Sarang Love Story

postersls

Sarang Love Story

 

Author  : OhCha a.k.a Camelia

Rating   : PG-17

Genre   : Romance, Hurt

Cast       :

–              Chanyeol EXO as Park Chanyeol

–              Yoon eun hye as Yoon Sarang

–              Sehun EXO as Oh Sehun

–              Sooyoung SNSD as Choi Sooyoung

–              Suho EXO as Kim Junmyeon

–              Seulgi Red Velvet as Kang Seulgi

A/N        :

Annyeong~ balik lagii sama chap 4. Semoga gak bosen sama ff garingku hehe.. please sempet komen dan like. Gomawo~

_____________________________

Setelah semua yang terjadi dirumah keluarga Park, chanyeol mengantar sarang untuk pulang ke rumahnya.

“Aku akan menjemputmu besok.” Itulah yang keluar dari mulut chanyeol setelah diperjalanan tadi kebisuan menyelimuti mereka.

“Tidak perlu.. aku tidak ingin ada omongan negatif disekitar kita.” Chanyeol mencoba mengerti apa yang dikatakan sarang dan itu memang benar, tapi kenapa chanyeol saat ini hanya berpikir akan melindungi gadis ini.

Sarang turun dari mobil chanyeol dan mobil itu berlalu meninggalkan sarang. Sarang berjalan kerumahnya dan melihat seseorang yang menunggunya didepan rumah. Sarang kenal betul siapa laki-laki itu.

“Oh sehun.. kenapa kau disini?”

“Aku dari lokasi shoting.. tidak jauh dari sini, aku ingat alamat rumahmu dekat dari sana makanya aku mampir.” Ujar sehun dengan senyum manis mengembang.

“Masuklah akan aku buatkan kopi untukmu.” Ajak sarang

“Tidak usah, ini sudah larut kau harus istirahat.. aku.. hanya ingin melihatmu.” Senyum sehun berubah jadi malu-malu saat ini, “Tapi.. siapa yang mengantarmu tadi? Apa itu pacarmu?” Tanya sehun tidak yakin.

“O-oh anii.. dia hanya rekan kerja dikantor baruku.” Lebih tepatnya bossku, batin sarang.

Sehun hanya tersenyum lega mendengar hal itu.

“Baiklah, kau masuklah. Lain kali bagaimana kalau kita makan atau jalan-jalan bersama? Aku sangat merindukanmu..”

“Setuju.. aku juga merindukanmu.”sehun lalu masuk dalan mobil sport merahnya dan melambaikan tangan pada sarang. Sarangpun membalas lambaian tangan sehun lalu masuk kedalam rumahnya.

Malam ini sarang tidak bisa tidur, perkataan-perkataan ibu chanyeol masih terngiang ditelinganya. Pagi pun sarang juga bangun lebih awal dan langsung menyiapkan sarapan untuknya dan sooyoung. Sooyoung yang juga sudah siap untuk berangkat kerja pun langsung duduk dimeja makan untuk sarapan. Mereka berdua tengah melahap roti panggang buatan sarang, tapi sooyoung melihat aura aneh diwajah sahabatnya itu.

“Kau kenapa? Wajahmu terlihat sedang sedih?” Sarang menghentikan makannya, lalu mengangguk tanda mengiyakan.

“Oh wae? Cepat ceritalah padaku kita masih punya banyak waktu.” Sooyoung nampak tidak sabar, dan sarang pun akhirnya menceritakan kejadian awal antara dirinya dan chanyeol sampai kejadian semalam di rumah orang tuanya. Sarang benar-benar sedih mengingat kejadian itu.

“Itu pasti menyakitkan untukmu.. ” sooyoung yang terbawa suasana juga ikut sedih tapi dia berusaha menguatkan sarang dengan menggenggam tangannya.

“Kau tahu sooyoung, aku selama ini tidak pernah mendengarkan orang berkata apapun tentangku.. tapi mendengar itu keluar dari mulut ibu chanyeol rasanya hatiku hancur.. ” mata sarang mulai berkaca-kaca.

“Yoon sarang.. aku tau kau adalah wanita yang kuat, kau bisa melalui ini semua.”

“Aku sudah memutuskan untuk mengganti saja kerusakan mobil chanyeol dan.. aku akan berhenti menjadi kekasih pura-puranya.. ” sarang mendongakan kepalanya agar air matanya tidak jatuh.

Sooyoung yang didepannya hanya mengangguk-anggukan kepalanya mencoba mengerti keputusan sarang. Apapun yang terjadi dihidupnya sarang memang selalu bisa berusaha melewati itu semua, karena dia adalah wanita mandiri dan berjiwa tegar.

 

**______**

 

Sarang mulai bekerja lagi hari ini karena kemarin dirinya absen dikarenakan kesepakatannya dengan park chanyeol.

“Hoaaamm.. press release ini buatku lelah.” Keluh salah seorang rekan kerja sarang.

“Aku akan belikan kopi untuk kalian.” Sarang tersenyum dan bangkit dari duduknya.

“Wah sarang-shi memang terbaik.” Rekan yang lain menimpali.

 

Sarang menuju loby kantornya karena disana terdapat cafe untuk pengunjung dan karyawan. Saat sarang menunggu pesanannya, ada seorang wanita berpenampilan anggun dan cantik mendekatinya.

“Jadi kau karyawan disini?” Ucap sinis wanita itu pada sarang. Sarang mendonggakan pandangannya, sarang memang tidak mengenal gadis ini tapi sarang ingat dia yang ada dirumah chanyeol waktu itu.

“Iya benar aku bekerja disini.. ada masalah?” Sarang tahu pasti wanita ini ada maksud tertentu terkait dengan chanyeol, jadi sebisa mungkin sarang membuat dirinya tampak tenang dan kuat. Seulgi kembali menunjukan senyum sinisnya itu.

“Hanya karena kau kekasih dari CEO perusahaan ini kau mulai berlagak huh?” Sarang mendengar ucapan seulgi hanya memalingkan wajah menahan emosinya.

“Park chanyeol akan tetap bertunangan denganku, dan kami akan menikah jadi aku minta padamu.. menjauhlah dari chanyeol!” Suara seulgi memekik.

“Aku disini hanya bekerja.. aku tak ada urusanya dengan kau dan park chanyeol.” Sarang bangkit lalu akan pergi meninggalkan seulgi, tapi tangan seulgi menahan lengan sarang lalu sarang mencoba menepisnya. Tetapi kemudian seulgi malah pura-pura terjatuh dan berteriak kesakitan. Semua orang langsung melihat kearah mereka. Dan seolah pandangan orang-orang itu menyalahkan sarang.

“Hyaa.. berdirilah aku tidak mendorongmu kau tiba-tiba terjatuh sendiri.” Sarang mencoba menyuruh seulgi tapi tetap saja gadis itu menunjukan ekspresi kesakitannya.

Disaat bersamaan park chanyeol dan kim junmyeon beserta beberapa bawahannya lewat di loby dan mereka berhenti ketika melihat kerumunan di dalam cafe.

“Ada apa ini?” Suara berat itu mengagetkan sarang yang sedang panik.

“Park chanyeol.. dia tiba-tiba terjatuh aku tidak mendorongnya.” Ujar sarang dengan wajah memelasnya. Tapi junmyeon malah berjongkok mendekati seulgi.

“Kau tidak apa-apa?”

“Auuh. Kaki sakit sekali park chanyeol.” Seulgi mencoba merengkuh lengan chanyeol tapi segera chanyeol tepis.

“Junmyeon.. bawa dia ke klinik.” Perintah chanyeol.

“Nde.. ” junmyeon langsung membantu seulgi dan membawanya.

“Yoon sarang.. kau ikut denganku.” Perkataan dingin itu membuat sarang merinding. Dia takut kalau chanyeol akan mencacinya karena ini.

.

“Kenapa kau dengan kang seulgi? Apa kalian berkelahi?” Chanyeol tidak menunjukan kemarahan dikata-katanya, dia hanya terdengar tegas. Sarang yang tadinya berdiri dan menundukan kepalanya lalu menggeleng.

“Tn. Park chanyeol-shi.. aku bahkan tidak menggenalnya.. Dia tiba-tiba saja menghampiriku dan ketika aku pergi dia menarikku aku mencoba menyingkirkan tarikannya tapi dia malah terjatuh tapi aku bersumpah aku tidak mendorongnya.. ”

“Kau tahu kan dia wanita yang akan dijodohkan denganku? Apa tadi dia mengancammu?” Sarang menatap chanyeol sesaat lalu menundukan kepalanya lagi dan tak menjawab pertanyaan itu.

“Sarang-shi.. berhentilah bekerja.” Sarang membelalakan matanya tak percaya.

“Ye? A-apa anda memecatku?”

“Bukan, bukan begitu maksudku.. keluargaku dan wanita itu sudah tau kau kekasihku. Dan mereka tau kau bekerja disini dan.. aku tak ingin mereka menganggumu.. ” entah kenapa kata-kata terakhir chanyeol terdengar begitu tulus, sampai dirinya terasa begitu gerah karena malu.

“Shireo.. aku membutuhkan pekerjaan ini chanyeol-shi. Dengar.. aku akan mengganti seluruh kerugian itu, tapi aku tak bisa menjadi kekasih pura-puramu itu lagi.. ”

“Mwo? Tidak kau tidak bisa memutuskan sesuka hatimu.”

“Chanyeol-shi.. apa kau akan tega melihat aku dipermalukan terus nantinya? Apa kau tidak akan malu dengan diriku? Ini yang kau harapkan dariku?” Sarang memberanikan diri bicara seperti itu dihadapan chanyeol, karena memang itulah yang sarang rasakan. Mata sarang sarang pun mulai berkaca-kaca seakan bicara ‘tolong biarkanlah aku’.

Chanyeol berdiri mendekati sarang, sedikit demi sedikit mendekat pada gadis itu. Sarang trus melangkah mundur tergugup karena chanyeol yang mencoba nenggiringnya dan sampai sarang merasa punggungnya sudah menyentuh pada tembok. Chanyeol lalu mengunci pergerakan sarang dengan menempelkan kedua tangannya ke tembok. Jarak mereka begitu dekat, sarang bisa merasakan aroma parfum chanyeol yang begitu khas. Hembusan nafasnya pun bisa sarang rasakan menyapu diwajahnya. Sarang mengatur nafasnya untuk mencoba tidak gugup dan memberanikan menatap chanyeol yang memang jauh lebih tinggi darinya.

“Yoon sarang.. jadilah kekasihku.” Sarang hanya mengerutkan dahinya.

“Ini adalah pernyataan dan mau tidak mau.. kau harus.” Ya chanyeol seperti sedang menekan sarang.

“Pa-park chanyeol-shi.. aku sudah katakan aku ti.. ” belum sempat sarang melanjutkan perkatanya chanyeol sudah menyelanya.

“Bukan kekasih pura-pura sarang.. kau dan aku menjadi sepasang kekasih.. sungguhan.” Sarang tercengang mendengar pernyataan itu.

“Bahkan kau tidak bertanya aku sedang berkencan dengan seseorang atau tidak?”

“Sekali pun itu, kau akan tetap menjadi kekasihku.. itu tak bisa diganggu gugat sarang-shi.. ”

 

**______**

 

Hari sudah mulai gelap, sarang berjalan lemah pulang ke rumahnya. Bukan lelah karena bekerja tapi dia lelah karena hubungannya dan chanyeol yang semakin tidak terprediksi. Meskipun dia masih belum bisa menerima sepenuhnya tapi mau tidak mau sekarang statusnya adalah kekasih park chanyeol. Pria itu benar-benar menindasnya. Tapi kenapa sarang menjadi deg-deg an saat mengingat kejadian dikantor tadi.

“Noona sudah datang.” Suara itu mengagetkan sarang yang sedari tadi berjalan dan sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Hya.. kyungsoo-ya kau mengagetkanku.”

“Mianheo.. aku tadi mengetuk pintu tapi sepertinya tidak ada orang.”

“Kau menunggu kakakmu?” Tanya sarang

“Nde.. aku ke sini karena.. ingin meminta uang jajan.” Jawab kyungsoo sambil cengengesan.

Sooyoung memang memiliki adik laki-laki yang masih SMA dia sedikit badung. Tapi jika orang pertama melihatnya pasti mengira dia anak yang baik dan manis karena wajahnya yang imut itu.

 

“Mmh begitu.. ” sarang lalu mengambul dompet dari dalam tasnya dan mengambil bebera uang.

“Ini ambilah, kau juga bisa minta padaku kyungsoo-ya.”

“Gomawoyo sarang-ii noona.. oh itu sooyoung noona sudah datang, aku pergi.. annyeong.” Kyungsoo berlari meninggalkan sarang sambil melambaikan tangannya, padahal dia mengetahui kakaknya sudah datang bukan berhenti menyapa kakaknya tapi dia hanya melewati sooyoung.

“Hei nenek sihir!” Sooyoung yang melihat tingkah adiknya itu hanya membulatkan mulutnya.

“Hyaa.. kemari kau.. dasar cebol!” Sarang hanya terkekeh pelan melihat tingkah adik kakak itu.

“Sarang apa dia meminta uang?”

“Iya.. sudahlah ayo masuk”

“Jinjaa.. baru dua hari kemarin dia mendapat uang jajan. Akan kuganti uangmu nanti ya.”

“Tck. Kau ini.. kyungsoo sudah kuanggap seperti adikku sendiri sudahlah ayo masuk.” Sarang menggandeng lengan sooyoung untuk masuk kedalam rumah.

 

**______**

 

Hari ini hari libur, jadi sarang dan sooyoung tidak terburu-buru bangun pagi. Mereka berdua tertidur di sofa tepatnya hanya sooyoung dan sarang tidur dikarpet, karena semalam mereka menghabiskan waktu untuk curhat sambil minum sampai larut.Sarang mulai menggeliat dia meraba-raba untuk mencari ponselnya dimeja.

“Omo, aku kesiangan.. ” sarang yang baru saja melihat layar ponsel yang menunjukan pukul 10 itu pun langsung meloncat pergi untuk mandi.

Hari ini adalah hari peringatan kematian orang tuanya jadi dia ingin mengunjungi tempat penyimpanan abunya.

“Sarang kau sudah mau pergi?” Tanya sooyoung yang baru membuka matanya sambil menguap masih duduk disofa, “mian aku tidak bisa pergi bersamamu sarang.”

“Gwanchana, oh apa hari ini makan malamnya?” Sooyoung mengangguk-anggukan kepalanya. Hari ini adalah hari ulang tahun kyungso, keluarga sooyoung memang selalu merayakan hal-hal yang menggembirakan dengan makan bersama. Karena sarang sudah dianggap bagian dari keluarga mereka jadi dia selalu hadir dalam acara apapun di keluarga choi.

“Datanglah, oemma pasti sudah menyiapkan banyak sekali dikedai.”

 

“Arraseo.. aku pergi.” sarang keluar dari rumah sambil mengenakan jaket kulit hitam miliknya. Saat berjalan dia dikejutkan dengan sesorang yang menunggunya.

“Sehun-aa.. ada apa?”

“Hanya saja aku merindukanmu.” Sehun tersenyum dan sarang pun ikut tersenyum, “kau ingin pergi?”

“Nde.. hari ini adalah hari peringatan kematian orang tuaku jadi, aku datang ke pemakaman.”

“Kalau begitu kita pergi bersama.” Sarang yang mendengar itu langsung mengangguk senang, orang tuanya pasti juga senang melihat dia datang bersama teman masa kecilnya yang sangat baik.

 

**______**

 

Sarang dan sehun masuk ke dalam gedung penyimpanan abu. Sarang membawa sebuket bunga mini untuk ditinggalkan disana. Saat memasuki ruang tempat abu orang tuanya, sarang melihat seorang wanita paruh baya dengan tampilan yang sangat elegan. Dari penampilannya bisa dilihat pasti dia adalah orang kaya. Dia menaruh bunga ditempat abu orang tua sarang, ini membuat sarang heran siapa orang ini?Dan saat wanita paruh baya itu berbalik untuk pergi, sarang melihat wajahnya dan ia mengenal wajah ini. Ibu chanyeol.

“An-annyeonghaseo..” sarang membukukan badannya. Ibu sarang malah menampakan wajah sinisnya, tapi dia juga penasaran kenapa dirinya bertemu sarang disini.

“Apa anda mengenal orang tuaku? Aku melihat anda menaruh bunga disana.. ” mendengar pernyataan sarang ibu chanyeol merasa tubuhnya gemetar, lidahnya terasa kaku. Dilihat dari matanya pun mulai berkaca-kaca. Lalu ibu chanyeol pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan pada sarang.

“Apa kau mengenalnya?” Tanya sehun

“Oh.. emh.. nde beliau ibu atasanku dikantor.” Sarang gugup menjelaskan tentang ibu chanyeol, tepatnya ibu kekasihnya.

.

Ibu chanyeol keluar dari gedung tergesa-gesa dan segera masuk dalam mobilnya. Tangannya gemetar airmatanya mulai jatuh dengan deras.

“Aigoo.. ya Tuhan.. dosa apa yang telah aku lakukan.. dosa apa..” ibu chanyeol terus menangis histeris didalam mobil.

 

**______**

 

Setelah pulang dari pemakaman tadi sarang dan sehun sekarang berada disebuah cafe. Sehun mengenakan kaca mata hitam dan juga topi, untuk mengantisipasi kalau-kalau banyak fans yang akan melihatnya.

“Apa tidak apa-apa ditempat seperti ini? Aku takut jika kau tenggelam dalam kerumunan fansmu nanti.” Sarang mengedarkan pandangannya ke seluruh cafe untuk melihat hal yang mencurigakan.

“Aniya.. makanlah kuemu , kau tenang saja.” Sehun dengan melanjutkan meminum bubble teanya, “sarang-aa apa kau masih mengingat janjiku saat kita masih TK?”

“Hyaa.. kau saja saat itu masih ngompolan oh sehun.” Sarang terkekeh geli.

“Aishh.. kau ini, tapi aku serius sarang. Aku masih terus mengingat janjiku..”

“Aigoo.. bagaimana bisa aktor setampan dan setenar kau akan menikahi gadis sepertiku sehun, itu tidak benar.” Sarang juga masih ingat betul saat mereka masih sangat kecil, sehun sering bilang bahwa dirinya akan menikahi sarang saat mereka sudah dewasa. Bahkan sehun mengatakan hal semacam itu didepan orang tuanya dan orang tua sarang.

Tapi entah sarang merasa bahwa dirinya sekarang harus tahu dimana posisinya, dia harus tau diri. Karena kejadian dengan ibu chanyeol tempo hari sangat menyusutkan hatinya.

“Aku sudah berjanji dulu.. bahkan didepan appa dan oemmamu.. dan sekarang kita sudah dewasa bukan, jadi apa aku harus menepati janjiku?” Sarang menatap sehun sendu, ‘apa dia setulus itu?’ Pikirnya.

Namun tiba-tiba ponsel sarang bergetar dia segera mengangkatnya.

“Yeoboseo.. ”

“Kau sedang dimana?” Ucap suara itu datar, park chanyeol memang seperti itu.

“Aku sedang berada di cafe dengan temanku.. wae?” Sehun yang didepan sarang hanya menatapnya dan menerka-nerka siapa yang menghubungi sarang itu.

“Hyaa.. di seoul begitu banyak cafe, beritahu aku dimana tempatnya?” Sarang yang mendengar chanyeol sedikit kesal dan akhirnya dia mengatakan tempatnya berada dan chanyeol langsung menutupnya.

“Siapa? Apakah kekasihmu?” Tanya sehun

“Bu-bu bukan hanya.. teman..” sarang merasa malu-malu mengakui jika chanyeol adalah kekasihnya, karena pada dasarnya memang chanyeol yang meminta hubungan itu bukan karena dia suka pada dirinya, itu yang sarang tau.

Mobil sedan putih berhentu didepan cafe dan pengemudinya segera keluar. Park chanyeol masuk dalam cafe dan mencari-cari dimana gadis itu. Pandangannya berhenti ketika melihat sarang sedang duduk berdua dengan seorang pria, ditambah sarang seperti gembira mengobrol dengan pria itu. Dada chanyeol serasa penuh sesak. Dia lalu mendekati sarang dan menarik lengannya untuk bangkit.

“Ayo pergi.”

“Chanyeol-shi kenapa kau menarikku.” Saat chanyeol mencoba menarik sarang tapi seperti ada yang menahannya. Bukan sarang, tapi tangan sehun yang sekarang menggenggam tangan sarang.

“Lepaskan dia.. kau akan menyakitinya.” Sehun berdiri, sarang sekarang berada di tengah-tengah kedua pria tampan itu. Apa dirinya sedang akan diperebutkan sekarang?

“Singkirkan tanganmu.. ” chanyeol menatap sehun tajam rahangnya mulai mengeras. Sikap ini membuat sarang takut melihatnya.

“Tidak. Dia kemari bersamaku, aku akan pulang dengannya juga.”

“Hyaa.. kau ini siapanya? Bodyguard?” Tanya chanyeol

“Dia sahabatku jadi kau tidak bisa berbuat kasar padanya.” Itu membuat chanyeol tersenyum sinis. Dia lalu menyikirkan tangan sehun yang menggenggam tangan sarang.

“Kau tidak berhak atas dia.” Chanyeol pun memaksa sarang keluar dan masuk dalam mobilnya. Sehun hanya terdiam dan memandang dari jauh kepergian mereka. ‘Tidak berhak? Lalu apa hak dia?’ Pikir sehun dengan masih terdiam.

 

**______**

 

Chanyeol menyetir dengan masih wajah yang sedikit kesal. Sarang terlalu takut menatap chanyeol sekarang.

“Kenapa kau keluar dengan pria lain?”

“Maksudmu sehun? Dia sahabatku park chanyeol.. ”

“Tidak peduli dia sahabatmu atau bukan.. aku tidak ingin melihat kau bersama dia lagi.”

“Apa.. kau cemburu?”

“Hyaa.. hyaa.. a-aku tidak, mana mungkin cemburu dengan pria aneh itu.” Chanyeol membulatkan bibirnya.

“Arraseo..” sarang yang melihat tingkah lucu chanyeol itu pun menahan agar tidak tertawa.

“Park chanyeol-shi.. boleh aku bertanya sesuatu?” Chanyeol hanya mengangguk, “Apa kau mengenal orang tuaku?”

“Aissh.. jinja, kita saja belum genap satu bulan bertemu.”

“Tapi aku tadi pergi ketempat penyimpanan abu orang tuaku, dan ibumu ada disana.”

“Benarkah? Mmh.. aku tidak yakin apa yang dilakukannya disana.. apa aku harus bertanya pada oemmoni?”

“Ah tidak perlu.. ”

Drrrtt~ drrt~

chanyeol segera menjawab panggilan telponnya.

“Yeoboseo.”,”Mwo? Baiklah aku segera kesana.” Hanya itu yang sarang dengar dari percakapan chanyeol sengan seseorang ditelfon.

“Sesuatu terjadi?” Tanya sarang.

“Kita kerumah orang tuaku.. ayahku jantungnya kambuh.” Wajah chanyeol terlihat panik sekarang, ayahnya memang mengidap penyakit jantung 4 tahun belakangan ini. Maka dari itu chanyeol yang mengurus perusahan sebagai CEO.

Mereka sudah sampai dirumah orang tua chanyeol dan segera menuju kamar ayahnya. Disana sudah berada ibu chanyeol serta beberapa perawat. Chanyeol segera mendekat dan menggenggam tangan ayahnya yang sedang terbujur masih belum sadarkan diri, meskipun chanyeol tidak pernah pulang kerumahnya tapi tetap saja dia sangat menghormati dan menyayangi ayahnya. Ibunya terus menangis disisi lain.

“Aboeji.. aku disini.” Ucap chanyeol lirih. Sarang melihat sosok chanyeol sekarang sangat berbeda dari yang dia tunjukan beberapa jam lalu. Chanyeol begitu hangat kepada ayahnya. Sarang terharu melihat chanyeo dan ayahnya sekarang matanya mulai berkaca-kaca.

Ibu chanyeol yang sedari fokus dengan anaknya lalu mengalihkan pandangannya pada sarang yang berdiri dibelakang chanyeol, kesedihan diwajah ibunya berubah menjadi amarah.

“Kenapa kau disini? Pergi dari sinii.. ” ibu chanyeol bahkan berteriak membentak sarang.

“Oemma tak bisakah oemma tenang? Aboeji sedang sakit” oemma chanyeol yang tidak tahan lagi melihat sarang akhirnya keluar dari kamar.

Chanyeol masih saja menggenggam tangan ayahnya, air matanya tak bisa ditahan lagi. Sarang yang dibelakang chanyeol sejak tadi mencoba mendekatinya, dengan ragu-ragu dia memcoba memegang pundak chanyeol.

“Uljima.. ayahmu akan sedih melihat kau seperti ini.”

“Sejak kecil aboeji mengajariku segala hal.. aku takut belajar menaiki sepeda, tapi aboeji bilang bahwa dia akan selalu ada disisiku dan itu terus menerus aboeji katakan saat aku sedang takut.. dan sekarang aku hanya takut kehilangannya.”

“Kalau begitu sekarang saatnya kau yang harus selalu berada disisinya.. ”

“Yah.. ya harus ku lakukan.”

**_____**

 

Chanyeol mengantar sarang ke teras rumah, dan junmyeon juga ada disana karena beberapa saat yang lalu chanyeol menghubunginya untuk menyuruhnya mengantar sarang.

“Mianhe.. aku tidak bisa mengantarmu.”

“Gwanchana.. kau harus tetap disini, aku pergi.” Sarang melambaikan tangannya lalu berjalan masuk dalam mobil junmyeon.

“Kau fokuslah merawat ayahmu, aku akan menjaganya.” Perkataan junmyeon yang dibalas anggukan lemas oleh chanyeol, dan mereka pun pergi meninggalkan rumah itu.

Didalam mobil sarang mengatakan pada junmyeon untuk mengantarnya kerumah orang tua sooyoung. Dan mereka lalu sampai didepan kedai sekaligus jadi satu dengan rumah orang tua sooyoung.

“Khamsamnida kim junmyeon-shi.” Sarang melepaskan seatbeltnya.

 

Praaaaang~

Junmyeon dan sarang saling bertatapan, karena suara bantingan perkakas dan piring-piring dari dalam kedai. Mereka pun segera keluar untuk mencari tau apa yang terjadi.

Didalam orang tua sooyoung, kyungsoo serta sooyoung sendiri sedang meringkung dan saling berpelukan. Tampak ekspresi mereka sangat ketakutan ibunya dan sooyoung tampak tak kuasa menahan tangis. Tiga orang yang berpakaian seperti preman itu terus saja menghancurkan barang-barang dikedai meskipun ayah sooyoung mencoba memohon pada mereka. Kyungsoo yang sedari tadi dipeluk ibunya mencoba berdiri dan melawan.

“Hentikaaan.. ” dia berteriak dan memegangi salah satu orang, tapi dia malah mendapat pukulan dari orang yang lainnya. Ibunya dan sooyoung merakak untuk menyelamatkan kyungsoo agar orang-orang itu berhenti memukulinya.Sarang dan junmyeon terpaku melihat kejadian itu dari luar.

“Hyaa! Apa yang kalian lakukan.” Ucap seseorang di pintu, keluarga sooyoung mengalihkan perhatian sooyoung pada pria itu.

“Kim junmyeon.” Sooyoung masih ingat betul nama dan wajah pria itu.

“Ini bukan urusanmu.” Ucap salah seorang dari preman itu yang kemungkinan adalah pemimpinya.

“Hentikan dan pergi dari sini, kalua tidak aku akan memanggil polisi.”

“Tcih.. hajar dia” perintah pria itu kepada anak buahnya. Dan dua orang yang lain langsung menyerang junmyeon tapi junmyeon langsung menghindar dan membalas mereka. Dan akhirnya mereka kalah lalu pergi meninggalkan kedai.

Sarang, junmyeon, sooyoung dan keluarganya duduk dimeja kedainya setelah membereskan pecahan-pecahan piring yang dihancurkan orang-orang tadi.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka bertindak brutal seperti itu?” Tanya sarang sambil memegangi tangan ibu sooyoung, tapi ibunya tak bisa menjawab hanya terus saja terisak.

“Mereka adalah rentenir..” ucap kyungsoo

“Rentenir?” Sarang nampak bingung bagaimana mereka bisa berurusan dengan rentenir.

“Appa meminjam uang kepada bos mereka untuk membuka kedai ini, karena appa sudah tua dan diphk appa tak bisa berbuat apa-apa lagi karena kyungsoo juga masih harus bersekolah.” Jelas ayah sooyoung.

“Appa.. tapi kenapa appa tak mengatakannya padaku aku akan bekerja untuk kalian dan juga pendidikan kyungsoo.” Sooyoung menahan tangisnya dia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Junmyeon yang duduk didekat sooyoung mencoba menenangkannya dengan mengelus lembut punggungnya.

Rencana makan malam merayakan ulang tahun kyungso menjadi berantakan karena peristiwa tadi, mereka menjadi tenggelam dalam kesedihan. Beberapa lama kemudian junmyeon pamit untuk pergi. Saat dia berjalan keluar menuju mobilnya, sooyoung memanggil junmyeon lalu menghampirinya.

“junmyeon-shi.. gomawoyo kau sudah membantu kami.”

“Kau tau kan itu tindakan tidak benar, jadi aku harus melindungi kalian.” Sooyoung sekarang tersenyum dengan perkataan junmyeon, “Oh mana ponselmu?” Junmyeon mengulurkan tangannya meminta dan sooyoung langsung mengambil dikantong jaket dan memberikanya pada junmyeon. Junmyeon mengetikan sesuatu disana.

“Itu nomor ponselku.. jika terjadi sesuatu katakan padaku, arraseo?” Ucap junmyeon dan diiyakan oleh sarang. Junmyeon masuk mobil dan pergi sooyoung melambaikan tangannya dan tersenyum.

Dimeja kedai masih ada sarang dan kyungsoo. Sarang masih mengamati kyungsoo yang sedari tadi murung sambil menundukan wajahnya.

“Waegeure? Jangan memasang wajah seperti itu.. hari ini kan hari ulang tahunmu.”

“Apa aku harus bergembira ketika semua orang bersedih noona?”

“Hyaa.. jangan seperti itu.” Sarang lalu mengambil sesuatu dalam tasnya sebuah bungkusan dan diberikannya pada kyungsoo, “igo, saengil cukhahamnida kyungsoo-ya.”

“Noona ini apa?”

“Bukalah.. ” kyungsoo lalu membuka hadiah itu, dan ternyata itu adalah sebuah ponsel baru. Memang kyungsoo memiliki ponsel tapi model lama dan bekas dari sooyoung. Kali ini sarang ingin kyungsoo merasa senang, karena dia juga keluarga bagi sarang.

“Noona.. i-ini.. benar untukku?”

“Tentu saja, kau sudah kuanggap seperti adik bagi noona.” Sarang tersenyum, kyungsoo beranjak dari duduknya menghampiri sarang dan lalu memeluknya.

“Gomawo sarang-ii noona..” sarang merasa bahagia karena kyungsoo bahagia dan bisa membuatnya tersenyum lagi.

 

**______**

 

Sarang sudah berada dikantor pagi ini, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Tapi entah kenapa dia tidak bisa berkonsentrasi, malah chanyeol yang terus saja berada dipikirannya. Sarang merasa cemas dengan keadaannya. Akhirnya sarang memutuskan untuk menemui chanyeol diruangannya.

“Apa tn. Park ada didalam?” Tanya sarang pada sekertaris chanyeol.

“Tn. Park chanyeol tidak masuk kantor.. karena presdir. Park meninggal pagi tadi.”

“Mwo?”

 

 

-TBC-

Iklan

2 thoughts on “Sarang Love Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s