All-Mate911 (Chapter 4)

All-Mate911

All-Mate911

A fanfiction by marceryn

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Genre : AU, romance

Casts : EXO’s Chanyeol, Ryu Sena [OC], supporting by EXO’s members and others OCs

Disclaimer :: Except the storyline, OCs, and cover, I don’t own anything.

Note : Ini dia chapter 3 XD ehem. Masih pendek dan gajelas, oke, dan agak bikin geli(?) tapi biarlah lol. Selamat membaca! Kritik dan saran juseyong :3

(dipublikasikan juga di wattpad pribadi)

 

~all-mate911~

kau akan selalu ingat kapan saat kau pertama kali jatuh cinta… atau jatuh benci, dalam kasus ini

 

 

“Bagaimana dengan yang ini, Ahyoung-ah?”

Sena menilai penampilan wanita tiga puluhan di hadapannya itu, yang memakai gaun hijau zamrud yang ekornya menjuntai menyapu lantai dan membungkus ketat tubuhnya. “Gaun itu sedikit terlalu sempit di pinggul, tapi memang menonjolkan dadamu dengan bagus sekali.”

Jelas kesan itu yang diinginkan si wanita, karena ia langsung memutar tubuhnya ke arah cermin persegi panjang dan berdiri menyerong kiri-kanan selama beberapa saat di sana sambil melihat dadanya dengan tatapan senang.

Wanita itu mencoba beberapa gaun lagi yang kesemuanya ketat (wanita itu tidak gemuk, tapi tubuhnya berisi dan ia memaksakan banyak gaun yang jelas-jelas terlalu sempit untuknya dan Sena yakin akan membuatnya tidak bisa menikmati makan malamnya nanti seperti seharusnya).

Panggilannya pagi ini diterima dari seorang wanita bernama Kim Nana yang meneleponnya untuk menemaninya belanja gaun di sebuah butik elite di Apgujeong untuk acara kencan buta. Sena menyukai tugas seperti ini—ia bisa melihat-lihat pakaian bernilai jutaan terbaru tanpa membeli dan tidak terlihat seperti orang susah.

Kim Nana memutuskan untuk membeli lima gaun, salah satunya gaun hijau tadi. Sena menjaga jarak dari kasir agar tidak perlu melihat isi dompet Kim Nana yang sedang membayar. Ia tidak peduli berapa banyak kartu kredit dan uang tunai di dalam dompet itu, ia hanya peduli pada bayaran yang akan diterimanya sebentar lagi.

“Ryu Sena!”

Suara berat itu membuat Sena terlonjak menoleh ke arah pintu yang terbuka, dan Kim Nana yang baru saja selesai dengan transaksinya dan akan membayar Sena ikut menoleh. Mereka berdua menatap seorang laki-laki tinggi melangkah masuk menuju Sena dengan cengiran lebar yang tidak serasi dengan suaranya barusan.

“Wah, kebetulan sekali bertemu denganmu di sini,” Chanyeol berkata riang, tidak memerhatikan kehadiran wanita lain di dekat Sena. “Apa yang sedang kau lakukan?”

Sena mengerjap-ngerjap, tapi belum sempat ia menjawab, Kim Nana menyela bingung, “Ryu Sena?”

Wanita itu menatap mereka berdua bergantian dan Sena nyaris akan meninju kepala kosong Chanyeol, tapi laki-laki itu buru-buru berkata, “Oh, itu hanya nama khusus dariku untuknya.”

Chanyeol kemudian menoleh pada Sena. “Bisa bicara denganku sebentar setelah ini? Aku akan menunggu di dalam.” Tanpa menunggu persetujuan, ia berjalan dan menghilang di antara rak-rak.

Setelah menerima bayaran dari Kim Nana dan mengucapkan selamat tinggal, Sena menghampiri Chanyeol dengan langkah berderap dan memukul pundaknya keras-keras. “Bisakah kau berhenti membocorkan rahasia orang ke mana-mana? Benar-benar,” gerutunya.

Chanyeol meringis sambil memanjang-manjangkan tangan ke belakang untuk mengelus pundaknya. Meski begitu, bibirnya masih tersenyum lebar dan sepasang mata bulatnya berkilat-kilat senang. “Kukira aku salah lihat tadi, ternyata tidak. Ini pasti takdir, kita bisa bertemu di sini. Benar-benar All-Fate.

Sena memutar bola matanya. Ia hampir saja lega karena Chanyeol tidak mengganggunya selama hampir tiga minggu, dan mereka malah tidak sengaja bertemu di sini. Kesialan macam apa ini. “Berpikirlah sesukamu. Selamat tinggal.” Ia berbalik, tapi langkahnya terhenti karena Chanyeol menahan satu tangannya.

“Kau punya janji dengan orang lain lagi?”

Sena menggeleng.

“Kau punya urusan di tempat lain?”

Sena menggeleng lagi.

“Kalau begitu, jangan pergi dulu. Aku sedang menunggu seseorang dan tidak ada teman.”

“Dan kenapa aku harus tinggal dan menemanimu?”

Chanyeol memasang tampang berpikir keras yang kelihatan bodoh. “Karena kau sudah ada di sini dan ini butik dan salah satu hal favoritmu adalah fashion jadi seharusnya kau suka menghabiskan waktu di sini dan—”

“Baiklah,” potong Sena, karena alasan itu saja sudah sangat panjang dan ia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi.

“Kau sangat baik hati.” Sudut-sudut mulut Chanyeol terangkat tinggi dan ia tampak begitu berbeda dengan Park Idiot sampai-sampai Sena harus mengingatkan diri bahwa ini masih orang yang sama dan Sena masih membencinya.

“Aku memang baik. Kau yang tidak,” balasnya.

“Aku baik,” sahut Chanyeol.

“Ha-ha.”

“Aku serius.”

“Ya, ya.”

Chanyeol menyerah berusaha meyakinkan Sena dan mereka menyusuri setiap rak tanpa tujuan. Kemudian Chanyeol melihat sesuatu yang menarik dan menghentikan langkah Sena dengan meraih tangannya. “Yang itu, bagaimana menurutmu?”

Sena melihat gaun selutut hitam berpotongan lurus dan mantel putih salju berkancing gaya militer di dada sebelah kiri dengan bagian bawahnya mengembang seperti rok yang dipakaikan pada sebuah manekin tanpa kepala. “Bagus.”

“Cobalah.”

“Apa?”

“Kenapa? Kau bilang itu bagus.”

“Aku hanya suka melihat pakaian, bukan suka memakainya.”

“Aku ingin tahu bagaimana kelihatannya pakaian itu padamu. Ayolah, tidak akan makan waktu lama. Kau hanya mencobanya dan tunjukkan padaku dan aku akan melihat seben—”

“Baiklah.” Kenapa laki-laki ini begitu berisik.

Seorang pegawai mengambilkan mantel tadi dengan ukuran Sena dan mengantarkannya ke ruang ganti. Sena mengganti pakaiannya dengan enggan dan merasa sebal karena pakaian itu terasa pas untuknya.

Sena mengamati bayangannya di cermin dan menilai penampilannya sendiri. Seorang perempuan selalu merasa ada yang kurang pada dirinya. Secuek apa pun Sena, ia pun begitu. Ia merasa wajahnya tidak punya daya tarik istimewa, ukuran dadanya terlalu biasa, pinggangnya tidak berlekuk, kakinya terlalu pendek, belum lagi ia memerhatikan kalau perutnya sedikit membuncit belakangan ini. Sena bisa berdiri di sana seharian dan mendaftar selusin kekurangan lainnya, jadi ia berhenti di sana dan melangkah keluar.

Ya, Park Idiot.”

Chanyeol berbalik dengan tampang bodoh. “Idiot?” tanyanya.

“Oh, itu hanya nama khusus dariku untukmu.”

Chanyeol membuka mulut untuk memprotes namanya, tapi urung begitu ia melihat Sena dari atas ke bawah. Senyumnya mengembang lagi. “Sudah kuduga itu lebih bagus dipakai olehmu daripada si manekin.”

Well, aku memang secantik itu.”

“Memang.”

Sena mengharapkan bantahan atau cibiran, jadi ia tercenung ketika Chanyeol malah menyetujuinya. “Aku bercanda.”

“Aku tahu. Tapi kau memang cantik.”

Sena mendadak merasa salah tingkah. Ia mengalihkan pandangannya dan bersedekap. “Simpan pujian murahan itu. Aku tidak membutuhkannya.”

“Itu kenyataan.”

Sena kembali dihadapkan dengan kenyataan bahwa Chanyeol yang sekarang benar-benar berbeda. Dan maksudnya berbeda adalah benar-benar menarik. Chanyeol bisa saja membuat sebaris model kelas atas menanggalkan pakaian mereka tanpa memintanya. Tapi di sinilah laki-laki itu sekarang, tertawa seperti orang tolol dan membuatnya jengkel.

***

“Ayolah, biarkan aku mengantarmu pulang,” desak Chanyeol.

Sena menatapnya, bersedekap. Kantong kertas berisi pakaian yang dicobanya tadi tergantung di tangannya (Chanyeol membelikan itu untuknya dan gadis itu membiarkannya—mungkin karena sudah lelah dengan celotehan Chanyeol). “Tidak. Dan, bukankah kau sedang menunggu seseorang?”

“Bukan orang penting. Hanya temanku. Well, temannya ibuku. Anak temannya ibuku, sebenarnya. Bukan anak temanku. Tidak seorang pun temanku sudah punya anak dan kalaupun mereka punya, pasti umurnya tidak lebih dari lima tahun dan aku tidak mungkin bertemu balita di butik dan hell aku bukan pedofil—”

Sena memutar bola matanya dengan lelah dan menyetopnya, “Kalau begitu tunggu saja.”

“Aku tidak benar-benar ingin bertemu dengannya. Lagipula, dia anak temannya ibuku dan bukan temanku maupun anak temanku dan dia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang ditentukannya sendiri dan aku tidak ingin menunggu lebih lama dan—”

“Astaga.” Sena menghela napas keras-keras.

“—aku berjanji aku tidak akan sering-sering meneleponmu dan mengganggumu kalau kau membiarkan aku mengantarmu pulang dan—”

“Baiklah,” potong Sena.

Chanyeol bersorak dalam hati dan berikutnya mereka sudah dalam perjalanan ke tempat tinggal Sena.

“Kau tidak bertanya?” tanya Chanyeol setelah beberapa puluh meter dilalui dalam ketenangan.

Sena menoleh padanya. “Bertanya apa?”

“Kenapa aku tidak meneleponmu selama beberapa minggu ini?”

“Hah,” dengus Sena. “Untuk apa? Aku tidak peduli apa yang kau lakukan. Aku malah senang kau tidak muncul untuk menggangguku.”

Chanyeol sudah terbiasa dengan sifat sarkastik Sena, jadi ia tidak menganggapnya serius. “Jadi, bagaimana kabarmu belakangan ini?”

“Baik.”

Hening beberapa lama lagi.

Chanyeol sengaja berkata dengan suara keras, “Yah, aku agak sibuk, tapi aku juga baik-baik saja, terima kasih sudah bertanya.”

Sena mendengus, dan Chanyeol menemukan senyum setengah di wajah gadis itu.

“Wanita tadi bersamamu itu punya keperluan apa?” tanya Chanyeol.

“Dia ingin membeli gaun baru untuk kencan buta nanti malam dan memintaku jadi konsultan dadakan. Omong-omong soal itu, aku baru tahu kalau kencan buta masih tren. Itu seperti, kapan, ya? Mungkin zaman ibuku masih muda alias sejuta tahun yang lalu atau apa.”

Pembicaraan mengenai wanita tadi mengingatkan Chanyeol pada sesuatu. “Ada yang membuatku penasaran. Kenapa kau memakai identitas palsu?”

Sena mengalihkan wajahnya ke luar jendela. “Bukan urusanmu.”

“Eh, baiklah.” Chanyeol tahu tidak ada gunanya mendesak, jadi ia mengganti pertanyaannya. “Hanya ingin tahu. Bagaimana kau bisa memakai identitas lain?”

“Penyedia layanan bertugas untuk pura-pura, kan?” balas Sena. “Tidak ada alasan kami tidak boleh menggunakan identitas lain. Lagipula, tidak ada yang akan peduli. Seseorang mengakses All-Mate untuk seorang teman bayaran yang tidak terikat, untuk apa kau peduli pada identitasnya, ya, kan?”

Chanyeol mengangguk-angguk meskipun ia tidak merasa itu masuk akal. “Bagaimana jika kau bertemu dengan orang yang kau kenal?”

Sekali ini Sena menoleh padanya dan tersenyum miring. “Lakukan seperti yang sedang kita lakukan sekarang. Bersikap biasa. Apa yang kau harapkan?”

Chanyeol mengangkat bahu dan tersenyum pada jalanan di depannya. “Kau suka pekerjaanmu?”

“Kadang memang menyebalkan, tapi aku tidak punya pilihan, kan?”

“Kenapa?”

Chanyeol meliriknya dan melihat Sena mengangkat bahu. “Bukan urusanmu juga.”

Jawaban Sena terdengar getir, dan kali ini Chanyeol bersikeras, “Kenapa kau menggantungkan hidupmu pada All-Mate?”

Dari raut wajahnya, Chanyeol mengharapkan jawaban ‘bukan urusanmu’ seperti biasa, tapi ternyata tidak. “Aku tidak bisa bekerja.”

“Kenapa?”

“Yah, kau ingat lelucon teman-temanmu yang brengsek?” sambar Sena kasar. “Lelucon yang membuatku jatuh dari tangga sewaktu kelas tiga? Aku lumpuh selama hampir empat tahun. Aku tidak bisa kuliah, tidak lulus SMA, tidak punya pekerjaan, cacat. Berapa banyak lowongan pekerjaan di negara sial ini yang mau menerima pekerja seperti itu? Paham, sekarang?”

Jawaban itu menusuk seperti kristal es di daging. Chanyeol ingat kejadian itu; teman-temannya (ralat, mereka yang tadinya temannya) mengganggu Ryu Sena secara rutin sejak kebohongannya mendadak menyebar ke mana-mana. Chanyeol mencoba meminta mereka untuk berhenti, tapi perkataannya malah memprovokasi mereka untuk berbuat lebih banyak. Lalu satu hari kecelakaan itu terjadi dan Chanyeol tidak pernah melihat atau mendengar kabar Sena lagi di sekolah. Chanyeol sendiri terlalu takut mencari tahu—takut kalau ternyata cederanya fatal dan ia akan merasa bersalah.

Tidak ada yang bicara lagi sampai mereka tiba di depan gedung tiga tingkat dengan banyak pintu-pintu kamar yang disewakan. Tempat tinggal Sena.

Air muka Sena tampak kesal bercampur serba salah. Ia melepas sabuk pengaman dan menggumamkan, “Terima kasih,” dengan cepat dan turun dari mobil. Dan entah karena apa, Chanyeol terdorong untuk mengikutinya keluar.

“Aku minta maaf.”

Sena berhenti dua langkah di depannya dan berbalik, lalu mendengus sinis. “Apalagi sekarang?” katanya. “Kau mau bersikap baik dan mengasihaniku? Aku tidak membutuhkannya.”

Ada banyak balasan yang bisa Chanyeol pikirkan untuk itu, tapi otaknya mendadak kosong, dan ia tidak tahu bagaimana, tahu-tahu saja kedua kakinya melangkah mendekati Sena, lantas ia membungkuk sedikit dan melingkarkan kedua tangannya memeluk gadis itu. Selama beberapa detik, mereka berdiri saja di sana seperti patung.

“Aku minta maaf,” Chanyeol berkata pelan tapi jelas, “bukan karena aku mengasihanimu. Aku minta maaf karena aku merasa bersalah.”

Well.” Sena berdeham pelan di dadanya. “Kau memang harus merasa bersalah. Kau yang menceritakan tentangku pada semua orang.”

“Apa?” Chanyeol merespon seketika, bingung. “Tapi aku tidak menceritakan apa pun—”

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tahu-tahu, seseorang tidak jauh dari mereka berseru, “Oi, apa yang kau lakukan?”

Suara itu membuat Sena menyentakkan dirinya lepas dari Chanyeol dan sepasang matanya membulat mencari si pemilik suara. “YA!” Sena memekik. “Apa yang kau lakukan di sini?!”

Chanyeol melihat ke arah pandang Sena, seorang laki-laki tinggi berambut hitam berantakan berdiri dengan satu kaki tertekuk sedikit, kedua tangan dijejalkan ke saku jaket tipis, celana jinsnya robek di kedua lutut, ransel hitam gembung menggantung di bahu yang tegap dan bidang.

Laki-laki itu berkata malas, “Jangan balik pertanyaanku, Kucing Tua.”

Sena melompat ke arah laki-laki itu dan langsung memukulinya dengan membabi buta. “Ya! Sialan! Jangan menghindar! Kemari kau, dasar anak tidak tahu diri!”

“Aw! AW! Hentikan! Dasar gila—”

“Apa katamu!”

“T-tunggu!” Chanyeol secara instingtif meraih tangan Sena dan menariknya menjauhi laki-laki itu, takut kalau-kalau tangannya tidak sengaja memukul Sena. “Kau siapa?”

Laki-laki itu menatap Chanyeol selama sedetik, lalu balas bertanya, “Kau sendiri? Pacarnya?” Ia menuding Sena dengan jari telunjuk.

“Bukan!” Sena menjawab cepat seraya memukul lengan laki-laki itu dengan kecepatan dan kekuatan yang mengagumkan. “Demi Tuhan, Oh Sehun, aku akan membunuhmu!”

Laki-laki itu mengaduh dan meringis sambil mengelus-elus lengannya. “Nuna, sakit! Kau ini makan apa, sih?”

“‘Nu-nuna‘?” tanya Chanyeol, lalu menoleh pada Sena. “Dia…”

“Adikku,” jawab Sena.

“Suaminya,” celetuk Sehun.

YA! Tutup mulut!” Sena menendang tulang kering Sehun dengan bunyi buk menyakitkan. “Ceritanya panjang,” ia berkata cepat pada Chanyeol, lalu menyambar kerah jaket Sehun seperti mencubit tengkuk kucing. “Ayo!”

Sena menyeret Sehun dengan langkah berderap ke arah gedung, sementara Chanyeol ditinggalkan dengan tampang bingungnya yang paling bodoh.

***

Sena mengabaikan protes berkepanjangan Sehun karena diseret dan didorong paksa sampai ke kamar sewaannya, kemudian Sena membanting pintu menutup dan berseru, “Apa yang kauinginkan, muncul tiba-tiba di sini seperti itu?”

“Beginikah caramu memperlakukan manusia?” dumal Sehun sambil memijat-mijat bahunya yang nyeri. “Kau akan dipenjara, dasar dada rata.”

“Katakan sekali lagi!”

“Dada rata.”

Sena mengacungkan tangannya sambil melotot, bermaksud memukulnya lagi, dan Sehun sontak menyilangkan kedua tangan di depan wajah sebagai perlindungan. “Aish, anak ini.”

Sehun menggembungkan pipinya, kemudian berkata dengan lebih lembut, “Kau tidak pulang waktu tahun baru.”

Sena bersedekap defensif. “Aku sudah mengirimkan uang pada eomma.”

“Apakah aku mengatakan sesuatu tentang uang?” balas Sehun jengkel. “Kau tidak pernah menelepon ke rumah dan tidak pulang, makanya aku datang untuk memastikan kau belum mati diam-diam.”

Aigo, Hunibuni mengkhawatirkan nuna kesayangannya.” Sena berjinjit dan memanjangkan tangan untuk mengacak-acak rambut Sehun sebelum adiknya itu bisa menghindar. Sehun mendesis sebal dan memukul tangan Sena menjauh. “Tapi sebenarnya kau datang karena dimarahi appa, kan?” tanya Sena.

Hening.

“Iya, kan?”

“Iya.”

Sena berdecak keras dan memanjangkan tangannya lagi, tapi Sehun sudah mengantisipasi gerakan itu dan mengelak tepat waktu.

“Bisa tidak usah pegang-pegang kepalaku?” gerutu Sehun. Ia benci saat orang lain menyentuh rambutnya tanpa izin, dan karena itulah Sena semakin suka melakukannya.

“Kau tidak lelah bermain-main dan bertengkar dengan ayahmu?” balas Sena dengan nada menggerutu yang sama.

“Aku bahkan tidak bermain-main kali ini,” Sehun membalas dengan suara kumur-kumur. Kemudian ia mengalihkan pembicaraan, “Tadi itu siapa?”

Sena ragu sejenak sebelum menjawab, “Chanyeol.”

Sepasang mata Sehun membulat. “Chanyeol? Maksudmu, Park Chanyeol? Park Chanyeol yang itu?”

Sehun tidak pernah bertemu atau melihat Park Chanyeol, tapi ia jelas tahu siapa laki-laki yang membuat hidup kakaknya berantakan. Pada malam-malam Sena tidak bisa tidur di rumah sakit dan mereka hanya berdua, Sena banyak bercerita padanya tentang orang-orang di sekolahnya, terutama tentang Park Chanyeol, dan Sehun mendengarkannya dengan setengah tertidur. Yang Sena tidak tahu adalah, Sehun mengingat semuanya dengan baik.

Sena mengangguk.

“Dia punya nyali menemuimu lagi, setelah semua yang terjadi? Apa yang dia inginkan?” Sehun tidak menutup-nutupi ketidaksukaan dalam suaranya.

“Dia tidak sengaja menemuiku. Itu kebetulan,” jawab Sena. Tidak tepat begitu kejadiannya, tapi ia tidak merasa ingin menceritakan lengkapnya sekarang.

“Kenapa dia memelukmu?”

Hening.

“Bukankah kau membencinya?”

“Tentu saja,” jawab Sena, sedikit terlambat dari yang seharusnya.

“Kenapa kau membiakannya memelukmu?”

Sena tidak bisa menjawab. Ia juga tidak tahu. Ia membiarkan Chanyeol meraih tangannya dan tahu-tahu Sena diserbu aroma parfum dan sabun dari kain kemejanya yang tipis, sementara sepasang tangan kurus dan kokoh melingkari bahunya. Sena tidak menyukai kontak fisik dengan laki-laki dan ia pikir ia akan membencinya, tapi anehnya ia merasa pelukan tadi terasa bersahabat, hangat dan tidak memaksa. Dan selama sedetik yang mengerikan tadi, Sena ingin tetap di sana. Lalu Sehun muncul dan Sena kembali ke dunia nyata dengan kabut kebingungan yang tebal.

Ini gila.

Nuna.”

Sena menoleh. Ada kekhawatiran dan teguran dalam sepenggal kata dari bibir Sehun yang membuat Sena gugup.

“Kau tidak… menyukainya, kan,” kalimat itu keluar sebagai pernyataan bukan pertanyaan, seakan Sehun sedang mengingatkannya.

“Dia Park Idiot, oke? Kami dilahirkan untuk saling membenci,” balas Sena, tapi ia merasa itu lebih ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri.

***

Sehun menggelar selimut di lantai dan mengempaskan punggugnya. Lantai ini dingin dan kerasnya bukan main, tapi hanya ada satu tempat tidur dan, meskipun Sehun tidak keberatan, Sena tidak akan sudi bersempit-sempitan berdua dengannya di sana.

Sena keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit kepalanya, hanya memakai celana pendek abu-abu dan kaus putih tipis yang bagian bahunya basah oleh titik-titik air. Sehun berdecak. “Kau akan sakit kepala karena mencuci rambutmu malam-malam begini,” gerutunya.

“Aku sudah terbiasa.”

“Aku akan tertawa di pemakamanmu ketika kau mati karena flu nanti.”

Sena tertawa. “Manis sekali. Hunibuni mengkhawatirkanku.”

“Tutup mulut.” Sehun berbaring miring untuk memalingkan wajahnya yang panas. Ia tidak pernah suka panggilan konyol itu.

Sena duduk bersila di atas tempat tidur sambil menggosok rambutnya. “Eomma yang memberikan nama itu waktu umurmu delapan tahun, kan?”

Sehun hanya menggumam samar sebagai respon.

“Kau tidak pernah memanggilnya eomma,” kata Sena, merujuk pada ibunya. “Bahkan setelah ayahmu menikah dengannya kau tetap memanggilnya bibi.”

Sehun tidak repot-repot menyahut. Ia memejamkan matanya, meskipun sudah hampir setahun ia tidak bertemu dengan Sena dan Sehun merindukannya lebih daripada yang ingin ia akui.

Sena melempar handuknya sembarangan dan berbaring miring di tempat tidurnya. “Ya, Hunibuni…. Hunibuni? Kau belum tidur, kan? …Hunibuni? Hunibuni?”

“Aku akan menyumpal mulutmu dengan kaus kaki kalau kau tidak berhenti menyebut nama konyol itu.”

Sehun mendengar Sena terkikik riang.

“Sehun-ah,” akhirnya Sena memutuskan memanggilnya dengan benar. “Ingat apa yang kaukatakan padaku pertama kali kita bertemu, waktu umurmu tujuh tahun?”

“Kenapa kau suka membahas masa lalu kalau kita sedang bersama,” gumam Sehun dengan suara bosan yang dipanjang-panjangkan.

“Kau bertanya padaku apakah aku punya permen,” Sena mengabaikannya dan menyahuti dirinya sendiri. “Aku menjawab tidak, permen kan tidak baik untuk gigi. Kemudian kau bilang tidak ingin bermain denganku dan kau membuang muka begitu saja. Bocah kecil sombong.”

“Umurmu tiga belas waktu itu tapi kau bertingkah seperti bibi tiga puluh satu.”

Sena tertawa pelan. “Setelah orangtua kita menikah dan kita jadi saudara, kau tetap tidak mau bermain denganku.”

“Apa tidak salah?” Sehun mendudukkan tubuhnya dan membalas tidak terima. “Kau yang tidak mau bermain denganku. Kau kaku, membosankan, dan terlalu suka belajar.”

“Tidak! Aku mau bermain denganmu tapi kau selalu pergi keluar!”

“Anak laki-laki memang seharusnya bermain di luar! Memangnya kau berharap aku bermain barbie di kamarmu?”

Tawa Sena meledak dan Sehun mau tidak mau ikut tertawa. Kenangan itu sudah tersimpan hampir empat belas tahun dan mereka masih saja mendebatkannya seperti anak-anak sampai sekarang.

Sehun tidak tahu seperti apa ibu kandungnya karena beliau meninggalkannya sejak usianya masih terlalu muda untuk mengingat. Ia juga tidak tahu pasti sejak kapan ayahnya berhubungan dengan ibu Sena. Sehun hanya ingat samar-samar tentang wanita ramah yang sering memasak untuknya di rumahnya yang kemudian jadi ibu tirinya. Tapi ia mengingat Ryu Sena sejak pertama kali. Sehun ingat jelas ia tidak begitu gembira punya kakak karena ia sudah terbiasa jadi anak tunggal, dan selama bertahun-tahun Sehun lebih suka menghindari Sena. Mereka canggung, asing, bahkan tidak cukup akrab untuk bertengkar layaknya saudara. Tapi sejak kecelakaan Sena karena teman-teman di sekolah yang membuatnya nyaris lumpuh, hubungan mereka benar-benar berubah.

“Kau tahu, mungkin aku harus bersyukur karena kejadian itu,” kata Sena, dan Sehun tahu mereka sedang memikirkan hal yang sama. “Kalau aku tidak pernah jatuh dan koma, kau tidak akan pernah sadar kalau kau sebenarnya menyayangiku.”

“Aku tidak,” bantah Sehun otomatis. “Jangan mengarang. Aku hanya kasihan karena bibi pasti sedih sekali kalau kau mati.”

“Oh, ya? Tapi aku ingat jelas, saat aku bangun setelah hampir setengah tahun, kau memegang tanganku dan berkata sambil menangis, ‘Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa bergerak, atau tidak bisa bicara, aku akan membantumu. Aku bisa jadi kaki, tangan, dan suaramu. Bertahan hiduplah, kumohon.'”

Telinga Sehun terasa terbakar. “Itu tidak benar.”

“Jangan bohong. Aku merekamnya di dalam otakku.”

“Otakmu pasti rusak karena semua obat-obatan itu,” Sehun menggerundel dan merebahkan tubuh memunggungi Sena. “Jangan berisik. Aku mau tidur,” katanya ketus.

Tahu-tahu Sehun merasakan tangan yang dingin menyusup ke sisi kepalanya yang menempel pada selimut dan mengangkatnya sedikit untuk menyelipkan bantal untuknya.

“Selamat malam, Sehun-ah,” Sena berbisik di dekat telinganya, kemudian mengecup ringan pelipisnya.

Sehun perlahan menghela napas yang ditahannya tanpa sadar saat Sena menciumnya. “Selamat malam,” ia balas berbisik, suara rendahnya nyaris kalah oleh debar jantungnya yang keras dan cepat.

***

Sena jarang bermimpi, dan sebagian besar mimpinya biasanya adalah versi bahagia hidup yang dikarang oleh alam bawah sadarnya. Sayangnya, malam ini ia kembali ke hari yang mengubah hidupnya.

Kelas hari itu sudah berakhir. Sena menunggu semua orang meninggalkan kelas sebelum ia sendiri keluar, tapi ketika ia berjalan menuju tangga, lima orang siswi muncul entah dari mana dan mengikutinya, melontarkan ejekan dan sindiran seperti biasa. Sena hanya mengabaikannya. Telinganya sudah kebal. Tapi hari itu, aksi diamnya membuat mereka sebal. Dua di antara mereka menyikut bahunya dan mendorong punggungnya. Sena tetap diam dan mempercepat langkah. Nantinya mereka akan lelah dan pergi. Sayangnya, Sena salah. Semakin ia mencoba menghindar, semakin mereka merasa terganggu. Salah satu dari mereka mencoba menghentikannya dengan menyandung kakinya, tanpa menyadari mereka berada di puncak tangga. Sena hanya sempat merasakan sensasi jatuh singkat sebelum benturan keras memukul tulang punggungnya. Pandangannya berputar-putar dan ia mendengar jeritannya sendiri menggema di antara dinding-dinding sekolah yang sepi. Rasa sakit yang menyengat membuat matanya berkunang-kunang dan kemudian semuanya gelap. Gelap dalam waktu yang sangat panjang.

Sena seharusnya melihat ibu, ayah tirinya, dan Sehun ketika membuka mata, tapi kilasan berpindah pada potongan kejadian yang hampir pudar.

Saat itu jam istirahat sekolah, dan Sena sedang mengantre untuk makan siangnya di kafetaria sekolah saat seseorang melemparinya dengan gumpalan tisu. Satu. Lalu yang kedua. Dan banyak lagi yang menyusulnya.

“Kau pikir kau begitu pintar sehingga bisa membohongi semua orang?”

“Bahkan teman-temannya terkejut. Hipokrit macam apa dia yang menipu temannya sendiri?”

“Dasar pembohong. Apalagi yang kau sembunyikan? Apakah ayahmu kriminal? Oh, apakah kau bahkan kenal ayahmu?”

Orang-orang itu tertawa dan tertawa semakin keras. Sena merasa telinganya berdenging karena jantungnya berdebar begitu cepat dan ia berlari, mencari satu orang yang ia tahu bertanggung jawab atas semua ini. Di sanalah laki-laki itu, sendirian di tempat duduknya di kelas mereka yang kosong.

Sena berderap ke arahnya dan merampas buku tugas yang sedang dikerjakan Chanyeol di atas meja, lalu melemparnya keras-keras ke arah wajahnya.

Ya, apa-apaan!” Chanyeol mendongak dengan raut kesal pada sena. “Untuk apa itu barusan?” tanyanya jengkel.

Sena mengepalkan tangannya. “Kau, kan? Itu kau, kan?” desisnya.

“Aku apa?” balas Chanyeol.

“Jangan pura-pura tolol, Pecundang!” Sena tidak puas melemparnya dengan buku, lantas menyambar apa pun yang ada di atas meja dan menghamburkannya pada Chanyeol.

“Ryu Sena!” Chanyeol mendorong mejanya dan berdiri. “Apa masalahmu?!”

Sena mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya kuat-kuat. “Kau memberitahu semuanya pada mereka. Kau.”

Chanyeol mengerjap, kemudian ia sadar apa yang sedang Sena bicarakan. “Apa maksudmu? Aku tidak mengatakan apa-apa!”

“BOHONG!” Sena tidak sadar ia sedang menangis sampai ia mendengar suaranya sendiri melengking di dalam kelas yang hening. “Kau… kupikir kau benar-benar berubah tapi… kau ternyata—kau menjebakku—kau—kau berhenti memanfaatkanku karena kau sudah berencana untuk melakukan ini.”

“Tidak! Aku bersumpah, aku tidak mengatakan apa pun pada siapa pun! Ryu Sena! Ya! Sena-ya!”

Sena tidak mendengarkannya. Ia sudah berlari keluar dari kelas itu. Ia tidak punya tujuan pasti, ia hanya ingin pergi dari sana.

Sena di dalam mimpi mengerjap dan tahu-tahu saja ia kembali ke siang yang baru saja terjadi.

“Aku minta maaf bukan karena aku mengasihanimu. Aku minta maaf karena aku merasa bersalah.”

Di antara debar jantung yang mendadak meningkat, Sena masih mendengar suara berat itu dengan jelas. “Well.” Ia berdeham pelan di dadanya. “Kau memang harus merasa bersalah. Kau yang menceritakan tentangku pada semua orang.”

“Apa? Tapi aku tidak menceritakan apa pun—”

Semuanya berhenti, dan untuk pertama kalinya, Sena bertanya-tanya apakah Chanyeol mungkin mengatakan yang sebenarnya padanya.

 

=to be continued=

Iklan

10 thoughts on “All-Mate911 (Chapter 4)

  1. Aaaaaaaaa moga aja sena jadi suka sama chanyeol !!! Sumpahh penasarann,,terus sehun itu ternyata adik tiri nya sena ??
    Apa sehun juga suka sama sena ?? Apa cuma anggep sena jadi kaka aja ?? Aahhh lanjut terus ya thorr ..
    Makin seru ..

  2. Akhirnya dilanjutin jg. Makin seru lg ada si sehun nongol, jd kyk cinta saudara tiri gt yak :v aku pribadi suka bgt sm cerita ini, ceritany ringan, alurny jg gampang dicerna jd mikir g begitu njelimet, bahasanya jg pas g berlebihan. Semangat ya lanjutinnyaa!! ^^ ditunggu kelanjutannya.

  3. Mampus, brasa cinta segitiga waktu sehun dtg, wkwkwkwk
    Memang kayaknya bukanya chanyeol ya, pasti ada pihak lain yg tau dan diam2 nyebarin. Terus tuduhannya ke chanyeol. Gilaaa, sena parah banget ya, sampe lupuh, koma setengah tahun, dll huaaaa
    Terus yg bikin dia ga mau pulang knapa?

  4. wahhh chanyeol >_< boleh lah sini jadi suami ku wkwkwkwk lanjut thor semoga chanyeol semakin memunculkan sikap namjanya itu eaa wkwkwk

  5. ga minta banyak. cuma berharap banget semoga sehun ga jatuh cinta sama sena. pasti jadi canggung banget deh meskipun cuma kakak adek tiri. btw ini semakin seru. keep writing author nim :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s