Wonderwall : Perfume

wonderwalls

Author : Iefabings

Main cast :

• EXO’s Jongin as Kim Jongin

• Red Velvet’s Seulgi as Kang Seulgi

• EXO’s Sehun as Oh Sehun

• Red Velvet’s Irene as Bae Irene

• EXO’s Suho as Kim Junmyeon

• EXO’s D.O as Do Kyungsoo

• EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

• EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol

Supporting cast : Red Velvet’s Wendy as Son Seungwan

Genre : Romance, school life, friendship

Ratings : Teenager

Length : Multi chapter, currently 3

Previous chapter : A Secret | Chanel N°5 |

Author Note : Maaf, karena senin kemarin tidak bisa update. Modem saya jadi ngadat sekali karena musim hujan. Wifi juga entah kenapa putus nyambung terus *sigh*

^^Selamat Membaca^^

A woman’s perfume tells more about her than her handwriting

– Christian Dior –

***

Jongin berteriak kaget saat baru memarkir mobilnya di garasi, Seulgi tiba-tiba muncul dengan cengiran khasnya. Entah kenapa akhir-akhir ini gadis itu sering sekali membuatnya kaget.

“Yaa bisa kan tidak muncul begitu saja? Kau bisa tunggu di dalam atau di kamarku,” protesnya sambil mengelus dada.

“Dari tadi aku menunggu di kamarmu sampai bosan, lalu saat melihat mobilmu memasuki halaman aku langsung berlari ke sini,” kata Seulgi tanpa rasa bersalah.

“Aish, selalu tidak ingin disalahkan,” dengus Jongin. Dia melangkah lebih dahulu ke dalam rumah, tidak peduli Seulgi mengikutinya atau tidak.

“Kau tidak mau bertanya kenapa aku ke sini?”

“Tidak mau tahu.”

“Jongiiin,” Seulgi mulai merengek manja dan bergelayut di lengannya. “Aku mau menunjukkan sesuatu.”

“Ya tunjukkan saja,” Jongin memutar bola matanya dengan malas. Seulgi terus bergelayut padanya hingga tiba di dalam kamar.

“Tada!” seru Seulgi penuh semangat. Sebuah kotak berwarna putih tergeletak di atas tempat tidur. Pada bagian depannya tertera tulisan yang menunjukkan merk sebuah parfum. Sekarang Jongin ingat, itu adalah parfum yang pernah Seulgi tanyakan pada Irene. Lagi-lagi Seulgi menemuinya hanya karena Sehun. “Aku sudah mendapatkan senjataku,” kata Seulgi.

“Lalu?”

“Ck,” decak Seulgi. “Kau kelihatan tidak tertarik. Bilang selamat padaku bisa kan?”

“Untuk apa?” Jongin melepaskan lengannya dari Seulgi. “Pulang sana, besok sekolah.”

“Yah… Jongin,” Seulgi merengek lagi.

“Oke. Selamat ya bisa membeli parfum itu demi Sehun,” kata Jongin datar.

“Huuuh,” Seulgi mengambil parfumnya. “Aku pulang saja deh. Kau memang menyebalkan,” keluh Seulgi sambil menekuk wajahnya kemudian pergi dari kamar Jongin.

“Yaa, aku hanya lelah karena baru pulang,” Jongin jadi merasa bersalah, mengusap wajahnya kasar. Seulgi tak mendengarkannya lagi dan terus melenggang pergi. Ingin mengejarnya tapi Jongin menahan diri. Dia takut malah meluapkan perasaan cemburunya pada Seulgi tanpa sadar. Memangnya siapa dia, apa statusnya di mata Seulgi? Hanya seorang teman, tentu tidak berhak merasa cemburu. Jongin pun berlari ke jendela, hanya bisa mengintip kepergian Seulgi dari sana.

***

Selama beberapa hari Junmyeon menuruti kemauan Irene untuk tidak menghubunginya. Walau sebenarnya tidak bisa. Dia masih datang ke hotel sekedar melihat Irene dari jauh. Hal yang sudah biasa dia lakukan beberapa bulan belakangan, tepatnya saat Irene menjadi kekasih sampingan Sehun. Itu pun karena Irene yang memintanya menjauh. Dia heran kenapa harus dirinya yang mengalah, padahal dia yang lebih dulu mencintai Irene. Kenapa dia harus membiarkan Sehun memilikinya sebagai pacar diam-diam sementara dia bisa mengakuinya sebagai kekasih secara terang-terangan di depan semua orang. Menurut Junmyeon, itu sangat tidak adil.

Lalu malam ini, saat dengan sengaja dia berada dalam satu lift dengan Irene, dia pikir akan menjadi kesempatan untuk bicara. Nyatanya Irene tidak meliriknya sedikit pun.

“Hai, manager Bae. Apa kabar?”

Beberapa detik Irene tidak menjawab. “Selamat malam,” lalu wanita itu membungkuk padanya tepat sedetik sebelum pintu lift terbuka. Dia ditinggalkan.

Junmyeon tertawa getir. Apa dia semenyedihkan itu?

***

Sekitar satu tahun lalu, Junmyeon tertangkap tangan sedang merokok. Tidak hanya itu, dia membuang puntung rokoknya sembarangan di tepian kolam renang hotel. Itu adalah pertemuan pertama yang merubah hidupnya.

“Ya! Bocah SMA!” sontak Junmyeon menoleh pada wanita yang berteriak itu. Wanita itu berjalan mendekat dengan wajah galak. “Ck, ck, ck, kau sadar apa yang kau lakukan barusan?”

Junmyeon melirik nametagnya, bernama Bae Irene. Dia memakai seragam pelayan hotel, sepertinya tidak mengenali Junmyeon sebagai putra dari relasi pemilik hotel ini. Mungkin pegawai magang, pikir Junmyeon. Dia hanya diam saja.

“Merokok dan membuang sampah sembarangan. Apa itu pantas dilakukan? Bocah seusiamu harusnya belajar yang benar, bukan malah membuang uang dengan merokok,” omel Irene sambil berkacak pinggang. “Anak SMA jaman sekarang,” dia geleng-geleng kepala. “Tunggu sampai aku laporkan ini pada orang tuamu. Sekarang, pungut puntung rokoknya dan buang ke tempat sampah di sana,” dia menunjuk tempat sampah. “Dan berjanjilah untuk tidak pernah merokok lagi.”

Ingin rasanya tertawa mendengar perintah-perintah wanita bernama Irene ini. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya itu adalah nasihat yang benar. Junmyeon tidak punya niatan untuk balas marah apalagi mengaku kalau dia adalah putra seorang pejabat yang sekaligus relasi dekat pemilik hotel itu. Dia malah merasa senang dan memungut puntung rokok yang baru saja dia buang, membawanya ke tempat sampah.

“Nah, bagus. Ingat ya, jangan pernah merokok lagi. Kalau uang jajanmu berlebih kan bisa membeli sesuatu yang bermanfaat. Kau juga bisa menyumbangkannya ke yang lebih membutuhkan. Lagipula, merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kau masih muda, sayangilah paru-paru berhargamu itu.”

Junmyeon menundukkan kepala, tersenyum selama Irene menceramahinya. Rasanya tidak masalah jika dimarahi semalaman oleh wanita ini. Hingga pegawai hotel lain datang memanggil Irene, sepertinya rekan kerja sesama pelayan.

“Irene-ah, apa yang kau lakukan di sini? Di dalam sedang sibuk.”

“Oh, ini aku sudah selesai. Hanya memberi pelajaran singkat tentang tanggung jawab pada bocah ini,” sahut Irene.

“Bocah? Siapa?” pegawai itu memicingkan mata. Junmyeon mendongakkan kepala dengan wajah polos. Hanya diam, berharap pegawai ini tidak mengenalinya. “Omo! Apa yang kau lakukan pada anak ini?” tapi sepertinya pegawai itu sangat mengenalinya.

“Pada dia? Tadi ku suruh dia membuang puntung rokok yang dia buang.”

“K-kau menyuruhnya?”

“Iya. Kenapa?”

Pegawai itu berbisik pada Irene, “Dia itu anaknya pejabat negara, teman dekat presdir. Katanya sebentar lagi ayahnya akan mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri. Kau ini bagaimana sih?”

“Hah?” mata Irene membulat, lalu mengamati penampilan Junmyeon dari kaki hingga kepala. Memang saat itu Junmyeon mengenakan pakaian santai khas anak-anak SMA pada umumnya, jadi tidak terlihat sebagai seorang tuan muda.

“Maafkan aku, noona,” dia sengaja membungkuk dalam pada Irene. “Aku janji tidak akan merokok dan buang sampah sembarangan lagi. Tapi jangan adukan ini pada orang tuaku ya,” ucapnya sambil cengengesan.

“O-oh, iya… tidak akan…” jawab Irene terbata.

“Selamat malam,” Junmyeon meninggalkan Irene dan teman kerjanya dengan cengiran lebar, sementara Irene rasanya tidak mampu berdiri saking takutnya.

Sejak malam itu, Junmyeon rajin ke hotel hanya untuk menemui Irene. Lambat laun mereka makin dekat. Hingga akhirnya Junmyeon sadar bahwa dia sedang jatuh cinta.

***

Bagaimana dengan Kyungsoo? Dia yang paling tenang, juga sering disibukkan oleh jadwal shooting. Walau mereka berenam—bertujuh dengan Seulgi—cukup dekat, tak ada yang tahu tentang isi hatinya. Tak satu pun tahu. Dan dia belum siap memberi tahu mereka bahwa dia sedang menyukai seseorang.

“Wan-ah, aku tidur sebentar ya. Bangunkan aku lima belas menit dari sekarang,” Seulgi membaringkan kepalanya di atas meja, berbantalkan buku ensiklopedia astronomi tebal yang baru selesai ia baca.

Seungwan tersenyum sekilas, lalu kembali berkutat dengan bukunya. Kyungsoo mengamati itu. Bukan Seulgi, melainkan Seungwan, gadis yang dia sukai. Sudah hampir satu semester dia duduk diam di belakangnya atau bersembunyi di antara rak buku hanya untuk memperhatikan Seungwan. Baru hari ini dia memberanikan diri untuk menghampirinya. Selagi ada Seulgi, jadi dia punya alasan.

“Hai,” sapanya, duduk di hadapan Seungwan dan Seulgi dengan membawa sebuah buku.

“Halo,” balas Seungwan sambil tersenyum kecil. “Dia tidur,” ucapnya sambil menunjuk Seulgi.

“Yaa, pemalas. Bangun dan belajar lagi,” Kyungsoo mengusak rambut Seulgi agar gadis itu terbangun.

“Aish, siapa sih—oh, Kyungsoo-ah? Kenapa membangunkanku? Hng…” bibir Seulgi mengerucut sebal karena tidurnya diganggu.

“Bukankah kau harus belajar?”

“Iya, tapi aku kurang tidur belakangan ini. Harusnya kau tidak membangunkanku!”

Seungwan tertawa melihat tingkah Seulgi, begitu juga Kyungsoo.

“Baiklah, tidur saja lagi,” Kyungsoo menarik kepala Seulgi agar kembali berbaring. “Dasar.”

“Biarkan saja tidur, tanpa belajar pun dia tidak akan kesulitan saat ujian,” kata Seungwan.

“Benar sih,” sambung Kyungsoo. “Jadi kau sering menemaninya di sini?” tanyanya berbasa-basi.

“Begitulah,” Seungwan tersenyum simpul. “Dia memaksaku, katanya kalau belajar di ruangan kalian sangat ribut, dia tidak konsentrasi.”

“EXO room?” Kyungsoo tertawa pelan. “Memang bukan tempat ideal untuk belajar.”

“Aku jadi penasaran apa saja yang kalian lakukan di sana,” kata Seungwan.

“Kami? Banyak hal. Mengobrol, main billiard, menonton. Kalau aku biasanya menghafal skrip di sana, sedangkan Jongin dan Sehun latihan dance,” jelas Kyungsoo apa adanya. Dalam hati dia senang bisa mengobrol akrab dengan Seungwan seperti ini.

“Hng, harusnya kau jelaskan apa yang Junmyeon lakukan,” celetuk Seulgi yang kini mengangkat kepalanya.

“Junmyeon-hyung?” kening Kyungsoo berkerut.

“Y-yaa Seulgi. Katanya mau tidur,” Seungwan memelototi Seulgi karena takut gadis itu membocorkan rahasianya.

“Iya, Junmyeon oppa. Seungwan kan naksir dia. Hahaha,” tapi dasar Seulgi, tidak bisa mengerem kecerewetannya. Dia malah memberi tahu Kyungsoo secara terang-terangan.

Tentu saja itu berefek besar pada hati Kyungsoo. “Naksir… hyung?” ulangnya lirih.

“Iya, makanya waktu itu ku ajak Seungwan ke EXO room,” jelas Seulgi sambil tertawa. “Kau tenang saja, Kyungsoo pasti jaga rahasia juga. Dia setia padaku. Benar kan, Kyungie?” tanya Seulgi pada Kyungsoo sambil menaikturunkan alis.

Kyungsoo menatap Seungwan agak lama, tentu saja tanpa ia sadari. Sebegitu mudahkah jalannya tertutup? Dia bahkan belum sempat menyatakan perasaannya, sudah terhalang benteng besar. Biar bagaimana pun, dia tidak akan pernah bisa menyaingi Junmyeon. Dia sudah pasti kalah.

“A-aku hanya sedikit kagum kok,” Seungwan berusaha menjelaskan. Selain karena malu, dia juga takut Kyungsoo berpikiran yang bukan-bukan, seperti mendekati Seulgi hanya untuk bisa dekat dengan Junmyeon.

“Bohong. Dia sangat sangat menyukai Junmyeon oppa. Makanya aku sedang dalam proses mencomblangi mereka. Tapi si kaku itu sulit bekerja sama,” Seulgi mencibir. “Kyungie, ayo bergabung denganku menjadi tim sukses JunWan.”

Kyungsoo tidak tahu harus merespon bagaimana.

“Kyungieeeee!”

“Eh? Tim sukses ya? Hm… boleh.”

“Bagus,” Seulgi bertepuk puas.

Kyungsoo tertawa, berusaha menutupi kegetiran hatinya. Ini bahkan lebih sakit dari pada ditolak—walau dia sendiri tidak tahu bagaimana rasanya ditolak. Cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan.

***

“Tumben Kyungsoo tidak ke sini sama sekali,” celetuk Baekhyun yang sedang membaca buku sambil tiduran di sofa EXO room.

“Katanya tadi mau ke perpustakaan,” sahut Chanyeol yang sedang menonton, duduk di kaki Baekhyun.

“Mungkin dia mulai sadar kalau kita mengganggu konsentrasinya,” tukas Baekhyun.

“Aku ke kelas dulu ya,” Sehun bangkit dari kursi, beranjak pergi.

“Eoh,” jawab Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.

Akhir-akhir ini Sehun mulai bosan berdiam di EXO room. Itu alasan kenapa dia sering menghilang sendirian. Dengan tangan yang disimpan di saku celana, Sehun berjalan meninggalkan ruangan itu. Baru saja menutup pintu, dia mendengar suara Seulgi memanggil namanya.

“Sehun!”

Kedua sudut bibir Sehun terangkat, membiarkan Seulgi berlari menghampirinya. Dia langsung menggantungkan lengannya di pundak Seulgi, merangkulnya. Saat berdekatan seperti itu dia dapat merasakan sesuatu yang tak asing menghampiri indera penghidunya.

“Kau memakai parfum baru ya?” tanya Sehun. Dia sangat mengenali parfum ini, tentu saja. Sehun biasa menghirupnya dari tubuh Irene.

“Wah, kau menyadarinya?” karena pertanyaan Sehun, Seulgi makin merapat agar wangi parfumnya tercium. “Suka tidak?”

Sejenak Sehun terdiam, memalingkan wajahnya dari Seulgi. Apa iya ini kebetulan? Parfum yang dipakai oleh Irene bukanlah parfum biasa. Dan kini Seulgi memakainya juga.

“Hm… lebih suka yang biasanya,” jawab Sehun tanpa melirik Seulgi.

“Kenapa?” Seulgi menghirup aroma tubuhnya sendiri. “Ini kan parfum mahal.”

“Iya, tapi aku suka kau yang biasanya,” Sehun menghentikan langkahnya, lalu menghadap Seulgi. “Kalau begini aku jadi tidak mengenalimu.”

“Memangnya aku yang biasa seperti apa?” tanya Seulgi, memiringkan kepalanya dengan wajah polos.

“Kau yang manja, kekanakan, selalu bertingkah polos,” Sehun mencubiti kedua pipi Seulgi saat mengatakan itu.

“Aish, itu bukan pujian,” protes Seulgi, segera menjauhkan tangan Sehun dari pipinya.

“Kan yang penting aku suka dirimu yang seperti itu,” Sehun mengusap pipi Seulgi yang tadi dicubitinya seolah sebagai penawar.

“Begitu ya,” Seulgi manggut-manggut. “Tapi sayang kalau dibuang.”

“Kalau kau suka tidak apa, pakai saja,” ucap Sehun, kemudian mengecup pipi Seulgi. “Sana kembali ke kelasmu.”

“Baiklah, sampai nanti,” Seulgi melambai sekilas padanya sebelum kembali ke kelas. Sehun memperhatikan gadisnya yang berlari kecil menuju kelasnya. Pikirannya campur aduk sekarang.

***

Seharian tadi di sekolah sama sekali tak ada interaksi antara Jongin dan Seulgi. Tahu apa efeknya? Jongin gelisah. Berkali-kali dia modus melewati kelas Seulgi dan melirik ke dalamnya untuk melihat gadis itu ada atau tidak. Dia juga datang lebih awal ke EXO room untuk menunggu, mungkin saja Seulgi datang hari ini. Lalu saat pulang sekolah, dia duduk diam di dalam mobilnya cukup lama hingga melihat Seulgi masuk mobil jemputannya dan pulang. Dari semua usaha itu dia memang melihat Seulgi, tapi tidak berani menyapanya sama sekali. Sepertinya pengecut adalah nama tengah Kim Jongin.

Malam hari dia masih penuh pemikiran tentang Seulgi yang sepertinya benar-benar marah padanya. Biasanya Seulgi akan mengirim minimal satu kalimat dan satu sticker di chatroom pribadi mereka. Namun sudah berkali-kali Jongin mengecek, bahkan agak lama membuka profile page Seulgi, tetap tak ada satu huruf pun darinya.

“Rasanya jadi aneh kalau ke sini tidak ada Seulgi,” Chanyeol tampak sibuk membuat kopi tiba-tiba bersuara, tentang Seulgi pula. Saat ini Jongin dan Chanyeol berada di dapur rumah Jongin.

Tak menjawab, Jongin hanya menghembuskan nafas panjang seraya menghempaskan ponselnya ke meja. Hal itu membuat Chanyeol menaikkan alis.

“Mau mandi,” kata Jongin singkat sebelum beranjak dari dapur.

Chanyeol memperhatikan tingkah aneh Jongin sejak siang tadi di sekolah. Sekarang matanya mengerjap, mulai berspekulasi yang macam-macam.

“Apa dia punya pacar?” lalu dia melirik ponsel Jongin yang tergeletak dalam keadaan menyala. Segera ia ambil sebelum layarnya mati dan terkunci. “Dapat,” ucapnya lirih. Sekarang rasa penasarannya bisa teratasi dengan benda itu. Dia meletakkan cangkir kopinya lalu duduk di atas meja untuk menjelajahi ponsel Jongin. Mula-mula dia membuka gallery. Satu per satu folder di buka, tapi tidak ada foto mencurigakan seperti selfie Jongin bersama seorang gadis. Memang ada banyak foto bersama gadis, tapi hanya Seulgi seorang. Sisanya adalah foto bersama EXO boys, keluarga, dan foto-foto anjing piaraannya. “Kenapa tidak ada apa-apa sih?” sesekali mata Chanyeol melirik ke luar dapur, takut Jongin tiba-tiba muncul. Dia melanjutkan penjelajahannya, kali ini pindah ke media sosial dan chatting. Chatroom yang ada di sana pun tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada obrolan dengan EXO boys dan Seulgi. Hingga dia buka salah-satu chatroom, cukup membuatnya tertegun.

Bukan masalah obrolan, atau lawan mengobrolnya. Soal itu semuanya normal-normal saja. Yang mengherankan adalah wallpaper chatnya.

Foto seseorang.

Dan Chanyeol sangat mengenal siapa itu.

Kang Seulgi.

Seulgi mereka, yang selalu mereka lindungi, kekasih Sehun.

Berusaha berpikir positif, Chanyeol membuka aplikasi chatting lain. Mungkin saja Jongin iseng atau Seulgi yang memaksanya. Namun dia kembali ternganga saat membuka chatroom aplikasi lain, ternyata foto Seulgi juga. Masih mencoba bertahan dengan dugaan positifnya, Chanyeol berpindah ke aplikasi lain. Dan hasilnya sama, foto Seulgi. Kemudian dia kembali membuka gallery. Akhirnya Chanyeol menyadari sesuatu. Pantas saja gadis yang ada di gallery ponsel Jongin hanya Seulgi seorang. Pantas saja Jongin selalu kelihatan malas jika membahas soal Sehun dan Seulgi. Pantas saja Jongin tak pernah acuh jika ada Sehun dan Seulgi bersama.

“Apa yang kau lakukan?”

Kepala Chanyeol terangkat dan ternyata Jongin sudah kembali dengan rambut basah dan handuk menggantung di lehernya. Dia sama sekali tidak merasa panik karena tertangkap basah mengintip ponsel orang tanpa izin. Malah menatap Jongin tajam, meminta penjelasan.

“Apa yang ku pikirkan ini adalah benar, Jongin?”

“Kembalikan ponselku,” Jongin melangkah ke dekat Chanyeol dan langsung merebut kembali ponselnya. Dia melihat apa yang tadi Chanyeol lihat, lalu menggumamkan kata “Sial” saat tahu itu adalah chatroom dengan latar foto Seulgi.

“Kau menyembunyikannya selama ini?”

“Kau tahu kan, ini adalah privasi orang.”

“Kim Jongin!”

“Lupakan saja. Anggap tidak pernah lihat.”

“Jadi itu benar? Kau menyukai Seulgi?”

“Ku bilang lupakan!” bentak Jongin. “Kau tidak tahu apa-apa.”

“Jongin, kau menyukai pacar sahabatmu sendiri.”

“Aku tahu,” tukas Jongin, mengusap wajahnya kasar. “Memangnya kenapa? Kau pikir perasaan ini bisa diatur dengan mudah?”

“Sedikit saja ceroboh, persahabatan kalian tidak akan aman.”

“Dia selingkuh. Kau pikir aku bisa diam saja menonton semua itu?” Jongin berdecak, berbalik ke arah kamarnya.

“Apa sekarang kau sedang berencana merebut pacar temanmu?” tanya Chanyeol tak habis pikir. Tapi Jongin tak punya niatan untuk menjawab. Chanyeol terus mengikutinya naik tangga. “Ya Kim Jongin!”

“Jadi mana yang lebih bejat? Berselingkuh dari kekasih yang sangat mencintaimu atau merebut pacar temanmu? Terus terang, aku tidak sanggup jika harus melihat Seulgi menangis karena tahu Sehun menduakannya,” sahut Jongin telak.

Chanyeol membuka dan menutup mulutnya, tidak punya jawaban lagi. Melihat itu, Jongin melanjutkan langkahnya ke kamar. Satu orang telah tahu rahasianya.

***

Saat itu adalah kompetisi dance antar sekolah. Jongin dan Sehun mengikuti kompetisi itu dan sama-sama menjadi finalis. Terjadi persaingan sengit karena keduanya memiliki kemampuan luar biasa dan banyak penggemar. Persaingan itu tak lantas membuat persahabatan mereka merenggang. Justru seringkali latihan bersama.

Keempat kawan mereka serta Seulgi datang saat hari kompetisi untuk mendukung keduanya. Seulgi yang paling heboh, duduk di barisan paling depan sambil mengangkat banner tinggi tinggi.

Jongin keluar sebagai juara pertama, sementara Sehun menjadi nomor dua. Memang sangat tidak nyaman saat mengalahkan sahabatmu sendiri. Jongin mencoba tidak terlalu kelihatan gembira saat semua orang mengelukan namanya. Hingga sesaat setelah penyerahan tropi kemenangan….

“Test. Ehm, maaf sebelumnya aku menyita sedikit waktu kalian,” Sehun maju ke depan mic dengan tropi dan bunganya. “Aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah aku rencanakan sejak mendaftar kompetisi ini.”

Semua perhatian yang semula hanya dimiliki Jongin, kini beralih ke Sehun.

“Aku memiliki seorang teman sejak kecil. Dulu dia gendut, cerewet, manja, suka merajuk, dan sering makan coklat. Sampai sekarang pun masih sama, kecuali gendutnya,” seluruh audience tertawa. “Kami sering main bersama, juga pulang bersama karena aku selalu menumpang mobilnya. Dia sangat pelit, mungkin hanya sekali seumur hidup membagi coklat denganku,” audience tertawa lagi. “Kami tumbuh bersama, sekolah bersama, belajar bersama, lalu lambat laun aku melihatnya dengan cara berbeda. Ternyata dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis. Dia bukan teman kecilku yang manja lagi, melainkan gadis cantik yang… masih manja juga,” lagi-lagi Sehun membuat audience tertawa. “Saat mendaftarkan namaku di kompetisi ini, aku berjanji akan berlatih sungguh-sungguh agar bisa menjadi juara terbaik. Dan kemenangan itu akan ku persembahkan untuknya,” tidak ada tawa lagi, tapi semuanya tersenyum. “Aku berencana menyatakan perasaanku padanya saat hari kemenanganku tiba,” Sehun melepaskan mic kemudian turun panggung. Dia berjalan dengan tropi dan bunganya ke barisan penonton. Saat tiba di hadapan Seulgi, ia berhenti. “Kang Seulgi, aku tidak mau menjadi temanmu lagi. Bagaimana kalau aku jadi pacarmu saja?” Seulgi sepertinya cukup kaget, terlihat dari wajahnya saat menatap Sehun. “Sayangnya hari ini aku hanya menjadi juara kedua. Tapi bisa kan aku menjadi yang nomor satu di hatimu?”

Semuanya bersorak menggoda Seulgi, juga memaksa Seulgi untuk menerimanya. Termasuk Junmyeon, Baekhyun, Chanyeol dan Kyungsoo.

“Terima! Terima! Terima! Terima!” sorak mereka.

Seulgi tersenyum simpul, kemudian berdiri berhadapan dengan Sehun.

“Sejak kapan kau jadi gombal, eoh?”

Mendengar itu Sehun tertawa pelan. “Jadi mau tidak?”

“Traktir aku terus tapi.”

“Call.”

“Oke.”

“Bunga?” Sehun mengulurkan bunganya untuk Seulgi dan gadis itu menerimanya dengan pipi memerah. Lalu Sehun memeluknya.

Jongin melihat itu. Hanya dia yang tidak ikut tersenyum, tertawa, apalagi bersorak. Beruntung tidak ada yang memperhatikannya. Karena jika ada, pastilah ketahuan wajah patah hatinya.

***

“Kau sudah gila?!?”

“Kau tidak akan pernah mengerti!”

“Dia tidak pernah peduli padamu! Sadarlah!”

“Tapi aku mencintainya, Sehun-ah….”

.

.

.

.

Mimpi itu lagi. Sehun terbangun pada jam 2 dini hari dalam keadaan seperti habis olahraga. Desahan nafas lolos, dia mengusap wajahnya kasar. Sudah dua tahun berlalu tapi masih saja menghantuinya. Sehun menyingkirkan selimutnya, turun dari tempat tidur untuk menghampiri meja belajar. Bukan untuk mengambil buku, melainkan sesuatu yang ia simpan di dalam laci. Sekotak rokok. Dia ambil sebatang untuk dihisap. Sehun merokok hingga pagi menjelang.

***

Terlihat Seulgi sedang bercengkrama bersama teman-temannya di ruang kelas. Siang ini dia tidak berminat ke perpustakaan atau ke EXO room. Itu membuat Jongin makin kepikiran. Dia ragu harus menemui Seulgi atau tidak. Kalau pun menemuinya, apa yang bisa ia katakan? Bahwa dia bersikap tak acuh kemarin karena cemburu? Ayolah, selama ini dia sudah seperti orang bodoh yang menyaksikan gadis yang dia cintai bersama orang lain. Tidak mungkin dia menambah kebodohan lagi.

“Seul, apa kau tidak merasa kalau belakangan ini Jongin sering sekali mengikutimu?” celetuk Seungwan lirih selirih-lirihnya. Ekor mata Seungwan dari tadi menangkap bayangan Jongin yang terlihat berjalan ragu-ragu di depan pintu kelas mereka.

Seulgi berdecak dan menoleh ke arah pintu. Memang ada Jongin di sana tadinya berdiri menghadap ruang kelasnya, tapi kemudian wajahnya segera ia palingkan saat tahu Seulgi menoleh.

“Pengecut,” gumam Seulgi.

“Kalian bertengkar?” tanya Seungwan.

“Aku marah padanya.”

“Apa sebaiknya tidak bicarakan baik-baik?”

“Ah, kau mana mengerti?” dengus Seulgi kesal.

“Saranku sih, kau temui dia dan bicarakan semuanya sampai selesai. Kalian kan teman dari kecil, harusnya tidak bertengkar untuk masalah sepele.”

“Kau mau menyebutku kekanakan karena marah dengan alasan sepele?”

“Eh, bukan aku yang bicara ya….”

“Kau sama saja,” akhirnya, dengan sebuah decitan kasar Seulgi berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. Dia berjalan keluar kelas dengan kaki dihentak. Kentara sekali dia sangat kesal. Terlebih saat dilihatnya Jongin mempercepat langkah menghindar, dia juga mempercepat langkahnya dan langsung menarik kerah seragam Jongin dari belakang saat berada dalam jangkauan tangan. “Dasar pengecut.”

“S-Seul…” wajah Jongin tampak gelagapan saat Seulgi membuatnya berbalik dan menatapnya galak.

“Memangnya dengan berjalan mondar-mandir di depan kelasku membuatmu bisa dimaafkan?”

Wajah Jongin tertunduk. “Maaf….”

“Dasar bodoh!” Seulgi memukul kepala Jongin dengan buku yang sengaja dia bawa. Refleks Jongin menyilangkan tangan untuk melindungi kepalanya. “Apa susahnya datang padaku lalu meminta maaf dengan serius? Kalau aku tidak menemuimu seperti ini, kau mau bersembunyi selamanya, huh? Bodoh! Bodoh! Bodoh!”

“Yaaa yaaaa ampun! Iya, aku memang salah. Berhenti memukulku, Seul. Aku minta maaf,” tidak bisa berlindung lebih lama, Jongin mencengkeram kedua tangan Seulgi agar berhenti memukulnya.

“Akan lebih baik kalau ada eskrimnya.”

“Arasseo, besok aku traktir. Gampang sekali disogok.”

“Ya sudah, tidak jadi dimaafkan,” Seulgi mengerucutkan bibirnya, berbalik hendak meninggalkan Jongin kalau saja tangannya tidak dicengkeram lagi.

“Aku sungguh akan mentraktirmu eskrim. Jangan marah lagi. Kau tidak tahu apa? Kalau kau marah, hal lain tidak bisa ku pikirkan.”

“Benarkah? Seserius itu?”

Jongin menghela nafas. “Iya, makanya jangan marah lagi.”

“Kalian sedang membicarakan apa?” tiba-tiba Sehun muncul dan langsung merangkul Seulgi. “Bertengkar?” tanyanya seraya menatap Jongin dan Seulgi bergantian.

Entah kenapa raut wajah Seulgi berubah saat Sehun datang, namun tidak memprotes saat Sehun merangkulnya.

“Tidak bertengkar kok. Dia punya hutang eskrim padaku,” jawab Seulgi dengan suara yang lebih tenang dari tadi.

“Yaa kau harus bayar hutangmu segera,” kata Sehun pada Jongin sambil terkekeh. Seulgi dan Jongin ikut terkekeh, tapi terdengar sangat dipaksakan. “Oh, ya, aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Sudah ku letakkan di dalam lokermu,” jawab Sehun.

“Baiklah, nanti aku lihat,” Seulgi hanya manggut-manggut. Memang, mereka berdua sudah saling bertukar kode loker masing-masing.

“Harus dilihat segera dan dipakai ya,” Sehun mencium puncak kepala Seulgi. “Aku ke kelas dulu,” ucapnya seraya pergi meninggalkan Jongin dan Seulgi.

“Apanya yang dipakai sih?” Seulgi menggumam saat Sehun sudah berada jauh dari mereka.

“Well, tidak akan tahu kalau belum melihatnya,” sahut Jongin sambil mengangkat bahu. “Aku ke kelas dulu ya.”

“Ingat eskrimnya!”

“Iyaaa cerewet!” Jongin mengacak pelan rambut Seulgi lalu pergi dari hadapannya.

“Cerewet katamu,” desisnya pelan. Diliriknya jam tangan sekilas, lalu kembali ke kelasnya juga. Seungwan menatapnya saat dia masuk, seperti seorang ibu yang menunggu putrinya pulang. “Sudah selesai,” ucapnya datar, dan Seungwan tertawa cekikikan.

“Baguslah.”

Seulgi hendak duduk di kursinya, namun ekor matanya tertarik ke arah loker di belakang kelas. Dia tidak begitu antusias akan hadiah dari Sehun, biasanya. Tapi kali ini malah sangat penasaran.

“Apa sih?” dengan dengusan kasar Seulgi berjalan ke arah lokernya. Dia putar kodenya hingga pintu loker terbuka dan desahan nafas panjang lolos saat sudah terbuka dan menampakkan isinya. Sebuah kotak kecil berwarna putih bertuliskan Chanel No5. Dia tidak paham apa maksud Sehun memberinya hadiah berupa parfum yang kemarin dia bilang tidak suka jika Seulgi memakainya.

“Yang benar saja.”

***

Malam hari biasa, EXO boys berkumpul di ABClub—tempat mereka berkumpul tanpa Seulgi. Mereka sengaja tidak mengajak Seulgi yang menurut mereka masih terlalu polos dan agar gadis itu tidak mengadu pada orang tua mereka. Hanya ada gerombolan siswa SMA yang bebas minum alkohol sebanyak yang mereka mau. Itu dulu, sebelum Sehun mulai menjalin hubungan gelap dengan Irene. Tidak ada yang tahu apa alasan Sehun menjadikan tempat perkumpulan mereka sebagai tempat kencan rahasianya. Mungkin karena hanya di tempat itu Seulgi tidak melihatnya. Tapi kenapa harus di depan mereka berlima? Bukankah akan lebih aman jika berkencan di dalam hotel tanpa membiarkan Junmyeon, Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, dan Jongin tahu?

“Orang bodoh,” gumam Chanyeol sambil geleng-geleng kepala.

“Siapa?” Junmyeon melirik Chanyeol.

“Tuh,” Chanyeol menunjuk Sehun yang duduk sendirian di bar. Irene belum datang, dan mereka enggan menemaninya di sana.

“Bukannya justru sangat pintar karena mendapat 2 pacar sekaligus?” Kyungsoo menimpali.

“Kenapa dia harus melakukannya di depan kita?” Chanyeol memutar bola matanya.

“Berarti kita yang bodoh karena hanya bisa menonton, tanpa melakukan sesuatu,” Junmyeon meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. “Aku ke toilet dulu.”

“Benar juga ya, kita ini bodoh atau apa?” sambung Kyungsoo sambil terkekeh. Diteguknya brandy langsung dari botolnya.

“Yaa kau selalu saja diam di saat seperti ini,” kaki Chanyeol bergerak menendangi kaki Jongin. “Setidaknya katakan sesuatu.”

“Baekhyun belum datang,” sahut Jongin dengan wajah datar. Dia hanya mendongak sekilas pada Chanyeol sebelum memainkan ponselnya lagi.

Chanyeol berdecak. “Iya, aku tahu hanya itu yang akan kau katakan.”

Kyungsoo tertawa. “Kau coba hubungi Baekhyun, dia masih lama tidak?” suruhnya.

Setelah meletakkan gelas minumannya lagi, Chanyeol mengambil ponselnya untuk menghubungi Baekhyun. Dengan kaki terangkat ke meja ia mulai bicara saat panggilannya diterima.

“Kapan akan tiba di sini?” tanya Chanyeol.

“Aku baru keluar dari ruang latihan. Mungkin akan ganti pakaian dulu,” bisa didengarnya suara Baekhyun yang sepertinya sedang berjalan tergesa.

“Cepatlah, kami sudah sampai.”

Saat itu Chanyeol melihat Irene berjalan menghampiri Sehun. Alisnya terangkat.

“Semuanya? Junmyeon dan Sehun juga?” tanya Baekhyun heran.

“Iyaaa, makanya cepat.”

“Tumben mereka tepat waktu.”

“Junmyeon aku tidak tahu kenapa, tapi Sehun sedang berkencan,” imbuh Chanyeol. Kini dia melihat wajah Irene dan Sehun berdekatan, lalu berciuman. Dia melirik Jongin saat itu terjadi, dan yang dilirik kelihatan sekali baru saja memalingkan wajah.

“Oh, pantas. Aku segera ke sana,” kata Baekhyun sebelum panggilan terputus.

Chanyeol meletakkan ponselnya lagi. “Sialan bocah itu. Berani sekali,” komentarnya, dimaksudkan untuk Sehun yang tadi mencium Irene di tempat umum.

Dia sengaja mengatakannya untuk melihat ekspresi Jongin, tapi tak terlihat efek apa pun. Mungkin Jongin hanya menahan diri.

***

“Sudah lama menunggu?” Irene tiba di dekat Sehun, langsung duduk bersebelahan. Saat itu Sehun sedang meneguk brandy, melirik Irene sekilas sebelum meletakkan gelasnya. Tanpa diduga, Sehun mendekatkan wajah dan memiringkannya sehingga siapa pun yang melihat pasti mengira mereka sedang berciuman. Nyatanya Sehun hanya bergerak ke dekat telinga Irene dan berbisik.

“Sudah ku bilang kan, jangan pakai parfum.”

“Aku tidak peduli pada pacarmu, kalau dia curiga ya itu urusanmu,” sahut Irene tak acuh sambil mengangkat bahu.

“Kau tidak akan mengerti,” Sehun menarik kepalanya kembali.

“Lagi pula kalau kau tidak mau ketahuan, kenapa harus pura-pura menciumku di depan mereka?” tanya Irene, melirik sekilas teman-teman Sehun di sudut lain bar.

“Ku bilang kau tidak akan mengerti,” jawab Sehun lagi.

Ya, sepertinya ada banyak hal yang belum Irene tahu. Dia pun memilih diam dan menemani Sehun minum.

***TBC***

Author note : Jika ada apa pun yang kurang ‘enak’ dibaca, komentari saja ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya^^

16 thoughts on “Wonderwall : Perfume

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s