The Gray Autumn (Chapter 6)

img_2462

Jiyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang, meraba keningnya yang terasa kembali menghangat. Perlahan wanita cantik itu bangkit dari posisinya berjalan pelan menuju kotak obat, namun langkah Jiyeon terhenti saat suara seorang laki-laki yang terdengar familiar memenuhi gendang telinganya.

“Bermain ice skating dengan seorang laki-laki, Cih! Hebat sekali!”

Jiyeon berpaling, menatap sosok Sehun yang berdiri di ambang pintu kamar mereka, berjalan mendekat, tatapan pria itu dingin seperti biasanya.

“Iya, kenapa?? Jongin mengajakku bermain ice skating, apa ada masalah dengan itu?” Jiyeon menajamkan pandangannya, melipat tangannya di depan dada, aura tiran yang mulai tampak terpahat di wajah rupawannya.

“Jadi sekarang kau ingin mati bersama seorang laki-laki?” Sehun menundukkan tubuhnya hingga tinggi badan mereka sejajar. “Dengar! Aku tidak peduli kau bermain ice skating dengan siapa Jiyeon, aku juga tidak peduli jika kau ingin mengakhiri hidupmu.”

“Ya tentu saja! Sejak dulu kau memang tidak punya hati untuk peduli,” Jiyeon menatap Sehun lekat, menatap laki-laki yang hingga kini masih terlalu dicintainya.

Sehun tertawa sumbang, dia menegakkan tubuhnya, sedangkan Jiyeon terlihat memejamkan mata, suhu tubuhnya semakin hangat, pijakan kakinya sedikit bergetar. Tapi Jiyeon mengabaikannya, dia kembali menatap Sehun yang baru saja hendak beranjak.

“Apa kau tahu jika kau adalah laki-laki paling brengsek yang pernah kutemui?” Sehun menghentikan langkahnya, menunggu kelanjutan kalimat Jiyeon tanpa repot-repot untuk menatap wanita itu.

“Bahkan kau terlalu brengsek Oh Sehun!” Jiyeon memberi jeda pada ucapannya, mengepalkan tangannya kuat, menahan butiran bening yang lagi-lagi kembali datang memenuhi kedua pelupuk matanya.

“Terlalu brengsek hingga aku selalu tak mampu untuk mengabaikanmu, terlalu brengsek hingga aku selalu tak mampu meniadakanmu di dalam hati dan pikiranku. Bahkan aku selalu tak sanggup memintamu untuk melepaskanku, hanya karena aku tak punya kekuatan untuk melihat ayahku menghancurkanmu.”

Jiyeon tertawa sumbang seiring tetesan air maa yang mengaliri pipi pucatnya, dia menahan semua rasa sesak yang sudah terlalu lama menyakitinya. Jiyeon terisak pelan mengeratkan kepalan tangannya, menatap punggung Sehun yang tetap tak jua berbalik menatapnya. Jiyeon merasa jika rasa sakit karena ketidakberdayaan dirinya melepas Sehun, semakin merajam tak tahu diri di tiap helaan napasnya yang kian terasa sesak. Sehun menutup kedua mata, tangannya mengepal hingga semua bukunya memutih, menahan kakinya sekuat tenaga untuk tidak berbalik. Untuk tidak mendekap sang malaikat dan membiarkan semua terlihat seperti biasanya, membiarkan dirinya tetap terlihat keji untuk sosok malaikat hati yang begitu dicintai hingga semuanya bisa berakhir sempurna.

“Dan sekarang aku—- aku memutuskan untuk,” Jiyeon menarik napasnya yang semakin berat, suhu tubuhnya kian meningkat, menahan isak yang semakin membuat jantungnya sulit untuk sekedar berdetak.

“Aku—- aku—- melepaskan mu, Oh Sehun.”

Mata Sehun terbuka, beku, pijakan kakinya limblung, nyaris mati rasa. Sehun tetap tidak berbalik dan memilih untuk melangkah menjauh dalam diam yang menyayat, dia meneteskan air matanya, air mata untuk kehilangan seorang wanita yang dicintainya, melebihi dia mencintai nyawanya sendiri. Namun baru lima langkah Sehun terlihat berhenti, dia mendengar suara yang tak biasa di belakang punggungnya, Sehun segera berbalik dan seketika itu juga mata Sehun membulat mendapati Jiyeon yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar.

“OH JIYEON!!!

Satu jam berlalu, Sehun masih berdiri memaku di pinggir ranjang, rasa cemas belum beranjak, dia pucat, genggaman tangannya bergetar sejak tadi. Jiyeon pingsan, suhu tubuhnya di atas normal. Sehun kalut lalu berteriak seperti orang kesetenan, meminta seseorang untuk menghubungi dokter Kang Jihye (dokter keluarga yang sudah memahami kondisi tubuh Jiyeon sejak kecil) untuk datang sesegera mungkin.

“Apa Jiyeon baru saja berada di ruangan yang terlalu dingin tanpa baju hangat, Oh Sehun?” Dokter Kang memastikan sekali lagi suhu tubuh Jiyeon, membenarkan tata letak piyama biru yang telah membalut tubuh Jiyeon sejak beberapa menit yang lalu.

“Iyah, dia— baru saja bermain ice skating,” jawab Sehun samar, mata hitam sepekat malam miliknya tidak berpaling dari sosok Jiyeon yang terbaring di atas ranjang.

Dokter Kang bangkit dari tepi ranjang, menerangkan beberapa obat yang harus diminum Jiyeon saat wanita itu sudah bangun nantinya. Dokter yang masih terlihat sangat cantik diusia senjanya itu tersenyum, menatap wajah pucat Sehun yang masih sangat kalut.

“Aku telah memberinya obat penurun panas dalam bentuk Suppositoria (obat yang di masukkan melalui anus) sebentar lagi suhu tubuh Jiyeon pasti akan kembali normal, kau tenanglah. Bukankah sebelumnya, Jiyeonmu pernah melewati situasi yang lebih buruk dari ini? ”

Sehun mengangguk mengerti, dia tersenyum samar, mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat Jiyeon pingsan dan kondisinya kritis karena air hujan. Sehun memecat semua pelayan yang ada di rumahnya, mengamuk hingga meremangkan bulu kuduk semua pengawal rumah yang tersisa. Sehun sangat marah karena 30 pelayan yang ada di rumah tidak menjaga Jiyeonnya dengan baik, dan membiarkan wanita yang Sehun klaim sebagai nyawa-hidupnya itu berada dalam bahaya. Sehun berjalan mendekati ranjang sesaat setelah dokter Kang meninggalkan kamarnya, dia duduk di bagian tepi seraya mengusap kening Jiyeon, memastikan suhu tubuh, Jiyeon masih panas. Sehun memerintahkan pelayan untuk menyiapkan handuk kecil dan air hangat, lalu dia mengompres kening Jiyeon hati-hati, sesekali membenarkan tata letak selimut tebal berwarna biru muda yang membungkus tubuh Jiyeon.

Sehun menggenggam erat satu tangan Jiyeon, memandang wajah pucat Jiyeon lekat di tiap incinya dan tak berpaling sedikit pun walau hanya dalam sekejab mata. Sehun bahkan sudah tidak memikirkan kalimat yang Jiyeon utarakan beberapa saat lalu, kalimat untuk melepaskan diri darinya, Sehun masih terlalu cemas dengan keadaan Jiyeon. Jiyeon alergi hujan, tidak boleh berada di tempat yang terlalu dingin tanpa baju hangat super tebal, tidak boleh berlari lebih dari sepuluh menit dan kelelahan, karena itulah selama ini Sehun melarang Jiyeon bekerja dan mengurungnya di rumah. Sehun benar-benar tidak bisa bernapas, jika sesuatu yang buruk menimpa Jiyeonnya. Samar Sehun mendengar Jiyeon bergumam, dia mencondongkan tubuhnya, menjauhkan handuk kompres dari kening Jiyeon dan mengusap lembut wajah Jiyeon yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Keringat halus mulai membasahi wajah Jiyeon yang pucat, dia kembali bergumam seraya mengerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berulang dengan gusar.

Op-—Oppa—-Sehun Oppa—- jangan pergi,”

Sehun terpaku, tanpa sadar dia mengeratkan genggaman tangannya di jemari Jiyeon, dia juga mengusap kepala Jiyeon berkali-kali saat wanita itu terus bergumam dengan kata-kata yang sama. Sehun menatap nanar ketika air mata mengalir dari sudut mata Jiyeon yang terpejam, tak mampu menahan air matanya sendiri saat Jiyeon kembali bergumam dengan sebaris kata-kata yang membuat Sehun mendaratkan ciumannya di kening Jiyeon yang hangat. Berusaha meluapkan perasaan yang sama seperti apa yang Jiyeon rasakan, meluapkan sejuta rasa sayang yang tak bisa tertuang dalam lisan. Tanpa perintah air mata Sehun jatuh, mengalir pelan lalu menyatu dalam air mata Jiyeon yang masih menetes, Sehun merasakan nyeri di tiap inci hulu hati kala kembali mendengar Jiyeon bergumam dengan kata-kata yang ingin sekali Sehun katakan pada Jiyeon seperti saat dirinya melamar Jiyeon dua tahun silam.

“Aku mencintaimu—- Sehun Oppa.”

Sehun menahan genangan air mata yang kembali meronta untuk keluar dari kedua soket matanya, semakin mengeratkan genggaman tangannya di jemari Jiyeon. Menatap Jiyeon yang semakin gelisah hingga membuat Sehun pada akhirnya memilih untuk menaiki ranjang, ikut bergabung dalam selimut Jiyeon seraya menarik tubuh Jiyeon yang gelisah ke dalam pelukannya. Sehun memeluk Jiyeon erat dan semakin erat, kembali mendaratkan kecupan hangat di kepala Jiyeon berulang-ulang, mengerakkan jemarinya menghapus jejak air mata yang tertinggal di pipi Jiyeon, menyematkan segenap rasa yang dituangkan Sehun di sentuhan jemarinya. Sehun mendekatkan bibirnya ke telinga Jiyeon, membisikkan sebaris kalimat yang sudah tak mampu lagi Sehun tahan. Sebaris kalimat dengan luapan rasa yang tak terbendung, sebaris kalimat yang pada akhirnya membuat Jiyeon berhenti bergumam. Kalimat yang membuat Jiyeon bernapas lebih tenang dan perlahan membuat suhu tubuh Jiyeon kembali normal. Kalimat yang pada akhirnya membuat Jiyeon tertidur pulas dalam pelukan hangat Oh Sehun hingga pagi menjelang.

“Aku juga mencintaimu, Oh Jiyeon. Aku sangat mencintaimu.”

~000~

Jiyeon mengerjabkan mata beningnya perlahan, tersenyum samar saat semilir udara pagi datang menyapa wajah pucatnya, menerobos masuk melalui jendela kamar yang terbuka hingga membiarkan cahaya matahari pagi ikut menyapa. Jiyeon mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar untuk dapat menemukan sosok yang entah mengapa ingin sekali Jiyeon lihat pagi ini.

“Selamat pagi, Jiyeon agasshi,”

Jiyeon menoleh mendapati bibi Jung dan beberapa pelayan lainnya yang baru saja memasuki kamarnya, mereka tersenyum lalu membungkuk hormat ke arahnya. Jiyeon tersenyum, bibi Jung yang kini sudah duduk di tepi ranjang, tangan tua bibi Jung menyentuh kening Jiyeon seraya menghembuskan napas leganya yang terbaca di air mukanya saat ini.

“Syukurlah agasshi sudah kembali sehat, semalam kau benar-benar membuatku cemas,” Jiyeon kembali tersenyum seraya memeluk bibi Jung sekilas, meyakinkan bibi kesayangannya itu jika pagi ini dia sudah sangat baik-baik saja.

“Maaf sudah membuat bibi cemas,” Jiyeon kembali tersenyum “Eoh! Apa dia—-“

“Iyah, Tuan Muda Oh sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, dia juga—-“

“Aku mengerti, tidak usah di teruskan, aku sedang tidak ingin tahu apapun tentangnya pagi ini.”

Jiyeon turun dari ranjang tidurnya, bermaksud untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi, namun langkah Jiyeon terhenti saat bibi Jung kembali bersuara. Mengucapkan sebaris kalimat yang membuat Jiyeon membulatkan matanya.

“Jiyeon agasshi, di beranda sudah ada Tuan Kim Jongin, dai menunggu agasshi sejak satu jam yang lalu.”

“APA?”

Jongin bersenandung ringan, dagunya bertopang di salah satu tangannya yang kekar, mengerakkan jemari dari tangan bebasnya yang lain di atas meja, merasa mulai bosan saat menunggu Jiyeon yang tak kunjung datang. Jongin mengedarkan pandangannya, menatap halaman kediaman Jiyeon dan Sehun untuk pertama kalinya, halaman super luas dengan dua garasi yang menyimpan jet pribadi, berseberangan dengan garasi transparan yang menyimpan lusinan mobil mewah di dalamnya.

Di bagian lain terdapat lapangan tenis, basket dan lapangan golf mini, kolam angsa yang luas, di depannya ada taman bunga mawar biru yang memanjakan mata lengkap dengan air mancur besar di bagian tengahnya. Jika Jongin tidak salah menghitung mungkin jumlah kekayaan Sehun dan Jiyeon bisa mencapai angka di atas ratusan triliun US dolar, kekayaan yang tidak akan habis selama 7 turunan bahkan mungkin lebih.

Jongin memalingkan wajahnya saat mendengar suara langkah sepatu yang beradu dengan lantai marmer putih bersih tanpa corak yang dia jejaki, tersenyum menawan ke arah Jiyeon yang telah berdiri di depannya. Terlihat sangat cantik dalam balutan jeans dan kemeja kotak-kotak berlapis coat panjang sebatas lutut warna coklat, tersenyum kaku seraya berjalan mendekati Jongin yang masih tersenyum.

“Maaf, apa aku sangat terlambat?” Jiyeon mengigit jari kelingkingnya gusar, kebiasaan gadis itu jika sedang gugup karena rasa bersalah pada seseorang.

“Ya—- lumayan. Aku bahkan sempat berpikir, jika kau lupa dengan rencana kita ke Jeju pagi ini.”

“Tidak, aku hanya—- terlambat bangun,” Jiyeon tersenyum samar saat Jongin terus saja menatapnya, melayangkan senyum memabukkan yang membuat Jiyeon semakin salah tingkah. “Apa kita bisa berangkat sekarang? Atau kau hanya akan memandangiku di sini, Kim Jongin?”

Jongin tertawa lalu menggeleng pelan seraya bangkit dari duduknya, meraih ponsel layar sentuhnya dan segera memerintahkan kepada pilot untuk segera mempersiapkan Jet pribadinya yang dia parkiran di halaman belakang rumah Jiyeon. Jongin menaiki anak tangga saat pintu kabin terbuka, menoleh ke arah Jiyeon sebelum menghilang di balik pintu kabin.

“Aku lebih suka rambut hazelnutmu semalam.”

Jiyeon terdiam seraya menatap rambut panjangnya yang pagi ini sudah kembali ke warna aslinya— Black Pearl.

“Sayangnya—- dia tidak suka tiap kali aku mewarnai rambutku,” gumam Jiyeon pelan sesaat sebelum masuk ke dalam pintu pesawat.

~000~

“Kau ada rapat dengan pemegang saham dari Michigan jam satu siang dan aku harap, kau tidak mengacaukan kontrak kerja kali ini seperti saat kau mengacaukan rapatmu dengan orang timur tengah tempo hari.”

Sehun tersenyum mendengar seruan dari Minra, gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak puluhan tahun lalu. Gadis yang berpredikat sebagai sekretaris dan membantu Sehun untuk masalah pekerjaan, sampai untuk masalah skenario menyakiti Jiyeon. Skenario yang sejak awal sangat dibenci oleh Minra.

“Tenanglah kali ini aku tidak akan membuat perusahaan merugi, lagipula sudah tidak ada alasan bagiku untuk mencemaskannya sekarang.”

Suara Sehun terhenti dengan sendirinya, menatap Minra sendu, dia kembali mengingat kata-kata Jiyeon semalam, kata-kata yang membuat Sehun tidak bisa tidur semalaman. Ya semalam Sehun hanya memandangi Jiyeon yang tertidur di pelukannya, sebanyak dan selama yang dia bisa lakukan sebelum waktunya habis untuk itu.

“Maksudmu?”

“Jiyeon sudah memutuskan untuk melepaskanku Minra, hari ini dia bahkan pergi ke Jeju bersama Jongin.”

Sehun membuang pandangannya ke arah dinding kaca di depannya, melepaskan semua beban pikiran, menatap langit yang kini berwarna biru cerah. Warna yang menjadi favorit dari malaikat hatinya, warna yang dulu tidak disukai Sehun, namun kini telah berubah menjadi warna favoritnya.

“Jongin? Benarkah?”

Sehun tidak menjawab hanya memejamkan mata, helaan napas terasa berat, seberat beban jiwa yang selalu berhasil membelengu raganya dengan begitu kuat. Hingga Sehun merasa tak punya daya untuk terlepas dari semua beban yang semakin tak mampu untuk dipikulnya, beban perasaan yang tercipta karena sebuah perjanjian pada sang ayah di beberapa tahun yang lalu. Perjanjian buah dari kesalahan kelam yang di lakukan ayahnya —Oh Junseok— di masa lalu.

A Few Years Earlier

Sehun House – North Georgia

1 Day Before The Party

Porch

Oh Junseok mengusap sebuah guci besar yang ada di samping tubuhnya, mengingat kembali grafik inflasi perusahaan property dan pipa baja yang sudah di pimpinnya selama puluhan tahun semakin parah. Harga saham perusahaannya semakin anjlok hingga ke titik yang memprihatinkan, sejumlah penanam saham mengundurkan diri dan hari ini Junseok kembali harus memangkas ratusan karyawannya demi menekan keuangan perusahaan yang semakin sekarat. Kerutan kekhawatiran kian tercetak nyata di dahi Junseok, mengalihkan tatapannya pada sesosok laki-laki yang baru saja menyeruak dari balik pintu beranda. Seorang laki-laki yang mewarisi tatapan dinginnya dengan begitu sempurna, seorang laki-laki yang kini tengah memimpin cabang perusahaan di negara asalnya, Korea Selatan.

“Ayah!”

Junseok tersenyum samar seraya berjalan mendekat, mengusap bahu putra tunggalnya, senyumnya di buat setenang mungkin. Dia mengabaikan tatapan khawatir dari sosok sang putra yang sudah tahu tentang kondisi perusahaan mereka saat ini, perusahaan mereka berada di ambang kebangkrutan.

“Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu ayah?” Junseok menghembuskan napasnya pelan. “Entahlah— ayah juga tidak tahu pasti, Sehun.”

Junseok mengusap pelan wajah frustasinya saat kembali mengingat pesan singkat yang dikirimkan oleh sekretarisnya beberapa saat lalu, memberitahunya jika beberapa aset kekayaannya yang mencakup private land dan beberapa rumah mewah miliknya di Georgia dan California kembali di sita.

“Semua teman meninggalkanku dan tak ada satu pun dari mereka yang bersedia membantu kita Sehun, laki-laki brengsek itu benar-benar telah merencakan semuanya dengan matang. Dia berhasil menghasut semua pemegang saham untuk hengkang dan berhasil meyakinkan semua pengusaha lainnya untuk tidak lagi percaya pada kita.”

Sehun mengerutkan dahinya sedikit tidak mengerti arah pembicaraan ayahnya saat ini. “Laki-laki siapa yang ayah maksud?”

Junseok menghela napas, dia menatap Sehun sedikit ragu, menahan sebuah kenyataan pahit yang belum pernah dia jabarkan pada Sehun sebelumnya. Kenyataan yang bisa dipastikan akan membuat Sehun membencinya, namun kali ini Junseok harus mengatakannya karena sudah tidak ada gunanya menyembunyikan kenyataan itu..

“Saudara tirimu Sehun, Kris Duizhang.” Sehun membulatkan matanya, dia terperangah, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

Saudara tiri? Bagaimana bisa?

“Ap—- apa? Saudara tiri?”

Junseok menganguk pelan seraya menatap Sehun dengan segenap penyesalan yang tercetak nyata di mata senjanya, lalu dia kembali bersuara, menceritakan sebuah fakta kelam yang membuat Sehun semakin bingung dan tidak percaya.

“Aku telah melakukan kesalahan di puluhan tahun yang lalu, aku menjalin hubungan dengan seorang wanita saat kita masih berada di China, wanita itu melahirkan Kris ke dunia ini. Kesalahan yang membuat ibumu mengakhiri hidupnya setelah dia mengetahui tentang Kris, kesalahan yang selalu menghantuiku dan membuatku tidak bisa memaafkan diriku sendiri hingga sekarang.”

“Aku benar-benar menyesal, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menghianati ibumu, wanita yang sangat aku cintai. Saat aku sadar dengan kesalahanku, aku langsung meninggalkan wanita itu namun ternyata tidak semudah itu. Dia datang padaku bersama bayi Kris, memaksaku untuk menjaganya sesaat sebelum dia menghilang entah ke mana, hingga aku harus menitipkan Kris di panti asuhan,”

“Aku merahasiakan kehadiran Kris darimu, ibumu dan dari semua orang, menemuinya disela waktu tanpa ibumu ketahui. Hingga pada akhirnya Kris datang padaku dan memohon untuk diperkenankan bekerja di perusahaan, karena dia ingin sekali merasakan memiliki seorang ayah walau dunia tak pernah mengakuinya,” Junseok perpegangan pada pinggiran tangga tepat di samping guci besar untuk sekedar menopang tubuhnya yang bergetar, menatap Sehun yang menatapnya marah dan dingin.

“Dan kini—- dia membalas perbuatan ayah padanya dan juga pada ibunya, dia membalas karena ayah tak pernah mengakui kehadirannya, dengan menghancurkan perusahaan ayah hingga ke titik terendah.” Satu helaan napas Junseok kembali terdengar, mengais asa dari tatapan marah Sehun hingga membuat mata laki-laki tua itu berembun.

“Maafkan aku, Oh Sehun. Ayah—- benar-benar menyesal karena hal ini—-“

“Cukup!” Sehun mengepalkan tangannya kuat, menatap kecewa sosok ayah yang begitu di banggakannya selama ini. “Aku benar-benar kecewa padamu ayah, bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku dan juga ibu?”

Sehun menghapus air mata yang tiba-tiba sudah jatuh di pipinya yang memucat, membalikkan tubuhnya segera dengan menggenggam rasa kecewa yang belum mampu terbiaskan. Namun langkah Sehun terhenti saat Junseok kembali memanggilnya, memohon bantuan yang pada akhirnya membuat Sehun kembali berbalik.

“Ayah tidak meminta ataupun mengharapkan kau memaafkan kesalahan ayah Sehun, tapi saat ini hanya tinggal kau yang ayah miliki di dunia ini dan ayah benar-benar membutuhkan bantuanmu.”

Sehun memejamkan matanya yang kembali memanas, mengerang pelan saat tiba-tiba memorinya kembali menampilkan ingatan tentang sepenggal pesan dari sang ibu di saat terakhirnya. Pesan yang dulu tidak di mengerti Sehun sedikit pun, pesan yang sialnya sudah Sehun sanggupi untuk dilakukannya saat rahasia yang dimaksud sang ibu belum terkuak.

“Jika suatu hari nanti kau mengetahui sebuah rahasia kelam dari ayahmu, ibu mohon padamu maafkanlah ayahmu, Sehun. Dan berjanjilah untuk terus di sisinya, untuk terus mendukungnya hingga akhir karena dia… adalah Oh Junseok, ayahmu Oh Sehun.”

~000~

Sehun menatap selembar foto seorang gadis yang terlihat familiar di matanya, selembar foto yang baru saja diserahkan sang ayah padanya. Malam ini mereka tengah merancang sebuah perjanjian untuk masa depan mereka, merancang skenario penjebakan cinta demi pengembalian kekuasaan ke tangan dingin mereka.

“Dia Song Jiyeon putri dari teman lamaku Song Jongki, waktu kecil kalian pernah bertemu beberapa kali saat kita masih tinggal di Guangzhou,” Sehun tidak menjawab apapun, hanya menatap foto Jiyeon yang ada di genggaman.

“Temui dia di pesta pernikahan orangtuanya besok, pastikan dia jatuh cinta padamu dan bersedia menikah denganmu. Kita hanya memerlukan beberapa lembar saham dengan nilai ratusan juta dolar dari perusahaan ayahnya, setelah perusahaan kita kembali normal kita akan mengembalikan semuanya.”

“Bukankah Jongki teman lamamu? Kenapa kau tidak mencoba untuk meminta bantuan padanya?”

Junseok menghela napas, menatap Sehun yang tak lagi memanggilnya ayah sejak malam pengakuannya beberapa hari lalu, menatap Sehun yang bersedia membantunya hanya karena janji pada almarhum istrinya.

“Aku yakin dia tidak akan bersedia membantu kita sama seperti teman-temanku yang lain, sekarang yang tersisa dari kita hanyalah perusahaan cabang yang kau pimpin, kau harus bertindak cepat sebelum semua investor di Seoul juga menarik diri dan membuat semuanya semakin buruk.”

“Lalu apa yang aku harus lakukan pada gadis ini?”

“Buat Jiyeon jatuh cinta pada laki-laki lain hingga dia meninggalkanmu sebelum dia dan Jongki mengetahui semuanya, pastikan kau tidak jatuh cinta padanya hingga semuanya menjadi lebih mudah, Oh Sehun.”

Sehun menatap sekali lagi sosok Jiyeon di dalam foto seraya berjalan tanpa jawaban meninggalkan sang ayah, berjalan menuju sebuah rencana licik yang pada kenyatannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Rencana yang kini justru mengikat dan membelengu Sehun tanpa tahu jalan keluarnya, rencana yang justru membawa petaka untuk sang ayah dan juga untuk dirinya sendiri.

____

Usapan lembut Minra di lengan Sehun membuyarkan lamunannya seketika, dia menatap Minra yang sudah memberinya perintah tanpa suara agar Sehun membaca pesan singkat yang baru saja memenuhi inbox ponselnya. Sebuah pesan singkat yang membuat Sehun membulatkan matanya, pesan singkat dari Song Jongki. Sehun segera beranjak dari bangku kuasanya, berjalan keluar dari ruang kerjanya tergesa, mengabaikan Minra yang kembali frustasi dengan triakkan kesal di belakang sana.

“Oh Sehun kau ada rapat penting sebentar lagi!” Sehun berbalik sekilas. “Tolong gantikan aku sebentar dan pastikan kau mendapatkan kontraknya, kau mengerti?” jawab Sehun sesaat sebelum kembali melanjutkan langkah cepatnya.

Sehun menekan tombol cepat hingga tersambung dengan seseorang di seberang sana, sebelum masuk ke dalam lift dan membawanya ke private Port yang ada di rooftop.

“Siapkan Jet pribadiku, kita ke Jeju sekarang juga.”

~000~

Jiyeon merentangkan tangannya, senyumnya lebar, dia dan Jongin baru saja menginjakkan kaki di pulau Jeju, pulau terbesar di Korea yang terletak di semenanjung Korea, tepatnya di selat Korea sebelah barat provinsi Jeolla Selatan. Pulau yang bercuaca hangat di sepanjang tahun, bahkan pada musim dingin di pulau Jeju jarang turun salju dan karena fakta-fakta itulah Jiyeon ingin sekali bisa tinggal di Jeju, jadi dia tidak perlu takut lagi dengan suhu dingin yang selalu mampu membuatnya sakit. Jiyeon turun dari mobil yang sudah di siapkan Jongin untuk membawa mereka ke arena festival bunga Canola terbesar yang ada di Jeju, diselenggarakan secara meriah di tiap tahunnya, hamparan kuning di segala penjuru pulau yang sungguh memanjakan mata siapa saja yang mengunjungi Jeju di sepanjang musim semi.

Wuah! Ini indah sekali.” Gumam Jiyeon, dia tidak henti-hentinya menatap takjub hamparan bunga Canola di depannya. “Sudah lama sekali aku tidak melihat Canola Festival karena Sehun——“ Jiyeon menghentikan ucapannya cepat, menatap kikuk Jongin yang hanya tersenyum.

“Kenapa dengan dia?” Jiyeon terdiam sesaat.

“Dia tidak suka Canola, dia lebih suka Sakura.” Jiyeon tersenyum tipis, menghela napas saat rasa sesak itu kembali datang menghampiri, tiap kali dia mengingat sosok kejam yang sayangnya selalu memenuhi hati dan pikirannya.

Jongin tersenyum meraih jemari Jiyeon lalu mengenggamnya erat. “Kita ke sini untuk menikmati festival bukan untuk mengingatnya, Song Jiyeon, jadi lupakan pria yang selalu membuatmu menangis itu untuk sejenak dan nikmati harimu yang menyenangkan di Jeju,” ucap Jongin sesaat sebelum menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya, berjalan menelusuri kemeriahan festival Canola yang sudah memanggil mereka.

Sementara itu di dalam pesawat pribadinya, Sehun memutar mutar cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya gusar, cincin yang mengikat hidupnya dengan Song Jiyeon sejak dua tahun silam. Jiyeon gadis yang sudah dikenalnya sejak puluhan tahun lalu, gadis yang sempat terlupakan di memorinya dan kini kembali menemani hari-harinya. Wanita yang dulu hobi sekali tertawa dengan semua kelembutan yang terlihat tulus, membuat Sehun jatuh ke dalam dasar rasa cinta tanpa pernah disadarinya. Rasa yang membuat Sehun merasa sangat bersalah saat harus menyakiti wanita itu, merasa menjadi sosok yang sangat kejam karena telah memanfaatkan semua luapan cinta Jiyeon pada dirinya selama ini.

Sebenarnya Sehun ingin mengakhiri semuanya sejak satu tahun yang lalu, sejak dia membuat skenario perselingkuhan dengan sabahatnya Minra. Skenario yang dipercaya Sehun dan Minra dapat membuat Jiyeon melepaskannya, namun Sehun justru mendapati Jiyeon yang menenggelamkan dirinya di dalam bathtub hingga hampir membuat nyawa wanita itu melayang. Sejak kejadian itu Sehun selalu merusak pintu kamar mandi, tiap kali Jiyeon berada di dalam kamar mandi lebih dari satu jam. Sehun benar-benar sangat takut jika dia harus kehilangan Jiyeon, hanya karena membiarkan wanita itu mengakhiri hidupnya di dalam bathtub.

Dan tepat di hari itu juga menguak satu fakta baru yang lebih menakutkan, fakta baru yang membuat Sehun semakin terpojok dan mau tidak mau harus melanjutkan permainan kejamnya pada keluarga Song hingga selesai. Seandainya saja semua berjalan sesuai rencana mungkin semuanya tidak akan menjadi serumit ini, seandainya saja Jiyeon tidak mendengar percakapannya dengan sang ayah di malam pertama pernikahan mereka mungkin kini Sehun sudah meninggalkan Jiyeon tanpa harus menyakiti wanita itu. Seandainya saja Sehun tidak jatuh cinta pada Jiyeon hingga selalu membuat Jiyeon menjadi gamang dengan semua sikapnya selama ini, mungkin sudah sejak lama Jiyeon akan meninggalkan Sehun dengan suka rela tanpa air mata kesakitan yang menyakiti hati.

 

1 Year Ago

Bathtub Tragedy

Sehun memandang pintu kamarnya yang tertutup rapat, menatap dengan luapan rasa bersalah yang memenuhi relung hati karena malam ini dia kembali menyakiti hati wanita yang dicintai. Malam ini Sehun sengaja membawa Minra ke salah satu kamar dan membiarkan Jiyeon melihat kebersamaannya dengan Minra yang sudah terencana. Sehun memerintahkan seorang pelayan untuk masuk ke dalam kamarnya, memastikan jika Jiyeon baik-baik saja di dalam sana walau nyatanya itu sangatlah mustahil.

Wanita mana yang akan baik-baik saja, jika melihat suaminya tidur dengan wanita lain?

Tak sabar Sehun memutuskan untuk berjalan mendekat hingga berdiri di depan pintu kamarnya, merasa semakin cemas saat tak ada kabar dari dalam sana. Namun tiba-tiba Sehun mendengar suara teriakkan yang menyerukan nama Jiyeon, membuat Sehun langsung menyeruak masuk ke dalam kamar dan laki-laki itu pun membeku seketika saat melihat tubuh Jiyeon yang sudah mengambang di dalam Bathtub.

“JIYEON!!!”

Dengan panik Sehun segera mengangkat tubuh Jiyeon dari dalam bathtub, menekan dada gadis itu seraya memberikan napas buatan. Sehun terlihat semakin panik saat Jiyeon tak juga kembali bernapas, Sehun berteriak menepuk pipi Jiyeon dengan kembali memberikan napas buatan secara berulang-ulang.

“YAK!!! Bernapas Jiyeon aku mohon— BERNAPAS OH JIYEON!!”

Pandangan Sehun sedikit mengabur saat air mata mulai memenuhi soket matanya, menatap frustasi wajah Jiyeon yang semakin memucat. Sehun kembali berusaha menekan dada Jiyeon, rasa sesal mulai datang menyerang, menelusup ke dalam relung hati.

“Maaf… maafkan aku Jiyeon, bernapaslah Jiyeon— aku mohon.”

Sehun mulai terisak, linangan air mata berjatuhan di pipinya yang pucat, kembali melakukan pertolongan pada Jiyeon yang belum juga merespon apapun. Namun sesaat kemudian Jiyeon terlihat terbatuk seraya memuntahkan air dari dalam mulutnya, Sehun membulatkan matanya, dia tidak percaya saat melihat Jiyeon kembali bernapas. Sehun segera menarik Jiyeon ke dalam pelukannya, mendekapnya sangat erat, puluhan kata maaf yang terucap dari bibirnya yang bergetar.

“Maafkan aku, Oh Jiyeon.”

Satu jam berlalu, masa kritis Jiyeon sudah berlalu. Berjalan mondar mandir di balkon kamar adalah pekerjaan yang sudah dilakukan Sehun sejak beberapa menit lalu, menanti seseorang di seberang sana segera menjawab panggilan teleponenya. Laki-laki itu terlihat sangat kalut, tangannya gemetar, menatap sesekali ke arah Jiyeon yang tertidur di ranjang yang ada di belakang punggungnya, dokter Kang memastikan jika wanita itu sudah melewati masa kritisnya.

“Ayah!” ucap Sehun saat sudah tersambung dengan Junseok di seberang sana.

“Aku ingin mengakhiri semuanya! Aku—- benar-benar tidak sanggup lagi untuk menyakitinya, aku benar-benar tidak sanggup lagi melihat tatapan terlukanya tiap kali dia memandangku, aku tidak sanggup lagi melihat air matanya mengalir di depanku. Aku benar-benar tidak sangup lagi, bisakah kita berhenti sampai di sini saja?”

Sehun meratap, dia mengacak rambut hitamnya geram, menahan emosi sarat akan rasa bersalah yang menyesakkan. Menghembuskan deru napas frustasi kala tak mampu lagi, menahan luapan perasaan sakit karena air mata sang malaikat yang terus mengalir karenanya.

“Sehun.”

“Aku akan mengakhirinya dengan caraku, aku lelah jika menunggunya melepaskan aku hanya karena Jongki. Aku tidak peduli jika Jongki menghancurkanku ayah bahkan— aku tidak peduli jika Jongki membunuhku sekali pun, asalkan aku tidak harus menyakitinya lagi.”

Tubuh Sehun terhuyung hingga akhirnya beringsut di lantai, menahan isak tangis saat air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh hingga membuat dada Sehun sesak. Sehun menggenggam ponselnya kuat, menahan semua kesakitan jiwa yang kian menyakitinya. Sehun sudah tidak sanggup lagi.

“Bertahanlah sebentar lagi Sehun, jika kau melepaskannya sekarang maka semua yang sudah kita lakukan selama ini akan sia-sia. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang, maaf aku baru mengatakannya sekarang. Hemelsky bukan lagi milik kita, sejak awal dia sudah mengambil alih semua saham. Aku sangat mengenal Song Jongki, dia akan menghancurkan kita semua dengan sangat kejam jika tahu kita menyakiti putrinya, kita tidak punya kekuatan untuk melawannya.”

“AKU TIDAK PEDULI!!! Kau dengar? AKU TIDAK PEDULI!!!”

“Sayangnya kau harus peduli, Oh Sehun!”

Sehun terdiam, matanya mengerjab, mendengar suara orang lain di seberang sana, bukan suara ayahnya namun suara seorang laki-laki yang terdengar sangat dingin. Mengucapkan sebaris kalimat bersama tawa mencekam di belakangnya, diiringi teriakkan histeris dari suara yang Sehun yakini adalah suara ayahnya. Sehun terpaku di tempatnya bersimpuh, mencerna dengan cermat serentetan kalimat yang membuat otaknya buntu dan tak mampu berpikir selain berteriak kencang.

“Lakukan semuanya jika kau ingin ayahmu kembali ke Seoul dalam keadaan utuh Oh Sehun, bertahanlah hingga aku datang menemuimu di Seoul dan pastikan kau masih menjadi pemegang saham terbesar dari kekayaan Song Jongki. Jika tidak maka aku akan membuat ayahmu mati secara mengenaskan, hingga dia merasa menyesal sudah dilahirkan ke muka bumi ini.”

“Siapa kau? YAK! LEPASKAN AYAHKU!!!”

—-

Sehun terjaga dari lamunannya saat suara in flight Announcement terdengar memenuhi gendang telinganya, menandakan jika private Jetnya akan segera mendarat di Jeju Island. Sehun tersenyum dingin menatap hamparan kuning bunga Canola dari kaca jendela, bunga cantik yang sayangnya tidak begitu disukai Sehun sejak dulu. Sehun menarik napasnya dalam-dalam seraya melepaskan sabuk pengaman yang melilit pinggangnya, pesawat berhasil mendarat dengan sempurna, dia berjalan pelan menuju pintu kabin yang sudah terbuka. Mata hitam Sehun menatap angkasa, menghirup udara Jeju yang sudah lama tidak dirasakannya. Sehun mengeratkan jas hitam yang membalut tubuh tingginya, melangkah ringan menuruni tangga pesawat. Senyum Sehun terulas samar pada sosok seorang laki-laki yang menyambutnya di depan pintu sebuah mobil, seorang laki-laki yang sudah ada di Jeju bersamaan dengan kepergian Jiyeon dan Jongin, untuk melaporkan semuanya pada Sehun tanpa terlewat sedikit pun.

“Laki-laki itu datang lebih cepat dari yang kita perkirakan Tuan, dia juga tidak main-main dengan ancamannya waktu itu,” Sehun menarik satu sudut bibirnya hingga tercipta seringai tajam yang terlihat mengerikan, mengangguk mengerti lalu bersiap memasuki mobil hitamnya.

“Aku tahu itu Xiumin! Pastikan kau melakukan tugasmu dengan baik dan amankan posisi mu hingga waktu itu tiba, selebihnya biar aku yang melakukannya. Kupastikan laki-laki brengsek itu tidak akan mendapatkan, apa yang dia inginkan dengan mudah.”

Sehun menepuk pundak Xiumin sekilas saat laki-laki itu mengangguk mengerti, sebelum menghilang di balik pintu mobil untuk selanjutnya membawa dirinya bertemu Jiyeon dan kembali ke Seoul karena pesan singkat Jongki beberapa jam yang lalu.

“Sore ini aku akan datang bersama istriku untuk menginap, ah! Aku sangat rindu sarapan pagi bersama kalian.”

~000~

Jiyeon tertawa bahagia dalam kemeriahan festival dan membiarkan Jongin masih menggenggam jemarinya sejak tadi, sesekali mereka terlihat tertawa bersama pengunjung lainnya, mereka berpapasan dengan penduduk setempat yang berjalan menggunakan hanbok dan membawa alat music tradisonal yang ditabuh di sepanjang jalan. Jiyeon dan Jongin juga menyewa sepeda untuk mengitari Jeju dan menelusuri bukitnya, Jiyeon tak henti hentinya tertawa seraya merentangkan tangannya, menengadah dan menghirup udara Jeju sebanyak yang dia bisa. Jongin menghentikan sepedanya di sebuah resort yang sangat indah, tersenyum sesaat sebelum mengajak Jiyeon untuk masuk ke dalam.

“Kau pasti lapar.” ucap Jongin saat Jiyeon menatapnya bingung. “Makanan di resort ini sangat lezat, aku yakin kau pasti menyukainya.” Jiyeon tersenyum lalu mengangguk setuju.

Mereka berdua terus berjalan pelan hingga berhenti di depan sebuah ruangan yang sangat indah, dua kursi saling berhadapan dan meja penuh makanan lezat. Jiyeon menengadah menatap puluhan bunga mawar kuning yang menjuntai, memenuhi langit-langit ruangan hingga tertutup sempurna dan itu sangat indah.

“Jika mawarnya biru pasti akan terlihat jauh lebih indah,” gumam Jiyeon lirih hingga tak mampu didengar oleh Jongin.

Jongin menarik kursi dan mempersilahkan Jiyeon untuk duduk di sana, tersenyum saat Jiyeon terlihat senang dengan apa yang sudah disiapkannya.

“Kau menyiapkan semua ini?” Jongin mengangguk pelan dia tersenyum memabukkan, membuat Jiyeon tersipu, tertawa gugup saat Jongin tak juga berhenti memandanginya.

“Aku hanya ingin melihatmu tertawa Jiyeon, aku hanya ingin kau tahu jika masih banyak hal-hal yang membahagiakan di dunia ini.”

Jiyeon tersenyum tulus untuk apa yang sudah Jongin lakukan selama ini, laki-laki itu selalu saja mampu membuatnya sedikit melupakan laranya terhadap seorang Oh Sehun. Selalu mampu membuatnya tertawa tanpa takut akan kembali meneteskan air matanya, selalu mampu membuat Jiyeon merasa lebih berarti. Jiyeon mulai menyantap hidangan makan siangnya, sepotong daging panggang dengan siraman saus ala Italia yang sangat lezat.

“Beruntung sekali wanita yang akan mendampingi hidupmu nanti, Jongin.” Jiyeon kembali memasukkan potongan daging ke mulutnya.

“Sayangnya wanita yang aku sukai sudah menjadi milik orang lain,” Gerakan tangan Jiyeon terhenti seketika, Jiyeon mengerjab, menatap Jongin yang sudah tersenyum hangat ke arahnya.

“Apa?”

“Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu Song Jiyeon,” Jongin menggantungkan kalimatnya, menanti reaksi Jiyeon yang justru hanya diam terpaku. “Aku tidak bermaksud merebutmu dari Sehun, aku hanya merasa jika laki-laki itu tidak pantas mendapatkan wanita sebaik dirimu. Sehun selalu membuatmu menangis dengan semua perlakuan buruknya padamu, jadi—- bisakah mau memberiku kesempatan untuk….,”

Ucapan Jongin terputus seketika saat sebuah tangan menarik Jiyeon dari kursi, Jiyeon tersentak, dia menjerit tertahan. Jiyeon menoleh dan sertamerta mendapati sosok laki-laki berwajah dingin, mata hitamnya yang tajam menatapnya dingin hingga mampu membuat bulu kuduk Jiyeon meremang.

“Sayangnya aku tidak akan pernah mengizinkannya, Kim Jongin! Aku tidak akan pernah membiarkan kau memiliki Jiyeonku!”

“Oh Sehun?” Jongin terperanjat tak menduga jika sosok kejam itu akan datang, menemukan dirinya bersama wanita yang masih menjadi milik laki-laki itu.

“Iyah, ini aku, apa kau terkejut dengan kedatanganku?” Sehun menyeringai, Jongin tidak menjawab ucapannya.

“Yak!! Lepaskan aku, Oh Sehun!” Jiyeon berseru, dia meronta agar terbebas dari genggaman Sehun yang sangat erat.

Mata hitam Sehun berkilat, menatap Jiyeon tajam hingga membuat Jiyeon terdiam. Dia mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan Jiyeon, sampai wanita itu meringis kesakitan. Sehun tidak peduli, dia kembali melayangkan tatapan membunuh bak seorang tiran pada sosok Jongin yang sudah bangkit dari kursinya.

“Apa saat ini kau sedang merayu istriku dengan makan bersama? Bertabur puluhan batang mawar kuning ini, Kim Jongin?” seringai Sehun semakin terasa dingin, menyimpan sejuta amarah yang tak tertahankan. “Sayang sekali Jongin, istriku hanya suka satu warna mawar di dunia ini, dia—- hanya suka mawar biru, bukan mawar kuning.”

Jiyeon memalingkan wajahnya, menatap Sehun yang kini tengah menatap dingin ke arah Jongin. Dia kembali meronta dalam genggaman Sehun yang semakin menyakiti, tapi lagi-lagi Sehun tidak peduli dan mulai menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya.

“Lepaskan aku, Oh Sehun!” Jiyeon berteriak, dia tidak mau ikut Sehun, dia terus meronta, hingga sebuah tangan lain menahan langkah mereka.

“Lepaskan dia Oh Sehun! Apa kau tidak dengar jika Jiyeon tidak ingin ikut denganmu?”

Sehun berpaling, tatapannya tajam menusuk, menghempaskan tangan Jongin yang menggenggam pergelangan tangan Jiyeon. Laki-laki kejam itu menarik satu sudut bibirnya hingga tercipta seringai menyeramkan di sana, mengangkat jemari Jiyeon dimana tersemat cincin pernikahan mereka di salah satu jarinya.

“Selama cincin pernikahan ini masih melingkar di jari manisnya, maka aku masih berhak penuh atas dirinya dan kau tidak punya hak sedikit pun untuk menyentuhnya, kau mengerti Tuan Kim Jongin?”

Dalam satu gerakan cepat Sehun kembali menarik Jiyeon untuk mengikuti langkah cepatnya, mengabaikan teriakkan Jiyeon dan pukulan wanita itu di lengannya. Meninggalkan Jongin yang menatap Sehun dengan tajam di belakang sana, dalam keheningan berselimut amarah yang mencekam tanpa bisa di tahan.

Sehun terus menarik Jiyeon tanpa menoleh, mereka sudah berada di halaman luar resort.

“YAK!!! LEPASKAN AKU BRENGSEK!!!”

Jiyeon masih meronta, langkahnya kian terseok, Sehun tak juga mengendurkan langkah cepatnya. Jiyeon bahkan terlihat hampir terjatuh berkali-kali saat mengimbangi langkah panjang Sehun, hingga pada akhirnya Jiyeon mengaduh dan menghentikan langkahnya, tubuhnya hampir beringsut di jalan bebatuan yang mereka lalui saat ini. Sehun membalikkan tubuhnya menatap Jiyeon yang sudah menangis dan menekan kakinya, wanita itu baru saja terkilir karena terpeleset hingga membuat sepatu mini boat nya patah. Jiyeon menghempaskan tangan Sehun dan terduduk di bebatuan begitu saja, dia terus menangis, menekan pergelangan kakinya yang terasa sangat nyeri.

“Kau baik-baik saja?” Sehun yang terkejut langsung berjongkok di depan Jiyeon, melepaskan dengan hati-hati sepatu tinggi itu dari kaki Jiyeon dan memberikan pijitan disana.

“Kenapa masih bertanya, bodoh! Kau lihat kakiku, hah! Ini sakit sekali. Kenapa kau punya hobi selalu menyakitiku.”

Jiyeon berteriak, memukul mukul pundak Sehun kuat, merengek, mencaci, serta menggerakkan satu kakinya yang tidak sakit, menendang-nendang udara di depannya. Sehun terjungkal saat Jiyeon mendorong bahunya, setelah puas memukul bahu Sehun saat laki-laki itu memijit kakinya. Sehun pun menarik napasnya, matanya terpejam, lalu dia ikut berteriak kencang hingga Jiyeon terdiam.

“DIAM OH JIYEON!!”

Sehun kembali meraih kaki Jiyeon, memijitnya pelan dan beberapa saat kemudian Jiyeon terlihat mengerjab saat merasakan jika nyeri di kakinya berkurang. Jiyeon bahkan tidak sadar, jika kini Sehun sudah membuang sepatu mahalnya ke dalam tong sampah yang ada di dekat mereka.

“Naik ke punggungku,” perintah Sehun terdengar dingin, memaksa Jiyeon hingga wanita itu mau tidak mau hanya bisa menurut.

“Bersandar,” Sehun mulai melangkahkan kakinya, Jiyeon tersadar dan segera melingkarkan tangannya di pundak Sehun. Jika bukan karena kakinya sedang sakit, bisa dipastikan Jiyeon tidak akan sudi Sehun menggendongnya.

“Kenapa kau selalu saja membuatku menangis? Apa kau merasa bahagia saat melihat air mataku, Oh Sehun?”

Sehun tidak menjawab laki-laki itu hanya melanjutkan langkahnya menuju mobil yang terparkir di depan sana, membiarkan kesenyapan menyelimuti mereka berdua hingga mereka melanjutkan perjalanan dengan pesawat, kembali ke Seoul.

~000~

“Sebentar lagi ayah dan ibumu akan tiba di rumah, mereka ingin menginap, karena itulah aku menjemputmu ke Jeju.” Sehun duduk di tepi ranjang, sebuah handuk hangat ada di tangannya, dia menatap Jiyeon yang masih bungkam seraya memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.

“Berpura-puralah tidur setelah ini hingga semuanya terlihat lebih mudah.” Lanjut Sehun lalu mulai mengompres pergelangan kaki Jiyeon yang terlihat sedikit bengkak.

Jiyeon menoleh lalu menarik kakinya menjauh, tapi sayangnya rasa nyeri di kakinya membuat gerakan wanita itu tertahan dan membiarkan Sehun kembali mengompres kakinya. Menempelkan koyo penghilang rasa sakit, lalu memijat lembut di bagian betis. Jiyeon memalingkan wajahnya saat Sehun meliriknya, bergumam lalu menyilangkan tangannya di depan dada.

“Tidak usah pura-pura baik padaku, Sehun! Sampai kapan pun kau tetaplah pria brengsek yang aku benci,”

“Jiyeon agasshi,”

Jiyeon menoleh seketika, sedikit terkejut saat mendapati bibi Jung yang sudah berdiri di ujung ranjang, wanita paruh baya itu membawa kompres air panas di tangannya. Jiyeon mengalihkan pandangannya saat bibi Jung memberikan isyarat padanya untuk tidak berbicara apapun, seraya melirik Sehun yang ternyata sudah tertidur dalam posisi duduk.

“Tuan Muda Oh pasti sangat lelah karena tidak tidur semalaman, dia menjagamu dan memastikan suhu tubuhmu tidak kembali menghangat kemarin malam hingga pagi.”

Jiyeon langsung melayangkan pandangan terkejut ke arah Sehun, menelitik wajah Sehun yang baru disadarinya terlihat sangat lelah. Selang sedetik kemudian Jiyeon sudah beranjak dari posisinya saat tubuh Sehun terhuyung ke samping, mengabaikan rasa nyeri di kakinya hingga kepala Sehun kini terbaring di atas pangkuannya.

“Tuan Muda juga meminta saya untuk meletakkan kompres ini di bawah kakimu, agar bengkaknya bisa hilang dengan cepat.” Ucap Bibi Jung seraya meletakkan kompres air panas di atas nakas di samping ranjang, sesaat sebelum meninggalkan kamar, Bibi Jung tersenyum samar, melihat Jiyeon yang sudah membelai wajah Sehun yang ada di atas pangkuannya.

Jiyeon memandangi wajah tenang Sehun lekat, menggerakkan jemarinya di helaian rambut Sehun yang hitam. Tersenyum saat Sehun mengeliat pelan dalam tidurnya, menatap sosok kejam yang entah mengapa terlalu sulit untuk diabaikan. Selama ini Jiyeon selalu hanya merasa dirinya akan menyesal, jika sampai melepaskan ikatan hidupnya pada laki-laki brengsek itu.

“Sebanyak apapun kau menyakitiku, kenapa aku tetap saja tidak bisa membencimu, Sehun? Kenapa aku tetap saja selalu bisa memaafkanmu, apa kau tahu jawabannya, Sehun Oppa?”

Jiyeon menunduk mencium kening Sehun dengan segenap rasa cinta yang tak berkurang sejak dulu, walau sebanyak apapun luka yang sudah di torehkan laki-laki itu di hidupnya.

~000~

Jung District, Incheon – South Korea

Incheon International Airport

Seorang pria tampan, sangat tinggi, rambut kuning menyala, menyeruak keluar dari pintu kedatangan, berjalan di tengah keramaian orang-orang yang juga baru saja mendarat di Seoul. Laki-laki dengan rahang tegas, memiliki tatapan tajam yang dingin itu, menekan beberapa nomor di layar ponsel yang baru saja dia tarik keluar dari balik saku celana hitam yang membalut kaki panjangnya. Dia menghentikan langkah santainya, seorang laki-laki yang terlihat jauh lebih pendek darinya membungkuk hormat ke arahnya, lalu memberinya petunjuk untuk berjalan menuju sebuah mobil hitam yang telah menunggunya di pintu utama bandara. Pria itu tersenyum tenang, menghirup udara Seoul yang baru dirasakannya untuk pertama kali, memandang sekilas seorang laki-laki lain yang telah berada di dalam mobil, sesaat setelah valet parking dengan senyum ramahnya membukakan pintu mobil untuknya.

“Selamat datang di Seoul, Kris Duizhang!”

 

~ TBC~

Hi…Hi… Yehettt cadel dating lagiii hahahah

Ayo yg kemarin menghujat Sehun, yang niat mau mukulun Sehun, yang mau mbejek2 (?) Sehun silahkan buat pengakuan dosa (?) hahahah gak papa, gak masalah, berarti saya berhasil bikin karakter praduga Oh Sehun. Akhir2 ini banyak sekali reader yg komen super kece, super panjang, super kocak ampe saya ngakak, aslina itu keren dan membahagiakan #bahagiaitusederhana

Tapi ternyata dedek Sehun gw gak terima disangka jahat di TGAutumn, dia gambek tau gak sihhhh #mulaigila

Sehun : Noona mahh gitu orangnya, gw mulu yg kena

Gw : Apa sih Hun, jangan bawel deh

Sehun : Iyah, apa-apa gue… yg jahat di TNM gue, yg sakit jiwa di TGAnxiety gue, sekarang yg dituduh jahat di TGAutumn gue lagi, semua gue… yang ganteng gue, yang manis gue, yang cadel gue juga, yang punya ABS gue, kan gak enak gue nya

Gw : -___-

Sehun : *nyengirrr*

#Abaikan

Ditunggu ya komennya, yang ikhlas, yg ridho yak, jangan komen gegara biar dapet PW doang. Aslilah yaaa gw ngerasa ada yg terpaksaaaaaa bgt ninggalin komen, gegara biar dapet PW -__- sakittt tauuuu

Sehun : *nyalip kayak metromini* Iyah, gw juga sakitttt tauuuu

Gw : Eh bocahh, lu mending cuci kaki trus bobok cantik dah, jangan ganggu reader gw yg lagi mau baca

#Aslilahabaikan

Enjoy Manusia KECE

14 thoughts on “The Gray Autumn (Chapter 6)

  1. Step by step gw semkin ngerti nihh ternyata sehun bersikap kyak gituh gara2 diancam trus orang yg sama Ayah.y sehun itu siapa ?? Jongin ?? Kriss ?? Atau si Sule ?? Hadeuh gw udah kaga waras nihh
    next lahh ciee sweet banget sihh sehun sama jiyeon.y bkin baperr euyy.

  2. hemmmm nongol nieh biang dr sgala masalah thehun…yuh si duizhang, ini toh ank nakal yg sbnrx…udah bwt mslah kyk gni…kasihan sehun ma jiyeon…udah saling cinta tp g bisa bahagia…next deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s