa merasakan tatapan Baekhyun yang berbeda saat menatapnya dan saat menatap gadis itu. Tatapan Baekhyun kosong saat melihat Ji Eun.

 

 

 

Kemarin Chanyeol tak melakukan apapun selain mengikuti mereka terus seharian dan mendapati kenyataan jika Baekhyun dan Ji Eun sudah tinggal bersama. Chanyeol harus tau apa sebenarnya yang terjadi pada Ji Eun.

 

 

 

Jadi ini yang dimaksud Baekhyun? Apa artinya hal yang dialami Ji Eun saat ini adalah akibat dari perbuatannya dulu? Tapi apa hubungannya dengan Baekhyun? Kenapa Baekhyun harus mengambil tanggung jawab untuk gadis itu? Hingga Baekhyun sampai harus menerornya?

 

 

 

Dan juga…bagaimana Baekhyun sangat tau kalau Chanyeol suka bermain dengan para gadis? Bukankah Baekhyun tak berada di Korea selama ini? Atau…selama ini kenyataannya adalah Baekhyun selalu berada disekitarnya tanpa dia sadari?

 

 

 

Lalu…bagaimana Baekhyun bertemu dengan Ji Eun? dan bagaimana bisa Baekhyun tau apa yang terjadi antara dirinya dan gadis bernama Lee Ji Eun itu dulu? bukankah sebelumnya Baekhyun dan Ji Eun tak saling mengenal? Jadi apa artinya semua ini?

 

 

 

Segala pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar dikepalanya dan Chanyeol tak dapat menahannya lagi. Dia harus segera mencari tau. Dia harus segera bertemu dengan Baekhyun dan meminta penjelasan.

 

 

 

Tak lama kemudian Chanyeol pun menyambar kunci mobilnya dan meluncur menyusuri jalanan Seoul untuk menuju kerumah yang berada dipinggiran kota itu…

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Gege…Tao lapar….” kata namja bermata panda itu dengan mata yang masih fokus pada tablet android miliknya.

 

 

 

Dia sudah memainkan game yang ada di dalam gadget itu sejak 4 jam yang lalu, dan mengabaikan pria tampan berambut pirang yang selalu setia menemani disampingnya dari tadi.

 

 

 

Kris, pria pirang yang berada disamping bayi panda itu langsung berdiri begitu mendengar kekasihnya itu lapar. Kris mencium sekilas puncak kepala Tao, lalu berjalan pelan menuju ke dapurnya.

 

 

 

Yeah, saat ini bayi pandanya itu sedang menginap dirumahnya. Orangtua Tao, keduanya adalah pengusaha yang sangat sibuk. Mereka sering bepergian keluar negeri dalam waktu yang lama. Seperti saat ini, orangtua Tao memiliki proyek di negara Dubai, dan mangharuskan mereka untuk tinggal dinegara itu sampai beberapa bulan kedepan sehingga Tao yang merupakan putera tunggal kesayangan mereka mau tak mau harus ditinggal sendirian. Dan karena takut puteranya merasa kesepian, maka orangtua Tao pun menitipkan putera kesayangan mereka itu pada Kris.

 

 

 

Orangtua Tao memang sudah sangat dekat dengan Kris. Mereka bahkan sudah menganggap Kris seperti putera mereka sendiri karena Kris terlihat sangat menyayangi Tao. Mereka menganggap Kris itu adalah sahabat terbaik Tao, yang bisa menjadi pengganti peran mereka untuk menjaga Tao.Mereka tidak tau bahwa hubungan putera mereka dengan Kris tak senormal yang mereka bayangkan. Kris dan Tao memang mampu menutupi hubungan mereka dengan sangat rapi, bahkan mereka menutupinya juga dari para sahabat mereka,member Exoboy lainnya.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Kris Pov

 

 

 

Aku menuangkan dengan cepat spaghetti yang baru kumasak kedalam piring. Bayi pandaku sedang lapar, dan aku tak ingin membuatnya lama menungguku. Orangtuanya menitipkannya padaku, dan aku harus menjaganya dengan baik. Aku sangat senang karena aku bisa berada 24 jam bersamanya hingga beberapa bulan kedepan. Walaupun orangtuanya tak tau tentang status kami yang sebenarnya dan walaupun dia mengabaikanku terus seperti sepanjang hari ini tak masalah buatku, asal aku bisa tetap berada didekatnya. Ahh…aku benar-benar mencintainya.

 

 

 

Kubawa makanan itu ketempat dimana Tao memainkan gadget-nya. Aku langsung menyodorkan gelas yang sudah kuberi sedotan kebibirnya agar memudahkannya untuk minum. Aku tau dia masih ingin memainkan game di gadget-nya itu walaupun dia kelaparan, dan aku tau dia tak akan berhenti main sampai dia bosan. Karena itu, aku menyuapinya pelan-pelan sampai spaghetti yang kumasak itu habis.

 

 

 

“Kau sudah kenyang Baby? atau kau masih ingin makan hal yang lain lagi?” tanyaku padanya.

 

 

 

Tao hanya menjawab dengan gelengan. Dia bahkan tak melirikku sama sekali. Dia hanya fokus pada game-nya itu. Tapi itu tak masalah buatku, yang penting dia merasa senang, aku juga senang.

 

 

 

Kucium pipinya sekilas, dan dia hanya diam tanpa mengatakan apapun.Akupun langsung beranjak kekamar, merapikan tempat tidur dan menyiapkan piyama untuk bayi pandaku tersayang. Sekarang sudah jam 9 malam, yang berarti sebentar lagi aku harus membujuk Tao untuk segera tidur.

 

 

 

Aku mengambil sebuah buku dan membacanya, sambil menunggu jam menunjukkan angka 9.45 malam.

 

 

 

Aku beranjak dari ranjang dan menghampiri Tao yang masih berada diruang TV, yang masih asyik memainkan gamenya. Aku duduk disampingnya dan kubelai lembut surai hitamnya dengan sayang.

 

 

 

“Baby…ini sudah hampir jam 10 malam, kau harus segera tidur” kataku lembut.

 

 

 

Dia hanya diam, tapi entah mendengarkanku atau tidak.

 

 

 

“Tao…” kataku lagi, dan dia langsung membuang nafasnya kesal. Tapi dia tak mengatakan apapun.

 

 

 

Dia hanya diam sambil meletakkan tabletnya disofa, lalu berdiri dan beranjak meninggalkanku menuju kamar. Aku mengambil tablet miliknya itu dan mengikuti langkahnya menuju kamarku-kamarnya-juga. Kulihat Tao berjalan kekamar mandi dan membersihkan dirinya. Aku menyimpan tabletnya dilaci nakas dan langsung beranjak kedapur untuk membuatkan segelas susu buat Tao, lalu kembali lagi kekamar membawa susu itu.

 

 

 

Kulihat Tao sedang mengganti pakaiannya dengan piyama bermotif panda yang kusiapkan tadi, yang belum terkancing semuanya. Akupun menyodorkan susu ditanganku padanya dan mengancingkan sisa kancing piyamanya yang belum selesai.

 

 

 

Setelah dia selesai meminum susunya, dia langsung merangkak naik keatas ranjang dan berbaring memunggungiku. Akupun menyusulnya dan berbaring disampingnya. Aku menatap punggungnya dari belakang tanpa mengatakan apapun. Kami hanya diam sampai beberapa lama. Entah Tao sudah tertidur atau belum, akupun tak tau karena dia setiap hari tidur memunggungiku seperti ini. Kadang aku merasa bahwa aku tak berharga dimatanya, dan aku fikir mungkin dia tak mencintaiku, tapi itu sudah resiko, karena aku yang mencintainya lebih dulu.

 

 

 

Tapi kadang aku bingung, karena sewaktu-waktu, Tao juga bisa menunjukkan sikap seperti dia mencintaiku juga. Aku tak tau, apa yang dirasakannya padaku, Entahlah….aku tak peduli dia mencintaiku atau tidak, selama aku bisa berada didekatnya, itu sudah cukup bagiku.

 

 

 

Aku lelah memikirkan hal itu, dan akhirnya akupun memejamkan mataku. Aku sudah hampir terlelap saat sayup-sayup kudengar Tao memanggilku.

 

 

 

“Gege….Kris ge….”

 

 

 

Akupun langsung membuka mataku lagi dan kulihat dia sudah berbaring menghadapku. Aku langsung duduk.

 

 

 

“Kau kenapa sayang? kenapa belum tidur?” tanyaku lembut.

 

 

 

Tao juga ikut duduk.

 

 

 

“Tao tak bisa tidur” katanya.

 

 

 

Aku mengelus pipinya.

 

 

 

“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku padanya.

 

 

 

“Apa gege sudah mengantuk?” tanyanya.

 

 

 

Aku menggeleng-bohong-,karena sesungguhnya aku sudah sangat mengantuk dan lelah saat ini.

 

 

 

Kulihat Tao mendekat kearahku, lalu memeluk leherku erat.

 

 

 

“Gege…maafkan Tao ya…seharian ini Tao mengabaikan Gege”

 

 

 

Lagi. Dia lagi-lagi membuatku bingung. Selalu seperti ini.

 

 

 

“Tak apa-apa sayang…yang penting kau senang” kataku.

 

 

 

Akupun melepaskan pelukannya dan mendorongnya agar berbaring lagi diranjang, lalu aku mengelus-elus keningnya agar dia mengantuk. Dia menatapku intens.

 

 

 

“Ge….” panggilnya pelan.

 

 

 

“Hmmm??” jawabku.

 

 

 

“Tao ingin mendengar gege mengatakan cinta pada Tao” katanya.

 

 

 

Aku menghentikan pergerakan tanganku. Selalu begini. Dia selalu menyuruhku mengatakan kalau aku mencintainya, tapi tak sekalipun dia membalas kata-kata cintaku.

 

 

 

“Aku mencintaimu Tao…”kataku, mungkin sudah entah berapa ratus kali aku mengatakannya.

 

 

 

“Tao tau” jawabnya sambil tersenyum.

 

 

 

Tak ada kata-kata lain. Hanya itu,selalu itu jawabannya jika aku menyatakan cintaku padanya. Aku balas tersenyum, ‘senyum pahit’ padanya.

 

 

 

Kapan kau akan mengatakan kalau kau juga mencintaiku Tao?~ bathinku perih.

 

 

 

Tao memeluk leherku lagi.

 

 

 

“Gege….ayo kita berciuman….Tao ingin mencium Gege…”katanya.

 

 

 

Aku menatapnya dalam. Dadaku sangat perih, tapi aku tetap tersenyum. Kubelai pipinya dengan lembut. Perlahan aku mendekatkan wajahku, lalu kutempelkan bibirku pada bibirnya yang mungil. Kurasakan dia langsung melumat bibirku dengan lembut, dan aku membalasnya.

 

 

 

 

 

Aku mencintaimu Tao~ sekali lagi kuucapkan kata-kata itu didalam hati.

 

 

 

End Kris Pov

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Ck!!! Lepaskan tanganmu bodoh!”

 

 

 

Kyungsoo berdecak sebal. Pasalnya Kai,d aritadi memeluk perutnya dari belakang dengan sangat erat. Padahal mereka sedang berada diperpustakaan sekolah saat ini. DI SEKOLAH, dan didalam perpustakaan saat ini sedang penuh oleh para siswa.

 

 

 

Kyungsoo sebenarnya sangat heran dan penasaran, kemana rasa malu pria hitam yang sedang memeluknya itu saat ini?

 

 

 

Kyungsoo sudah capek menolak Kai, tapi Kai sama sekali tak menggubrisnya. Pria hitam itu tetap memaksa mengklaim Kyungsoo sebagai miliknya. Akhirnya Kyungsoo membiarkan saja tingkah bodoh si hitam itu, dan membiarkan orang-orang beranggapan bahwa mereka benar-benar adalah pasangan gay. Kyungsoo tak peduli. Lagipula entah mengapa belakangan dia tak terlalu merasa terganggu dengan hal itu.

 

 

 

Kyungsoo langsung berbalik dengan jengkel saat Kai dengan sengaja mengecupi lehernya.

 

 

 

Tapi sial, saat Kyungsoo berbalik, dengan cepat Kai mengecup bibirnya lalu menyeringai keàrahnya.

 

 

 

Kyungsoo menggigit bibirnya dan mengedarkan pandangannya kearah para siswa yang saat ini seluruhnya sedang menatap shock kearah mereka.

 

 

 

“Dasar idiot gila!” umpat Kyungsoo jengkel.

 

 

 

Dan Kai?

 

 

 

Pria hitam itu hanya mengedikkan bahunya cuek.

 

 

 

Dasar!

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Chanyeol menghentak-hentakkan kakinya tak sabar.Dia saat ini sedang menunggu Baekhyun. Kemarin Chanyeol yang awalnya ingin menemui Baekhyun, malah tak berhasil dan malah bertemu dengan Lee Ji Eun. Mantan kekasihnya-atau mungkin bukan-itu sangat terkejut, bahkan sempat tak mau berbicara sama sekali dengan Chanyeol. Mungkin gadis itu sangat sakit hati dengan Chanyeol.

 

 

 

Tapi pada dasarnya Lee Ji Eun adalah gadis yang sangat baik, jadi saat Chanyeol meminta maaf dengan sungguh-sungguh, gadis itu akhirnya memaafkannya juga. Chanyeol berbincang banyak dengan Ji Eun. Gadis itu menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Baekhyun pertama kali. Dan Chanyeol yang akhirnya mengaku pada gadis itu bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang gay dan dia sangat mencintai Baekhyun, yang saat ini adalah calon suami gadis itu. Chanyeol juga memohon-mohon agar Ji Eun mau mengembalikan Baekhyun

 

padanya.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

Flashback

 

 

 

“Kumohon Ji Eun…lepaskan Baekhyun…kau tak akan pernah bahagia dengan Baekhyun karena dia tak mencintaimu…aku juga tau kau tak mencintainya kan? kumohon Ji Eun….” kata Chanyeol sambil berlutut dihadapan gadis cacat itu.

 

 

 

“Kau egois Oppa!! kau brengsek!!” maki Ji Eun.

 

 

 

“Maafkan aku, kumohon kembalikan Baekhyun padaku…jebal…” kata Chanyeol.

 

 

 

Airmata Chanyeol bahkan sudah mengalir membasahi pipinya.

 

 

 

Gadis itu diam saja. Tapi dia juga menangis, mungkin menangisi nasibnya yang tragis, karena Park Chanyeol, pria yang dicintainya ternyata malah mencintai Byun Baekhyun, pri a yang selama ini menjadi sandarannya.

 

 

 

“Kumohon…tolong aku….aku sangat mencintainya…jebal….” mohon Chanyeol lagi.

 

 

 

Gadis itu akhirnya menyerah.

 

 

 

“Aku akan melepaskan Baekhyun Oppa…” kata gadis itu akhirnya.

 

 

 

Chanyeol menatap Ji Eun tak percaya, dan gadis itu juga sedang menatapnya.

 

 

 

“Jika benar kalian masih saling mencintai, aku akan melakukan apapun untuk menyatukan kalian…hiks…” isak gadis itu, membuat Chanyeol terenyuh.

 

 

 

Chanyeol meraih gadis itu kedalam pelukannya.

 

 

 

“Terima kasih…Ji Eun-ah” kata Chanyeol pelan.

 

 

 

“Kalian berdua kejam…kenapa aku harus bertemu dengan kalian…” isaknya.

 

 

 

“Maafkan aku…Dan tolong bantu aku untuk mengambil hatinya lagi…” kata Chanyeol, dan dijawab dengan anggukan lemah oleh gadis itu.

 

 

 

End Flashback

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Chanyeol sontak berdiri saat melihat Baekhyun datang menghampirinya. Mereka saling menatap beberapa lama, dan berakhir saat Baekhyun membuang muka dan duduk dihadapannya. Chanyeol juga ikut duduk ditempatnya.

 

 

 

“Katakan dengan cepat, karena aku tak punya banyak waktu” kata Baekhyun ketus.

 

 

 

Chanyeol masih belum bicara. Baekhyun menunggu sampai kesabarannya habis, tapi Chanyeol masih diam. Akhirnya Baekhyun mendengus sebal dan beranjak pergi.

 

 

 

Baekhyun baru saja berbalik, tapi langkahnya langsung terhenti saat Chanyeol akhirnya bersuara.

 

 

 

“Yang ingin kukatakan adalah..Aku mencintaimu Baek, dan aku ingin kau kembali padaku…” kata Chanyeol, langsung pada poin utama.

 

 

 

Baekhyun merasakan jantungnya berdenyut sakit saat Chanyeol mengatakannya, tapi dia berusaha menahannya sekuat tenaga.

 

 

 

“Aku mencintai Lee Ji Eun” jawabnya .

 

 

 

“Pembohong” kata Chanyeol.

 

 

 

“Terserah, aku tak perduli dengan apapun yang kau katakan, yang pasti aku akan segera menikahinya” jawab Baekhyun.

 

 

 

Chanyeol tertawa meremehkan.

 

 

 

“Itu tak akan pernah terjadi…jika aku tak bisa mendapatkanmu lagi, maka kaupun tak akan kubiarkan menjadi milik orang lain!”

 

 

 

Baekhyun terdiam.

 

 

 

“Aku sudah bertemu dengan Ji Eun dan dia mengatakan kalau dia masih mencintaiku” tambah Chanyeol.

 

 

 

Baekhyun sontak berbalik dan menatap Chanyeol marah.

 

 

 

Chanyeol menyeringai, lalu melanjutkan ucapannya.

 

 

 

“Jadi lepaskan saja Ji Eun dan aku yang akan menikahinya”

 

 

 

 

 

 

 

BUGGHHH!!!!

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah bogem mentah dari Baekhyun sukses mendarat diwajah tampan Chanyeol.

 

 

 

“Dasar brengsek!!!” umpat Baekhyun geram.

 

 

TBC

 

12 thoughts on “SO, WE ALL ARE GAY? (Chapter 7)

      1. Bisa send ss ga sih?? Beneran aku itu?? Yg kirim email nama akunnya siapa? 3 foolish girl n handsome aliens aja baru denger…btw sejak awal pake wordpress akunku cuma ini doang…

      2. sudah saya kirim ss ke email kakak yg ini tmarionlie@gmail.com

        novita itu yg kirim 3 foolish girls n handsome aliens kak.
        ya sepertinya salah saya nggak nyocokin dulu sebelum posting. maaf ya kak. kakak pengen kirim ch sebelum n lanjutannya atau dihapus aja kak?

      3. Ooooo…..ya gapapa sih sebenernya wakaka….cuman itu bukan aku yg kirim. Novita itu entah nyomot dimana filenya. FF ini udah jalan 22 chapter…statusnya masin hiatus…soalnya diksi ini aku pake jaman aku jd author straight taon 2008…masih ancur baur…jd bingung buat kelanjutannya juga…di wordpressku ada sih ff ini…belom di post lengkap tapi nanti2 bakal di post kok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s