N SEOUL TOWER IN LOVE (Chapter 1)

1

Tittle                   : N SEOUL TOWER IN LOVE (Chapter 1)

Author              : Kang Gin Jin
Genre               : Romance, Friendship, School Life

Length              : Chaptered

Rating               : PG 13+

Main Cast        : Kim Hyu Rin (Yuri) | Oh Se Hun (Sehun)

Support Cast  : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Se Hee (Sehee), Park Chan Yeol (Chanyeol), Shin Hyu Ra (Hyu Ra)

Disclaimer       : Story and plot in this fanfic originaly made by me.

Author’s note : Saya akan menunggu komennya para Readers. Mian jika alurnya gj dan terlalu cepat. No kopas, no plagiat. Gomawo.

Warning           : Typo bertebaran

 

 

N SEOUL TOWER IN LOVE (Chapter 1)

 

Yuri POV

Malam ini begitu gelap, segelap hatiku saat ini. Tak ada bulan, tak ada bintang, yang ada hanya awan gelap. Hawa dingin mulai menusuk ke tulang. Mungkin hujan akan turun, aku masih termenung melihat pemandangan kota di malam hari dari atas N Seoul Tower.

Rasanya baru kemarin kau menyatakan cinta padaku di tempat ini. Sejak saat itu hidupku mulai berubah dari Yuri yang cuek menjadi Yuri yang penuh dengan perhatian. Dari yang pemarah menjadi yang mudah memberi maaf. Hari-hari ku menjadi sangat indah saat bersamamu. Hingga tak terasa sudah satu tahun kita bersama.

Tapi kini Yuri telah kembali menjadi yang dulu dan semua itu karena kau. Mengapa kau menghianatiku, aku tidak pernah menyangka kalau kau setega itu. Kau hanya membuatku sebagai taruhan pada teman-temanmu. Apa salahku, apa karena aku cucu dari keluarga Kim, pemilik Seoin Group dan juga pemilik sekolah kita, sekaligus musuh besar apphamu.

Apa kau lupa dengan janji suci kita di tempat ini. Kau bilang kau akan mencintaiku sampai akhir, bahkan kita telah memasang gembok cinta disini. Berharap agar cinta kita akan menyatu selamanya. Mungkin kau juga lupa dengan semua kenangan yang pernah kita lalui bersama. Kita selalu berangkat bersama naik sepeda bersama. Apapun yang kita lakukan kita selalu berdua.

Pada awalnya aku tidak mau berangkat dengan sepeda, karena itu sangat melelahkan dan juga panas. Tapi kau bilang itu menyehatkan dan juga saat itu kau belum punya SIM. Jadi  lebih aman memakai sepeda. Aku juga masih ingat saat perjalanan ban kita bocor, jadi terlambat masuk sekolah sehingga kita di hukum. Saat mengingatkan aku ingin kembali ke masa itu. Tapi kini semuanya telah hancur, sejak saat aku mengetahui percakapanmu dengan teman-temanmu di kantin. Kau bilang, kau hanya memanfaatkanku agar kau jadi terkenal di sekolah. Karena kau telah menjadi namja chingu dari cucu pemilik sekolah.

Kau tahu betapa hancurnya hatiku saat itu. Aku bagai disambar petir di siang bolong. Langit seolah runtuh menimpaku. Kini aku hanya bisa menyesali, mengapa aku harus mengenalmu dan mengapa aku harus mencintaimu. Aku benar-benar pabbo telah mempercayai namja sepertimu. Aku berharap kau mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatanmu, karena aku percaya hukum karma masih berlaku.

Tak terasa syalku sudah basah dengan air mataku untuk apa aku memikirkan namja itu, dia hanya bisa menyakitiku. Ayo sadarlah Yuri, sekarang kau harus bangkit buktikan kalau kau bisa hidup tanpa dia. Tapi aku tetap tak bisa melupakannya, aku masih sangat mecintainya.

“Baekhyun oppa, kenapa kau tega melakukan ini. Apa kau tau aku sangat mencintaimu. Saranghae, jeongmal saranghae”, kataku dalam hati.

Lalu aku menulis dalam buku harianku, yang isinya:

Eomma, Appha, mianhae, jeongmal mianhae. Aku memang bukan anak yang baik untuk kalian. Mianhae telah merepotkan kalian. Sekarang aku akan pergi menyusul halmoni hidup tenang disana. Gamsamnida telah membesarkanku sampai sekarang. Saranghae, aku mencintai kalian. Selamat tinggal, semoga kalian hidup bahagia, dari anakmu.

Setelah menulis itu, aku menaruh bukuku di tempat itu, lalu perlahan-lahan aku naik ke pagar tempat itu, dan dalam hati aku berkata selamat tinggal Baekhyun oppa, semoga kau bahagia dengan hidupmu. Selamat tinggal eomma, appha dan selamat tinggal dunia yang kejam ini. Lalu aku melompat dari pagar itu. Tapi, bruk. Aku jatuh dipelukan seseorang. Dia menyelamatkanku. Dia menarikku agar aku tidak jatuh. Siapa namja ini, mengapa dia menyelamatkanku seharusnya dia membiarkanku jatuh.

“Dasar yeoja pabbo bagaimana bisa kau mau melompat dari tempat ini. Kau bisa mati, kau sudah gila ya!”, katanya padaku. Tapi aku masih tidak percaya selarut ini masih ada orang di tempat ini. Lalu dia menyadarkanku dan aku langsung menjawabnya.

“Iya aku memang sudah gila, kenapa kau menolongku! Kenapa kau tak membiarkanku jatuh!”

“Kau…. dasar. Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena aku sudah menolongmu. Jika kau ada masalah, bukan begitu cara menyelesaikannya semua masalah pasti ada jalan ke…”

Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya aku sudah menyelanya:

“Diam!!! Neo, nugu seyo? berani sekali menceramahiku, kau tidak ada urusannya dengan ku. Kau tak tau apa-apa tentang ku, jadi diamlah!”

Ne, aku memang tidak mengenalmu tapi bukan begitu caranya!”

“Sudah kubilang diam!”, lalu aku mendorongnya sambil berkata “Aku beci semua ini, aku benci”. Aku pun berlari meninggalkannya sambil terisak–isak. Aku pergi mencari taxi dan pulang.

Yuri POV end

Tapi namja itu masih di tempat itu. Sepertinya dia menemukan sesuatu di sana. “Dasar yeoja pabbo, mengapa dia sampai senekat itu, tapi dia manis juga. Mengapa aku memikirkan yeoja itu”. Saat dia berjalan pergi dia menendang sesuatu lalu dia mengambil benda itu. ‘Apa ini? Ini buku harian. Pasti milik yeoja itu. Baiklah, aku akan tau siapa kamu. Kita pasti bertemu lagi’, kata namja itu dalam hati. Suara gemuruh petir sudah mulai terdengar, mungkin karena tau akan hujan namja itupun pergi dari tempat itu.

  • §§

Yuri POV

Akhirnya aku sampai di rumah tapi belum sempat aku masuk rumah hujan deras sudah mengguyurku, hingga aku jadi basah kuyup. Aku pun mengetuk pintu rumahku dan yang membuka adalah Park ahjumma dia adalah pelayan setia di keluargaku. Ku lihat mukanya begitu cemas, mungkin dia mengkhawatirkanku, karena sudah selarut ini aku belum pulang. Saat dia tahu kalau itu aku, dia sangat senang dia bertanya padaku. Mengapa jam segini baru pulang. Apa ada masalah? Akupun memeluknya dan menangis di pelukannya. Dia sudah ku anggap seperti eommaku sendiri, karena sejak kecil dia yang merawatku selama eomma dan appa pergi keluar negri. Dia juga sebagai tempat curhatku, karena aku hanya anak satu-satunya di keluarga ini, sehingga temanku hanya dia. Dia dan juga nampyonnya Park ahjussi yang merupakan supir di keluargaku, sudah mengabdikan diri sejak lama. Mereka tidak mempunyai aeggi, karena itulah mereka masih bertahan dirumah keluargaku. Mereka sangat setia dan jujur itulah mengapa keluargaku mempercanyai mereka. Apalagi Park ahjumma, dia selalu memberi solusi dari masalah- masalah yang aku ceritakan. Aku sangat menyanyanginya.

Setelah tahu kalau aku sudah pulang, dia menyuruhku masuk dan menyuruhku berganti pakaian. Dia bilang dia juga akan berganti pakaian dan membuatkanku susu hangat. Pasti bajunya juga juga basah, karena tadi aku memeluknya. Setelah aku berganti pakaian aku pergi ke ruang keluarga sambil menonton TV dan menunggu Park ahjumma membuatkan susu hangat untukku. Selang beberapa menit dia datang membawa susu hangat itu, dan memberikannya padaku. Tanpa pikir panjang aku langsung menerima dan meminumnya sampai habis, ya karena aku sangat kedinginan dan susu itu cukup untuk menghangatkanku. Dia sengaja membuat susu tidak suka susu coklat atau rasa lainnya itu karena aku alergi dengan coklat. Jika aku makan coklat maka seluruh badanku akan gatal dan memerah untuk menyembuhkan cukup lama bisa sampai satu bulan, karena itu aku benci coklat.

Setelah menghabiskan susuku, aku ditanya oleh Park ahjumma. Lalu aku menceritakan tentang kejadian di sekolah waktu itu. Itulah sebabnya 3 hari ini aku tidak masuk sekolah dan mengurung diri di kamar, baru malam itu aku keluar, karena pada hari itulah hubunganku dengan Baekhyun oppa genap satu tahun. Ya 11 Januari aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari dimana aku mempunyai namja chingu partama. Setelah menceritakan semua dia menasehatiku bahwa namja bukan hanya ada satu di dunia ini. Dia benar, namja di dunia ini banyak karena itu aku tidak boleh sedih. Yuri hwaiting, setelah menasehatiku. Dia menyuruhku istirahat karena waktu sudah menunjukkan dua pagi, tapi saat aku mau menuju kamarku kepalaku terasa pusing. Semua jadi gelap lalu aku tidak sadarkan diri mungkin ini karena aku kehujanan tadi. Setiap kali terkena air hujan aku pasti demam. Hal ini membuat aku benci dengan air hujan dan aku lebih suka hujan salju.

  • §§

Keesokan harinya aku terbangun dan sebuah tangan telah mengenggam tanganku. Ya, ini adalah eommaku dia sudah pulang seharusnya 2 hari lagi dia baru pulang. Mungkin Park ahjumma telah menelfonnya. Dia masih terlelap pasti karena kecapekan dan sebuah kompres masih melekat di dahiku. Aku melepaskan genggaman itu dan aku melirik jam dindingku menunjukkan pukul 9 pagi. Aku berjalan membuka pintu dan menuju balkon kamarku. Pagi itu matahari sudah tinggi tentu saja sudah pukul sembilan. Cuacanya tidak begitu cerah, awan mendung terlihat sangat tebal. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa wajahku dan itu terasa sangat dingin. Aku membiarkan diriku tetap disitu walaupun hawa dingin mulai terasa. Tanpa aku sadari ada seseorang di belakangku dan memberiku jaket tebal. Dia memperingatkanku agar aku masuk tapi aku bilang aku masih ingin disini. Aku pun mamakai jaket itu.

“Udara di luar sangat dingin chagi, sebaiknya kamu masuk tidak baik untuk kesehatanmu. Kamu  masih sakit?”, begitu katanya panjang lebar padaku. Aku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk ke kamarku. Sesampai di kamar, aku langsung memeluknya. Aku begitu merindukannya.

Eomma sudah pulang, waeyo eomma tidak menelfonku. Kau tau, aku kesepian disini”, kataku sambil terisak dipelukannya. Dia mengelus rambutku sambil berkata, “Mianhe chagi, eomma memang salah. Lain kali eomma akan menelfonmu. Uljima!”.

Jinja apa eomma janji?”

Ne, eomma janji”.

Aku merasa sangat senang, akupun semakin mempererat pelukanku. Tanpa aku sadari ada yang memperhatikan kami dari pintu. Aku melihatnya dan akupun berlari menujunya. Ya itu appa ku, aku pun memeluknya dan berkata,

Appa juga pulang. Bogoshipoyo appa”.

Ne, nado chagi”.

Setelah cukup lama berpelukan, Park ahjumma memberitahu kami untuk sarapan. Yah walaupun sudah agak terlambat kamipun menuju meja makan. Pagi itu kami sarapan dengan nasi goreng  seperti kalian tau aku sangat suka dengan nasi goreng apalagi kali ini aku di temani kedua orang tuaku, tambah berselera makanku. Setelah makan eomma menyuruhku mandi dan berganti pakaian. Akupun menuruti permintaan eommaku. Park ahjumma sudah mempersiapkan air panas untukku. Aku segera mandi dan berganti pakaian. Setelah itu aku pergi ke ruang keluarga. Disana appa dan eomma sudah menungguku dari raut wajah mereka, aku bisa menebak pasti ada yang ingin di tanyakan padaku.

Setelah aku duduk di samping mereka, mereka saling bertatapan entah apa yang mereka lakukan. Mungkin mereka mau mengatakan sesuatu tapi tak tau harus memulainya dari mana. Dan akhirnya eomma memulai pembicaraan dan memecah keheningan diantara kami.

Chagi, kami ingin bertanya padamu?”

Eomma mau tanya apa?” jawab ku singkat.

“Begini Park ahjumma sudah menceritakan semuanya pada kami. Kau jangan marah padanya, kamilah yang memaksakannya. Sekarang kami sudah tau masalahmu karena itu kami sepakat akan mengeluarkan namja itu dari sekolah. Agar kamu mau sekolah lagi”, kata eomma ku berkata lagi.

Aku hanya diam, aku masih memikirkan ide itu.

“Kenapa diam, apa kau setuju dengan ide kami?”

Aniyo, jebal eomma, jangan keluarkan dia. Dia mau sekolah dimana?”

“Lalu apa yang kau inginkan agar kau mau sekolah lagi?”, begitu kata appaku dengan nada marah.

“Biarkan saja aku yang keluar dari sekolah itu dan aku akan sekolah di sekolah yang baru”, kataku.

“Jika itu keinginanmu, baiklah. Appa akan carikan sekolah yang bagus untukmu”.

“Ne, gamsamnida appa.”

Setelah itu telfon appa berbunyi entah siapa yang menelfonnya aku tidak tahu, setelah itu eomma mengikuti appa. Sepertinya itu urusan bisnis. Karena setelah menutup telfon appa bersiap-siap untuk pergi. Eomma mengantarnya sampai ke mobil dan sebelum dia pergi appa mencium kening eomma ku. Setelah itu dia masuk mobil dan pergi. Lalu eomma pun masuk ke rumah. Aku pun menghampirinya dan bertanya padanya kemana appa pergi, eomma hanya menjawab ada urusan bisnis. Dia  menyuruhku untuk istirahat aku pun menuruti kata eommaku.

Aku pergi ke kamar tapi sampai disana ku melihat buku di atas meja  belajar ku itu buku harianku. Sudah lama aku tidak menulis. Ya, hoby ku memang menulis, tapi hanya menulis kejadian yang pernah aku alami. Aku jadi teringat dengan buku harianku yang satu. Disitu aku menulis tentang semua yang berhubungan dengan Baekhyun oppa, sudah kucari-cari tapi tidak ketemu juga. Kemana aku menaruhnya aku jadi ingat malam itu. Aku membawa ke  N Seoul Tower, mungkin tertinggal disana dan pasti sudah di ambil orang. Untunglah aku tidak menyebutkan nama disana, aku hanya menggunakan nama kecilku dan tidak ada yang tau kecuali aku. Waktu itu juga aku menggunakan rambut palsu, jadi namja itu pasti tidak akan tau siapa aku sebenarnya. Setelah berfikir cukup lama akupun menulis sesuatu di buku harianku. Aku menulis tentang kejadian malam itu dan seperti biasa aku tertidur di meja belajarku.

Yuri POV end

  • §§TBC§§§

Gimana readers? Jangan lupa komennya ea. Thanks.

 

2 thoughts on “N SEOUL TOWER IN LOVE (Chapter 1)

  1. maaf sebelumnya tp disini knp sedikit sekali ya percakapannya….
    lebih baik ditulis aja percakapn antar tokoh nya….
    jngan semua diceritakan seperti sinopsis.
    klau mnurut aq sih jadi kurang greget krna penggambaran ceritanya ditulis sperti sinopsis….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s