Beautiful Pain (Chapter 6)

Author             : ndmyf;

Cast                 : Oh Sehun, Park Chanyeol,  Kim Rian (OC);

Genre              : Romance, Friendship, Family;

Length             : Chapter;

Rating                         : PG-16;

Summary         : Pantas saja, aku merasa kau sangat jauh. Kau tidak pernah memandangku seperti kau memandangnya. Matamu seakan berbinar saat menatapnya. Aku—ingin marah, tapi rasanya sulit, bahkan aku tak tahu bagaimana caranya mengekpresikan perasaan itu.

 

“Apakah mungkin, pemeran utama pria tidak selalu bersatu dengan pemeran utama wanita?. Karena aku tahu, tidak tertulis namaku sebagai pemeran utama pria dalam kisah cinta ini. -Park Chanyeol

 

 

Enam

****

Chanyeol masih tidak beranjak. Berdiri tegak di lobi. Dimana akhirnya? Kapan akan berakhir? Dimana batas ketahanannya untuk terus bersandiwara? Sampai kapan bersikap tidak pernah terjadi apa-apa? Saat ini mungkin masih bisa, tapi nanti?.

Masih teringat, walau waktu terasa semakin berlalu, kenangan itu masih ia ingat. Dirinya yang dulu. Giginya yang putih berderet rapi saat tersenyum, topi kesayangannya yang selalu ia kenakan kemana pun ia pergi. Mengekor kaki yang beberapa langkah berjalan di depannya. Memerhatikan rambut kuncir kuda yang bergoyang saat berjalan dihadapannya. Berlarian dibawah hamparan bunga sakura saat musim semi, bermain bola salju walau udara dingin menusuk tulang. Namun kini masa indah itu kini terlewati, berjalan seiring waktu saat pikiran dan tubuhnya beranjak dewasa.

 

‘Terulang lagi..

Perasaan aneh itu ku rasakan lagi.

Disini, ditempat ini, dan saat ini mengapa aku seperti berada diantara kalian berdua. Yakin atau tidak yakin, tapi itu yang kurasakan. Semakin lama ku memikirkannya, semakin  membuatku menjadi gila.

Terkadang aku menyesal pertemuan kita waktu itu. Saat musim dingin, kau tiba-tiba menghampiri kami berdua. Aku senang waktu itu, namun.. Berbeda dengan saat ini. Aku akui, aku menyesalinya.

Mungkin dulu aku memang bahagia ketika bersamamu, juga bersamanya. Tapi sekarang aku benci saat kau kembali, jika bisa aku ingin kau tetap tinggal disana, jangan pernah kembali. Aku tidak sengaja melihat berita pagi itu. Kau disebut-sebut sebagai pemilik baru Kingdom grup, awalnya aku ragu itu kau, tapi tak butuh waktu lama untuk menayadari keraguanku. Saat tahu itu kau, saat pertama kali aku melihat dirimu, seakan hatiku membeku dan napasku tercekat. Mengetahui bahwa kalian akan berada dalam satu tempat yang sama.

Aku takut. Benar-benar takut.

Takut kehilangan semuanya, takut berakhir dalam ketiadaan, dalam keheningan, lenyap begitu saja tanpa ku ketahui kapan.

Kekhawatiranku terbukti, malam itu kau keluar dari tempat yang sangat ku kenal. Aku tak tahu kenapa, namun kau terlihat kalut. Aku sengaja menghampirimu, bersikap baik walaupun berbohong. Menyapamu, dengan senyuman palsu di wajahku. Ingin rasanya ku teriakkan “Kau, Oh Sehun! Jangan pernah mengganggu gadisku.”

Waah sepertinya benar-benar akan menarik jika ku katakan itu. Tapi kuurungkan niatku, kita lihat sampai kapan kau akan bertahan. Alih-alih menunggumu bertahan, kenapa perasaanku sendiri yang berkata bahwa akulah yang tak sanggup untuk bertahan.

Sial.. Sepertinya aku yang akan kalah.

Samar terlihat sikap anehmu saat pertemuan itu, ah tidak, sikap kalian berdua. Apa aku terlalu cepat mengambil hipotesis? Terlalu cepat menyimpulkannya? Aku rasa tidak. Sikap kalian terlalu kentara untuk disembunyikan. Rian yang menjadi pendiam ketika kau datang, dan kau yang terlihat menutup-nutupi perasaanmu yang sebenarnya.

Saat pertama kali kau pergi, pemandangan yang pertama kulihat, ketika ia tertunduk sembari menangis didepan rumahmu, menunggumu kembali. Hari selanjutnya, ia menunggumu seakan tak pernah bosan, begitu juga seiring berjalannya hari. Melirik tirai kamarmu yang bahkan tidak pernah terbuka. Dan kau tak kunjung datang.

Ia tak pernah bosan menunggumu disana.

Aku yang jauh lebih dulu mengenalnya, dibanding denganmu, tapi kenapa, malah kau yang mampu mengambil hatinya. Kau memiliki segalanya Oh Sehun. Aku sangat iri padamu. Aku cemburu padamu.

Tatapan matanya yang tak pernah sama ketika menatapku, aku merasakannya. Bukankah mata lebih banyak bicara jujur ketimbang ucapan? Aku melihat kejujuran dari tatapan matanya, ia seperti mengatakan bahwa, ‘Aku menyukaimu Oh Sehun, aku ingin kau kembali’. Meski ku berikan segalanya untuknya, semua tetap terasa tidak akan cukup.

Dari tatapannya membuatku tersadar akan sesuatu,,,

Bahwa..

Bayangku tak pernah ada di matanya.

Aku yang selalu mempercayai kami akan terus bersama, sulit mempercayainya, dan jika, setelah kehilangannya nanti, bagaimana aku hidup seorang diri?

Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya’.

Sekarang, ia tahu apa yang sekiranya hilang. Sesuatu yang tidak pernah ia milikki sejak awal. Ia ingin meraihnya, namun tidak tahu bagaimana cara untuk mendapatkannya. Chanyeol masih tergelak diam di lobi. Banyak orang yang berlalu-lalang memerhatikan kearahnya. Sampai akhirnya satu sapaan mendarat dibahunya. “Ya, Park Chanyeol, sampai kapan kau akan berdiam diri?”

‘Biarlah aku menjadi seorang pria bodoh, saat ketidaktahuan menjadi hal paling ternyaman yang pernah kukenal’.

Chanyeol bergeming, namun tersenyum layaknya pria bodoh.

**

Masih dengan tatapan curiga, perubahan sikap mereka berdua mampu membuat seisi cafetaria memerhatikan mereka, terutama tatapan kebencian para karyawan perempuan yang tertuju pada Rian, dengan selentingan-selentingan kebencian masih menyapa organ pendengaran gadis itu.

Tidak ada yang salah, mengingat bahwa ia masih termasuk karayawan baru dan, gosip tentang dirinya dengan CEO baru membawanya manjadi topik paling hangat untuk tidak dibicarakan. Tidak ada satupun karyawan yang tidak tergoda untuk membicarakannya.

“Kau tau kisah beauty and the beast,? aku berani bertaruhan mereka tidak mungkin berkencan!.-”

Rian menghela napas. Mengernyit ngeri memerhatikan satu per satu mata yang menatapnya. ‘Justin bieber? Aaah anieyo.. Eoh,, bukankah dalam cerita itu mereka akhirnya bersatu?’. Rian tersenyum, lalu kembali mengamati pantulan seorang gadis dalam cermin, tubuhnya mematung. Blouse putih polos dipadu blazer dengan celana hitam panjang chotton. Rambut hitam panjangnya diikat rapi kebelakang, tanpa make up berlebihan yang setiap kali ke toilet harus membenahi riasan diwajah. Tubuhnya tinggi, kira-kira 168 senti meter, meskipun tubuhnya tidak terlalu ramping seperti kebanyakan gadis yang selalu mengatur pola makannya.

Rian membuka ikatan dirambutnya, rambut hitamnya tergerai melewati bahu. Perlahan merapikan rambutnya menyisirnya dengan jemarinya. Sebelah alisnya terangkat, sembari mendengus kesal ketika kembali teringat selentingan pembicaraan yang mengarah padanya. ‘Tsk, memangnya apa yang salah denganku?’. Rian menghambur keluar toilet, ia tahu kemana langkahnya pergi saat hatinya tengah gusar.

Rian kembali mengikat rambutnya.

Atap.

Ruangan terbuka tepat di puncak paling atas gedung. Terasa panas ketika bulatan bernama matahari itu tepat ditengah titik langit, namun terkadang terasa bagai tempat yang paling tepat untuk sekedar merenung. Dengan disuguhi begitu megahnya alam yang terkadang terlupakan yang dibutakan dengan keserakahan manusia.

Rian mengusap wajahnya kasar, ia termangun namun kemudian mendengar suara mendekat sebelum suara langkahnya. Bunyi gerakannya hanya berupa suara pintu tertutup.

Rian menoleh…

 

 

“Didunia ini hanya segilintir orang yang kubutuhkan. Selebihnya hanya orang-orang yang tidak kubutuhkan. Mereka tidak ada bedanya dengan sekumpulan serangga yang tidak berguna. Tapi terkadang, mereka benar-benar sangat mengganggu. Saat itulah mereka akan kusingkirkan.  Pastikan tak ada seorang pun yang tahu”.

 

Kerutan di keningnya terlihat dalam, langkahnya mendekat mengendap-mengendap juga tetap menjaga jarak. Namun bukan sedikit rasa keterkejutan di wajahnya saat sosok yang ia kenal, pemilik suara tadi berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sampai-sampai suara memekik keluar dari mulutnya, orang itu berbalik menebar pandangannya kesetiap sudut.

Begitu cepat Rian bersembunyi di balik dinding dengan bekaman di mulutnya. Ia yakin mengenali wajah itu, tidak mungkin ia tidak mengenalinya. Bingung tak tahu lagi apa yang akan terjadi, Rian memejam untuk sepersekian detik, sampai suara pintu itu kembali terbuka lalu menutup. Beberapa detik ia diam dalam posisi itu, mengambil napas dadanya terasa berdenyut kencang.

“Kenapa terjadi hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku?”

Dadanya naik turun menarik napas, ingin berteriak sekencang-kencangnya namun tercekat ditenggorokannya. Sebelum akhirnya mengangkat tangan ke atas, setinggi mungkin. Tubuhnya pegal, matanya perih, terlalu lama mematung di depan komputer. Ia coba singkirkan pikiran-pikiran aneh yang menimpanya akhir-akhir ini. Matanya beredar mengamati gedung-gedung tinggi menghiasi kota yang mulai terlihat cantik saat senja menghampiri. Warna jingga tersebar tepat diatas kota, terlihat indah, begitu menenangkan. Sekedar rehat sejenak dari pekerjaan yang masih menunggunya.

Dengan dua heandsfree dikedua telinga, ia memejam tangannya terbentang merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman, menorehkan setitik kenyamanan saat angin menyapa tubuhnya.

Rian-ah annyeong,”

Kerutan diantara keningnya terlihat, wajah itu tiba-tiba terbayang, begitu jelas dalam ingatannya, tak hanya itu, begitu juga suara dan tawanya, seolah menggantikan musik dalam playlist ipodnya. Suaranya menggema namun terdengar lembut.

‘Apakah universe sedang mengingatkanku?’

Rian tersenyum, masih menikmati suara itu dikepalanya, begitu nyata.

‘Perasaan apa ini? Seketika aku merindukan pria jangkung itu’

‘Anehnya aku menikmati perasaan ini’

Tanpa sadar bibirnya bergumam, berbait-bait seperti menyanyikan sebuah lirik lagu. Begitu larut dalam ingatannya, selang beberapa menit satu nama yang sangat  tak asing lagi dalam ingatannya, Rian mengeja tanpa suara ‘Park Chan-Yeol’ bersamaan ketika cahaya mulai menampakan wujudnya saat ia membuka mata.

Sepasang mata hitam tengah memerhatikannya,  menangkap kilatan kegembiraan dalam diri Rian yang tergambar dari raut wajahnya. “Kau sedang memikirkan apa?” Tanyanya sambil menyelipkan helaian rambut Rian yang tadi terjuntai tertiup angin. Rian menoleh begitu cepat, jantungnya berdenyut kencang, perutnya terasa mulas seketika. Suara itu hilang, begitu juga tawanya. Playlist-nya kembali terdengar, Rian mengecek ipodnya, yang sedari tadi playlist itu tidak berhenti, berganti dari lagu pertama yang ia dengarkan sejak awal. Rian bergeming, sedangkan laki-laki itu masih menunggu dengan masih memerhatikan wajah bingungnya.

“Hei,”

Rian masih bergeming, dengan kedua tangannya yang memeluk tubuh. Lelaki itu merasakan sesuatu, ia masih  memandangnya. ‘Kau begitu manis saat tersenyum, namun kini tergantikan dengan kegelisahanmu. Sebuah tempat yang tidak bisa kusentuh, tempat yang tak bisa ku tempati, Rian-ah, bisakan ku gantikan tempatnya disisimu?’ Dia tidak tahu perasaan apa yang menyesakkan dadanya, namun semakin lama semakin sakit yang ia rasakan. Bukan perasaan senang ketika bersama gadis itu, yang jelas-jelas sekarang sedang tidak di sini, pikirannya jauh enatah di mana, dengan memeluk tubuhnya sendiri.

“Lagu apa yang kau dengarkan?” Sehun menarik satu heandsfree, mungkin sedikit kasar karena Rian terlihat mengusap telinganya, terkejut.

‘Sejak kapan ia di…’

Rian menggeleng pelan. Banyak hal yang tengah dipikirkan kali ini, Sejak awal Sehun menangkap sekelebatan ekspresi aneh Rian saat itu “Apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau melamun seperti ini?” Sehun bertanya lagi, kini menarik lengan gadis itu lalu duduk dibangku yang tepat beberapa langkah dari tempat mereka.

Rian masih menimbang-nimbang pikirannya, sementara Sehun masih menunggu melirik gadis itu sekilas lalu kembali menatap kedepan. ‘Apa aku telah merusak moment mu dengannya?’ Sehun mencondongkan tubuh, menyentuh tangan Rian suapaya ia menatapnya. Rian menoleh balik menatap Sehun, “Rian-ah,” nada suaranya terdengar serius, namun alih-alih melanjutkan kalimatnya Sehun malah sudah membaringkan kepala dipangkuan Rian.

“Tidak usah dipikirkan, wajahku memang tampan, tenang saja tidak ada yang bisa merebutku darimu” Kini pipinya merona merah muda. Rian terkesiap.

Terdengar suara menelan ludah.

Hening kemudian.

Sebentar lagi matahari di belakang awan, di mana sinar matahari yang mulai redup. Tapi, alih-alih tubuhnya beranjak, mereka malah menikmati kebersamaan.

“Hun-ah,-”

“Mm..” Matanya memejam, terlihat begitu damai, dadanya naik turun menarik napas yang mulai teratur. Matanya mengintip dari balik punggung Sehun, Rian mengangkat bahu dengan santai. Begitu tenang, takut mengusik lelaki yang terlelap itu. Rian mendongak, juga tersenyum tentu saja, meletakkan dagunya di atas bahu Sehun, memerhatikan wajah damainya.

“Well,?”

Sehun mengubah posisinya, membalikkan tubuhnya, yang dengan leluasa memperhatikan ekspresi Rian. Ia terkaget “Apa kau begitu terpesona melihatku?” Sehun angkat bicara dengan nada yang sedikit mengintimidasi. Rian mengerjap. Butuh beberapa detik baginya untuk menjawab pertanyaan barusan. Matanya berubah agak tidak fokus.

Sehun  tersenyum. ‘Ia kembali..’.

“Eeeey, yang benar saja,” Rian memutar bola matanya, menatap kearah lain. Sehun tersenyum. Rian berdeham singkat saat ia bimbang sambil menggigit bibirnya, lalu kembali menatap Sehun.

“Apa? Berhenti menatapku seperti itu,-”

Rian mendesah kesal.

“Apa kau benar-benar terpesona…? Benarkah?” gelembung-gelembung kecil menyapa Sehun dengan fantasi menyenangkan dalam benaknya. Sehun kembali memejam, mengulum senyuman dari bibirnya. Sedikit mengelak namun mengakui, laki-laki itu memang memesona di atas segalanya. Sehun mampu membuatnya tidak bisa memalingkan wajahnya. Begitu juga sebaliknya.

Rian mendesah lega.

“Apa kau mengantuk,?” Rian mencondongkan tubuhnya lagi. “Mm,-” Sehun hanya mengagguk singkat meng-iyakan, mengelus pelan jemari gadis itu yang berada dalam genggamannya. ‘Benar-benar terasa nyaman, bersamamu aku merasa bahwa aku telah kembali dari kepergianku yang sangat jauh, kini aku kembali… Kembali pulang’.

Langit mulai menghitam, matahari telah hilang ditelan malam. Kehingan menyeruak bersamaan dengan sayup-sayup cahaya bintang memecah langit. Kerlip-kerlip begitu megah di hadapan kegelapan malam—pemandangan luar biasa. Sangat cantik. Atau mungkin lebih tepat disebut dengan indah. Rian mematung memandang langit, bergantian irisnya  menatap dua objek indah dihadapannya. Lengannya yang bebas terulur menggapai helaian-helaian rambut hitam Sehun lalu mengelusnya pelan. Napasnya teratur terlelap dalam mimpi. Terlihat kedamaian disana, begitu menenangkan. ‘Hun-ah, kau adalah kebahagian sekaligus kesakitan yang indah buatku. Kau adalah kesalahan terindahku’.

Senyuman itu berubah menjadi kerutan yang muncul di antara dua matanya, Rian meremas ponsel. Paru-parunya terasa sesak saat satu kalimat sederhana tertera di sana.

‘Chan-ah.. bagaimana bisa?’

Bergantian ia menatap ponsel, lalu laki-laki itu. Rian menghela napas untuk menenangkan diri, namun tidak bisa. Terjebak dalam situasi yang menyebalkan.

>”Rian-ah, kau di mana? Ayo makan tteoppoki, aku yang traktir..” <

Inilah kesalahan yang ia maksud, Rian menggigit bibir, dengan sekali menelan ludah pahit. Rian melirik Sehun yang terlelap, ia bingung apa yang harus dikatakan pada Chanyeol. Butuh beberapa menit sampai jemarinya mulai mengetik satu kalimat balasan dengan bagitu banyak ketakutan.

‘Aku mengutuk diriku sendiri, Chan-ah.. Mianhae, bahkan aku tak pantas mendapat maafmu.’

Chanyeol masih terpaku di tempat. Menatap layar ponselnya yang baru saja bargetar dengan satu kalimat balasan.

Chanyeol bergetar.

>”Mianhae, Chan-ah.. Sepertinya hari ini aku lembur. Lain kali saja. Ok!”.<

Ujung bibirnya terangkat. Ia tersenyum.

‘Untuk pertama kalinya, aku ingin berlari.. Tapi bahkan kakiku pun tak sanggup untuk berdiri’.

****

“Rasanya, banyak sekali rahasia yang kau sembunyikan dariku,-” Sehun memejam bersandar setelah menutup pintu ruang inap. Pandangannya tetap sama, putih. Sejauh mata memandang, tetap warna itu yang terlihat. Tidak ada kombinasi warna apapun. Seperti ketidaktahuan yang sering kali membunuhnya, seolah ada skenario yang mengatur hidupnya, serasa ada yang kurang, ruang kosong itu tidak mau terisi.

Tanpa dicegah air mata itu terjatuh, pelupuk matanya tak kuat lagi menahan bendungan air mata yang mulai meluap. Perasaan itu begitu nyata, untuk yang kesekian kalinya, dadanya benar-benar terasa sesak, sakit, perih sama seperti waktu itu. Dulu yang pernah ia rasakan.

“Anieyo, aku hanyamerasa, bodoh. Keadaan keluargaku saja tidak tahu. Belenggu ini benar-benar menyiksaku.” Sehun memejam sejenak, terasa berat namun tak ada jalan untuk menolak.

“Maafkan pria tua ini Sehun-ah, setelah semuanya siap, aku akan memberitahumu. Jangan menangis, aku baik-baik saja,-”

Sehun membuka kancing kerahnya, menarik paksa dasi berwarna abu, lalu menjejalkannya ke tempat sampah. “Aku tahu, aku tunggu janjimu-” Ia kembali berjalan sebelum sekali menoleh kearah pintu berwana putih pucat itu.

Perhatiannya teralihkan sebentar, matanya menatap ponsel.

>“Hun-ah, aku ada di atap, kau kemarilah,-“ <

Pesan singkat menyambanginya beberapa menit yang lalu. Ragu.. Namun bukan hanya hatinya tapi juga langkahnya yang menuntunya ke jalan yang sama. ‘Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya aku tahu diri. Bahkan untuk sekarang ini—pun kesalahan terbesarku adalah… aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu.’

**

Rian menunggu, mengedarkan pandangannya menatap malamnya kota Seoul yang bahkan tidak terlihat lelah di malam hari.

 

Brak..

 

Rian menoleh..

 

 

“Mwo? Segera gunakan semua koneksi yang kita miliki, jangan sampai ada celah. Cari tahu semuanya, atau tidak masalah ini jika sampai ketahuan oleh media semuanya akan kacau. Pastikan tidak ada yang tahu, terutama dari Pria tua dan anak itu. Rahasia ini harus dijaga.”

 

 

Suara itu terdengar lagi, suara yang persis sama dengan siang tadi. Langkahnya kembali terbawa ke sana. Sosok yang berdiri membelakanginya, dengan mulut yang bergumam tak karuan.

 

“Jika sampai mereka tahu, bukan hanya mereka yang akan ku singkirkan, tapi kau juga!. Dengar, tidak ada waktu lagi sampai pria tua itu benar-benar sembuh, sepertinya cara lama tidak berhasil kali ini, jangan sampai ada kesalahan apapun”.

 

Rian diam di tempat. Kakinya kaku, tubuhnya kaku. Suara itu menghilang bersama dengan hentakan pintu pemecah keheningan.

“Apa ini?”

Ia sering melihat adegan-adegan ini dalam film, biasanya adegan seperti ini tidak jauh-jauh dengan kejahatan yang akan atau telah dilakukan seseorang. Rian kembali menoleh, pintu itu tertutup. Ingatanya kembali teringat saat satu nama menyapa gendang telinganya. Ketika ia bertemu dengan orang-orang berkerah putih, berwajah malaikat namun berhati  binatang.

Ketika mata dibutakan dengan harta, bukankah cara sekejam  apapun dilakukan?.

**

‘Putih

Putih

Kenapa harus berwarna putih? Aku bosan dengan warna itu, warna yang telah mengenggut kedua orang tuaku.

Warna putih sialan. Rumah sakit sialan’.

Tatapannya kosong, tubuhnya seakan melayang saat menelusuri lorong putih rumah sakit. Air matanya berontak ingin keluar, namun dengan sekuat tenaga ia menahannya, ia tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapan Rian. Tapi ia benar-benar ingin menangis. Lubang dalam dadanya kini mulai kembali menganga dan terbuka. Sehun melipat satu kakinya dengan perlahan, membiarkan airmatanya terus mengalir. Setelah merosot disatu sudut rumah sakit, ia bersandar didinding. Tidak peduli dengan orang-orang yang memerhatikan, memejam dengan wajahnya menenggak membiarkan air mata itu mengalir.

Biarkan ia terlihat menyedihkan didepan orang lain, asalkan bukan didepan Rian.

Matanya terbuka, perhatiannya beralih pada satu nama dilayar ponselnya. “Eoh?… Tetap awasi mereka!” terdengar ada jeda saat mengucapkannya, Sehun kembali mematikan ponselnya, tersenyum kecil lalu kembali beranjak dengan langkahnya tak melambat, namun terasa berat berjalan.

Rian melambai, Sehun membalasnya dengan senyuman. Namun gadis itu tahu ada sesuatu yang tidak beres. Sehun menghentikan langkahnya. Menatap gadis itu lembut, menyembunyikan perasaannya dengan senyuman manis di bibirnya. “Bagaimana keadaan kakekmu?, Ia baik-baik saja?” Lagi-lagi senyuman yang mampu membuat gadis itu terpesona.

‘Ada apa denganmu? mungkinkah ia tahu? Apakah harus kukatakan padanya?’

Tapi belum-belum gadis itu bicara, Sehun langsung memeluk pinggang Rian menariknya lebih dekat, Rian terkesiap, membungkam kata-kata yang kemudian tercekat di tenggorokkannya. Namun matanya tak berpindah dari iris hitam milik Sehun.

Sehun mengelus pelan pipinya sebelum akhirnya membungkuk meletakkan keningnya di bahu Rian. “Rian-ah, bisakah kita tidak membahas hal ini?.”

Sehun memejam di sana. Kenyamanan yang begitu saja menjulur keseluruh tubuhnya. Meredam amarahnya yang awalmya membuncah di sana, Rasa nyaman yang sebenarnya lebih berbahaya dari kebencian, ketika rasa nyaman menyelimuti mereka berdua, keinginan mereka untuk bersama telah melebihi apapun. ‘Jangan pernah perlihatkan sisi lemahmu dihadapan orang lain’, terlebih dari gadis itu. Tapi bisakah untuk sejenak ia menikmati sandaran itu untuk menangis, walau hanya sedetik?.

“Aku mengerti,,,” Sehun bergeming, Rian melanjutkan, walau bukan kalimat itu yang sendak ia katakan. “Kau tidak sendirian.” Gadis itu menunggu, masih menunggu reaksi Sehun yang kini masih diam. Rian menyentuh surai-surai hitam milik Sehun yang tertiup angin, mengusapnya teratur dari atas ke bawah.

‘Meskipun belum yakin sepenuhnya, laki-laki tadi, dengan semua ucapannya mengarah pada satu hipotesis yang ku lihat dari sikapmu. Aku ingin mengatakannya-tapi, aku tidak ingin memperburuk keadaanmu. Akan ku tunggu sampai kau siap.’

Sampai kapan rahasia itu akan tertutupi? Seakan jauh dari kata terbongkar. Bahkan sejak awal ia tidak mengerti apa rahasia besar yang mereka tutup-tutupi, yang pasti ia yakin suatu kebenaran dari keganjilan yang ia alami.

“Rian-ah?” Matanya terbuka.

“Mm..?” Gadis itu menyahut pelan.

‘Seharusnya menjauh dari dekatnya, yang tak kusangka, tapi aku tak bisa bergerak. Matanya yang hitam memesonaku’.

Sorot mata mereka terkunci. Saat Sehun merengkuh wajahnya, menempelkan dahinya di dahi Rian. Gadis itu diam terpaku menatap matanya. Tak ayal yang mampu membuat gadis itu terbuai dengan wangi napasnya. “Aku ingin bernostalgia, Rian-ah” katanya berbisik. Rian meremas blazernya, hanya menjawab dengan satu senyuman di bibirnya. Sehun balas tersenyum, ingatannya kembali mengingatkan satu-satunya kenangan indah yang ia milikki dihari ulang tahunnya.

Sejenak hanya ada damai ketika bibir mereka bertaut, menciptakan perasaan kehangatan, rindu dan harapan. Tiba-tiba saja aku merasa tenang, dan semua kegelisahanku terasa tidak penting’.

Hening…

Hanya ada gerakan bibir mereka yang bergerak singkron. Sehun menciumnya dalam ketenangan. Hanya terdengar denyut nadi mereka yang terdengar seirama jika disimak dengan benar. Napasnya tidak melambat, juga tidak memburu, teramat tenang terhanyut dalam perasaan mereka masing-masing. Sepersekian detik setelah merasakan sesuatu yang mampu mengembalikan kenangan manis mereka. Semuanya kembali normal ketika merasakan bahwa bibir mereka akhirnya berpisah.

Rian terakhir membuka mata, tak ayal pipinya merona, Sehun terus menatap kedalam matanya, kembali beradu pandang. Menyingkap rambut gelapnya dan menyelipkannya ke balik telinga. Menelusuri bibirnya yang penuh dengan ujung jarinya, Mendekatkan wajahnya lagi, dimana ia bisa merasakan kehangatan napasnya. Lebih dekat lagi… Sehun terus memandangi wajahnya, takut-takut jika ada yang berubah, namun yang berubah hanyalah senyuman yang mengembang diwajah Rian.

Sehun sangat tergoda untuk bisa memperlama situasi ini; dengan Rian bersamanya, atas kemauannya sendiri. Sehun mendesah atas dilema ini. Sehun mengangguk dan tersenyum. Keyakinannya mencuat ia yakin bahwa Rian pun merasakan hal sama dengannya. ‘Aku ingin gadis ini, sangat menginginkannya, dan dia menginginkanku juga’. Sehun manandangi mata coklatnya yang dalam. Tanpa dikomando lagi, Wajah mereka kembali mendekat, seperti tertarik magnet. Dan bibir mereka kembali bertaut.

‘Beri aku satu alasan, kenapa kau mencintaiku?’

Terlintas satu kalimat, yang mengingatkannya akan sesuatu. Rian kembali meremas blazernya.

****

Sepertinya chapter yang ini agak kepanjangan ceritanya, semoga ga bingung and bosen bacanya… Thank’s for reading ^-^

Iklan

5 thoughts on “Beautiful Pain (Chapter 6)

  1. Agak bingung sm chapter ini, seakan bnyk kata2 yg mksdnya tersirat gt deh😄 tp ttp bagusss!!! Kasian Ceye😭 lanjut author nim!🙌

  2. chapter ini benar2 banyak tanda tanyanya kasihan chanyeol tapi gimana dong !!!! cinta,cinta semua karena cinta makin penasaran di tunggu next chapter….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s