My Mistake

img_2364

My Mistake

Author : Lee Hyo

Main Character : Park Reina as you maybe, and member EXO (secret)

Rating PG 15

Genre : Romance

Reina POV

Aku melihat jam tanganku yang sekarang sudah menunjukkan jam 11 malam. Sudah dua jam aku duduk di sini hanya menatap cangkir capucchino yang sudah kosong. Kulirik kursi-kursi kosong di sekitarku yang sudah di tinggal beberapa saat yang lalu, hanya tinggal aku sendiri di meja ini. beberapa pelayan sedang membersihkan dan sebagian sudah pulang. Aku melihat ponselku tanda tidak ada pesan ataupun telfon darinya. Aku menghembuskan nafasku pelan entah sudah berapa kali aku menelfonnya  tapi tidak ada jawaban, entah sudah berapa pesan yang kukirimkan tapi balasannya hanya ‘tunggu aku, aku pasti datang’ dan itupun sekitar sejam yang lalu tapi sampai sekarang dia tidak menunjukkan dirinya di sini. ‘apa dia lupa??’ tapi dia sudah janji akan menemuiku di sini batinku panik.

Seorang pelayan terlihat berjalan ke arah meja yang ku tempati. Rasanya aku tidak enak hati karena sudah memohon entah sudah yang keberapa kalinya. Tapi bagaimana jika ia datang?? Kami sudah buat janji untuk bertemu di sini… tidak mungkin dia lupa begitu saja setidaknya dia memberikanku kabar kalau dia tidak bisa datang.

“agasshi (nona) ini sudah 1 jam… kami seharusnya sudah tutup sejak sejam yang lalu” suara pelayan wanita tadi membuyarkan pikiranku. Ia menatapku jengah mungkin karena aku masih bersih keras tidak mau meninggalkan restoran ini sejak sejam yang lalu. aku tersenyum merasa tidak enak hati telah membuatnya menunggu juga tapi biarkan kali ini saja. Tuhan tolong semoga ia mau memberikanku izin sekali lagi ucapku dalam hati.

“aku mohon… biarkan aku menunggu 5 menit lagi tolong…” mohonku padanya. sejujurnya aku juga merasa tidak enak hati, sejak tadi karena aku tidak memesan apa-apa selain cappuccino.

“maaf nona tapi aku harus pulang sekarang… anda bisa menelfon kekasih anda agar menunggu di luar dari restoran ini” katanya datar. Aku menelan salivaku kasar tidak ada dispensasi lagi kali ini. aku mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet meletakkannya di atas meja dengan lesu.

“maaf sudah membuatmu menunggu juga nona… terimakasih…” kataku kemudian beranjak keluar dari restoran tersebut.

Aku berbalik ke kanan dan kiri berharap dia muncul di ujung jalan sana tapi nyatanya kosong, aku tidak melihatnya. Aku meninggalkan restoran itu dengan lesu berjalan menuju pemberhentian bus dan duduk di sana.

Aku mengusap layar ponselku membuka kuncinya, aku menatap layar ponselku yang menampilkan foto selca kami berdua tersenyum bahagia yang kujadikan sebagai wallpaper.

“neo eodiga…? (kau dimana?)” ucapku sambil menatap fotonya yang kujadikan wallpaper di ponselku.

Aku menekan panggilan cepat menelfonnya. Aku mendekatkan ponselku di pipi, kalau kali ini dia tidak mengangkatnya berarti dia lupa dan semuanya akan berakhir. suara dering tanda sambungan terdengar, jantungku berdetak cepat ‘ayolah angkat kau tidak benar-benar ingin semuanya berakhir kan???’ batinku. Suara layanan menyambutku beberapa detik kemudian bahwa ia tidak mengangkat telfonnya. Dia benar-benar lupa… aku menekan kembali untuk menelfonnya tapi sudah tidak aktif, ponselnya sudah tidak aktif. Perasaanku gusar, berkali-kali aku menelfonnya tapi hasilnya sama saja, air mataku sudah turun membasahi pipiku beranak sungai dengan deras. ‘Dia benar-benar lupa… melupakan semuanya…’ batinku. aku mengusap dadaku pelan rasanya sakit sekali entah ini sudah yang ke berapa kalinya. ‘bodoh!!! Sudah 3 jam jelas saja dia tidak akan datang’ makiku pada diri sendiri. Seringkali ia datang terlambat tapi sering juga ia hanya mengirim pesan bahwa ia tidak bisa datang karena masih ada pekerjaan tapi kali ini dia tidak datang setelah 2 jam aku menunggu dan tidak memberikanku kabar apapun.

Aku memberhentikan taxi untuk pulang karena pada jam segini pengoprasian bus sudah berhenti. Sepanjang jalan aku hanya menatap keluar jendela entah apa yang akan terjadi setelah ini aku sudah tidak peduli lagi. Air mataku kembali menetes mengingat perlakuannya, setidaknya dia memberikanku kabar jika dia tidak ingin datang. Aku turun dari taxi dan berjalan kearah gedung apartemanku dengan lesu. Sejak di dalam taxi tadi yang kulakukan hanya menangisinya. Aku menekan nomor password apartementku kemudian membuka pintu setelah terdengar kunci terbuka. Aku menghidupkan lampu kemudian masuk dengan lesu. Ku lempar asal tasku di sofa kemudian berjalan kearah dapur untuk mengambil air dan meneguknya. Aku berbalik ke arah kulkas dan tertegun ketika melihat tempelan foto-foto kebersamaan kami. aku menatap sedih foto-foto tersebut kemudian beranjak dari dapur lalu masuk ke kamar. Aku melepas mantelku kemudian menggantungnya di samping pintu. Aku beranjak ke meja rias melihat wajahku di cermin. Aku terlihat mengerikan setelah menangis, mataku bengkak dan hidungku juga memerah. Mataku teralihkan pada foto di nakas dan meja rias, foto kami saat perayaan anniversary yang pertama. Mataku kembali teralihkan ke tembok di mana foto-foto kami yang tertempel rapi di sana. Aku mendesah pelan, aku beranjak ke lemari mengambil sebuah kotak besar kemudian mulai mengumpulkan semua kenangan ataupun barang darinya memasukkannya ke dalam kardus besar tersebut. Aku keluar dari kamar dan mengambil barang-barang lainnya yang berada di dapur dan ruang tamu kemudian memasukkannya ke dalam kardus. Aku mengambil sebuah korek api kemudian membawa keluar bersama dengan kardus tersebut berniat untuk membakarnya di halaman gedung apartemanku.

Saat ingin membuka pintu aku teringat pemberian yang lainnya. Aku menunduk melihat kalung dengan bandul cincin yang bertengger cantik di leherku. Rasanya berat sekali ingin  melepaskannya ‘Tuhan bolekah aku menyimpan yang satu ini…’ batinku menjerit. Aku menghembuskan nafasku pelan, aku harus membuang semuanya kalau benar-benar ingin melupakannya termasuk kalung ini. aku meletakkan kardus besar tadi di lantai kemudian memejamkan mataku meyakinkan diriku untuk melepas kalung tersebut. Aku memegang kalung tersebut kemudian mengangkat kardus tersebut lalu membuka pintu. Langkahku terhenti ketika mataku menangkap siluent pria yang baru saja ingin aku lupakan. ‘Apa yang ia lakukan disini’ batinku resah kalau seperti ini dia akan mempersulitku. Aku memasang wajah datar sedatar mungkin yang aku bisa, sungguh… seandainya tidak ada kejadian beberapa saat yang lalu, aku mungkin sudah berhambur kepelukannya, merasakan bau maskulin yang sudah hampir dua minggu tidak tercium olehku tapi aku menahan segalanya berusaha berpikir dengan benar bahwa pria ini yang sudah mengecewakanku. Mata hitam pekat yang biasanya terlihat mengimintidasi itu menatapku dengan teduh. Ini bukan pertama kalinya dia menatapku dengan tatapan tersebut tapi rasanya aku selalu luluh dan ingin memaafkannya. Tapi kali ini tidak ada maaf baginya semuanya sudah berakhir aku tidak boleh terpengaruh dengan tatapannya itu.

“honey… Maafkan aku…”suara bassnya mengalun lembut di telingaku. Ia menyodorkan sebuah bunga mawar tiga warna (putih, merah dan pink) padaku. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi, ia seperti mengerti tatapanku yang sedang marah tapi tidak ingin menunjukkannya. Ia kemudian beralih melihat ke arah apa yang ku bawa dan kalung yang bergantung di tanganku.

“apa ini? kau mau kemana? Kenapa melepas kalungmu?” Tanyanya agak terkejut saat melihatku tidak memakai kalung pemberiannya.

“pikyeo… (minggir)” ucapku datar menyuruhnya minggir. Aku ingin keluar berjalan menyalip di ruang yang ada di sampingnya tapi dengan cepat ia menghalangiku. Aku menatapnya dengan sinis merasa marah tapi lihatlah tatapan mengimintidasiku ternyata masih tidak mempan untuknya buktinya dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

“kau belum menjawabku honey… kenapa melepas kalungmu??” katanya berusaha tidak tersulut emosi karena masalah kalung ini, Aku menatapnya jengah.

“ku bilang minggir…” kataku lebih keras berusaha melabraknya tapi nyatanya malah ia yang menarik tanganku masuk ke dalam aparteman. Karena terkejut kardus yang ku bawa tadi pun terjatuh membuat isinya terhambur keluar. Ia melihat semua isi kardus tersebut sedikit terkejut kemudian kembali menatapku dengan ekspresi meminta penjelasan.

“uri ijen keuccira…” akhirnya kata-kata itu mengalun dari mulutku.

“sireo…” tolaknya mentah-mentah.

“aku sudah tidak sanggup… kita putus saja…” kataku lagi mataku perih menahan air mata yang hendak keluar.

“oke… dengar ini pasti karena tadi… sung_

“tidak perlu…” aku membuang muka tidak ingin melihatnya, memotong dengan cepat omongannya yang ingin menjelaskan kejadian tadi. Aku takut ketika mendengar penjelasannya semuanya akan kembali lagi seperti semula. Aku tidak ingin mendengarnya aku tidak mau ini terulang lagi aku tidak mau tersakiti lagi, jadi lebih baik di akhiri saja.

“honey.. dengarkan aku…” ia meraih tanganku tapi dengan cepat kutepis kemudian mundur selangkah menjauh darinya. Ia terlihat terkejut dengan perlakuanku merasa menyesal telah melakukan kesalahan fatal tadi.

“ga…(pergi)” aku membuang muka tidak ingin menatapnya berusaha keras menahan air mataku.

“tidak… deng_

“dagaraguyo…(aku bilang pergi..).” Potongku cepat.

“Rei… tidak sebelum kau mendengar penjelasanku” ucapnya. Aku beranjak meninggalkannya di ruangan tersebut tapi dengan cepat ia meraih lenganku. Aku memberontak tidak ingin disentuh olehnya tapi dengan cepat ia membawaku kepelukannya. Air mataku turun begitu saja, aku berusaha memberontak di pelukannya agar ia mau melepaskan pelukan hangatnya tapi tidak ia memelukku dengan erat. Aku lelah percuma saja melawan, tenagaku hanya terkuras habis karena hal ini. Jadi, aku hanya pasrah dalam pelukannya, tanganku menggantung di sisi tubuhku tidak membalas pelukan tersebut. Aku memejamkan mataku diam-diam menikamti pelukannya. Sungguh, aku merindukannya… perasaan itu masih ada tapi rasa sakit itu membuat kerja otakku mengatakan hal yang berbeda dengan hatiku. Aku memejamkan mata menikmati debaran jantungnya yang masih sama setiap kali dia memelukku, bau feremon tubuhnya tercium sampai rasanya ingin merusak jalan pikiranku dan pelukannya masih hangat sama seperti dulu.

“Rei… maaf… sungguh aku minta maaf… aku sudah berusaha datang tepat waktu tapi terjadi sesuatu di jalan dan membuatmu menunggu sampai seperti ini… sungguh aku minta maaf…” katanya dengan suara parau yang masih bisa ku dengar, aku hanya menangis mendengar penjelasan darinya. Rasanya sudah cukup ini sudah keterlaluan, aku mendorongnya dengan sisa tenagaku yang telah lelah karena menangis dan memberontak, sampai pelukan hangat itu terlepas. Kulihat matanya yang kini memerah dan hampir mengeluarkan air mata.

“aku minta maaf karena membuatmu kecewa di hari anniversary kita… aku hanya… aku… minta maaf karena membuatmu kecewa… aku tahu ini bukan yang pertama kalinya dan sungguh aku sangat menyesal  karena ini terulang tapi sungguh kali ini bukan karena pekerjaan… ini murni karena sebuah kecelakaan… aku minta maaf…” katanya dengan menunduk.

“aku tahu mungkin kau sudah lelah mendengar kata maaf dariku… tapi aku tidak tahu mau mengatakan apa lagi selain kata maaf padamu… maaf pun pasti tidak cukup sama sekali untuk kesalahanku kali ini…” katanya lagi aku hanya diam tidak merespon, aku hanya melihatnya dengan pipi yang masih di aliri air mata.

“jika ada yang bisa kulakukan agar kau bisa memaafkanku akan kulakukan, tapi tolong… jangan memintaku untuk mengakhiri hubungan kita… aku mencintaimu Reina… sangat…” katanya lagi sambil menatapku dengan sakit bahkan rasa sakitnya itu terlihat sekali di matanya sampai air matanya lolos begitu saja melewati pipinya. Wajah tampan dengan tatapan teduhnya itu sekarang terlihat keruh karenaku.

“jika membunuhku adalah hal yang tepat, lakukanlah… tapi tolong jangan mengakhiri hubungan kita… lebih baik kau membunuhku…”katanya lagi kemudian menunduk menyembunyikan tangisannya. Aku memukul dadanya kesal membuatnya terdorong ke belakang.

“nappeun… (jahat)” kataku sambil memukul kembali dadanya berkali-kali dengan kesal yang membuatnya terdorong ke belakang tapi dia kembali ke posisinya, menjadikan dirinya sebagai benteng kokoh menerima pukulan dariku berkali-kali. Tanganku berhenti di dadanya meremas setelan yang ia pakai dengan erat.

“geure… aku ingin sekali membunuhmu… ingin sekali!! tapi tubuhku ini menghianatiku karena tidak mau mendengar kemauanku” air mata itu lolos lagi melewati pipiku. Ia menarikku dalam pelukannya menenangkanku dengan mengusap kepalaku lembut.

“mianhe… chagiya… mianhe… (maaf… sayang… maaf…)” katanya mengusap dan sesekali mencium puncak kepalaku menenangkan. Aku membalas pelukannya sambil sesekali memukul punggungnya masih merasa kesal yang membuatnya terus meminta maaf menenangkanku supaya berhenti menangis.

Suara dering ponselku terdengar membuat kami mengalihkan perhatian dan melepaskan pelukan hangat itu. Ia menatapku seakan bertanya siapa? mengganggu saja, aku pun beranjak melihat ponselku. Tck!!! Aku pikir apa ternyata hanya pemberitahuan anniversary kami yang ke 2. Tiba-tiba lengan kokoh tadi memeluk leherku dari belakang, aku rasa dia sudah lihat pemberitahuan itu karena sekarang dia tersenyum melihatku.

“selamat hari anniversary yang kedua honey… aku mencintaimu…” sebuah kecupan mendarat di pipiku membuatku terbelalak.

“memangnya aku memaafkanmu…?” kataku datar yang membuatnya mengerutkan wajahnya lucu.

“aku tidak memaksamu untuk memaafkanku tapi aku juga tidak menyetujuimu untuk mengakhiri hubungan kita…” jawabnya sambil tersenyum, oh Tuhan semoga saja dia tidak mendengar debaran jantungku yang bekerja dua kali lebih cepat sekarang hanya dengan melihatnya tersenyum, apalagi wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja, ia bahkan masih memelukku dari belakang.

“kalau aku tidak mau…” kataku bersih kukuh.

“aku akan tetap mengganggumu sampai kau jengah dan akhirnya kembali kepadaku…” katanya dengan pasti, aku tersenyum meremehkan.

“bagaimana kalau ternyata aku bersuami…” kataku tersenyum meremehkan.

“aku akan menyingkirkan siapa saja yang berani menghalangiku untuk mendapatkanmu” katanya dengan tatapan mengerikan dan senyuman miring seperti biasa. Uhh bahkan senyum miring yang mempesona itu membuat kerja jantungku tidak stabil.

“issh dasar pemaksa” kataku mendelik yang membuatnya tersenyum manis.

“tapi kau menyukai si pemaksa ini… kan?” katanya sambil tersenyum menggoda. Oh lihatlah kapan dia tidak membuat kerja jantungku tidak stabil kalau seperti ini.

“isshh aniya…(tidak)” bohongku kalau aku mengakuinya dia akan semakin besar kepala.

“jinjja… lalu kenapa jantungmu berdetak cepat…” aku terkejut mendengar ketika mendengar kalimat itu meluncur dengan mulusnya dari mulut manis yang sedang tersenyum itu. Ahhh rasanya mukaku panas sekali, wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus sekarang… memalukan sekali. Material lembut menyentuh pipiku mengecupnya lembut membuatku terkejut mataku berkedip sesaat.

“ lihatlah… manis sekali…” Ia kemudian mengelus pipiku menatap mataku sambil tersenyum. oh perlakuannya membuatku tak berkedip beberapa saat hanya menatap matanya mencari kebohongan di dalamnya tapi nihil hanya ada pancaran kebahagiaan dan seperti rasa lelah disana.

“aku merindukanmu… sangat merindukanmu…” katanya kemudian membawaku kepelukannya lagi memelukku dengan erat. Akupun membalas pelukannya, pelukannya membuatku berjinjit untuk sedikit menyamai tingginya ketika ia menyerukkan kepalannya di pundakku menghirup aroma tubuhku.

“aku mohon jangan katakan perpisahan lagi… aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kau tidak meninggalkanku… aku janji aku tidak akan membuatmu tersakiti lagi jika keluar dari dunia entertainment membuatmu bersamaku aku akan melakukannya… tapi tolong tetaplah di sisihku…” katanya di sela pelukan kami, kurasakan tetesan air jatuh di pundakku yang pasti adalah air matanya. Ya Tuhan apa aku sudah keterlaluan tidak mempercayainya.

“aku disini… selalu disini… di hatimu di sisimu…” kataku menenangkan.

“terimakasih… aku mencintaimu, ani(tidak) I do love You… Kai always love Reina” katanya lagi.

“mmmm Reina always do love Kai…” kataku menimpali.

“jadi apa aku dimaafkan??” tanyanya.

“tck siapa bilang aku memaafkanmu…” aku memukul punggungnya membuat dia tertawa pelan. Aku melepaskan pelukan eratnya yang membuatnya kecewa kalau seperti ini aku bisa mati karena jantungan karenanya.

“tidak semudah itu… kau harus dihukum” kataku ia hanya menatapku pasrah.

“okey apa hukumannya honey???” Tanya Kai yang kini menuntun duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.

“haruskah aku membersihkan kekacauan ini…” katanya lagi melihat barang-barang yang berantakan di ruang tamu karena pertengkaran tadi.

“itu salah satunya” kataku.

“salah satunya? Lalu apa lagi? asalkan kau tidak meminta perpisahan aku akan menyetujuinya” kata Kai.

“mmmm tidak ada pelukan atau ciuman setelah ini jika kita bertemu, kau harus menjaga jarak dariku selama seminggu…” kataku yang membuatnya terbelalak.

“tidak… itu kejam sekali… kau kan tahu kalau kita tidak pernah bertemu selama dua minggu ini dan sekarang saat aku punya waktu kita harus menjaga jarak, tidak… tidak mau…” kata Kai tidak setuju.

“ya sudah pulang sana…” usirku kemudian beranjak dari sofa menuju dapur kulihat Kai mengikutiku dari belakang.

“eits… jauh-jauh jarak 1 meter dariku…” aku berbalik mengancamnya kemudian melanjutkan jalanku.

“Rei… ini tidak adil kau kan tahu kita tidak pernah bertemu… aku sangat merindukanmu tahu…” lihatlah Kai yang kita lihat di panggung yang katanya terlihat dewasa ini bersikap sangat kekanakan seperti meminta ice cream di musim dingin pada ibunya.

“itu resikonya… kalau tidak suka yaa sudah pergi sana…” kataku sambil membuka kulkas mengambil cake dan membawanya ke ruang tamu dan Kai masih setia mengikutiku seperti anak yang sedang berusaha merayu ibunya agar dibelikan permen rasanya lucu sekali mempermainkannya.

“okey baiklah… di mulainya besok saja yaaa hari ini kan perayaan anniversary kita…” mintanya padaku. Aku hanya menimbang-nimbang yang membuatnya sedikit gugup dan terus memohon.

“okey” kataku yang membuatnya langsung berhambur memelukku.

“gomawo chagiya…. Selamat hati jadi yang ke 2 aku mencintaimu… Kim Jongin berjanji akan selalu mencintai, manyayangi, menerima Park Reina mendampinginya ketika susah dan senang, sakit dan sehat” kata Kai lantang.

“tch” aku mendecih mendengarnya.

“Park Reina berjanji akan selalu mencintai, menyayangi, menerima Kim Jongin apa adanya mendampinginya ketika susah dan senang, sehat dan sakit dan memberinya hukuman ketika dia nakal” kataku yang membuatnya tertawa.

“saranghae…” kata Kai di sela pelukan kami.

“nado saranghae…” kataku sambil memeluknya dengan erat menghirup oksigenku kembali dan kurasakan elusan tanganya di kepalaku dan ia mengendus di atas kepalaku mungkin menghirup aroma sampo yang menyeruak di rambutku yang katanya sangat disukainya.                 ______

 

Do you like my FF? please give me your comment or suggestion…

XOXO EXO-L

Iklan

2 thoughts on “My Mistake

  1. Wuaaaaa dah ngira Chanyeol. Eeeeh Kai!😂😂😂 daebak. Sempet nangis jg sedih bgt digambarinnya. Nice! Fighting and keep writingg ^^

  2. Duuhhh gk tau mau ngomong apa.. Yg pasti keren lahh.. Dugaanku juga bener, Kai yg jd cast cwoknya.. Wkwkwkwkw
    Salam kenal.. Aku reader baru di sini.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s