NEVER LEAVE YOU AGAIN

 

Tittle : NEVER LEAVE YOU AGAIN

Author : Song Ji Hyun

Genre : Yaoi, Sad, Angst, Romance, etc…

Rate : T

Lenght : Chaptered ( Multichapter)

Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other Characters :

  • Kim Jong In as Kai
  • Oh Sehun as Sehun
  • Kim Joon Myeon as Suho
  • Kim Min Seok as Xiumin
  • Choi Min Soo

Summary : Tuhan telah merencanakan hidup mereka agar mereka tahu kesalahan masing – masing dan saling memaafkan.

 

 

CHAPTER 1

 

20 Februari 2014

Matanya masih tertuju pada kap mobil yang basah terkena air hujan itu. Ia mengemudikan mobilnya dengan hati – hati. Mobil sportnya melaju di hiruk pikuk tengah malam Seoul. Di waktu seperti ini, ia akan menemui clientnya.

Byun Baekhyun. Seorang pembunuh bayaran sekaligus hacker paling berkuasa di negri itu. Namun, hari ini ia mendapat sebuah kejutan. Kejutan yang datang dari sebuah foto yang sudah coba ia jauhkan dari ingatannya, yang ia temukan di lacinya.Ya. Orang yang dulu ia cintai ada di foto itu bersamanya. Park Chanyeol. Orang yang dulu pernah dipujanya.

“Aku akan kembali padamu. Jaga dirimu baik- baik.”

“Kau bohong, Park Chanyeol.”.

TES

“Dan jangan menangis, sayang. Aku takkan lama. Aku akan kembali padamu.”

“Maaf, Chanyeol. Aku tak bisa.”.

Sempat terbesit di pikiranya untuk mencari Chanyeol. Namun apa daya,  sekitar empat tahun lalu ia mendengar bahwa kapal mewah yang ditumpangi Chanyeol karam di laut. Ya, kejadian itu terjadi pada tanggal 19 Februari 2009, dua hari sebelum mereka merayakan 1 tahun mereka resmi berpacaran. Kejadian itu adalah awal perpisahan mereka dan awal kegelapan bagi Baekhyun. Jika saja Chanyeol masih hidup ia juga tak akan bisa mencarinya, karena peraturan di jaringan mafianya melarangnya untuk mempunyai teman kecuali teman itu ada dalam jaringan pembunuh itu.

Ia lalu melihat kalender di hpnya, kini tanggal 20 Februari 2014. Dan esok adalah peringatan 5 tahun mereka berpacaran, seharusnya.

BRUUUGGG ! CITTT!

Terdengar sebuah suara benturan dari mobilnya yang menabrak sesuatu.

Lamunanya terpecah. Ia segera keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Ternyata seorang namja sebayanya tertabrak olehnya saat megendarai motor.

“Anda baik – baik saja ?.”. Tanyanya pada laki – laki yang memakai topi itu. Ia mencoba membantunya berdiri.

“Saya baik – baik saja. Maaf, saya buru – buru.”. Cegah pemuda itu lalu pergi.

DEG !

Baekhyun tersentak. Bukankah suara itu…?.

Baekhyun tertegun. Ia lalu mencatat nomor plat motor itu di hpnya. Jika sewaktu – waktu mereka bisa bertemu lagi. Dia ingin meminta maaf dan mengganti kerugian pemuda yang baru saja hilang dari pandangannya tadi.

‘Seperti pernah melihatnya. Entahlah.’. Gumam Baekhyun dalam hati. Ia lalu segera melanjutkan perjalanannya. Sampai di tujuan, ia segera memakirkan mobilnya dan masuk ke dalam gedung berlantai tiga itu.

“Darimana saja kau ?.”. Introgasi seorang pemuda berpostur tubuh tinggi sambil menepuk pundaknya. Mereka lalu segera masuk lift yang sudah terbuka itu.

“Entahlah, nanti saja. Ceritanya panjang.”.Jawab Baekhyun sambil mengamati jam tanganya.

Oh Sehun. Pemuda yang menyapanya tadi merupakan teman dekatnya yang juga bekerja di jaringan mafia itu. Selain Oh Sehun, ada juga satu lagi temanya, Suho yang juga bekerja di jaringan mafia itu.

Sampai di salah satu ruangan, mereka berdua sudah ditunggu oleh Suho dan seorang clientnya.

“Apa yang bisa saya lakukan ?.”. Tanya Baekhyun pada namja setengah baya yang masih gagah itu.

“Mudah saja, kau hanya perlu menangkap orang ini, membunuhnya dan menyerahkannya padaku. Aku memberimu waktu 2 minggu”. Jawab laki – laki itu sambil menyodorkan sebuah foto. “Namanya Kim Jong In, tapi banyak yang memanggilnya Kai. Dia adalah salah satu anggota jaringan Seoul selatan. Dia selalu memata – matai perusahaan senjata kami. Aku hanya ingin memberi pelajaran padanya.”. Lanjutnya.

“Baiklah… asal.. .”. Ucap Baekhyun sambil menatap foto itu.

“Tentu saja. Ini. Sisanya jika kau sudah melakukanya.”. Potong namja itu sambil menaruh amplop yang berisi segepok uang di meja. Tak lama kemudian, seorang bodyguard masuk ke dalam ruangan itu.

“Maaf, tuan. Tapi anda harus pergi sekarang. Pesawatnya akan segera terbang.”. Lapor bodyguard itu.

“Baiklah. Aku akan pergi.”. Pamit namja itu lalu meninggalkan ruangan itu.

Setelah namja dan bodyguard itu pergi, mereka juga bergegas untuk keluar dari ruangan itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu tadi ?.”. Tanya Sehun pada Baekhyun sambil berjalan menuju parkiran bersama Baekhyun dan Suho.

“Aku tadi menabrak seorang namja misterius. Sepertinya aku mengenalnya. Tapi…. entahlah.”.Baekhyun menjelaskanya pada Sehun dan Suho dengan sedikit bimbang.

Ketika aku kehilanganmu,di situlah awal kegelapan bagiku. Layaknya orang yang tak punya harapan aku hanya menunggumu dan mengucapkan namamu di setiap doaku agar kau kembali, memberiku kesempatan sekali lagi.

 

 

 

Di rumah yang penuh dengan kemegahan itu, ia tinggal. Uang hasil kerja kerasnya itu ia gunakan untuk mencukupi kebutuhanya. Walau harus menjadi pembunuh bayaran.

Ia lalu segera mencari informasi ke Xiumin, satu lagi rekannya yang bertugas untuk mencari informasi.

“Aku dengar ia tinggal di sebuah apartemen. Akan kukirimkan alamatnya lewat pesan saja.”. Kata Xiumin dalam telepon.

“Baiklah.”. Jawab Baekhyun.

 

 

 

21 Februari 2014

Keesokan harinya ia segera melaksanakan tugasnya. Ia segera mengemudikan mobil mewahnya ke sebuah area yang cukup terkenal. Beberapa menit kemudian ia berhenti di sebuah apartemen mewah. Ia segera masuk dan mencari alamat yang dicarinya.

Namun, sebelum sampai di tujuan, ia menemukan targetnya yang tengah  berjalan di lorong apartemen itu. Ia mengikuti targetnya yang bukan penjahat biasa itu diam – diam. Ia mengikutinya sekitar dua menit. Sampai…

BRUUUGGG !

Tubuh Baekhyun jatuh ke lantai karena tengkuknya dipukul oleh namja itu. Kai  -namja yang dibunuti Baekhyun-  segera menyeret tubuh mungil itu ke dalam sebuah ruangan dalam salah satu apartemen itu.

“Ini dia. Pembunuh bayaran Choi Min Soo. Orang yang memiliki pabrik senjata itu.”. Kata Kai pada seorang pemuda di ruangan itu.

“Apa kau gila ?!. Bisa saja kawananya menangkapmu. Dasar bodoh!.”. Sergah namja berwajah penuh luka itu.

“Tenang saja. Ia sendiri. Kita akan mengintrogasinya dengan alat pengendali syaraf tenaga listrik yang kubeli di pasar gelap itu.”.

“Baiklah. Kalau begitu tidurkan dia di kamar tamu.”.

“Baiklah.”. Jawabnya singkat lau menyeret tubuh namja mungil itu.

Kai lalu segera pergi untuk membasuh wajahnya ke kamar mandi setelah menaruh tubuh tak berdaya itu di kasur. Tak lama kemudian namja yang ditemui Kai tadi masuk ke kamar itu dan mengamati tubuh yang ada di kasur itu.

“Tidak mungkin. Bagaimana bisa…?!.”. Namja itu seolah tak percaya akan apa yang ia lihat.

“Kenapa ? Apakah kau mengenalnya ?. Apa dia mengenalmu, Chanyeol ?.”. Serang Kai yang berdiri dan menyandarkan badannya di depan pintu sambil melipat kedua tanganya. Chanyeol yang merasa diajak bicara pun menatap Kai dengan ragu – ragu.

“Tidak aku tidak mengenalnya. Aku hanya pernah bertemu dengannya di suatu tempat.’’. Elak Chanyeol lalu beranjak pergi dari tempat itu. Chanyeol merupakan pimpinan dari kelompok mafia dan hacker di Seoul Selatan. Kelompoknya merupakan musuh terbesar dari kelompok Baekhyun.

Setiap hembuskan nafasku aku selalu berharap kita dapat kembali lagi. Mengarungi bersama dunia yang telah memisahkan kita ini bersama lagi. Aku takkan pernah meninggalkanmu lagi, aku berjanji.

Setiap langkahku aku selalu berharap aku dapat bertemu denganmu lagi. Menebus semua dosaku karena tak pernah bisa menemukanmu. Izinkanlah aku kembali memelukmu walau sakit hatimu.

 

 

 

Chanyeol benar – benar tak pernah mengira akan bertemu dengan Baekhyun lagi. Karena, dulu mereka berpisah karena sebuah kecelakaan kapal. Ia masih mengingat bagaimana dulu saat mereka masih bersama. Sungguh menyenangkan. Sampai ia harus masuk ke dalam jarigan ini.

Saat Kai keluar untuk menjalankan misi, ia sengaja masuk ke dalam kamar yang di sana tergeletak tubuh mungil orang yang pernah ada di hatinya itu.  Di dalam kamar, ia melihat fisik dan penampilan Baekhyun yang sudah sangat berbeda saat mereka terakhir bertemu lima tahun lalu. Wajahnya dipenuhi dengan bekas luka. Tangannya sekarang sangat kasar. Ia masih ingat dulu saat mereka berdua masih di SMA, ia ingat saat mengusap rambut Baekhyun, memegang tanganya yang lembut dan bersih, mengusap wajahnya yang cantik saat air matanya terjatuh, dan merasakan sentuhan lembut bibirnya saat mereka berciuman. Ia masih ingat semua itu.

“Kenapa kau harus kembali ke hadapanku lagi ? .”. Tanya Chanyeol. Ia lalu duduk di kursi di samping tempat tidur dan mematung.  Tak lama kemudian, Baekhyun tersadar dari pingsannya dan mencoba untuk duduk.

“Arrrghhh…”. Rintih Baekhyun sambil memegangi tengkuknya.

“Kau tidak apa – apa ?.”. Tanya Chanyeol khawatir.

“Chan… Chanyeol – ie…?.”. Baekhyun begitu terkejut melihat Chanyeol yang ada di sampingnya.

“Iya. Ini aku.”. Ucap Chanyeol sambil menatap kedua mata Baekyun. Ia lalu mendekat lalu memegangi kedua pundak Baekhyun yang mulai bergetar.

“Bagaimana bisa..?.”. Ucap Baekhyun terbata – bata. Ada rasa bahagia yang menyeruak di hatinya. Tubuhnya bergetar, antara haru dan bahagia.

“Tenanglah. Yang terpenting sekarang adalah, kau harus pergi ke tempat ini. Di situ juga ada nomor teleponku. Kau harus bersembunyi di sana sampai aku menemuimu lagi.”. Terang Chanyeol sambil memberikan sebuah alamat dan nomor telepon di kertas. “Kalau tidak, kau bisa dibunuh oleh Kai. Masalah tentang kita berdua bisa kita selesaikan nanti. Aku juga bisa dibunuhnya kalau tahu aku yang melepaskanmu. Cepat pergi !.”. Lanjut Chanyeol.

“B..b.. baiklah.”.Jawabnya yang terdengar terbata – bata.

 

 

 

“Chanyeol – ah… !!! kemana namja itu ?.”. Teriak Kai dari luar. Chanyeol berpura – pura sedang ada di kamar mandi. Jadi ia bisa memberi alasan kalau ditanya Kai kemana perginya Baekhyun.

“Kenapa ?.”. Tanya Chanyeol yang baru keluar dari kamar mandi, pura – pura tak tahu.

“Namja itu hilang !.”.

“Apa ?!. Bagaimana bisa… apa kau tidak mengunci pintunya tadi ?.”.

“Bukankah kau yang ada di rumah ? Bagaimana bisa kau tidak mendengarnya ?.”. Tanya Kai.

“Aku benar – benar tidak tahu dan tidak mendengarnya. Aisssh… sialan !.”. Umpat Chanyeol.

Terima kasih telah kembali padaku, Baekhyun.

 

 

 

Sekitar pukul delapan malam, Chanyeol mengantarkan Kai ke bandara. Ia ditugaskan untuk membeli senjata di Perancis dalam waktu satu bulan. Yang jelas itu hanya rencana Chanyeol yang pura – pura mendesak agar Kai saja yang berangkat,  dan juga kesempatanya agar ia bisa bertemu Baekhyun.

“Jaga dirimu baik – baik. Telepon aku jika kau sudah datang atau akan kembali ke Korea lagi.”. Pesan Chanyeol pada Kai sambil menepuk pundaknya.

“Kau juga Yeol. Tentu saja aku akan selau mengabarimu.”. Ucap Kai lalu beranjak pergi. Chanyeol hanya membalasnya dengan senyuman dan ikut pergi juga. Chanyeol lalu segera pergi menuju tempat dimana Baekhyun berada.

 

 

 

 

BAEKHYUN POV

TOK TOK TOK

DEG… DEG

DEG… DEG

‘Siapa di luar sana ?.’. Pikirku. Aku takut jika itu adalah Choi Min Soo, atau… ah entahlah. Perlahan kubuka tirai jendela. Pria tinggi besar tengah berdiri di depan pintu. Sepertinya itu Chanyeol. Kubuka pintu perlahan. Ya, dia  adalah Chanyeol. Aku lalu menyuruhnya untuk segera masuk karena udara di luar sangat dingin. Kami lalu duduk berhadapan di rumah sederhana itu. Rasanya canggung, aneh, ah.. tak pernah kubayangkan kalau kami akan secanggung ini.

“Chanyeol – ie…” “Baekhyun – ie…”. Ucap kami bersamaan.

‘Ah.., kenapa harus bersamaan juga ?.’ Kini kami lebih canggung. Suasana hening seketika.

‘Ayo Baekhyun katakan sesuatu !.’

“Ba… bagaimana kabarmu ?.”. Tanyaku kaku.

“Yah beginilah. Hidup di dunia mafia sepertimu.”

‘Sialan !. Dia menjawabnya dengan lancar. Apa lagi yang harus kukatakan ?. Ayo, Chanyeol.. katakanlah sesuatu !.’

“Baekhyun.. maafkan aku.”. Dia lalu berdiri dan berlutut di depanku.

‘Apa yang harus aku katakan ?.’

“Aku sepertinya memang tak pantas untuk kau maafkan Baekki…”

‘Dia masih memanggilku Baek ? Mengapa masih sama ketika kami ada di SMA ?. Hentikan Chanyeol !!!’

TES

Air mataku menetes. Aku memeluknya. Kini kami berdua terisak.

“Aku memang tidak bisa memaafkanmu.. karena kau tak pernah salah padaku.”. Ucapku lirih sambil mengelus tengkuknya.

Kesalahanmu yang meninggalkanku sudah kubuang jauh – jauh. Andai kau tahu aku selalu berharap agar kau mengisi lagi ruang di hatiku yang telah kau sakiti.

“Terima kasih Baek…”. Ucapnya.

Tanganku dingin. Kini kami  seperti benar – benar membeku. Keheningan itu mengingatkanku akan perjalanan cinta kami. Dulu.

FLASHBACK

BAEKHYUN POV

21 Maret 2009

“Saranghae.”. Bisiknya di telingaku.

“Iya Yeolli.. aku tahu itu.”. Jawabku sambil sibuk mencabut mahkota bunga yang indah itu dari akarnya pelan satu persatu. Ia lalu mendekat padaku.

“Ini ambillah.”. Katanya lembut seraya menunjukkan kalung perak dengan bandul cincin. Di dalam cincinnya terukir tulisan ‘Chanbaek’

“Pasangkan di leherku.”. Pintaku sambil tersenyum.

“Tentu saja. Aku juga mempunyainya, Baek.”. Ia menunjukkan kalungnya, lalu memasangkan kalung yang ia berikan di leherku.

 

 

 

20 Februari 2009,

Aku tengah mengerjakan pr yang sangat sulit ini di kelas.

“Sedang apa ?.”. Tanyanya sambil meletakkan tas di laci.

“Mengerjakan pr matematika.”. Jawabku singkat. Ia malah menggangguku dengan duduk di kursi tempatku duduk, selain itu ia juga menghimpitku ke tembok.

“Ya… Park Chanyeol ! Hentikan !!!.”. Bentakku sambil memukul – mukul lengannya.

“Aaa.. sakit Baek.. !.”. Katanya sambil duduk di kursinya sendiri.

“Mian.. Yeol – ah. Gwechanayeo ?.”.

“Arrgh..”. Rintihnya.

“Mana yang sakit ?.’’. Tanyaku khawatir.

“Di sini.”. Jawabnya sambil menyentuhkan tanganku ke dadanya yang bidang itu.

“Aishhh…”. Ucapku sambil mendorong badannya.

Aku pun kembali mengerjakan pr yang membuatku pusing itu. Kini masih pukul 6. Di kelas kami baru kami berdua yang sudah datang. Aku masih sibuk dengan prku. Tapi dia malah melihatku dengan mata indahnya itu. Ia meletakkan kepalanya di meja dan menghadap ke wajahku.

‘Apa yang kau lakukan Park Chanyeol ?!’. Pekikku dalam hati.

“Melihatmu sampai puas.”.

‘Apa dia bisa mendengar batinku ?’

“Tentu saja.”.

“Apa ?.”. Tanyaku sambil melihatnya lekat – lekat.

“Iya aku bisa mendengar suara hatimu.”. Jawabnya tenang.

‘Matilah kau Baekhyun !…’. Batinku.

“Kau tidak akan mati.”. Ucapnya.

“Aigoo.. ”. Ucapku. Aku sudah mulai kesal. “Daebakk !.”. Ucapku sambil tersenyum.

“Apa yang daebak ?.”.

“Orang yang ada di depanku.”. Jawabku lalu meneruskan pekerjaanku. Ia lalu tersenyum sambil terus melihatku.

“Sudahlah. Hari ini pasti tidak akan ada pelajaran. Guru kita mungkin sibuk mempersiapkan pentas seni besok.”.

“Baiklah, aku menyerah.”. Kataku sambil memasukkan bukuku ke dalam laci. “Apakah kau mau menampilkan sesuatu besok ?.”. Tanyaku.

“Lihat saja.. kau akan terkejut.”.

“Baiklah.”.

Hanya kau, satu – satunya orang yang bisa mendengar suara hatiku. Isak piluku. Tangis haruku. Dan tawa bahagiaku karena bersamaku. Dan hanya satu aku yang ingin kau dengar, bahwa aku – mencintaimu.

 

 

 

21 Februari 2009

BAEKHYUN POV

Chanyeol menjemputku pagi – pagi sekali dengan sepeda kayuhnya. Ia mengendarainya dengan hati – hati. Mentari seakan tersenyum menyambut pagi yang indah ini. Perasaan aneh ini muncul lagi saat aku bersama Chanyeol. Perasaan yang berbeda. Rasa nyaman dan bahagia yang tidak bisa kugambarkan lagi.

Rasa ini, rasa nyaman yang kau berikan ini membuatku selalu bersyukur pada Tuhan setiap waktu, karena kau ada di sini mengisi  hari – hariku dengan sebuah kenyamanan.

 

 

 

CHANYEOL POV

“Aku akan tampil. Duduklah di depan.”. Suruhku sambil menarik tangannya. Aku segera naik ke panggung dan menyanyikan lagu kesukaanya. Aku dapat melihat senyum manis itu kembali terukir.  Sampai di akhir lagu, jantungku semakin berdegup kencang.

‘Tuhan mudahkanlah segalanya’.

Sesuai dengan rencana, aku menyatakan perasaanku kepadanya setelah bernyanyi.

“Senyumnya seindah mentari yang menyapaku pagi ini. Suaranya selembut air hujan yang membawa kebahagiaan. Matanya sejernih air yang tampak tanpa dosa. Ada sebuah perasaan aneh yang kurasakan setiap hari bila bersamanya, yang orang lain menyebutnya dengan ‘cinta’. Andai ia tahu apa yang aku rasakan. Aku  selalu berharap dapat memilikinya. Menjadikanya seorang yang lebih berharga dalam hidupku.

Byun Baekhyun, orang yang kucintai selama ini. Maukah kau menerimaku sebagai pendampingmu dalam menyusuri gelapnya dunia ini ?. Naiklah ke atas panggung jika kau menerimaku dan jika kau menolaknya pergilah dari tempat dudukmu sekarang.”.

GLEK !

Aku menelan salivaku perlahan. Dia membulatkan matanya setelah mendengar perkataanku. Aku dapat melihat keringat dingin keluar dari pori – pori kulitnya. Ia masih berada di tempatnya duduk. Para guru dan siswa lainya sibuk meneriakkan namaku dan namanya.

‘Ah.. Tuhan. Bagaimana ini ?.’

“Terima ! terima !.”. Teriakan itu justru membuatku makin gugup.

 

BAEKHYUN POV

‘Apa yang harus ku katakan ?.’‘Bagaimana ini ?.’

Batinku berdebat tentang apa yang harus kupilih. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berdiri. Aku hanya mengikuti kemana langkah kakiku. Dan kakiku seperti memaksaku untuk naik ke atas panggung. Sampai di atas pangung, gemuruh tepuk tangan dan teriakan dapat terdengar olehku secara jelas. Ia lalu memberikan ku microphone. Aku mengerutkan alisku seakan bertanya tentang apa yang harus aku lakukan.

“Jawab saja pertanyaanku tadi.”. Bisiknya di telingaku dengan suara baritone khasnya.

“Aku menerimamu.”. Jawabku sambil tersenyum. Keringatku mengalir di sekujur tubuhku. Tapi aku bahagia. Ia lalu memberikan satu bucket bunga yang indah padaku dan mengatakan ‘Saranghae’. Aku menerima bunga itu dan menjawabnya dengan,

“Nado saranghae.”.

Sontak ia langsung memelukku dan menitikan air matanya. Begitu pula dengan aku yang juga menitikan air mata dan memeluknya erat. Banyak dari para siswa yang menangis dan berteriak histeris. Kami lalu menyanyikan lagu kesukaan kami bersama sambil berpegangan tangan. Begitulah… awal cerita cinta kami yang manis itu.

FLASHBACK  END

 

 

 

CHANYEOL POV

Aku melepaskan pelukannya perlahan. Masih ada sisa tangis di pipinya yang kini tak lagi mulus itu. Pertemuan kali ini benar – benar menyayat hati siapa saja yang melihatnya.

“Sudahlah.”.  Kataku sambil menangkup pipinya.

Ia hanya tersenyum simpul dan kembali menunduk. Aku mendongakkan wajahnya dan mencium bibir indahnya. Aku dapat mendengar deru nafas dari hidungnya. Matanya membelalak. Ia terkejut. Jujur. Aku masih mencintaimu, Baek. Aku lalu melepaskan ciuman itu. Kini ia sudah mulai tersenyum. Kami berdua pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi saat kami berpisah. Yaitu setelah kami lulus SMA.

“Sebenarnya saat aku akan pergi ke luar negri dengan keluargaku, aku sedikit cemas. Aku selalu ingat janjiku padamu untuk merayakan satu tahun kita berpacaran denganmu setelah berlibur. Aku tidak bisa menikmati perayaan natalku di sana. Aku meminta orangtuaku untuk kembali ke Korea secepatnya.

Bodohnya aku, aku sudah tau kalau hari itu akan ada badai di sekitar jalur kapal yang aku tumpangi. Tapi aku tetap bersi kukuh untuk kembali saat itu juga. Ya, sampai badai itu benar – benar datang. Semua keluargaku meninggal. Aku di selamatkan oleh seorang saudagar kaya menggunakan sebuah sekoci. Ia juga orang Korea. Aku lalu diajak kembali ke Korea. Aku diangkat sebagai anak angkatnya. Sebagai tanda balas jasa aku harus bekerja menjadi pembunuh bayaran dan hacker atau sejenisnya. Aku mencoba menolak, tapi ia akan membunuhku kalau aku tidak mau. Aku juga di kuliahkan sampai lulus. Sekarang orang yang merawatku telah meninggal, dan aku harus menjadi ketua dari mafia itu, dan Kai adalah keponakannya, ia mengawasiku dan bekerja denganku. Ia akan membunuhku kalau aku berhenti dari dunia mafia itu.”. Ia mendengarkan tiap kata yang kulontarkan dengan seksama.

“Aku bahagia masih bisa bertemu denganmu, Baek.”. Kami akhirnya bercerita cukup lama.

“Aku sangat shock saat mendengar berita tentangmu, Yeol. Setelah mendengar berita tentangmu rasanya aku ingin mati saja. Aku sempat ingin bunuh diri. Kau tahu kan, keluargaku broken home. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku berkeliaran kesana kemari mencarimu seperti orang gila. Aku sempat bekerja menjadi tukang bersih – bersih di bar. Sampai aku di tawari untuk menjadi hacker, aku merasa bayaranya cukup tinggi. Aku merasa ketagihan. Aku juga bisa berkuliah sampai lulus.”. Jelasnya panjang lebar.

“Baek, aku masih mencitaimu.”. Ucapku sambil tersenyum. Ia menghela nafasnya.

“Nado.”.Jawabnya sambil tersenyum.

“Apa kau ingat hari ini sudah lima tahun, Yeol ?.”. Tanyanya.

“Tentu saja, Baek. Tuhan masih berpihak pada kita.”. Jawabku sambil tersenyum.

 

 

BAEKHYUN POV

Setelah sekian lama berbincang aku rasa ada yang kosong. Ya, perutku.

“Yeolli, aku lapar.”. Kataku sambil menyeringai.

“Kau mau aku belikan apa ?.”. Tanyanya sambil memamerkan giginya yang rapi.

“Ttebokkie, sundae, ramen, omurice, coffee late, …”. Belum selesai ku bicara, dia lalu menutup mulutku dengan tanganya yang dingin.

“Kau masih sama seperti dulu ya?.. rakus. Baiklah tunggu di sini aku akan membelinya.”. Ia lalu segera bergegas membeli itu semua.

 

 

 

Satu jam kemudian ia kembali dengan beberapa kantong plastik. Ia lalu segera menyiapkannya di piring, lalu menyajikanya. Aku segera menikmati makanan itu. Namun, dia hanya menatapku yang asik makan.

“Apa yang kau lihat ?.”. Tanyaku.

“Tidak ada. Aku hanya menunggu sesuatu.”.

“Apa maksudmu ?.”.

“Sudah makanlah sana !.”.

‘Ada apa dengannya ?. Apa ia tidak lapar ?.’. Batinku mulai mempertanyakanya.

“Aku tidak lapar.”. Jawabnya.

“Kau masih bisa mendengarnya ?.”. Tanyaku yang terkejut.

“Tentu saja.”

‘Dia pasti punya indra ke enam. Bagaimana bisa dia mampu mendengar batin orang lain ?. Daebakk !.’.

“Aku tidak punya indra ke enam. Aku memang keren, Baek.”. Katanya sambil terus melihatku.

“Kalau begitu kita bicara lewat batin saja.”.

“Terserah.”.

“Aku juga punya kelebihan,Yeol.”

“Apa itu ?.”.

“Mencintaimu.”.

Ia lantas tertawa mendengar perkataanku. Entah kenapa, tertawanya sangat lepas dan bahagia kali ini.

Tawa lepasmu membuatku tahu apa arti sebuah kebahagiaan. Senyummu memancarkan sebuah kedamaian. Dan Tuhan tahu aku mencintaimu karena kau adalah takdirku.

 

Setelah selesai makan,aku meminum kuah ramen itu dari mangkuk. Aku kemudian meminum segelas air putih yang disiapkanya. Ia lalu segera mengambil mangkuk, sendok, sumpit, dan gelas yang kupakai tadi.

“Untuk apa ?.”. Tanya ku menghentikan pergerakanya.

“Untuk makan.”. Jawabnya singkat kemudian makan dengan lahap. “Rasanya lebih enak dari yang kupikirkan. Apakah kau tau, Baek ?. Ini yang disebut dengan ciuman secara tidak langsung. Sesuatu yang baru saja kau gunakan pada mulutmu, lalu kugunakan, bukankah itu namanya ciuman tidak langsung ?.”. Lanjutnya sambil tersenyum.

‘Terserah, Yeol. Kau bilang tadi tidak lapar.’. Ucapku dalam hati.

“Tapi karena melihatmu aku jadi lapar.”.

Ia lalu menempelkan bibirnya tepat pada tempatku menempelkan bibir juga tadi, di gelas maupun di mangkuk.

“Rasanya luar biasa.”. Ujarnya.

‘Lebih luar biasa lagi kalau kau mau mencucinya nanti.’

“Ya. Asalkan kau yang membersihkan kamarnya.”.

‘Baiklah.’. Jawabku dalam hati.

 

Setelah selesai membersihkan tempat tidur, kami lalu segera beranjak tidur. Namun, aku terhenti saat tengkukku mengenai permukaan bantal, sungguh, itu sangat sakit.

“Arrrghh…”. Rintihku.

“Ada apa Baek ?.”.

“Sakit, Yeol.”. Jawabku sambil bangun dan memegang tengkukku. Ia lalu segera mengambil p3k, handuk, serta semangkuk es batu.

 

 

 

CHANYEOL POV

Aku segera menyuruhnya untuk membuka bajunya agar aku bisa mengobatinya. Ia lalu segera membuka kemeja kotak – kotak berwarna merah dengan garis hitam itu perlahan. Begitu banyak luka di tubuhnya. Selain itu, tubuhnya juga sangat kurus. Baekhyun memang berada, tapi sepertinya ia tak menikmati hidupnya.

“Baekhyun – ah, kenapa ada luka sayatan yang lebar di sini ?. Apa masih sakit ?.”. Tanyaku sambil menata es ke dalam handuk.

“Oh, kau tahu kan, hidup sebagai pembunuh bayaran memang sangat sulit. Luka itu baru kudapatkan satu minggu lalu.”. Jawabnya sambil sedikit menoleh ke arahku.

FLASHBACK (SATU MINGGU LALU)

BAEKHYUN POV

“Maaf, sepertinya anda salah orang. Saya bukan Oh Sehun.”. Jawabku pada lelaki seumuranku yang menggunakan masker hitam itu. Sepertinya orang itu salah mengira kalau aku adalah Sehun.

“Terserah. Mengaku sajalah ! Aku akan mengahabisimu !.”. Gertak orang itu. Kami lalu berkelahi beberapa saat. Namun, kepalaku terasa sangat pusing, akhirnya…

BRUUG..  SREEET..

Ia menjatuhkanku, aku tidak bisa menahan pukulannya karena sangat pusing. Ia lalu menyayat punggung bagian kananku secara vertikal, sekitar 30 cm.

“Arrghhh… hentikan !!!.”. Teriakku. Tak lama kemudian semua terasa gelap.

 

Kubuka mataku perlahan. ‘Arrrghh..’ sakit rasanya punggungku. Aku baru teringat kejadian beberapa waktu lalu. ‘Ya, aku pingsan.’. Kulihat sekitarku, lantai itu berlumuran darah juga kemeja putihku yang sudah berubah warna. Aku segera bangkit dan pulang, walau sulit rasanya untuk melangkah. Aku menyembunyikan luka itu dari Sehun.

FLASHBACK  END

CHANYEOL POV

Aku lalu segera mengompres tengkuknya dengan es. Warnanya sekarang memang sedikit kebiruan.

“Arrghhh..”. Rintihnya.

“Maaf.”. Aku  belum pernah mendapatkan luka sebanyak itu. Jujur, karena aku adalah pemimpin, maka aku hanya akan memperkerjakan anak buahku dan jarang keluar untuk melawan musuh. Aku juga melihat tatoo bertuliskan ‘Chanbaek’ di bawah tengkuknya. Aku juga mempunyai tatoo seperti itu.

FLASHBACK

CHANYEOL POV

21 Juni 2009.

“Sepulang sekolah mau kemana, Baek ?.”. Tanyaku saat kami tengah makan di kantin.

“Entahlah, mungkin pulang dan tidur. Aku tidak ada kegiatan minggu ini. Membosankan .”. Jawabnya lesu.

“Bagaimana kalau kau ikut aku ?. Kita membuat tatoo di bawah tengkuk kita dengan tulisan ‘Chanbaek’.”.

“Boleh juga. Sepertinya bagus.”. Jawabnya girang.

Sepulang sekolah, seperti janji kami. Kami berangkat menuju tempat pembuatan tatoo. Awalnya namja yang kusayangi ini sempat takut, namun akhirnya ia memberanikan diri.

“Tatoo ini akan menjadi saksi bisu kita.”. Katanya setelah pulang membuat tatoo.

“Tentu saja.”.

FLASHBACK END

 

CHANYEOL POV

“Baek, kau masih ingat dengan tatoo ini ?.”. Tanya ku sambil meneteskan obat di bagian yang luka bekas sayatan.

“Tentu saja. Mana mungkin aku melupakanya.”. Jawabnya sambil tersenyum.

“Sudah selesai.”. Ucapku.

 

 

 

BAEKHYUN POV

“Maafkan aku, Baek. Seharusnya aku menjagamu.”. Katanya sambil menitikan air mata. Aku dapat merasakanya, karena air matanya menjatuhi badanku.  Aku masih membelakanginya.

GREB

Ia lalu memelukku. Rasanya hangat dan sangat nyaman. Aku selalu menyukai pelukan dari badannya yang jauh lebih besar dari badanku itu. Air matanya membasahi pundakku.

“Yeoll – ah.. sudahlah. Ini bukan salahmu.”. Kataku yang akhirnya juga meneteskan air mata sambil mengelus tanganya yang ada di pinggangku. Tangisnya semakin menjadi – jadi. Sungguh, aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku begitu kasihan melihatnya. Kami terdiam beberapa saat dalam tangisan.

Ini semua bukan salahmu, Chanyeol.

“Hentikan tangismu, Yeol !. Yang penting kita sudah bertemu lagi sekarang.”. Ucapku. Ia lalu segera menghentikan tangisnya dan beranjak pergi.

“Pakailah bajumu !.”. Ujarnya sambil melemparkan bajuku dari ambang pintu. Aku hanya tersenyum simpul dan segera memakai bajuku. Kami lalu segera pergi tidur. Hari ini aku sangat bahagia. ‘Terima kasih, Tuhan.’

 

 

 

 22 Februari 2014

CHANYEOL POV

Pagi ini aku bangun dengan bersemangat. Entah apa tapi aku bangun dengan keadaan tersenyum. Mungkin karena ada Baekhyun di sampingku. Aku membuka mataku. Wajahnya tepat berada di depan wajahku. Aku tersenyum. Kusentuh wajah mungilnya yang penuh luka itu. Ku sentuh luka itu perlahan.

TES

Air mataku menetes sekali lagi ke tangannya.

“Maafkan aku, Baekhyun. Ini semua salahku. Aku terlalu bodoh.  Seharusnya aku kembali padamu dan menjagamu, seperti dulu.. Tapi keadaan yang memaksaku begini. Tuhan sudah menakdirkan kita begini. Maafkan aku, Baek. Aku menyayangimu, benar – benar menyayangimu.”. Ucapku sambil mengusap pipinya. Kini air matanya menetes. Matanya masih menutup, tapi ia tersenyum. Sekilas semburat kesedihan tampak dari wajah cantiknya itu, walau ia tengah tersenyum. Ia membuka mata perlahan. Aku segera menghapus air mataku dan air matanya.

“Bangunlah.”. Ucapku lirih sambil tersenyum. Aku segera meninggalkan kamar itu dan pergi ke kamar mandi.

“Aku masih mengantuk, Yeol. Biarkan aku tidur dulu.”. Katanya sambil duduk di ujung kasur. Tapi matanya kembali tertutup. Ia tidur dengan posisi duduk. Aku hanya tersenyum dan pergi.

 

BAEKHYUN POV

Sungguh aku benar – benar mengantuk. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini sebelumnya. Terima kasih, Chanyeol. Entah bagaimana aku ingin tidur dulu, dalam posisi apa saja. Aku benar – benar mengantuk. Biarkan aku tidur dulu.  Jaebbal…, mataku terasa seperti sangat sulit dibuka. Aku sangat mengantuk, sayang.

 

 

CHANYEOL POV

“Baek, bangunlah.”. Ucapku setelah keluar dari kamar mandi. Namun, aku menemukan hal yang lucu. Namja satu itu, tidur sambil duduk dengan keseimbangan yang buruk. Badannya bergoyang ke depan dan ke belakang bagai ditiup angin. Rasanya ingin tertawa keras, namun takut kalau membangunkanya. Kepalanya menunduk lemas. Aku berdiri di depannya dan membungkuk. Mendekatkan wajahku dengan wajahnya. ‘Hahahaha’. Ingin sekali aku mencubit pipinya yang menggemaskan. Saat badannya bergoyang ke depan, hidung kami bersentuhan. Begitu seterusnya, tapi ia tidak bereaksi apapun. Sampai akhirnya kepalanya terbentur kepalaku, dia baru bangun.

“Pagi peri tidur.”. Sapaku dengan tetap pada posisi sebelumnya. Sekali lagi, ia memejamkan matanya kembali.

‘Mungkin ia lelah.’. Pikirku. Aku lalu mendorong kepalanya ke belakang. Badannya mengikutinya, ia kembali tidur. Aku menyelimutinya lalu pergi menyiapkan sarapan.

Lima belas menit kemudian.

Aku sibuk membuat teh dan menyiapkan sarapan di dapur. Terdengar suara pintu kamarku dibuka. Tentu saja, Byun Baekhyun. Ia lalu segera masuk ke kamar mandi yang ada sekitar dua meter dari kamar. Aku lalu segera mengejarnya.

KLEK…

Kubuka pintu itu. Aku lalu berdiri di belakangnya yang tengah menghadap cermin.

“Ommo !.”. Ucapnya. “Ku kira siapa. Jangan mengagetkanku.”. Lanjutnya. Ia lalu segera membasuh wajahnya. Aku masih di sana.

“Kau masih memakai kalung itu, Baek ?.”. Tanyaku saat melihat kalung perak dari balik kemeja merahnya.

“Tentu saja. Bagaimana denganmu?.”. Tanyanya.

“Aku juga masih memakainya.”

FLASHBACK

CHANYEOL POV

21 Maret 2009

“Saranghae.”. Bisikku di telinganya.

“Iya Yeolli – ah.. aku tahu itu.”. Jawabnya sambil sibuk mencabut mahkota bunga yang indah itu dari akarnya pelan satu persatu. Aku lalu mendekat padanya.

“Ini ambillah.”. Kataku lembut seraya menunjukkan kalung perak dengan bandul cincin. Di dalam cincinnya terukir tulisan ‘Chanbaek’.

“Pasangkan di leherku.”. Pintanya sambil tersenyum.

“Tentu saja. Aku juga mempunyainya, Baek.”. Jawabku sambil menunjukkan kalungku. Aku lalu memasangkan kalung yang ku berikan di lehernya.  Ia lalu menunjukkan senyumnya paling manis. Perlahan kudekatkan wajahku dengan wajahnya. Aku dapat merasakan air matanya yang jatuh ke wajahku. Ciuman pertama kami terjadi saat itu.

“Terima kasih, Chanyeol.”.

FLASHBACK END

 

 

 

CHANYEOLPOV

“Bagaimana keadaanmu ?. Apa masih sakit ?.”.

“Masih sakit. Tapi tak seperti kemarin.”. Jawabnya sambil menatap mataku lewat cermin itu.

“Aku akan keluar.”. Kataku sambil menepuk pundaknya. Ia hanya tersenyum manis. Aku segera keluar dan menyelesaikan memasak sarapan.

 

 

AUTHOR POV

Tak lama kemudian, Baekhyun segera duduk di depan meja makan yang sudah penuh dengan makanan. Chanyeol masih berkulik di dapur. Baekhyun hanya memandangi Chanyeol yang tengah sibuk.

“Makanannya siap.”. Ucap Chanyeol yang datang dari dapur sambil membawa omurice.

BAEKHYUN POV

“Wah, sepertinya enak.”. Ucapku.

“Entahlah.”. Aku lalu mencicipinya. Seleranya masih sama. Ia tak terlalu suka asin. Bertolak belakang denganku.

“Agak hambar bagiku, Yeol. Tapi, entahlah aku suka.”. Dia hanya tersenyum. Pipi cubbynya membuatku ingin mecubitnya.

“Kenapa tidak memakai mangkuk bekasku lagi ?.”. Tanyaku.

“Jika terlalu sering nanti rasanya tidak enak lagi.”. Jawabnya sambil menatapku.

“Aishh.. dasar.”. Aku lalu memukulkan telunjukku di dahinya.Ia lalu membalasnya. Kami lalu makan dengan lahap.

“Kenapa kau tidak tinggal di rumahmu yang mewah, Yeol ?.”. Tanyaku.

“Aku lebih suka di sini. Lebih damai. Daripada harus hidup di rumah mewah dengan hiruk pikuknya. Aku lebih suka di sini. Baru kau yang tau kalau aku punya rumah di sini, Baek.”. Jawabnya sambil menatapku. Aku lalu menganggukkan kepalaku.

“Makanlah yang banyak. Aku tak ingin melihatmu kurus lagi.”. Katanya.

JLEBBB !

 

To Be Continue

RCL Juseyo ~ Bbuing – bbuing ~. Kamsahamnida ! RCL ne ? ne? Ne?.

 

 

 

One thought on “NEVER LEAVE YOU AGAIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s