All-Mate911 (Chapter 2)

All-Mate911

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

Note : Here is it, chapter 2 XD ehem. Absurd, iya *seperti biasa* pendek juga chapter ini u,u berikutnya lebih panjang deh (mungkin? lol) dan kurasa aku harus nambahin humor di genrenya karena aku ngetawain ini terus #plak selamat membaca! Kritik dan saran juseyong :3

~all-mate911~

 

-keadaan berubah, manusia berubah (kecuali itu si Park Idiot, dia masih sama menyebalkannya)-

Sena dan Chanyeol tidak pernah berada di dalam lingkaran pergaulan yang sama meski mereka sekelas sejak tahun pertama SMA. Tentu saja, itu karena Sena adalah murid terpintar di sekolah dan dikagumi sekaligus dibenci karena iri, dan Chanyeol hanya salah satu dari sekelompok pembuat onar yang mendapat detensi setidaknya tiga kali seminggu.

Sena punya selusin teman yang mengikutinya ke mana pun. Demi reputasinya, ia memberitahu semua orang bahwa ayahnya pilot yang jarang di rumah dan ibunya punya banyak kegiatan sosial di luar kota. Rumahnya tinggi megah, tapi Sena hanya sendirian, jadi teman-temannya tidak bisa berkunjung.

Kenyataannya, Sena tinggal di rumah sempit di pinggir kota. Ibunya adalah penjual mi. Sena punya ayah dan seorang adik laki-laki tiri. Ibunya menikah saat Sena berumur tiga belas tahun. Ia tidak tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya.

Sena merasa riwayat hidupnya itu tidak cocok dengan gelar pelajar unggulannya, karena itu ia berbohong. Lebih mudah bagi teman-temannya mengidolakan gadis baik, kaya, dan pintar daripada gadis dari keluarga sederhana yang lahir di luar nikah.

Tapi pada satu hari, seseorang tidak sengaja menemukan Sena sedang membantu ibunya di warung mi. Sialnya, orang itu Park Chanyeol. Dan sejak saat itu mimpi buruk Sena dimulai.

 

***

 

Pagi ini Sena mengecek ratingnya dan ia kehilangan setengah bintangnya yang baru. Panggilan sialan dari Chanyeol kemarin membuatnya membuang uang untuk taksi dan ia tidak mendapatkan apa-apa, jadi ia tidak tahu harus bilang apa jika nanti atasannya, alias pengelola pusat All-Mate911 meminta 25% dari penghasilannya. Seolah Sena belum punya cukup banyak hal untuk dikhawatirkan, atasannya menelepon pagi ini karena alasan lain.

“Klien Park Chanyeol menyampaikan keluhan. Apa yang kau lakukan padanya?”

Sena memutar bola matanya. “Ya ampun, apalagi yang keparat itu inginkan,” gumamnya.

“Apa?”

“Bukan apa-apa. Jadi, apa yang dia laporkan?”

“Park Chanyeol melaporkan kalau kau membatalkan janji. Kau tahu, All-Mate911 tidak pernah membatalkan janji. Untuk itu, kau harus menggantikan pertemuan yang kau batalkan.”

Sena menghela napas berat. “Pelanggan boleh membatalkan janji sesukanya, kenapa aku tidak boleh?”

“Karena kau yang dibayar untuk itu.”

Sial. Seandainya atasannya tidak mengatakan sesuatu yang masuk akal seperti itu. “Baiklah,” Sena menyerah. “Kalau nanti dia menelepon lagi, aku akan menemuinya.”

“Kau yang harus meneleponnya! Jangan lupa minta maaf. Kontaknya sudah terdaftar di friends history-mu sejak dia menelepon kemarin. Dan Song Ahyoung, bisnis tetaplah bisnis. Kalau dia memberikan review yang buruk untukmu, kau harus membayar penalti.”

“Sialan,” desis Sena.

“Apa?”

“Bukan apa-apa. Aku akan meneleponnya siang ini.”

Hening. Sena mengira atasannya sedang berpikir, tapi ternyata sambungannya sudah diputus. Kenapa Sena dikelilingi orang-orang yang suka seenaknya? Pertama Jimin, lalu atasannya, sekarang si Park Idiot juga.

“Aku akan gila,” gerutu Sena seraya menatap layar ponselnya yang gelap.

 

***

 

Chanyeol sedang memberikan presentasi di depan sembilan orang kolega perusahaan saat ia merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Secara refleks ia berhenti bicara dan merogoh benda itu untuk mengecek siapa peneleponnya.

“Maaf, ibuku menelepon,” katanya. “Rapat diistirahatkan selama lima belas menit.”

Mosinya disetujui. Chanyeol segera berjalan meninggalkan ruang rapat ke koridor yang lengang dan menjawab teleponnya, “Halo.”

Suara datar Sena berkata dengan gumaman cepat dan enggan, “Di sini Song Ahyoung dari All-Mate911. Saya menelepon untuk meminta maaf atas pembatalan yang terjadi kemarin malam dan sikap saya yang sama sekali tidak seperti teman.”

Permintaan maaf yang tidak tulus itu mau tidak mau membuat sudut-sudut mulut Chanyeol terangkat. “Kau terdengar sangat berbeda daripada saat pertama kali aku meneleponmu.”

“Karena Song Ahyoung yang waktu itu sudah mati. Ini Song Ahyoung yang baru saja ditegur atasannya dan ratingnya kau buat turun.”

“Kalau begitu, biarkan aku bicara dengan Ryu Sena.”

Hela napas keras. “Dengar, aku tidak meneleponmu agar kau bisa bicara dengan siapa pun. Aku menelepon karena atasanku menyuruhku menemuimu sebagai ganti rugi pertemuan sebelumnya, bla bla bla… Jadi, ayo selesaikan ini segera karena aku ingin segera menyingkirkanmu dari hidupku. Sebutkan kapan dan di mana.”

Chanyeol berpikir sejenak. “Aku punya waktu luang dari jam dua belas siang ini. Tapi kau mungkin harus datang ke kantorku.”

“Terserah. Kirimkan lokasinya.”

“Baikl—”

Sena memutus sambungan dengan tidak sabar sebelum Chanyeol menyelesaikan kalimatnya.

 

***

 

“Han Jimin, aku sedang tidak punya waktu untuk mendengar cerita cintamu yang berantakan,” keluh Sena seraya berjalan cepat menyusuri trotoar yang panjang. Ia tidak sudi naik taksi lagi, karena itu ia harus pergi dengan bus, dan tidak ada halte bus di dekat lokasi kantor yang Chanyeol kirimkan padanya, jadi Sena terpaksa berjalan untuk sampai di sana. Belum selesai masalah ini, Jimin menelepon untuk membicarakan—apalagi kalau bukan—Luhan. “Hidupku saja sudah cukup berantakan. Kita bicara lagi,” lanjut Sena.

“Cerita cintaku tidak berantakan,” balas Jimin sengit. Meski begitu, suaranya terdengar riang. Barangkali ia dan Luhan berbaikan. Sena akan turut bahagia seandainya ia tidak sedang kesal. “Dan, ke mana sih kau? Menjual diri?”

Sena mendengus. Sepertinya menjual diri lebih mudah daripada apa yang sedang ia lakukan ini. “Aku sedang berangkat menemui calon korban pembunuhan.”

“Eh?”

Sena benar-benar mempertimbangkan ide itu. Seandainya Chanyeol membuatnya lebih kesusahan dari ini, ia akan memotong tali remnya (kalau Chanyeol naik mobil) atau menyusup dan membubuhkan racun tikus ke dalam minumannya. Ada banyak cara.

“Kuceritakan nanti saja. Sampai nanti.” Sena memutus sambungan dan mematikan ponselnya agar Jimin tidak menelepon lagi karena ia merasa harus menghemat energi. Sena punya dua ponsel, satu untuk pekerjaan dan satu milik pribadi. Hanya keluarganya dan Jimin yang tahu nomor pribadinya, dan keluarganya hanya akan menelepon kalau ada bencana atau butuh uang, jadi tidak ada masalah.

Sena akhirnya tiba sekitar dua puluh menit kemudian. Ia langsung dihampiri seorang pegawai muda yang berkemeja rapi dan berdasi. “Ryu Sena-ssi?”

Sudah lama sejak terakhir kali orang asing mengenalnya dengan nama itu, jadi selama sesaat Sena merasa bingung. Kemudian ia ingat—ini pasti karena Park Chanyeol. “Ya,” ia mengangguk.

Sajangnim menunggu Anda di ruangannya. Silakan, lewat sini.”

Kalau saja situasinya berbeda, Sena akan tertawa sampai ususnya meletus. Park Idiot? Sajangnim? Lucu sekali.

Pegawai itu membuka pintu pengaman dengan nametag-nya, lalu bersama Sena naik lift ke lantai dua puluh tujuh. Ia mengantar Sena sampai ke depan pintu kaca tebal gelap yang diberi label Chanyeol Park, Vice President dan Sena tidak lagi ingin tertawa.

“Silakan masuk,” pegawai itu menunjuk sopan ke arah pintu dan menunduk pada Sena sedikit sebelum mengundurkan diri.

Sena mendorong pintu itu tanpa suara dan melongokkan kepala ke dalam. Ia melihat Chanyeol duduk di belakang meja kerja, sedang serius membaca sesuatu dengan kepala tertunduk sehingga tidak langsung menyadari kedatangan Sena. Pemandangan itu terasa begitu janggal karena Sena mengingat Chanyeol sebagai si Tinggi Idiot Bermasa Depan Suram. Laki-laki itu seharusnya tidak bisa serius. Ia seharusnya juga tidak memakai setelan kerja dengan dasi dan tidak mengatur rambutnya dengan gel. Terutama ia seharusnya tidak tampak tampan.

Sena menyadari Chanyeol yang sekarang begitu berbeda sehingga ia merasa sangat marah. Marah karena Chanyeol berubah sementara ia masih tetap sama. Atau malah jadi semakin buruk. Dan Chanyeol-lah penyebabnya.

Yang dipandangi tahu-tahu mengangkat kepala dan sedikit terkejut melihat Sena di sana, tapi kemudian keterkejutannya digantikan senyum lebar. “Kau sudah datang. Masuklah.”

Sena berjalan masuk dan pintu di belakangnya tertutup otomatis. “Jangan lakukan itu,” katanya datar.

“Lakukan apa?”

“Tersenyum seperti orang tolol.”

Chanyeol mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya dan malah tampak aneh. Nah, begitu ia lebih seperti si Tinggi Idiot. Itu membuat Sena merasa lebih baik.

“Kupikir kau tidak akan datang,” kata Chanyeol. “Sekarang sudah jam dua belas lewat enam belas menit.”

“Aku tahu, aku juga punya jam,” balas Sena ketus. Ia hampir mengomel soal ia tidak punya uang untuk naik taksi dan ia berjalan kaki sampai betisnya nyeri, tapi berhasil menahan mulutnya tepat waktu dan hanya berkata, “Yang penting aku datang. Sekarang apa yang kau inginkan?”

“Kau sudah tidak sabar ingin segera menyingkirkanku rupanya.”

“Tepat sekali.”

Chanyeol tersenyum lagi dan Sena merasa ingin memukul sesuatu. “Waktu istirahatku hanya tinggal,” ia mengecek jam tangannya, “empat puluh menit lagi. Ayo, kita pergi makan siang saja.”

 

***

 

Ada kafe yang terkenal di kalangan pegawainya tidak jauh dari gedung kantor. Selain menyediakan kopi dan makanan ringan, kafe itu juga menyediakan makanan berat. Katanya tempatnya nyaman dan rasa makanannya enak. Chanyeol sendiri tidak tahu, ia belum pernah menginjakkan kakinya ke sana sebelum ini.

Ia mendorong pintu kaca dan memiringkan bahunya agar Sena bisa lewat lebih dulu. Aroma samar kopi menyerbu indera penciumannya seketika dan Chanyeol mendesah senang.

“Ekspresi macam apa itu yang kau pasang di wajahmu?” tanya Sena. “Menggelikan.”

Chanyeol menyahut nyaris tanpa berpikir, “Kau bercanda. Wajah yang luar biasa ini bisa membuatmu jatuh cinta.”

Sena mendelik seolah ingin mencekiknya. Ups. Chanyeol lupa ini bukan Baekhyun. Ini Ryu Sena, gadis yang membencinya setengah mati selama masa SMA mereka.

“Ayo duduk di sana,” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, menunjuk satu-satunya meja kosong di sudut ruangan dan refleks meraih siku Sena, yang disentakkan gadis itu seketika dengan kasar.

“Jangan menyentuhku,” desis Sena, lalu berjalan mendahuluinya ke meja yang ditunjuknya.

Ups.

Mereka duduk berhadap-hadapan (Chanyeol yakin Sena lebih suka duduk berpunggung-punggungan, sayangnya—syukurnya—mereka tidak bisa melakukannya dengan kafe yang sedang ramai), kemudian seorang pramusaji mengantarkan buku menu.

“Apa yang kau suka?” tanya Chanyeol.

Sena mendelik padanya. “Apa urusannya denganmu?”

“Mengingat kita berencana untuk makan bersama, bukankah wajar untuk bertanya?”

Sena memutar bola matanya seolah tidak percaya Chanyeol berani-beraninya menyahutinya.

Setelah mereka memesan makan siang masing-masing dan pramusaji itu berlalu dengan tatapan lucu di wajahnya, Chanyeol berkata, “Bagaimana kehidupanmu selama ini?”

Sena membuka mulut dan Chanyeol yakin apa yang akan dikatakannya adalah makian, tapi Sena menutup mulutnya lagi untuk menahan diri, kemudian membalas, “Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena itulah yang dilakukan seorang teman, kan?”

“Teman.” Sena menyandarkan punggungnya ke kursi dan bersedekap defensif. “Well, kau bisa melihat sendiri seperti apa kehidupanku, kan? Memasang identitas palsu di aplikasi tolol dan dibayar untuk menghabiskan waktu berpura-pura berteman dengan orang-orang asing mana saja yang membutuhkan. Seperti yang kita lakukan sekarang ini. Aku menjalani kehidupan yang luar biasa.”

Chanyeol menghela napas pelan. “Dengar, berhentilah bersikap seperti kaktus. Aku sedang mencoba memperbaiki hubungan kita.”

Sena tertawa hambar. “Hubungan apa? Kita tidak pernah punya hubungan apa-apa.”

“Kau masih membenciku?”

“Apakah itu bahkan pertanyaan?” Sena mendengus. “Kau membuat hidupku berantakan. Kau dan sekelompok pecundang yang kau sebut teman-teman. Jangan berharap aku akan melupakannya meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.”

Jawaban itu membuat napas Chanyeol lebih berat. Tapi ia tidak bisa menyangkalnya. Itu benar. Ia memang membuat banyak masalah untuk Sena.

Mereka makan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian Chanyeol membayar tagihannya dan mereka meninggalkan kafe. Chanyeol membuka pintunya untuk Sena lebih dulu, dan setelah ia melepaskan pintunya, ia berhadapan langsung dengan gadis itu yang berdiri menghadangnya.

”Kita sudahi saja di sini,” kata Sena, lalu ia mengulurkan tangan kanannya dengan telapak tangan menengadah. “Bayaranku.”

Chanyeol merogoh saku belakang celananya untuk mengambil dompet. Saat baru membuka dompetnya, Sena menambahkan dengan keji, “Kau juga harus mengganti uang busku. Juga dua taksi yang sia-sia kemarin.”

Chanyeol mengeluarkan semua lembaran uang yang tersisa di dompetnya dan menyerahkannya pada Sena. Tapi pada saat Sena akan menarik tangannya, Chanyeol tidak tahu apa yang ia pikirkan, tapi ia menggenggam tangan gadis itu, membuat uang yang terjepit di antara tangan mereka kusut.

“Apa?” tanya Sena ketus.

Chanyeol masih tidak yakin apa tepatnya yang ia pikirkan, tapi kata-katanya mengalir begitu saja dengan pasti, “Persiapkan dirimu. Aku akan meneleponmu lagi.”

Sena berusaha menarik tangannya sekali lagi, tapi Chanyeol tidak melepaskannya. “Jangan buat aku semakin membencimu,” geramnya.

“Sebaliknya, aku akan membuatmu menyukaiku.” Sena tercengang ketika mendengarnya. Chanyeol sendiri terkejut dengan apa yang ia katakan. Ia segera menambahkan, “Setidaknya, tidak lagi membenciku.”

“Hanya akan terjadi dalam khayalanmu.”

“Kita bertaruh, kalau begitu.”

“Konyol sekali. Lepaskan tanganku.”

“Aku akan membuatmu berubah pikiran tentang si idiot yang iseng itu.”

“Kubilang, lepaskan tanganku.”

Chanyeol melepaskannya, kemudian menjejalkan kedua tangannya ke saku celana dan tersenyum lebar. Tiba-tiba saja langit jadi lebih cerah dan matahari bersinar lebih hangat. “Omong-omong, aku akan memberi review yang bagus untuk hari ini. Semoga bisa mengembalikan ratingmu,” tambahnya. “Terima kasih, Ryu Sena.”

Sena mendengus kesal. “Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku menemuimu karena pekerjaan. Namaku Song Ahyoung.”

“Kau akan selalu jadi Ryu Sena untukku.”

 

***

 

“Dia bercanda,” Sena mendumal seraya menggosok-gosok telapak tangannya yang digenggam Chanyeol. Disentuh olehnya adalah penghinaan. “Menyukainya? Hah! Aku tidak mencolok matanya dengan hak sepatu saja sudah merupakan prestasi besar.”

Sena merasa bisa mencium aroma parfum yang dipakai Chanyeol di mana-mana. Bau itu menempel padanya. Ia harus mandi dengan segala jenis wewangian dan minyak aroma terapi untuk mengusirnya jauh-jauh. Juga, cara Chanyeol menyebut namanya tadi (dua kali) membuat sekujur tubuhnya merinding dan Sena tidak pernah merasa seperti ini dengan orang lain. Astaga. Astaga. Ini benar-benar gila.

Sena menatap gedung-gedung yang melesat cepat di luar jendela taksi. Tiba-tiba saja langit yang indah jadi lebih kelabu dan matahari membuatnya semakin menggigil. Sena ingin segera pulang dan meringkuk tidur. Siapa tahu setelah bangun, ini semua hanya mimpi buruk. Meski Sena tahu harapannya berlebihan.

Ia merogoh tas tangannya untuk mencari ponsel pribadinya, dan tahu-tahu ponsel pekerjaannya berdering. Ini hal yang sangat langka, mendapat dua pekerjaan dalam sehari, tapi Sena tidak merasa senang. Ia malah ingin mengabaikan saja telepon itu.

Tapi, All-Mate911 tidak pernah mengabaikan seseorang yang membutuhkan teman. Sena tidak ingin menerima panggilan teguran yang berikutnya. Lagipula, kesempatan (dan uang) tidak datang dua kali. Jadi dengan berat hati Sena mengambil ponselnya dan menjawab dengan nada bicaranya yang paling ceria, “Di sini Song Ahyoung dari All-Mate911. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

 

Iklan

8 thoughts on “All-Mate911 (Chapter 2)

  1. next thorrr. aduhh park chanyeol kuuu pasti gangeng sekaliiiii ❤ ;-; ditunggu chapter selanjutnyaaaa yaaa terus di panjangin juga hehehe

  2. Aahhhh akhirnyaaa ff yg di tunggu” keluar jugaa ..
    Seneng baca nya,penasaran juga apa yg di bikin CY sampe sena benci setengah mati kaya gituu ???

    Lanjut ya thor ceritanya ..
    Semangat

  3. Owalaaahhhh jadi itu alasan Sena benci ama Chanyeol ampe segitunya. Etapi Sena mah juga kebangetan -____- bohongnya masa ampe segitunya ya lol.
    Good laah… nggak bisa ngasih kritik. cuman kurang panjang aja sih…
    eh tapi gpp ding ya segini lol.
    ini aku jadi berasa nonton webdrama yg panjang episode nya g lebih dari 10 menit tapi ceritanya membekas di hati (?)

    Well done laah…
    Keep Writing ya… hhehe

  4. gua suka sama cara ngomongnya sena disini hehehe dia ketus banget yaa..
    bagus chingu lu sukses bikin karakternya si sena dan gua suka hehehe….

    dilanjut jangan bosen ya chingu jan sampe ngegantung terus di tinggal oke semangat ya author 🙂

    salam XOXO 🙂

  5. wah jadi inget danbi di ten years forwarded (masih susah move on) hehehe. sama-sama ketus, sama-sama kasar, sama-sama sarkasme, tapi sama-sama susah untuk dibenci. tipe-tipe cewek-cewek cool lah di sena ini. coba namanya danbi lagi author-nim. hehehe (gagal move on (2)). semangat ya author nim, jadi makin penasaran kenapa sampe si sena benci banget sama si ceye. hehehe. fighting =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s