Mon Amie

Pengarang : Eulseongulya

Rating : T

Genre/tema : Friendship? Lil bit comedy.

Length/panjang : oneshoot/cerpen

No Copycat, Sider, and Plagiator

Disclaimer : fiktif belaka, kesamaan bukanlah suatu hal yang disengaja. Cast dan segala perlengkapanya adalah milik tuhan, eulseongulya hanya menuliskan ide dan alur yang muncul dari kepala saya sendiri.

.
.
.
.

Sore itu Chanyeol berkunjung sebentar ke rumah Baekhyun bersama ibunya selepas  mengantarkan pesanan milik tetangga Baekhyun.

“Tante, Baekhyun ada?” Seru Chanyeol bersemangat ketika ibu Baekhyun menampakkan diri dari balik pintu.

“Ah, ada Chanyeol rupanya. Iya, Baekhyun ada di rumah. Ia tengah mengerjakan PR matematika yang katanya sulit. Bisa kau bantu Dia?” Pinta ibu Baekhyun.

“Baik tante, dengan senang hati.” Ujar Chanyeol riang sembari menapakkan kakinya ke tangga menuju kamar Baekhyun di lantai 2. Sedangkan ibu mereka asyik berbincang di ruang tamu.

.
.
.
.

“Baekhyun!” panggil Chanyeol. Baekhyun menengok ke arah suara yang tadi menyerukan namanya.

“Ah, Chanyeol.” lirih Baekhyun tak bersemangat.

“Apakah kau habis ke Amerika?”

“Tidak.” sahut Baekhyun lemas.

“Memangnya kenapa?” sambung Baekhyun.

“Kau seperti habis terkena badai tornado. Lihat itu, baju kusut, rambut berantakan, muka seperti kecoa. Ada apa denganmu?” tutur Chanyeol.

“PR matematikanya benar-benar membuatku frustasi, dari 20 soal yang ada, aku hanya bisa menjawab satu.” keluh Baekhyun.

“Ah, PR yang itu. Gampang kok, punya ku masih kurang lima. Nanti kau menyontek punyaku saja, sekarang kita kerjakan nomor 15-20.”

“Oke.”jawab Baekhyun.

“Bacakan aku soalnya, nanti kita hitung bersama, ya.”

“1+9”

“Euuumm…, sepuluh.” sahut Chanyeol

“3+4”

“Tiga di tambah empat. Satu, dua, ah, tujuh!”

“1+3”

“Berapa ya?”

“Entahlah, coba aku cari kertas coret-coretan.” kata Baekhyun sambil mencari barang yang ia maksud dalam lemari belajarnya.

“Ah, aku tahu! Empat!” seru Chanyeol.

“Wah, kok kamu pintar sekali sih Yeol, kamu makan apa sih emangnya?” kagum Baekhyun.

“Pandai itu ada rahasianya. Mau tahu atau tidak?”

“Mau dong. Emangnya apaan sih?”

“Besok aja ya, kalau kita sudah masuk SD.”

“Ah Chanyeol…,” rengek Baekhyun.

“Iya-iya. Akan aku kasih tahu. Kata ibu, kalau kamu mau pintar menghitung, kau harus menghitungnya dengan jari.”

“Jari?”

“Iya, jari. Kebukti, ‘kan? Coba deh kamu hitung ulang, pasti benar semua.” yakin Chanyeol.

“Oke deh, aku coba.” Tak lama, Baekhyun selesai dengan aksi hitung-menghitungnya.

“Wah benar, Yeol. Semua jawabanmu betul. Memangnya gimana sih cara menghitung dengan jari?” tanya Baekhyun. Chanyeol pun menerangkanya pada Baekhyun selama satu jam penuh. Setelah itu mereka berbincang-bincang.

.
.
.
.

“Guru kita yang baru itu kok galak sekali sih, aku jadi sebal.” curhat Chanyeol.

“Masukin kandang anjingnya Kai saja. Biar bertanding kegarangan sama anjing-anjingnya Kai.” cerocos Baekhyun.

“Pastilah menang ibu guru baru itu. Anjingnya Kai pasti langsung kabur melihat guru itu, takut digigit.” timpal Chanyeol.

“Ngomong-ngomong, jari kita itu ada berapa, ya Yeol?”

“Ada sepuluh, memangnya kenapa?”

“Kok kalau aku yang hitung, kenapa ada sebelas?”

“Aneh. Coba deh, hitung lagi.”

“1, 2, 3, 4, 5. Lima ‘kan ya? Di simpen dulu, aku mau hitung yang jari tangan kiri. 10, 9, 8, 7, 6. Nah, lima tambah enam berapa?”

“Sebelas.”

“Nah, ‘kan?”

“Sepuluh kok. Kalau aku yang ngitung ada sepuluh. Coba sini aku hitung. 1, 2, 3, 5, 9, 6, 7, 5, 1, 4, 10. Tuh ‘kan, sepuluh.”

“Sebelas!”

“Sepuluh!”

“Sebelas!”

“Sepuluh!”

“Sebelas!” debat mereka panjang lebar, tidak ada salah satu dari mereka yang mau mengalah. Pokoknya keduanya merasa benar. Kedua-duanya berpikir, siapa yang bodoh sebenarnya?

.
.
.
.

Tak selesai disana, Baekhyun dan Chanyeol masih meributkan hal itu.

“Ibu, jari kita ada berapa bu?” Baekhyun bertanya polos kepada ibunya yang masih asyik mengobrol di ruang tamu.

“Ad…,”

“Ada sepuluh, Baek. Begitu saja kamu tidak tahu?” Chanyeol menyerobot bicara ketika ibu Baekhyun mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan putranya.

“Benarkan, Tante?” Chanyeol menatap ibu Baekhyun penuh harap.

“I-iya, benar. Ada sepuluh.” Akhirnya ibu Baekhyun bisa angkat bicara.

“Weeekk… aku memang benar, Baekhyun bodoh. Hahahaa…,” cibir Chanyeol dengan lidah terjulur keluar kepada Baekhyun yang hanya bisa membalas olokan Chanyeol dengan tatapan kesal. Tingkah Chanyeol yang semakin menyebalkan membuat Baekhyun ingin mencekiknya.

.
.
.
.

“Hei Chanyeol, jangan mengatai Baekhyun seperti itu. Tidak baik. Kebetulan rumah kami sepi, Baekkie mau berkunjung?” Ibu Chanyeol menawari Baekhyun yang sedang memasang wajah dongkol, seketika mata pemuda mungil itu berbinar-binar.

“Bolehkah, Tante?” Ibu Chanyeol menanggapi pertanyaan Baekhyun dengan anggukkan.

“Ya, tentu saja. Mari…,” ajak ibu Chanyeol.

“Iya Baekkie, ayo ke rumahku. Lagipula kita harus menyalin PR nya ‘kan?” Chanyeol mulai menggandeng tangan Baekhyun. Mendadak Baekhyun kehilangan rasa kesalnya terhadap Chanyeol, ia pun mengangguk semangat.

“Ibu, aku izin ke rumah Chanyeol dulu, ya.” Baekhyun berpamitan pada ibunya.

“Oke, tapi jangan pulang terlalu sore, nak.”

“Ibu, boleh bawa sepeda? Sepeda motor Ibu Chanyeol ‘kan tidak cukup untuk mengangkut kita berdua sekaligus.”

“Alasan kamu, cukup kok.”

Please, ma.” Baekhyun sekarang memasang wajah memelas yang membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iba. Baekhyun memang anak yang imut dan lucu, tak heran jika ia sering mendapatkan cubitan di pipinya yang lumayan gembul oleh banyak orang.

.
.
.
.

“Baiklah, tapi pulanglah sebelum petang. Hati-hati di jalan, jangan ngebut.” Baekhyun pun langsung mengacungkan jempolnya pada ibu seolah mengatakan beres. Mereka pun berangkat ke rumah Chanyeol. Baekhyunlah yang mengemudi, setelah ia memenangkan debat antara dia dan Chanyeol.  Awalnya memang biasa-biasa saja, tidak ada peristiwa penting yang berarti. Belum sampai setengah perjalanan, Chanyeol sudah mulai rewel.

“Baekkie, cepatlah mengayuhnya. Aku ingin segera sampai rumah.”

“Aku juga ingin mengemudikanya, Baekhyunie, aku bosan hanya duduk di belakang begini.”

“Ayo gantian, Baekkie.” Chanyeol merengek bertalu-talu, membuat Baekhyun merasa harus menulikan diri sejenak dan terus melajukan sepedanya. Chanyeol makin usil, membuat Baekhyun sedikit geram.

“Tenang Yeolie, kau membuat sepedanya tidak stabil!” Baekhyun nampaknya sudah sedikit kehilangan kesabaranya dalam menghadapi sahabat yang lebih kekanakkan dan lebih muda dibanding dirinya itu. Chanyeol nampaknya mulai mencebik. Tak mau menyerah, Chanyeol masih berusaha merebut kemudi. Memang, meski mereka adalah sepasang sahabat, mengalah adalah hal tersulit untuk dilaksanakan.

.
.
.
.

“Yeolie, apa yang kau lakukan? Kau ‘kan sudah memiliki banyak sepeda di rumah, bukan? Apa itu tidak cukup?” Baekhyun mulai sedikit naik darah. Sebenarnya bukan begitu, Chanyeol hanya ingin memboncengkan Baekhyun yang nampak kelelahan.

“A-aku…,” belum selesai Chanyeol mengucapkan kalimatnya, ia sudah terpelanting sampai ke sawah, sepeda Baekhyun dan empunya juga terperosok ke sungai irigasi dekat sawah. Untung tempat mendarat mereka sangat strategis, Chanyeol yang mendarat di lumpur, dan Baekhyun yang mendarat di air sungai bersama sepeda mungil kesayanganya. Sial, rupanya sepeda mereka menyandung batu waktu melintasi jalan menurun, dan berakhir di sana.

.
.
.
.

Baekhyun mengangkat sepedanya dan terduduk lemas di bibir sungai. Untung sungainya tidak terlalu dalam, mengingat itu hanyalah sungai buatan yang cukup besar untuk kepentingan pertanian. Chanyeol memekik, membuat Baekhyun menengok.

“Aaarggghhh…”

“Ada apa, Yeolie?”

“Aku terjebak di lumpur, aku tidak bisa keluar dari sini. Tolong aku!” Chanyeol mengeluh atas keadaanya. Baekhyun mendengus, ia sebal dengan Chanyeol yang sesuka hati melakukan ini-itu tanpa memerdulikan keadaan. Apa dia tak mengerti bahwa Baekhyun juga masih shock dengan kecelakaan kecil barusan? Sungguh, ia sama sekali tidak bisa pengertian. Pasrah, Baekhyun menghampiri Chanyeol yang terduduk tak berdaya di atas lumpur sawah. Tiba-tiba Baekhyun merasakan sesuatu yang basah di bajunya. Sebenarnya bajunya sudah basah kuyup, sih. Akan tetapi ia tahu bahwa sesuatu baru saja mendiami bahunya. Ia menengok ke bahunya, dan mendapati lumpur tebal disana. Chanyeol memamerkan gigi-gigi rapihnya pada Baekhyun.

.
.
.
.

“Mau bermain?” Rupanya Chanyeol menantang Baekhyun. Chanyeol mulai melempar kembali bola yang ia buat dari lumpur sawah yang belum dibajak itu. Alhasil beginilah, kini mereka benar-benar terlihat seperti manusia lumpur.  Mereka pulang setelah puas mandi lumpur, perang lumpur, dan bersenang-senang bersama lumpur. Ibu Chanyeol menganga lebar melihat keadaan dua bocah nakal sejoli itu, entah berapa lalat yang bisa masuk kesana jikalau beliau tak segera menutupnya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, keadaan mereka begitu mengenaskan. Penuh lumpur, kedua pemuda mungil itu nampak seperti monster kecil yang tersesat ke dunia manusia. Ah baiklah, yang barusan itu terlalu berlebihan. Mendapati respon ibu Chanyeol yang seperti itu, kedua anak itu hanya bisa menyengir kuda.

“Kalian ini darimana saja? Bagaimana bisa kalian jadi begini?” Ibu Chanyeol menanyai mereka lembut akan tetapi menyimpan sedikit kemarahan.

“K-kami…,” Baekhyun hendak menjelaskan, namun Chanyeol sudah terlebih dahulu menyergah ucapanya.

“Tadi kami terpeleset saat bersepeda di jalan setapak persawahan dan jatuh ke sawah.” Kuakui, Chanyeol sedikit mengubah skenario cerita yang sebenarnya terjadi.

“Ya sudah sana, mandilah. Bibi Lee sudah menyiapkan air hangat.” Ibu Chanyeol langsung menggiring Chanyeol dan Baekhyun layaknya sudah profesional dalam menggembala anak-anak. Baiklah, aku tahu bahasa yang kupergunakan barusan terdengar sedikit kasar.

.
.
.
.

Mereka amat betah berada di kamar mandi, sampai bibi Lee kelelahan menunggu mereka keluar. Biasanya memang, anak-anak sebaya dengan Baekhyun dan Chanyeol masih dimandikan. Akan tetapi mereka  menolak untuk dimandikan dengan alasan mereka tidak ingin bergantung pada orangtua, terlebih mereka sudah merasa cukup besar untuk mandi sendiri. Mereka lama sekali di dalam kamar mandi. Mereka asyik sendiri bermain air di sana. Sesekali juga terdengar suara indah Baekhyun yang bernyanyi, dan suara Chanyeol yang terbilang cukup berat untuk ukuran anak kecil meramaikan kamar mandi. Entahlah, aku tidak tahu pasti apakah mereka sedang menggelar konser musik duet di dalam sana atau bagaimana. Aku tidak di perkenankan menceritakan apa yang terjadi di dalam kamar mandi demi menjaga ratingcerpen ini agar tidak menjurus ke NC.Selain itu aku juga tidak dapat masuk ke dalam sana mengingat aku belum mendapatkan tiket, seperti halnya konser Exoluxion di Jakarta beberapa hari lalu. Aku di cekal penjaga karena main masuk saja, tidak membawa tiket. Takut-takut nanti aku dicekal oleh bibi Lee karena masuk ke kamar mandi Baek-Yeol yang sedang digunakan untuk mandi.

.
.
.
.

Setelah mereka hampir membuat pingsan Bibi Lee karena mereka tidak kunjung keluar dari kamar mandi, kali ini mereka membuat ulah lagi setelah mandi dan menyelesaikan pekerjaan rumah.

“Baekhyun, kau tau IG?”

“Apa itu?” Baekhyun menanggapi pertanyaan Chanyeol dengan semangat 45, bahkan semangatnya melebihi pejuang bangsa.

Instagram, aplikasi untuk mengunggah foto sekaligus video ke internet. Mau coba pakai aplikasi itu?” Chanyeol agaknya sedang menawari Baekhyun. Mendengar kata aplikasi, mendadak wajah Baekhyun yang bersinar lembut bagaikan mentari pagi seketika mendung dan muram bagaikan habis tersambar petir di siang bolong. Ralat, maksudku, seketika wajahnya suram dan terlihat murung.

“Kenapa wajahmu murung seperti itu, Baekkie?” Chanyeol yang memerhatikan perubahan signifikan ekspresi yang menghinggapi wajah Baekhyun sepertinya cemas.

“Aah, bukan apa-apa.” Meskipun Baekhyun mengatakan tidak apa-apa, Chanyeol menyadari hal yang sedikit tak beres dari sahabatnya yang satu ini.

“Jujurlah padaku, bila kau…,” Chanyeol malah menyanyi-nyanyi bagaikan biduan dangdut, membuat Baekhyun langsung merengut.

“Chanyeol, hentikan. Kau nampak seperti orang bodoh jika bertingkah seperti itu.” Baekhyun memprotes perbuatan Chanyeol.

“Cerita dong makanya.” Chanyeol nampaknya sedikit menuntut.

“Oke, oke. Aku sebenarnya menginginkan gadget seperti yang kau miliki, tapi ayahku selalu menolak untuk memberikanya dengan alasan aku masih terlalu kecil untuk memegang smartphone. Padahal ‘kan aku…,” Baekhyun mulai curhat panjang lebar, lengkap dengan bibirnya yang terus maju karena kecewa pada ayahnya. Chanyeol hanya menyimaknya. Alangkah menyenangkanya memiliki sahabat seperti Chanyeol. Meskipun ia menyebalkan, semaunya sendiri, dan tingkahnya terkadang membuat Baekhyun malu, setidaknya ia masih mau memikirkan perasaan Baekhyun.

.
.
.
.

“Kau jangan bersedih hanya karena hal itu. Kau bisa pinjam milikku kapan saja. Jangan dipikirkan, oke? Sekarang kita coba saja membuat video, bagaimana menurutmu?” Ucapan Chanyeol sedikit banyak dapat mengembalikan senyum yang sempat menghilang dari wajah Baekhyun. Baekhyun mengangguk kecil, mulutnya juga mulai membuka.

“Kita butuh properti yang baik sebelum membuat video yang di unggah. Hmm… kita harus mengenakan kostum apa ya?”

“Lebih baik kita urusi saja penampikan apa yang akan kita videokan. Dramakah? Baca puisi kah? Atau…,” Chanyeol mengabsen satu-satu pertunjukkan seni yang mungkin bagus untuk Ia dan Baekhyun lakukan.

“Menyanyi!” Tiba-tiba saja mereka mengusulkan hal itu bersamaan. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menyanyikan sebuah lagu.

“Bagaimana propertinya?” Chanyeol dan Baekhyun pun memutar otaknya untuk mencari ide.

“Aha!” Mereka saling meninggalkan, Baekhyun yang pergi ke ruang tengah dan Chanyeol yang menghilang entah kemana. Tak lama berselang, mereka kembali ke tempat semula membawa barang bawaan masing-masing.

“Kau bawa apa?” Baekhyun nampaknya penasaran dengan apa yang Chanyeol sembunyikan dibalik bajunya.

“Ada deh, nanti kamu lihat saja. Sapu itu untuk apa?”

“Ya, semacam alat pendukung. Nah, kamu bawa apa?” Chanyeol tersenyum penuh arti, perlahan tapi pasti ia mulai menampakkan barang yang ia ambil.

“Tattara ttarra… sempak (celana dalam)!” Chanyeol menyembulkan dua celana dalam berwarna merah muda dari balik punggungnya sambil berseru. Baekhyun hanya melongo, untuk apa coba Chanyeol bawa-bawa sempak? Apa dia habis mengompol dan ingin ganti celana dalam?

“Punya siapa?” Baekhyun mulai menyelidiki asal sempak itu.

“Ibu.” Chanyeol menjawab polos pertanyaan Baekhyun sembari mengacungkan telunjuknya kearah kamar ibu Chanyeol.

“Memangnya untuk apa celana dalam itu?” Baekhyun menatap Chanyeol penuh tanya.

“Begini caranya…,” Chanyeol memakaikan celana dalam itu ke kepala Baekhyun dan memakai sisanya ke kepalanya sendiri.

“Anggap saja itu seragam.” Chanyeol tersenyum kecil kepada Baekhyun.

“Hei Park Chanyeol, apa kau sudah gila?” Baekhyun nampaknya tidak terima akan ide gila Chanyeol yang aneh ini.

“Oh tidak, kurasa videonya sudah dimulai.” Chanyeol mencoba mengalihkan omelan Baekhyun. Baekhyun yang memang hobi narsis, langsung senang saat kamera menyorotnya. Ia lupa akan celana dalam yang masih melekat di kepalanya dan mulai asyik bernyanyi.

“Anywhere is fine Do you want to leave tonight? Do you want to leave?
To a place where the sky is blue and there are a lot of stars To a place like that

A-yo, A-yo, Run a little bit more I think we’re almost there
A-yo, A-yo, Don’t be scared I’m right here”

–Run, Exo. Versi bahasa inggris.–

Chanyeol pun mulai mengikuti nyanyian Baekhyun dengan gembira. Ibu Chanyeol yang mendapati beberapa sempaknya menghilang dan lemari pakaianya berantakkan hanya bisa mendesah sebal melihat kelakuan anak bungsunya yang bernama lengkap Park Chanyeol itu.

.
.
.
.

Tak terasa, kedua anak nakal itu sudah menginjak bangku sekolah dasar. Mereka makin banyak ulah dan makin menyebalkan saja. Mereka selalu membuat warga sekolah kesal, terutama Pak Zaidan. Pak Zaidan adalah guru yang mengajarkan pelajaran bahasa inggris.

“Yeol, tahu nggak Zaidan itu akronim dari apa?”

“Enggak. Emang apa artinya apa, Baek?”

“Zaid edan(gila) Wahahahaha…,” Baekhyun dan Chanyeol tertawa bersama, tanpa mengetahui bahwa orang yang mereka nistakan berada tepat di belakang mereka. Chanyeol dicinta Baekhyun pun tiba, akhirnya mereka mendapat hukuman yang lumayan berat. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat membara Baekhyun juga Chanyeol untuk tetap mengejek pria itu. Pada akhirnya, pria itu tak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menghentikan Chanyeol dan Baekhyun yang sangat gemar mengejeknya. Laki-laki paruhbaya itu hanya bisa mengelus dada.

.
.
.
.

Selain itu, mereka sering mengintipi rok siswi di sekolahnya. Jangan mengatai mereka mesum, kejadianya tak Seperti yang kamu bayangkan. Dulu, Baekhyun dan Chanyeol sedang bermain sepakbola. Tiba-tiba bola mereka masuk ke kursi taman yang diduduki seorang anak putri yang beberapa tahun lebih tua dari mereka. Mau tak mau, Chanyeol dan Baekhyun harus mengambil bola itu agar bisa melanjutkan permainan mereka. Saat Chanyeol dan Baekhyun hendak mengambil bola mereka, anak putri tadi berdiri dan berteriak pada mereka.

“Kurang ajar kalian lihat-lihat rokku. Dasar anak kecil zaman sekarang.” Anak perempuan yang berusia sekitar 9 tahunan itu melenggang pergi setelah puas merutuki Chanyeol dan Baekhyun. Sejak saat itulah kedua bocah mungil itu jadi penasaran akan isi rok anak perempuan. Apakah disana ada robot gundam? Harta tersembunyi bajak laut? Atau apa? Kenapa mereka sangat menjaga roknya? Sampai sekarang pun, Chanyeol dan Baekhyun belum tahu kebenaranya karena ‘misi’ mengintip mereka yang selalu ketahuan entah siapa yang memergoki mereka sebelum berhasil mengetahui isi rok anak perempuan.

.
.
.
.

Tak cukup itu, Chanyeol dan Baekhyun sangat senang menjahili siapa saja. Mereka juga sangat lihai mengolok-olok orang. Suatu hari, ada anak yang tampan, mancung, putih, dan sedikit pendiam tetapi sedikit cadel saat mengucapkan huruf S. Ia mengucapkan th sebagai ganti dari mengucapkan S. Oh Sehun nama anak itu. Chanyeol dan Baekhyun sering menjahili mengejeknya, sampai-sampai anak itu pernah mengompol di celana saat dikunci di gudang sekolah oleh duo Baek-Yeol waktu itu, saat hari ke-4 Sehun baru saja pindah ke sekolah Baek-Yeol.

FLASHBACK MODE ON

“Apa ada orang disini?” Baekhyun pun mengisyaratkan tidak sebagai jawaban dari pertanyaan Chanyeol.

“Oke, ayo pakai ini dan masuk ke gudang lewat pintu belakang.” Chanyeol langsung memberi komando agar Baekhyun melaksanakanya. Mereka berjingkat mendekati Sehun yang masih sangat ketakutan karena terkurung di gudang gelap pada petang hari saat orang-orang sudah pulang dan mengistirahatkan diri di rumahnya masing-masing.

“Ibu… ibu… ibu…” Sehun terus membisikkan kata itu. Entahlah, aku tak tahu Sehun mengucapkanya untuk apa. Mungkin untuk mengusir hantu mengingat bagaimana horrornya ibu Sehun, khususnya saat marah. Tiba-tiba munculah dua makhluk berselimutkan kain serba putih yang diduga adalah Baek-Yeol si kedua bocah tengil yang jahilnya tidak tertolong. Sehun makin rajin membisikkan nama ibunya yang mungkin dapat berguna untuk mengusir dua makhluk abstrak tak berbentuk ini dari hadapanya. Namun sayang itu semua tak berpengaruh, kedua makhluk itu semakin mendekat dan mendekat, mempersingkat jarak mereka dengan Sehun.

“Kyyyaaaa… ibu… tolong Thehun!” Sehun menjerit sejadi-jadinya sampai ia tidak menyadari bahwa air berwarna kekuningan yang sebenarnya najis dari organ intimnya telah membuat celana seragamnya basah kuyup. Baek-Yeol sontak tergelak melihat pemandanganlive di depan matanya. Sehun kesal tingkat dewa melihat Baek-Yeol yang sedang asyik-asyiknya menertawainya. Pada akhirnya, Sehun menangis keras-keras memanggil- manggil ibunya. Esoknya, Baek-Yeol mendapat hadiah kenangan dari ibu Sehun berupa stempel merah di telinga mereka masing-masing. Sehun tersenyum puas setelah ibunya membalaskan dendam terpendamnya pada Baek-Yeol. Seusai di jewer, Baek-Yeol masih belum kunjung jera. Ia masih tetap nge-fans dengan yang namanya menjahili dan mencibir Sehun. Mereka terbilang sering menirukan ke-cadel-an Sehun.

“Thehun thuka thekali minum thuthu. (Sehun suka sekali minun susu).”

“Thatha makan thuthhi di rethtoran jepang. (Sasa makan sushi di restoran jepang)” Begitulah kira-kira Baek-Yeol menirukan kecadelan Sehun.

FLASHBACK OFF

.
.
.
.

Suatu sore, Chanyeol hanya bisa bersedih hati. Baekhyun tidak menampakkan dirinya sedari tadi, juga tidak masuk sekolah. Sewaktu Chanyeol coba mengunjungi rumah Baekhyun, disana sepi tanpa satupun anak manusia. Pintunya terkunci, dan kordenya di tutup. Chanyeol bertanya-tanya, dimanakah keberadaan Baekhyun sekarang? Ia hanya bisa merenung di taman, memikirkan kemana perginya Baekhyun kira-kira.

“Hey Yeol!” Tiba-tiba saja Sehun datang entah darimana dan menyapa Chanyeol.

“Hai juga, Hun.” Chanyeol menjawab sapaan Sehun tanpa semangat, tidak seperti biasanya mengingat Chanyeol adalah anak periang dan sedikit hiperaktif.

“Jiah yang galau. Kau ini kenapa, Yeolie? Apa kau mathuk angin? Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Kau tahu kemana perginya Baekhyun?”

“Kau tak tahu?” Sehun nampaknya sangat terkejut atas ke-tidak tahu-an Chanyeol.

“Biasa saja kali, jangan lebay ah. Memangnya Baekhyun kemana, Hun?” Chanyeol agaknya tidak nyaman dengan keterkejutan Sehun yang nampak berlebihan di matanya.

“Dia ke Perancith, kau benar-benar tidak tahu? Ya Tuhan, bagaimana kau bitha tidak tahu mengingat kau dan Baekhyun itu thudah theperti thurat dan perangko? Bukankah kau yang malah thering berthamanya? Kenapa kau malah tidak tahu?” cerocos Sehun dengan bahasa cadel “s”  tanpa berhenti.

“Apa?” Sontak Chanyeol terlonjak mendengar penuturan Sehun. Tanpa buang-buang waktu lagi, Chanyeol langsung tancap gas ke bandara kotanya secepat pembalap F1 dengan sepeda mungilnya.

“Ya tuhan, semoga Baekhyunie belum berangkat.” Chanyeol terus komat-kamit mengucupkan permohonan kepada Tuhan agar Chanyeol masih sempat menemui Baekhyun. Sedangkan di taman, Sehun malah tersenyum dengan seribu arti.

.
.
.
.

“Baekhyun… Baekhyun… dimana engkau?” Chanyeol terus menyebutkan nama Baekhyun dan bertanya kepada dirinya sendiri kemanakah gerangan perginya pemuda kecil yang merupakan sahabat karibnya sejak kecil itu.
Tak lama, Chanyeol menjumpai bocah imut itu. Tanpa basa-basi lagi, Chanyeol langsung menghampiri anak mungil itu dan memeluknya.

“Baekhyun, jangan pergi. Aku tahu aku adalah anak nakal menyebalkan yang sering membuatmu kesal. Akan tetapi aku menyayangimu. Siapa lagi yang akan menemaniku kalau bukan kamu, Baekkie? Siapa lagi yang akan menemaniku membuat ulah dan menjahili teman-teman di sekolah serta mengejek Pak Zaidan? Tinggallah disini bersamaku, ya? Aku janji, tidak akan mengejekmu anak cebol dan cengeng lagi kalau kau mau tetap di sini bersamaku.” Chanyeol memohon-mohon sambil mengeluarkan air mata buayanya. Namun, bocah itu melepas kasar pelukan Chanyeol.

“Kamu siapa? Jangan peluk-peluk aku sembarangan. Dasar orang gila.”

“Baekkie?! Apa yang… oh, maaf. Saya salah orang.” Chanyeol beranjak bersama rasa malunya pergi mencari Baekhyun.

“Aiisshh… pakai salah orang lagi, payah. Padahal tadi aku udah dramatis kayak film-film yang ada di televisi.  Aaaahhh…, dimana sih Baekhyun itu?” omel Chanyeol.

“Kenapa mencariku?” Tiba-tiba saja Baekhyun muncul tanpa diundang layaknya jelangkung, datang tak diundang dan pulang tak dijemput soalnya bapaknya jelangkung lagi sibuk di kantor, jadinya tidak bisa menjemput si jelangkung.

.
.
.
.

“Baekhyuniee~ ahh~~ untung kau belum pergi.” Chanyeol memekik kegirangan seperti menemukan air zam-zam di tengah perjalananya melintasi gurun. Ia pun juga berjingkrak-jingkrak seperti menemukan emas di kamar mandi eh, maksudku di peti harta karun. Baekhyun menautkan alisnya, memberi tatapan heran pada Chanyeol.

“Pergi? Pergi kemana, Yeol? Aku tidak pergi. Kata siapa aku pergi?”

“Tadi Sehun bilang bahwa kau pergi ke Perancis.”

“Ah, itu memang benar.”

“Baekhyun, jangan pergi. Aku tahu aku adalah anak nakal menyebalkan yang sering membuatmu kesal. Akan tetapi aku menyayangimu. Siapa lagi yang akan menemaniku kalau bukan kamu, Baekkie? Siapa lagi yang akan menemaniku membuat ulah dan menjahili teman-teman di sekolah serta mengejek Pak Zaidan? Tinggallah disini bersamaku, ya? Aku janji, tidak akan mengejekmu anak cebol dan cengeng lagi kalau kau mau tetap di sini bersamaku.” Chanyeol kembali mengutarakan hal itu. Namun kali ini ia tidak memasang air mata buaya darat atau mungkin buaya laut lagi, kali ini ia memasang wajah memelas dan menggemaskan sebaik yang ia bisa. Baekhyun pun menjadi iba sekaligus gemas melihat AegyoChanyeol yang memang menggemaskan meskipun ia sendiri lebih menggemaskan dibanding Chanyeol. Ya, Baekhyun memang nampak imut dan menggemaskan dengan tubuh pendeknya, badan berisinya, kulit putihnya, jari-jari pendeknya, sekaligus rambut hitamnya.

.
.
.
.

“Iya Chanyeol, aku akan tetap disini. Aku akan selalu bersamamu sebisaku, tapi awas kamu kalau kau melanggar janjimu tadi. Aku jadikan kau jerapah rebus dengan jurus Aikido-ku.” ancam Baekhyun sambil tersenyum kecil kepada Chanyeol.

“Sebenarnya yang mau pergi ke Perancis itu ayahku. Ia pergi ke Lyon untuk menyelesaikan beberapa urusan bisnis. Kebetulan ibuku ikut serta, jadinya aku disini sedang menunggu kakakku untuk menjemput.” Baekhyun menerangkan apa yang terjadi secara mendetail kepada Chanyeol. Chanyeol hanya mangut-mangut sebagai tanda bahwa ia mangut lele. Eh, maksudku sebagai tanda bahwa ia paham. Berarti Baekhyun bukan Jelangkung, karena meski ia datang tak diundang, ternyata ia dijemput.

.
.
.
.

Ya, beginilah akhirnya. Meskipun mereka sering bertengkar karena masalah sepele. Buktinya waktu dan masalah tak dapat dengan mudah memisahkan mereka.

-:–:–:—:—–:——-SELSESAI———:—–:—:–:–:-

A/n : bagaimana ceritanya? Kurang panjang? Kurang nge-feel? Bahasanya kurang baik? Let out the beast.  Let me see your judge. No bash lho… awas nanti yang bash, ntar malem aku datengin rumahnya *sok horror*

 

2 thoughts on “Mon Amie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s