LOVE KILLER Part 11

img_2361

Title                     :  LOVE KILLER

Cast                     :

  • Kim Joon Myun/Suho ( EXO )
  • Kim Sooyong ( OC )
  • Kim Jisoo ( Actor )
  • Shin HyeRa ( OC )

 

Lenght                 :  Chapter

Rating                  :  T

Genre                   :  School Life, Romance

Author                 :   @helloimterra91 & @beeeestarioka

( Cerita ini juga dipublish di https://www.facebook.com/Dreamland-Fanfiction-EXO-Seventeen-Fanfiction-715754941857348/?fref=ts   )

 

***

 

Sooyong pergi ke sekolah dengan mata yang sembab. Ia bahkan tidak berpamitan pada Ibunya.

 

Wajah Jisoo sudah nampak dari kejauhan. Setiap pagi lelaki itu menunggu sampai Sooyong datang didepan pintu gerbang. Jisoo menyandarkan punggungnya pada tembok. Kedua tangannya dia masukkan kedalam kantong celana masih dengan memasang tampang dinginnya.

 

Ketika mata mereka bertemu, Jisoo langsung menghampiri gadisnya. Dia genggam tangan Sooyong erat lalu menuntunnya berjalan.

 

Sooyong tersenyum dalam diam. Hatinya kini merasa sedikit tenang. Dalam hati dia bersyukur karena memiliki Jisoo yang selalu berada disampingnya.

 

Begitu mereka memasuki halaman sekolah, semua orang memperhatikan mereka dengan wajah yang sulit digambarkan serta cibiran-cibiran kecil yang ditunjukan pada keduanya. Ini adalah kali pertama Jisoo menunjukan hubungan mereka pada semua orang. “Jangan pernah melepas genggaman tanganku” Jisoo menoleh kearah Sooyong dan tersenyum membuat perasaan hangat itu kini menjalari hatinya.

 

Sooyong semakin erat menggenggam tangan Jisoo. Meski kini dia tahu semua orang mungkin memandangnya remeh, tapi selama mereka tidak mengganggu, bukan masalah baginya.

 

Ketika keduanya sampai di kelas, Jisoo duduk dibangkunya. Dia mengeluarkan buku berniat untuk belajar tapi tak jadi begitu melihat Chanyeol yang datang langsung menarik Sooyong dan mengajaknya keluar. Dia ingin menyusul tapi tangan HyeRa menahannya membuat Suho terkejut.

 

“Biarkan saja mereka”

 

“Mwo? Tapi-” belum sempat Jisoo menyelesaikan kalimatnya, HyeRa telah menariknya keluar kelas. Jisoo yang tidak tahu apa-apa mencoba untuk menurut setelah dia sempat melihat wajah Suho yang kesal karena sikap HyeRa membuatnya cemburu.

 

Begitu keduanya telah menjauh. Jisoo melepaskan genggaman tangannya. “Yak! Apa-apaan ini. Kau pikir aku ini apa? Kau bisa membuat Suho dan Sooyong salah paham!” ucap Jisoo tercekat. Lelaki itu juga shock dengan sikap HyeRa yang tiba-tiba.

 

“Ck. Kau terlalu percaya diri” HyeRa menyerahkan flashdisk ke tangan Jisoo. “Ini. Tolong serahkan tugas kita pada Shindong-sam”

 

“Astaga. Kau melakukan semua ini hanya untuk menyuruhku mengumpulkan tugas?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh HyeRa. “Kau kan bisa menyerahannya dikelas. Kenapa membawa-“

 

“Ya ampun, kau ini ternyata cerewet sekali. Aku sengaja melakukannya supaya kau bisa menyusul Sooyong dan Chanyeol. Selain itu, aku juga ingin membuat Suho kesal. Dia pasti panas dingin melihat kita tadi” HyeRa tertawa puas membuat Jisoo semakin tidak mengerti.

 

“Kenapa kau ingin membuatnya kesal? Kalau kau tidak menyukainya kau kan bisa memutuskannya, bukan dengan menggunakanku seperti ini. Aku bukan lelaki seperti itu” ujarnya polos membuat HyeRa tertawa karena dibalik wajah dan tubuhnya yang tegap, ternyata Jisoo seorang pria pemalu.

 

“Kau benar-benar tidak berpengalaman soal cinta. Justru yang seperti inilah yang disukai wanita kebanyakan. Mereka suka saat pacarnya cemburu. Itu seperti kau benar-benar mencintai kekasihmu”

 

Jisoo mengangguk mengerti. Mungkin Sooyong kecewa karena dia tidak bereaksi apa-apa saat HyeRa bilang Junhoe memberikan nomor ponselnya. Meski Jisoo pikir itu adalah hal yang sepele tapi setidaknya dia harus peduli.

 

 

 

……………………………………………….

 

 

 

“Ya! Park Chanyeol, apa maksudmu menarik tanganku dan membawaku kesini? Kau rindu aku pukul ya?”

 

“Kau boleh memukulku sepuasmu tapi apa kau bisa jelaskan kenapa kau tidak mengatakan apa-apa padaku soal kepindahanmu ke Jepang? Apa selama ini kau tidak menganggapku teman?” pertanyaan Chanyeol membuat Sooyong menganga.

 

“Hah? Jadi karena itu? Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Memangnya itu penting”

 

“Tentu saja penting!” Chanyeol setengah berteriak membuat gadis itu terdiam sambil otaknya sibuk bergelut memikirkan sikap Chanyeol yang sangat aneh. Meski dalam kesehariannya lelaki ini terbilang sangat ceria dan hyper, tapi tetap saja Sooyong merasa ada yang berbeda. Entahlah Sooyong merasa kalau Chanyeol seperti ingin dekat dengannya.

 

“Seharusnya kau memberitahuku, bukankah kita teman?”

 

“Teman?” Sooyong mengusap kepalanya mencoba memahami maksud pemuda tampan dengan kenormalan yang sedikit dipertanyakan. Hingga kemudian, “Tunggu, apa kau su-“

 

“Aku tidak menyukaimu, Kim Sooyong! Ah sudah lupakan saja” pemuda bertubuh jangkung itu terlihat frustasi. Dia mengacak rambutnya sebelum pergi meninggalkan Sooyong dalam kebingungannya.

 

 

 

…………………………………………………

 

 

 

Saat bel istirahat berbunyi, selang beberapa menit setelah guru menutup pembelajaran, murid-murid keluar kelas baik secara kelompok ataupun individu.

 

“Kita langsung ke kantin?” tawar Syuhan kepada HyeRa yang dijawab dengan anggukan karena HyeRa masih membereskan buku-bukunya.

 

“Tidak. Dia akan pergi bersamaku” satu tarikan membawa HyeRa pergi dari hadapan Syuhan. Suho pelakunya. Laki-laki itu menggenggam lengan HyeRa untuk berjalan disisinya. Mereka harus bicara. Ada yang harus HyeRa jelaskan padanya.

 

Suho membawa HyeRa masuk kedalam ruangan kosong. Dia kunci pintu sebelum berbalik menghadapnya. HyeRa bertanya dengan tatapannya. Dulu dia pasti berteriak dan langsung marah-marah jika Suho menarik atau memaksanya pergi. Tapi sekarang dia lebih santai menghadapi laki-laki ini. Sedikitnya dia paham cara menangani Suho yang jiwanya masih labil.

 

“Apa yang kau bicarakan pada Jisoo?” HyeRa siap menjawab, “Apa pembicaraan kalian begitu penting sampai harus keluar kelas? Apa kalian harus berpegangan tangan? Kalian pikir kalian mau kemana? Menyebrang?”

 

HyeRa menahan diri untuk tidak  tertawa. Ekspresi Suho sangat menggelikan ketika dia sedang cemburu. Bahkan Suho tidak memberinya kesempatan menjawab. Dia terus memberinya seribu pertanyaan.

 

“Kau tertarik padanya? Ingat, Ra-yaa, Jisoo milik Sooyong. Kau sendiri tahu kalau mereka berpacaran”

 

“Apa kau harus memanggilku seperti itu?”

 

“Ah, apa?”

 

“Ra~yaa~ Kau tahu, itu menggelikan”

 

Suho menghelas nafas. HyeRa mengalihkan pertanyaannya. Jelas sekali kalau HyeRa menyembunyikan sesuatu.

 

HyeRa menarik senyumnya. Dia menyadari keresahan Suho. Dia raih tangannya. Suho melihatnya heran. “Apa kita hanya boleh berpegangan tangan saat menyebrang? Kau membawaku kesini dengan memegang tanganku kau ingat?”

 

“Tapi Jisoo”

 

“Jisoo temanku. Kau tidak percaya padaku?” Suho mencari keseriusan dalam matanya. Mata cokelat yang kini menatapnya dengan lembut. Dia seperti tersihir. Ucapan HyeRa melenyapkan seluruh kekhawatirannya. Dia percaya padanya. Meskipun gadis ini membohonginya, dia akan tetap percaya. Itulah kekuatan HyeRa. Mencintainya membuat Suho terbuai oleh pesonanya.

 

Jari-jari Suho bergerak. Dia menyelipkan jemari mereka. Dia genggam tangan HyeRa lebih erat. Keduanya tersenyum. “Lalu apa yang kalian bicarakan?” tanyanya lebih lembut.

 

“Aku menyerahkan tugas Shindong-sam pada Jisoo”

 

“Hanya itu?”

 

HyeRa terkekeh pelan, “Aku ingin melihat wajah kesalmu begitu melihatku membawanya keluar”

 

Suho menatapnya tidak percaya. Jadi HyeRa sengaja.

 

“Maaf” tuturnya merasa bersalah.

 

“Ini tidak bisa selesai hanya dengan kata maaf, nona” Suho tersenyum miring. Dia melangkah maju. Sontak kaki HyeRa berjalan mundur. Dia merasakan niat jahatnya. Tangannya dia tarik namun Suho terlalu kuat mengaitkan jemari mereka.

 

“Berhenti!” suruh HyeRa yang langsung dituruti. Kaki keduanya berhenti ditengah ruangan. Dia sadar kalau dia tidak bisa melarikan diri. “Aku tahu apa yang kau mau” Suho menarik kedua sudut bibirnya. HyeRa mendekat lalu mencium pipinya.

 

Kehangatan itu selalu menjalar. Suho merasa lebih baik. Dia acak rambut HyeRa.

 

“Bisa kita pergi sekarang? Aku lapar”

 

Suho mencium pipi HyeRa sebagai balasan. Gadis itu terdiam. “Kalau kau melakukannya lagi, ciuman di pipi tidak lagi menyelesaikan masalah”

 

HyeRa menggoyangkan tangan mereka sambil berjalan keluar ruangan. Dia menoleh ketika mereka telah bersisian, “Aku tidak bisa janji, tuan. Sepertinya membuatmu kesal akan menjadi rutinitasku setiap hari”

 

“Aigo!” Suho menyenggolnya yang disambut tawa renyah mereka berdua.

 

 

 

…………………………………………………..

 

 

 

Chanyeol yang keluar bersama Sehun melirik kearah Sooyong ketika melewati mejanya. Mata mereka bertemu. Chanyeol langsung memalingkan muka. Ekspresinya berubah dingin. Dia seperti menunjukkan kalau dia marah pada Sooyong. Gadis itu semakin merasa aneh dengan sikap Chanyeol.

 

“Kenapa dia?” pertanyaan Jisoo mengambil pusat Sooyong. Dia disambut senyum manisnya.

 

“Aku tidak tahu” jawab Sooyong seadanya. Dia memang tidak tahu.

 

“Kau mau mengumpulkan tugas Shindong-sam?” Jisoo menunjukkan flashdisk yang HyeRa berikan tadi pagi. Tanda kalau gadis itu menyerahkan tugas mereka sepenuhnya.

 

Sooyong mengeluarkan lembaran-lembaran yang tersusun rapi dari tasnya “Aku juga mau mengumpulkan tugas kami. Kita ke lab komputer untuk mencetak tugas kalian sebelum menyerahkannya ke Shindong-sam”

 

Jisoo mengulurkan tangan. Sooyong menyambutnya. Mereka keluar dengan berpegangan tangan. Masih terasa asing bagi Genie melihat hubungan Jisoo dan Sooyong. Apalagi Jisoo tahu kalau sebentar lagi kekasihnya akan pergi jauh. Dia tidak mau kehilangan momen bersamanya sedikitpun. Dia ingin punya cukup kenangan bahagia yang bisa mereka ingat saat mereka berpisah nanti.

 

 

 

……………………………………………………….

 

 

 

Pukul 8 malam Sooyong keluar dari tempat les. Dia menunggu Jisoo dipintu keluar gedung.

 

“Kim Sooyong-ssi?” panggilan seseorang membuatnya menoleh.

 

“Oh, kau Go Junhoe kan?” Sooyong coba mengingat dan kemudian pemuda itu mengangguk. Dia kini berdiri tepat disebelah Sooyong.

 

“Apa kau les disini?”

 

“Ya, dan kau juga?”

 

Pemuda itu mengangguk lagi membuat keduanya tersenyum.

 

“Tapi aku tidak pernah melihatmu”

 

“Aku mengambil jam sore, tapi karena ujian semakin dekat jadi aku menambah jam lesku. Kalau tidak, aku bisa tidak naik kelas”

 

Ucapan Junhoe membuat Sooyong tertegun. Dia memikirkan Jisoo. Dia takut Jisoo tidak berhasil melalui ujian. Meski nilainya tidaklah buruk tapi itu tidak cukup. Dia juga ingin melihat Jisoo berhasil dalam pelajarannya. Sooyong sudah berusaha membantunya tapi tingkat kemalasan lelaki itu benar-benar tinggi.

 

“Apa kau mau pulang?” suara Junheo membuyarkan lamunannya.

 

“Ye?”

 

“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu. Ini sudah malam, sangat berbahaya gadis cantik sepertimu berkeliaran seorang diri”

 

“Aniya, tidak usah repot-repot. Aku sedang menunggu seseorang”

 

“Siapa?” tanya lelaki itu ingin tahu.

 

“Pacarku” jawab Sooyong pelan. Badannya kembali hangat begitu ia melihat Jisoo kini berjalan mendekatinya.

 

Jisoo melihat Junhoe dengan tatapan dingin. Kedua lelaki itu saling menatap sengit membuat gadis itu sedikit khawatir. “Jisoo ini Jun-” kalimatnya terhenti saat Jisoo merangkulnya erat sambil menatap Junhoe seakan menegaskan bahwa Sooyong adalah miliknya. Seketika tubuhnya memanas. Jantungnya bahkan berdebar cepat. Dia begitu kaget dengan perlakuan Jisoo yang seperti ini. Apa Jisoo cemburu? Seperti itulah yang ada dalam pikiran Sooyong. Tak hanya itu, bahkan Jisoo mencium pipi Sooyong didepan Junhoe. Pelan-pelan dia menatap Jisoo lalu menatap Junhoe yang terlihat tidak suka dengan sikap Jisoo.

 

“Oh kau lelaki yang kemarin itu kan?”

 

“Kau pacarnya?”

 

“Mm. Belum jelas dengan apa yang kau lihat tadi? Sekarang kau pergi saja bocah kecil. Jangan pernah berani mendekatinya karena dia milikku. Belajar saja dengan benar” Jisoo menepuk-nepuk pundak Junhoe. Dia menatap lelaki itu dengan penuh intimidasi.

 

 

 

………………………………………………………..

 

 

 

Jisoo mengantar Sooyong pulang ke apartment Ayahnya. Begitu sampai Sooyong memaksa Jisoo untuk mampir sekedar mengganti bajunya yang basah.

 

Setelah masuk kedalam flat, Sooyong segera mengambil baju milik sepupunya untuk Jisoo. Kemarin Bobby menginap dan meninggalkan bajunya. Sementara itu Jisoo pergi kekamar tamu untuk mengganti baju.

 

Saat Jisoo membuka bajunya, pintu kamar terbuka dan tampak Sooyong yang akan masuk dengan sepasang baju ditangan.

 

“Jisoo kau bisa…” Sooyong terdiam begitu dia melihat Jisoo bertelanjang dada. Mukanya memerah dan nampak malu. Suasana pun semakin canggung sampai Sooyong berinisiatif menaruh baju tersebut ditempat tidur dan segera beranjak keluar sebelum Jisoo menahan tangannya.

 

“Terima kasih, Soo” ucapnya lembut sambil tersenyum. Sementara gadis itu hanya menunduk. Dia tidak berani mengangkat mukanya karena malu hingga kedua tangan Jisoo menangkup lembut kedua pipinya. Keduanya kini saling berhadapan. Jisoo menatapnya dengan penuh kasih. Jisoo sangat mencintai gadis ini. Rasanya seperti mimpi karena pada akhirnya mereka kini bersama. Dia mendekatkan wajah Sooyong. Dia usap kedua pipinya yang putih tanpa cela. Ketika wajah keduanya semakin dekat Sooyong bersiap menutup matanya begitu pun dengan Jisoo. Hingga bibir mereka bertemu. Sudah lama sejak Jisoo menciumnya saat itu. Dia menekan kepala Sooyong untuk memperdalam ciuman mereka. Sooyong bahkan harus berjinjit untuk menyeimbangi tubuh Jisoo yang tinggi. Ciuman ini sedikit lebih lama namun tidak menuntut. Hingga keduanya melepas tautan untuk mengambil nafas, kemudian tersenyum canggung.

 

Pintu apartemen terbuka dari luar, Ayah Sooyong telah tiba. Cepat-cepat Jisoo memakai bajunya dan keluar dari kamar bersama Sooyong.

 

“Selamat malam, Ayah” Sooyong berlari memeluk Ayahnya dan Jisoo membungkuk memberi salam.

 

“Apa kalian sudah makan malam?” Sooyong menggeleng pelan hingga pria paruh baya itu mengajak keduanya makan malam bersama.

 

Didalam mobil selama perjalanan menuju restoran, pasangan ini hanya diam dengan sesekali tersenyum malu menatap sambil jalanan didepannya. Jisoo memegang tangan gadisnya erat membuat gadis itu menoleh sebentar dan melihat Jisoo yang sibuk memandangi jalanan disamping melalui kaca jendela. Sesaat Sooyong merasa sedih karena waktunya untuk pergi semakin dekat.

 

 

 

***

 

 

 

Ketika jam istirahat sebentar lagi berakhir, Minji dan Baekhyun maju ke depan kelas. Mereka akan mengumumkan sesuatu. Pastinya sesuatu yang membahagiakan dilihat dari ekspresi keduanya yang nampak cerah.

 

“Cha cha cha! Everybody~ Kami ingin memberitahukan sesuatu” Minji bertepuk tangan dan berhasil mengambil perhatian seluruh kelas. Dia tersenyum kepada Baekhyun disampingnya, “Aku dan pacarku, Baby B~ akan mengadakan pesta untuk merayakan bersatunya kembali hubungan kami~” tuturnya antusias.

 

“Jadi kami mengundang kalian semua untuk datang ke pesta kami malam ini” sambung Baekhyun.

 

“Karena kalian teman sekelas kami, kalian termasuk tamu VIP yang kami undang. Kami hanya mengundang orang-orang penting” lanjut Minji dengan sombongnya.

 

“Yak! Kau curang!” tuduh Jisoo pada gadis yang duduk didepannya. Dia tengah bermain SOS dengan HyeRa.

 

“Sssttt” HyeRa menaruh telunjuknya dimulut Jisoo tanpa menatapnya. Dia sedang fokus menulis dan menyambung kata SOS dibuku Jisoo. “Tenang dan perhatikan. Jangan mencari alasan karena kau akan kalah”

 

Jisoo menepis telunjuk HyeRa. Dia kesal karena tidak pernah menang dari gadis ini.

 

Suho yang melihatnya hanya bisa menahan diri. Ucapan HyeRa terus terngiang dalam kepalanya. Mereka hanya teman. Ingat, Suho, HyeRa dan Jisoo hanya teman. Tidak lebih, tidak boleh lebih, dan tidak akan lebih.

 

Sementara Sooyong menggelengkan kepala. Belakangan ini Jisoo memperkenalkan HyeRa permainan-permainan tradisional yang belum pernah HyeRa ketahui. HyeRa selalu menang meski baru pertama kali dia mainkan dan Jisoo merasa tertantang. Setiap hari mereka memainkan permainan baru. Seperti saat ini.

 

“Yak! Shin HyeRa, Bokdong-aa! Kalian tidak dengar pengumuman kami. Aku berbaik hati mengundang kalian. Seharusnya kalian merasa bangga!”

 

“Giliranmu” HyeRa terkekeh jahil

 

“Kau sudah mengisi semua kolomnya” balas Jisoo sebal.

 

“Jadi aku menang lagi. Hohoho~”

 

Baekhyun memegang pundak Minji agar kekasihnya tetap bersabar. HyeRa dan Jisoo tidak mendengarkannya.

 

“HyeRa, HyeRa” bisik Syuhan dari mejanya. Mereka hanya dipisahkan satu meja.

 

HyeRa menoleh. Syuhan menunjuk kedepan, “Minji mengajak kalian bicara”

 

Akhirnya HyeRa dan Jisoo melihat kedepan. Dan mereka tersadar kalau mereka jadi pusat perhatian.

 

“Ada apa?”

 

Baekhyun tersenyum menanggapi, “Kami mengadakan pesta malam ini dan kami mengundang kalian semua”

 

“Ohhh”

 

“Oh katamu?” Minji habis kesabaran. “Pesta ini sangat penting bagi hubunganku dan Baekhyun. Kami hanya mengundang orang-orang penting!”

 

“Jadi kita termasuk orang penting?” HyeRa bicara pada Jisoo dengan menaruh tangan disudut mulutnya layaknya orang berbisik.

 

Jisoo tersenyum lucu mendapati dirinya termasuk kelas VIP dari anak-anak elit.

 

“Semua diwajibkan hadir malam ini” Suho angkat bicara, “Kita diundang oleh Minji dan Baekhyun jadi kita harus datang sebagai bentuk toleransi terhadap teman sekelas”

 

“Siapa yang mau datang kepesta bodoh tersebut” Jisoo bicara pelan.

 

Minji dapat membaca gerakan mulut Jisoo, “Dasar lelaki dingin” geramnya.

 

“Tenanglah, Ji. Jangan terpancing. Bokdong memang seperti itu”

 

“Mereka sangat menyebalkan~” rengeknya manja.

 

Baekhyun pun mengambil alih keadaan, “Jadi, kalian sudah tahu acara kami kan. Kami harap kalian bisa datang dan ikut merasakan kebahagianku dan Minji” lalu dia menutup pengumumannya dengan mengumbar kata-kata manis untuk sang kekasih hingga Minji membaik. Mereka kembali ketempat duduk setelahnya.

 

HyeRa melihat Suho dan mata mereka langsung bertemu. Dengan gerakan kepala, Suho menyuruh HyeRa kembali ketempatnya. Gadis itu menurut.

 

“Kau mau datang?” tanya Syuhan begitu HyeRa duduk disebelahnya.

 

“Aku sibuk” dia membuka buku untuk pelajaran selanjutnya. Dia menyumbat telinga agar tidak mendengar omong kosong lain dikelas ini.

 

 

 

…………………………………………………….

 

 

 

“Kau tidak pernah merasa cemburu setiap melihat kedekatan Jisoo dengan HyeRa?” Suho yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah berada didepan Sooyong.

 

“Kenapa aku harus cemburu? Mereka cuma teman”

 

“Astaga! Aku tahu! Tapi mereka terlihat sangat dekat”

 

“Ck. Kau yang terlalu berlebihan, Suho. Aku percaya pada Jisoo”

 

“Hh, kau pikir aku tidak percaya pada HyeRa?”

 

“Kalau kau percaya padanya berarti itu bukan masalah” Sooyong tersenyum sebentar. Dia menoleh pada Suho yang kini menatapnya dengan mengernyit. “Apa?”

 

“Apa kau tidak mencintai Jisoo lagi?”

 

“Apa maksudmu bertanya seperti itu?”

 

“Aku hanya tidak habis pikir, kau begitu santai menanggapi kedekatan HyeRa dan Jisoo. Sedangkan aku, aku selalu khawatir setiap kali HyeRa bersama pria lain. Aku selalu penasaran bagaimana HyeRa menatap pria itu atau bagaimana sikap HyeRa ketika ia bersama pria selain aku” Suho melayangkan pandangannya. Sooyong bisa melihat gelora cinta yang pria itu bangun untuk HyeRa.

 

“Sepertinya HyeRa banyak membuatmu berubah. Kau tahu, selama ini kau bahkan tidak punya waktu untuk mengurusi hal semacam ini. Kau bilang cinta hanya membuatmu lemah dan menjadi tak berdaya ketika menghadapinya dan sekarang kau mengalaminya. Tapi aku pikir itu bukanlah hal yang buruk. Sama seperti aku yang bertemu dengan Jisoo. Dulu aku juga tidak punya waktu memikirkan hal seperti itu karena aku tahu, kalau pada akhirnya aku akan terus bersama Kyungsoo”

 

“Apa menurutmu aku lemah?”

 

Sooyong menggeleng. “Ani. Kau hanya terlalu posesif. Kau harus percaya kalau dia tidak akan mengkhianatimu. Lihatlah, kau dan aku juga dekat kan? Ya walau baru kali ini kita bicara dalam waktu yang cukup lama”

 

Suho terdiam, apa yang Sooyong katakan memang benar. “Kalau begitu, menurutmu aku harus bersikap cuek seperti Jisoo?”

 

“Ya! Dia tidak secuek itu” elak Sooyong apalagi mengingat kejadian saat Jisoo mencium pipinya didepan Junhoe. Sooyong rasa itu membuktikan bahwa Jisoo sebenarnya peduli hal sekecil apapun tentang dirinya.

 

“Jadi aku harus bagaimana?”

 

“Bersikap seperti biasa. Terkadang wanita juga senang saat pacarnya cemburu” Sooyong terkekeh pelan.

 

“Gomawo, Soo. Aku merasa lega setelah mengatakannya dan kapan kau berangkat ke Jepang? Apa Jisoo sudah tahu?”

 

Sooyong mengangguk ragu. Ia menutup bukunya. “Besok malam aku berangkat-“

 

“MWO???” teriakan seseorang yang kehadirannya sama sekali tidak diduga membuat Suho dan Sooyong terbengong.

 

“Chanyeol? Sejak kapan kau disitu?” Suho kaget setengah mati. Bukan karena apa-apa tapi dia malu kalau Chanyeol mendengar isi curahan hatinya.

 

Seakan tidak peduli dengan pertanyaan Suho, lelaki jangkung itu kini menatap Sooyong.  “Kalau kau mau pergi ke Jepang pergilah, tapi setidaknya kau harus mengucapkan selamat tinggal pada kami. Ah molla! Aku tidak peduli lagi” ucapnya sambil berlalu meninggalkan ruang OSIS.

 

“Dia kenapa?” tanya Sooyong shock begitu sosok Chanyeol telah menghilang dari pandangan mereka.

 

“Apa lagi, dia menyukaimu”

 

“Hah? Oh My God! Kau bercanda kan?”

 

“Aniya. Kau tahu, gadis berinisial KS dalam surat cinta sewaktu kita SMP. Itu namamu, Kim Sooyong”

 

“Serius?? Ah pantas saja” Sooyong menepuk jidatnya. Sekarang dia mengerti kenapa sikap Chanyeol sangat aneh padanya.

 

“Sewaktu dia tahu kau bersama Kyungsoo dia menyerah dan mulai berkencan dengan Seulgi” 

 

“Heol!”

 

Pembicaraan mereka terhenti begitu Jisoo menjemputnya diruang OSIS.

 

 

 

…………………………………………………

 

 

 

Begitu sampai di butik langganannya, dengan semangat Sooyong menarik lengan Jisoo dan membawanya kederetan rak yang memajang baju semi formal untuk pria.

 

Saat Sooyong sibuk memilih baju, lelaki itu hanya berdiri mematung dengan wajah malas. Dia ingin tidur dirumah tapi paksaan Sooyong menuntunnya ketempat ini.

 

Sepulang sekolah dengan sangat terpaksa Jisoo mengiyakan ajakan kekasihnya untuk menghadiri pesta Minji dan Baekhyun. Maka Sooyong pun mengajaknya pergi membeli baju yang akan mereka pakai nanti.

 

Saking malasnya, Jisoo tidak menghiraukan pandangan kagum orang-orang yang memuji ketampanannya setiap Sooyong menyuruhnya mencoba setiap baju yang dia pilih. Gadis itu pintar dalam selera fashion. Tapi rasa malas yang terlalu besar membuatnya lebih terlihat seperti tak suka dengan semua pilihan Sooyong.

 

Sadar akan sikap Jisoo yang enggan membuat gadis itu menyerah dan tanpa bicara apa-apa gadis itu pergi meninggalkan Jisoo tanpa berpamitan. Dia kesal dengan sikap Jisoo yang tidak menghargai usahanya.

 

Sontak lelaki itu panik. Begitu dia ingin menyusul Sooyong, pegawai toko menahannya.

 

“Maaf, apa tidak ada baju yang akan Anda beli?”

 

Sebentar Jisoo terdiam, kemudian dia memutuskan membeli salah satu pilihan Sooyong. Setelah membayar Jisoo langsung keluar berharap Sooyong masih menunggunya tapi gadis itu tidak nampak lagi.

 

Dia membuang nafasnya kasar menyesali sikapnya pada Sooyong selama berada dalam butik. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi Sooyong namun pesan dari Nyonya Choi mengganti arah perjalanannya.

 

“Jisoo, Bibi membutuhkan bantuanmu”

 

 

 

 

 

tbc ~

2 thoughts on “LOVE KILLER Part 11

  1. Hwaaaa apa lagi iniiii….
    Knp sooyong cpt bgt ke jepang nya u,u
    Siii suho nya posesif bgt ya sama hyera uuuuhhhh so sweet deh liat ny😀
    paiting di tunggu next chap nya ya

    1. Hahaha kasian chanyeol cintanya bertepuk sebelah tangan…. trus nanti jisoonya ditinggak sooyong wahcepet banget sich ke jepangnya…. trus kyaknya minji juga gak suka banget sama hreya n jisoo…
      Next chap thor~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s