Mocca

Screenshot_2016-02-23-17-04-23

  • Author : Pds Cardova (@zhayrapiverz)
  • Cast : Kris Wu and OC
  • Support Cast : Exo member
  • Length : Oneshoot
  • Rating : T, G
  • Genre : Friendship, AU, Romance
  • Cover by : Chenistry^^
  • Disclaimer : FF ini saia post di banyak tempat dengan nama Author yang sama. Semua yang saya posting adalah karya original otak. Happy reading *bow

 

Jika saja aku bertemu denganmu sejak awal mungkin saja hal itu tidak akan terjadi padamu, atau bila khayalanku terlalu tinggi cukuplah aku untuk menahan dirimu disisiku sedikit lebih lama sebelum kenyataan pahit itu tiba~ Kris Wu

Mungkin hal ini bukanlah sebuah hal tabu bagi pria jangkung berkulit putih bernama Kris Wu yang rajin tertidur dikelas ataupun berbuat onar dengan rivalnya -seperti berkelahi sepulang sekolah. Gema suara kesal bercampur marah seorang wanita paruh baya berkaca mata minus sepuluh dioptri dengan potongan rok span selutut menatap tajam kepergian Kris yang melalui koridor demi koridor sekolah “Dasar anak malas, astaga kapan anak itu bisa sembuh dari penyakit malas sekaligus pembuat onarnya. Semoga saja anakku tidak mewarisi sifat Kris yang nakal itu..”

Kris sendiri tak tahu kemana sepasang kaki yang kini membawanya pergi, tahu-tahu ia berada di tempat tinggi lapang yang berangin kencang, menerbangkan anak rambut miliknya –diatap- angin sepoi-sepoi dingin dimusim semi, hari kedua puluh.

‘Kris Wu, kalau kau tidak pernah berniat mengerjakan tugasmu disekolah, bagaimana mungkin kau akan menjadi siswa yang pintar dan lulus dengan nilai memuaskan?’

‘Kris. Kau tahu kalau Taerin kekasih Suho, jadi jangan sekali-kali mendekati gadis itu walaupun katanya Taerin sudah berkali kali mengatakan padamu jika Taerin tidak pernah mencintai Suho. Hey cobalah berpikir, mana mungkin hubungan tanpa cinta itu berjalan hingga dua tahun lamanya? Jangan bodoh Kris Wu!’

‘Ayah sangat kecewa dengan kelakuanmu Kris, kau anak pria satu-satunya yang Ayah harapkan untuk memimpin perusahaan Ayah kelak di kemudian hari, tetapi jangankan mewujudkan keinginan Ayah, kerjaanmu setiap hari hanya berbuat onar dan kebut-kebutan. Ya Tuhan dosa apa yang sudah aku lakukan hingga anakku sendiri seperti ini..’

Untaian kalimat-kalimat itu terus berdelusi di dalam pikiran Kris. Membuatnya pusing setengah mati jika terus dipikirkan -walau sebenarnya Kris juga berusaha keras untuk menepisnya, anehnya pemikiran itu datang lagi seperti virus.

“Aku sering sekali melihatmu kemari, kau sepertinya sedang banyak masalah..”

Kris menoleh dengan raut yang sebisa mungkin nampak datar, namun tak lama dahinya ikut mengernyit ‘Bagaimana dia tahu?’

“Terkadang aku menangis jika masalah-masalah itu membuatku sedih sekaligus menguasai pikiranku. Tapi aku tahu kau pria sejati yang pantang melakukan hal itu, kau juga bisa melakukan hal lain selain menangis..”

“Seperti?” Kris merutuki bibirnya yang berbicara sendiri tanpa disuruh ‘sial’

Gadis berkulit pucat itu menatap kakinya yang bergerak bebas diantara atmosfir sambil tersenyum “Kau boleh menceritakan apa yang ingin kau ceritakan pada orang yang kau anggap percaya. Tidak ada salahnya kan, membagi masalah dengan orang lain?”

Kris mengatupkan bibir marunnya. tatapan mata elangnya terarah pada deret gedung pencakar langit dikejauhan. Ia bukannya mengabaikan ucapan siswi tidak dikenal ini, hanya saja ia sedang mencerna penuturannya baru saja, memang ada benarnya juga karena selama ini Kris terlalu pendiam -atau dengan kata lain memendam semua masalahnya sendirian.

Tapi tunggu, siswi ini siapa? Perasaan selama bersekolah hampir tiga tahun di bangku SMU ini ia belum pernah sekalipun menjumpai siswi ini, lalu siapakah siswi ini sebenarnya dan dari mana datangnya -yang Kris tahu siswi ini sudah berada di sampingnya, terduduk dengan kaki berayun diantara udara kosong dengan senyum tipis dibalik rambut panjang tertiup angin

“Kau siapa?”

Gadis itu menoleh pada Kris, tersenyum “Panggil saja aku mocca..”

“Mocca?” Kris semakin tidak mengerti dengan pembicaraan gadis aneh ini

“Ya mocca..perpaduan antara kopi dan coklat. Panggil saja aku mocca karena aku menyukai rasa mocca”

Kris sebenarnya masih tidak mengerti namun dia menahan diri untuk bertanya lebih lanjut –lagipula bukan urusan dirinya bukan?

Gadis bernama ‘Mocca’ melirik Kris yang memejamkan mata merasakan semilir angin yang menerbangkan anak rambutnya, membuat tidak beraturan -yang entah mengapa justru semakin membuat Kris semakin mempesona ditempa cahaya matahari, tidak seperti dirinya yang diselimuti kabut kelabu

“Apa kau menikmati hidupmu saat ini?” Mocca membuka pembicaraan kembali ketika suasana begitu hening -ia membenci keheningan karena terlalu lama terjerat di dalamnya. Kris menggeleng, belum mengeluarkan suara.

“Dahulu Aku juga sama sepertimu, bersikap seolah membenci kehidupan, membenci takdir ataupun segala hal yang terjadi di dalam hidup. Ya seperti itulah”

Menit selanjutnya, Kris mulai penasaran dengan kelanjutan cerita ‘Mocca’ yang ternyata tidak jauh beda dari dirinya, Kris seolah menemukan seorang yang mengerti jalan pikirannya yang terkadang kaku ataupun tidak sejalan dengan pemikiran kebanyakan orang -seperti bertemu Kris kedua

“Tapi itu dulu saat aku masih hidup sama sepertimu, saat ragaku dapat bergerak bebas melakukan apapun yang kuinginkan. Saat ini hanya ada penyesalan yang menghantuiku, penyesalan karena aku baru menyadari jika Tuhan menganugerahi hidup yang begitu istimewa untukku. Semua yang kulakukan dulu hanyalah pemikiran keegoisan dan napsuku sendiri, aku tidak benar-benar menikmati hidupku sendiri, aku belum mengetahui apa saja arti hidup yang sebenarnya.. ”

Kris membuka mata perlahan, menoleh pada Mocca dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi pemikirannya -dalam tingkat penasaran yang lebih tinggi dari sebelumnya “Lalu apa yang terjadi dengan dirimu sekarang?” kali ini Kris membiarkan bibirnya kembali bertanya tanpa memperdulikan kegengsian lagi

Mocca tersenyum getir “Aku menyesal. Aku berharap Tuhan memberiku kesempatan hidup yang kedua untukku bila ia berbaik hati. Tapi bilapun tidak, aku tetap akan berterima kasih karena ia memberiku begitu banyak pelajaran yang dapat kupetik selama ini. Kris~ssi aku tidak ingin dirimu melalui hal menyakitkan sepertiku, sejahat apapun kehidupan, sebanyak apapun masalah yang datang, aku percaya kalau kau sebenarnya orang yang mampu menghadapinya, aku yakin kalau kau orang yang lebih tegar dari aku..”

Kris terdiam sebentar, memberi jeda untuknya berpikir hingga kembali bertanya “Mengapa kau sangat percaya padaku?”

Mocca mengangguk “Kau adalah dirimu sendiri, kau pemilik ragamu sendiri dan kau adalah pemeran utama dari hidupmu sendiri, tak ada alasan untuk tidak mempercayai dirimu sendiri. Kau hanya perlu meyakini sekaligus percaya bahwa kau bisa berubah dan menunjukkan pada mereka kalau kau bukanlah pecundang, kau juga bisa diandalkan” mocca tersenyum ringan setelahnya

Kris menatap manik kelabu Mocca dalam diam, berusaha mengerti ataupun mempelajari bagaimana gadis manis ini memiliki pemikiran dalam, diluar perkiraannya. Seorang dengan kulit pucat yang entah mengapa Kris merasakan kenyamanan yang semakin lama membuatnya tidak ingin beranjak dari tempatnya kini “Tapi tunggu, bagaimana kau tahu namaku?”

 

♬•♬

Rumah bak istana yang memiliki luas beberapa hectare dilengkapi fasilitas lengkap seperti lift, ruang olahraga, ruang karaoke, kolam renang, sauna, ruang khusus tamu serta berbagai ruang lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Rumah yang terlihat sangat menarik namun juga terasa hampa dan kosong di dalamnya. Sama seperti Kris , rumah besar ini terasa kaku tatkala rentetan suara dua orang pria yang berdebat dengan pandangan menusuk satu sama lain saling mendominasi

“Sudah ku peringatkan berapa kali untuk menghentikan acara kebut-kebutanmu Kris Wu! Ku pikir kau cukup dewasa untuk membedakan mana yang baik dan buruk”

Kris menarik napasnya lelah “Aku tahu dan sekarang aku lelah, aku ingin tidur. Selamat malam” Kris berlari kecil menaiki tangga

Mocca mengamati punggung Kris yang menghilang dibalik pintu besar kayu hingga ia beralih pada Ayah Kris yang masih berdiri di tempatnya dengan tangan terkepal dan sosok wanita setengah baya berwajah rupawan yang menghampiri ayah Kris , berusaha menenangkan “Tenanglah Sungwoon~ah, percuma kau terus memarahinya kalau Kris semakin getol mengikuti balapan liar. Aku yakin suatu hari nanti Kris bisa berubah, dia akan menjadi pria yang baik”

Sungwoon menghela “Tapi kapan hari itu tiba Haera? Sepertinya kesalah pahaman dimasa lalu benar-benar mempengaruhi kehidupan Kris, sungguh aku tidak berniad membandingkannya dengan sahabatnya Kim Suho”

Ibu Kris mengangguk sembari mengusap punggung suaminya yang nampak bergetar “Aku mengerti suamiku, kau melakukan itu agar Kris tergugah dan ia juga bisa unggul seperti Suho. Esok-esok aku akan memperingatkan Kris, sekaranglah istirahatlah. Hari ini pekerjaanmu banyak sekali di kantor”

Mocca meninggalkan sepasang suami istri tersebut. Ia beranjak menghampiri kamar Kris dimana pria itu tengah tertidur dengan damai ‘Walaupun aku hanya seorang arwah, aku juga pernah merasakan bagaimana kehidupan sepertimu Kris ‘

Mocca terduduk di atas meja belajar Kris, mengamati kamar luas bercat biru pastel yang nampak nyaman. Berbeda sekali dengan kamar sempit miliknya yang sangat sederhana bahkan jauh dari kata nyaman jika saja ia boleh berargumen “Kris seharusnya kau bersyukur dengan apa yang kau miliki saat ini”

Pria itu membuka mata perlahan namun tak lama ia menutupi tubuhnya dengan selimut “Bagaimana kau bisa disini?”

Mocca melipat tangannya diatas dada “Kau lupa jika aku seorang arwah? Tentu saja aku bisa ke tempat manapun yang aku mau bodoh!”

Kris mendengus seraya memutar bola mata “Jangan ikuti aku, pergilah!”

Mocca tidak menggubrisnya, toh hanya Kris yang bisa melihatnya “Kris seharusnya kau bersyukur dengan apa yang kau miliki saat ini”

“Apa maksudmu?”

“Kau memiliki keluarga yang utuh, kau memiliki rumah yang besar seperti istana, kau memiliki masa depan yang cerah, kau memiliki banyak teman. Apa lagi yang kurang?”

Kris melirik mocca dengan sinis “Kau tidak tahu apapun tentangku!”

Mocca tersenyum kecil “Setidaknya kau tidak harus berjuang apakah kau akan hidup atau mati hari ini, seperti aku”

Kris membalikkan tubuhnya menghadap mocca yang masih terduduk di atas meja. Sungguh ini adalah pengalaman paling unik sekaligus aneh dimana Kris mampu berbincang dengan seorang arwah, awalnya Kris malah berpikir kalau dia manusia seperti lainnya dan bukan arwah.

“Maksudnya tubuhku sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit, terhitung sepuluh hari sampai hari ini. Kapanpun aku akan menemui ajalku Kris , tetapi sebelum Tuhan menjemputku aku ingin melakukan satu kebaikan pada orang lain agar aku tidak mati dengan menyesal”

Terdiam. Kris semakin terenyuh, dalam hati terbersit rasa penyesalan serta teka-teki yang berusaha ia pecahkan sedari awal saat berada di atap sekolah tadi, samar-samar jawaban yang ia inginkan mulai terpikir dalam otaknya

“Tidak semua orang bisa melihatku, mendengar ataupun merasakan kehadiranku. Kau orang istimewa yang Tuhan utus untukku, seperti itulah kurang lebih”

Kris masih terdiam. Sungguhnya ia ingin bertanya ataupun mendengarkan suara mocca lagi -jika saja matanya tidak mengantuk seperti saat ini, sehingga Kris memutuskan untuk tidur

 

♬•♬

“Mocca cepat kau lihat apa saja jawaban Suho dilembar jawabannya itu!” Kris berbisik lirih pada mocca yang terduduk di sampingnya -dikursi yang kebetulan kosong. Dan Mocca menggeleng, tidak menyetujui ucapan Kris

“Seharusnya tadi malam kau belajar bukannya pulang malam seperti itu!”

Kris mendesis “Sudahlah tidak usah banyak bicara, sekarang cepat kau pergi ke bangkuny,a sebentar lagi waktunya habis!”

Mocca menghela lalu melayang ke bangku Suho dengan raut setengah tidak ikhlas, dikejauhan Kris menunggu dengan raut cemas. Dan Sebuah ide terlintas di pikiran mocca, ia melihat jawaban Suho lalu memberikan kode pada Kris -yang tanpa berpikir panjang langsung menyalin di atas lembar miliknya ‘Kau harus diberi pelajaran Kris Wu’

Dan selang waktu berjalan, Kris berhasil menyelesaikan ujiannya dengan bantuan Mocca yang kini sedang terduduk diatas lemari tinggi disudut kelas setelah sebelumnya mendengar ucapan Kris yang membuatnya menahan tawa “Kali ini nilaiku pasti bagus dan kedua orang tuaku tidak akan meremehkanku lagi!”

Mocca yakin tentu saja jawaban Kris akan salah semua, dapat dipastikan Kris akan mendapat nilai buruk lagi. Mocca tidak ingin Kris terbiasa melakukan hal tak terpuji lagi, pria itu harus meninggalkan kebiasaan buruknya agar tidak menyesal seperti dirinya

 

♬•♬

Kris melempar ransel dengan tatapan marah bercampur sebal dan kecewa, ia melepas dasi dan melemparkan juga ke sembarang tempat “Kris Wu Ayah bosan melihat nilai O besar di kertas jawaban ulanganmu, mulai sekarang semua fasilitas yang kau punya akan Ayah cabut dan berusalah sendiri dari sekarang!”

Kris tentu saja kesal setengah mati, Ibunya juga tidak membela -terkesan menyetujui keputusan Sungwoon untuk menarik segala fasilitas Kris. Mocca melihat segala reaksi Kris dari atas lemari pakaiannya, bagaimana Kris melempar tas, dasi bahkan sekarang pakaian

“Aku tidak percaya denganmu lagi! kau pembohong, munafik, omong kosong dan aku tidak ingin melihat wajahmu lagi mulai saat ini. Pergilah!” Kris berkata setengah berteriak

Mocca belum bergeming hanya menatap Kris sendu “Maaf..Aku tidak berpikir sejauh ini, lagi pula ini juga kesalahanmu. Seharusnya kau belajar, bukan mengandalkan orang lain. Kau tahu? Semua hal tidak bisa dicapai dengan mudah tanpa usaha dan kerja keras-”

“Cukup!” Kris membentak dengan wajah memerah “Aku tidak peduli, masa bodoh dengan itu semua. Kalau kau tidak pergi aku yang akan pergi!”

Mocca mendesah “Arraseo aku yang akan pergi. Mianhae..” sesalnya lantas menghilang

Kris menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, ia memejamkan mata sejenak sembari memijat pelipis yang terasa pening. Bagaimana mungkin Sungwoon tega mencabut semua fasilitas Kris seperti kartu kredit, Audy X4 dan motor ninja yang biasanya ia bawa ke sekolah? Lalu setiap harinya Kris akan menerima uang saku harian yang cukup untuk makan disekolah dan biaya pulang pergi dengan bus.

Jika saja Kris tidak mempercayai arwah itu tentu nilainya tak akan seburuk ini -tapi Kris tidak bisa menyalahkan mocca juga karena ini juga kesalahannya. Kris terlalu malas membuka buku pelajaran, untuk meluangkan beberapa waktu demi belajar sebelum ulangan “Apa jika aku belajar nilaiku akan membaik dari sebelumnya? Aku bosan mendengar suara Ayah yang membuatku pusing dan aku semakin membenci Suho karena Ayah terus menyanjungnya, memangnya anak Ayah itu siapa? Aku atau Suho sih?” Kris geram, ia mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut tak beraturan

“Aku harus membuktikan kalau Ayah juga bisa memujiku!” Tekadnya

Mocca yang mendengar dari balik kelambu tersenyum senang ‘Kau pasti bisa melakukannya, Kris ‘

 

♬•♬

Bus melaju dalam kecepatan sedang setelah meninggalkan halte yang berdiri kokoh dibelakang sana. Kris melangkah dengan canggung, mengedarkan pandangan ke penjuru bus dan tersenyum kecil ketika mendapati bangku kosong di sudut belakang “Selamat pagi Kris Wu!”

Kris menoleh ke sumber suara namun begitu mengenali siapa yang menyapanya, ia kembali berpura-pura acuh

“Hey kau masih marah pada mocca?” Arwah itu berdiri di depannya sambil satu tangan bergelayut pada pegangan, seolah ia masih menjadi manusia yang membutuhkan pegangan agar tidak terjatuh. Kris masih terdiam dengan pandangan yang tertuju keluar jendela

“Arraseo kau masih marah, kau sangat kekanakan sekali Kris-ah. Aku bertaruh kau pasti akan merindukanku suatu hari nanti”

“Ya! Jangan mimpi” Kris berujar namun buru-buru ia merutuki sikapnya karena beberapa penghuni bus menatapnya aneh ‘berbicara sendiri seperti orang gila’

Mocca yang melihat itu hanya tertawa kecil “Kau benar Kris , itu memang mimpiku -bisa hidup lagi”

Kris kembali berusaha mengabaikan, walau sebenarnya Kris juga mendengar ucapan mocca ‘Apa benar tubuhnya terbaring? Apa gadis ini bisa hidup seperti dulu lagi?’

“Kris Wu kenapa kau diam saja? Kau harus turun di halte ini!” Suara Mocca menghamburkan lamunan singkatnya

Kris segera turun sambil berjalan kecil ke gerbang sekolah, beruntung juga karena letak halte dan sekolahnya berdekatan dan ia tidak perlu membuang energi terlalu banyak “Kris Wu! Kris~ah” teriak seorang siswi dari kejauhan sambil berlari lalu menepuk pundaknya

“Eoh Taerin~ah wae?”

Taerin mensejajarkan langkahnya dengan pria jangkung itu “Sepulang sekolah ada yang ingin ku katakan padamu!”

Kris terdiam menimang tawarannya, ia juga harus memutuskan segalanya sebelum masalah ini menjadi semakin pelik “Geurae ada yang ingin ku katakan juga!”

“Tapi..kulihat kau tidak membawa motormu hari ini?”

Kris tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya “Ne motorku sedang rusak”

“Cih pembohong bilang saja yang sejujurnya!” Celetuk mocca yang berdiri di sampingnya

Kris mendesis “Jangan ikut campur!”

“Apa aku salah bicara?” Taerin berkata dengan raut kebingungan

Kris -kembali- merutuki kebodohannya, melupakan kalau mocca seorang arwah- “Aniyo, baiklah nanti hubungi aku lagi selepas sekolah” tuturnya lalu berlari kecil meninggalkan Taerin yang masih nampak kebingungan

♬•♬

“Hey suho-si bagaimana kabar sahammu hari ini?” Chanyeol bertanya -sok formal- disela-sela mereka menunggu bel masuk. Suho sedang memainkan gadgetnya dengan serius

“Masih baik, sahamku baru saja naik 2% lima menit yang lalu”

“Woah daebak Suho~ya seharusnya kau sudah menanggalkan seragammu dan hidup kaya raya dengan saham-sahammu itu!” Kali ini Baekhyun menyahut dengan raut kagum karena kepiawaian suho dalam berbisnis saham di dunia maya pada usia yang baru menginjak tujuh belas tahun

“Apa lagi yang kurang darimu?” Baekhyun mengamati suho dari atas sampai bawa, meneliti dengan seksama “Kau tampan, kaya raya, pintar, juara kelas, pialamu sangat banyak, kau sudah menghasilkan penghasilan sendiri, kau memiliki kekasih yang populer dan apa lagi yang kurang darimu?”

Suho tertawa dengan malu-malu, menurutnya Baekhyun terlalu berlebihan -walau sebenarnya hal itu fakta- “Hay Kris~ah kebetulan sekali kau tidak terlambat hari ini?” Suho bertanya dengan ramah seperti biasanya

“Kelemahannya, suho lebih pendek dari tinggiku!” Kris mengabaikan sapaan suho dan menjawab sapaannya dengan celaan

Baekhyun dan Chanyeol menahan tawa sedangkan Suho berusaha menyembunyikan emosinya dibalik sikap tenangnya -seperti kebanyakan pria bergolongan darah AB-. Kris menyeringai acuh sambil memasuki kelas

“Kau tidak boleh seperti itu Kris ! Sikapmu keterlaluan sekali” mocca kembali berbicara

“Bukankah memang benar? Tinggi Suho hanya sebatas hidungku saja” Kris menyahut dengan santai

Mocca menggeleng “Jika kau tidak ingin diremehkan orang lain, berhentilah bersikap buruk pada orang lain. Kau hanya cemburu karena Suho memiliki sesuatu yang ingin kau dapatkan juga kan? Kalau kau ingin seperti dirinya, berusahalah untuk mendapatkan dengan kerja keras”

Kris mengatupkan rahangnya, ia marah tetapi perkataan mocca semuanya benar -Kris memang terlalu gengsi mengakui kesalahannya sendiri

 

♬•♬

Kepulan asap hangat frappucino dan caramel machiato mengepul di udara sekitar mereka. Suasana masih hening sejak kedua cangkir minuman itu tiba. Kris berdeham, memecah keheningan “Apa yang ingin kau katakan Taerin~ah?”

Gadis cantik berambut sebahu itu menatapnya sebentar sebelum kembali menunduk “Bukankah ada yang ingin kau sampaikan juga?”

“Kau duluan saja!”

Taerin menarik nafas sejenak “Aku ingin putus dengan Suho!” ucapnya to the point “Aku rasa aku tidak mencintainya lagi Kris, seperti yang pernah ku katakan padamu dulu -aku hanya mengingatkanmu..”

Dahi Kris mengernyit, begitupun mocca yang terduduk di samping Kris nampak penasaran dengan pembicaraan mereka selanjutnya. Sebenarnya Mocca merasakan sedikit ketidak relaan kalau-kalau Kris juga menyukainya, mengingat Mocca juga mengetahui sekelumit kisah mereka “Kau yakin dengan perasaan sekaligus keputusanmu Rin~ah?” Kris bertanya dengan hati-hati

Taerin mengangguk, memberanikan diri menatap Kris yang juga serius menatapnya. Dalam hati Kris tersenyum ‘Daebak! Suho sangat mencintai Taerin dan Taerin ternyata menyukaiku? Aku bisa saja membalas dendam pada Suho dengan mengambil Taerin darinya, pasti sangat menyenangkan lebih unggul dari Suho dengan membuat hatinya hancur!’

“Bagaimana dengan perasaanmu sendiri Kris ~ah?” Taerin bertanya.

Tiba-tiba saja perkataan mocca terngiang di pikirannya ‘Jika kau tidak ingin diremehkan orang lain, berhentilah bersikap buruk pada orang lain. Kau hanya cemburu karena Suho memiliki sesuatu yang ingin kau dapatkan juga kan? Kalau kau ingin seperti dirinya, berusahalah untuk mendapatkan dengan kerja keras’

“Kris kumohon jujurlah pada dirimu sendiri, kau harus berkata yang sebenarnya pada hatimu” kali ini mocca angkat bicara

Kris menoleh padanya, mocca hanya mengangguk “Hidup dalam kebohongan akan membuatmu terperangkap ke dalamnya” lanjutnya

Sekali lagi hati kecil Kris membenarkan kalimat mocca, ia tidak bisa membalas sesuatu dengan cara tidak etis seperti ini “Taerin~ah aku minta maaf. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu -aku hanya menganggapmu sebagai teman dan aku menghormati Suho sebagai temanku juga. Jika kau memang tidak menyukai Suho seharusnya kau tidak perlu berpura-pura seperti ini, sesuatu yang sebenarnya menyiksa dirimu sendiri. Kecuali jika kau membuka hati pada temanku yang sempurna itu, aku sangat yakin kau akan lebih bahagia dengannya. Sekali lagi aku minta maaf” Kris menyesap frappucinonya sebelum meninggalkan Taerin yang masih terdiam dengan raut terkejut

“Kau berkata dengan benar Kris, aku senang kau bisa jujur dengan dirimu sendiri!” Mocca memekik gembira -hari ini Kris naik satu tingkat lebih baik dari pada hari itu.

Kris hanya menaikkam bahunya acuh tak acuh, jujur saja perkataan Taerin masih menggema dalam hatinya ‘-aku hanya mencintaimu’

Kris sendiri tidak memiliki perasaan apapun pada Taerin seperti yang telah ia utarakan sebelumnya, mereka bertiga -Suho, Taerin dan Kris- sudah berteman sejak lama dan sebenci apapun Kris kepada Suho karena pria itu memiliki semuanya -Kris berjanji tidak akan membiarkan persahabatannya hancur karena masalah ini.

“Kris ~ah kau masih marah padaku? Aku minta maaf..aku benar-benar minta maaf”

Kris menoleh sambil mengangguk “Gwenchanayo..”

“Kau tidak marah padaku lagi?”

“Aku akan mempertimbangkan hal itu” Kris menahan tawa namun ia melihat dengan tatapan jenaka

Mocca mendesis seraya memukuli bahu Kris membabi buta “Ah aku lupa kalau tidak bisa menyentuhmu”

“Kau ingin menyentuhku?”

Gadis itu menatap soket hitam Kris seraya tersenyum tulus “Ya..suatu hari nanti kalau Tuhan masih mengizinkanku hidup” lirihnya

Terbersit perasaan sedih pada hati Kris kalau-kalau gadis aneh ini tidak sempat ia lihat kembali dalam wujud nyata, bagaimana jika Mocca pergi sebelum Kris bertemu dengannya lagi dalam bentuk manusia seutuhnya? Perasaan takut kehilangan datang perlahan walau Kris berusaha mengabaikan kehadirannya.

Karena Ketika kau mengabaikan sesuatu, hal yang kau abaikan akan semakin menjadi pusat perhatianmu, sadar atau tidak.

Bus yang Kris tumpangi berhenti di halte terdekat menuju rumah Kris, pria itu melangkah ringan menyusuri jalanan malam hari ditemani semilir angin dingin yang terasa menyejukkan

“Sejujurnya aku melupakan namaku sendiri..”

Kris menunggu penuturan mocca selanjutnya “Tahu-tahu aku sudah melihat tubuhku tergeletak di jalanan kosong, aku ingin menangis kalau membayangkan hal itu -saat tubuhku mengalirkan darah yang membuat jalanan aspal hitam itu menjadi merah, aku mencoba memasuki tubuhku sendiri tetapi tidak bisa -seperti ada sesuatu yang menghalangiku. Aku tidak mengerti mengapa melupakan namaku sendiri, tetapi aku masih mengingat sebagian kecil ingatan sebelum aku keluar dari tubuhku sendiri. Rasanya sangat menakutkan melihat tubuhku sendiri tergeletak seperti itu”

“Kau mengalami kecelakaan?”

Mocca terdiam beberapa saat, memberi jeda sebelum melanjutkan “Sepertinya begitu. Malam itu aku kabur dari rumah karena Ayah kembali memukul ibuku -kedua orang tuaku selalu bertengkar, Ayahku seorang penjudi, dia selalu merampas uang kami bahkan uang yang sengaja aku dan ibu tabung untuk membiayai pendidikan adikku. Aku tidak mempermasalahkan jika aku tidak sekolah lagi tetapi hal itu tidak boleh terjadi pada Saera adikku, dia harus mendapatkan pendidikan yang tinggi serta menjadi orang yang berhasil suatu hari nanti..”

Mocca menghela pelan -dadanya terasa sesak tiap kali mengingat bagaimana kerasnya ia menjalani kehidupan, bagaimana kepingan masa lalu itu kembali hadir merusak hatinya “Saat itu aku baru saja dipecat dari sebuah department store karena dituduh mencuri dompet seorang ibu -sumpah demi Tuhan aku tidak melakukan itu, justru aku yang menemukan dompet itu tergeletak di sudut tempat sampah, temanku memfitnah dengan mengatakan aku pencurinya. Perasaanku hancur saat Ahjusshi memecatku dan aku semakin hancur saat melihat ibuku jadi sasaran kekesalan Ayahku lagi, aku tidak tahu ingin kemana karena aku terus berlari sambil menangis malam itu. Semua terjadi begitu cepat saat tubuhku terhempas begitu keras, tahu-tahu aku sudah seperti ini..yah begitulah hehehe”

Sepanjang jalan bahkan hingga sampai di dalam kamar Kris, cerita itu baru selesai, pria itu bersandar di atas ranjang memandangi gadis bersurai panjang yang berdiri menatap langit malam dari balik kaca besar yang menampilkan pemandangan langit malam. Kris mengerti mengapa Mocca pernah menanyakan apakah dirinya tidak menikmati hidup, gadis inipun bahkan memiliki kisah yang lebih menyakitkan dari Kris , lalu mengapa Kris tidak bersyukur dengan segala hal yang ia miliki?

Kris mengenyam pendidikan di sekolah ternama tanpa harus memikirkan biaya yang mahal, ia memiliki kedua orang tua yang rukun namun karena sikap berandalnya mereka jadi sering bertengkar, Kris tidak pernah kesulitan dalam hal financial. Semua kebutuhan terpenuhi bahkan Kris mendapatkan lebih, lalu apa yang membuatnya melakukan hal-hal yang sebenarnya sebuah kesia-siaan? Mengapa Kris tidak bersyukur dengan nikmat Tuhan yang diberikan lebih untuknya? Dibandingkan dengan kehidupan mocca yang serba menderita?

“Aku menyesal Kris ~ah..aku sangat menyesal..”

Raut Kris berubah sendu tatkala ia menghampiri gadis yang masih setia menikmati langit malam dengan raut sedih “Apa kau ingin melanjutkan hidupmu?” Kris bertanya “Walau hidupmu menderita seperti itu?” tambahnya

Mocca mengangguk “Kalau aku pergi, bagaimana dengan ibu dan Saera? Aku berjanji akan bekerja lebih keras lagi, aku tidak ingin membuat mereka bersedih lebih lama lagi, aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku lagi. Aku ingin hidup bahagia seperti orang lain, bahagia dalam hal sederhana seperti melihat senyum kebahagiaan mereka dari kedua mataku sendiri”

Kris semakin menyesal, mungkin ia sedang larut dalam penyesalan mendalam karena pernah terbersit dalam pikirannya membenci kehidupan, membenci orang-orang yang datang dalam kehidupannya dan membenci semua hal yang terjadi yang bahkan karena kesalahannya sendiri -Jika saja Kris memiliki keinginan untuk berusaha.

Rasanya Kris begitu ingin memeluk gadis yang diketahui tengah menangis dibalik rambut panjang yang menutupi sebagian lekuk wajahnya, Kris tidak tahu mengapa ia bisa seperti ini -tetapi saat ini Kris seolah turut merasakan kesedihan sekaligus kepahitan tiap kali mendengar suara Mocca yang menyayat pilu

“Kris~ah kalau aku pergi, tolong sampaikan salamku untuk kedua orang tuaku” ujarnya dengan suara bergetar hingga sebuah titik air mata lolos dari kedua soket hitamnya tatkala menghadap Kris “Katakan pada mereka jika aku sangat mencintai mereka, aku ingin melihat mereka bahagia suatu hari nanti kalau-kalau aku tidak bersama mereka lagi…”

“Kenapa kau jadi putus asa seperti ini? Kau bilang kau menyesal, kau bilang kau ingin hidup lagi. Tapi apa? Kau sudah menyerah? Kau sudah lelah hidup seperti ini?” Suara Kris meninggi terdengar seperti bentakan

“Aku hanya… tidak ingin berharap terlalu banyak, aku merasa lelah setiap harinya Kris. Kalau aku terlalu berambisi akan hidup namun kenyataan berkata tidak, itu sama saja sia-sia bukan?”

Rahang Kris mengeras disusul kedua soketnya memerah -ia tidak tahu mengapa ingin menangis dan menjadi begitu melankolis malam ini tiap kali mendengar, melihat, merasakan kehadiran Mocca. Kris menjadi begitu emosional saat ia bahkan tak bisa melakukan satu halpun demi membantu Mocca.

Tangan gadis itu terulur ke atas, berusaha menyentuh wajah tegas Kris yang tengah menatapnya dalam. Mengabaikan kenyataan jika Mocca tak akan pernah merasakan kelembutan wajah milik Kris yang membuatnya merindu, sebelum akhirnya bayangan itu lenyap dari pandangan Kris. Menyisakan perasaan kebingungan, kehilangan, ketidak relaan serta sebaris kalimat yang ingin sekali Kris ucapkan sebelum Mocca pergi begitu saja seperti malam ini “Saranghae”

 

♬•♬

Semenjak hari itu Kris tidak pernah bertemu mocca kembali baik di atap sekolah, di rumah dan disegala penjuru tempat yang Kris lewati. Dia seolah hilang ditelan bumi, kehadirannya menghilang tanpa jejak.

Kris merasakan sesuatu yang kurang walaupun ia berusaha menepis perasaan hampa itu dengan mencoba belajar ataupun sekedar membaca buku karena ulangan semester telah tiba -saat paling tepat untuk membuktikan kepada kedua orang tuanya kalau Kris mampu mendapatkan nilai diatas rata-rata.

Hubungan Kris dengan Taerin juga tetap membaik pasca pertemuan mereka beberapa waktu lalu, Taerin juga telah mengatakan semuanya kepada Suho -pria itu terkejut namun ia tetap berusaha mempertahankan hubungan mereka agar tidak berakhir begitu saja.

Sabtu pagi ini adalah hari terakhir pekan ulangan semester ditutup dengan mata pelajaran Biologi di jam terakhir. Kris tersenyum kecil menatap deretan soal dilembar kertas sambil memulai mengerjakan soal-soal tersebut

“Hey kau terlihat percaya diri sekali hari ini”

Kris menoleh tatkala mendengar suara familyar hingga raut tenangnya berubah terkejut “Mocca?” Ucapnya sambil berbisik, tidak mungkin bukan jika Kris memekik gembira apalagi sampai berteriak -walau sempat terlintas dalam pikirannya melakukan demikian.

Gadis dalam wujud bayangan itu mengangguk sembari tersenyum riang “Kau sedang ulangan, cepat kerjakan sebelum waktunya habis!”

“Kau akan tetap disini?” Kris tidak bisa lagi menyembunyikan raut senangnya saat gadis itu mengangguk sambil terduduk di sampingnya “Aku akan melihat hasil pekerjaanmu, kau harus mendapat nilai terbaik!”

Kris kembali pada pekerjaannya namun kali ini ia seolah mendapat semangat berlebih entah dari mana. Yah, Kris yakin ia akan mendapat nilai terbaik dan membanggakan orang tuanya kelak.

 

♬•♬

“Selama ini aku mencari dimana tubuhku berada..”

Kris menyesap coffe-nya, mereka tengah berjalan dari halte terdekat menuju sebuah rumah sakit di pusat kota “Apa tubuhmu baik-baik saja?”

“Sepertinya Baik –entahlah. Hanya saja aku yang merasa semakin lemah”

Mereka melewati receptionis rumah sakit, memasuki lift “Mengapa bisa begitu?”

Mocca menaikkan bahunya “Mungkin saja karena aku terlalu lama terpisah dari tubuhku, entahlah aku jadi merasa takut..”

Kris terdiam tetapi ia berusaha menyentuh bahu bayangan Mocca “Aku percaya kau gadis yang kuat..”

Mocca mengerjap dengan raut haru, ia ingin sekali menangis tetapi tidak bisa, hanya mampu terdiam. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor yang sedikit lengang hingga berhenti di sebuah ruang inap bernomor 106 “Kau akan ikut masuk?”

Kris menggeleng “Aku akan menunggu disini…”

“Gomawo Kris ~ah, terima kasih karena sudah mengantarku hingga kemari..” Mocca mencoba memeluk tubuh Kris walau nyatanya ia tidak akan mampu merasakan kehangatan darinya -sebesar apapun harapan akan keinginan itu. Sedang Kris hanya terdiam walau ia ingin membalas pelukan gadis itu, entah mengapa terbersit perasaan sedih saat Mocca meninggalkannya menuju ke dalam, tatapan mata Kris berubah pias.

Kris berniad duduk sejenak di depan ruang rawat gadis itu namun ia mengurungkan keinginan itu tatkala mendengar jerit tangis dari dalam ruangan mocca. Tangisan yang sarat akan kesedihan bercapur kehilangan yang tidak mampu Kris abaikan

“Jangan meninggalkan kami Lee Jiyeon, eomma tidak sanggup hidup tanpamu!”

“Jadi gadis itu bernama Lee Jiyeon? T-tunggu apa maksud perkataan suara ahjummah itu? Mocca benar-benar telah pergi? Ia sungguh pergi meninggalkan dunia ini?”

“Eonni jangan tinggalkan Saera sendirian, Eonni harus tetap hidup hiks hiks..eonni dulu kau berjanji akan membuatkanku kue tart rasa mocca, rasa kesukaanmu dihari ulang tahunku. Kau melupakan itu huh?”

Kaki-kaki Kris semakin lemas tak mampu menopang tubuhnya tatkala mendengar suara bergetar mereka. Kris mengepalkan kedua tangannya, menahan gejolak bergemuruh yang menimbulkan kesesakan. Kemana perginya udara bercampur oksigen? Mengapa begitu sesak hingga Kris tak mampu menghirup apapun demi melapangkan paru-paru yang seolah terhimpit ditimpa beban?

“Tuhan mengapa semua ini terjadi?”

Kris berlari-lari kecil meninggalkan rumah sakit dengan perasaan hati yang hancur dan ia yakin jika sesuatu di dalam dadanya bagaikan puing poranda “Mocca kau belum mendengarkan pernyataan cintaku tetapi kau sudah pergi? Mengapa Kau pergi disaat kau baru saja datang. Mengapa kau senang sekali membuatku berpikir berlebihan seperti ini, mengapa?”

Semilir angin dingin menyambut langkah Kris yang berjalan gontai di trotoar lengang sore itu. Mocca atau Jiyeon tidak mendapat kesempatan hidup keduanya lagi. Ia pergi disaat matahari hampir terbenam

 

ㆁEpilogㆁ

Semilir angin lembut musim semi menerbangkan rambut hitam Kris yang nampak berantakan dibawa angin. Seperti hari-hari yang selalu berjalan tanpa henti ia kembali kemari, tempat dimana ia dapat membiarkan sepasang kakinya seolah melayang diantara udara kosong, tempat dimana ia dapat merasakan berbagai perasaan sedih, senang, menangis sekaligus tertawa tanpa orang lain tahu karena cukup langit diatas sana yang menjadi saksi bisu.

‘Seorang pria bukan berarti tidak pernah menangis, aku meyakini hal itu. Seorang pria akan menangis jika seseorang yang berarti dalam hidupnya bersedih, sakit atau meninggalkannya disaat ia sangat mencintai pasangannya itu. Jadi kau boleh menangis karena salah satu dari alasan itu Kris ~ah’

Kris memejamkan mata menikmati musik dari ipodnya, terdiam membisu. Bagi Kris, ia kesulitan memberi konklusi apakah kisahnya berakhir dengan bahagia ataupun sebaliknya karena jujur saja ia merasakan dua hal itu sekaligus dalam waktu bersamaan.

Namun dari segala hal yang telah terlewati silih berganti, Kris mencoba mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan padanya. Setiap orang yang datang dan pergi di kehidupan adalah anugerah untuknya dan ia harus mensyukuri hal itu.

“Kris ! Ya Kris Wu!”

Kris menoleh ke sumber suara, tersenyum sebentar sebelum berjalan meninggalkan atap “Jangan melupakan ulangan fisika sesaat lagi! Tunjukkan bahwa kau akan mendapat nilai terbaik lagi dan bravo! Nilai Seratus hahaha..”

“Ya! Park Chanyeol kau berlebihan sekali, traktir aku makan hari ini arraseo? hahahaha”

 

‘Saat kau membuat sesuatu dari campuran kopi dan coklat, kau akan menemukan rasa baru bernama Mocca. Sekuat dan sebesar apapun kau menyukai Mocca, kau tidak bisa menikmatinya berlebihan, kau tidak boleh menggunakannya terlalu banyak karena kau hanya akan merasakan kepahitan. Kau tidak akan merasakan kenikmatan dari Mocca itu sendiri, jadi bila kau takut menakarnya terlalu banyak. Cukup nikmati saja aroma keberadaannya, aku menjamin kau seolah merasakan mocca yang sebenarnya’ ~Paradisa Cardova

 

Ps: Semoga terhibur dan harap tinggalkan jejak berupa like dan komentar ya readers yang baik:)

Annyeong~

 

 

One thought on “Mocca

  1. kris dapat pencerahannya lewat mocca.. dia berubah dan bangkit menjadi yang lebih baik.. tapi sayang.. mocca malah gk kembali hidup..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s