All-Mate911(Chapter 3)

img_2363

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

Note : Ini dia chapter 3😄 ehem. Masih pendek dan gajelas, oke, dan agak bikin geli(?) tapi biarlah lol. Selamat membaca! Kritik dan saran juseyong :3

(dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

-setiap manusia punya dua wajah (dalam kasus Ryu Sena, ini berarti harfiah)-

 

 

“Yang kemarin kulihat itu benar kau, kan?” tanya Chanyeol.

Sena melihat sekitar, barangkali memastikan tidak ada yang mendengarkan. Mereka hanya berdua di jalan kecil itu. Sena sengaja menunggu lebih lama di sekolah sampai semua orang pulang, dan Chanyeol sengaja mengikuti Sena. “Kalau benar, lalu kenapa?” balasnya.

“Jadi, kau berbohong pada teman-temanmu” Chanyeol bersedekap. “Ayahmu pilot, ibumu pekerja sosial, rumahmu besar, bla bla bla. Semua itu bohong.”

Sena balas menatapnya lurus, tapi Chanyeol tahu gadis itu gugup. Kedua bola matanya bergetar dan ia menggigiti bibir bawahnya diam-diam. “Ya, aku berbohong. Apa urusannya itu denganmu?”

“Tidak ada. Kecuali kalau aku memberitahu semua orang yang sebenarnya.”

Singkat dan tepat sasaran. Wajah Sena langsung pucat. Tapi ia dengan cepat mengendalikan ekspresinya. “Kau hanya menggertak.”

“Tidak juga.”

Sena memindahkan berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki lainnya. “Apa yang kauinginkan, Pecundang?” tanyanya dengan rahang terkatup rapat.

Chanyeol menyodorkan buku tulisnya pada Sena. “Tugas karangan bahasa Inggris untuk besok. Kau sudah menyelesaikannya, kan? Pasti sudah. Kau pelajar unggulan. Nah, kau bisa membantuku menyelesaikan milikku.”

Sena menerima buku tulis itu dengan enggan. “Jika sampai ada yang tahu, aku akan membunuhmu.”

“Tidak akan ada yang tahu.” Chanyeol tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Sena. Ada kepuasan tersendiri membuat gadis paling pintar dan sok di sekolah mendadak tidak berdaya. “Sampai besok. Pastikan kau mengerjakannya dengan baik.”

Chanyeol tidak berharap gadis itu benar-benar menurutinya, tapi ternyata Sena lebih lemah daripada yang ia kira. Pintar dan lemah. Dua hal itu tidak bisa dikombinasikan. Karena kemudian Chanyeol membiasakan diri untuk memanfaatkannya.

 

***

 

“Wah, ini rekor baru. Kau tidak muncul di kelab selama dua minggu dan tiga hari,” kata Baekhyun begitu Chanyeol duduk di kursi tinggi bar. “Kurasa itu berarti tidak banyak yang kau pikirkan.”

“Wiski,” pesan Chanyeol. “Dan, sebenarnya justru sangat banyak, jadi aku tidak punya waktu duduk di sini dan mendengarmu merepet seperti knalpot rusak.”

Baekhyun melempar serbet yang digunakannya untuk mengelap gelas-gelas ke wajah Chanyeol dengan kecepatan luar biasa, yang syukurnya ditangkap tepat waktu.

“Aku akan melaporkanmu pada bosmu,” dumal Chanyeol.

Baekhyun hanya mengangguk-angguk dengan seulas senyum seolah berkata, “Teruskan, Nak, teruskan.

Chanyeol menerima wiskinya dan menenggaknya habis, kemudian memesan yang kedua. Sambil menuangkan wiskinya, Baekhyun bertanya sambil lalu, “Ada apa dengan gadis itu?”

Chanyeol membeku. Selama sesaat yang menakutkan ia bertanya-tanya apakah itu hanya tebakan beruntung atau Baekhyun bisa membaca pikiran orang. “Bagaimana kau bisa tahu?” ia balas bertanya.

Baekhyun tersenyum seolah-olah baru saja memenangkan lotere. “Aku hanya asal bicara. Tapi ternyata kau memang sedang memikirkan seorang gadis.”

Chanyeol mendengus. Sial.

Syukurnya Baekhyun meninggalkannya sebentar karena ada pesanan dari tamu lain. Chanyeol menopang dagu dengan tangan kiri bertumpu pada meja bar sementara jari telunjuk kanannya menelusuri bibir gelas. Ia memang memikirkan seseorang, tapi bukan seperti yang Baekhyun duga. Ia hanya ingin tahu apakah ada cara instan untuk membuat Ryu Sena menyukainya. Setidaknya, tidak membencinya lagi.

“Siapa Ryu Sena?”

Chanyeol mengangkat kepala. Sepertinya ia tanpa sadar telah menyuarakan pikirannya. “Bukan apa-apa.”

“Kenapa dia membencimu?” Baekhyun tidak bisa dialihkan. Jika ia ingin tahu sesuatu, ia akan mengejarnya sampai dapat. Baekhyun bisa saja mengikuti Chanyeol ke apartemennya sampai ia menjawab.

“Karena sesuatu yang terjadi di masa lalu.”

“Oooh, cinta lama.”

“Cinta apanya,” gerutu Chanyeol. “Dia membenciku dengan sepenuh hati. Well, aku juga tidak bisa dibilang menyukainya. Tapi itu dulu. Sekarang kami bertemu lagi dan kurasa aku menyukainya. Bukan menyukainya seperti seorang perempuan. Maksudku, aku ingin berteman dengannya.”

“Tunggu, tunggu.” Baekhyun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Kita mulai dari hal sederhana dulu. Kenapa dia membencimu?”

Chanyeol menghabiskan wiskinya dalam sekali tenggak, lalu menjawab, “Karena dulu aku bodoh, jahat, dan egois.”

Baekhyun bersedekap dan menelengkan kepalanya sedikit seraya menatap Chanyeol dengan pandangan menilai. “Menurutku kau tidak jahat. Sedikit egois, mungkin. Bodoh, itu sudah jelas.”

“Terima kasih,” balas Chanyeol sebal.

“Sama-sama,” Baekhyun membalas riang. “Dan untuk masalahmu, itu mudah. Apa yang terjadi di antara kalian adalah masa lalu, kan? Kalau kau ingin dia menyukaimu sekarang, tunjukkan padanya kalau kau bukan si bodoh, jahat, dan egois itu lagi. Tunjukkan padanya kalau kau sudah dewasa dan berubah menjadi orang yang lebih baik. Kalau dia tetap tidak menyukaimu juga, well, ajak dia ke sini dan aku bisa membantumu membuatnya santai dengan sedikit alkohol. Dan kurasa aku tidak perlu memberitahumu apa yang perlu kaulakukan selanjutnya.”

Chanyeol mempertimbangkan saran Baekhyun. Bukan soal minuman itu (yang benar saja), tapi yang sebelumnya. Sena membenci dirinya yang dulu, jadi jika Chanyeol bisa menunjukkan bahwa sekarang ia sudah berubah… Sena mungkin akan memaafkannya.

“Omong-omong,” suara nyaring Baekhyun menyela pikirannya sekali lagi, “kau sudah melihat-lihat? All-Mate911?”

Chanyeol melongo. “Apa?”

“All-Mate911,” ulang Baekhyun seraya memutar bola matanya. “Kau mendadak tuli atau apa?”

“Itu, eh, belum,” Chanyeol menjawab sesantai mungkin dan berdeham salah tingkah. “Belum. Tidak ada waktu.”

Baekhyun menyipitkan kedua matanya yang dirias tebal dengan curiga. Chanyeol khawatir laki-laki itu, selain bisa mengendus isi pikirannya, juga bisa mengendus kebohongannya.

 

***

 

Sena memikirkan Chanyeol berhari-hari. Bukan, bukan memikirkannya seperti itu, melainkan memikirkannya karena khawatir laki-laki itu benar-benar akan menelepon lagi dan Sena tidak bisa menghindarinya karena ini tuntutan pekerjaannya. Setelah beberapa hari berlalu dalam ketenangan (belum ada panggilan lain lagi dan sejak Jimin dan Luhan benar-benar berbaikan, Sena tidak melihat batang hidungnya sama sekali. Benar-benar sahabat sejati), Sena mulai bisa bernapas lega. Sedikit.

Lalu Chanyeol memilih saat yang tepat di mana pertahanannya sedang lemah untuk meneleponnya lagi. Suara beratnya mengumumkan dengan riang, “Tebak apa? Hari ini aku libur.”

Sena menahan segala umpatan yang ada di ujung lidahnya. “Dan kenapa… kau menelepon… aku?”

“Aku sedang berpikir ingin jalan-jalan. Sudah lama sekali aku tidak melihat-lihat daerah Hongdae.”

Tarik napas, buang perlahan. Tarik  napas, buang perlahan. Pikiran-pikiran tenang. Hidup ini hanya sementara, jangan habiskan dengan marah-marah. “Kenapa kau tidak… pergi sendiri saja?” tanya Sena. Dan mungkin kau bisa tersesat, tidak tahu jalan pulang, lalu mati kelaparan atau ditabrak truk.

“Apa serunya? Lagipula, aku tahu seseorang yang mau sukarela menghabiskan waktu bersamaku dengan sedikit bayaran.”

Akhirnya Sena menyetujui (tidak ada pilihan lain) dan menyeret kakinya berangkat ke Hongdae. Mereka berencana bertemu di depan sebuah kedai bubble tea jam sebelas siang. Sena sengaja tiba jam sebelas lewat sepuluh menit, tapi si Park Idiot itu ternyata baru muncul lima menit setelah ia datang.

Sena biasa memerhatikan penampilan pelanggannya. Dan Chanyeol memakai pakaian kasual hari ini, celana jins hitam yang robek-robek di lutut, kaus berwarna senada bergambar logo band—mungkin, Sena tidak bisa memastikan karena ia tidak mau memerhatikan Chanyeol terlalu lama—dan jaket berbahan kulit. Rambutnya tidak ditata dan jatuh ke dahi. Secara keseluruhan, lumayan. Kecuali Sena membencinya dan penampilan yang bagus itu justru membuatnya lebih benci lagi.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Sena.

Alih-alih menjawab pertanyaannya, Chanyeol berkata seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengah kanannya, “Sepanjang hari ini, aku ingin kau melakukan dua hal. Pertama, jangan menatapku seolah-olah aku punya penyakit kelamin yang menular.”

“Aku tidak pernah menatapmu begitu,” bantah Sena. Yah, tidak persis seperti itu. Baginya Chanyeol adalah penyakit menularnya, bukan orangnya.

Chanyeol mengabaikannya. “Kedua, ayo lupakan apa yang pernah terjadi untuk saat ini saja dan bersikaplah seolah-olah kita teman. Itu hal yang paling bisa kau lakukan, kan? Berpura-pura. Aku akan membayarmu dua kali lipat kalau kau bisa melakukan keduanya dengan baik.”

Sena membuka mulut untuk membantah itu juga, tapi Chanyeol berbalik kanan dan meninggalkannya di belakang, tidak memberinya kesempatan bicara. Sena menelan bulat-bulat protesnya dan mengikuti Chanyeol dengan enggan.

Mereka berhenti di toko topi dan Chanyeol langsung mencoba beberapa di kepalanya dengan wajah riang. Sena mendadak terpikir sesuatu sambil menungguinya.

“Apakah kau punya teman?” tanya Sena. “Yang manusia, bukan khayalan atau virtual.”

“Ya,” jawab Chanyeol singkat. Ia menoleh dari cermin pada Sena. Di kepalanya ada topi berpenutup telinga berbentuk boneka serigala. “Apakah ini cocok untukku?”

“Ya, jika umurmu lima tahun,” jawab Sena tanpa repot-repot memerhatikan. “Kalau kau punya teman, kenapa kau membutuhkan layanan All-Mate?”

“Oh, ayolah. Lihat yang benar,” protes Chanyeol. “Bukankah fashion adalah salah satu hal favoritmu?”

Sena memaksakan diri melihat. Baiklah, harus ia akui topi itu cocok untuk Chanyeol. Membuatnya tampak lebih manis, meskipun Sena tidak yakin ada laki-laki dewasa yang ingin terlihat manis. Tapi karena Chanyeol adalah si Park Idiot, mungkin ia tidak keberatan terlihat begitu. Bisa saja ia memang mengira dirinya manis. Hoek.

“Terserahlah,” akhirnya Sena menjawab. “Yang penting benda sialan itu nyaman dan kau menyukainya.”

“Bagus.” Chanyeol menyengir dan kembali mengecek wajahnya di cermin. Sena mengira Chanyeol akan mencium bayangannya di cermin, melihat betapa ia mengagumi dirinya sendiri di sana.

“Dan kenapa aku memakai All-Mate,” kata Chanyeol sambil merapikan anak rambut di dahinya, “karena aku lebih suka hubungan yang tidak terikat. Aku hanya perlu menelepon untuk mendapatkan seorang teman, lalu membayarnya, dan aku bebas meneleponnya jika ingin bertemu lagi. Tidak ada beban atau tanggung jawab. Aku tidak perlu mempertahankan apa pun atau menjaga perasaan siapa pun.”

Alis Sena terangkat. Mereka punya pikiran yang persis sama tentang hal ini. Tapi, tentu saja Sena tidak akan mengakuinya. Ia tidak sudi menyamakan diri dengan Chanyeol.

Chanyeol berbalik dari cermin, menyambar satu topi boneka dari rak dan memakaikannya ke kepala Sena sebelum ia sempat bereaksi. “Cocok sekali untukmu.”

“Apa-apaan—” Sena mengangkat tangan untuk melepaskannya, tapi Chanyeol menahannya di sana dengan dua tangan dan tertawa.

“Lihat dulu. Benar-benar cocok.” Chanyeol menariknya ke depan cermin dan Sena melihat dirinya dengan topi kucing biru di atas kepalanya. Pipi Sena tampak lebih menggembung dengan topi itu. Belum lagi, itu kucing biru. Sena benci kucing.

Chanyeol terbahak-bahak. “Jangan lepaskan. Aku akan membelikannya untukmu.”

Sena hampir akan melemparkan topi itu ke wajah Chanyeol dengan kekuatan penuh, tapi ia mengingatkan diri; pura-pura menjadi teman. Tidak apa-apa. Sena bisa membuang topi sialan itu begitu pulang nanti.

 

***

 

Mereka, dua orang dewasa yang aneh dengan topi imut di atas kepala, berjalan menyusuri Hongdae yang ramai. Bermacam-macam aroma masakan menguar dari restoran-restoran yang terletak rapat satu sama lain. Menjelang Tahun Baru Lunar, hiasan bernuansa merah dan semarak digantung di sana-sini. Chanyeol membeli dua cone es krim dan mereka berjalan sambil menghabiskannya.

“Ceritakan padaku tentang pekerjaanmu,” kata Chanyeol.

“Kau sudah tahu.”

“Tidak semuanya. Aku ingin mendengarnya darimu.”

Sena memutar bola matanya tidak sabar. “Untuk apa?”

“Karena itu yang dilakukan teman, Ryu Sena. Mengenal satu sama lain.”

Sena bergidik ketika Chanyeol mengatakannya, tapi gadis itu tidak mendebat, jadi ia menganggap itu tanda persetujuan dan mulai bertanya, “Sudah berapa lama kau bekerja untuk All-Mate?”

“Sekitar satu tahun.”

“Bagaimana kau bisa bekerja untuk All-Mate?”

Sena menjilat sisa es krim dari pinggir bibirnya sebelum menjawab lancar, “Aku sedang mencari lowongan pekerjaan di internet dan tidak menemukan satu pun yang cocok untukku. Lalu aku mengetik di kolom pencari dengan kesal ‘aku tidak punya pekerjaan tidak punya teman tidak punya kehidupan tolong aku’, lalu aku tidak sengaja menemukan halaman soal All-Mate911. Mereka sedang membuka lowongan untuk penyedia layanan. Jadi aku mendaftar dan diterima.”

“Wah,” gumam Chanyeol. “So, it’s All-Fate.”

Sena menatapnya dengan tampang datar seolah berkata kau-ini-bicara-apa.

Chanyeol berdeham dan membiarkan lelucon garingnya berlalu. “Permintaan paling aneh apa yang pernah kau terima?” tanyanya.

Sena memiringkan kepalanya sedikit ke kiri seraya mengingat-ingat. “Satu kali, seorang bibi umur empat puluhan meneleponku untuk menemaninya menangis karena kucingnya mati. Benar-benar membuat frustasi. Aku harus ikut menangis sesedih mungkin bersamanya padahal aku tidak kenapa-kenapa.”

Chanyeol tertawa. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa situasinya. Ia tahu Sena tidak terlalu menyukai kucing, dan ia yakin Sena lebih suka berpesta kalau tahu ada kucing yang mati. “Apa yang kau lakukan sebelum All-Mate?”

Mendadak raut wajah Sena berubah, seakan-akan ada kilasan buruk muncul tiba-tiba. Ia berdeham dan membalas datar, “Hal-hal sebelum All-Mate bukan urusanmu.”

Air muka Sena begitu aneh sampai-sampai Chanyeol tidak ingin mendesaknya. Sebagai gantinya, dia menanyakan hal lain, “Apa saja yang bisa penyedia layanan lakukan?”

“Aku sudah memberitahumu,” jawab Sena. Ia berusaha kembali bersikap santai. “Kami menemani yang ingin ditemani, mendengarkan yang ingin didengarkan. Apa saja.”

“Apa saja?”

“Ya, apa saja.” Sena menoleh padanya, dan mungkin ekspresi Chanyeol menampakkan sesuatu yang aneh, karena gadis itu tahu-tahu berdecak. “Bukan apa saja seperti itu,” tambahnya galak. “All-Mate disediakan hanya untuk memenuhi kebutuhan bersosialisasi.”

“Seks juga kebutuhan.”

Sena berhenti berjalan dan menatapnya seakan mau memukulnya. Chanyeol seketika menyumpahi mulutnya sendiri. Kenapa ia mengatakan hal itu?

Tapi Sena ternyata tidak memukulnya, hanya menghela napas dan kembali berjalan. “Kau bisa memenuhi kebutuhan itu sendiri,” katanya datar. “Maksudku, kau kan punya tangan. Dan aku tidak percaya kau tidak pernah pergi ke toko peralatan dewasa.”

Chanyeol tidak bisa menahan tawa. “Kau berbicara seperti seorang pro.”

Sena kembali berhenti berjalan. Ups. Salah bicara lagi. Chanyeol mendahului Sena di depannya sebelum gadis itu sempat memukulnya sungguhan.

Setelah beberapa langkah, mereka kembali sejajar, dan Chanyeol bertanya lagi, “Seandainya—hanya seandainya, oke, jangan menatapku begitu—seseorang meneleponmu untuk tidur dengannya, apa yang akan kau lakukan?”

Sena sedang menelan sisa es krimnya dan hampir tersedak. “Aku berhak menolak permintaan seperti itu. Itu pelecehan. Aku akan melaporkannya pada atasanku agar dia diblokir dari All-Mate.”

“Bagaimana jika seseorang mengajakmu bertemu untuk, misalnya makan malam, dan melakukan hal lain begitu kau menemuinya. Bagaimana?”

“Aku bisa menuntutnya. Sebelum bisa memakai aplikasi, kau diminta memasukkan data diri, nomor ponsel, dan nomor identitas. Nah, aku bisa melaporkannya pada polisi dengan itu. Tapi sejauh ini All-Mate tidak punya masalah seperti itu. Setidaknya, aku tidak punya. Aku tidak tahu bagaimana dengan penyedia layanan lain.”

Chanyeol mengangguk-angguk. “Tapi, karena All-Mate menyediakan teman yang dibayar untuk melakukan apa saja… apakah kau pernah menerima permintaan seperti itu?”

“Tidak.” Sena menggeleng. “Tentu saja tidak.”

Well.”

Hening.

“Apa?”

“Bukan apa-apa.”

Chanyeol bertanya-tanya ke mana pembicaraan ini akan membawa mereka, dan ia memutuskan untuk tidak mencari tahu lebih jauh. Tidak sekarang.

“Aku juga punya pertanyaan,” Sena menoleh padanya dengan sepasang mata ingin tahu. “Dari mana kau tahu soal All-Mate? All-Mate tidak pernah membuat iklan dan promosi besar-besaran atau apalah. Hanya sedikit kalangan yang tahu soal layanan ini.”

Chanyeol benar-benar tidak ingin menjelaskan panjang lebar mengenai Baekhyun dan pesta lajang Junmyeon dan betapa menurut Baekhyun, ‘Song Ahyoung’ adalah gadis yang menarik. Jadi ia mengatakan hal pertama yang terbesit di kepalanya, “Aku hanya mengetik di kolom pencarian internet ‘aku tidak punya teman aku kesepian tolong aku’ dan situs All-Mate911 muncul.”

Sena menatapnya dengan mata menyipit curiga. Sepertinya gadis itu tahu Chanyeol berbohong. Dan Chanyeol tidak mengerti apakah Sena memiliki intuisi seperti Baekhyun atau ini hanya ia yang tidak bisa berbohong dengan baik dan benar?

 

***

 

Sepanjang siang ini Sena nyaris lupa kalau ia sebenarnya membenci Chanyeol. Nyaris. Begitu Sena menerima bayarannya dan mereka berpisah (setelah Chanyeol mengingatkan Sena untuk menunggu karena ia pasti akan menelepon lagi), Sena ingat lagi kenapa dan sebesar apa ia membenci Chanyeol. Hanya saja, untuk sesaat tadi, ia benar-benar mengganggap Chanyeol sebagai temannya. Tanpa pura-pura. Dan ini membuatnya merasa serba salah.

Sena terlalu sibuk memikirkan hal ini dan bingung sendiri, sampai-sampai ia tidak siap dengan kejutan yang menunggu di kamar sewaannya. Sebenarnya, tidak ada yang akan membuatnya siap melihat pasangan yang berciuman panas di atas tempat tidurnya. Apalagi kalau itu Jimin. Dan Luhan.

Sena terkesiap dan menjerit. Mungkin suaranya membuat seluruh tetangganya, kamar di sebelah kiri dan kanan, di lantai bawah, atas, mengira ada kebakaran.

Luhan menyingir dari atas Jimin dengan terkejut dan Jimin nyaris terpeleset saat terlalu buru-buru melompat turun tempat tidur Sena. Wajahnya merah, tapi Sena tidak tahu itu karena malu atau alasan lain.

Masa bodoh dengan alasannya. Masalahnya adalah: “KENAPA KALIAN HARUS BERMESRAAN DI KAMARKU? DI TEMPAT TIDURKU?”

Luhan sontak menutup telinganya dengan dua tangan seolah itu bisa membantu menyelamatkan pendengarannya. “Halo juga,” balasnya. “Maaf kami membuat tempatnya sedikit berantakan.”

“SEDIKIT?” Sena histeris. “APA SAJA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN DI SINI?”

“Eh, kami belum melakukan apa-apa.”

“Dan tidak perlu teriak-teriak begitu,” sela Jimin. Setelah berhasil mengatasi malu karena tertangkap basah, ia kembali bersikap sarkastik. “Seakan-akan kau belum pernah berciuman saja.”

“AKU TIDAK MELAKUKANNYA DI KAMAR ORANG LAIN!”

“Astaga. Iya, aku dengar.” Jimin menepuk-nepuk telinganya. “Kami hanya meminjam tempat.”

“Dan tempatnya adalah kamarku?!” Sena menurunkan volume suaranya, tapi masih setengah berteriak.

“Sebenarnya kami bahkan tidak berniat melakukan apa-apa. Tadinya aku hanya ingin menemuimu dan bertanya apakah kau mau ikut menonton band Luhan malam ini. Tapi kau tidak di rumah. Jadi aku menunggu.”

“Tidak, aku tidak mau ikut,” jawab Sena segera. “Dan keluar segera, kalian berdua! Ayo, cepat!”

Sena menarik lengan Jimin dan Luhan dan mendorong mereka keluar dari kamarnya, lalu membanting pintu. Dan satu orang lagi yang bicara—atau melakukan sesuatu yang berhubungan—tentang seks, akan ia bunuh.

Ponsel kerjanya berdering dan Sena menyambarnya dari dalam tas dengan napas memburu. Ia melihat nama Chanyeol dan langsung menjawabnya dengan, “Apa? Apa? APA? Apalagi yang kauinginkan sekarang?”

“Oh, astaga,” keluhan Chanyeol terdengar samar seakan-akan ia menjauhkan ponsel dari telinganya karena seruan bertubi-tubi Sena. Kemudian ia berkata lebih jelas, “Bukan apa-apa. Aku hanya ingin bilang terima kasih. Dan selamat malam, Ryu Sena.”

Lalu Chanyeol memutus sambungan tanpa menunggu balasan. Sena menatap layar ponselnya yang menyala sampai menggelap dan menampilkan bayangannya. Ia melihat wajahnya, dan topi kucing biru sialan itu ternyata masih di kepalanya. Sena lupa membuangnya. Sekarang ia terlalu malas untuk keluar dan membuangnya di tempat sampah. Lagipula, siapa tahu Luhan dan Jimin masih ada di depan, mungkin melanjutkan apa yang disela Sena barusan.

Sena melempar tas dan topi itu ke atas tempat tidurnya, lalu mengempaskan punggungnya ke sana. Tempat tidurnya hangat. Terima kasih pada Jimin dan Luhan. Huh.

Sena menatap langit-langit kamarnya yang kusam dan menghela napas. Ia masih membenci Chanyeol. Sangat.

Tapi mungkin tidak sebesar yang ia ingat dulu.

Tetap saja, ia masih membencinya. Setelah semua yang terjadi padanya, ia tidak bisa tidak membencinya.

 

***

 

Hari-hari Sena sebagai pembantu tugas Park Chanyeol di SMA semakin menyiksanya. Chanyeol tidak hanya meminta bantuannya mengerjakan tugas rumah, tapi juga membuatkannya sontekan untuk ujian, dan karena belum cukup, Sena dipaksa duduk di sebelahnya untuk membantunya mengerjakan ujian. Sena tidak bisa menolak karena ia takut rahasianya terbongkar. Tentu saja Chanyeol tahu Sena takut, karena itulah laki-laki itu memanfaatkannya.

Lalu, entah kenapa, suatu hari Chanyeol berhenti meminta bantuannya.

“Kenapa?” Sena bertanya curiga.

“Tidak apa-apa. Aku hanya… ingin mencoba melakukannya sendiri.” Ia melirik ke kanan, ke atas, menunduk menatap ujung-ujung sepatunya, pokoknya menghindari menatap Sena langsung. Dan wajahnya tampak malu-malu. Sena benar-benar tidak mengerti kenapa. “Terima kasih untuk bantuanmu selama ini.”

Sena ingin berkata, “tidak perlu terima kasih, kau kan mengancamku,” tapi Chanyeol berbalik meninggakannya sebelum ia sempat membuka mulut.

Sena lega. Akhirnya ia bebas dari perangkap ini. Dan, jika Chanyeol sudah memutuskan untuk berubah, itu bagus. Meskipun Sena bukan temannya, ia ikut senang. Selama beberapa bulan terakhir bersamanya, Sena merasa Chanyeol tidak seburuk itu. Ia malas dan tidak mau berpikir, itu benar, tapi ia juga tidak jahat.

Tapi, kelegaannya hanya sementara. Setelah Chanyeol berhenti menyuruh-nyuruhnya, Sena merasa teman-temannya mulai berubah. Satu persatu dari mereka menjauh. Sena mendengar mereka membicarakan dirinya dan langsung membubarkan diri saat melihatnya.

Belakangan Sena tahu, cerita tentang keluarganya sudah tersebar. Orang-orang yang dulu temannya kemudian berbalik memusuhinya. Mereka mencoret-coret buku pelajarannya, menyandungnya di koridor, mengejeknya pengemis, pembohong, penipu, dan menertawainya. Mereka mengerjainya secara verbal dan fisik tanpa satu hari pun terlewat. Hingga suatu saat, salah satu dari permainan mereka berakhir fatal.

Dan Sena akan selalu menyalahkan Park Chanyeol karenanya.

9 thoughts on “All-Mate911(Chapter 3)

  1. Wohoho akhirnya, ff ini diupdate jg. Tp menurutku g mungkin chanyeol yg nyebarin kl sena itu bohong, atau emg chanyeol? Ah au ah gelap. Aku penasaran sm kelanjutan seyeol kak😄 mereka ucul sekali. Btw, itu “kau pasti udh pernah pergi ke toko dewasa.” Ngakak wkwkwkwk bejatny chanyeol ketauan, malah sena dikata pro lg 😂😂😂😂 semangat kak lanjutinnyaa!!! Ditunggu kelanjutannyaa ^^

  2. Jadi karna ituuu .. karna chanyeol ngebuka rahasia senna jadi senna di bully temen”nya .. ya salah juga sih si chanyeol .. parah juga dia ..

  3. wahhh, nice nice daebak, lanjut yah thor, jgn sampe mogok tengah jalan soalnya ceritanya bagus, kan sayang. fighting!!

  4. semoga semoga semoga bukan pelecehan seksual yang sena alamin pas sma. kasian ga ngebayangin kalo sampe iya, kalo emang gitu ya wajar banget kalo sena ampe benci setengah mati ama si ceye. bagus nih author nim. keep fighting ya =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s