What Are We (Chapter 2)

Title       :               What Are We? (2)

Author  :               @afnfsy

Genre   :               Romance, angst (mostly)

Length  :               Multi-chapters

Rating   :               PG-15 (Some scene are not suitable for children under 15 years old.)

Casts     :               EXO’s Baekhyun, OC, many more to come.

Notes    :               Hello! Just want to clarify that the background story taken was mostly in Jakarta and Bandung. So you might found some—or many, Indonesian slangs. And this story contains the use of ‘gue-lo’ A LOT. Anyways, I also post this story on Asianfanfics and Wattpad with the same title, but different casts. (Yes, I use Indonesian names for the casts, but still use Baekhyun as the visual of the main boy character.) Duh, I talked a lot. Enjoy this story!

————————————————————————————

“Duh, lovebirds.” ledek Mara sambil menyundut siku Attara. Yang diledek hanya diam saja sementara wajahnya mulai memerah, tangannya yang sibuk menuliskan kata demi kata di secarik kertas terhenti.

Attara pun mendengus, “Ih, Mara. Orang kita nggak ada apa-apa, kok,” jawabnya sedikit kecewa. Walaupun dalam hati ia sangat mensyukuri kejadian Sabtu beberapa minggu lalu, dan walaupun ia sangat menghargai usaha Tanya dalam mengenalkan dirinya dengan si bangor Baekhyun, ia tetap merasa kecewa karena mereka seolah-olah terhenti di situ. Gadis itu pun melanjutkan tugas menulisnya lagi setelah beberapa saat memandangi kertas di depannya dengan sendu.

Mara hanya memerhatikan sahabatnya yang sudah hampir sejam berkutat dengan tugasnya di perpustakaan yang sepi ini. Saat ia hendak berbaring sebentar di lengannya, matanya tidak sengaja memandang kearah rak paling pojok. Kedua matanya refleks menyipit untuk dapat melihat dengan lebih jelas—dan untuk memastikan bahwa yang dilihat olehnya bukanlah orang yang daritadi ia dan Attara bicarakan. What the

“Tar, Tar,” panggil Mara setengah berbisik sambil menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya yang masih menulis, tetapi yang dipanggil malah tidak memperdulikan panggilannya sama sekali. Mara tetap tidak menyerah dan masih mencolek-colek pergelangan tangan Attara.

“Ih, Syamara diam sebentar bisa, kan???” tanya Attara dengan kesal, matanya masih tidak menatap Mara sama sekali. Sementara itu kalau Attara memanggil sahabatnya dengan nama lengkapnya, berarti Attara sudah mulai merasa jengkel.

“Nggak bisa, nggak bisa! Itu cowok lo ngapain anjiiir di pojokan begitu? Lho, itu bukannya Sarah?”

Begitu menangkap maksud dari perkataan Mara, Attara langsung berhenti menulis dan melayangkan pandangannya searah dengan arah pandangan sahabatnya. Ditambah dengan mendengar nama Sarah, Attara langsung merasa tidak enak. What can he possibly do with her, moreover in this almost empty library, and at the most corner shelf?

Attara menelan ludahnya sendiri, lalu menggelengkan kepalanya—berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja mereka sedang mencari buku di rak yang sama? Atau mungkin mereka hendak belajar bersama? Who knows.

“Biarin aja, Mar. Mungkin mau belajar bareng? Kita, kan, nggak tahu…” ujar Attara yang sekarang mulai berkutat kembali dengan tugasnya, which left a big O formed in Mara’s mouth. This girl is surely thinks way too positive! pikir Mara.

“Baekhyun would be very lucky to have you, Tar. Tapi sayangnya lo terlalu polos.” pikir Mara lagi sambil melihat kearah Attara yang sedang menggigit jarinya bingung.

Kini Mara hanya menghela napas sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang terjadi di rak pojok sana—walaupun sebenarnya ia penasaran, parah. Ia pun meletakkan kepalanya diatas lengannya dan berbaring di meja sementara ia menunggu Attara menyelesaikan tugasnya. Suasana perpustakaan yang sejuk membuat Mara mengantuk.

Begitu Mara menutup kedua matanya dan terlelap, Attara mengambil headset dari dalam tasnya dan mencolokkannya ke iPodnya. Musik yang mulai berdendang cukup membuat Attara budeg dengan keadaan sekitar. Saat ia mulai menulis lagi, kedua orang yang daritadi berusaha Mara pergoki keluar dari barisan rak paling pojok itu. Keduanya tersenyum puas karena apa yang baru saja mereka lakukan di sana, mereka pun berjalan menuju pintu perpustakaan sementara si gadis merangkul lengan lelaki di sebelahnya, si lelaki hanya membiarkannya dan begitu ia menghadap lurus ke depan; kearah meja panjang dengan kursi-kursi di kedua sisi terpanjangnya, ia tercekat.

Baekhyun merasakan perasaan aneh itu lagi ketika mendapati Attara yang sedang sibuk dengan kertasnya, perasaan panik karena takut Attara mungkin saja melihat ia dengan Sarah pun mulai menjalari tubuhnya. Tetapi karena Sarah mulai menarik tangannya lagi dengan sikap tidak sabaran, Baekhyun lagi-lagi pun mengalihkan pikirannya dan berjalan keluar dari perpustakaan.

“Selesai!” pekik Attara pelan seraya mengangkat kertasnya. After she beamed to admire her own writings, tangannya pun menurunkan kertas itu dari pandangannya sedikit; membuat ia sekarang melihat kearah rak-rak buku.

“Tadi ada apa, ya…?”

——————————————————————-

Baekhyun bisa dibilang adalah salah satu dari orang-orang gegabah atau kasarnya ugal-ugalan di kampusnya. Mungkin itu tidak akan terlihat di kebanyakan waktu, tetapi once you get to know him from his friends, or from Baekhyun himself, you’ll know that he’s a rascal.

Ya, Baekhyun itu bajingan. Dan mungkin Attara belum melihat Baekhyun di sisi itu.

Bagaimana tidak? Baekhyun berubah menjadi orang paling manis sedunia begitu berhadapan dengan Attara—walaupun mereka baru sekali kemarin dipertemukan empat mata. Begitu Attara pertama kali memberanikan diri untuk menge-chat Baekhyun lewat LINE, Baekhyun langsung meresponnya dengan jawaban-jawaban manis, berbeda dengan bagaimana ia biasanya membalas chat dari teman-teman dekatnya, bahkan Sarah, ataupun some random girls he met before.

Tidak, tidak. Baekhyun bahkan tidak berusaha mengingat-ingat siapa gerangan gadis dengan rambut dicepol dua yang mengulurkan tangannya duluan begitu Tanya mengenalkan mereka. Baekhyun ingat betul siapa gadis itu. Untuk pertama kalinya Baekhyun merasakan sesuatu yang tulus saat berhadapan dengan Attara, untuk pertama kalinya juga, Baekhyun merasa bahwa Attara, bukanlah gadis yang bisa ia perlakukan semena-mena.

Tetapi, ini bukan pertama kalinya Baekhyun berusaha untuk tidak memikirkan apapun tentang Attara. Baekhyun benci di saat Attara tiba-tiba menyeruak masuk kedalam pikirannya; membuatnya terhenti dari apapun yang sedang ia kerjakan saat itu. Baekhyun benci saat Attara masuk kedalam pikirannya di saat ia sedang bersenang-senang. Baekhyun hated it.

Baekhyun tidak pernah ingin—sama sekali—terlibat dalam permasalahan hati seserius ini. Menurutnya, perempuan itu hanya untuk dipermainkan. Contoh besarnya; Sarah. Di siang hari, para gadis mengagumi wajahnya dari jauh, junior-junior perempuannya akan memekik kegirangan begitu ia lewat. Dan begitu jam sudah menunjuk kearah angka 11—malam, tentunya—gadis-gadis di club akan lebih ekspresif terhadapnya, dan disitulah ia bertemu Sarah.

He used Sarah as his toy. From the first time he lay his eyes on her, he thought nothing but a physical contact. In fact that she’s a junior, made it more easy.

After what they did back there at the library, Baekhyun mengambil langkah kecil dan duduk di bangku biru depan gedung perpustakaan. He wants to see the look in Attara’s eyes when she saw him sitting there—waiting for her. There’s anything but the guilt in his heart, Attara could saw him making out with Sarah before.

Seorang bajingan seperti Baekhyun mana pernah merasa kasihan, kan? And don’t forget how good he is at manipulating his own mind.

Sembari mengambil sebatang rokok dari bungkusnya dan menaruhnya lagi ke sakunya, pandangan Baekhyun tidak pernah lepas dari pintu perpusatakaan. Diharapkannya gadis itu akan keluar dari perpustakaan, anggap saja ia membawa banyak buku berat yang nantinya bisa menjadi excuse agar Baekhyun bisa modus untuk membantunya. Baekhyun sendiri pun tertawa kecil begitu menyadari pikiran bodohnya—sekaligus pintarnya. Saat ia menyalakan lighter, pintu perpustakaan pun terbuka.

Buru-buru Baekhyun mengangkat wajahnya, tetapi pemandangan yang ia harapkan sebelumnya tidak terwujud. Dilihatnya Attara lagi dengan balutan baju terusan garis-garis yang hanya mencapai di bawah lututnya, cardigan hitam yang panjangnya hampir sama dengan bajunya, dan sepatu keds berwarna putih. Gadis itu tidak membawa buku-buku yang berat seperti yang diharapkan Baekhyun, tetapi gadis itu mengatakan sesuatu.

“Duh, Mara nggak bisa dibangunin…” ujar Attara pelan sambil menggenggam ponselnya, bibirnya mengerucut dan kedua matanya terlihat sedih, persis bocah yang ditinggal ibunya pergi. Gadis itu pun berkali-kali memencet layar ponselnya—sepertinya berusaha menelepon seseorang, pikir Baekhyun.

“Ah!” seru Attara tiba-tiba, ia pun langsung menempelkan ponselnya ke telinga, “Halo? Kak Vanzo? Iya, Mara susah dibangunin, kak…” Attara pun berjalan mondar-mandir di depan pintu perpustakaan sambil masih menelepon Vanzo, senior yang berbeda satu tahun diatas mereka, and also, Mara’s boyfriend.

“Iya, kak. Attara udah selesai dari tadi soalnya,” adunya lagi membuat Baekhyun yang mendengarnya hanya tertawa pelan.

“Oh, iya, oke. Attara mau ke tempat lain duluan, Mara masih di dalam perpus. Oke, kak. Dadah.”

That’s it. Seeing Attara finally hung up the phone call, Baekhyun turned off his cig and walk straight to where she’s standing. Walaupun sekarang Baekhyun sudah berdiri tepat di depan gadis itu, Attara masih tidak mengangkat wajahnya. Masih tersirat kekhawatiran di wajah mungil Attara. She’s so cute, ujar Baekhyun dalam hati.

“Attar—“

“Sebentar! Lagi sibuk.” sergah Attara tanpa mengangkat wajahnya sama sekali. Baekhyun pun terpana, baru kali ini seseorang berani menghentikannya. Girls will always respect him, adore him, worship him, walaupun dia bajingan sekalipun.

Tanpa berpikir panjang Baekhyun pun mengambil ponsel Attara dari tangan gadis itu dan menyembunyikannya di belakang punggunya. Attara segera mengangkat wajahnya dan bersiap untuk memarahi siapapun itu yang merebut ponsel dari—

“Kak Baekhyun?”

Ini dia, tidak ada gadis manapun yang bisa marah kepadanya, melihat sorot berapi-api dari mata Attara mulai melunak, Baekhyun merasa menang.

Lelaki itu memasukkan ponsel Attara kedalam sakunya, membuat si empunya ponsel menatap nanar kearah saku celana Baekhyun. “Gue tadi manggil lo, lho.” ujar Baekhyun dengan nada datar yang sedikit tinggi, membuat Attara berpikir bahwa Baekhyun pasti akan memarahinya.

“Ma-maaf, kak, tadi saya lagi chat sama—“

“Nggak ada yang nanya lo lagi chat sama siapa, Attara.” sergah Baekhyun kali ini.

Attara semakin ciut di tempatnya, “I-iya, kak, maaf…” gadis itu langsung menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah. Seharusnya gue nggak ngomong sekasar itu, rutuk Attara dalam hati. Matanya masih terpejam karena perasaan bersalah dan takut, takut Baekhyun tiba-tiba akan mendampratnya.

Tiba-tiba Attara merasakan jari-jari yang tidak terlalu kasar di dagunya, ia langsung membuka kedua matanya dan mendapati Baekhyun yang sedang mengangkat dagunya agar lelaki itu bisa melihat ke matanya.

Kini mereka saling bertatapan, eye to eye. Melihat bola mata kecoklatan Baekhyun yang menatapnya tajam—tetapi sayu, membuat seluruh darah di wajah Attara berpusat di kedua pipinya. Attara merasakan wajahnya panas, dan pipinya yang kali ini memerah.

“Lo mau hp lo balik, nggak?” tanya Baekhyun, kali ini dengan nada yang agak tegas.

Attara pun mengangguk cepat, “Mau, kak,”

“Kalo gitu, hari ini lo makan malem sama gue.” ucap Baekhyun tanpa basa-basi.  Tentu hal itu merupakan hal yang sangat biasa bagi seorang Baekhyun; dan biasanya tidak ada penolakan.

Sementara Attara masih berusaha memproses omongan Baekhyun, kedua matanya mengerjap kebingungan, lelaki itu pun melemparkan pandangan ke jam tangannya, “Udah jam setengah 6. Kita bisa pergi sekarang, kan?”

Sebelum Attara sempat menjawab, Baekhyun langsung menarik tangan gadis itu dan berjalan cepat kearah parkiran, sementara banyak kata ‘hah?’ yang memenuhi pikiran Attara yang sedang merasa panik saat itu.

Tanpa Attara sadari, Baekhyun telah tersenyum menang di depannya.

Memang tidak ada penolakan kali ini, tetapi at least, tidak ada perlawanan juga.

Blinks, the part two is here! Let me know what you guys were thinking after you read it, okay? And maybe I will reply to some of the comments~ hehe. And anyway, that would be very lovely for those of you who have AFF and Wattpad account to subscribe & vote my story in both sites! Here’s the link tho ;

AFF:  http://www.asianfanfics.com/story/view/1089065/what-are-we-angst-indonesian-romance-exo-baekhyun-baekhyunxoc

Wattpad:  http://w.tt/1KRbIHQ

Thanks a bunch, loves!

  • The author.

One thought on “What Are We (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s