The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 2)

poster 1&2

Title            : The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 2)

Author       : Dwi Lestari
Genre         : Romance, Marriage Life

Length        : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Yenni Wilson / Hwang Yen Ni (Yenni) | Byun Baek Hyun (Baekhyun)

Support Cast :

Hwang Re Ni (Reni), Byun Seo Hyun (Seohyun), Song Hen Na (Henna), Do Kyung Soo (Kyungsoo), Park Chan Yeol (Chanyeol), Xi Lu Han (Luhan)

 

Disclaimer           : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note       : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning                : Typo bertebaran      

The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 2)

 

Yenni mendengar ada suara handphone yang berbunyi, dia segera mencari suara itu, dia menemukan handphone itu di atas meja dekat ranjang Reni. “Mr Baekhyun, it’s Reni’s handphone. She is not bring it”, kata Yenni. Baekhyun segera menemui Yenni, “Kau benar, dia bahkan tidak membawa handphonenya, eoteokkae? Sebentar lagi acaranya mulai”. Mereka masih bingung dengan kepergian Reni.

Merasa sangat lama, nyonya Hwang segera menyusul Yenni dan Baekhyun yang kemudian disusul oleh suaminya. Nyonya Hwang melihat mereka berdua sedang bingung, dia segera menghampiri mereka. “Kalian sedang apa? Kelihatannya bingung sekali. Mana Reni?”, tanya nyonya Hwang. Mereka berdua kaget, mereka hanya saling menatap berharap salah satu dari mereka mau membuka mulut. “Kenapa hanya diam! Mana Reni”, tanya nyonya Hwang.

Yenni akhirnya mau bicara, dia berkata sambil mendekati eommanya, “Eomma, don’t angry, please. Reni is not here”. “Apa maksudmu sayang”, tanya nyonya Hwang tidak paham dengan ucapan Yenni. “Dia kabur ahjumma, dia sudah pergi”, kata Baekhyun. “Mwo? Kabur! Malgo andwe”, kata nyonya Hwang. “Come here, eomma!”, kata Yenni lalu mengajak nyonya Hwang ke balkon kamar Reni. Dia menunjukkan tali itu.

Melihat tali itu tubuh nyonya Hwang lemas, kalau saja Yenni tidak menangkapnya dia pasti telah jatuh ke lantai. “Are you okay, eomma?”, tanya Yenni, dia lalu mengantar eommanya duduk di ranjang Reni. “Calm, eomma”, kata Yenni menenangkan eommanya. Tuan Hwang lalu masuk kamar, yang diikuti oleh Mr and Mr Wilson. Tuan Hwang melihat istrinya dalam keadaan kurang baik, dia segera mendekati istrinya.

“Kau kenapa eomma?”, tanya tuan Hwang.

“Reni, Appa. Dia tidak ada dikamarnya. Dia kabur”, kata nyonya Hwang.

“Kau tidak bercandakan Eomma?”, tanya tuan Hwang.

“Untuk apa aku bercanda, Appa. Sekarang lihatlah apa dia ada disini?”.

“Bagaimana ini! Apa kau sudah menelfonnya?”, tanya tuan Hwang.

“She is not bring her handphone, Appa”, kata Yenni.

“Bagaimana bisa anak itu kabur di hari pernikahannya. Sebentar lagi acara akan dimulai”, kata tuan Hwang.

Mereka semua diam untuk beberapa saat. Mereka saling menatap. Mereka sedang memikirkan cara, bagaimana agar keluarganya dan calon besannya tidak malu karena pengantin perempuannya kabur. Eommanya Reni terlihat telah menemukan ide. Dia menatap Yenni. “Aku punya ide?”, kata nyonya Hwang. “Apa, Eomma! Ku harap bukan ide yang buruk?”, tanya tuan Hwang.

“Sayang, mianhae. Tapi ini demi kebaikan kita semua. Maukah kau menggantikan eonnimu, Reni? Wajah kalian mirip, aku yakin orang-orang tidak akan menganalinya!”, kata nyonya Hwang. Yenni kaget, “What! Me. No, no. It’s not good idea. I’m not agree”. “Ne, Yenni, eommamu benar. Ini demi kebaikan kita semua. Appa mohon”, kata tuan Hwang.

“No, no”, kata Yenni menggelengkan kepala. Dia segera berbalik ingin pergi dari situ, namun ditahan oleh mothernya. “Mom, please. Not me, I’m not wish”, kata Yenni memohon. “Darling, listen to me. You only will be Reni, no more. After that get finish. So, please darling. It’s for all, understand!”, kata Mrs Wilson. Yenni menggelengkan kepalanya dan menatap Dadynya, “Dad, please!”. Mr Wilson mendekati Yenni. “Your mother’s say is true, darling.. it’s for all”. Yenni masih menggelengkan kepalanya, Mr Wilson segera memeluk Yenni. “Please, darling”, kata Mr Wilson. Yenni malah menangis dipelukan Dadynya. “Don’t cry, darling”, kata Mr Wilson menenangkan putrinya.

Yenni berfikir sejenak, dia lalu menghapus air matanya dan melepaskan pelukan Dadynya. “Okay, just will be Reni, no more”. “Ne, sayang. Gomapta”, kata nyonya Hwang. “Baekhyun, mianhae. Tapi ini untuk kebaikan kita semua”, kata nyonya Hwang. “Ne, Ahjumma. Baekhyun mengerti”, jawab Baekhyun. “Baiklah, sekarang kau turunlah dulu, aku akan membantu Yenni berdandan. Bilang pada orang tuamu sebentar lagi siap”, kata nyonya Hwang. “Baiklah”, Baekhyun segera pergi dari kamar itu. “Sayang kemarilah! Kau harus mengganti bajumu?”, kata nyonya Hwang. “Yes, Eomma”, kata Yenni dengan nada lemas. Dia lalu mendekati eommanya.

Mr Hwang dan Mr Wilson segera turun untuk menunggu Yenni siap dan menemui tamu-tamu undangan. Nyonya Hwang dan Mrs Wilson membantu Yenni mempersiapkan diri. Kini Yenni telah siap, dia sudah memakai baju pengantin milik kakaknya. Dengan riasan sederhana dia sudah nampak cantik. Lalu dia juga memakai highheels milik kakaknya. Nyonya Hwang dan Mrs Wilson membantunya berjalan menuju tempat acara, karena gaun pengantinya yang panjang.

Saat dia menuruni tangga, semua mata tertuju padanya. Tak ketinggalan Baekhyun juga terpana melihat Yenni datang. Sampai-sampai dia tak sadar jika Yenni telah sampai didekatnya. “Why? Anything strange from me?”, tanya Yenni. “Aniyo, hanya kau terlihat sangat cantik”, kata Baekhyun. Yenni tersenyum, “Thank you”, jawab Yenni dengan nada lemas.

Yenni dan Baekhyun berjalan mendekat kearah penghulu. Semua orang bersiap di tempat mereka masing-masing untuk melihat prosesi pernikahan mereka. Kini penghulu bertanya pada mereka, apakah mereka telah saling menerima atau tidak. Pertama-tama penghulu itu bertanya pada Baekhyun, “Saudara Byun Baek Hyun apa kau menerima Hwang Re Ni sebagai istrimu”. “Dia bukan Reni, dia Yenni Wilson”, jawab Baekhyun. Yenni segera menoleh pada Baekhyun yang didikuti oleh eomma dan appanya. “Wae! Bukankah itu benar?”, kata Baekhyun pada Yenni, seolah dia tahu apa yang akan Yenni katakan.

“Baiklah kita ulangi lagi, saudara Byun Baek Hyun apakah kau menerima Yenni Wilson sebagai istrimu?”, kata penghulu itu. “Ne”, jawab Baekhyun. Dilanjutkan dengan pertanyaan pada pengantin putri, “Nona Yenni Wilson, apa kau menerima Byun Baek Hyun sebagai suamimu?”. Yenni terdiam sejenak, dia lalu menjawab, “Ne”. Lalu penghulu itu melanjutkan proses berikutnya hingga semua orang berkata sah. Penghulu mengatakan kalau mereka telah sah menjadi suami istri. Tak terasa air mata Yenni jatuh, dia menangis karena dia terpaksa menggantikan kakaknya Reni.

Lalu penghulu itu mempersilahkan Baekhyun mencium istrinya. Baekhyun menatap Yenni lalu dia berbisik pada Yenni, “Tenanglah nona Yenni. Semua akan baik-baik saja”. Dia lalau mencium kening istrinya. Suara tepuk tangan terdengar dari semua tamu yang datang. Yenni masih termenung, dia masih tidak percaya kalau hari ini dia telah menikah dengan orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Yenni disadarkan oleh suara eommanya yang segera memeluknya.

“Gomapta sayang, kau menyelamatkan kami semua”, kata eommanya. Yenni hanya diam dia tidak menjawab eommamya. Lalu Mrs Wilson datang dan mengucapkan selamat pada putrinya. “Congratulation, darling”, Mrs Wilson mencium pipi kanan dan kiri Yenni serta mencium keningnya dan memeluknya untuk menenangkankanya. Dia tahu kalau putrinya tidak sedang dalam keadaan baik. “Thank you, Mom”, jawab Yenni singkat. Mrs Wilson juga memberi selamat pada Baekhyun. Orang tua Baekhyun juga mengucapkan selamat pada mereka berdua. Yenni hanya tersenyum yang dipaksakan mendengar ucapan selamat dari mertuanya. Baekhyun paham dengan tingkah Yenni, dia segera memeluknya, “Are you okay, Miss”. “Yes, I’m fine’, jawab Yenni.

“Oppa, ayo hadap sini. Aku akan memotret kalian”, kata Seohyun. Mereka berdua segera menoleh pada orang yang memanggilnya tadi. “She is my young sister”, kata Baekhyun. “Oh”, jawab Yenni. Mereka berdua segera berpose untuk pemotretan, namun karena mereka terlihat canggung Seohyun mendekatimereka. “Kalian ini seperti musuh saja. Ayo oppa, kau harus memeluknya. Nah begitu bagus, pertahankan aku akan mengambil gambar kalian. 1, 2, 3 Ok. Bagus sekali hasilnya”, kata Seohyun.

“Oh ya, aku belum memberi selamat pada kalian. Selamat Baekhyun oppa (mencium pipi kanan dan pipi kiri Baekhyun) selamat eonni…”, belum sempat meneruskan Baekhyun sudah menyelanya, “Yenni, dia Yenni”. “Oh, selamat Yenni eonni”, kata Seohyun sambil memeluk kakak iparnya. “Yes, thank you. What you’re name?”, kata Yenni. “Namaku Seohyun, aku memiliki nama belakang yang sama dengan Baekhyun oppa”, kata Seohyun. “Oh, Seohyun. Good’s name”, kata Yenni. “Thank you”, kata Seohyun. Yenni hanya tersenyum.

Mereka lalu mengambil foto keluarga. Setelah itu, Yenni dikenalkan pada teman-temannya oleh Baekhyun. Setelah acara demi acara dilalui, akhirnya pesta pernikahan di rumah itu selesai. Kini hanya tinggal keluarga Yenni dan Baekhyun. Mobil pengantar pengantinpun telah siap, karena supirnya sudah memberitahu mereka. Keluarga Baekhyun segera masuk ke mobil pengiring pengantin. Pada mulanya Yenni menolak ikut dengan Baekhyun. Tapi karena dorongan dari orang tuanya dia akhirnya mau.

“Mom, I wanna with you. I wiil not follow he. Please, Mom!”, kata Yenni memohon. “Darling, not like that. You were be his wife. You marry with your name and not your sister’s name. So, you must follow he, where he go. You must with he in sad or happy, in cry or laugh, in sick or health, in his life or his die. You must make everything with he. And you must give he spirit if he down. You understand”, kata Mrs Wilson. “But, oh… (menoleh kearah Dadynya) Dad, so what do I do?”, kata Yenni.

“Darling, your mother’s say is true. You were be his wife. You must follow he”, kata Dadynya. Yenni hanya bisa mengeluarkan air mata. Melihat hal itu, Mrs Wilson memeluk putrinya, “Don’t cry, darling!”. Baekhyun tidak tega melihatnya, dia mendekati Yenni, “Gwenchana ahjumma, jika dia tidak mau ikut denganku. Ini sudah lebih dari cukup, dia sudah menyelamatkan nama baik keluargaku. Aku tidak ingin memaksanya. Ini pasti berat untuknya”.

“No, not like that Baekhyun. She is your valid wife. So, she must follow you. Calm, darling. You can call me if you miss me. I will stay in Korea”, kata Mrs Wilson. “Really, Mom”, tanya Yenni. “Yes, if it’s make you happy. We will stay in here”, kata Mrs Wilson. “Thank you very much, Mom. Okay, I will follow he. I will miss you, Mom”, kata Yenni. “I will miss too, darling”, kata Mrs Wilson. Yenni lalu melepaskan pelukan mothernya. Dia lalu berpamitan pada keluarganya. “Good bye, Mom, Dad, Eomma, Appa”, kata Yenni sambil melambaikan tangan. “Yes, Darling”, kata mereka. Baekhyun dan Yenni segera masuk mobil pengantin mereka dan pergi meninggalkan tempat itu.

————-

Mobil pengantin itu, telah sampai di kediaman Baekhyun. Sampai dirumah itu, Baekhyun disambut oleh pembantunya. Supir mereka membawakan barang-barang mereka ke kamar Baekhyun. Karena Yenni sudah tertidur, Baekhyun lalu menggendongnya ke kamarnya. Dia tidak tega membangunkannya. Baekhyun lalu meminta bantuan pembantunya untuk menggantikan pakaian Yenni.

“Ahjumma, bisakah kau menggantikan pakaiannya, pasti tidak enak tidur dengan baju seperti itu”, kata Baekhyun. “Kenapa tuan tidak menggantikannya sendiri, bukankan dia istri tuan?”, tanya pembantunya heran. “Ne, tapi itu tidak mungkin”, kata Baekhyun. “Kenapa tuan?”, tanya pembantunya lagi. “Nanti aku ceritakan, kasihan dia”, kata Baekhyun. “Baik tuan”, kata pembantunya. Pembantunya segera mengganti pakaian Yenni dengan baju tidur.

Baekhyun juga mandi dan berganti pakaian. Lalu dia menuju dapur. “Apa tuan belum makan?”, tanya pembantunya. “Sudah ahjumma, aku hanya haus”, kata Baekhyun. Baekhyun membuka kulkas, dia mengambil botol air mineral lalu meminumnya. Seperti katanya, dia menceritakan semua kejadian hari itu pada pembantunya. Mereka berdua memang akrab, Baekhyun sudah menganggapnya seperti eommanya sendiri. Dia juga sering menceritakan masalahnya pada pembantunya, dan pembantunya itu dengan senang hati mendengarkannya. Bahkan dia sering memberi solusi untuknya.

§§§

Suara alaram di samping ranjang tempat tidurnya, membangunkan Yenni pagi itu. Alaram itu pula yang membangunkan Baekhyun setiap pagi. Namun saat itu, Baekhyun bangun lebih awal. Dia bahkan sudah selesai mandi. Melihat istrinya sudah bangun, dia menyapanya, “Good morning, Miss”, katanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Morning too”, jawab Yenni asal, dia masih setengah sadar, karena itu dia tidak menyadari siapa yang telah berbicara dengannya. Dia menoleh pada orang yang tadi menyapanya, orang itu masih sibuk mengeringkan rambutnya.

“You! Mr Baekhyun!”, kata Yenni setelah benar-benar sadar. “Ne, ige naega”, jawab Baekhyun. Yenni kaget mengapa dia bisa bersama Baekhyun. Dia lalu ingat dengan  kejadian kemarin. “Oh, where are me now?”, tanyanya pada Baekhyun. “Di kamarku”, jawab Baekhyun singkat. “What! Your bedroom?”, jawab Yenni kaget. “Ne, tenanglah nona, aku tidak melakukan apapun padamu”, kata Baekhyun menenangkannya. “But, how can I change my clothes, Mr Baekhyun?”, tanya Yenni. “Pembantuku yang menggantikannya”, kata Baekhyun sambil menggantung handuknya. “Thanks God”, kata Yenni. “Sekarang mandilah! Bajumu sudah ada di lemari. Aku menunggumu di ruang makan”, kata Baekhyun. “Yes, arra”, kata Yenni. Yenni menuruti perkataan Baekhyun, dia mandi dan berganti pakaian. Segera saja dia menyusul Baekhyun, dia merasa sangat lapar karena kemarin dia tidak sempat makan dan semalam dia tertidur.

Di sana makanan sudah siap, pasti pembantunya yang menyiapkan pikirnya. Yenni duduk di kursi yang bersebrangan dengan Baekhyun, hingga mereka duduk dalam posisi berhadapan. Baekhyun masih membaca koran. Merasa seseorang telah hadir di depannya, Baekhyun menghentikan pekerjaanya dan mengajak orang itu sarapan. Mereka menikmati hidangan yang sudah disiapkan pembantunya.

“Setelah ini, kita akan ke rumah eomma!”, kata Baekhyun.

“Em, your parents?”, tanya Yenni memastikan.

“Ne”.

“For what”.

“Ini adalah tradisi di keluargaku. Setiap ada anggota kelurga yang menikah, keluarga yang masih memiliki ikatan darah berkumpul di rumah orang tua pengantin untuk mengucapkan selamat dan berpesta kecil-kecilan. Yah, meskipun mereka telah hadir di acara pernikan, mereka tetap saja melakukan itu. Entahlah, itu sudah menjadi tradisi keluarga kami. Ku harap kau tidak menolak”.

Yenni masih terdiam, dia teringat dengan kata-kata dari Mrs Wilson. Akhirnya dia menyetujuinya, “Okay, no problem”.

“Gomapta”.

“You’re welcome”.

§§§

Mereka berangkat setelah selesai sarapan. Mereka hanya berdua, Baekhyun sengaja menyetir mobilnya sendiri. Sepanjang perjalanan Yenni hanya diam. Dia menikmati pemandangan dari balik jendela mobilnya. Tak tersa mereka telah sampai di rumah orang tua Baekhyun. Dari dalam rumah itu terdengar teriakan Seohyun kepada orang tuanya.

“Eomma, Baekhyun oppa dan Yenni eonni sudah sampai mereka ada di luar”, kata Seohyun pada eommanya.

“Jinja!”, kata eommanya memastikan.

“Ne, eomma. Kajja kita keluar”, mereka segera menemui Baekhyun dan Yenni.

Baekhyun dan Yenni baru saja keluar dari mobil mereka. Mereka segera menuju rumah Baekhyun. Belum sempat mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka. Eomma Baekhyunlah yang menyambut mereka. “Kalian sudah datang”, kata eommanya Baekhyun. Segera saja Yenni mencium tangan mertuanya. Melihat itu, eommanya Baekhyun mencium pipi kanan dan pipi kiri Yenni. Seohyun juga menyambut mereka. “Hallo Yenni eonni!”, kata Seohyun sambil mencium kedua pipi kakak iparnya. Yenni hanya tersenyum melihat tingkah adik iparnya.

“Appa mana eomma?”, tanya Baekhyun.

“Oh, appamu. Sebentar eomma panggilkan. Appa, Baekhyun dan Yenni sudah datang. Kemarilah”, kata eommanya.

“Ne, yeobo. Sebentar”, terdengar suara dari dalam rumah itu.

Tak lama kemudian Appanya Baekhyun datang.

“Kalian sudah datang”, tanya tuan Byun.

“Iya, appa. Kenapa rumah ini sepi! Apa tidak ada yang kemari”, tanya Baekhyun.

“Memang tidak ada yang kemari. Malah kita yang akan pergi”, jawab appanya.

“Pergi ke mana Appa?”, tanya Baekhyun kembali.

“Ke rumah haraboji”, sela Seohyun.

“Ke rumah haraboji?”, kata Baekhyun memastikan.

“Ne sayang. Mereka semua sudah menunggu disana”, sambung eomma Baekhyun.

Mereka semua akhirnya pergi ke rumah haraboji Baekhyun. Sampai disana keluarga besar Byun sudah berkumpul. Selanjutnya Yenni dikenalkan pada anggota keluarga itu. Setelah perkenalan itu, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan. Mereka terlihat senang dengan Yenni, pasalnya yeoja itu memang menyenangkan. Selain itu, mereka juga bahagia karena keluarganya bertambah satu orang.

§§§

Pagi itu, Yenni memasak sarpan untuknya dan suaminya tentunya. Dia sudah menata semua masakannya di meja makan. Segera saja dia memanggil suaminya. “Mr Baekhyun, the breakfast have ready. Come here fast, please”, kata Yenni. “Ne, sebentar lagi’, jawab Baekhyun. “You must fast. This food will be cool”, kata Yenni. Tak lama kemudian datanglah Baekhyun. Dia segera duduk di salah satu kursi dekat meja makan tersebut. Dia juga mencium aroma masakan itu, “Sepertinya enak. Ternyata kau juga bisa masak ya!”, kata Baekhyun. Segera saja dia mengambil makanan itu, namun tangannya di tahan oleh Yenni. “You must wash your hands”, kata Yenni.

Baekhyun hanya mengelu pasrah, di lalu bangkit dan menuruti perkataan istrinya. Dia mencuci tangannya dan segera menyusul istrinya. Mereka segera menyantap sarapan mereka. Setelah selesai, Baekhyun berniat membereskannya namun Yenni mencegahnya, “Let me have clean, Mr Baekhyun”. Dia lalu mengambil piring dari tangan suaminya. Saat akan menuju dapur, Baekhyun mencegahnya. “Yenni ada yang harus kita bicarakan. Kau selesaikan saja itu aku tunggu di depan TV”, kata Baekhyun sambil menunjuk ke arah piring-piring yang di bawa Yenni. Yenni mengangguk paham. Dia segera menuju dapur, meneruskan perkerjaanya yang sempat tertunda. Setelah semua pekerjaannya selesai dia menyusul Baekhyun.

Dia melihat Baekhyun menontoh TV, dan dia memegang sesuatu. Karena penasaran Yenni bertanya pada Baekhyun. “What is that?”, kata Yenni, sambil menunjuk ke benda yang ada di tangan Baekhyun. “Ini maksudmu?”, kata Baekhyun, dia juga mengangkat benda yang di pegangnya. “Yes”, kata Yenni, dia lalu duduk di sebelah Baekhyun. “Ini adalah tiket ke Jeju”, kata Baekhyun. “Ticket! For what?”, tanya Yenni lagi.

“Sebenarnya aku dan Reni berencana pergi ke Jeju untuk bulan madu. Tapi sayang, dia malah kabur di hari pernikahannya”, kata Baekhyun.

“You sure very disappointed?”, kata Yenni.

“Iya, begitulah”, kata Baekhyun.

“So, what do you want to talk about with me?”.

“Aku ingin mengajakmu pergi ke sana. Sayangkan tiketnya sudah dibeli. Tapi itu jika kau mau. Aku tidak memaksa. Bagaimana menurutmu?”.

“Jeju! It’s look funny. Okay, no problem”.

“Jinja!”, tanya Baekhyun memastikan perkataan Yenni. Yenni lalu mengangguk.

“When we leave?”, tambah Yenni.

“Besok, besok pagi kita akan ke sana”, kata Baekhyun.

 

§§§TBC§§§

 

Tetap tinggalkan komen ya readers. Gomawo.

Salam hangat Dwi Lestari

4 thoughts on “The Prospective Of Old Brother In Law Is My Husband (Chapter 2)

  1. Neeexxxtttt. Thor bisa ga pake bahasa inggris? Feel nya kurang dapat menurut aku. Lucu klau ngomong dua bahasa. Sebahasa aja ya dibuat klau bisa. Gomawo^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s