The Gray Autumn (Chapter 4)

IMG_20160103_094350

The GrayAutumn – Part.4

By : Ririn Setyo

Song Jiyeon || Oh Sehun

Genre : Romance ( PG – 16)

Length : Chaptered

FF ini juga publish di blog pribadi saya dengan cast yang berbeda http://www.ririnsetyo.wordpress.com

Jiyeon menatap sekilas ke arah supir pribadi yang sedari tadi memperhatikannya dari kaca spion, terlihat khawatir saat wanita itu berkali-kali menyeka air mata yang membasahi pipinya. Supir pribadi berumur dua puluh empat tahun yang baru beberapa bulan ini bertugas mengantarkan Jiyeon kemana pun, supir yang oleh Oh Sehun juga diberi tugas untuk menjadi bodyguard yang memastikan jika Jiyeon akan selalu baik-baik saja. Jiyeon tersenyum dari balik kaca spion saat sang supir pribadi Xiumin yang menurut Jiyeon bertubuh terlalu kecil, jika merangkap sebagai bodyguard untuk menjaganya itu, Xiumin lagi-lagi menatap ke arahnya khawatir.

“Xiumin, bisakah kau membawaku berkeliling kota, sebelum kita kembali ke kantor ayahku?” ucap Jiyeon seraya menjejalkan tangannya ke dalam tas biru yang tergeletak di sampingnya, meraih satu botol kecil berwarna coklat dengan tablet merah muda di dalamnya.

Tablet merah muda bertuliskan Lexotan (obat penenang yang sudah di konsumsi Jiyeon sejak 10 bulan yang lalu jika ingin tidur tenang tanpa mimpi buruk yang menghantuinya di sepanjang Jiyeon memejamkan kedua matanya), Xiumin mengangguk mengerti dan kembali focus ke jalanan padat merayap di depannya, laki-laki bermata sipit tanpa lipatan di kelopak matanya itu terlihat menarik napas pelan, tiap kali menatap istri majikannya itu menangis sendirian di dalam mobil. Xiumin merasa jika nasib nyonya besar dengan semua kesempurnaan dunia yang tak terbantahkan itu, memiliki nasib yang sedikit memilukan hati.

Hening! Xiumin tak lagi mendengar isak kecil di belakang punggungnya, laki-laki itu kembali menatap ke belakang melalui kaca spion. Dan betapa terkejutnya Xiumin saat mendapati Jiyeon sudah tergelak tak bergerak di atas jok mobil, wanita itu bahkan tetap diam saat Xiumin meneriakkan namanya berkali-kali.

~000~

Sehun menghentikan penjelasannya di depan podium saat ponsel layar sentuh miliknya kembali bergetar, menampilan nama pemanggil yang sama sejak beberapa menit yang lalu. Sehun tersenyum samar dan memilih untuk mengabaikan panggilan itu, dia menekan tombol merah di ponsel dan kembali focus pada penjelasannya untuk klien penting dari timur tengah guna kontrak kerja sama yang mencapai angka ratusan juta dolar. Namun lagi-lagi ponselnya bergetar, kali ini sebuah pesan dari nama yang sama terpajang di layar depan. Nama dari supir pribadi yang di bayar Sehun untuk mengantar Jiyeon kemana pun wanita itu inginkan, Minra yang berdiri di samping Sehun terlihatnya, Sehun pada akhirnya meraih ponsel, membuka pesan dan membacanya malas.

Tuan Oh, Nyonya Jiyeon pingsan dalam perjalanan menuju kantor Direktur Song, apa yang harus saya lakukan sekarang

Sepersekian detik mata Sehun membulat, tangannya bergetar dan dalam satu gerakan Sehun sudah berjalan cepat sebelum akhirnya berlari keluar dari ruang meeting begitu saja. Semua orang termasuk Minra terkejut dan binggung dengan apa yang dilakukan Sehun, Minra bahkan tak bisa berbuat apa-apa saat klien Sehun mengeluh kecewa sesaat sebelum ikut keluar dari ruang meeting.

Bagaimana mungkin Sehun mengacaukan kontrak kerja, berharga ratusan juta dolar begitu saja?

Dan di detik berikutnya Minra pun hanya bisa mengerang kesal saat sadar akan satu hal, satu hal yang sejak dulu selalu mampu membuat Sehun panik dan kehilangan akal sehatnya. Satu hal yang selalu mampu membuat Sehun melupakan dunianya begitu saja.

~000~

In The Car

3 Hours Later

Jiyeon mengerjapkan matanya yang masih terasa berat saat merasakan usapan lembut di atas kepalanya, wanita itu juga merasa jika ada satu tangan yang melingkar di perutnya. Jiyeon kembali mengerjab, berusaha mengumpulkan semua nyawanya, mengabaikan rasa melayang yang mendera kepalanya karena efek obat tidur yang masih terasa. Jiyeon terdiam saat menyadari jika ada aroma tubuh seseorang yang dikenalnya menelusup masuk ke indra penciumannya, aroma tubuh dari seorang pria yang dibencinya. Dengan ragu Jiyeon membalikkan tubuhnya dari posisi menyamping, menatap terkejut sosok kejam yang ada tepat di atas wajahnya, menatapnya dengan senyum hangat dengan ekspresi wajah sarat kelegaan yang terbaca mata. Jiyeon pun semakin terkejut, saat menyadari jika kepalanya bertumpu di atas pangkuan pria yang kini sudah mengusap wajahnya lembut.

“Sehun Oppa?

Jiyeon terkejut, dia berusaha kembali mengingat semua kejadian sebelum dia akhirnya tertidur di dalam mobil. Jiyeon masih sangat ingat jika dia sedang berada di mobil, hanya dengan supir pribadi tanpa Sehun, lalu menelan dua butir Lexotan dan setelah itu Jiyeon merasa sangat mengantuk. Namun kini Sehun ada di depan matanya, membelai rambutnya lembut di tiap helainya, tersenyum hangat, mengusap lembut pipinya.

“Bagaimana Oppa bisa kemari?” Jiyeon bangkit dari posisinya, menahan rasa melayang dan sedikit pening di kepala karena efek Lexotan yang belum beranjak. Mata bening wanita itu menatap Sehun yang justru hanya tertawa.

“Supir pribadimu mengirimiku pesan singkat, dia bilang kau pingsan di dalam mobil.” Sehun kembali tertawa kecil melihat ekspresi terkejut Jiyeon yang terlihat bodoh di matanya, ekspresi yang justru sangat disukai Sehun sejak dulu. “Xiumin benar-benar payah, bagaimana mungkin dia tidak bisa membedakan orang pingsan dengan orang yang sedang tidur,” Sehun menggelengkan kepalanya, dia masih tertawa, laki-laki itu merasa tak habis pikir dengan jalan pikiran seorang Lee Xiumin.

“Jadi Oppa ke sini karena mengira aku pingsan?” ucap Jiyeon lirih, sedikit terkejut mendapati Sehun yang terlihat peduli padanya.

Eoh! Karena jika aku tidak kemari, maka Xiumin pasti akan menghubungi ayahmu dan jika itu terjadi pasti semuanya akan kacau, kau tentu sangat tahu dengan sifat berlebihan ayahmu jika sudah menyangkut tentangmu, Song Jiyeon.”

Seketika Jiyeon mengerjab, dia tertawa keras, memukul sekilas kepalanya sendiri, merasa sangat bodoh saat otaknya yang sempat berpikir jika Sehun mengkhawatirkan dirinya hingga repot-repot menyusulnya.

Sehun? Merasa khawatir? Yang benar saja! Mana mungkin pria kejam, punya hati macam Sehun merasa khawatir pada wanita yang selalu di sakitinya.

“Iya kau benar,” Jiyeon memilih berpaling lalu menyandarkan punggungnya di jok mobil.

Jiyeon kembali mengerjabkan matanya, peningnya belum juga hilang, dia memejamkan kedua mata lalu bersandar di lengan Sehun, melepaskan semua rasa pening di kepala dan rasa sakit yang membelengu hatinya. Entahlah sejak dulu Jiyeon akan selalu merasa tenang dan terlindungi jika bersandar pada laki-laki kejam itu, satu fakta yang lagi-lagi sangat di benci Jiyeon sejak dulu.

Sehun melirik Jiyeon yang bersandar di lengannya, menarik napas lega, senyum samar terulas di ujung bibirnya. Sehun menatap wanita yang sudah membuatnya panik beberapa jam yang lalu, hingga dia meninggalkan rapat pentingnya begitu saja, berlari kesetanan, kalut, memaki siapapun yang menghalagi laju mobilnya saat hendak menuju tempat Jiyeon berada. Tanpa sadar Sehun ikut menyandarkan kepalanya di atas kepala Jiyeon, meraih jemari Jiyeon dalam genggaman dan memejamkan kedua mata. Menikmati kebersamaan mereka yang kali ini kembali terasa hangat dan tenang, tanpa adu argument yang menguras hati, Sehun sangat menyukai saat-saat seperti ini.

“Ayahmu bilang sekarang kau diberi pekerjaan untuk mendesain mobil?” ucap Sehun pada akhirnya, memecah kesunyian hangat di antara mereka.

Jiyeon tidak menjawab, wanita cantik itu hanya menganguk pelan.

“Sejak kapan kau tertarik dengan barang membosankan itu?” Sehun tertawa kecil saat Jiyeon melepaskan genggaman tangannya lalu memukul pelan lengannya, Sehun sangat tahu jika sejak dulu Jiyeon tidak pernah tertarik dengan usaha mobil ayahnya itu.

“Sampai sekarang pun aku tetap tidak merasa tertarik, Sehun.” Jiyeon mengerakkan kepalanya, membuat Sehun mengangkat kepalanya lalu menatap Jiyeon menekuk wajahnya.

“Kau—- Hey! Bukankah kau bisa mendesain apa saja, Sehun? Berarti kau bisa membantuku kan?” ucap Jiyeon dengan wajah yang tiba-tiba sudah berbinar, menyadari fakta jika Sehun punya keahlian tersembunyi untuk mendesain kapal pesiar dan juga mobil.

Jiyeon bahkan berani bertaruh jika bukan karena mewarisi perusahaan milik ayahnya, saat ini Sehun pasti akan menjadi pesaing berat untuk perusahaan mobil ayahnya, kemampuan mumpuni yang di miliki Sehun dalam mendesain sebuah mobil tidak bisa diabaikan, keahlian yang hanya diketahui oleh Jiyeon dan Jongki.

“Sayangnya aku tidak berniat sedikit pun untuk membantumu, Jiyeon. Aku punya banyak pekerjaan yang lebih penting, ketimbang membantumu yang tidak akan memberi manfaat apapun untukku,”

Jiyeon memaki dirinya sendiri saat menyadari kesalahan meminta bantuan pada Sehun, laki-laki sombong itu mana mungkin membantunya. Jiyeon membuang muka lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, seketika itu juga Jiyeon menjerit, dia panik lalu cepat-cepat menarik laci kecil yang ada di bawah Jok yang di dudukinya, laci kecil untuk menyimpan beberapa pakaian Jiyeon untuk keperluan pekerjaan. Dalam satu gerakan cepat Jiyeon menyambar satu dress orange motif bunga kecil ke dalam genggaman, bergumam tak jelas, Sehun mengeryitkan dahinya. Jiyeon segera membuka pakaiannya, tak mengubris Sehun yang berteriak seraya segera menekan tombol hingga kaca gelap tak tembus pandang kini sudah melapisi semua kaca jendela mobil. Xiumin atau pun orang lain yang berdiri di luar sana, tidak akan bisa melihat Jiyeon yang kini hanya terbalut pakaian dalam.

“Setengah jam lagi aku ada rapat penting bersama ayah, ya Tuhan bagaimana mungkin aku melupakannya,—”

Omel Jiyeon, dia menggulung sal rambutnya ke atas asal, lalu mengenakan dress ke tubuh langsingnya yang sempurna. Jiyeon menatap Sehun sekilas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, kalimat yang membuat Jiyeon menarik satu sudut bibirnya, dia tidak peduli ketika mendengar Sehun berdecak kesal di belakang punggungnya.

“Jangan memandangi punggungku terlalu lama Sehun, aku benar-benar tidak punya waktu untuk melayanimu saat ini.” ucap Jiyeon saat sudah berhasil memakai dress di atas lutut ke tubuhnya.

Cih! Kau pikir aku punya waktu untuk menidurimu saat ini? Aku ada rapat penting berharga lebih dari US$ 100 juta setengah jam lagi,” jawab Sehun seraya mengerakkan tangannya membantu menarik resleting dress yang di kenakan Jiyeon, saat mendapati wanita itu kesulitan untuk melakukannya.

Jiyeon berbalik menghadap Sehun, dia terkekeh kecilnya, melapisi dress dengan luaran semi formal berwarna senada. Jiyeon menggerakkan jemarinya di atas rambut hitamnya yang kusut, melirik Sehun yang menatapnya lekat sejak tadi, bahkan sejak gadis itu masih tertidur di atas pangkuannya.

“Kenapa?”

Sehun tidak menjawab hanya terus menatap ke dalam bola mata sebening kristal favoritnya, menatap pahatan sempurna dari wanita yang selalu di sakitinya, namun selalu mampu membuat Sehun merasa tidak sendirian di dunia ini. Perlahan Sehun mendekatkan wajahnya, menarik pinggang Jiyeon ke arahnya, namun dengan cepat Jiyeon menahan bahu laki-laki itu sesaat sebelum Sehun menyatukan bibir mereka.

“Sehun aku sudah terlambat! Kau lupa jika sejak dulu kau selalu membutuhkan waktu yang lama jika mencium,—“ Ucapan Jiyeon terputus, Sehun tidak peduli, pada akhirnya Sehun tetap menyatukan bibirnya di atas bibir Jiyeon yang semerah cherry.

Sehun mencium Jiyeon sangat lembut dan hati-hati, laki-laki itu benar-benar tidak ingin menyakiti Jiyeon karena ciumannya, walau nyatanya Sehun selalu menyakiti hati wanita itu sejak dulu kala. Sehun merapatkan tubuh mereka, mendorongnya pelan hingga Jiyeon terbaring di atas sofa, mencium tiap inci bibir manis Jiyeon dengan lumatan seduktif  super lembut tapi sangat menuntut. Tangan Jiyeon bergerak menggalung di leher Sehun, menekan tengkuk laki-laki itu hingga Sehun semakin menggila dan tak berniat untuk berhenti. Mengulum semua permukaan bibir Jiyeon nyaris tanpa jeda bernapas, hingga Jiyeon terdengar mendesah berkali-kali dalam lumatan Sehun yang memabukkan jiwa.

Jiyeon pun terlihat tersenyum di sela-sela ciuman panjang mereka, tersenyum dengan fakta jika Sehun selalu sulit menahan diri dan tak mau berhenti jika sudah menyentuhnya. Sehun bahkan selalu mengatakan jika semua bagian dari tubuh Jiyeon, dari ujung kepala hingga ujung kaki selalu membuat laki-laki itu merasa ketagihan layaknya candu, Sehun selalu menginginkan Jiyeon lagi dan lagi. Jiyeon mengerjabkan mata beningnya kuat, berusaha keras untuk menahan hasrat jiwa yang mulai naik ke permukaan karena sentuhan jemari Sehun di balik dress yang di kenakannya, dia tidak melanjutkan ciuman panas ini lebih lama lagi, karena jika itu terjadi maka sudah bisa dipastikan Sehun akan menidurinya di dalam mobil saat ini juga.

Oppa!

Jiyeon mendorong bahu Sehun kuat, mengabaikan erangan tidak suka Sehun karena ciuman mereka terhenti. “Aku benar-benar sudah sangat terlambat,” lanjut Jiyeon, dia memandang wajah cemberut Sehun, persis seperti anak berumur lima tahun yang di perintahkan ibunya untuk membuang semua permen coklat kesukaannya.

Jiyeon tertawa, dia mengusap wajah Sehun, ketika Sehun menarik tubuhnya hingga kembali duduk di atas sofa masih dengan wajah kecewa. Jiyeon bangkit membenarkan tatanan dress yang dipakainya, tersenyum menatap penampilan berantakan Sehun saat ini. Tanpa perintah tangan Jiyeon bergerak merapikan rambut hitam Sehun, membenarkan tata letak dasi dan jas yang melekat pada tubuh laki-laki itu. Jiyeon tersenyum tipis saat Sehun lagi-lagi menatapnya dalam, tatapan penuh rahasia di baliknya yang sejak dulu selalu Sehun perlihatkan jika mereka hanya berdua, tatapan yang sejak dulu pula selalu tak pernah bisa dimengerti oleh Jiyeon sedikit pun.

“Semoga berhasil,” ucap Jiyeon saat Sehun membuka pintu mobil dan membuat laki-laki itu menolehkan wajahnya. “Aku memang akan selalu berhasil, Jiyeon.” balas Sehun, lalu tersenyum sombong yang terlihat sangat menyebalkan di mata Jiyeon, dia menghembuskan napas kesalnya.

Namun di detik berikutnya Jiyeon sudah terdiam, pandangannya terkunci pada Sehun, pria itu mencium keningnya penuh luapan rasa mengetarkan hati, diiringi sebaris kata-kata yang terdengar begitu tulus. Kata-kata yang lagi-lagi untuk kesekian kalinya selalu membuat Jiyeon semakin sulit untuk melepaskan Sehun, semakin sulit untuk meniadakan Sehun dari dalam hati dan pikirannya. Semakin sulit untuk membenci laki-laki yang pada kenyataannya, selalu mampu menyakiti hati dan hidupnya. Ya Jiyeon selalu tak bisa melakukan semua itu, Jiyeon terlalu mencintai pria brengsek dengan semua kekejaman dan rahasia hati di balik tatapan hangatnya saat ini.

“Berjanjilah untuk tidak kelelahan hingga jatuh sakit saat bekerja, karena jika itu terjadi maka kau akan membuatku tidak bisa bernapas, Oh Jiyeon.”

Sehun menjauhkan wajahnya seraya keluar dari mobil Jiyeon begitu saja, berjalan menuju mobilnya yang terparkir tepat di depan mobil Jiyeon. Meninggalkan Jiyeon yang terlihat tak mampu menahan senyum bahagia dengan apa yang di lakukan Sehun hari ini, meninggalkan Jiyeon yang lagi-lagi memaafkan semua kekejaman yang di lakukan Sehun pada hati dan hidupnya.

~000~

Jiyeon menatap Jongki, senyumnya lebar, dia mengabaikan tatapan tajam Jongki yang tak mengendur sejak dia menapakkan kakinya di ruang kerja sang ayah tercinta. Jongki kesal dan Jiyeon tahu betul akan hal itu, Jongki sangat disiplin, dia pasti akan mengamuk jika ada yang melanggar garis kedisplinan yang diterapkannya, meskipun yang melakukan itu adalah putri tercintanya, Song Jiyeon.

“Dari mana saja kau, Sweet Heart? Kau tahu, aku bahkan sudah bersiap untuk pulang?”

Jiyeon mengerjab saat Jongki berjalan mendekat, dia tidak menjawab sapaan manis Jongki yang justru terdengar mengerikan di telinga Jiyeon. Jiyeon tahu jika sebentar lagi Jongki akan murka, Jiyeon memutar otaknya untuk mendapatkan satu alasan masuk akal yang akan menyelamatkannya dari amukan Jongki sebentar lagi.

“Apa kau lupa jika hari ini adalah hari pertamamu bekerja? Bagaimana bisa kau meninggalkan kantor selama hamir empat jam! Apa Jongin menahanmu dengan puluhan batang permen kapas dan mengajakmu bermain ke taman hiburan?”

Jiyeon menggeleng seketika. “Tidak ada yang tahu aku penggila permen kapas kecuali ayah, ibu dan Sehun Oppa. Dan aku bukanlah pecinta taman hiburan, Ayah.” jawab Jiyeon santai, mencoba tertawa pelan untuk mencairkan suasana, dia terus memutar otak, mencari alasan yang tepat.

“Jangan mencoba mencari alasan Jiyeon,”

“Ayah aku—-” ucapan Jiyeon terputus saat wanita itu merasa jika ponsel yang di pegangnya bergetar, dia menatap nama seseorang di layar depan dan membaca cepat pesan singkat itu seraya melebarkan senyumnya.

“Aku menemani Sehun Oppa, tiba-tiba menantu Ayah yang sangat Ayah banggakan itu meneleponku, merengek memintaku menemaninya makan siang dan jalan-jalan. Sehun Oppa merasa sedikit lelah dengan pekerjaannya, jadi—-“

“Sehun?” Jiyeon menganguk pelan. “Ah! Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi, Sayang.” Jiyeon menghembuskan napas leganya, dia tetap tersenyum, Jongki mengangguk mengerti seraya mengusap kepalanya lembut.

Ya sejak dulu Jongki akan selalu memaklumi jika menyangkut tentang Sehun, tentang seorang laki-laki yang sangat dipercaya Jongki sebagai satu-satunya yang berhak untuk menjaga malaikat kecilnya di dunia ini, tanpa pernah tahu segala kekejaman yang telah ditorehkan Sehun pada Jiyeon selama ini.

Jongki mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajahnya, berbalik, lalu berjalan menuju meja kerjanya untuk meraih sebuah map disana. Jongki tersenyum sekilas lalu menyerahkan berkas dalam map berwarna kuning pada Jiyeon. Jiyeon membuka berkas, dahinya berkerut, menatap Jongki, dia ingin protes tapi tertahan di tenggorakan, Jongki sudah lebih dulu mengeluarkan ultimatum yang tak mampu Jiyeon bantah.

“Aku memutuskan untuk menyerahkan semua hal tentang desain mobil pesanan Jongin padamu, tanpa bantuan tim kreatif. Siapkan malam ini juga, karena besok pagi kau sudah harus menyerahkannya pada Jongin, kau mengerti?”

“Ayah! Aku tidak bisa mendesain mobil?” Jongki melipat tangannya di depan dada, menatap Jiyeon tidak peduli. “Itu urusan mu Sayang, bukankah kau yang memutuskan untuk bekerja disini?”

“Iya tapi—-“

“Jangan kecewakan ayahmu,” Jongki mengusap bahu Jiyeon lembut, merangkulnya seraya membawa gadis itu melangkah keluar dari ruang kerjanya. “Ayah mengandalkanmu Jiyeon, kau pasti bisa!”

Jiyeon menatap Jongki memohon. “Jangan lakukan ini padaku, tolong biarkan aku dibantu tim kreatif.” Jiyeon memajukan bibirnya kesal saat Jongki hanya mengeleng.

“Ingat jangan minta bantuan pada Sehun,” Jiyeon menolehkan kepalanya, dia semakin kesal, mengerang lalu menghentakkan kakinya saat Jongki hanya tertawa senang di sebelahnya.

~000~

Song Jiyeon wanita yang sudah pulang ke rumah sejak empat jam lalu itu, kini berjalan pelan menuju ruang pribadi Sehun, pria itu tidak kunjung keluar dari ruangan, sejak dia pulang ke rumah tiga jam lalu. Terbalut dalam sweater coklat corak garis warna warni dan celana bahan kain warna putih, di tangan Jiyeon tablet berlayar besar hingga 12 inci dan selembar kertas yang terlihat bergerak-gerak saat Jiyeon mengayunkan tangannya.

Jiyeon memutar knop pintu perlahan, memajukan wajahnya untuk menelitik ke dalam ruangan, ruangan itu bergaya klasik elegant yang kental, terlihat jelas dari semua ornament dan arsitekturnya. Sofa coklat besar dan sofa panjang merah di bagian tengah, beralas permadani warna senada. Perapian hangat, kaca besar di atasnya, buku-buku tebal tertata rapi dalam lemari kaca yang berjejer di samping pintu. Pintu ruangan kecil dimana terdapat Sehun di dalamnya, duduk di hadapan sebuah leptop, wajahnya sangat serius. File-file penting terlihat memenuhi meja kerja Sehun, di belakang Sehun ada lemari kaca yang memajang beberapa barang antik yang menjadi koleksi dari Jiyeon. Ya Sehun menyimpan semua benda antik yang Jiyeon sukai di lemari itu.

Ah! Ternyata kau disini,” sapa Jiyeon ceria, Sehun bergeming dari balik layar leptop di depannya.

Sehun mengabaikan kehadiran Jiyeon yang kini sudah berdiri di depan meja, dalam satu gerakan Jiyeon sudah meletakkan tablet dan kertas yang dibawanya sedari tadi tepat di atas berkas yang sedang Sehun kerjakan. Dia tidak peduli, Jiyeon bahkan hanya menaikkan bahu saat Sehun menatapnya tajam, selayak kaum Assassin jika hendak menghabisi nyawa lawan-lawannya.

“Kau harus membantuku, Sehun.”

Jiyeon mendudukkan tubuhnya di sebuah meja lampu kecil tepat di samping Sehun, menunggu reaksi Sehun yang sayangnya tak dia dapatkan. Laki-laki itu hanya menyisihkan tablet dan kertas yang Jiyeon berikan, lalu kembali focus pada layar leptop di depanya hingga Jiyeon mengerang kesal dan memutuskan untuk menuntaskan kalimatnya.

“Ayah memintaku mendesain mobil untuk klien kami besok pagi, kau tahu kan, aku hanya bisa mendesain pakaian dan tempat kosmetik. Aku sudah mencobanya tapi sepertinya gagal, kau bisa melihatnya di kertas itu. Jadi tolong aku Sehun, buatkan aku desain mobil dan masukkan ke dalam tabletku.” Jiyeon memiringkan wajahnya, meminta sedikit belas kasih pada laki-laki yang pada akhirnya menatap ke arahnya.

“Sayangnya aku sama sekali tidak peduli, Jiyeon! Itu masalahmu dan tidak ada hubungannya denganku, kau harus bertanggungjawab dengan pilihanmu,” Sehun kembali menatap layar leptopnya.

Jiyeon menghembuskan napasnya kasar, menahan emosi yang mulai naik ke permukaan. Jiyeon benar-benar harus bersabar demi harga dirinya di depan Jongin besok pagi, Jiyeon tidak akan pernah mempermalukan dirinya sendiri dan perusahaan ayahnya, hanya karena ketidakmampuannya dalam mendesain sebuah mobil.

Oppa, ayolah, sekali ini saja, eoh?” Jiyeon mengepalkan tangannya. “Apa aku harus memohon agar kau mau membantuku? Aku benar-benar tidak bisa mendesain mobil dan aku juga tidak mungkin mempermalukan perusahaan ayahku di depan Kim Jongin.”

Sehun menghentikan gerakan tangannya di atas leptop saat Jiyeon menyebut seorang pria yang begitu percaya padanya, jika selama ini sudah menjaga putrinya dengan sangat baik. Tanpa kata Sehun meraih selembar kertas yang Jiyeon serahkan padanya, menatap sekilas beberapa coretan pensil di atas kertas dan seketika itu juga Sehun langsung tertawa keras. Sehun bahkan semakin tidak bisa menahan tawa, saat Jiyeon berusaha menjelaskan apa yang dimaksud di dalam gambar, dia bahkan sampai kram di bagian perut.

Bagaimana tidak di kertas itu hanya terdapat sebuah gambar mobil yang terlihat seperti gerobak sampah dengan empat lingkaran yang di yakini Sehun sebagai ban, beberapa tiang peyangga, dua garis panjang yang menyerupai panggung dan sebuah high heel di samping tiang.

High heel? Yang benar saja! Hey! Ini rancangan sebuah mobil mewah, bukan rancangan panggung runway di pageralan busana akhir tahun.

 Yak! Berhenti menertawakanku, Oh Sehun!” Jiyeon berkacak pinggang, wajahnya marah padam. “Ini benar-benar tidak lucu! Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak bisa mendesain mobil, jadi berhenti tertawa dan bantu aku Sehun. Setidaknya jika kau tidak berniat membantu ku, pikirkan nasib ayahku, aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku jika sampai ayah menahan malu karena aku.”

Sehun menutup mulutnya, dia melirik ekspresi wajah Jiyeon yang terlihat sangat mengerikan bak seorang tiran yang ingin mencabut nyawanya. Sehun sedikit menunduk seraya meredam tawa, namun tetap saja laki-laki itu tak mampu melakukannya, dia tetap tertawa lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang tertata rapi.

“OH SEHUN!!!”

Sehun menarik napas untuk menghentikan tawa, dia melirik Jiyeon lagi seraya membuang kertas desain Jiyeon asal, Jiyeon mengerang dan segera menyambar kertas itu, lalu berteriak, memekakkan telinga Sehun.

“Hentikan semua ini dan keluarlah, kau hanya membuat konsentrasiku terpecah dan—-“ Sehun segera melanjutkan kalimatnya saat Jiyeon hendak memotongnya. “Berhenti berpikir jika aku akan membantumu, seperti aku membantumu tadi sore. Aku tidak peduli dan tidak akan membantumu, kau mengerti?”

“Kau benar-benar laki-laki paling brengsek yang pernah aku kenal.” Ucap Jiyeon lalu menarik tabletnya dari meja Sehun.

“Terima kasih untuk pujiannya, Jiyeon Sayang.” Sehun hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Hening! Tak ada lagi balasan dari Jiyeon namun Sehun tahu jika wanita itu masih berdiri di samping meja kerjanya, Sehun akhirnya menatap sekilas sosok sempurna Jiyeon yang masih menatapnya marah.

“Kenapa? Apa kau sedang berpikir, cara apa yang akan kau gunakan untuk membunuhku, Song Jiyeon?” Jiyeon menggulung kertas di tangannya, sebuah seringai angker terlukis di wajah cantiknya.

“Iyah, aku sedang berpikir tentang sebuah racun mematikan yang bisa membunuhmu, Sehun. Lalu setelah itu, aku tidak perlu lagi hidup dengan pria kejam sepertimu.”

Sehun tersenyum samar mendengar ucapan Jiyeon, dia sangat berharap itu menjadi kenyataan suatu hari nanti. “Ya lakukan saja, Jiyeon, karena aku juga sudah sangat muak menjalani sisa hidupku bersamamu,”

Suara Sehun terdengar sangat dingin, menelusup ke dalam sanubari hingga Jiyeon kembali merasakan nyeri menyerang jantungnya, menghujam hingga ke bagian paling dasar. Mata bening Jiyeon berembun, dia tertawa sumbang, tangannya terkepal erat, lalu menatap Sehun dengan semua rasa yang terlalu benar dan terlalu salah.

“Tenang saja, aku pasti akan melakukannya sebelum kau yang membunuhku, benar begitu? Walaupun aku tidak tahu apa yang akan terjadi di hidupku, jika kau benar-benar tidak ada di dunia ini bersamaku, Oh Sehun.”

Jiyeon berbalik, dia melangkah perlahan meninggalkan Sehun yang sudah menatap punggung Jiyeon dalam diam, menatap wanita yang selalu menyembunyikan air mata di belakangnya. Menatap wanita yang selalu bersembunyi di balik senyum palsu kebahagian, hanya agar tidak terlihat rapuh di depannya. Menatap wanita yang selalu membuat Sehun, merasa jika dunia ini tak pernah berlaku adil padanya.

Tiga jam berlalu, Sehun merenggangkan tubuhnya saat rasa pegal mulai datang menghampiri, mematikan leptop dan membereskan semua berkas perusahaan sesaat sebelum beranjak dari meja kerjanya. Sehun berjalan pelan keluar dari ruangannya menuju ruangan depan, bermaksud untuk bersantai sejenak di atas sofa merah favoritnya. Namun langkah Sehun terhenti saat mendapati Jiyeon tertidur di atas sofa, dia memeluk tablet di dadanya dan selembar kertas desain di atas meja.

Sehun berjalan mendekat lalu berlutut di depan Jiyeon, menatap lekat wajah tenang Jiyeon yang tertidur pulas. Dia mengerakkan jari telunjuknya, menelusuri tiap inci dari pahatan sempurna yang selalu di sakitinya. Dengan hati-hati Sehun melepaskan tablet dari genggaman Jiyeon, menggerakkan pena di atas tablet, wajahnya serius, sesaat kemudian Sehun terlihat sudah tersenyum lalu mematikan layar tablet.

Sehun kembali menatap Jiyeon lekat, mengusap wajah wanita itu lembut. Menatap dengan semua luapan perasaan yang tersembunyi di baliknya, lalu Sehun mengangkat tubuh Jiyeon dengan kedua tangannya. Dia mengeratkan rangkulan saat Jiyeon mengeliat di dalam tidurnya, sebuah kecupan hangat Sehun sematkan di kening Jiyeon, lalu melangkah keluar dari ruangan, membawa Jiyeon masuk ke dalam kamar tidur mereka.

~000~

Jongin keluar dari mobilnya, berjalan tergesa menuju gedung kantornya, laki-laki dengan semua kesempurnaan ragawi itu tampak tersenyum ramah pada semua staf yang menyapanya pagi ini. Senyum memabukkan yang akan membuat semua karyawan perempuan di perusahaannya bersedia bekerja lembur tanpa bayaran, asalkan bisa terus melihat senyum dan sapaan lembut Jongin di tiap paginya. Jongin memasuki ruang kerjanya, melihat Jiyeon yang sudah duduk di sofa, wanita cantik itu tampak menguap, mengetukkan jari-jarinya di atas meja. Satu kebiasaan Jiyeon yang untuk kedua kalinya tertangkap di penglihataan Jongin, kebiasaan yang membuat Jongin tanpa sadar tersenyum.

“Maafkan aku Jiyeon, aku terlambat!” Jongin membungkukkan kepalanya, dia menyesal, Jiyeon yang berdiri tangannya disilangkan di depan dada. Jiyeon terlihat sangat marah.

“Apa sudah menjadi kebiasaanmu membuang-buang waktu, Kim Jongin? Kau tahu berapa lama aku menunggu? Asal kau tahu, jika bukan hanya kau yang sibuk disini, aku bahkan lebih sibuk dari yang kau pikirkan.” Suara Jiyeon terdengar sangat dingin, nada suara yang Jiyeon pelajari dari Sehun.

Jongin terlihat kembali menundukkan kepalanya, kembali meminta maaf, dia sangat menyesal. “Jika bukan karena ban mobilku bocor hingga aku harus menunggu mobil pengganti, bisa kupastikan kalau aku tidak akan terlambat, Jiyeon. Maafkan atas—-“

Ucapan Jongin terputus, tiba-tiba Jiyeon sudah tertawa keras, wanita itu kembali duduk di sofa, masih tertawa. Jongin binggung, alisnya bertaut, menatap Jiyeon yang kini tengah mengusap sudut matanya yang berair.

Hey! Aku hanya bercanda Jongin, kau hanya terlambat lima belas menit, jadi tenanglah,” Jiyeon berusaha menghentikan tawa, saat dilihatnya Jongin yang terdiam. “Ayolah! Aku hanya bercanda.” lanjut Jiyeon dengan sisa tawa di ujung bibir, Jongin pada akhirnya tertawa kecil seraya duduk di sofa yang ada di depan Jiyeon.

“Selera humormu lumayan juga,”

Jiyeon mulai berhenti tertawa.

“Maafkan aku jika ini berlebihan, tapi—-“

“Tidak masalah.” Jongin tersenyum, senyum yang pada akhirnya membuat keduanya tertawa.

Ah! Baiklah saatnya aku kembali bekerja,”

Jiyeon menghidupkan layar tabletnya, membuka file desain mobil yang dibuatnya semalam, desain mobil yang pada dasarnya Jiyeon dapat dari beranda google dengan sedikit editan. Desain yang justru membuat Jiyeon sedikit takut jika Jongin mengetahuinya, wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukan Jongki padanya jika semua ini terbongkar. Jiyeon memejamkan mata sejenak, merasa jika ini jangan diteruskan, mungkin jika mengaku saja pada Jongin dia belum siap dengan desain hari ini akan lebih baik. Jiyeon akan kembali berusaha membujuk Jongki atau Sehun untuk masalahnya ini, berpura-pura sakit mungkin… agar dua laki-laki penting dalam hidupnya itu menolongnya.

“Jongin.” ucapan Jiyeon terputus seketika saat menatap ke layar tablet.

Betapa terkejutnya Jiyeon saat menatap layar tabletnya kini, pasalnya kini di layar tablet terdapat sebuah desain mobil yang sangat sempurna. Desain dengan semua detail yang membuat Jiyeon terpana, Jongin menatap Jiyeon, dia penasaran.

“Apa desainnya sudah siap?” tanya Jongin.

Dengan percaya diri Jiyeon mengangguk, menunjukkan desain mobil pada Jongin, senyumnya lebar. Jiyeon bahkan semakin melebarkan senyumnya, saat Jongin menganguk setuju pada desain yang mereka lihat. Jiyeon benar-benar tidak menyangka jika Sehun membantunya mendesain mobil, laki-laki yang bahkan tadi pagi masih membuatnya kesal karena ucapan pedas yang dilontarkannya.

Terima kasih, Sehun Oppa.”

~000~

Ah! Terima kasih sudah mengizinkanku jalan-jalan dan belanja sepuasnya di sini, Jongin.” Jiyeon mengangkat tiga shopping bag ke samping wajahnya.

Ya Jiyeon baru saja menghabiskan satu jam penuh untuk belanja di store milik keluarga Jongin, sebagai bonus yang diberikan pria itu untuk desain mobil menajubkan dari Jiyeon. Jongin hanya tertawa dan mengangukkan kepalanya pelan, laki-laki itu sedikit penasaran dengan ekspresi Jiyeon saat ini, entahlah Jongin merasa jika Jiyeon terlihat sangat bahagia.

“Apa kau benar-benar senang bekerja untuk ayahmu?”

“Apa?” Jiyeon binggung, Jongin tersenyum.

“Maksudku kau terlihat sangat bahagia dengan pekerjaan ini, apa karena kau sangat suka dalam mendesain mobil?”

Seketika Jiyeon tertawa kencang, dia menutupi setengah dari wajah cantiknya dengan tangan kanan, menatap Jongin sekilas dalam anggukan di sela-sela tawa yang belum mereda. Jiyeon ingin sekali mengaku jika dia tidak suka mendesain mobil, ingin sekali mengaku jika saat ini dia sangat bahagia karena Sehun menolongnya, ingin sekali mengaku jika desain mobil itu adalah hasil karya Sehun bukan hasil karyanya.

“Tidak juga, aku terlihat bahagia karena kau menyukai desainnya, ini adalah pekerjaan baruku, Jongin.” Bohong Jiyeon seraya menghapus sisa air mata di sudut matanya. “Dulu aku bekerja di perusahaan ibuku, tapi karena Sehun memutuskan untuk membantu ibu, maka aku membantu ayahku.”

“Sehun?”

“Iya. Aku sudah pernah bilang ‘kan?”

“Dia…, Jongin mengangtungkan kalimatnya, meragu, dia ingin membahas masalah kemarin.

“Kenapa?” Jiyeon dapat merasakan perubahan aura di wajah Jongin, dia melihat apa yang tersirat di ekspresi Jongin saat ini. “Apa kau ingin bertanya tentang perselingkuhan Sehun?”

Jiyeon menatap Jongin sekilas, menarik napas yang tiba-tiba terasa berat. Merubah suasana hati Jiyeon seketika, wanita itu selalu saja merasa tersayat sembilu jika sudah membahas masalah Sehun bersama semua tindak tanduk laki-laki itu dengan wanita murahan bernama Kim Minra.

“Tidak… maafkan aku! Aku tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangga kalian, hanya saja—-“

“Dia memang seperti itu Jongin, dia selalu akan menyakitiku hingga aku merasa tak punya lagi air mata untuk menangis, dia dan wanita jalang itu—- selalu melakukan apapun untuk membuatku merasa tak punya lagi alasan tetap hidup di dunia ini,” Jiyeon mengeratkan genggaman tangannya hingga bukunya memutih, menahan air mata yang entah mengapa sudah mulai mengaburkan pandangannya.

“Jiyeon?” Jongin mengepalkan tangannya, laki-laki itu benar-benar merasa jika Sehun sangat keterlaluan pada wanita yang dinikahinya, seharusnya Sehun menjaga Jiyeon selayak laki-laki itu menjaga nyawanya.

Jiyeon berusaha tersenyum diiringi kekehan kecil di belakangnya, senyum penuh luka yang berusaha disembunyikan Jiyeon, namun sayangnya terbaca begitu jelas di mata Jongin. Merentas hatinya hingga terasa menelusup ke dalam hati, Jongin tanpa sadar mengerakkan tangannya ke arah wajah Jiyeon, namun dengan cepat Jiyeon berpaling hingga Jongin menarik tangannya menjauh.

“Terima kasih Jongin. Mobilku ada di depan sana dan aku bisa sendiri, terima kasih karena sudah mengantarku, terima kasih untuk barang-barang ini.” Jiyeon kembali mengangkat shopping bag sebelum menundukkkan kepalanya, berbalik dan berjalan pelan menuju mobilnya berada.

Jiyeon berjalan sedikit menunduk, menatap cincin pernikahannya dengan Sehun. Cincin yang membuatnya terikat bersama laki-laki kejam yang selalu menyakitinya, laki-laki yang mengikat seluruh hati dan hidupnya begitu kuat, hingga Jiyeon tak mampu untuk lepas dari Sehun hingga detik ini. Jiyeon tidak sadar jika ada sebuah mobil yang melintas di depannya, melaju sedikit kencang ke arahnya. Jiyeon terkejut saat suara klakson memenuhi gendang telinganya, sesaat kemudian dia mendengar Jongin meneriakkan namanya dan merasa jika tubuhnya tertarik.

Jiyeon terdiam seketika, membeku dalam keterkejutan, mengabaikan teriakkan Jongin yang memaki pengendara mobil yang sudah melaju di depan mereka. Jiyeon masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi, dia hanya diam, tak sadar jika saat ini dia berada di dalam dekapan Jongin.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jongin, dia menundukkan kepalanya.

Seketika itu juga Jiyeon tersadar dan segera melepaskan diri dari dekapan Jongin, memandang Jongin gugup lalu menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Begitu pula dengan Jongin, laki-laki itu juga tak kalah gugup, berselimut rasa khawatir yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Entahlah! Berdetak karena terlalu khawatir atau karena pelukan singkat mereka.

“Apa—-“

“Nyonya Jiyeon, anda baik-baik saja?”

Ucapan Jongin terputus saat sosok supir pribadi —Lee Xiumin— hadir di antara mereka, supir pribadi yang terlihat datang dari ujung basement, saat mendengar Jongin meneriakkan nama Jiyeon. Supir pribadi yang terlihat pucat pasi karena tak menjaga Jiyeon dengan baik.

Eoh! Tenanglah aku baik-baik saja, kita pulang sekarang,” Xiumin mengangguk mengerti dan langsung membukakan pintu mobil yang berada di belakang meraka, Jiyeon pun terlihat menatap Jongin sekilas sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Meninggalkan Jongin begitu saja, namun sesaat kemudian Jiyeon membuka kaca mobilnya, tersenyum pada Jongin yang masih terlihat sangat khawatir dengan keadaannya. Menatap laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya hari ini, menatap laki-laki yang selalu membuatnya tertawa hingga mampu sedikit mengabaikan rasa luka pada sosok Sehun yang menyakiti hatinya.

“Terima kasih, Kim Jongin.”

~000~

Jiyeon berjalan memasuki gedung menjulang di mana Sehun menghabiskan setengah harinya disana, berjalan anggun dalam balutan stelan dress pendek di atas lutut berwarna putih dengan motih bunga kecil dan jas semi formal warna merah sebagai luaran, dia tersenyum pada beberapa karyawan yang menyapanya hormat. Entahlah tiba-tiba saja Jiyeon ingin mengunjungi Sehun, tiba-tiba saja ingin melihat wajah Sehun seraya mengucapkan terima kasih karena sudah membuatkan sebuah desain mobil untuknya. Jiyeon juga tidak begitu mengerti kenapa dia harus repot repot berterima kasih pada Sehun, Jiyeon hanya merasa dia harus menemui Sehun saat ini juga.

Jiyeon tersenyum saat sudah berada di depan pintu ruang kerja Sehun, menarik napasnya sesaat sebelum memutar knop pintu. Namun saat itu juga senyum Jiyeon memudar, membeku dalam tatapan kosong saat melihat pemandangan di depannya. Tepat di depannya Jiyeon melihat jika Sehun, sedang merangkul pinggang Minra dengan posisi bibir yang nyaris menyatu.

Eoh! Maaf menganggu acara manis kalian.”

Sehun menghentikan niatnya pada Minra, laki-laki kejam itu memalingkan wajahnya, menatap datar sosok Jiyeon yang berdiri di ambang pintu. Tak terlihat peduli jika saat ini dia baru saja kembali menyakiti hati wanita itu, tak begitu peduli dengan butiran kristal di ujung mata bening Jiyeon saat ini.

“Tadinya aku ingin mengucapkan terima kasih padamu Oh Sehun, tapi sepertinya kedatanganku tidak tepat!”

Jiyeon mengepalkan tangannya kuat, menahan sekuat tenaga agar tubuhnya tidak beringsut ke lantai saat menatap Sehun dan Minra yang tidak mengubah posisi mereka. Ini terlalu sakit, ini terlalu menyakiti di tiap inci hati hingga Jiyeon kembali merasa sesak. Dalam satu gerakan akhirnya Jiyeon memilih untuk berbalik seiring air mata brengsek yang berjatuhan di pipi pucatnya, merentas hati hingga Jiyeon berjalan terhuyung meninggalkan Sehun di belakang sana. Sehun menatap kepergian Jiyeon dalam balutan berjuta rahasia rasa yang tak kan terbiaskan, Jiyeon juga tidak pernah tahu jika saat itu juga Sehun mendorong Minra kuat, hingga gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh. Mengerakkan kakinya menyusul Jiyeon, dia kalut, penuh penyesalan yang sampai kapanpun tidak akan pernah Sehun utarakan pada Jiyeon, tidak akan pernah!

NEXT >>> PART.5

Enjoy ya — xoxo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~ TBC ~

 

 

12 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s